25 Oktober 2007
Kuliah
Semester VII telah dimulai sejak September yang lalu. Alangkah cepat waktu
berjalan, semuanya berjalan begitu indah diatur olehNya. Hidupku kini mulai
terarah, kuliah hanya tinggal 18 Sks.
Beberapa bulan yang lalu, atas instruksi Ustadz Umair, Pesantren mendirikan LSM
pengembangan diri. Aku menjadi salah satu trainernya, walau hanya cadangan. Alhamdulillah..., aku bisa mengirim uang
lebih banyak ke kampung, walau aku belum sempat pulang. Jika tak ada order, aku
menjadi kuli seperti biasa di Pasar Minggu. Jadwal mengisi khutbah kini
terpampang dalam kamarku setiap minggunya, jadi Syahid tidak perlu mengingatkan
aku terus. Alhamdulillah ada infaknya
juga sebagai bonus dari Allah. Hidupku seolah selalu gembira, walau masalah
selalu ada. Tapi, kuyakin Allah selalu bersamaku, dimanapun aku berada.
Sore
itu. Saat shalat Ashar di Mushola di dekat Pasar Minggu, mengganti bajuku di
kamar ganti. Aku bertemu dengan Pak Purwiro di masjid, dia sedang mencari
jilbab di toko Taqwa untuk Milad anaknya. Aku menemaninya mencarikan,
kutawarkan malah dan dapat lebih murah. Sifat egoisnya dulu telah terkikis
karena iman dalam hatinya. Alhamdulillah. Allah berkehendak menunjuki
siapapun petunjuk, dan Allah berkehendak pula menyesatkan orang-orang yang
telah buta mata hatinya. Semoga keimanan itu selalu menetapi hati orang-orang
yang berusaha keras mendekatkan diri padaNya. Beliau pamitan karena anaknya
sebentar lagi pulang kuliah.
Aku
menuju Pasar kembali meneruskan pekerjaanku, menunggu ada angkutan. Sebuah
mobil kue datang, satu muatan penuh dan aku dipanggil. Para kuli bekerja
bersama, kota yang damai. Tiada persaingan, yang ada hanya sendau gurau yang
meringankan segala kepenatan masalah dalam kehidupan. Setiap mengangkat barang,
saling bercanda, hingga ketawa berderai. Kadang jika sedang santai mereka
sering curhat kepadaku meminta nasehat. Pasar adalah tempat dakwah bagiku,
dimanapun tempatnya dakwah tetap harus dijunjung karena Islam dan kehidupan
adalah kesatuan seperti yang diajarkan Rasulullah saw. Islam mengatur semua
aspek dalam kehidupan, karena Islam adalah rahmat bagi alam semesta.
Saat
mengangkat dua kardus berisi kue stik, mataku menatap seseorang yang lewat
menuju tempatku memanggul barang. Ustadz Umair? Sedang apa beliau sendirian di
pasar? Bukankah dia bisa meminta salah satu santri untuk mencari sesuatu?
Gawat! Aku memindahkan barang ke pundak kiri untuk menutup wajahku. Aku bisa
kena hukuman jika ketahuan bolos belajar. Aku melewati beliau di depannya
beberapa meter, wajahku tertutup kardus. Insyaallah
dia tidak tahu. Aku lega ketika beliau lewat terus hingga menghilang di
balik keriuhan Pasar.
Pukul
17.00 pikiranku gelisah, tiba-tiba wajah gadis tegar Aisyah singgah dalam
kenanganku. Segera ku beristighfar
berulang-ulang. Tetapi, kerinduanku semakin membuncah demi bertemu Fadli. Hari
ini memang ada jadwal privat, tapi ba’da Maghrib dan biasanya aku pulang dulu
untuk mandi, tapi kenapa pikiranku hanya terisi rumah Fadli. Sudahlah, aku
pergi ke Mushola mandi cepat dan mengganti baju kuliah tadi siang. Buru-buru
aku ke rumah Fadli, toh Aisyah pasti belum pulang dari kerjanya yang kutahu dia
pulang sekitar pukul 21.30 dari menjaga wartel,
interned dan counter
Mahabbah. Letak rumahnya yang tidak begitu jauh dari Pasar, hanya satu setengah
kilometer di sebelah Timur Pasar. Entah semacam ada magnet yang menarik tubuhku
untuk segera ke rumah Fadli. Tak kuasa kuikuti ritme perasaanku, Aku bergegas
karena hatiku seolah tak nyaman.
Gerbang
telah terbuka seperti biasa, sebuah sepeda motor terparkir di depan pojok
rumah. Rupanya ada tamu. Bukankah selama ini, aku belum pernah bertemu dengan
salah satu keluarga Fadli dan Aisyah? Aku memasuki teras. Tampak sepi karena
rumahnya memang mewah dan selalu nampak tertutup. Kuketuk pintu dan mengucapkan
salam. Sekali, dua kali..., tak ada sahutan. Tidak seperti biasanya, sebetulnya
tidak boleh melihat ke dalam melalui kaca, tetapi hatiku begitu gelisah.
Perasaanku tak enakku mengalahkan segalanya, Aku melihat melalui kaca sambil
bibirku mendesah Istighfar karena kelancanganku.
Aku
melebarkan pandangan mataku, memperjelas. Ada sesosok tubuh tergeletak di ruang
tamu, tempat aku dan Fadli belajar. Tubuhnya menggeliat berat. Astaghfirullah, itu Fadli, wajahnya
berdarah, dia tak kuasa untuk bangun. Aku segera menarik gagang pintu,
terkunci. Kuambil ancang-ancang dan, ”Brakkk!!” pintu terbuka paksa. Aku
berlari mendekati Fadli. Ada kekagetan dari raut wajahnya, sebelum aku berkata
dia telah berteriak, ’Tolong Kakak!!, di atas,’ sambil meringis. Aku masih
sedikit bingung.
”Cepat
Kak! Tolong Kak Aisyah!” Fadli menunjuk tangga ke atas. Aku tak tahu apa yang
terjadi, tapi aku berlari sekencang-kencangnya menaiki tangga. Terdengar suara
dari salah satu kamar, suara Aisyah! Dia menjerit. Pintu di sebelah kanan, aku
berlari mendekati kamar itu, pintu terkunci. Kutendang dengan sekuat tenaga, ”Allahuakbar!” pintu terkuak, seorang
lelaki di belakang pintu terjungkal, dan kepalanya terbentur lantai.
Aku
masuk. ”Aisyah!” seorang lelaki kekar tanpa baju kaget, dan beranjak
meninggalkan Aisyah yang ketakutan. Jilbabnya telah raib tergeletak di lantai,
baju atasnya terkoyak. Aisyah masih menjerit-jerit, matanya yang teduh kini
begitu ketakutan. Dia menangis. Darahku mendidih laksana gunung yang meledakkan
lahar kemarahan, mataku tajam menatap lelaki kekar yang kini membenahi dirinya,
matanya melotot tajam kearahku. Seorang lagi yang masih terjengkang mengaduh
kesakitan. Perbuatan memerkosa adalah kejahatan yang paling aku benci dalam
hidupku, jika bisa kubunuh orang yang mengoyak-ngoyak arti sebuah kesucian.
Jika aku teringat kembali surat-surat yang semestinya tak boleh kubaca, seluruh
ototku menegang. Ingin kuhancurkan semua yang membuatnya menangis, hingga
mengalami kesedihan lagi.
”Kurang ajar! Manusia biadab!” kuambil ikat
pingganggu dan kulilitkan di telapak tangan kananku. Lelaki kekar itu panik dan
langsung menyerangku. Orang yang bertindak gegabah biasanya tanpa perhitungan,
itulah yang aku pelajari dari Winston Churchill, seorang Jendral perang Inggris saat perang dunia ke-II yang
banyak memenangkan peperangan. Sebelum kepalannya menggapai kepalaku,
tendanganku telah melayang mengenai perutnya, kususulkan dengan pukulan tepat
di keningnya, berbenturan dengan kepala besi ikat pinggang. Lelaki itu
terjerembab membentur dinding. Saat lelaki kekar akan bangkit dari jatuhnya,
aku menimpanya dengan sepatu di punggungnya kuat. Satu, dua, tiga hingga dia
menjerit kesakitan.
Lelaki
yang lebih tua yang terbentur pintu bangun, dan entah dari mana benda berkilat
telah ada di tangan kanannya. Matanya liar bak srigala atau anjing. Membuatku
semakin muak melihatnya, aku benar-benar marah, marah karena Allah. Kulihat
Aisyah masih berteriak-teriak, lelaki tua itu mengayunkan pisaunya cepat
kearahku. Gerakannya cepat, hingga merobek sedikit luka goresan di pipiku,
darah menetes pelan. Kulihat senyumnya menikmati kepuasan. Saat dia kembali
menyerang kuangkat meja kecil di sampingku, dan kuhempaskan kuat mengenai
kepalanya. Meja terpisah remuk. Tubuhnya lelaki itu ambruk, kelesotan hingga
suaranya tercekat. Darah dimana-mana. Emosiku tak terkendali, kuambil bongkahan
kayu serpihan meja yang remuk.
Aku
mendekati lelaki kekar yang menghiba ampun, seolah pengemis di pinggir jalan
untuk meminta sekedar sesuap nasi, mempertahankan hidupnya. Setelah tidak
berdaya seolah nafsunya menghilang, tobatnya terpaksa. Dasar manusia biadab.
Aku menatap Aisyah yang menangis, aku mendekatinya dia menjerit dan mundur
hingga menempel pojok kamar. Hatiku ikut menangis, betapa dia ingin
mempertahankan kesuciannya. Aku mengambil selimut dan menutupinya, walau dia
berontak. Hatiku terbakar kebencian yang mendalam, aku akan mengutuk perbuatan
hina ini, hingga pelakunya hanya pantas dibakar api neraka yang berkobar-kobar.
Aku
mengambil besi, serpihan dari meja yang remuk. Kemarahanku telah memuncak. Aku
mendekati lelaki kekar tanpa baju. Dia menangis meminta ampun. Kuminta tangan
kanannya menghulur di atas lantai. Dia tidak mau dan terus meminta ampun, aku
mengancamnya jika tidak mau akan kupecahkan kepalanya dengan besi itu, akhirnya
tangannya terhulur pelan dan kupegang erat pergelangannya, ”Buk!’ sekuat tenaga
kutumpahkan amarahku. Besi itu beradu dengan punggung tangannya. Jeritan
menyayat dari mulutnya memecahkan kesunyian. Kemarahanku belum mereda, aku
benar-benar tak tega jika melihat kesucian yang begitu Allah mulyakan, akan
direbut. Kupukulkan besi itu lagi dan lagi. Tiga kali kurasa cukup. Tangan itu
penuh darah, kurasa tangan itu akan cacat, dan biarlah untuk pelajaran baginya
dan semoga dia mau bertobat.
Aku
mengikat erat kedua lelaki itu, kubawa ke bawah. Banyak tetangga berdatangan
karena teriakan, dan teriakan Fadli yang meminta tolong. Aku tak bisa
menyadarkan Aisyah dari kekalutannya, kuminta Fadli untuk menemaninya. Sebuah
nomor kuhubungi, Wanda. Aku memintanya untuk datang ke rumah Aisyah, bukankah
mereka sering menghadiri kajian bersama. Sambungan terhubung. Wanda akan segera
meluncur beberapa menit lagi, dia sedang di Asrama. Inikah perasaan yang
menghimpitku, membuatku gelisah? Hanya Allah yang menentukan segalanya. Allah
telah mengatur segalanya.
Polisi
datang. Aku menjelaskan peristiwanya dengan terperinci, mereka memintaku dan
Fadli menjadi saksi. Wanda datang, tepat saat aku menceritakan kejadiannya pada
polisi. Kuminta dia menenangkan Aisyah dan menjelaskan kepada pihak pesantren,
dia menganggukkan kepalanya, ”Insyaallah,”
itulah kata yang sempat kutangkap saat aku pamitan ke kantor Polisi.
Malam
itu aku baru bisa pulang tengah malam, diantar polisi hingga ke Pesantren.
Santri-santri menyambutku dengan was-was. Malam itu aku menjelaskan
kejadiannya, mereka mengucap syukur kepada Allah dan mendoakan kebaikan padaku.
Pukul satu aku mengambil air wudhu, shalat dua rekaat dan berusaha tidur.
Banyak hal yang terjadi, aku terus memikirkan keadaan Aisyah. Allah..., berilah
kebahagiaan padaNya. Perlahan mataku menutup, dan aku tertidur dalam penjagaan
Malaikat.
Ba’da subuh. Wanda meneleponku. Dia menginap di
rumah Aisyah bersama beberapa teman, yang langsung malam itu dihubunginya.
Keadaan Aisyah masih sering menangis, namun keadaannya sudah mulai membaik. Aku
memintanya untuk menyempatkan diri menjaga Aisyah, hingga benar-benar bisa melewati
masa-masa menyakitkan baginya. Wanda menyanggupinya, dan akan banyak menemani
Aisyah hingga pulih. Aku sedikit tenang. Kajian dimulai kembali, memulai
lembaran lagi.
Setelah
kajian. Hp-ku kembali berdering, dari kepolisian yang mengabarkan informasi
yang membuatku terperanjat. Setelah diselidiki ternyata, sore itu atas
keterangan Fadli. Ayah tirinya pulang bersama temannya ke rumah, dalam keadaan
marah-marah. Dari informasi penjahat itu, Nardi lelaki yang lebih tua yang
ternyata ayah tiri Aisyah dan dia telah menjual anak perempuannya karena
hutangnya tak bisa terbayar. Sore itu, Nardi menelepon Aisyah untuk segera
pulang karena Fadli akan dijual, maka Aisyah segera pulang dari tempat kerja.
Setelah sampai di rumah, kejadian itu terjadi. Begitu informasi dari polisi
yang meneleponku. Mereka akan menindak tegas dua penjahat itu, hingga mereka
akan kapok dari perbuatan bejat mereka. Hatiku hanya berkata alangkah baiknya
jika mereka dihukum seberat-beratnya, siapapun mereka. Karena kuyakin sudah
banyak korban yang kehilangan harga diri dan merasa hina karena perbuatan
mereka.
Alangkah
nelangsa nasib kalian. Aisyah, gadis tegar yang mulai mencicipi manisnya
iman, setelah musibah-musibah dalam hidupnya, kini harus menghadapi beban hidup
kembali. Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan, Allah pasti tidak akan menyusahkannya lagi, hingga
tiada akan ada lagi kesusahan setelahnya. Amiin. Doaku akan selalu bersenandung
untukmu sahabatku. Untuk sementara akan kujaga adikmu, Fadli dengan seluruh
kemampuan yang kumiliki. Derita seorang muslim adalah bagian dari derita muslim
lainnya, selama mereka merasa Allah sebagai Tuhannya.
Not Comments Yet "Part 25, Kejadian di Rumah Fadli"
Posting Komentar