Jumat, 18 Oktober 2019

Part 22, Ramadhan ya Ramadhan

”Marhaban ya Ramadhan,” hati dan lisanku berujar syukur, Allah ’Azza Wa Jalla masih mencintaiku sehingga aku dipertemukan lagi dengan tamu yang ditunggu Umar bin Khattab ra. dengan riang, yang membuat Abu Bakar ash Shidiq ra. melakukan apa saja untuk mendapatkan keridhaanNya. Ramadhan telah datang, bulan yang dinanti-nanti Utsman bin Affan ra. untuk memperbanyak sedekahnya, bulan yang ditunggu-tunggu Ali bin Abi Thalib ra. karena kemulyaannya. Bilal bin Rabbah ra. pun mengunggunya dengan senyuman terindahnya.
Gembiranya hatiku pula, namun segera aku teringat sebuah hadits, ”Berapa banyak orang yang berpuasa dan dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan berapa banyak orang yang mengerjakan shalat malam (qiyamul layl), dan ia tak mendapatkan apapun darinya kecuali begadang semalam suntuk.”[1] Ya Allah, ya Rabb, lindungilah hambaMu dari amalan yang sia-sia, dari kebaikan yang tak terangkat derajatnya hingga ke sisiMu. Mataku sembab, apakah amalku selama ini hanya sebatas rutinitas? Allah, ampunilah..., lindungilah..., hamba hanyalah manusia yang dhaif. Bantulah setiap hambaMu yang ingin memperbaharui imannya, termasuk diriku ya Rabb.
Setiap Ramadhan, Pesantren memiliki sebuah tradisi yang unik, mungkin sejak awal pesantren ini berdiri. Semua Ustadz menggelar ta’lim[2] sendiri-sendiri, biasanya mendalami salah satu kitab dengan tafsir dan pendalamannya. Selama ramadhan, jadwal belajar pondok diliburkan kecuali untuk satu kajian setelah shalat tarawih. Setiap santri mendapatkan selebaran, berupa jadwal ruangan tiap-tiap Ustadz dan kitab yang akan ditelaahnya selama satu bulan Ramadhan. Santri diberi kebebasan memilih dengan Ustadz yang mana, atau memilih mendalami kitab yang mana. Tahun lalu, kadang di antara santri ada yang pindah karena kitab yang dibahas membosankan. Ada-ada saja.
Aku membaca selebaran itu. Ada sembilan orang Ustadz yang tertulis di selebaran. Ustadz Ali menelaah kitab Ruh karya Ibnu Qayyim al Jauziyah Rahimallah, Ustadz Firman menelaah kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Rahimallah, Ustadz Arifin membahas kitab Shahih Bukhari karya Imam Bukhari Rahimallah, karena beliau memang ahli hadits, dan lain-lainnya. Hingga kulihat Ustadz lembut itu, Ustadz Wahid menelaah kitab Tauqul Hamaamah karya Ibnu Hazm al-Andalusy, seorang ulama besar tahun 400-an Hijriah, nama lengkapnya Syaikh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm Adz-Dzahiry El Andalusy. Kulihat daftar lagi, Ustadz Umair menelaah kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd Rahimallah.
Sambil berpikir untuk menentukan pilihan, kusetel murottal Al-Mathrud juz 30, itulah musik kehidupanku kini. Cess...! rasanya berpikir seolah di tengah pulau indah, yang dikelilingi lautan nan sejuk, seumpama pepohonan dan bunga bermekaran menghijau, menyedapkan pandangan. Bagai menyelam di telaga kautsar, yang Nabi Muhammad saw bersabda, jika meminumnya maka tidak akan merasakan haus lagi selama-lamanya.
Pintu kamar terbuka pelan. Suara salam terdengar, aku menjawabnya lirih. Kini aku sekamar berdua dengan Syahid, karena pembangunan pesantren telah selesai. Syahid tersenyum menatapku, dalam senyumku masih terbesit pikiranku untuk memilih menelaah kitab yang mana. Aku bangkit, duduk di pinggir ranjang.
”Jangan lupa Akh, besok anta dapat jatah di masjid Ukhuwah Islamiyah lagi. Sudah disiapkan belum materinya?” Syahid membuka baju kokonya, dan menggantungkannya di dalam lemari kainnya. Beberapa buku yang tadi dipegangnya ditaruh di pojok meja belajar.
Insyaallah udah saya siapkan saudaraku, doakan lancar ya Akh?
”Aamiin. O ya, boleh tahu apa materinya?”
”Urgensi dan keutamaan shalat. Sekarang lagi banyak dibahas tuh.”
”Menarik juga. Insyaallah besok saya shalat jum’at disana. Sekalian untuk bahan belajar untuk semester depan, karena aku pasti sudah dapat tugas,” Syahid manggut-manggut.
Akh Syahid, kamu pilih siapa dan kitab apa di bulan Ramadhan kali ini?”
”Ehm..., kayaknya saya tertarik mendalami kitab Ruhnya Ibnu Qayyim, kalau Anta?
”Sepertinya aku tertarik dengan kitab Tauqul Hamaamahnya Ibnu Hazm, tahun lalu aku menelaah kitab Riyadhus Shalihin bersama Ustadz Firman, dan tahun ini entah kenapa, aku cenderung ingin belajar dengan Ustadz Wahid, walau kata yang lain yang mengikuti kajiannya sudah tua-tua.”
”Itu dia masalahnya Akh.”
”Maksudnya?” aku menatapnya keheranan.
”Kebanyakan yang mengikuti kajian Syaikh Wahid itu, yang kamu bilang sudah tua-tua, adalah alumni Pesantren kita. Mereka datang kesini hanya untuk belajar dengan syaikh Wahid sekalian untuk itikaf[3]. Kalau aku sendiri merasa belum pantas, tapi kulihat anta sudah pantas mengkaji kitab Tauqul Hamaamah, karena tahun depan Akhi sudah menyusun skripsi, setelah itu tinggal mencari pasangan hidup. Iya kan?” matanya berkedip-kedip kearahku. Lagi-lagi dia mengejekku. Dia memang satu tingkat kuliahnya di bawahku. Tapi kata-katanya ada benarnya juga, hanya saja belum ada lintasan dalam pikiranku tentang bayangan menikah.
”Mulai lagi! Awas, aku tidak akan mau lagi menyimak hafalanmu,” aku sedikit menggertak kejahilannya, walau dalam hatiku aku membenarkan kata-katanya. Sudahkah waktunya aku melengkapi separuh dienku?
*     *     *
Malam kembali datang, setelah siang berselang. Kesejukan kota Depok di kala malam tak jauh beda dengan keadaan di kampungku. Disini masih banyak pepohonan, kesan asri masih terasakan, memesona keheningan. Kebisingan di kala siang seolah tertelan ketenangan malam, sejuk dan dingin.
Ini malam kedua Ramadhan, bulan yang ketika membaca satu ayat Al-Quran pahalanya berlipat-lipat daripada bulan lainnya. Alangkah merugi seorang muslim yang melewatinya tanpa membawa manfaat, untuk hidup di dunia dan bekal di akhirat. Kota Depok seolah bergema ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Cinta. Di setiap pucuk menara masjid, seolah menggema menyemarakkan semesta yang berdzikir. Lantunan kerinduan, beriringan, membuat siapapun orang yang mempunyai iman di hatinya akan berdebam-debam hatinya, gemetaran raganya, merindukan bersujud dan bersimpuh sepenuh jiwa, memberikan segala rasa pada Allah ’Azza Wa Jalla. Mata setiap insan beriman, pastilah bersimbah airmata rindu yang mengaliri keringnya ruhiyah, jiwa dan raga.
Ba’da tarawih, seolah setiap lisan bercahaya. Tepat pukul 21.00, usai membaca Al-Quran dan mengkaji sedikit terjemahnya, aku meninggalkan masjid. Kulihat beberapa Santri, bahkan sebagian besar sudah menuju kajiannya masing-masing. Syahid kulihat menenteng kitab, memasuki kelas D.I, menunggu Ustadz Ali yang akan menelaah kitab Ruh. Aku meneruskan langkahku, menuju ruang Gazebo Pesantren, tempat Ustadz Wahid menelaah kitab Tauqul Hamaamah. Gazebo Pesantren letaknya di belakang, dekat dengan kolam ikan. Begitu indahnya mengkaji ilmu sambil melihat kecipak air yang digoyangkan ikan-ikan mujair dan emas. Kurasa, Ustadz Wahid memilih di Gazebo mempunyai pendapat tersendiri, atau mungkin menyesuaikan dengan kitab yang akan dibahas.
Kajian sudah dimulai, memang malam pertama Ramadhan diliburkan, dan kajian  kitab, baru akan dimulai pada malam kedua. Ada sekitar 30-an orang yang sedang mendengarkan ujaran Ustadz Wahid. Mereka duduk melingkar tapi tiga shaff. Aku memang telat. Aku bergabung di barisan belakang. Ternyata benar, kebanyakan mereka sudah tua, bahkan ada yang telah sepuh. Ustadz Wahid sepintas menatapku, senyumnya terukir sejenak lalu melanjutkan ujarannya. Tauqul Hamaamah merupakan kitab tentang hakikat cinta, mereka ingin mempelajarinya karena merasa was-was dengan keadaan remaja sekarang. Para orangtua yang mengikuti kajian Ustadz Wahid ingin mencari solusi terbaik, dalam menyelesaikan persoalan remaja yang rentan dengan istilah cinta, yang kini banyak disalah artikan. Aku jadi tertarik, karena aku memang sedang banyak gejolak, terutama sebagai pemuda. Aku tidak ingin terjerumus.
Dengan mengetahui penyebab-penyebab seseorang mencintai, hingga mengetahui hakikat cinta itu, maka aku akan mengetahui bagaimana menangkal nafsu yang mencoba melumuri dan menutupi kemunkaran menjadi suatu kenikmatan. Kekuatan cinta memang dahsyat, begitu Beliau menerangkan. Tak ada tirani yang bisa mengekangnya. Jika salurannya tepat, karena Allah, maka cinta itu akan menghasilkan syahadah, kesungguhan untuk melakukan yang terbaik. Cinta yang lurus akan menghasilkan pahlawan-pahlawan cinta, yang hingga kini namanya begitu harum, dialah Hanzhalah ra. yang dimandikan malaikat yang memenuhi panggilan jihad di malam pengantinnya. Dialah Umar ra. yang tidak bisa tidur karena tangisan anak kecil yang kelaparan. Dialah Abu Bakar ra., yang ridha melakukan apapun yang Rasulullah saw pernah lakukan semasa hidupnya.
Masalahnya, kini cinta telah menjadi acuan dan pengertian semata urusan laki-laki dan wanita. Cinta yang ada hanya syahwat dan dunia. Naudzubillah. Seolah dunia ini hanya berisi cinta, hidup ini hanya berisi pemuasan nafsu. Dalam kitab itu dijelaskan tentang bagaimana seseorang dapat mencintai sesuatu, entah pada pandangan matanya, hingga karena mendengar suaranya semata. Permasalahan cinta bukanlah hal sepele, dia bukan penyakit tetapi jika telah terjangkit, lebih pedih daripada terluka oleh sayatan pedang. Sangat sakit, hingga penderitanya bisa mati. Permasalahan terbesar bagi penuntut ilmu adalah wanita, seandainya dia bisa mengalahkan nafsu itu, maka dia akan menjadi ulama, menjadi orang yang berilmu. Tapi jika tak bisa melewati rintangan syahwat itu, maka dia akan perbudaknya.
Setiap kegiatan manusia, jika dilandaskan pada cinta yang murni untuk Allah, maka sesungguhnya dia sedang menikmati hidupnya. Itulah masalahnya, di kala manusia terlelap dalam buaian mimpinya, cinta bangun untuk bermunajat, itulah repotnya. Di kala manusia membuat proteksi akan hartanya, cinta ingin memberi dan berbagi, itulah susahnya. Ketika orang lain berkeluh kesah, cinta bersabar dan bersyukur. Ketika orang lain melarikan diri dari masalah, cinta mempertanggungjawabkan perbuatannya, itulah beratnya. Cinta akan melahirkan akhlak yang mulia, Rasulullah saw bersabda, ”Cukuplah seseorang dinilai telah melakukan kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim.”[4] itulah cinta, kata yang bisa dipahami oleh orang-orang yang menikmati ibadahnya, bukan sekedar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban apalagi agar dilihat manusia.
Malam merambat. Kajian diteruskan besok malam. Aku pamitan pada Ustadz. Di kamar, Syahid telah terlelap tidur. Aku tersenyum padanya, Allah terima kasih untuk semua cinta yang Kau anugerahkan. Aku memiliki segalanya, tak ada yang akan kukeluhkan lagi ya Allah. Kuhidupkan jam weker, berlomba-lomba dalam kebaikan karena aku harus lebih dulu membangunkan teman-teman untuk sahur. Aku melantunkan doa, melantunkan dzikir, dan tersenyum padaNya. Semoga tidurku bernilai ibadah di sisiNya. Amiin.
*     *     *
Aku menyimak setoran Fadli. Kemajuannya pesat, kini dia sedang melantunkan surat At-Tahriim. Penghujung surat di juz 28. Aku teringat punya janji memberinya hadiah jika dia bisa menghafal satu juz. Aku tersenyum kearahnya yang masih membaca basmallah dan memejamkan matanya.
Aku menyimaknya seksama. Beberapa tempat sedikit salah, lalu kubetulkan. Dia meneruskan bacaannya kembali. Hatiku bergetar ketika dia membaca ayat, ”Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah. Dan dikatakan (kepada keduanya), ”Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’au perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ”Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” dan (ingatlah) Maryam putri ’Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabNya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”[5]
Allah mengisyaratkan contoh-contoh istri yang tidak baik dan istri yang baik. Pantas dengan siapakah diriku? Istri? Bukankah wanita yang baik-baik untuk lelaki yang baik, wanita pezina untuk laki-laki pezina. Istri-istri Nabi yang soleh pun, tak lepas dari kemusyrikan. Apakah aku telah bisa membimbing istriku nanti? Allah..., jadikan aku dan istriku kelak dapat saling membantu di pengadilanMu, jangan jadikan aku kelak bermusuhan dengan keluargaku, istriku, teman-temanku. Jadikan ikatan cinta kami kuat, jadikan muaranya hanya padaMu. Allah...
”Gimana Kak? Sudah lulus kan? Katanya Kakak mau memberi hadiah,” matanya berkedip-kedip. Sangat mirip dengan lakuku sewaktu kecil. Tak terasa, sudah lama aku mengajarinya membaca iqra’, mengkaji pelajarannya bersama sehingga dia tidak perlu mencontek seperti kecilku dulu. Masakannya pun sekarang sudah lumayan enak, aku mengajarinya pelan-pelan. Waktu pertama kali, masakannya benar-benar hambar. Kadang kemanisan karena kebanyakan gula. Kulihat sekali lagi senyumnya, sungguh indah..., begitulah Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[6] Semoga akhlak kitapun seindah penciptaan kita. Amiin ya Rabbal ’Alamin.
”Fadli ingin hadiah apa?”
”Bolehkah..., bolehkah aku meminta sesuatu yang bukan berbentuk barang?” tatapannya begitu serius. Baru kali ini kulihat wajahnya penuh harap, dan sorot matanya seolah ketakutan, ”Lakukanlah sesuatu untuk Fadli.”
”Jika Kakak bisa melakukannya, Kakak pasti memenuhinya. Pokoknya Kakak akan berusaha untuk memenuhinya,” aku mengusap kepalanya pelan.
”Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, aku hanya punya Kak Aisyah. Walau dia hanya menciumku dikala tidurku, dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku. Aku sangat mencintainya, tetapi aku belum pernah mengatakan cinta padanya. Aku ingin melihatnya bahagia, sepanjang hidupku. Aku hanya minta Kakak..., Kakak...,”
”Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu dan kak Aisyah bahagia? Sedangkan aku sendiri orang perantauan disini,” aku menatapnya teduh.
”Tolong jaga Kakakku, tolong buat dia tersenyum. Karana kak Aisyah membutuhkan Kakak. Dia sangat mencintai Kakak. Aku tahu itu, ketika pagi hari dia selalu memintaku menceritakan tentang Kakak. Itulah permintaan Fadli..., aku ingin Kakak membimbingnya dan membimbingku..., aku ingin Kakak menjaganya,” wajahnya menatapku penuh harap.
Aku mencoba menata hatiku. Aku memegang dan mendekap kedua tangannya, ”Fadli..., urusan itu adalah milik Allah. Setiap perkara di dunia; yang ghaib dan tersembunyi adalah rahasia Allah. Kita dipertemukan karena Allah, semuanya bukan kebetulan, semuanya telah diatur Allah. Biarlah Allah yang akan mengaturnya untuk kita. Kita harus ridha pada semua ketentuanNya,” aku tersenyum meyakinkan.
”Tapi...,” dia menatapku memelas, ”Bukankah Kakak pernah bilang, kalau kita berdoa pada Allah, kita bisa meminta apapun. Dan Allah pasti mengabulkannya, jika tidak di dunia Insyaallah di akhirat kelak. Aku sudah berdoa di setiap shalatku, di hari ulang tahunku, di setiap menjelang tidurku, di setiap wudhuku. Aku hanya ingin Kakak bahagia..., aku...,” dia menangis. Aku mendekapnya erat. Alangkah cintanya mendalam pada Aisyah. Alangkah dalam sebuah cinta, hingga mampu membuat orang yang sedang dirundung melakukan apapun.
”Allah akan mengabulkan doamu, Insyaallah..., Insyaallah. Yakinlah bahwa Allah selalu bersamamu. Dia tidak akan mengecewakan hambaNya yang beriman dan mengagungkanNya. Sudahlah, bukankah engkau tidak tahu apa yang diinginkan kak Aisyah? Bukankah kamu juga belum pernah mengatakan bahwa engkau mencintainya karena Allah pada kakakmu? Ucapkanlah dan buatlah ia bahagia. Jangan menunggu dan menunda-nunda, karena semuanya bisa terlambat.”
”Aku akan mengatakannya segera Kak. Fadli akan mengusahakannya.”
”Semoga Allah menjadikanmu orang yang berilmu, dan mampu menjadi teladan di zaman yang telah rusak ini. Aamiin.”
Adzan isya’ menggema. Aku mengajaknya shalat di masjid, setelah itu biasanya kuantar pulang sekaligus pamitan untuk pulang. Fadli berlari masuk katanya mengambil sesuatu dan pecinya di dalam. Saat keluar, sarung kecilnya telah dipakainya. Aku teringat begitu lucunya dia, ketika dulu belajar memakai sarung hingga melorot terus hingga menangis. Aku mengajarinya sambil tersenyum, akhirnya dia tersenyum juga. Tapi entah apa yang dipegangnya, sebuah amplop? Bukankah baru seminggu yang lalu Aisyah menitipkan amplop pada Fadli?
”Ini surat dari Kak Aisyah?” senyumnya mengembang.
”Untuk Kakak,” seolah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.
Anggukan kepalanya yang yakin, membuatku menerima amplop itu. Sebuah surat? Dari gadis tegar itu? Aku kembali menghadap Allah dengan gundah.


[1] HR Ibnu Majah
[2] Kajian
[3] Menetap dimasjid untuk Taqarrub Ilallah (mendekatkan diri pada Allah)
[4] HR Muslim
[5] QS At-Tahriim :10-12
[6] QS At-Tiin : 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar