Hari-hari menuai cahaya.
Ah! Semuanya bagai mimpi, aku seorang pemimpi, pemimpi menjadi yang terbaik,
sebatang kara, tiba-tiba terdampar di sebuah desa terpencil ini. Bahkan, aku
seolah bukan berada di bumi, mungkin terlalu kudramatisir karena banyak misteri
di desa ini, ini baru beberapa hari, belum genap seminggu.
Pasti akan lebih banyak
misteri di dalamnya yang belum kutahu.
Hari ini, aku diajak Kang Mukhlis
ke rumah Pak Lurah. Katanya beliau ingin bertemu denganku, karena aku adalah
guru baru, maka harus disambut juga. Seperti pejabat tinggi saja. Dan
penyambutan sederhana itu diadakan di rumah lurah desa. Rumahnya lurus ke arah SD
N Cahaya, terus ke arah timur. Rumahnya sebelum pasar Templek, dan dekat dengan
kantor keamanan desa yang menjaga hutan lindung kampung.
Aku dan Kang Mukhlis naik
sepeda, Syahid menunggu di rumah. Kami sampai di rumah Pak Lurah, beberapa
orang di sana sedang duduk-duduk.
”Bukan Pak Lurah namanya
kalau tak menunggu kita datang.”
Aku belum mengerti dengan
maksud Kang Mukhlis, ternyata, di depan pintu seorang lelaki berumuran empat puluh tahun, kurus, tinggi,
berkumis tebal, menunggu kami. Mungkin pelayan lurah, atau semacamnya.
”Kamu rupanya guru baru
itu, ganteng juga,” ceracau si kumis tebal lagi kurus itu. Menyalamiku,
memerhatikanku saksama, persis dari ujung kaki, sampai wajahku. Aku hanya
tersenyum.
”Kau tak salah, memilih
tinggal dengan jawara desa Cahaya,” dia terus menceracau, aku menoleh di
belakangnya, semoga Pak Lurah segera keluar dan menyambut kami.
”Kau akan aman, dan semoga
kau betah di desa ini,” orang ini keterlaluan, tidak disuruhnya kami masuk.
Membiarkan kami berdiri di depan pintu, ceracaunya bagai burung ciblek
kelaparan. Aku bosan mendengarkannya.
”Pak Lurah terlalu
berlebihan, Kang, inilah guru baru itu,” Kang Mukhlis menyalami si kumis tebal
itu. Aku kaget, lurah? Jadi, Si Kurus dan berkumis ini Pak Lurah?
Kami dipersilakan duduk,
di sana ada pejabat dinas perlindungan hutan, polisi setempat, dan
pamong-pamong desa. Aku berkenalan dengan salah seorang bayan, katanya pak
Lurah itu adalah kakak seperguruan Kang Mukhlis, tapi karena tidak kuat ditempa
bela diri, akhirnya mundur dan kembali ke desa. Sedangkan Kang Mukhlis terus
belajar hingga tuntas.
Kartasuwirya, nama Lurah
desa Cahaya. Matanya berkilat hitam, hitam di sekelilingnya bagai celak
menyalak. Seram, tapi sangat sopan ternyata. Garis-garis di wajahnya yang mulai
menua bagai serabut tipis di kelapa gading tak terlalu terlihat, tertutup
kulitnya yang coklat gelap. Pastilah dia pekerja keras, sering terpanggang terik
mentari.
Pak Lurah memberikan
sambutan singkat. Dia menunjukkanku pada semua orang di ruangan itu, sambutan
yang meriah untuk seorang guru. Isinya penuh semangat, tapi, dari mana Pak Lurah
tahu banyak tentangku. Aku baru seminggu di desa. Ah, pastilah relasinya
banyak, namanya juga lurah desa.
Acara diteruskan dengan makan-makan.
Aku seperti orang istimewa di desa ini. Semua pejabat desa menjabat tanganku,
memberikan salam selamat datang walau tak terucap, terlihat dari senyum-senyum
mereka.
Saat seorang lelaki
terakhir mendekatiku, aku sedikit tegang menatap matanya yang menyala, bagai
api yang siap menyambar. Dia orang terakhir, memakai blangkon jawa di
kepalanya, mendengus tepat di depanku.
”Kau jangan besar hati
anak muda. Semua orang baru di desa ini selalu disambut sama oleh Pak Karta.
Dan jangan pernah bertingkah kau, atau kau akan menyesal seumur-umur.”
Aku terdiam menatapnya,
dia menjauh dan duduk di tempatnya semula. Sesekali di tempat duduknya, matanya
masih sering memerhatikanku. Tapi kawan, sungguh aku tidak takut. Aku telah
melampaui semua ketakutan dalam hidup ini, dan hidup adalah ketakutan-ketakutan
yang harus dihadapi.
Makanan dihidangkan oleh
beberapa orang yang menyodorkan makanan berupa kuah dan campurannya dalam
piring-piring, makanan berputar. Soto, sudah lama aku tak memakannya. Bahkan,
kurasa seumur hidup belum pernah aku memakan soto.
Pak Karta mendahului dan
menyilakan kami semua makan. Tak banyak kata, semuanya makan dengan lahap.
Acara selesai, ngobrol-ngobrol, beberapa pamong desa pamitan pulang, polisi
setempat dan dinas keamanan hutan lindung juga pamitan. Tinggal aku dan Kang Mukhlis
saja. Kang Mukhlis belum pamitan, pertanda dia masih ingin sedikit berlama
bertamu.
”Aku sedikit menemukan
titik terang, Dik,” Pak Karta seolah berbisik kepada Kang Mukhlis, tapi
telingaku masih cukup kuat merekamnya.
”Sudahlah Kang, biarlah
semuanya berlalu bagai waktu yang berjalan, seperti matahari yang tenggelam.”
”Kau ini kenapa Mukhlis!
Kau tidak seperti dulu, kau sudah lupakah pada ba’iat perguruan? Aku yang tidak
sampai tuntas menimba ilmu, masih kuat terngiang di hatiku.”
”Sudahlah Kang, itu dulu.”
Aku semakin bingung.
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Di acara penyambutanku, mereka tak merasa
bahwa aku ada di antara mereka? Kulihat ketegangan di antara mereka. Saling
menatap, wajah Pak Karta seolah memohon, tapi wajah Kang Mukhlis tetap tegar
pada pendiriannya seolah berkata, “Inilah jalan yang terbaik.”
Seorang wanita keluar dari
dalam, dia memerhatikan kami bertiga terutama Pak Karta dan Kang Mukhlis yang
masih berhadapan. Dia ikut terbengong, tangannya yang semula hendak mengambil
piring-piring kotor terhenti. Terdiam, ruangan sepi, hingga desing angin pun
akan terdengar.
Pak Lurah gelagapan, dia
baru sadar kalau ada orang lain di ruangan itu. Dia menatap wanita itu, ”Tidak
ada apa-apa, Nduk. Bereskanlah.”
Si Wanita berambut panjang
itu cantik, lesung pipinya terlihat saat senyumnya merekah. Tangannya sigap,
memunguti piring kotor dan menumpuknya. Rok panjangnya menjuntai penuh renda
bunga, bajunya panjang hingga ke nadinya, senyumnya anggun, dan lakunya lembut.
Dia diam saja, dan kami semua terdiam. Kini, wanita itulah yang bergerak dari
satu piring ke piring yang lain.
”Baiklah Kang, kami pamit
dulu.”
Pak Karta mengangguk, kami
menyalaminya dan menuju sepeda kami. Sepeda terkayuh, aku sempat melihat wanita
itu, dia juga melihatku, dia masih memunguti piring-piring kotor. Ada setitik
getar, kala mata wanita itu menyorot teduh.
Dalam perjalanan pulang, kutanya
banyak hal pada Kang Mukhlis. Wanita cantik itu adalah puteri ketiga Pak Karta.
Anak pertama meninggal waktu lahir, yang kedua meninggal dunia saat ke hutan
lindung, dimakan binatang buas. Sekalian, Kang Mukhlis memperingatkanku jangan
pernah masuk atau ingin bermaksud masuk hutan lindung, di antara arah utara dan
timur desa. Banyak binatang buasnya.
”Namanya Indah Isnaintri,
dia adalah bunga desa Cahaya.”
Indah? Seindah wajah dan
senyumnya yang begitu menentramkan. Bagai jutaan burung terbang, dan membawa
raga hingga ke nirwana, bertemu dengan jutaan bintang penuh cahaya. Ah! Lamunan
yang berlebihan.
”Kulihat kau tertarik
padanya anak muda?”
”A..aku, tidak, tidak.”
”Terbaca! Anak muda jika
diminta jujur, pasti tidak jujur. Dasar bujang-bujang zaman sekarang!”
Aku ingin menyangkal, tapi
kulihat tawa kecil dari Kang Mukhlis, aku teramat senang. Belum pernah aku
mendengarnya, atau karena sebenarnya Kang Mukhlis hanya mengalihkan perhatian
saja terhadap kejadian di depan mataku tadi?
”Kang.”
”Ada apa, Rif?”
”Siapa lelaki yang memakai
blangkon di kepalanya?”
Kang Mukhlis tiba-tiba
mengerem kuat! Sepeda terhenti tiba-tiba. Wajah Kang Mukhlis berbalik kaget
menatapku, kami bertatapan, desing angin malam dingin serasa menusuk-nusuk
seluruh tubuhku.
Aku kira lelaki berkupluk blangkon
itu adalah salah satu pamong desa, tapi melihat reaksi tiba-tiba dari Kang
Mukhlis dugaanku menguap tiba-tiba.
”Apa yang dia lakukan padamu, Rif?”
”Dia mengancamku.”
Kang Mukhlis diam, dia
berbalik dan mengayuh sepedanya kembali. Aku bingung, tapi tak bisa berkata
banyak. Aku terus menunggu, kalau-kalau ada kata yang terucap dari mulut Kang
Mukhlis. Atau kupasang telingaku dengan kuat, sekuat pendengaran maksimal,
siapa tahu tiba-tiba Kang Mukhlis berujar.
Benar saja.
”Kuperingatkan padamu
Arif, jangan berbuat aneh-aneh, turuti dia. Dia adalah dukun, dia juru kunci
hutan lindung!”
Setelah itu, hanya desing
angin yang terdengar. Bulan begitu indah bercahaya, ditemani ribuan bintang dan
kelebat kelelawar serta suara lolongan serigala yang selalu terjaga di malam
gelap. Seluruh misteri desa Cahaya semakin menantang bagiku.
Not Comments Yet "Bagian 18, Bunga Desa"
Posting Komentar