Jumat, 18 Oktober 2019

Part 25, Kejadian di Rumah Fadli

25 Oktober 2007
Kuliah Semester VII telah dimulai sejak September yang lalu. Alangkah cepat waktu berjalan, semuanya berjalan begitu indah diatur olehNya. Hidupku kini mulai terarah, kuliah hanya tinggal 18 Sks[1]. Beberapa bulan yang lalu, atas instruksi Ustadz Umair, Pesantren mendirikan LSM pengembangan diri. Aku menjadi salah satu trainernya, walau hanya cadangan. Alhamdulillah..., aku bisa mengirim uang lebih banyak ke kampung, walau aku belum sempat pulang. Jika tak ada order, aku menjadi kuli seperti biasa di Pasar Minggu. Jadwal mengisi khutbah kini terpampang dalam kamarku setiap minggunya, jadi Syahid tidak perlu mengingatkan aku terus. Alhamdulillah ada infaknya juga sebagai bonus dari Allah. Hidupku seolah selalu gembira, walau masalah selalu ada. Tapi, kuyakin Allah selalu bersamaku, dimanapun aku berada.
Sore itu. Saat shalat Ashar di Mushola di dekat Pasar Minggu, mengganti bajuku di kamar ganti. Aku bertemu dengan Pak Purwiro di masjid, dia sedang mencari jilbab di toko Taqwa untuk Milad anaknya. Aku menemaninya mencarikan, kutawarkan malah dan dapat lebih murah. Sifat egoisnya dulu telah terkikis karena iman dalam hatinya. Alhamdulillah. Allah berkehendak menunjuki siapapun petunjuk, dan Allah berkehendak pula menyesatkan orang-orang yang telah buta mata hatinya. Semoga keimanan itu selalu menetapi hati orang-orang yang berusaha keras mendekatkan diri padaNya. Beliau pamitan karena anaknya sebentar lagi pulang kuliah.
Aku menuju Pasar kembali meneruskan pekerjaanku, menunggu ada angkutan. Sebuah mobil kue datang, satu muatan penuh dan aku dipanggil. Para kuli bekerja bersama, kota yang damai. Tiada persaingan, yang ada hanya sendau gurau yang meringankan segala kepenatan masalah dalam kehidupan. Setiap mengangkat barang, saling bercanda, hingga ketawa berderai. Kadang jika sedang santai mereka sering curhat kepadaku meminta nasehat. Pasar adalah tempat dakwah bagiku, dimanapun tempatnya dakwah tetap harus dijunjung karena Islam dan kehidupan adalah kesatuan seperti yang diajarkan Rasulullah saw. Islam mengatur semua aspek dalam kehidupan, karena Islam adalah rahmat bagi alam semesta.
Saat mengangkat dua kardus berisi kue stik, mataku menatap seseorang yang lewat menuju tempatku memanggul barang. Ustadz Umair? Sedang apa beliau sendirian di pasar? Bukankah dia bisa meminta salah satu santri untuk mencari sesuatu? Gawat! Aku memindahkan barang ke pundak kiri untuk menutup wajahku. Aku bisa kena hukuman jika ketahuan bolos belajar. Aku melewati beliau di depannya beberapa meter, wajahku tertutup kardus. Insyaallah dia tidak tahu. Aku lega ketika beliau lewat terus hingga menghilang di balik  keriuhan Pasar.
Pukul 17.00 pikiranku gelisah, tiba-tiba wajah gadis tegar Aisyah singgah dalam kenanganku. Segera ku beristighfar berulang-ulang. Tetapi, kerinduanku semakin membuncah demi bertemu Fadli. Hari ini memang ada jadwal privat, tapi ba’da Maghrib dan biasanya aku pulang dulu untuk mandi, tapi kenapa pikiranku hanya terisi rumah Fadli. Sudahlah, aku pergi ke Mushola mandi cepat dan mengganti baju kuliah tadi siang. Buru-buru aku ke rumah Fadli, toh Aisyah pasti belum pulang dari kerjanya yang kutahu dia pulang sekitar pukul 21.30 dari menjaga wartel, interned dan counter Mahabbah. Letak rumahnya yang tidak begitu jauh dari Pasar, hanya satu setengah kilometer di sebelah Timur Pasar. Entah semacam ada magnet yang menarik tubuhku untuk segera ke rumah Fadli. Tak kuasa kuikuti ritme perasaanku, Aku bergegas karena hatiku seolah tak nyaman.
Gerbang telah terbuka seperti biasa, sebuah sepeda motor terparkir di depan pojok rumah. Rupanya ada tamu. Bukankah selama ini, aku belum pernah bertemu dengan salah satu keluarga Fadli dan Aisyah? Aku memasuki teras. Tampak sepi karena rumahnya memang mewah dan selalu nampak tertutup. Kuketuk pintu dan mengucapkan salam. Sekali, dua kali..., tak ada sahutan. Tidak seperti biasanya, sebetulnya tidak boleh melihat ke dalam melalui kaca, tetapi hatiku begitu gelisah. Perasaanku tak enakku mengalahkan segalanya, Aku melihat melalui kaca sambil bibirku mendesah Istighfar karena kelancanganku.
Aku melebarkan pandangan mataku, memperjelas. Ada sesosok tubuh tergeletak di ruang tamu, tempat aku dan Fadli belajar. Tubuhnya menggeliat berat. Astaghfirullah, itu Fadli, wajahnya berdarah, dia tak kuasa untuk bangun. Aku segera menarik gagang pintu, terkunci. Kuambil ancang-ancang dan, ”Brakkk!!” pintu terbuka paksa. Aku berlari mendekati Fadli. Ada kekagetan dari raut wajahnya, sebelum aku berkata dia telah berteriak, ’Tolong Kakak!!, di atas,’ sambil meringis. Aku masih sedikit bingung.
”Cepat Kak! Tolong Kak Aisyah!” Fadli menunjuk tangga ke atas. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku berlari sekencang-kencangnya menaiki tangga. Terdengar suara dari salah satu kamar, suara Aisyah! Dia menjerit. Pintu di sebelah kanan, aku berlari mendekati kamar itu, pintu terkunci. Kutendang dengan sekuat tenaga, ”Allahuakbar!” pintu terkuak, seorang lelaki di belakang pintu terjungkal, dan kepalanya terbentur lantai.
Aku masuk. ”Aisyah!” seorang lelaki kekar tanpa baju kaget, dan beranjak meninggalkan Aisyah yang ketakutan. Jilbabnya telah raib tergeletak di lantai, baju atasnya terkoyak. Aisyah masih menjerit-jerit, matanya yang teduh kini begitu ketakutan. Dia menangis. Darahku mendidih laksana gunung yang meledakkan lahar kemarahan, mataku tajam menatap lelaki kekar yang kini membenahi dirinya, matanya melotot tajam kearahku. Seorang lagi yang masih terjengkang mengaduh kesakitan. Perbuatan memerkosa adalah kejahatan yang paling aku benci dalam hidupku, jika bisa kubunuh orang yang mengoyak-ngoyak arti sebuah kesucian. Jika aku teringat kembali surat-surat yang semestinya tak boleh kubaca, seluruh ototku menegang. Ingin kuhancurkan semua yang membuatnya menangis, hingga mengalami kesedihan lagi.
Kurang ajar! Manusia biadab!” kuambil ikat pingganggu dan kulilitkan di telapak tangan kananku. Lelaki kekar itu panik dan langsung menyerangku. Orang yang bertindak gegabah biasanya tanpa perhitungan, itulah yang aku pelajari dari Winston Churchill, seorang Jendral  perang Inggris saat perang dunia ke-II yang banyak memenangkan peperangan. Sebelum kepalannya menggapai kepalaku, tendanganku telah melayang mengenai perutnya, kususulkan dengan pukulan tepat di keningnya, berbenturan dengan kepala besi ikat pinggang. Lelaki itu terjerembab membentur dinding. Saat lelaki kekar akan bangkit dari jatuhnya, aku menimpanya dengan sepatu di punggungnya kuat. Satu, dua, tiga hingga dia menjerit kesakitan.
Lelaki yang lebih tua yang terbentur pintu bangun, dan entah dari mana benda berkilat telah ada di tangan kanannya. Matanya liar bak srigala atau anjing. Membuatku semakin muak melihatnya, aku benar-benar marah, marah karena Allah. Kulihat Aisyah masih berteriak-teriak, lelaki tua itu mengayunkan pisaunya cepat kearahku. Gerakannya cepat, hingga merobek sedikit luka goresan di pipiku, darah menetes pelan. Kulihat senyumnya menikmati kepuasan. Saat dia kembali menyerang kuangkat meja kecil di sampingku, dan kuhempaskan kuat mengenai kepalanya. Meja terpisah remuk. Tubuhnya lelaki itu ambruk, kelesotan hingga suaranya tercekat. Darah dimana-mana. Emosiku tak terkendali, kuambil bongkahan kayu serpihan meja yang remuk.
Aku mendekati lelaki kekar yang menghiba ampun, seolah pengemis di pinggir jalan untuk meminta sekedar sesuap nasi, mempertahankan hidupnya. Setelah tidak berdaya seolah nafsunya menghilang, tobatnya terpaksa. Dasar manusia biadab. Aku menatap Aisyah yang menangis, aku mendekatinya dia menjerit dan mundur hingga menempel pojok kamar. Hatiku ikut menangis, betapa dia ingin mempertahankan kesuciannya. Aku mengambil selimut dan menutupinya, walau dia berontak. Hatiku terbakar kebencian yang mendalam, aku akan mengutuk perbuatan hina ini, hingga pelakunya hanya pantas dibakar api neraka yang berkobar-kobar.
Aku mengambil besi, serpihan dari meja yang remuk. Kemarahanku telah memuncak. Aku mendekati lelaki kekar tanpa baju. Dia menangis meminta ampun. Kuminta tangan kanannya menghulur di atas lantai. Dia tidak mau dan terus meminta ampun, aku mengancamnya jika tidak mau akan kupecahkan kepalanya dengan besi itu, akhirnya tangannya terhulur pelan dan kupegang erat pergelangannya, ”Buk!’ sekuat tenaga kutumpahkan amarahku. Besi itu beradu dengan punggung tangannya. Jeritan menyayat dari mulutnya memecahkan kesunyian. Kemarahanku belum mereda, aku benar-benar tak tega jika melihat kesucian yang begitu Allah mulyakan, akan direbut. Kupukulkan besi itu lagi dan lagi. Tiga kali kurasa cukup. Tangan itu penuh darah, kurasa tangan itu akan cacat, dan biarlah untuk pelajaran baginya dan semoga dia mau bertobat.
Aku mengikat erat kedua lelaki itu, kubawa ke bawah. Banyak tetangga berdatangan karena teriakan, dan teriakan Fadli yang meminta tolong. Aku tak bisa menyadarkan Aisyah dari kekalutannya, kuminta Fadli untuk menemaninya. Sebuah nomor kuhubungi, Wanda. Aku memintanya untuk datang ke rumah Aisyah, bukankah mereka sering menghadiri kajian bersama. Sambungan terhubung. Wanda akan segera meluncur beberapa menit lagi, dia sedang di Asrama. Inikah perasaan yang menghimpitku, membuatku gelisah? Hanya Allah yang menentukan segalanya. Allah telah mengatur segalanya.
Polisi datang. Aku menjelaskan peristiwanya dengan terperinci, mereka memintaku dan Fadli menjadi saksi. Wanda datang, tepat saat aku menceritakan kejadiannya pada polisi. Kuminta dia menenangkan Aisyah dan menjelaskan kepada pihak pesantren, dia menganggukkan kepalanya, ”Insyaallah,” itulah kata yang sempat kutangkap saat aku pamitan ke kantor Polisi.
Malam itu aku baru bisa pulang tengah malam, diantar polisi hingga ke Pesantren. Santri-santri menyambutku dengan was-was. Malam itu aku menjelaskan kejadiannya, mereka mengucap syukur kepada Allah dan mendoakan kebaikan padaku. Pukul satu aku mengambil air wudhu, shalat dua rekaat dan berusaha tidur. Banyak hal yang terjadi, aku terus memikirkan keadaan Aisyah. Allah..., berilah kebahagiaan padaNya. Perlahan mataku menutup, dan aku tertidur dalam penjagaan Malaikat.
Ba’da subuh. Wanda meneleponku. Dia menginap di rumah Aisyah bersama beberapa teman, yang langsung malam itu dihubunginya. Keadaan Aisyah masih sering menangis, namun keadaannya sudah mulai membaik. Aku memintanya untuk menyempatkan diri menjaga Aisyah, hingga benar-benar bisa melewati masa-masa menyakitkan baginya. Wanda menyanggupinya, dan akan banyak menemani Aisyah hingga pulih. Aku sedikit tenang. Kajian dimulai kembali, memulai lembaran lagi.
Setelah kajian. Hp-ku kembali berdering, dari kepolisian yang mengabarkan informasi yang membuatku terperanjat. Setelah diselidiki ternyata, sore itu atas keterangan Fadli. Ayah tirinya pulang bersama temannya ke rumah, dalam keadaan marah-marah. Dari informasi penjahat itu, Nardi lelaki yang lebih tua yang ternyata ayah tiri Aisyah dan dia telah menjual anak perempuannya karena hutangnya tak bisa terbayar. Sore itu, Nardi menelepon Aisyah untuk segera pulang karena Fadli akan dijual, maka Aisyah segera pulang dari tempat kerja. Setelah sampai di rumah, kejadian itu terjadi. Begitu informasi dari polisi yang meneleponku. Mereka akan menindak tegas dua penjahat itu, hingga mereka akan kapok dari perbuatan bejat mereka. Hatiku hanya berkata alangkah baiknya jika mereka dihukum seberat-beratnya, siapapun mereka. Karena kuyakin sudah banyak korban yang kehilangan harga diri dan merasa hina karena perbuatan mereka.
Alangkah nelangsa nasib kalian. Aisyah, gadis tegar yang mulai mencicipi manisnya iman, setelah musibah-musibah dalam hidupnya, kini harus menghadapi beban hidup kembali. Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan, Allah  pasti tidak akan menyusahkannya lagi, hingga tiada akan ada lagi kesusahan setelahnya. Amiin. Doaku akan selalu bersenandung untukmu sahabatku. Untuk sementara akan kujaga adikmu, Fadli dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Derita seorang muslim adalah bagian dari derita muslim lainnya, selama mereka merasa Allah sebagai Tuhannya.


[1] Sistem Kredit Semester

Tidak ada komentar:

Posting Komentar