Semester empat
berlalu. Hasilku memuaskan, IP-ku cum laude
sekarang. Hatiku bersyukur akan kasih sayangNya, dan semoga saja bukan Istidraj
dariNya. Aku mencintaiMu ya Allah, tapi cinta saja tidak cukup karena menurut
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimallah. Seorang mukmin bertauhid menyembah
Allah dengan tiga hal. Yaitu Cinta, takut dan harap. Beliau meneruskan
keterangannya, ’Barang siapa menyembah
Allah karena cinta saja berarti dia Zindik yaitu sebutan bagi orang yang
tertipu oleh perasaan dan angan kosongnya. Barangsiapa yang menyembah Allah
karena harap akan surga semata, maka dia Murji’ yaitu orang yang
menganggap iman cukup dengan pembenaran lisan, sehingga memudahkan dan
menggampangkan, seperti aliran liberal yang tidak membutuhkan shalat sebagai
gerakan, cukup dengan mengingatNya semata. Dan barang siapa yang menyembah
Allah karena takut saja maka dia Haruri, yaitu kelompok yang mudah
mengkafirkan orang muslim karena berlebihan dalam rasa takutnya.’ Allah, aku
cinta, harap dan takut kepadaMu. Aku mengazam.
Aku memasuki semester
lima, selama ini aku tidak pernah pulang. Kerinduan akan Kampung halaman seolah
memenuhi jiwaku, uang tabunganku tak akan kuutak-atik. Aku berupaya hidup
hemat, bukan pelit. Kucoba meniru kebiasaan Ali bin Abi Thalib ra. Dia
mempunyai tiga dirham, untuk disedekahkan secara sembunyi-sembunyi pada malam
hari, lalu satu dirham untuk diperlihatkan kepada manusia agar ditiru, dan
satunya untuk sedekah bagi keluarganya. Atau seperti Salman Al Farisi yang
diberi amanah sebagai gubernur oleh Umar bin Khatab, tapi gajinya diserahkan
semua ke Baitul Mal,
kecuali diambil satu dirham untuk dikerjakannya menganyam, hasilnya dijual dan
mendapat 3 dirham. Satu untuk makan sehari keluarga, satu disedekahkan, dan
satunya untuk menganyam hari esok, seorang Gubernur yang susah dicari pada saat
ini. Atau seperti Umar bin Khatab, yang suatu kali ketinggalan shalat gara-gara
mengunjungi kebun kurma dan zaitunnya yang sebentar lagi panen, lalu beliau
menyedekahkan kebun beserta isinya ke Baitul Mal.
Aku jadi iri pada
mereka. Teringat sebuah hadist, ”Tidak ada iri hati kecuali dalam dua
perkara, (yaitu) orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia belanjakan pada
sasaran yang benar. Dan orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia
mengamalkan dan mengajarkannya,”
sekuat tenaga aku akan berusaha mengikuti mereka, sehingga harta yang diberikan
Allah tidak membuatku lalai, lalu terjerumus seperti Qorun dan Fir’aun. Selain
itu aku mengirim uang ke Kampung, mereka tidak tahu pekerjaanku disini. Kini
Fajar baru lulus SMA, sedangkan Yasmin kini kelas 1 SMA. Aku membuka kembali
surat dari Ibu sebulan yang lalu, setelah sebelumnya surat plus uang aku
kirimkan.
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam terindah, dari Ibu, Bapak, dan adik-adikmu.
Le, rindu ibu membuat ibu harus menuliskan surat untukmu sebagai pelipur
laraku. Ibu ndak bisa nulis
jadi ini adikmu yang menulis, dia pintar sepertimu Le, seandainya kamu gak bisa pulang kami tidak akan bersedih,
karena engkau berada di hati kami. Kami tidak mengharapkan uang, kabarmu disana
baik, itu sudah cukup untuk ibumu yang telah lelah ini.
Bapakmu menitipkan salam rindunya dalam surat ini. Dia yakin engkau
dapat memilih jalanmu sendiri, dia tidak meragukanmu sama sekali. karena dalam
sholatnya namamu disebutnya tak pernah ketinggalan.
Kami tidak ingin engkau bekerja keras, hingga engkau terbebani,
kuliahmu terbengkalai atau badanmu kelelahan. Kami tidak tahu kerja dan
aktivitasmu disana, tapi kami semua yakin engkau memilih jalan yang benar.
Namamu selalu menggema di setiap langkah gerak kami. Le..., rindu ibumu tak kuasa kutahan. Namamu ibu sebut di setiap
gerak, di setiap detakan jantung ibu, yakinlah bahwa kita berdekatan tak ada
jarak walau terpisah oleh sekat dinding-dinding kokoh.
Adikmu Fajar..., maafkan ibu dan bapak karena kurang bisa mendidiknya.
Dia tidak bisa mendapatkan ranking seperti kamu dan Yasmin, tapi berdoalah
selalu untuknya agar Allah membukakan rahmatNya pada adikmu. Le, tak banyak kata. Kami selalu
merindukanmu, tapi janganlah pulang jika itu mengganggumu, tetaplah disana
untuk mengejar citamu, jadilah orang besar, kami tidak ingin meminta apapun darimu.
Cukup engkau menjadi orang yang banyak membawa manfaat bagi orang banyak, ibu lan bapak sudah tenang.
Ibu, Bapak dan adik-adikmu mencintaimu. Semoga rindu dan doa kami
selalu menjadi pelipur laramu, menjadi teman kesepianmu.
Keluarga yang selalu merindukanmu, le...
Tambahan :
Kak ini aku Yasmin. Maaf sebelumnya aku banyak menambahkan dan
mengurangi kata-kata yang Ibu sampaikan, soalnya ibu menyampaikannya sambil
nangis dan cepat. Jadi, aku kesusahan menuliskannya, tapi intinya udah masuk
semua.
Kak pesan dariku, ”Hmm..., tolong carikan Kakak untukku yang berakhlak
baik, yang berjilbab, yang cantik dan lembut hatinya,” Kak..., aku mencintaimu
karena Allah. Darimu dulu aku belajar banyak tentang kerja keras. Berjuanglah
Kak! Yasmin.
Kulipat kembali surat
itu, aku tak bosan-bosan mengulanginya. Terima kasih ya Allah atas nikmat, yang
engkau berikan kepadaku. Tak kudustakan apapun yang kau berikan kepadaku. Aku
melihat pengumuman di pondok, kata Samsul tadi ada informasi penting untuk
tingkat tiga. Aku di tingkat dua pondok,
kini telah mempunyai adik tingkat pondok. Mereka semua ramah-ramah. Kadang ada
yang masuk di kamar meminta nasehat hingga tengah malam. Keakraban terjalin
dengan dengan rasa saling membutuhkan, karena ikatan yang terjalin karena Allah
’Azza Wa Jalla akan abadi, hingga
pertemuan terindah yang dijanjikanNya.
Pengumuman tentang
jatah pengisian khutbah jum’at di sekitar Depok, bahkan beberapa santri yang
telah lulus dari Pondok yang masih terpantau, dan tinggal di Depok selalu
mendapat giliran untuk menjadi khatib di masjid-masjid kota Depok. Ini menjadi
acuan bahwa pondok Darussalam, memang telah mempunyai nama yang baik di
masyarakat Depok. Masuk tingkat ke-tiga, sudah ada warning bahwa,
dimulainya SKN (Santri Kuliah Nyata) seperti kuliah saja. Namun ternyata
informasi ini yang membuat Samsul mengatakan, kalau ada info penting untukku.
Ternyata dua nama yang berada di tingkat dua juga telah kebagian jatah, yaitu
namaku dan Farid. Rasanya sedikit canggung, tapi inilah proses belajar, apalagi
pihak Pesantren telah percaya padaku. Aku harus menjaga kepercayaan itu dengan
melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Kurasa Farid pun, akan melakukan
yang terbaik. Tugasku minggu ke dua, di masjid Ukhuwah Islamiyah. Aku harus
mempersiapkannya.
Hari ini belum dapat
materi kuliah, maklum baru pertama kali masuk. Biasanya Mahasiswa sibuk
mengurusi registrasi. Setelah registrasi, biasanya kami saling tukar pengalaman
liburan yang memang lama untuk semester genap, beberapa minggu. Ada yang pulang
ke kota, ada yang pulang kampung ataupun rekreasi dan refreshing ke luar
negeri. Bermacam-macam. Saat ramai, aku hanya menekuri satu buku yang tadi
kubeli di toko buku. Buku-buku tentang tata cara khutbah jum’at. Aku membeli
tiga buku, yang dua tentang materi-materinya. Kuedarkan pandanganku, riuh dan
ricuh mirip pasar ikan. Tapi..., Aisyah tidak terlibat di dalamnya. Dia membaca
sebuah buku, dan duduk di tempat duduknya seperti biasa. Jilbab hitamnya begitu
anggun, benar-benar bidadari dunia. Astaghfirullah, hatiku berdesir. Aku
menata hatiku, tak kubiarkan ada ruang celah untuk syetan memasuki hatiku.
Aku pulang pamitan dengan teman-teman sefakultas. Sempat
selintas Aisyah melihatku, matanya benar-benar lentik. Kutahu dia adalah
bidadari..., dan siapakah aku? Dapat bersahabat sudah merupakan rahmat dari
Allah untukku. Aku meninggalkan segala syak wa dzon (keraguan dan prasangka). Waktu dhuha masih menyisa, tadi pagi aku belum sempat shalat. Aku
naik bikun dan menuju masjid Ukhuwah
Islamiyah. Kurendahkan diriku serendah-rendahnya, aku menghiba padaNya dengan
ketulusan, betapa hati ini sangat lemah. Sangat lemah. Kalau bukan tanda
dariNya, entah jadi apa manusia? Tanpa kedekatan denganNya, tak akan ada lagi
cinta dan kasih sayang, tak akan ada lagi seekor ayam yang mengangkat kakinya
agar anaknya tak terinjak. Allah, lindungilah hambaMu selalu dari dunia yang
melenakan.
Seusai shalat, aku
mempelajari buku-buku tentang khutbah yang baru kubeli. Masih banyak waktu
hingga Dzuhur dan bekerja kembali di Pasar Minggu, bagiku semuanya indah. Tak
perlu ada yang disesali atau dikeluhkan, selama Allah selalu melihat dan
bersama kita. ”Alangkah indahnya keadaan hidup seorang yang beriman. Semua
urusannya bernilai kebaikan dan yang demikian hanya akan diperoleh orang yang
beriman. Apabila dia diterpa kesulitan (penderitaan) dia bersabar, dan yang
demikian itu baik baginya. Dan apabila dia memperoleh kemudahan (kesenangan)
dia bersyukur, dan yang demikian itu baik baginya.”
oh..., betapa indahnya untaian kata-kata mutiara ini, dada terasa lapang, jiwa
juga merasakan kebahagiaan, dan hati pun luluh karenanya. Kala orang beriman
memperoleh nikmat dan karunia dari Allah, dia bersujud dan bersyukur dan dikala
dia diterpa musibah dan kesulitan, dia bersabar penuh harap dan senantiasa berhubungan
dengan Allah semata, semua keadaan membuatnya semakin dekat dengan Tuhannya.
Aku membuat beberapa
catatan untuk persiapan khutbah jum’at. Pada dasarnya wasiat taqwa merupakan
rukun khutbah, sebagai hal yang harus ada. Dapat membahas fenomena sebagai
penerangan ummat, tapi semua menyambung pada ketaqwaan. Seorang khotib jangan
memaksa jama’ah mengikuti pola pikir yang kian kemari, bertele-tele dan
seolah-oleh khatib ingin membeberkan semua ilmunya saat itu juga, secara
keseluruhan. Jama’ah jum’at tidak memerlukan paparan seperti itu, Wallahi.
Makanya para jama’ah memilih tidur, apalagi khatib tidak bisa mengendalikan
intonasi bicara karena kebanyakan bahan. Mungkin jama’ah berkata dalam hatinya,
”Ganggu kenyeyakan aja.” Naudzubillah.
Rasulullah saw
menuntunkan materi khutbah sederhana, pokok ujungnya adalah taqwa, bukan
sekedar ucapan yang mengundang ghibah. ”Rasulullah saw tidak tergesa
menyambung pembicaraan dengan pembicaraan lain yang seperti ucapan kalian. Akan
tetapi Beliau berbicara dengan perkataan yang jelas, mudah ditangkap dan
diingat oleh orang yang duduk di hadapan beliau.”
sehingga tak ada jama’ah yang sempat tertidur jika khotib meniru anjuran
Rasulullah saw, karena tidak boleh ada satupun jama’ah jum’at – termasuk khotib – yang merasa aman dari adzab Allah ’Azza Wa Jalla. ”Adalah Nabi saw
apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya
sungguh-sungguh. Beliau bagaikan komandan pasukan perang yang sedang berkata,
”Musuh menyerang kalian pada pagi hari!” dan ”Musuh datang sore-sore!”.
Rasulullah saw juga bersabda, ”Termasuk tanda seseorang yang
pemahamannya mendalam adalah khutbahnya singkat, shalatnya panjang.”
Adzan menggema. Aku
mengemasi buku-buku yang berserakan, memasukkannya ke dalam tas. Panggilan
Allah, sudah seharusnya membuat manusia yang beriman segera meninggalkan setiap
pekerjaan, untuk bertemu dan berkomunikasi denganNya. Rencananya nanti malam,
aku akan menggarap materi untuk khutbah giliranku. Semuanya harus dipersiapkan
sematang mungkin, setelah berupaya barulah Allah yang menentukan hasilnya.
Setelah menghadap Allah, rasanya aku mempunyai semangat baru untuk
menyelesaikan semua persoalan hidupku. Segalanya...
* *
*
Hari jum’at. Pagi itu
cerah sekali, begitu sejuk. Aku melangkah hendak kuliah, baru beberapa langkah
Syahid memanggilku. Katanya keluarga Pak Purwiro telah pulang dari Luar Negeri,
barusan dia melihatnya masuk ke rumahnya saat Syahid lewat ba’da bermain bola.
Hari ini dia lagi kosong, jadi tidak kuliah. Pak Purwiro adalah tetangga kami,
rumahnya bersebelahan dengan pesantren, hanya saja orangnya jarang di rumah.
Kata para Santri orangnya begitu pelit, tidak pernah terlihat di acara-acara
pengajian ataupun untuk shalat di Masjid. Pernah ada santri yang datang meminta
partisipasi untuk datang ke acara lulusan pesantren, tapi malah dimarahi, pak
Purwiro mengiranya sebagai peminta dana untuk sumbangan Pesantren. Dua minggu
yang lalu pun, dia pergi beserta keluarganya, pembantunya pun diajak karena
takut mengambil harta di rumah. Hanya anjing yang menjaga di rumahnya. Begitu
cerita Samsul padaku.
Aku berlari kembali
lagi ke kamar, mengambil gulungan koran yang lumayan tebal. Aku berjalan mampir
sejenak ke rumah pak Purwiro. Dari gerbang, aku memencet bel rumah. Seorang
wanita keluar, wajahnya begitu bersih karena make-up yang berlebihan
mungkin. Aku menundukkan pandanganku.
”Mas mau mencari
siapa?” tanyanya sambil membuka gerbang.
”Pak Purwiro ada?”
”Papi sedang membaca
koran. Sebentar akan saya panggilkan,” wanita itu berbalik dan kembali ke
rumah. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki tambun keluar tergesa-gesa.
Seolah ada urusan penting.
”Anak Pondok, kamu
mencari saya? Mau minta sumbangan! Sudahlah, kalian urusi saja urusan akhirat
kalian. Dunia dan harta tak layak untuk kalian. Jika mau uang, seharusnya
kalian bekerja keras bukan meminta-minta! Buat apa kalian belajar agama jika
kerjaannya hanya meminta uang!” bibirnya sedikit sinis. Hatiku serasa terbakar
sejenak, tapi Allah segera meniupkan cintaNya sehingga bibirku dapat tersenyum
pelan. Bukankah lebih baik membalas keburukan dengan kebaikan?
”Saya kesini bukan
untuk meminta sumbangan Pak, saya hanya ingin menyerahkan koran-koran Bapak,
yang terkumpul di gerbang selama Bapak ke luar negeri,” aku menyerahkan koran
itu. Dia menerimanya. Sangat banyak, karena satu hari mereka langganan beberapa
koran dan tabloid, ”Jika saya mengganggu waktu Bapak, saya minta maaf. Sekarang
saya ingin pamit untuk kuliah. Assalamu’alaikum.”
”Tunggu Nak,” sebuah
nada yang pelan, membuatku berhenti. Pak Purwiro, ”Kenapa..., kenapa kamu
bersusah-susah mengumpulkan koranku, dan kenapa engkau begitu sabar dengan
sikapku?” matanya lekat menatapku heran.
Aku tersenyum padanya,
”Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, terutama
tetangga yang terdekat. Satu hari anda pergi, sewaktu pulang kuliah, saya
melihat koran sudah bertumpuk di gerbang, saat itu saya mengumpulkannya dan
akan saya berikan kepada Bapak sewaktu Bapak pulang nanti. Walaupun anjing Bapak
selalu menyalak, sewaktu saya mengambilinya setiap pagi,” aku mencoba sedikit
bercanda padanya, kulihat dia juga tersenyum kecil.
”Tapi kenapa engkau
bersusah-susah untuk mengumpulkannya, kenapa tidak engkau tinggalkan saja?” dia
masih bertanya penasaran.
”Bapak mungkin sering
mendengar ungkapan, ’Kejahatan terjadi bukan hanya terjadi karena niat
pelakunya, melainkan karena ada kesempatan’ jika koran yang ditinggalkan setiap
harinya bertumpuk, maka akan ada orang yang melihat dan mengira bahwa rumah itu
tidak ada penghuninya. Maka kejahatan bisa terjadi, tapi jika koran itu
terambil setiap hari, maka akan terlihat seperti ada penghuninya. Saya hanya
berjaga-jaga, semoga tidak ada orang yang ingin berbuat jahat terhadap rumah
Bapak. Apalagi Bapak adalah tetangga dekat kami. Islam sangat menganjurkan
bahwa kami harus berbuat baik, terutama tetangga yang paling dekat. Kalau
begitu saya duluan Pak, kuliah mau dimulai, saya tidak ingin telat.
Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam...,
Tunggu Nak.”
”Ada apa lagi Pak?”
”Apakah siang ini kamu
ada acara? Saya ingin mengundang anda makan siang di rumah saya,” pandangan
matanya penuh harap.
”Ehm..., mungkin lain
kali Pak. Hari ini setelah kuliah, saya kebagian tugas mengisi khutbah jum’at
di masjid Ukhuwah Islamiyah. Setelah itu saya harus kerja di pasar Minggu. Insyaallah lain kali saya bisa Pak.”
”Kerja? Setelah pulang
mengisi khutbah? Kamu kerja apa?”
Aku hanya tersenyum,
”Saya bekerja sebagai kuli di pasar. Maklum Pak, di Depok saya sendirian
membiayai kuliah saya. Orangtua saya di desa orang miskin, Bapak tentu lebih
tahu bagaimana manusia harus bekerja, agar tak meminta-minta pada orang lain,”
kulihat dari wajahnya agak merasa bersalah. Aku pamitan padanya, sempat
kutangkap, bahwa dia akan menghadiri shalat jum’at di masjid Ukhuwah Islamiyah,
katanya ingin mendengarkan khutbahku. Aku mengganggukkan kepalaku.
* *
*
Usai kuliah aku
langsung naik bikun. Giliran tugasku tiba juga. Aku datang pukul 11.15,
karena tadi kuliah baru saja keluar. Untung saja dari rumah aku langsung
memakai baju koko, sehingga hanya perlu bersih-bersih di serambi masjid. Aku
memasuki Masjid dengan keadaan setenang mungkin, aku mengambil tempat di shof
depan, beberapa orang telah duduk disana, ada yang masih shalat sunnah. Aku
memberi salam kepada orang-orang yang sedang duduk dekat dengan mimbar. Sekilas
di pinggir sebelah kiri, seseorang yang aku kenal menatapku. Ustadz Umair. Aku
membalas senyumnya dan shalat dua rekaat. Jama’ah mulai berdatangan, aku masih
menekuri Al-Quran pemberian Sinta. Jika teringat masa laluku, mataku seolah
menetes kembali. Alangkah sayangnya Engkau padaku Ya Allah. Kau beri hamba
pemahaman sehingga kini Engkau memberi amanah padaku untuk menyampaikan
risalahMu. Alhamdulillah..., Alhamdulillah ya Allah.
Seseorang menepuk
pundakku pelan, ”Silakan Ustadz,” ternyata akh Deri, salah seorang takmir
masjid yang sering berdiskusi denganku. Aku tersenyum padanya dan berdiri
memasuki mimbar, kuhadapkan wajahku ke seluruh jama’ah, ”Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh,” lalu aku duduk. Muadzin melantunkan adzan.
Aku mendahulukan Alhamdulillah, syahadat, shalawat dan salam dan perkataan
’Amma ba’du, seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim Rahimallah dalam kitabnya, Zaadul
Ma’ad. Lalu pesan taqwa.
Aku memendekkan
khutbah, kumulai dengan membaca surat Ibrahim ayat 7, Jikalau kalian
bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian
mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih.” Aku mengambil tema, Hari Kiamat!.
Demikianlah, aku
wasiatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan
waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk
mengamalkannya. Ketahuilah, wahai saudaraku Rahimakumullah, tatkala Umar bin
Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra. tentang takwa, maka berkatalah
Ubay, ”Pernahkah anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?”
kemudian Umar menjawab, ”Tentu” maka berkatalah Ubay, ”Apa yang anda
lakukan?” berkatalah Umar, ”Saya sangat waspada dan hati-hati agar
selamat dari duri itu”. Lalu Ubay berkata, ”Demikianlah takwa itu.”
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah. Demikianlah takwa, kita harus senantiasa waspada dan
hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan
kita. Oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasar ilmu.
Hendaklah kita mencari bekal untuk kehidupan akhirat karena kita tidak tahu
kapan ajal menjelang. Allah swt berfirman, ”Dan berbekallah, maka
sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai
orang-orang yang berakal.”
bagi orang yang tidak takut pada Allah ’Azza wa Jalla, seakan mereka ringan
mengatakan neraka, adzab, ash-shirat dan lain-lainnya, tanpa ada rasa
kalau mereka akan dihadapkan pada fitnah-fitnah yang dahsyat, Naudzubillah
min dzalik. Allah swt berfirman tentang mereka, ”Adapun orang-orang yang
diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata, ”Wahai,
alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak
mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya
kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga
sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap
daripadaku.”
Coba perhatikan ayat
selanjutnya, ”Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian
masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia
dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”
bagi orang yang beriman yang mengetahui makna ayat di atas, maka pastilah
bergetar hatinya, akan menetes airmata mereka, terisaklah tangis mereka dan
keluarlah keringat dingin di tubuh mereka. Seakan mereka saat itu, sedang
merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat
mendalam kepada Allah, kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi
orang-orang yang celaka.
Saudaraku, jama’ah
shalat jumat, Rahimakumullah
Sesungguhnya manusia
akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk
mempertanggungjawabkan diri mereka. Allah berfirman, ”Dan dengarlah pada
hari penyeru (malaikat) menyeru dari dari tempat yang dekat, yaitu pada hari
mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari
kubur).”
dan Allah juga berfirman, ”Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia
berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam.”
dan manusia akan dibangkitkan dalam
keadaan mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan, sebagaimana
firman Allah, ”Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah
Kami akan mengulangnya (mengembalikannya).”
Manusia akan
dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam
keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala
Nabi saw menceritakan hal itu kepada ’Aisyah ra. maka berkatalah ia, ”Wahai
Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada
sebagian yang lain?,” kemudian Rasulullah saw bersabda, ”Perkara pada
hari itu (kiamat) lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada
sebagian lainnya.”
Pada hari itu,
laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang
itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan
Allah pada hari itu. Sebagaimana firmanNya, ”Pada hari ketika manusia lari
dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isterinya dan
anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang
sangat menyibukkan.”
demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat
nanti, mudah-mudahan kita semakin takut kepada
Allah dan menetapi keimanan serta ketaatan kepadaNya.
Not Comments Yet "Part 21, Giliran Khutbah Pertama"
Posting Komentar