Jumat, 18 Oktober 2019

Part 23, Surat dari AISYAH

Malam itu, sunyi. Sesudah Qiyamul layl aku duduk di Gazebo pesantren. Membawa amplop pemberian Fadli sewaktu Isya tadi. Aku sedikit ragu membukanya, hatiku sempat berprasangka. Tapi, Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku membukanya mantap dengan memohon perlindungan kepada Allah. Suratnya begitu tebal ada tujuh helai kertas, berarti ada tujuh surat. Aku membacanya satu persatu.

1
Agustus  2006, di tempat yang menyimpan kenangan indah laluku,
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Untuk Ali. Sahabatku. Kutulis kala jiwaku resah.
Aku tahu, engkau pasti heran jikalau engkau membaca tulisan ini. Baru pertama kali ini aku menulis dan merangkai kata-kata. Hidupku telah habis, kutumpahkan dalam setiap duka kala tak kutemukan muara untuk langkahku melangkah. Bahkan akupun tidak bisa menulis catatan hidupku, dulu waktu kecil aku sering menuliskan sejarah hidupku. Hingga kejadian itu..., aku tak lagi menuliskan potongan hidupku. Kurasa tak ada guna. Yang kutahu aku hidup bukan untukku, aku hidup untuk Ibu, Fadli. Aku hidup bukan untuk diriku.
Kini aku memaksakan diriku untuk menulis kembali, mencoba memaksakan merangkai kata. Untuk menyapu kegelisahan dan kegundahan yang menjelma serupa embun-embun yang berkumpul lalu akhirnya terjatuh pula karena tak kuasa menahan beban.
Ali, kutulis dengan kedalaman hatiku
Aku seolah kehilangan arah berpijak. Aku tak punya harapan, Fadli yang menjadi harapanku hanya murung dan diam. Aku pun tak kuasa untuk sekedar menemaninya, yang kulakukan hanya mengecup kening dan mengusap kepalanya saat dia telah terlelap. Tapi aku yakin dia dapat merasakannya, walau dalam mimpi. Kuberharap, memohon pada Allah. Kirimkan untuknya teman karena dia tidak mempunyai teman. Dia selalu menangis dan terdiam kala kusapa pagi hari. Walau kutahu, aku bukan seorang muslimah yang  baik. Tapi..., izinkanlah ya Allah..., adikku menjadi hambaMu yang bersungguh-sungguh menujuMu. Izinkanlah... ya Allah, izinkanlah... Amiin ya Rabbal ’Alamin.
Teman..., bukankah Allah berfirman
”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (berupaya), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (persoalan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.[1] Aku yakin, di ujung kesulitan dan kegelisahanku, ada jalan terindah yang dipersiapkanNya. Dan kini, seolah dunia seperti surga..., seperti tak ada lagi penderitaan..., keindahan itu tercipta karena persahabatan. Terima kasih sahabat, kau telah mengembalikan kebahagiaan yang sempat hilang dari hatiku.
Hingga kudapatkan selebaran, tentang PMPP. Tak ada jalan bagiku, kecuali memercayakan adikku pada lembaga mahasiswa itu. Walau aku tak berharap banyak, cukup bagiku ketika dia bisa shalat dan tersenyum maka aku akan sangat bersyukur. Hanya itulah harapanku..., aku ingin melihat senyum di kedua bibirnya yang mungil dan lucu.
Kebentuk tulisan ini, kala tangis kesyukuranku memuncak.
Terima kasih Allah..., terima kasih Allah..., tak kuasa Kau berikan segala mimpi dan asaku. Kau berikan segalanya walau hambaMu baru memulai komitmen menjadi hambaMu yang baik. Saat Kau turunkan Malaikat dalam bentuk manusia itu, Kau berikan segalanya pada hambaMu yang sangat lemah ini. Hidupku kini indah ya Allah, tiada lagi bayang-bayang keputus-asaan. Walau Kau tahu dan Kau sangat tahu, aku belum mempersembahkan apapun untukMu. Tapi Engkau Maha Melihat dan Maha Mendengar. Aku melakukan semua ini, untuk orang-orang yang kucintai, maka ridhailah hambaMu ini ya Allah...,
Lakalhamdu wa lakasyukru

2
Oktober 2006, malam kemilau penuh gemerlap bintang-gemintang,
Kutorehkan dengan izin Allah, meneruskan serpihan kataku yang belum selesai.
Mungkin engkau heran, bahkan lebih heran jika kau membaca surat ini. Tapi aku tak kuasa menahannya lagi teman. Masa kecilku yang bahagia bagai hidup di antara padang pesona berkilaukan, bertahtakan cinta dan kasih-sayang, bertelagakan kautsar di setiap pinggir hatiku. Tiba-tiba..., semuanya hancur, badai besar itu seumpama tsunami atau beliung yang menghempas tiba-tiba, tanpa persiapan dan tanpa bertanya akan akibatnya.
Ibuku..., tak kuat menanggung beban. Adikku yang masa kecilnya penuh senyum di ingatanku. Semuanya lenyap, aku harus tertatih merangkai serpihan-serpihan yang berserakan. Derita yang menyapa, satu-persatu harus kuhadapi walau sendiri. Aku tak ingin melihat adikku menangis, bahkan aku tak akan bisa tidur jika dia belum terlelap. Jika dia menangis, kukuatkan menahan kesedihanku. Kala dia telah terlelap, giliranku untuk menumpahkan kesedihanku.
Dalam kesendirianku. Aku sempat dalam kebimbangan akan adanya Allah, Dzat yang memangku langit dan bumi, yang mengilhamkan Al-Quran pada Rasulullah saw. Aku sempat terseok dalam kekufuran. Aku tidak mempunyai banyak teman, mungkin mereka malas berteman denganku atau hanya para lelaki yang ingin mendekatiku tapi kutahu mereka hanya ingin mendapatkan kecantikan. Bukan..., bukan itu yang kuinginkan. Setiap kulihat mereka, mata mereka menyiratkan kebohongan dan kedustaan bagaikan macan yang melihat daging segar di hadapannya.
Sahabatku..., sejuk dan teduh hatiku.
Mungkin aku terlalu percaya diri. Memanggilmu sahabat, padahal aku mungkin tidak pantas menjadi sahabatmu. Aku terlalu banyak berharap, mungkin karena penderitaan telah melekat dalam diriku terlalu lama. Tapi aku sadar dengan keberadaanku. Sungguh aku sadar sahabat, aku sadar. Tapi izinkanlah, izinkanlah aku memanggilmu sahabat karena itu kurasa cukup untuk sedikit melegakan dahaga sedih yang telah menelaga. Aku tak bisa berucap banyak untuk semua hal yang kau lakukan, untukku dan untuk adikku. Walau kutahu engkau melakukannya karena cintamu pada Allah ’Azza wa Jalla. Engkau melakukannya dengan ketulusan, bukankah Islam adalah ketulusan untuk Allah, untuk kitabNya, untuk rasulNya, untuk para pemimpin umat muslimin dan untuk manusia semuanya.[2] Ah engkau pasti lebih tahu dariku..., maaf.
Kugerakkan penaku, sebenarnya bibirku ingin berujar...
Sahabat, terimakasih untuk ketulusanmu. Semoga Allah merangkaikan untukmu bunga-bunga terindah di surga. Amiin.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

3
05 Desember 2006, sore kala minggu. Saat Fadli sedang memasak untukku.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kutorehkan pena ini dengan menyebut nama Allah
Ali, Sahabatku
Senja sore ini semakin menipis, seolah waktu berjalan begitu cepat. Aku tak mengerti apakah penderitaanku akan mengurang dengan berjalannya waktu? Aku hanya bertawakkal padaNya, di sela-sela taubatku padaNya, di sela-sela aku menyusun kembali kelalaianku padaNya.
Kupahami sebuah hadits Rasul, Beliau saw bersabda bahwa hati itu cenderung mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Aku mencoba menyelami hadits tersebut, ternyata kebenarannya memang tak bisa dipungkiri oleh hati yang pada asalnya diciptakan murni dan suci. Engkau pasti heran ketika membaca maksud dari makna yang kutulis, tapi engkau tidak usah khawatir karena aku tidak mengharap apapun darimu, aku tak berani berharap banyak. Cukuplah Allah dan rasulNya bagiku, cukup Allah dalam kehidupanku, cukuplah Allah..., cukuplah Dia yang tahu semua kegundahan jiwaku.
Ali, seseorang yang tersembunyi ketulusannya
Suatu hari, adikku mulai membaca iqra’ pada malam ketika aku pulang. Aku sangat terharu, agak keras dia membaca seolah dia ingin dan sangat ingin bisa membaca iqra’. Namun hatiku lebih terharu dan derai airmata mengalun merdu hingga membasah pipiku. Saat kuucapkan selamat malam padanya, dia membalasnya salam itu, dia tersenyum bahkan memintaku mengucapkan Assalamu’alaikum bukan selamat malam. Dia katakan, ”Kata guru ngaji Fadli, mengucapkan salam itu pahalanya besar. Siapapun yang mengucapkan salam akan dicintai Allah dan rasulNya,” kata itu kukenang sebagai kata pertama semasa badai menerpa keluargaku. Malam itu, ketika Fadli tidur. Aku menangis sejadinya di atas sajadah cintaku, karena aku ingin kembali..., aku ingin kembali padaNya dengan sebenar-benarnya kembali.
Untuk seseorang yang selalu menutupi kebaikannya
Senyum adikku kembali, bahkan lebih riang dari masa balitanya. Aku melihatnya..., itulah bukti bahwa deritaku telah mereda. Sesudah kesulitan pasti datang keindahan. Ketika aku pulang kerja, hal yang tak kuduga terjadi. Setiap malam, selalu terhidang nasi dan lauk, walau rasanya hambar namun rasanya begitu nikmat di hatiku. Dia tak mau lagi kubelikan makanan di rumah makan, dia ingin memasak terus untukku dan katanya engkaulah yang mengajarinya memasak. Kini masakannya tak kalah dengan rumah makan ”Sabar,” di samping Fakultas kita.
Dan malam itu. Kala aku tertidur lelap, sebuah kecupan meneduh di keningku. Aku kaget seseorang membisikiku merdu, ”Kak Aisyah, bukankah Allah mencintai kita. Kita juga harus mencintainya. Yuk shalat?” tatapannya begitu indah, tak kuasa aku menangis dan memeluknya. Malam itu aku bermunajat dengannya, hingga kurasa sajadahku membasah. Kau juga harus tahu Ali, dia kini selalu mendapat peringkat tiga besar seluruh angkatannya. Bahkan dia yakin, dia bertekad keras untuk menjadi yang pertama, dan dia akan membuktikannya sebagai hadiah untukku. Aku tak kuasa menangis kala aku menuliskan baris-baris kata ini. Terima kasih sahabat...

4
Februari 2007, Kesempatkan mengukir kata, sesudah subuh.
Assalamu’alaikum Ali
Untuk seseorang yang belajar, kerja, dan mempelajari agama di Darussalam.
Saat kau mempertemukanku dengan Wanda, Amanda, Laila, Uswah, Arini dan teman-teman yang mereka mencoba merenda iman bersama. Aku seolah menemukan telaga air kala di tengah sahara tandus tanpa bekal. Mereka adalah sahabat-sahabat yang selalu mengoreksi kekuranganku, hingga aku dapat mengubahnya menjadi kekuatan untuk merubah sisi-sisi burukku. Tak terukur kebahagiaan yang kurasa, lebih tinggi nilainya dari ketika aku menerima gaji pada awal bulan. Kini, aku menemukan semua kebahagiaan kawan.
Untuk mahasiswa yang selalu tertutup
Engkau begitu tenang menghadapi hidup. Deritamu mungkin hanya engkau sendiri yang tahu. Kala siang sepulang kuliah engkau selalu turun di masjid Ukhuwah Islamiyah, lalu kau ganti baju dan almamatermu lalu kau masukkan dalam tas. Engkau bermandikan keringat bersama para kuli dan buruh, engkau bercanda dengan mereka tanpa risih, bahkan beberapa dari mereka engkau buat rajin shalat di masjid. Kau katakan, ”Rejeki itu jika dicari tak kan ada habisnya, tapi umur manusia ada jatahnya,” engkau terkenal di kalangan Pasar. Namamu harum disana, walau di kuliah engkau hanya sering berdiam diri.
Banyak pedagang di pasar menyukaimu, kadang di sela obrolan mereka namamu disebutkan. Mereka pun tak tahu kalau engkau mahasiswa, tapi kutahu engkau tak suka jika mereka tahu. Aku tahu engkau seperti Imam Syafi’i rahimallah ketika berujar, ”Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah dan popularitas, tapi setelah aku mendapatkan dan menuntut ilmu, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh, jika dituntut ia untuk akhirat dan Allah ’Azza wa Jalla semata.” namamu pun harum di hatiku.
Ali yang mencintai Allah
Tiada kusangka, kau membagi waktumu begitu padat. Ingin jadi apakah engkau? Aku tak mengerti. Engkau menyembunyikan dirimu dari pandangan orang, engkau seorang santri di Darussalam, pondok Mahasiswa terbesar di Depok. Dan namamu pun harum disana. Dan engkau pun harum di hatiku.

5
Maret  2007,  kala gelisah membuncah. Airmataku menetes dalam kebahagiaan.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk seseorang yang membantuku menemukan jalan Tuhan
Banyak hal yang belum kutahu tentangmu wahai Malaikat dalam bentuk manusia, engkau sengaja diturunkan Allah untukku, ibu dan adikku. Mungkin dalam tidur dan diamnya ibuku berdoa untuk kedatanganmu. Dan doanya dikabulkan Allah, karena Allah Maha Tahu, begitu menderitanya kami.
Terima kasih untuk dua jilbab di hari ulang tahunku. Awalnya aku tak tahu, itu pemberianmu. Yang kutahu yang membelikannya adalah guru privat adikku Fadli, saat itu aku benar-benar tidak tahu jika itu engkau Malaikat. Jilbab itu benar-benar indah, aku sangat menyukainya sebagai mahkota yang akan selalu melekat dalam selimut imanku. Kau tahu Rika kan? Dia begitu iri melihat jilbab yang membalut rambutku. Sejak itu dia juga memakai jilbab, dia juga telah menemukan Allah dalam hatinya seperti aku menemukanNya dalam hatiku. Cukuplah Allah dan rasulNya bagi kami Ali, tak lebih, karena aku sangat bahagia kini.
Ali, sahabatku
Walau waktuku tak banyak untuk Fadli, tapi kaulah yang telah tulus mencintainya. Tak henti-hentinya jika kami berbicara, namamu lah yang disebut-sebutnya. Bagiku senyumnya adalah harta terbesarku, lebih indah dari mutiara maupun marjan yang berkilau. Kutahu, aku membayar privat adikku tak akan cukup untukmu tapi engkau selalu berangkat bahkan tak pernah absen mengajarkan ilmu dan agama untuk adikku. Aku tahu itu karena campur tangan Allah di dalamnya, engkau memang malaikat yang Allah turunkan dalam bentuk manusia untukku, adikku dan ibuku yang kini hanya bisa terdiam namun kuyakin dia melihatnya dari tempatnya berada.
Banyak sekali buku yang kau pinjamkan untuk Fadli, aku sendiri ingin jujur bahwa aku tak kuasa membiarkannya tergeletak di meja. Keinginanku begitu kuat untuk ikut membacanya, maafkalah aku karena tak beroleh izin terlebih dahulu darimu Ali. Sempat terlintas dalam pikiranku untuk berbuat maksiat demi kebahagiaan Fadli namun demi mendengar lantunan Al-Quran dari bibirnya aku segera bertobat, lebih baik bekerja keras sampai mati daripada menjerumuskan diri dalam kehinaan.
Ali, yang dalam rasa cintanya
Ketulusanmu..., kautahu. Itu dapat meruntuhkan angkara dan kesombongan hati siapapun yang mengenalmu. Alangkah bahagianya keluarga yang memiliki jiwa dan namamu dalam dada mereka. Alangkah bahagianya engkau menjadi bagian dari kami, tapi aku tak pernah berharap lebih, cukup seumpama Nabi yang diutus untuk ummatnya menyampaikan risalah kebenaran. Cukup seumpama angin yang bertiup untuk menyegarkan hening, cukup seumpama air yang menggemburkan kekeringan dan tandus, cukup seumpama matahari bersinar untuk siang hari saja, tak usah lebih. Engkau telah cukup bagi kami dalam menemukan kebahagiaan kami yang sempat hilang, kebahagiaan yang seolah tak akan menyambangi hati-hati kami yang telah lama gersang dan nelangsa.
Cukuplah engkau tinggalkan Allah untuk kami, karena Dialah tempat kembali kita, tempat kita mengadu segala urusan, cukuplah engkau berikan setitik harapan dan kami yang akan menyemainya. Tak usah mengkhawatirkan kami, engkau adalah burung merpati yang bebas terbang kemanapun engkau mau, engkau terbang ke sisiNya yang terindah. Engkau adalah malaikat bagi kami, jika engkau pergi meninggalkan kami cukuplah engkau akan selalu hidup di hati kami.
Engkau akan selalu hidup di hati kami dan janganlah merisaukan kami yang telah menemukan kesejukan dan keindahan iman. Cukuplah..., walau airmataku terkuras habis di hari kepergiaanmu kelak, karena membayangkan kata pergimu saja membuatku menangis. Aku pun tak kuasa bermimpi tentangmu...

6
Mei  2007, di atas sajadah cintaku...,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk Ali, yang hidup di hatiku
Saat ini, nyala bulan terang kemilau di atas rumahku. Tanganku tak kuasa bergerak menggerakkan pena, kecuali hatiku yang memaksa dan dia sendiri yang menuliskannya sekehendaknya. Aku tak kuasa membendungnya lagi, sungguh aku tak kuasa. Semua lukaku telah terobati, dahaga kecewa telah memburai hingga tak menyisa. Malam ini, saat kusempatkan mengecup kening Fadli, dari bibirnya yang terucap kala tidurnya adalah namamu. Perlu kau ketahui, dia seolah mengganggapmu melebihi adanya diriku. Dia amat menginginkanmu selalu di dekatnya, meminta sulaman penggalan kehidupan yang sempat menghilang.
Jika dia bicara, hanya namamulah yang disebutkannya. Dia seolah ingin melipat waktu untuk datang sore untuk selalu menunggu kedatanganmu, seumpama  serigala yang menunggu bulan meninggi, seumpama ikan yang membutuhkan air. Aku mengetahuinya teman, karena aku yang merawatnya dari kecil, aku tahu diamnya, aku tahu arti kesendiriannya, aku tahu makna tatapannya, aku tahu makna anggukan dan gelengan kepalanya. Karena jiwa kami telah menyatu dalam kehidupan ini.
Untuk Ali, seseorang yang dihatinya hanya terisi ketulusan
Jika hatiku dan Fadli telah menyatu, kau pasti tahu apa yang aku rasakan. Engkau pasti sangat heran jika membaca surat ini, tapi biarlah hanya Allah yang tahu, karena Dia Yang Maha Mengetahui. Jika kau tahu, sesungguhnya hatiku lebih rindu akan hadirmu di sampingku. Rindu itu semakin membuncah, namun imanku selalu dapat mengobati walau untuk sementara. Lalu, rasa itu kembali menyesak dalam dada. Alangkah bahagianya Fadli, dapat belajar bersamamu, merenda ilmu selama beberapa hari dalam satu minggu sedangkan aku hanya mendapatkan serpihan ceritanya saja. Aku sungguh iri. Tapi..., cukuplah engkau untuk adikku..., dan aku menyemai cinta yang akan kau tinggalkan.
Aku tuangkan segala gundah, karena aku tak kuat lagi menahannya
Tahukah engkau sahabat..., aku sangat mencintaimu..., aku sangat mencintaimu..., aku sangat mencintaimu..., aku tak kuasa menutupinya lagi. Cukuplah, cukuplah tangisku sebagai bukti akan ketulusan cinta ini.  Cukuplah Allah yang tahu, karena aku tak pantas berharap lebih. Cukuplah keimanan dalam hatiku akan kusemai, jika tak kudapatkan engkau di dunia, aku kan menyatu dalam doaku, menghilang dan menunggumu disana, ditempat yang tiada kesusahan dan keletihan, kutunggu disana, di sisi Rabb Semesta Alam.
Ali..., sebuah kata yang jika terdengar di telingaku, hatiku bergetar.
Jika kau membaca ukiran hatiku ini, janganlah engkau marah, janganlah engkau merasa kasihan terhadapku yang tertawan dengan rindu yang menancap dalam di hatiku, bahkan sangat dalam. Cukup, jika kau tahu semua harapan dalam hatiku, cukuplah dengan doamu yang pasti akan dikabulkan Allah. Cukup doakan untukku agar aku dapat bersua denganmu selepas hisab perhitunganNya nanti, cukuplah aku melihat wajahmu yang bersinar karena cahaya air wudhu yang selalu menghiasi setiap langkahmu. Itu sudah cukup bagiku..
Maafkan aku Ali, karena aku yang tak pantas ini, mencintaimu dengan sepenuh hati, jiwa dan ragaku. Aku akan menunggumu di akhirat tempat kita akan kembali padaNya.
Ali, maafkan aku...
Airmataku tak kuasa, meleleh pula bersama setiap ukiran kata-katanya. Dia menulis penuh penjiwaan dan kejujuran hingga seolah dia sedang dihadapanku, sedang berbicara denganku. Hati siapapun akan tersentuh jika membacanya. Aku pun tak mengerti berapa banyak makna yang tersirat dalam sebuah surat, dulu, Mawar memberikan surat lalu dia pergi. Sinta memberiku surat di akhir hayatnya, diapun pergi. Kini surat dari Aisyah, wanita pualam yang senyumnya mengguncangkan jiwa karena dia sangat jarang tersenyum. Tinggal satu surat, kuusap airmataku dan meneruskan membacanya.

7
Juli  2007, kala tangisku berderai syukur padaNya
Kutulis untaian kata, kala rinduku berdebam-debam
Pujaan hatiku...
Walau kutahu dunia tak mengizinkanmu bersamaku
Harapanku dalam hidup ini, tinggal satu
Merangkai iman, hingga aku dapat bersua dengamu
Dalam keabadian...
Untuk Ali,  rindu dan harapanku...
Hadirmu tak akan mengurangi ketabahanku yang telah terbukti dari penatnya kehidupan. Kau hadir dalam serpihan masaku, serpihan yang tak sempurna. Jika kau tahu betapa rindunya hatiku padamu, sungguh engkau pasti merasa kasihan kepadaku. Bibirku kelu kala melihat sekilas wajahmu yang bersinar, bahkan aku tak kuat menatap wajahmu berlama, walau betapa inginnya kepersembahkan semua milikku untuk dapat melihat wajahmu selama-lamanya. Aku tak akan pernah merasa bosan, andai Allah menyatukan kita..., cukuplah bagiku dunia meninggalkanku jika aku dapat bersamamu walau hanya satu jenak nafasku.
Kau, yang mengisi seluruh ruang dalam hatiku...
Cukuplah hanya Allah sebagai Tuhanku, cukuplah Al-Qur’an sebagai kitabku, cukuplah Rasulullah saw sebagai pedoman dalam melangkah, cukuplah Islam sebagai agamaku, dan cukuplah engkau yang mengisi hatiku...
Cukuplah semua tulisan yang kubuat sebagai curahan hatiku hanya diriku dan Allah yang tahu. Aku akan menyimpannya, selamanya..., tak akan ada yang tahu. Dan engkau pun, Ali..., cukuplah senyummu saja yang tertinggal dalam kenanganku dan akan kubawa dan kupersembahkan sebagai harta terindahku di dunia tempat yang sementara. Tempat berpijak untuk melayang meniti jalan yang sesungguhnya, jalan pulang kepada Allah ’Azza wa Jalla. Mungkin kau hanya akan tahu di akhirat kelak, kala setiap manusia tak kuasa lagi mengurusi urusan orang lain karena kita disibukkan dengan perhitungan yang maha dahsyat. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan cintaNya kepada kita, amiin.

 Wahai kertas, Kalian menamaniku bercerita
Dalam setiap denyut nadiku
Rahasiakanlah semuanya, hingga hanya Allah yang tahu
Bahkan sang malaikat itupun tidak akan pernah tahu.
Alangkah besar kekuatan cinta, hingga ada jiwa yang tak mampu menampungnya. Salahkah jika cinta mempertanyakannya? Ya Allah, jangan Kau buat hatiku bimbang dari segala jalan hidupku. Hidupku hanyalah untukmu, ”Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”[3]
Aku berjalan ke Masjid. Sebentar lagi subuh, kuusahakan aku yang adzan membangunkan dan mengingatkan jiwa-jiwa, yang merindukan pertemuan terindah dengan Rabbnya. Aku melangkah, surat itu telah kumasukkan dalam kantongku. Kuberharap besok saat privat, mengetahui apakah surat ini dari Aisyah atau Fadli menemukannya. Karena dalam surat itu tertulis, ”Cukuplah semua tulisan yang kubuat sebagai curahan hatiku hanya diriku dan Allah yang tahu. Aku akan menyimpannya, selamanya..., tak akan ada yang tahu.”  tenangkanlah hatiku dalam iman ya Allah.


[1] QS Al-Insyiraah : 1-8
[2] HR Muslim
[3] QS Al-An’aam : 162-163

Tidak ada komentar:

Posting Komentar