Malam itu, sunyi.
Sesudah Qiyamul layl aku duduk di
Gazebo pesantren. Membawa amplop pemberian Fadli sewaktu Isya tadi. Aku sedikit
ragu membukanya, hatiku sempat berprasangka. Tapi, Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku membukanya mantap dengan memohon
perlindungan kepada Allah. Suratnya begitu tebal ada tujuh helai kertas,
berarti ada tujuh surat. Aku membacanya satu persatu.
1
Agustus
2006, di tempat yang menyimpan kenangan indah laluku,
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Untuk Ali.
Sahabatku. Kutulis kala jiwaku resah.
Aku tahu, engkau
pasti heran jikalau engkau membaca tulisan ini. Baru pertama kali ini aku
menulis dan merangkai kata-kata. Hidupku telah habis, kutumpahkan dalam setiap
duka kala tak kutemukan muara untuk langkahku melangkah. Bahkan akupun tidak
bisa menulis catatan hidupku, dulu waktu kecil aku sering menuliskan sejarah
hidupku. Hingga kejadian itu..., aku tak lagi menuliskan potongan hidupku.
Kurasa tak ada guna. Yang kutahu aku hidup bukan untukku, aku hidup untuk Ibu,
Fadli. Aku hidup bukan untuk diriku.
Kini aku memaksakan
diriku untuk menulis kembali, mencoba memaksakan merangkai kata. Untuk menyapu
kegelisahan dan kegundahan yang menjelma serupa embun-embun yang berkumpul lalu
akhirnya terjatuh pula karena tak kuasa menahan beban.
Ali, kutulis dengan
kedalaman hatiku
Aku seolah
kehilangan arah berpijak. Aku tak punya harapan, Fadli yang menjadi harapanku
hanya murung dan diam. Aku pun tak kuasa untuk sekedar menemaninya, yang
kulakukan hanya mengecup kening dan mengusap kepalanya saat dia telah terlelap.
Tapi aku yakin dia dapat merasakannya, walau dalam mimpi. Kuberharap, memohon
pada Allah. Kirimkan untuknya teman karena dia tidak mempunyai teman. Dia
selalu menangis dan terdiam kala kusapa pagi hari. Walau kutahu, aku bukan
seorang muslimah yang baik. Tapi...,
izinkanlah ya Allah..., adikku menjadi hambaMu yang bersungguh-sungguh
menujuMu. Izinkanlah... ya Allah, izinkanlah... Amiin ya Rabbal ’Alamin.
Teman..., bukankah
Allah berfirman
”Bukankah Kami
telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (berupaya),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (persoalan) yang lain. Dan hanya kepada
Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.[1]
Aku yakin, di ujung kesulitan dan kegelisahanku, ada jalan terindah yang
dipersiapkanNya. Dan kini, seolah dunia seperti surga..., seperti tak ada lagi
penderitaan..., keindahan itu tercipta karena persahabatan. Terima kasih
sahabat, kau telah mengembalikan kebahagiaan yang sempat hilang dari hatiku.
Hingga kudapatkan
selebaran, tentang PMPP. Tak ada jalan bagiku, kecuali memercayakan adikku pada
lembaga mahasiswa itu. Walau aku tak berharap banyak, cukup bagiku ketika dia
bisa shalat dan tersenyum maka aku akan sangat bersyukur. Hanya itulah
harapanku..., aku ingin melihat senyum di kedua bibirnya yang mungil dan lucu.
Kebentuk tulisan
ini, kala tangis kesyukuranku memuncak.
Terima kasih
Allah..., terima kasih Allah..., tak kuasa Kau berikan segala mimpi dan asaku.
Kau berikan segalanya walau hambaMu baru memulai komitmen menjadi hambaMu yang
baik. Saat Kau turunkan Malaikat dalam bentuk manusia itu, Kau berikan
segalanya pada hambaMu yang sangat lemah ini. Hidupku kini indah ya Allah,
tiada lagi bayang-bayang keputus-asaan. Walau Kau tahu dan Kau sangat tahu, aku
belum mempersembahkan apapun untukMu. Tapi Engkau Maha Melihat dan Maha
Mendengar. Aku melakukan semua ini, untuk orang-orang yang kucintai, maka
ridhailah hambaMu ini ya Allah...,
Lakalhamdu wa
lakasyukru
2
Oktober 2006, malam
kemilau penuh gemerlap bintang-gemintang,
Kutorehkan dengan
izin Allah, meneruskan serpihan kataku yang belum selesai.
Mungkin engkau
heran, bahkan lebih heran jika kau membaca surat ini. Tapi aku tak kuasa
menahannya lagi teman. Masa kecilku yang bahagia bagai hidup di antara padang
pesona berkilaukan, bertahtakan cinta dan kasih-sayang, bertelagakan kautsar di
setiap pinggir hatiku. Tiba-tiba..., semuanya hancur, badai besar itu seumpama
tsunami atau beliung yang menghempas tiba-tiba, tanpa persiapan dan tanpa
bertanya akan akibatnya.
Ibuku..., tak kuat
menanggung beban. Adikku yang masa kecilnya penuh senyum di ingatanku. Semuanya
lenyap, aku harus tertatih merangkai serpihan-serpihan yang berserakan. Derita
yang menyapa, satu-persatu harus kuhadapi walau sendiri. Aku tak ingin melihat
adikku menangis, bahkan aku tak akan bisa tidur jika dia belum terlelap. Jika
dia menangis, kukuatkan menahan kesedihanku. Kala dia telah terlelap, giliranku
untuk menumpahkan kesedihanku.
Dalam
kesendirianku. Aku sempat dalam kebimbangan akan adanya Allah, Dzat yang
memangku langit dan bumi, yang mengilhamkan Al-Quran pada Rasulullah saw. Aku
sempat terseok dalam kekufuran. Aku tidak mempunyai banyak teman, mungkin
mereka malas berteman denganku atau hanya para lelaki yang ingin mendekatiku
tapi kutahu mereka hanya ingin mendapatkan kecantikan. Bukan..., bukan itu yang
kuinginkan. Setiap kulihat mereka, mata mereka menyiratkan kebohongan dan
kedustaan bagaikan macan yang melihat daging segar di hadapannya.
Sahabatku..., sejuk
dan teduh hatiku.
Mungkin aku terlalu
percaya diri. Memanggilmu sahabat, padahal aku mungkin tidak pantas menjadi
sahabatmu. Aku terlalu banyak berharap, mungkin karena penderitaan telah
melekat dalam diriku terlalu lama. Tapi aku sadar dengan keberadaanku. Sungguh
aku sadar sahabat, aku sadar. Tapi izinkanlah, izinkanlah aku memanggilmu
sahabat karena itu kurasa cukup untuk sedikit melegakan dahaga sedih yang telah
menelaga. Aku tak bisa berucap banyak untuk semua hal yang kau lakukan, untukku
dan untuk adikku. Walau kutahu engkau melakukannya karena cintamu pada Allah
’Azza wa Jalla. Engkau melakukannya dengan ketulusan, bukankah Islam adalah
ketulusan untuk Allah, untuk kitabNya, untuk rasulNya, untuk para pemimpin umat
muslimin dan untuk manusia semuanya.[2]
Ah engkau pasti lebih tahu dariku..., maaf.
Kugerakkan penaku,
sebenarnya bibirku ingin berujar...
Sahabat,
terimakasih untuk ketulusanmu. Semoga Allah merangkaikan untukmu bunga-bunga
terindah di surga. Amiin.
Wassalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh
3
05 Desember 2006, sore kala minggu. Saat Fadli
sedang memasak untukku.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kutorehkan pena ini
dengan menyebut nama Allah
Ali, Sahabatku
Senja sore ini
semakin menipis, seolah waktu berjalan begitu cepat. Aku tak mengerti apakah
penderitaanku akan mengurang dengan berjalannya waktu? Aku hanya bertawakkal
padaNya, di sela-sela taubatku padaNya, di sela-sela aku menyusun kembali
kelalaianku padaNya.
Kupahami sebuah
hadits Rasul, Beliau saw bersabda bahwa hati itu cenderung mencintai orang yang
berbuat baik kepadanya. Aku mencoba menyelami hadits tersebut, ternyata
kebenarannya memang tak bisa dipungkiri oleh hati yang pada asalnya diciptakan
murni dan suci. Engkau pasti heran ketika membaca maksud dari makna yang
kutulis, tapi engkau tidak usah khawatir karena aku tidak mengharap apapun
darimu, aku tak berani berharap banyak. Cukuplah Allah dan rasulNya bagiku,
cukup Allah dalam kehidupanku, cukuplah Allah..., cukuplah Dia yang tahu semua
kegundahan jiwaku.
Ali, seseorang yang
tersembunyi ketulusannya
Suatu hari, adikku
mulai membaca iqra’ pada malam ketika aku pulang. Aku sangat terharu, agak
keras dia membaca seolah dia ingin dan sangat ingin bisa membaca iqra’. Namun
hatiku lebih terharu dan derai airmata mengalun merdu hingga membasah pipiku. Saat
kuucapkan selamat malam padanya, dia membalasnya salam itu, dia tersenyum
bahkan memintaku mengucapkan Assalamu’alaikum bukan selamat malam. Dia katakan,
”Kata guru ngaji Fadli, mengucapkan salam itu pahalanya besar. Siapapun yang
mengucapkan salam akan dicintai Allah dan rasulNya,” kata itu kukenang sebagai
kata pertama semasa badai menerpa keluargaku. Malam itu, ketika Fadli tidur.
Aku menangis sejadinya di atas sajadah cintaku, karena aku ingin kembali...,
aku ingin kembali padaNya dengan sebenar-benarnya kembali.
Untuk seseorang
yang selalu menutupi kebaikannya
Senyum adikku
kembali, bahkan lebih riang dari masa balitanya. Aku melihatnya..., itulah
bukti bahwa deritaku telah mereda. Sesudah kesulitan pasti datang keindahan.
Ketika aku pulang kerja, hal yang tak kuduga terjadi. Setiap malam, selalu
terhidang nasi dan lauk, walau rasanya hambar namun rasanya begitu nikmat di
hatiku. Dia tak mau lagi kubelikan makanan di rumah makan, dia ingin memasak
terus untukku dan katanya engkaulah yang mengajarinya memasak. Kini masakannya
tak kalah dengan rumah makan ”Sabar,” di samping Fakultas kita.
Dan malam itu. Kala
aku tertidur lelap, sebuah kecupan meneduh di keningku. Aku kaget seseorang
membisikiku merdu, ”Kak Aisyah, bukankah Allah mencintai kita. Kita juga harus
mencintainya. Yuk shalat?” tatapannya begitu indah, tak kuasa aku menangis dan
memeluknya. Malam itu aku bermunajat dengannya, hingga kurasa sajadahku
membasah. Kau juga harus tahu Ali, dia kini selalu mendapat peringkat tiga
besar seluruh angkatannya. Bahkan dia yakin, dia bertekad keras untuk menjadi
yang pertama, dan dia akan membuktikannya sebagai hadiah untukku. Aku tak kuasa
menangis kala aku menuliskan baris-baris kata ini. Terima kasih sahabat...
4
Februari 2007, Kesempatkan mengukir kata,
sesudah subuh.
Assalamu’alaikum
Ali
Untuk seseorang
yang belajar, kerja, dan mempelajari agama di Darussalam.
Saat kau
mempertemukanku dengan Wanda, Amanda, Laila, Uswah, Arini dan teman-teman yang
mereka mencoba merenda iman bersama. Aku seolah menemukan telaga air kala di
tengah sahara tandus tanpa bekal. Mereka adalah sahabat-sahabat yang selalu
mengoreksi kekuranganku, hingga aku dapat mengubahnya menjadi kekuatan untuk
merubah sisi-sisi burukku. Tak terukur kebahagiaan yang kurasa, lebih tinggi
nilainya dari ketika aku menerima gaji pada awal bulan. Kini, aku menemukan
semua kebahagiaan kawan.
Untuk mahasiswa
yang selalu tertutup
Engkau begitu
tenang menghadapi hidup. Deritamu mungkin hanya engkau sendiri yang tahu. Kala
siang sepulang kuliah engkau selalu turun di masjid Ukhuwah Islamiyah, lalu kau
ganti baju dan almamatermu lalu kau masukkan dalam tas. Engkau bermandikan
keringat bersama para kuli dan buruh, engkau bercanda dengan mereka tanpa
risih, bahkan beberapa dari mereka engkau buat rajin shalat di masjid. Kau
katakan, ”Rejeki itu jika dicari tak kan ada habisnya, tapi umur manusia ada
jatahnya,” engkau terkenal di kalangan Pasar. Namamu harum disana, walau di
kuliah engkau hanya sering berdiam diri.
Banyak pedagang di
pasar menyukaimu, kadang di sela obrolan mereka namamu disebutkan. Mereka pun
tak tahu kalau engkau mahasiswa, tapi kutahu engkau tak suka jika mereka tahu.
Aku tahu engkau seperti Imam Syafi’i rahimallah ketika berujar, ”Aku rasa
kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah dan popularitas, tapi
setelah aku mendapatkan dan menuntut ilmu, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak
boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh, jika
dituntut ia untuk akhirat dan Allah ’Azza wa Jalla semata.” namamu pun harum di
hatiku.
Ali yang mencintai
Allah
Tiada kusangka, kau
membagi waktumu begitu padat. Ingin jadi apakah engkau? Aku tak mengerti.
Engkau menyembunyikan dirimu dari pandangan orang, engkau seorang santri di
Darussalam, pondok Mahasiswa terbesar di Depok. Dan namamu pun harum disana.
Dan engkau pun harum di hatiku.
5
Maret 2007,
kala gelisah membuncah. Airmataku menetes dalam kebahagiaan.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk seseorang yang membantuku menemukan
jalan Tuhan
Banyak hal yang
belum kutahu tentangmu wahai Malaikat dalam bentuk manusia, engkau sengaja
diturunkan Allah untukku, ibu dan adikku. Mungkin dalam tidur dan diamnya ibuku
berdoa untuk kedatanganmu. Dan doanya dikabulkan Allah, karena Allah Maha Tahu,
begitu menderitanya kami.
Terima kasih untuk
dua jilbab di hari ulang tahunku. Awalnya aku tak tahu, itu pemberianmu. Yang
kutahu yang membelikannya adalah guru privat adikku Fadli, saat itu aku
benar-benar tidak tahu jika itu engkau Malaikat. Jilbab itu benar-benar indah,
aku sangat menyukainya sebagai mahkota yang akan selalu melekat dalam selimut
imanku. Kau tahu Rika kan? Dia begitu iri melihat jilbab yang membalut
rambutku. Sejak itu dia juga memakai jilbab, dia juga telah menemukan Allah
dalam hatinya seperti aku menemukanNya dalam hatiku. Cukuplah Allah dan
rasulNya bagi kami Ali, tak lebih, karena aku sangat bahagia kini.
Ali, sahabatku
Walau waktuku tak
banyak untuk Fadli, tapi kaulah yang telah tulus mencintainya. Tak
henti-hentinya jika kami berbicara, namamu lah yang disebut-sebutnya. Bagiku
senyumnya adalah harta terbesarku, lebih indah dari mutiara maupun marjan yang
berkilau. Kutahu, aku membayar privat adikku tak akan cukup untukmu tapi engkau
selalu berangkat bahkan tak pernah absen mengajarkan ilmu dan agama untuk adikku.
Aku tahu itu karena campur tangan Allah di dalamnya, engkau memang malaikat
yang Allah turunkan dalam bentuk manusia untukku, adikku dan ibuku yang kini
hanya bisa terdiam namun kuyakin dia melihatnya dari tempatnya berada.
Banyak sekali buku
yang kau pinjamkan untuk Fadli, aku sendiri ingin jujur bahwa aku tak kuasa
membiarkannya tergeletak di meja. Keinginanku begitu kuat untuk ikut
membacanya, maafkalah aku karena tak beroleh izin terlebih dahulu darimu Ali.
Sempat terlintas dalam pikiranku untuk berbuat maksiat demi kebahagiaan Fadli
namun demi mendengar lantunan Al-Quran dari bibirnya aku segera bertobat, lebih
baik bekerja keras sampai mati daripada menjerumuskan diri dalam kehinaan.
Ali, yang dalam
rasa cintanya
Ketulusanmu...,
kautahu. Itu dapat meruntuhkan angkara dan kesombongan hati siapapun yang
mengenalmu. Alangkah bahagianya keluarga yang memiliki jiwa dan namamu dalam
dada mereka. Alangkah bahagianya engkau menjadi bagian dari kami, tapi aku tak
pernah berharap lebih, cukup seumpama Nabi yang diutus untuk ummatnya
menyampaikan risalah kebenaran. Cukup seumpama angin yang bertiup untuk
menyegarkan hening, cukup seumpama air yang menggemburkan kekeringan dan
tandus, cukup seumpama matahari bersinar untuk siang hari saja, tak usah lebih.
Engkau telah cukup bagi kami dalam menemukan kebahagiaan kami yang sempat
hilang, kebahagiaan yang seolah tak akan menyambangi hati-hati kami yang telah
lama gersang dan nelangsa.
Cukuplah engkau
tinggalkan Allah untuk kami, karena Dialah tempat kembali kita, tempat kita
mengadu segala urusan, cukuplah engkau berikan setitik harapan dan kami yang
akan menyemainya. Tak usah mengkhawatirkan kami, engkau adalah burung merpati
yang bebas terbang kemanapun engkau mau, engkau terbang ke sisiNya yang
terindah. Engkau adalah malaikat bagi kami, jika engkau pergi meninggalkan kami
cukuplah engkau akan selalu hidup di hati kami.
Engkau akan selalu
hidup di hati kami dan janganlah merisaukan kami yang telah menemukan kesejukan
dan keindahan iman. Cukuplah..., walau airmataku terkuras habis di hari
kepergiaanmu kelak, karena membayangkan kata pergimu saja membuatku menangis.
Aku pun tak kuasa bermimpi tentangmu...
6
Mei
2007, di atas sajadah cintaku...,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk Ali, yang
hidup di hatiku
Saat ini, nyala
bulan terang kemilau di atas rumahku. Tanganku tak kuasa bergerak menggerakkan
pena, kecuali hatiku yang memaksa dan dia sendiri yang menuliskannya
sekehendaknya. Aku tak kuasa membendungnya lagi, sungguh aku tak kuasa. Semua
lukaku telah terobati, dahaga kecewa telah memburai hingga tak menyisa. Malam
ini, saat kusempatkan mengecup kening Fadli, dari bibirnya yang terucap kala
tidurnya adalah namamu. Perlu kau ketahui, dia seolah mengganggapmu melebihi
adanya diriku. Dia amat menginginkanmu selalu di dekatnya, meminta sulaman
penggalan kehidupan yang sempat menghilang.
Jika dia bicara,
hanya namamulah yang disebutkannya. Dia seolah ingin melipat waktu untuk datang
sore untuk selalu menunggu kedatanganmu, seumpama serigala yang menunggu bulan meninggi,
seumpama ikan yang membutuhkan air. Aku mengetahuinya teman, karena aku yang
merawatnya dari kecil, aku tahu diamnya, aku tahu arti kesendiriannya, aku tahu
makna tatapannya, aku tahu makna anggukan dan gelengan kepalanya. Karena jiwa kami
telah menyatu dalam kehidupan ini.
Untuk Ali,
seseorang yang dihatinya hanya terisi ketulusan
Jika hatiku dan
Fadli telah menyatu, kau pasti tahu apa yang aku rasakan. Engkau pasti sangat
heran jika membaca surat ini, tapi biarlah hanya Allah yang tahu, karena Dia
Yang Maha Mengetahui. Jika kau tahu, sesungguhnya hatiku lebih rindu akan
hadirmu di sampingku. Rindu itu semakin membuncah, namun imanku selalu dapat
mengobati walau untuk sementara. Lalu, rasa itu kembali menyesak dalam dada.
Alangkah bahagianya Fadli, dapat belajar bersamamu, merenda ilmu selama
beberapa hari dalam satu minggu sedangkan aku hanya mendapatkan serpihan
ceritanya saja. Aku sungguh iri. Tapi..., cukuplah engkau untuk adikku..., dan
aku menyemai cinta yang akan kau tinggalkan.
Aku tuangkan segala
gundah, karena aku tak kuat lagi menahannya
Tahukah engkau
sahabat..., aku sangat mencintaimu..., aku sangat mencintaimu..., aku sangat
mencintaimu..., aku tak kuasa menutupinya lagi. Cukuplah, cukuplah tangisku
sebagai bukti akan ketulusan cinta ini.
Cukuplah Allah yang tahu, karena aku tak pantas berharap lebih. Cukuplah
keimanan dalam hatiku akan kusemai, jika tak kudapatkan engkau di dunia, aku
kan menyatu dalam doaku, menghilang dan menunggumu disana, ditempat yang tiada
kesusahan dan keletihan, kutunggu disana, di sisi Rabb Semesta Alam.
Ali..., sebuah kata
yang jika terdengar di telingaku, hatiku bergetar.
Jika kau membaca
ukiran hatiku ini, janganlah engkau marah, janganlah engkau merasa kasihan
terhadapku yang tertawan dengan rindu yang menancap dalam di hatiku, bahkan
sangat dalam. Cukup, jika kau tahu semua harapan dalam hatiku, cukuplah dengan
doamu yang pasti akan dikabulkan Allah. Cukup doakan untukku agar aku dapat
bersua denganmu selepas hisab perhitunganNya nanti, cukuplah aku melihat
wajahmu yang bersinar karena cahaya air wudhu yang selalu menghiasi setiap
langkahmu. Itu sudah cukup bagiku..
Maafkan aku Ali,
karena aku yang tak pantas ini, mencintaimu dengan sepenuh hati, jiwa dan
ragaku. Aku akan menunggumu di akhirat tempat kita akan kembali padaNya.
Ali, maafkan aku...
Airmataku
tak kuasa, meleleh pula bersama setiap ukiran kata-katanya. Dia menulis penuh
penjiwaan dan kejujuran hingga seolah dia sedang dihadapanku, sedang berbicara
denganku. Hati siapapun akan tersentuh jika membacanya. Aku pun tak mengerti
berapa banyak makna yang tersirat dalam sebuah surat, dulu, Mawar memberikan
surat lalu dia pergi. Sinta memberiku surat di akhir hayatnya, diapun pergi.
Kini surat dari Aisyah, wanita pualam yang senyumnya mengguncangkan jiwa karena
dia sangat jarang tersenyum. Tinggal satu surat, kuusap airmataku dan
meneruskan membacanya.
7
Juli 2007, kala tangisku berderai syukur padaNya
Kutulis untaian
kata, kala rinduku berdebam-debam
Pujaan hatiku...
Walau kutahu dunia
tak mengizinkanmu bersamaku
Harapanku dalam
hidup ini, tinggal satu
Merangkai iman,
hingga aku dapat bersua dengamu
Dalam keabadian...
Untuk Ali, rindu dan harapanku...
Hadirmu tak akan
mengurangi ketabahanku yang telah terbukti dari penatnya kehidupan. Kau hadir dalam
serpihan masaku, serpihan yang tak sempurna. Jika kau tahu betapa rindunya
hatiku padamu, sungguh engkau pasti merasa kasihan kepadaku. Bibirku kelu kala
melihat sekilas wajahmu yang bersinar, bahkan aku tak kuat menatap wajahmu
berlama, walau betapa inginnya kepersembahkan semua milikku untuk dapat melihat
wajahmu selama-lamanya. Aku tak akan pernah merasa bosan, andai Allah
menyatukan kita..., cukuplah bagiku dunia meninggalkanku jika aku dapat
bersamamu walau hanya satu jenak nafasku.
Kau, yang mengisi
seluruh ruang dalam hatiku...
Cukuplah hanya
Allah sebagai Tuhanku, cukuplah Al-Qur’an sebagai kitabku, cukuplah Rasulullah
saw sebagai pedoman dalam melangkah, cukuplah Islam sebagai agamaku, dan
cukuplah engkau yang mengisi hatiku...
Cukuplah semua tulisan
yang kubuat sebagai curahan hatiku hanya diriku dan Allah yang tahu. Aku akan
menyimpannya, selamanya..., tak akan ada yang tahu. Dan engkau pun, Ali...,
cukuplah senyummu saja yang tertinggal dalam kenanganku dan akan kubawa dan
kupersembahkan sebagai harta terindahku di dunia tempat yang sementara. Tempat
berpijak untuk melayang meniti jalan yang sesungguhnya, jalan pulang kepada
Allah ’Azza wa Jalla. Mungkin kau hanya akan tahu di akhirat kelak, kala setiap
manusia tak kuasa lagi mengurusi urusan orang lain karena kita disibukkan
dengan perhitungan yang maha dahsyat. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan
cintaNya kepada kita, amiin.
Wahai kertas, Kalian menamaniku bercerita
Dalam setiap denyut
nadiku
Rahasiakanlah
semuanya, hingga hanya Allah yang tahu
Bahkan sang
malaikat itupun tidak akan pernah tahu.
Alangkah besar
kekuatan cinta, hingga ada jiwa yang tak mampu menampungnya. Salahkah jika
cinta mempertanyakannya? Ya Allah, jangan Kau buat hatiku bimbang dari segala
jalan hidupku. Hidupku hanyalah untukmu, ”Katakanlah, ’Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan Semesta
Alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang yang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”[3]
Aku berjalan ke
Masjid. Sebentar lagi subuh, kuusahakan aku yang adzan membangunkan dan
mengingatkan jiwa-jiwa, yang merindukan pertemuan terindah dengan Rabbnya. Aku
melangkah, surat itu telah kumasukkan dalam kantongku. Kuberharap besok saat
privat, mengetahui apakah surat ini dari Aisyah atau Fadli menemukannya. Karena
dalam surat itu tertulis, ”Cukuplah semua tulisan yang kubuat sebagai
curahan hatiku hanya diriku dan Allah yang tahu. Aku akan menyimpannya,
selamanya..., tak akan ada yang tahu.” tenangkanlah hatiku dalam iman ya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar