Jumat, 18 Oktober 2019

Part 24, Sebuah Undangan

September 2007, Jum’at.
Samar, Farid mendekatiku, ketika aku baru pulang dari kampus. Dia tergesa mendekatiku. Hari ini mata kuliah hanya satu, sehingga aku dapat pulang lebih awal. Farid mengucapkan salam dan menyalamiku, sorot matanya seolah menginginkan sebuah bantuan.
”Ada apa Rid? Tumben, tidak seperti biasanya.”
”Daripada lupa, ketika melihatmu masuk gerbang aku langsung mendatangimu,” matanya menatap tanah sejenak, lalu kembali menatapku, ”Begini Ali, tadi aku bertemu Syaikh Umair. Dia memintamu menggantikan Dr. Ramadhan Al Buthi mengisi kajian besok ahad, karena beliau besok tidak bisa mengisi karena alasan yang mendadak.”
Aku pamitan dengan Farid, sambil mengucapkan terima kasih atas infonya. Aku menuju ke masjid. Biasanya dhuha, Ustadz Umair disana. Menggantikan seorang  pemikir Islam dari Mesir itu? Kutahu dia sahabat baik Ustadz Umair sewaktu kuliah di Mesir. Kutahu itu dari Ustadz Wahid. Mana bisa aku menggantikan orang yang kukagumi karena pemikiran-pemikirannya? Buku-bukunya pun menjadi referensiku, diantaranya buku, Islam Funding yang membahas masalah islam tradisional dan modernis atau buku Kajian ilmiah Sirah Nabawiyah yang telah cetak berulang-ulang. Dan aku? Seseorang yang masih mencari nilai ketulusan dan keikhlasan, seseorang yang baru mulai merasakan manisnya iman.
Ustadz duduk di samping Masjid, di sebelah kolam ikan. Aku mengucapkan salam dan mendekatinya. Dia mempersilakanku duduk di sebelahnya, matanya lalu menatap ikan yang lalu-lalang ke atas permukaan. Beberapa lama, kami hanya terdiam memerhatikan ikan yang terlihat riang. Aku belum berani memulai.
”Farid sudah menyampaikan padamu, tentang kajian ahad esok pagi di Masjid Ukhuwah Islamiyah?” aku mengiyakannya.
”Tapi Tadz..., kenapa harus saya. Bukankah...,”ucapanku terhenti demi melihat senyum simpulnya. Tak tahu aku, apa maknanya.
”Banyak hal yang terjadi di dunia ini, baik karena ada alasan atau tidak. Besok, sahabatku tidak bisa datang karena suatu alasan. Undangan telah tersebar, dan aku tsiqah[1] padamu anakku. Kurasa itu sudah cukup menjadi alasan bukan?”
”Tapi Ustadz tahu sendiri kemampuan saya, dan acaranya ahad. Saya khawatir kurang maksimal Tadz.”
”Bukankah kamu sendiri yang sering nekat dalam  melakukan banyak hal. Jika untuk melakukan kejahatan banyak orang nekat, kenapa tidak mau nekat dalam melakukan kebaikan? Sudahlah, besok aku akan datang kesana, dan engkau harus menggantikan sahabatku mengisi kajian. Materinya kuserahkan semuanya kepadamu,” Ustadz Umair berdiri lalu mengambil sandalnya, dan pergi meninggalkanku yang masih kebingungan. Walau begitu aku segera menyusulnya, karena waktu shalat jum’at sebentar lagi tiba.
*     *     *
Syahid sedari tadi mengajakku berangkat, padahal acaranya masih satu jam lagi. Akhirnya karena terlalu lama, dia berangkat duluan. Benar juga kata Ustadz Umair, untuk kejahatan saja banyak orang nekat, kenapa untuk kebaikan aku tak berani nekat? Kumantapkan langkahku, kusimpan sorban dalam tasku. Kumulai dengan Bismillah, kuniatkan untukMu ya Allah, tidak untuk Ustadz Umair, tidak untuk popularitas, hanyalah untukMu ya Allah.
Setelah shalat dhuha, kuambil topi pemberian Bapak untuk menghalangi panas matahari. Minggu yang teduh, seteduh hatiku. Masih kuingat, surat dari Aisyah. Ternyata Fadli membuka lemari kakaknya dan menemukan amplop itu, di depan amplop itu memang tertulis Untuk Ali Sahabatku, maka tanpa pikir panjang Fadli langsung memberikannya kepadaku, tanpa sepengetahuan Kakaknya. Kuminta mengembalikan surat itu ke tempatnya, dan jangan menceritakannya pada Aisyah, aku takut dia menjadi serba salah. Biarlah, toh setelah beberapa bulan tidak ada masalah lagi, kurasa semuanya telah membaik. Semoga.
Aku naik bikun langsung menuju Masjid Ukhuwah Islamiyah. Saat kulangkahkan kakiku mendekati Masjid, kakiku agak gemetar berjalan. Begitu banyak orang. Kembali kutata niatku. Saat langkahku mendekati undakan masjid, mataku sejenak melihat Aisyah dengan jilbab hitamnya. Kami sama-sama menundukkan pandangan. Kulihat dia langsung memutar arah ke tempat samping, tempat para akhwat yang disekat dengan papan pembatas. Kuteruskan langkahku. Allah, tetapkan hatiku..., tetapkan hatiku..., kuingin memurnikan ketaatan hanya kepadaMu. Syahid langsung menghampiriku, dan mengajakku lewat samping, katanya dia diminta Ustadz Umair menungguku di luar.
Aku lewat samping bersama Syahid. Saat melewati beberapa orang kudengar bergumam kasak-kusuk membicarakan ulama besar Mesir, Dr M. Ramadhan Al Buthy. Aku masuk ke bilik di samping Masjid, kupakai surban dan kulilitkan mengelilingi peci putihku. Syahid menungguku di luar bilik.
Aku dan Syahid duduk di deretan depan, karena masuk dari bilik di samping depan Masjid. Ustadz Umair tersenyum kearahku, aku membalas senyumnya. Kulihat Ustadz membisikkan kepada salah satu kakak tingkatku di pondok, lalu Santri itu berdiri dan memulai acara. Saat inti, MC menginformasikan kalau DR M Ramadhan Al-Buthy tidak bisa hadir, karena suatu halangan. Beberapa jama’ah sedikit terdengar gaduh, namun segera tenang kembali. Saat namaku disebutkan menggantikan materi, hatiku berdetak cepat. Aku mantap melangkah, Allah..., kemulyaan apa yang kau berikan kepadaku, sehingga aku dapat berbicara di hadapan ribuan manusia yang ingin mendekatkan dirinya kepadaMu?
Beberapa orang masih risuh terdengar. Kutatap sejenak banyaknya manusia yang ingin mendengarkan ujaranku. Aku mengucapkan salam dan tak terasa aku terisak lirih. Semuanya hening mendengarkan isak lirihku, menunggu kata-kata dariku.
Alhamdulillah. Ya Allah, milikMulah segala puji, Engkaulah pemilik langit, bumi dan segala isinya. Dan milikMu segala puji, Engkaulah cahaya di langit, di bumi dan diantara keduanya. Dan milikMu segala puji, Engkau adalah benar, janjiMu benar, pertemuan denganMu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad saw itu benar, dan kiamat itu benar.
Ya Allah, kepadaMulah kami berserah diri, denganMu kami bergantung, kepadaMulah kami beriman, karenaMu kami berdebat, denganMu kami berhukum,  ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang tampak atau yang rahasia, Engkaulah yang awal dan yang akhir, tiada Tuhan selain Engkau.[2] Aku merasa bahagia sekaligus bersedih. Bahagiaku karena saya diperkenankan Allah berbicara di depan manusia yang dimulyakan oleh Allah, dan sedihku karena belum tentu saya di akhirat nanti dikumpulkan bersama orang-orang yang beriman, ataukah akan digabungkan dengan golongan yang zalim, ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.[3]
Suatu hari, mungkin setiap pagi kita mengatakan, ”Aku adalah orang baik dan selalu berbuat baik, tiada yang menyamai banyaknya amalku. Aku telah beramal ini dan itu. Di saat kawan-kawanku tertipu dunia, aku telah menjadi orang mulia.” berhati-hatilah saudaraku, waspadalah akan diri sendiri. Cucu Rasulullah saw, Zainal Abidin rahimallah, bisa mempelajari ilmu ikhlas selama empat puluh tahun belajar mendalaminya. Lalu, apa yang kita sombongkan dengan amal kita? Apakah kita yakin, setiap amal kita ikhlas dan diridhai Allah ’Azza wa Jalla? Bukankah Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang bertakwa?
Kita menyadari. Tak setetes pun susu yang diperah, bercampur dengan darah atau tahi, padahal letaknya antara tahi dan darah. Susu itu segar dan murni, seperti itulah amal yang diterima  Allah, dia tulus dan ikhlas. Maka, mari berusaha dan berkata, ”amal ini tidak untuk siapapun kecuali Engkau, wahai Allah. Sejernih susu.” mari kita ingat firman Allah, ”katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku...”[4] kita akui bahwa keikhlasan itu berat, seperti yang dikatakan Sahl bin Sa’d ketika ditanya, ’Apakah yang paling sulit bagi jiwa?’ jawabnya adalah, ’Ikhlas.’ Sufyan Ats-Tsauri rahimallah berkata, ”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.”
Pertanyaan ringan untuk kita, apakah kita mampu untuk ikhlas? Apakah tingkatan ikhlas yang paling mendasar? Bagaimana kita dapat menggapainya?
Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya semua amal itu dengan niat, Inna mal a’malu binniy yat. Dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasannya) apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia atau wanita, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia berhijrah karenanya.[5]” Maka Saudaraku, ketika kita memulai amal, perhatikanlah niat. Carilah niat yang baik karena berapa  banyak amal kecil tapi ganjarannya dilipatgandakan karena niat. Ketika berinfak, hati kita merasakan rindu kepada Allah ’Azza wa Jalla. Saudaraku, marilah belajar dan membiasakan niat yang baik. Saat makan, minum, pergi ke toilet, mencuci pakaian dan piring, saat ke masjid, tidur kita, karena seluruh kehidupan kita untuk Allah semata. Janganlah kita melakukan sesuatu tanpa didasari niat untuk Allah.
Berhati-hatilah dengan ibadah kita, saat kita terbiasa dan tak memperbarui niat. Bisa jadi ibadah menjadi rutinitas yang kering akan keikhlasan, sekedar menyelesaikan kewajiban. Mungkin kita menemukan orang yang rajin beribadah, lalu dia pergi berjudi, atau seorang wanita muslimah yang memakai jilbab lalu melepasnya. Na’uudzubillaahi min dzaalik. Ini adalah kemaksiatan besar. Seandainya bukan dosa besar, tentu itulah musibah yang membuat Allah sangat marah. Maka mari pelajari niat.
Mari persiapkan niat ketika melakukan apapun, dan memperbaruinya terus. Lihatlah para pemuda yang terbiasa shalat berjama’ah di masjid. Hendaknya selalu memperbarui niat sebelum melakukan shalatnya, Insyaallah niat akan selalu terjaga dan ikhlas akan terpelihara. Siapa diantara kita, yang ketika sepuluh tahun lagi masih tetap komitmen dengan keimanan? Siapa yang akan berpaling? Siapa yang akan bertambah imannya? Semua bisa dimulai dengan niat yang ikhlas.
Niat dapat mengubah kebiasaan menjadi ibadah. Niatkan belajar kita untuk mengembalikan kejayaan Islam, belajar untuk mendapatkan kedudukan lalu menyeru kepada jalan Allah, atau sudah waktunya muslim memimpin dunia dengan ilmu pengetahuan. Maka, Insyaallah, setiap pandangan mata pada tiap huruf ilmu, setiap goresan tinta akan menerima pahala. Bukankah Islam adalah indah? Bagaimana kalau kita berniat menjadi orang kaya? Niatkan harta kita untuk diinfakkan di jalan Allah. Bukankah berinfak di jalan Allah, lebih baik dari seribu khutbah? Mari merenung saudaraku, apakah memulai berniat itu sulit? Demi Allah yang menggenggam jiwaku, ini mudah dilakukan. Untuk sempurna berikhlas memang berat, tapi berniat dalam kebaikan sangat mungkin dilakukan.
Niat untuk hal yang tidak bisa kita lakukan, juga tidak pernah sia-sia. Betapa banyak orang yang berniat haji, dan mengumpulkan uang dengan sungguh-sungguh, tetapi dia tidak jadi berangkat haji, namun Allah mencatatnya telah mendapatkan haji mabrur. Betapa banyak orang yang berniat syahid, lalu meninggal di ranjang tapi Allah mencatatnya syahid sempurna, ”Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para Syuhada, meskipun ia mati di atas ranjangnya[6], betapa banyak orang yang tidak Qiyamul layl tapi mendapatkan pahalanya. Karena niat, ”Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan shalat lail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan[7] tapi semua dengan catatan bahwa kita tawakkal kepada Allah.
Para Sahabat Rasulullah saw, ketika melakukan suatu amal akan membuat banyak niat. Ketika berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, maka dia berniat shalat berjamaah dengan banyak keutamaannya, bertemu dengan kawan-kawan yang shalih, mencari sahabat baru untuk sama-sama melakukan ketaatan, mengambil manfaat dari agama, aku ke masjid untuk menjauhi maksiat. Dengan kebiasaan niat ini, Insyaallah kita mendapatkan pahala yang berlipat-lipat.
Adakah agama yang lebih mulia dari Islam? Bukankah anugrah Allah terbesar adalah niat? Kita sepakat untuk melakukan amal dengan niat. Pada awalnya mungkin terasa begitu berat, tetapi setelah itu saudaraku..., kita akan termasuk hamba Allah yang terbaik, dan mampu meninggalkan semua kemaksiatan. Mengapa? Bukankah kita paham, betapa beratnya berlaku maksiat jika harus berniat karena Allah ’Azza wa Jalla?
Aku mengakhiri pengajian itu setelah muhasabah, beberapa hadirin menangis sesenggukan bersamaku. Beberapa stasiun televisi meliput pengajian tadi. Dikiranya yang datang DR Ramadhan Al Buthy, tapi mereka tetap merekam acara ini. Seseorang yang mengaku dari salah satu stasiun TV swasta, bahkan memintaku untuk mengisi kajian setiap pagi hari, karena materi yang saya sampaikan amat simpel dan menyentuh. Aku belum memberi keputusan kepadanya, tapi dia meminta nomor Hp-ku.
Sesudah Dzuhur di Masjid, aku langsung ke Pasar Minggu lalu mengganti bajuku dan mulai bekerja lagi. Aku teringat kata-kata Umar bin Khattab, ”Tiada hal yang aku senangi sesudah berjihad kecuali berbisnis,” bagiku jika pekerjaan itu halal, aku tak akan malu melakukannya. Bagiku menjadi kuli juga bagian dari bisnis. Kumulai dengan niat untuk biaya kuliah dan dakwah, Kujadikan pekerjaan sebagai hiburan agar setiap hal menjadi ringan. Sore hari, seperti biasa aku langsung pulang, setelah mengganti kaus untuk mengangkat barang di Pasar tadi. Ketika di gerbang, Syahid sedang masuk pula dari luar bersama Ustadz Wahid, mereka mendekatiku dan mengucapkan salam. Mereka menyampaikan kritik tentang materiku tadi pagi, katanya materinya bagus, tapi nada bicaranya masih kurang stabil, harus banyak belajar, aku menganggukan kepalaku.
”O iya,” Ustadz merogoh sesuatu dalam tasnya, ”Ini undangan untukmu. Tadi Ilham, Mahasiswa lulusan S2 Hadits dari Mesir, yang akan menikah besok karena Ustadznya tidak bisa datang, dan dia meminta tolong agar engkau yang mengisinya. Anta bisa kan? Ini atas rekomendasi Ustadz Umair. Insyaallah saya juga akan hadir di acara Walimatul Ursy itu.”
Insyaallah Tadz,” aku tak berani berkomentar, aku masih ingat pesan Ustadz Umair, bahwa kebaikan harus segera dilakukan. Kejahatan saja berani nekat kenapa kebenaran tidak berani? Menjadi khotib Walimatul Ursy[8]? Aku sendiri belum menikah, tapi bukankah Da’i juga harus menyampaikan apa yang terjadi sesudah mati, tentang siksa kubur, surga dan neraka, walaupun Dai tersebut belum pernah mati. Intinya jika kebaikan, itu bisa dilakukan sekarang maka lakukan sekarang, dengan niat yang baik. Syahid pamitan untuk masuk lebih dulu di garasi kecil pondok, Ustadz berjalan masuk ke pondok, dan aku kembali ke kamar, menyiapkan materi yang akan disampaikan.
*     *     *
”Duuoor!” ban motor yang kunaiki bersama Syahid tiba-tiba meletus, padahal acara Walimatul Ursy-nya tinggal tujuh menit lagi. Kami menuntun motor dan mampir di bengkel tambal ban. Teryata lubang yang tertancap besar, jadi ban motor dalam harus di ganti. Kami memakai motor inventaris Pesantren, Ustadz Umair membolehkan memakainya, tapi sempat kutangkap ada kemurungan di balik wajahnya yang biasanya ceria dan keras. Saat menunggu tambal ban selesai, Hp-ku berdering. Dari mas Ilham.
Afwan[9] Mas, mungkin agak lambat. Sebaiknya Mas mulai saja akadnya, nanti taujihnya sesudah akad saja. Tidak masalah,” aku mengakhiri hubungan.
Lima menit kemudian tambal ban selesai. Aku menyerahkan uang. Syahid memboncengku agak ngebut, kuminta agak pelan saja. Dia hanya tersenyum dan memelankan laju motor. Dia dulu memang mantan pembalap liar, lalu bertobat, Alhamdulillah. Kalau bukan karena cintaMu, entah terperosoklah kami ke dalam jurang kehinaan. Lakalhamdu walakas syukru.
Rumah yang megah. Syahid sudah hafal betul jalanan di Depok dan sekitarnya. Acara walimah di Jakarta Timur. Resepsi yang indah, megah namun yang luar biasa adalah, para tamu dipisahkan hijab anyaman bambu yang indah. Berbeda jauh dengan resepsi di kampungku, betapa campur-baur wanita dan pria, kadang tanggapan organ tunggal atau tayub menggelegar, memekakkan telinga. Seorang lelaki berjenggot mengantarkan kami duduk di depan, katanya acara akad telah selesai. Sekarang sedang acara pertemuan dua keluarga untuk disatukan. Saat itulah, jantungku seolah berhenti demi melihat dua mempelai yang sedang bergantian menyalami orangtua masing-masing. Aku mengucek mataku, benar, dia adalah Mawar.
Hatiku ribut di dalam, hanya aku dan Allah yang tahu. Syetan berbisik gencar, hati nurani mencoba mempertahankan kemulyaan, di antara kehinaan yang siap melumatku. Bibirku mendesah dzikir. Kutata hatiku, Allah..., bantulah hambaMu..., hambaMu..., kuakui dalam bayanganku saat pejam. Mawar memang cantik, tapi ingat pertemuan dengan wajah terindah Allah, mampu meredakan gejolak dalam hatiku. Persahabatan? Tiada yang abadi di dunia, hanya surgalah keabadian. Tak akan lagi kubiarkan dunia merenggut hatiku, biarlah dunia di tanganku semata, tak akan kubiarkan lagi merebut sedikitpun bagian di hatiku. Allah, betapa Kau tahu pergulatan hebat dalam diriku, hanya Kaulah yang tahu. Betapa berat hati ini kutata, benar kata NabiMu jika hati ini baik maka baiklah semuanya. Aku akan berusaha sampai mati, sampai mati ya Allah...
Akh, sebentar lagi Anta dipanggil,” Syahid menyentuh pundakku pelan. Aku langsung membuka mataku. Kutahan semua gejolak dan benturan-benturan antara taqwa dan fujur, ternyata begitu lama aku berjuang dalam diriku, pergolakan yang dahsyat. Syahid keheranan menatapku, ”Kau sakit? Matamu menangis,” aku menganggukkan kepalaku. Dia mengambil sapu tangan, dan mengelap airmataku cepat agar tak diketahui orang. Pandangan para tamu berpusat pada mempelai pengantin.
Saat namaku, ”Ustadz Ali,” disebut untuk mengisi khutbah, kuluruskan sorbanku sambil berjalan santai. Aku harus bisa, cukuplah Allah bagiku..., cukuplah Allah bagiku. Aku yakin dengan namaMu, Kau pasti menggantikan duka dan kepayahanku menjadi keteduhan yang lebih baik, jika tidak di dunia maka di akhirat. Aku menatap mempelai sejenak lalu para tamu pria. Suaraku kubuat setenang air samudera, sejernih mata air zam-zam, selembut kapas yang beterbangan di bawah awan.
”Kedua mempelai, para tamu undangan yang saya cintai karena Allah.
Saat serpihan telah menyatu. Tali yang terpisah telah disatukan. Disitulah letak kuasa Allah yang menyatukan perbedaan, menyemai persamaan menjadi cinta kasih yang dilandasi iman. Menjadi subur karena kecintaan kepada Allah semakin menguat.
Kuyakin telah banyak hal yang dipelajari oleh kedua belah pihak. Sangat bahagia rasanya saya diperkenankan menyampaikan ujaran, walau sejatinya nasehat ini untuk diri pribadi saya sendiri. Bukankah Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran[10] tak banyak yang ingin saya nasehatkan untuk mempelai, karena saya yakin Insyaallah kalian lebih banyak tahu dari saya,” mataku sekilas menatap kedua mempelai yang ceria dari senyum dan mata mereka yang berbinar. Pergulatan di hatiku terus terjadi, Hasbunallah. Cukuplah Allah bagiku. Hati..., jadilah raja yang baik untukku
”Rasulullah saw bersabda, ”Segala sesuatu selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panah) dan seseorang yang berlatih perang,[11] kekuatan langgengnya keluarga Nabi saw adalah melengkapi bumbu-bumbu kehidupan layaknya masakan. Tidak kaku, dan tidak longgar. Hidup tidaklah melulu serius dan akhirnya rumah penuh dengan ketegangan. Ali bin Abi Thalib berpesan, ”Hiburlah hati suatu ketik, karena jika dipaksa terus-menerus terhadap sesuatu, ia bisa membuta,” setiap persoalan di dunia ini bisa diatasi dengan mudah, jika kita mengembalikan setiap persoalan kepada Dzat yang berhak memberi dan mencabutnya kembali.
Kala menikah. Semua hal menjadi berkah dan penuh kenikmatan. Bagaimana tidak, rezeki yang diberikan suami kepada istri adalah sedekah, sampai menyuapi istrinya adalah pahala. Adakah agama yang sehebat Islam? Saling memahami adalah kekuatan terbesar suatu ikatan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimallah berkata tentang pasangan suami istri, ”Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah swt. Penghadir kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama, perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah ’Azza wa Jalla. Selain itu, akan datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.” Sesungguhnya rasa kasih dan cinta itu dari Allah, dan kebencian dari syeitan, maka apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah ia shalat di belakangmu dua reka’at kala malam Zafaf,” aku mengambil napas pelan, kesejukan di hatiku mulai terasa. Allah benar-benar meniupkan kesejukan di hatiku. Aku merasakannya, indah. Sangat indah.
”Niat juga dibutuhkan dalam membina rumah tangga yang Sakinah, mawaddah warahmah. Niat dari awal adalah kepastian, seorang istri yang melahirkan. Apa yang diharapkan dari seorang istri ketika melahirkan anak, wahai saudariku? Apakah sekedar menjadi penyejuk mata? Menyaksikan mereka menjadi orang-orang sukses? Atau menjadikan mereka teman bersendau gurau? Dengan niat ini, pahala Allah tak akan mengalir. Niatkanlah agar, anak-anak kita mentauhidkan Allah, bertasbih dalam setiap desahan napas mereka, akhlak mereka adalah Al-Quran, mereka menjadi orang-orang yang mukhlis. Gembira apabila mereka bersujud di hadapanMu, wahai Tuhanku. Ia menjadi seperti Shalahuddin atau Khalid bin Walid.
Istri adalah pakaian bagi suami, begitupun sebaliknya saudara-saudaraku. Maka tutupilah setiap kekurangannya, ”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah – mudahan mereka selalu ingat.[12]  Ada sebuah petuah dari orang bijak, ”Di balik setiap laki-laki agung, selalu berdiri seorang wanita yang agung pula,” para pemuda yang sudah mencapai ba’ah[13] maka segeralah menikah, melengkapi kelengkapan dalam beribadah kepada Allah. Tidaklah risaukan siapa yang mau memberi makan, bukankah Allah yang memberi makan semua makhlukNya, tanpa kesusahan sedikitpun. Allah yang memberi rizki, jika kita yakin maka jalanNya akan dibuka selebar-lebarnya.”
Kuakhiri khutbah. Aku bertemu dengan Ustadz Wahid disana, aku dan Syahid pamitan pulang. Motor kembali melaju kembali ke Depok, membawa hatiku yang mulai tenang. Bapak..., kini aku tahu. Persahabatan memang ada, tapi Allah lebih berharga dari apapun, bahkan nyawaku sekalipun. Persahabatan itu ada untuk mendukung mendekatkan diri padaNya. Aku memang kehilangan hal yang kukejar, tapi aku menemukan banyak persahabatan disini. Sepanjang jalan walau hambar, aku bercanda bersama Syahid, kulihat dia menikmati humor-humorku.
Ibu, semesta alam akan kulipat dan kupersembahkan sepenuhnya untukmu. Maafkanlah aku ibu..., karena aku belum bisa melakukan sesuatu untukmu. Maafkanlah tingkah lakuku selama bersamamu. Fajar, Yasmin..., maafkan kakak yang dulu menyia-nyiakan kebersamaan kita. Allah, izinkanlah kami menyemai kebersamaan lagi, memulai dari awal seperti matahari yang menyingsing menyambut hari yang baru, seperti seorang pendosa yang bertobat dengan sungguh-sungguh.


[1] Percaya
[2] HR At-Tirmidzi, Muslim dan Ibnu Abbas
[3] QS Al-A’raf : 23
[4] QS Al-An’am :162-163
[5] HR Bukhari dan Muslim
[6] HR Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi
[7] HR Al-Bukhari
[8] Pernikahan
[9] Maaf
[10] QS Al-‘Asr
[11] HR An-Nasa’i
[12] QS Al-A’raaf : 26
[13] Kemampuan untuk menikah (kemampuan siap untuk mencari nafkah dan kemampuan untuk bersetubuh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar