Jumat, 18 Oktober 2019

Part 21, Giliran Khutbah Pertama

Semester empat berlalu. Hasilku memuaskan, IP-ku cum laude[1] sekarang. Hatiku bersyukur akan kasih sayangNya, dan semoga saja bukan Istidraj[2] dariNya. Aku mencintaiMu ya Allah, tapi cinta saja tidak cukup karena menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimallah. Seorang mukmin bertauhid menyembah Allah dengan tiga hal. Yaitu Cinta, takut dan harap. Beliau meneruskan keterangannya, ’Barang siapa  menyembah Allah karena cinta saja berarti dia Zindik yaitu sebutan bagi orang yang tertipu oleh perasaan dan angan kosongnya. Barangsiapa yang menyembah Allah karena harap akan surga semata, maka dia Murji’ yaitu orang yang menganggap iman cukup dengan pembenaran lisan, sehingga memudahkan dan menggampangkan, seperti aliran liberal yang tidak membutuhkan shalat sebagai gerakan, cukup dengan mengingatNya semata. Dan barang siapa yang menyembah Allah karena takut saja maka dia Haruri, yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan orang muslim karena berlebihan dalam rasa takutnya.’ Allah, aku cinta, harap dan takut kepadaMu. Aku mengazam.
Aku memasuki semester lima, selama ini aku tidak pernah pulang. Kerinduan akan Kampung halaman seolah memenuhi jiwaku, uang tabunganku tak akan kuutak-atik. Aku berupaya hidup hemat, bukan pelit. Kucoba meniru kebiasaan Ali bin Abi Thalib ra. Dia mempunyai tiga dirham, untuk disedekahkan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, lalu satu dirham untuk diperlihatkan kepada manusia agar ditiru, dan satunya untuk sedekah bagi keluarganya. Atau seperti Salman Al Farisi yang diberi amanah sebagai gubernur oleh Umar bin Khatab, tapi gajinya diserahkan semua ke Baitul Mal[3], kecuali diambil satu dirham untuk dikerjakannya menganyam, hasilnya dijual dan mendapat 3 dirham. Satu untuk makan sehari keluarga, satu disedekahkan, dan satunya untuk menganyam hari esok, seorang Gubernur yang susah dicari pada saat ini. Atau seperti Umar bin Khatab, yang suatu kali ketinggalan shalat gara-gara mengunjungi kebun kurma dan zaitunnya yang sebentar lagi panen, lalu beliau menyedekahkan kebun beserta isinya ke Baitul Mal.
Aku jadi iri pada mereka. Teringat sebuah hadist, ”Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar. Dan orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya[4],” sekuat tenaga aku akan berusaha mengikuti mereka, sehingga harta yang diberikan Allah tidak membuatku lalai, lalu terjerumus seperti Qorun dan Fir’aun. Selain itu aku mengirim uang ke Kampung, mereka tidak tahu pekerjaanku disini. Kini Fajar baru lulus SMA, sedangkan Yasmin kini kelas 1 SMA. Aku membuka kembali surat dari Ibu sebulan yang lalu, setelah sebelumnya surat plus uang aku kirimkan.
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam terindah, dari Ibu, Bapak, dan adik-adikmu.
Le[5], rindu ibu membuat ibu harus menuliskan surat untukmu sebagai pelipur laraku. Ibu ndak bisa nulis jadi ini adikmu yang menulis, dia pintar sepertimu Le, seandainya kamu gak bisa pulang kami tidak akan bersedih, karena engkau berada di hati kami. Kami tidak mengharapkan uang, kabarmu disana baik, itu sudah cukup untuk ibumu yang telah lelah ini.
Bapakmu menitipkan salam rindunya dalam surat ini. Dia yakin engkau dapat memilih jalanmu sendiri, dia tidak meragukanmu sama sekali. karena dalam sholatnya namamu disebutnya tak pernah ketinggalan.
Kami tidak ingin engkau bekerja keras, hingga engkau terbebani, kuliahmu terbengkalai atau badanmu kelelahan. Kami tidak tahu kerja dan aktivitasmu disana, tapi kami semua yakin engkau memilih jalan yang benar. Namamu selalu menggema di setiap langkah gerak kami. Le..., rindu ibumu tak kuasa kutahan. Namamu ibu sebut di setiap gerak, di setiap detakan jantung ibu, yakinlah bahwa kita berdekatan tak ada jarak walau terpisah oleh sekat dinding-dinding kokoh.
Adikmu Fajar..., maafkan ibu dan bapak karena kurang bisa mendidiknya. Dia tidak bisa mendapatkan ranking seperti kamu dan Yasmin, tapi berdoalah selalu untuknya agar Allah membukakan rahmatNya pada adikmu. Le, tak banyak kata. Kami selalu merindukanmu, tapi janganlah pulang jika itu mengganggumu, tetaplah disana untuk mengejar citamu, jadilah orang besar, kami tidak ingin meminta apapun darimu. Cukup engkau menjadi orang yang banyak membawa manfaat bagi orang banyak, ibu lan bapak sudah tenang.
Ibu, Bapak dan adik-adikmu mencintaimu. Semoga rindu dan doa kami selalu menjadi pelipur laramu, menjadi teman kesepianmu.
Keluarga yang selalu merindukanmu, le...
Tambahan :
Kak ini aku Yasmin. Maaf sebelumnya aku banyak menambahkan dan mengurangi kata-kata yang Ibu sampaikan, soalnya ibu menyampaikannya sambil nangis dan cepat. Jadi, aku kesusahan menuliskannya, tapi intinya udah masuk semua.
Kak pesan dariku, ”Hmm..., tolong carikan Kakak untukku yang berakhlak baik, yang berjilbab, yang cantik dan lembut hatinya,” Kak..., aku mencintaimu karena Allah. Darimu dulu aku belajar banyak tentang kerja keras. Berjuanglah Kak! Yasmin.

Kulipat kembali surat itu, aku tak bosan-bosan mengulanginya. Terima kasih ya Allah atas nikmat, yang engkau berikan kepadaku. Tak kudustakan apapun yang kau berikan kepadaku. Aku melihat pengumuman di pondok, kata Samsul tadi ada informasi penting untuk tingkat tiga. Aku  di tingkat dua pondok, kini telah mempunyai adik tingkat pondok. Mereka semua ramah-ramah. Kadang ada yang masuk di kamar meminta nasehat hingga tengah malam. Keakraban terjalin dengan dengan rasa saling membutuhkan, karena ikatan yang terjalin karena Allah ’Azza Wa Jalla akan abadi, hingga pertemuan terindah yang dijanjikanNya.
Pengumuman tentang jatah pengisian khutbah jum’at di sekitar Depok, bahkan beberapa santri yang telah lulus dari Pondok yang masih terpantau, dan tinggal di Depok selalu mendapat giliran untuk menjadi khatib di masjid-masjid kota Depok. Ini menjadi acuan bahwa pondok Darussalam, memang telah mempunyai nama yang baik di masyarakat Depok. Masuk tingkat ke-tiga, sudah ada warning bahwa, dimulainya SKN (Santri Kuliah Nyata) seperti kuliah saja. Namun ternyata informasi ini yang membuat Samsul mengatakan, kalau ada info penting untukku. Ternyata dua nama yang berada di tingkat dua juga telah kebagian jatah, yaitu namaku dan Farid. Rasanya sedikit canggung, tapi inilah proses belajar, apalagi pihak Pesantren telah percaya padaku. Aku harus menjaga kepercayaan itu dengan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Kurasa Farid pun, akan melakukan yang terbaik. Tugasku minggu ke dua, di masjid Ukhuwah Islamiyah. Aku harus mempersiapkannya.
Hari ini belum dapat materi kuliah, maklum baru pertama kali masuk. Biasanya Mahasiswa sibuk mengurusi registrasi. Setelah registrasi, biasanya kami saling tukar pengalaman liburan yang memang lama untuk semester genap, beberapa minggu. Ada yang pulang ke kota, ada yang pulang kampung ataupun rekreasi dan refreshing ke luar negeri. Bermacam-macam. Saat ramai, aku hanya menekuri satu buku yang tadi kubeli di toko buku. Buku-buku tentang tata cara khutbah jum’at. Aku membeli tiga buku, yang dua tentang materi-materinya. Kuedarkan pandanganku, riuh dan ricuh mirip pasar ikan. Tapi..., Aisyah tidak terlibat di dalamnya. Dia membaca sebuah buku, dan duduk di tempat duduknya seperti biasa. Jilbab hitamnya begitu anggun, benar-benar bidadari dunia. Astaghfirullah, hatiku berdesir. Aku menata hatiku, tak kubiarkan ada ruang celah untuk syetan memasuki hatiku.
Aku pulang  pamitan dengan teman-teman sefakultas. Sempat selintas Aisyah melihatku, matanya benar-benar lentik. Kutahu dia adalah bidadari..., dan siapakah aku? Dapat bersahabat sudah merupakan rahmat dari Allah untukku. Aku meninggalkan segala syak wa dzon (keraguan dan prasangka). Waktu dhuha masih menyisa, tadi pagi aku belum sempat shalat. Aku naik bikun dan menuju masjid Ukhuwah Islamiyah. Kurendahkan diriku serendah-rendahnya, aku menghiba padaNya dengan ketulusan, betapa hati ini sangat lemah. Sangat lemah. Kalau bukan tanda dariNya, entah jadi apa manusia? Tanpa kedekatan denganNya, tak akan ada lagi cinta dan kasih sayang, tak akan ada lagi seekor ayam yang mengangkat kakinya agar anaknya tak terinjak. Allah, lindungilah hambaMu selalu dari dunia yang melenakan.
Seusai shalat, aku mempelajari buku-buku tentang khutbah yang baru kubeli. Masih banyak waktu hingga Dzuhur dan bekerja kembali di Pasar Minggu, bagiku semuanya indah. Tak perlu ada yang disesali atau dikeluhkan, selama Allah selalu melihat dan bersama kita. ”Alangkah indahnya keadaan hidup seorang yang beriman. Semua urusannya bernilai kebaikan dan yang demikian hanya akan diperoleh orang yang beriman. Apabila dia diterpa kesulitan (penderitaan) dia bersabar, dan yang demikian itu baik baginya. Dan apabila dia memperoleh kemudahan (kesenangan) dia bersyukur, dan yang demikian itu baik baginya[6].” oh..., betapa indahnya untaian kata-kata mutiara ini, dada terasa lapang, jiwa juga merasakan kebahagiaan, dan hati pun luluh karenanya. Kala orang beriman memperoleh nikmat dan karunia dari Allah, dia bersujud dan bersyukur dan dikala dia diterpa musibah dan kesulitan, dia bersabar penuh harap dan senantiasa berhubungan dengan Allah semata, semua keadaan membuatnya semakin dekat dengan Tuhannya.
Aku membuat beberapa catatan untuk persiapan khutbah jum’at. Pada dasarnya wasiat taqwa merupakan rukun khutbah, sebagai hal yang harus ada. Dapat membahas fenomena sebagai penerangan ummat, tapi semua menyambung pada ketaqwaan. Seorang khotib jangan memaksa jama’ah mengikuti pola pikir yang kian kemari, bertele-tele dan seolah-oleh khatib ingin membeberkan semua ilmunya saat itu juga, secara keseluruhan. Jama’ah jum’at tidak memerlukan paparan seperti itu, Wallahi. Makanya para jama’ah memilih tidur, apalagi khatib tidak bisa mengendalikan intonasi bicara karena kebanyakan bahan. Mungkin jama’ah berkata dalam hatinya, ”Ganggu kenyeyakan aja.” Naudzubillah.
Rasulullah saw menuntunkan materi khutbah sederhana, pokok ujungnya adalah taqwa, bukan sekedar ucapan yang mengundang ghibah. ”Rasulullah saw tidak tergesa menyambung pembicaraan dengan pembicaraan lain yang seperti ucapan kalian. Akan tetapi Beliau berbicara dengan perkataan yang jelas, mudah ditangkap dan diingat oleh orang yang duduk di hadapan beliau[7].” sehingga tak ada jama’ah yang sempat tertidur jika khotib meniru anjuran Rasulullah saw, karena tidak boleh ada satupun jama’ah jum’at – termasuk khotibyang merasa aman dari adzab Allah ’Azza Wa Jalla. ”Adalah Nabi saw apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Beliau bagaikan komandan pasukan perang yang sedang berkata, ”Musuh menyerang kalian pada pagi hari!” dan ”Musuh datang sore-sore![8]”. Rasulullah saw juga bersabda, ”Termasuk tanda seseorang yang pemahamannya mendalam adalah khutbahnya singkat, shalatnya panjang.”[9]
Adzan menggema. Aku mengemasi buku-buku yang berserakan, memasukkannya ke dalam tas. Panggilan Allah, sudah seharusnya membuat manusia yang beriman segera meninggalkan setiap pekerjaan, untuk bertemu dan berkomunikasi denganNya. Rencananya nanti malam, aku akan menggarap materi untuk khutbah giliranku. Semuanya harus dipersiapkan sematang mungkin, setelah berupaya barulah Allah yang menentukan hasilnya. Setelah menghadap Allah, rasanya aku mempunyai semangat baru untuk menyelesaikan semua persoalan hidupku. Segalanya...

*     *     *
Hari jum’at. Pagi itu cerah sekali, begitu sejuk. Aku melangkah hendak kuliah, baru beberapa langkah Syahid memanggilku. Katanya keluarga Pak Purwiro telah pulang dari Luar Negeri, barusan dia melihatnya masuk ke rumahnya saat Syahid lewat ba’da bermain bola. Hari ini dia lagi kosong, jadi tidak kuliah. Pak Purwiro adalah tetangga kami, rumahnya bersebelahan dengan pesantren, hanya saja orangnya jarang di rumah. Kata para Santri orangnya begitu pelit, tidak pernah terlihat di acara-acara pengajian ataupun untuk shalat di Masjid. Pernah ada santri yang datang meminta partisipasi untuk datang ke acara lulusan pesantren, tapi malah dimarahi, pak Purwiro mengiranya sebagai peminta dana untuk sumbangan Pesantren. Dua minggu yang lalu pun, dia pergi beserta keluarganya, pembantunya pun diajak karena takut mengambil harta di rumah. Hanya anjing yang menjaga di rumahnya. Begitu cerita Samsul padaku.
Aku berlari kembali lagi ke kamar, mengambil gulungan koran yang lumayan tebal. Aku berjalan mampir sejenak ke rumah pak Purwiro. Dari gerbang, aku memencet bel rumah. Seorang wanita keluar, wajahnya begitu bersih karena make-up yang berlebihan mungkin. Aku menundukkan pandanganku.
”Mas mau mencari siapa?” tanyanya sambil membuka gerbang.
”Pak Purwiro ada?”
”Papi sedang membaca koran. Sebentar akan saya panggilkan,” wanita itu berbalik dan kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki tambun keluar tergesa-gesa. Seolah ada urusan penting.
”Anak Pondok, kamu mencari saya? Mau minta sumbangan! Sudahlah, kalian urusi saja urusan akhirat kalian. Dunia dan harta tak layak untuk kalian. Jika mau uang, seharusnya kalian bekerja keras bukan meminta-minta! Buat apa kalian belajar agama jika kerjaannya hanya meminta uang!” bibirnya sedikit sinis. Hatiku serasa terbakar sejenak, tapi Allah segera meniupkan cintaNya sehingga bibirku dapat tersenyum pelan. Bukankah lebih baik membalas keburukan dengan kebaikan?
”Saya kesini bukan untuk meminta sumbangan Pak, saya hanya ingin menyerahkan koran-koran Bapak, yang terkumpul di gerbang selama Bapak ke luar negeri,” aku menyerahkan koran itu. Dia menerimanya. Sangat banyak, karena satu hari mereka langganan beberapa koran dan tabloid, ”Jika saya mengganggu waktu Bapak, saya minta maaf. Sekarang saya ingin pamit untuk kuliah. Assalamu’alaikum.”
”Tunggu Nak,” sebuah nada yang pelan, membuatku berhenti. Pak Purwiro, ”Kenapa..., kenapa kamu bersusah-susah mengumpulkan koranku, dan kenapa engkau begitu sabar dengan sikapku?” matanya lekat menatapku heran.
Aku tersenyum padanya, ”Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, terutama tetangga yang terdekat. Satu hari anda pergi, sewaktu pulang kuliah, saya melihat koran sudah bertumpuk di gerbang, saat itu saya mengumpulkannya dan akan saya berikan kepada Bapak sewaktu Bapak pulang nanti. Walaupun anjing Bapak selalu menyalak, sewaktu saya mengambilinya setiap pagi,” aku mencoba sedikit bercanda padanya, kulihat dia juga tersenyum kecil.
”Tapi kenapa engkau bersusah-susah untuk mengumpulkannya, kenapa tidak engkau tinggalkan saja?” dia masih bertanya penasaran.
”Bapak mungkin sering mendengar ungkapan, ’Kejahatan terjadi bukan hanya terjadi karena niat pelakunya, melainkan karena ada kesempatan’ jika koran yang ditinggalkan setiap harinya bertumpuk, maka akan ada orang yang melihat dan mengira bahwa rumah itu tidak ada penghuninya. Maka kejahatan bisa terjadi, tapi jika koran itu terambil setiap hari, maka akan terlihat seperti ada penghuninya. Saya hanya berjaga-jaga, semoga tidak ada orang yang ingin berbuat jahat terhadap rumah Bapak. Apalagi Bapak adalah tetangga dekat kami. Islam sangat menganjurkan bahwa kami harus berbuat baik, terutama tetangga yang paling dekat. Kalau begitu saya duluan Pak, kuliah mau dimulai, saya tidak ingin telat. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam..., Tunggu Nak.”
”Ada apa lagi Pak?”
”Apakah siang ini kamu ada acara? Saya ingin mengundang anda makan siang di rumah saya,” pandangan matanya penuh harap.
”Ehm..., mungkin lain kali Pak. Hari ini setelah kuliah, saya kebagian tugas mengisi khutbah jum’at di masjid Ukhuwah Islamiyah. Setelah itu saya harus kerja di pasar Minggu. Insyaallah lain kali saya bisa Pak.”
”Kerja? Setelah pulang mengisi khutbah? Kamu kerja apa?”
Aku hanya tersenyum, ”Saya bekerja sebagai kuli di pasar. Maklum Pak, di Depok saya sendirian membiayai kuliah saya. Orangtua saya di desa orang miskin, Bapak tentu lebih tahu bagaimana manusia harus bekerja, agar tak meminta-minta pada orang lain,” kulihat dari wajahnya agak merasa bersalah. Aku pamitan padanya, sempat kutangkap, bahwa dia akan menghadiri shalat jum’at di masjid Ukhuwah Islamiyah, katanya ingin mendengarkan khutbahku. Aku mengganggukkan kepalaku.
*     *     *
Usai kuliah aku langsung naik bikun. Giliran tugasku tiba juga. Aku datang pukul 11.15, karena tadi kuliah baru saja keluar. Untung saja dari rumah aku langsung memakai baju koko, sehingga hanya perlu bersih-bersih di serambi masjid. Aku memasuki Masjid dengan keadaan setenang mungkin, aku mengambil tempat di shof depan, beberapa orang telah duduk disana, ada yang masih shalat sunnah. Aku memberi salam kepada orang-orang yang sedang duduk dekat dengan mimbar. Sekilas di pinggir sebelah kiri, seseorang yang aku kenal menatapku. Ustadz Umair. Aku membalas senyumnya dan shalat dua rekaat. Jama’ah mulai berdatangan, aku masih menekuri Al-Quran pemberian Sinta. Jika teringat masa laluku, mataku seolah menetes kembali. Alangkah sayangnya Engkau padaku Ya Allah. Kau beri hamba pemahaman sehingga kini Engkau memberi amanah padaku untuk menyampaikan risalahMu. Alhamdulillah..., Alhamdulillah ya Allah.
Seseorang menepuk pundakku pelan, ”Silakan Ustadz,” ternyata akh Deri, salah seorang takmir masjid yang sering berdiskusi denganku. Aku tersenyum padanya dan berdiri memasuki mimbar, kuhadapkan wajahku ke seluruh jama’ah, ”Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” lalu aku duduk. Muadzin melantunkan adzan. Aku mendahulukan Alhamdulillah, syahadat, shalawat dan salam dan perkataan ’Amma ba’du, seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim Rahimallah dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad. Lalu pesan taqwa.
Aku memendekkan khutbah, kumulai dengan membaca surat Ibrahim ayat 7, Jikalau kalian bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih.” Aku  mengambil tema, Hari Kiamat!.
Demikianlah, aku wasiatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk mengamalkannya. Ketahuilah, wahai saudaraku Rahimakumullah, tatkala Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra. tentang takwa, maka berkatalah Ubay, ”Pernahkah anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?” kemudian Umar menjawab, ”Tentu” maka berkatalah Ubay, ”Apa yang anda lakukan?” berkatalah Umar, ”Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu”. Lalu Ubay berkata, ”Demikianlah takwa itu.[10]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Demikianlah takwa, kita harus senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita. Oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasar ilmu. Hendaklah kita mencari bekal untuk kehidupan akhirat karena kita tidak tahu kapan ajal menjelang. Allah swt berfirman, ”Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal.[11] bagi orang yang tidak takut pada Allah ’Azza wa Jalla, seakan mereka ringan mengatakan neraka, adzab, ash-shirat dan lain-lainnya, tanpa ada rasa kalau mereka akan dihadapkan pada fitnah-fitnah yang dahsyat, Naudzubillah min dzalik. Allah swt berfirman tentang mereka, ”Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata, ”Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap daripadaku.”[12]
Coba perhatikan ayat selanjutnya, ”Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”[13] bagi orang yang beriman yang mengetahui makna ayat di atas, maka pastilah bergetar hatinya, akan menetes airmata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka. Seakan mereka saat itu, sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat mendalam kepada Allah, kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang celaka.
Saudaraku, jama’ah shalat jumat, Rahimakumullah
Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawabkan diri mereka. Allah berfirman, ”Dan dengarlah pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).”[14] dan Allah juga berfirman, ”Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam.[15] dan manusia akan dibangkitkan dalam keadaan mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan, sebagaimana firman Allah, ”Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangnya (mengembalikannya).[16]
Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi saw menceritakan hal itu kepada ’Aisyah ra. maka berkatalah ia, ”Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?,” kemudian Rasulullah saw bersabda, ”Perkara pada hari itu (kiamat) lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya.”[17]
Pada hari itu, laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari itu. Sebagaimana firmanNya, ”Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isterinya dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan.”[18] demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan kita semakin takut kepada Allah dan menetapi keimanan serta ketaatan kepadaNya.


[1] Hasil Istimewa, angka pembagiannya lebih dari 3,51
[2] Nikmat yang diberikan kepada orang yang kufur dan ingkar
[3] Kas Negara
[4] HR Al Bukhari
[5] Panggilan sayang orangtua di  desa
[6] HR Muslim
[7] HR Bukhari dan Muslim
[8] HR Muslim
[9] HR Muslim
[10] Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hal.55
[11] Al-Baqarah : 197
[12] Al – Haqqah : 25-29
[13] Al-Haqqah : 30-32
[14] QS Qaf : 41-42
[15] QS Al-Muthaffifin : 4-7
[16] QS Al-Anbiya : 104
[17] HR Bukhari
[18] QS ‘Abasa : 34-37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar