Hujan turun begitu
lebat, aku berlari meninggalkan tumpukan jerami yang siap di gebuk-kan. Kujatuhkan begitu saja di
atas terpal. Padang pepadian yang siap panen, menjentikkan deburan air yang
tercurah dari langit Allah. Aku berteduh di gubuk. Membuka caping, dan duduk nangkring
di anyaman bambu yang biasanya digunakan Bapakku dulu ketika kelelahan untuk
tidur sejenak.
Mendung semakin gelap
dan menggumpal-gumpal. Tidak seperti biasanya. Deburan angin menyebabkan
buliran air hujan menampar wajahku keras, walaupun aku sudah mundur beberapa
langkah ke belakang, hingga merapat di gedek
belakang. Aku kedinginan. Awan semakin pekat menggulung, pohon-pohon di sekitar
sawah seolah bagaikan nyiur yang
terpelanting kesana dan kemari.
Mataku menangkap satu
titik. Sosok berjilbab yang berdiri berjalan riang melebarkan dua tangannya
seperti sayap burung perkutut, dia menatap kearahku. Di antara hujan yang
deras. Aku manajamkan pandanganku. Hujan semakin mengguntur, awan tak karuan
menggulung-gulung, petir terlihat bagaikan akar yang mengerikan penuh dengan
api. Suasana kacau.
”Mawar!” tak
kuhiraukan hujan lebat. Aku berlari hendak menyelematkannya, karena angin
semakin membadai, padi beterbangan, pohon tumbang. Mataku berat menatap ke
depan, mencoba melihat tapi butiran air menggelapkan pandangan.
”Mawar!” mataku
membuka perlahan. Sangat perlahan.
Wajahku basah. Gerai
rambut mengelilingi wajahku. Zahra menelangkupkan tubuhnya menyelimutiku.
Bibirnya menyatu erat dengan bibirku. Isaknya yang lirih seperti rintihan.
Airmatanya menetes berjatuhan di pipiku, tangannya erat menyatu dengan
jeramiku. Allah... kenapa dengan isteriku?
Wajahku basah terkena
aliran tangisnya. Aku melihat wajahnya yang begitu dekat. Tak kuasa, air mataku
luluh. Aku mengusap airmatanya pelan dan dia tidak mau mengalihkan bibirnya
sama sekali dari bibirku, hingga aku merangkulnya erat, “Kenapa dinda melakukan
ini?” kubersihkan sisa airmatanya yang masih membanjir.
Zahra
terisak, “Aku tidak tahu sampai kapan Allah akan memberi umur kepadaku, dan
seorang isteri akan masuk surga jika suaminya ridha padanya. Tadi Kakak
sebenarnya tidak ridha pada masakan Zahra, dan Zahra takut jika Kakak akan
kepanasan karena pedas, maka dinda memilih terjaga untuk menawarkan panas itu
dengan bibir, yang mungkin bisa memadamkan panas yang Kakak rasakan.”
Aku
semakin terisak, “Maafkan Kakak, sebenarnya aku hanya bercanda tadi. Ingin
kukatakan ba’da shalat malam, tapi mataku begitu lelah hingga terlupa untuk
memberitahukan kebohonganku. Maafkan Kakak membuatmu harus terjaga.” aku
mengangkat tubuhku dan duduk di hadapannya.
”Sungguh
demi Allah, masakanmu sangat nikmat dan tidak kurang suatu apapun. Aku
berbohong padamu Dik, untuk mencandaimu. Maafkan aku membuatmu melakukan ini
semua. Sekarang tersenyumlah sahabatku,” kedua sudut bibirnya bergerak, walau
sedikit dipaksakan. Aku berazam pada diriku untuk tidak terlalu lagi dalam
mencandainya.
Senyumnya seindah
pelangi yang melengkung di atas telaga Kautsar, ”Kakak tadi bicara
sungguh-sungguh?” matanya kembali jernih dan bening.
Aku
tak menjawabnya. Aku memeluknya dan berbisik, “Jujur sahabatku, aku bahagia
menjadi suamimu. Jujur, aku bahagia. Bila kupandangi Dinda, hilang sudah segala
kelelahan dan beban yang menghimpit hidupku,” sungguh benar semuanya yang
disabdakan Rasulullah saw, aku telah mendapatkan kesemuanya, lengkaplah
kebahagiaanku.
Aku
melelehkan airmata untuk kesekian kalinya, membersamai dunia yang walau fana
terasa nikmat. Jika aku menghadapi permasalahan dunia, maka akan kuingat
indahnya malam zafaf ini, maka
ringanlah rasanya ujian demi ujian dalam hidup ini.
Adzan
subuh mengema, menantang siapa saja yang merasa mempunyai iman di hatinya. Aku
melepaskan rengkuhan Zahra. Senyumnya tersungging dan menyodorkan wajahnya
sambil mengedipkan matanya.
”Setelah
kucium, kau tak akan memukulku seperti waktu kita kecil dulu kan?”
Senyumnya
terukir lembut, aku pun mengecup pipinya. Aku ber-azzam dalam hati akan selalu
menjaga keharmonisan, kemesraan hingga ajal menjemput. Menjemput surga bersama,
senyum bersama, merasai bersama, hingga bersin pun setiap goncangannya akan
terasakan bersama.
”Kak,
selesai shalat langsung pulang ya?” wajahnya merona. Kupenuhi panggilanMu ya
Allah. padaMu-lah tempat kembali segala sesuatu.
* *
*
Sore
hari keluargaku datang dari Desa. Saat Zahra mencium punggung tangannya, Ibuku
tersenyum haru. Adikku Yasmin dan Fajar juga datang ke Pesantren. Mereka baru
tahu kini, ternyata aku seorang Santri di Pesantren. Ibu semakin menangis
tersedu, katanya ’Pantas kalau bacaan Quranmu kemarin bagus,’ aku hanya
tersenyum.
”Oalah
Le..., kamu pintar banget milih
isteri,” tangannya mengusap rambut yang
terbungkus jilbab biru muda yang dikenakan Zahra.
”Bu...,”
Ibu menatapku, ”Tahukah Ibu, siapa isteriku ini?” Ibu bingung menatapku, dia
melihat seksama wajah isteriku yang tampak bersemu merah. Wajahnya yang bening
dan matanya yang jernih, malu-malu dilihat oleh Ibu.
”Memangnya
Ibu kenal dengan dia San?”
”Dia
adalah Zahra, dulu nama kecilnya adalah Mawar. Dia adalah adiknya mbak Fatimah,
yang dulu pernah membantu Ibu ketika Yasmin lahir. Ibu masih ingat?”
”Masyaallah, tentu Ibu ingat. Allah
benar-benar membuktikan kuasaNya dalam menentukan takdirNya, Le,” Yasmin semakin bingung, Fajar juga.
Akhirnya
siang itu aku dan Zahra menceritakan semuanya pada Ustadz Umair, Syaikh Wahid,
para Ustadz dan Para Santri Darussalam juga pak Salim beserta istri dan
anak-anaknya. Perihal perjalanku dan Zahra. Zahra adalah penulis, dia pandai
menceritakan kisah kami dengan syahdu, hingga para pendengar dibuatnya menangis
termasuk aku. ’Kisah ini adalah ibrah yang berharga, begitu tutur Ustadz
Wahid. Ustadz Wahid baru menyadari, kenapa dulu ketika waktunya belum tepat
ternyata Zahra menolak perjodohan, karena takdirNya belum tiba.
Kisahku
terus berlanjut. Hari itu, mbak Fatimah datang dari Sudan. Katanya bermimpi
bertemu dengan Ustadz Umair dan diminta pulang. Mimpi itu dua hari yang lalu,
maka mbak Fatimah langsung terbang ke Indonesia, suaminya tidak ikut serta karena
sedang menghadapi Desertasi ujiannya.
”Mbak
tahu siapa suamiku ini?” giliran Zahra yang bermanja ria.
”Tentu
saja tidak Dik, Mbak kan di Sudan terus. Apa dia Mahasiswa Sudan juga?”
Aku
sepertinya harus bicara, ”Mbak ingat di sebuah Desa di Lampung? Tempat mbak
KKN, di Mushola Miftahul Jannah, mengajar anak-anak TPA?”
”Kamu
salah satu murid TPA sewaktu Mbak magang dulu?” wajahnya yang sedikit kaget
tampak berpikir keras. Wajahnya yang walaupun kurasa sekitaran 35 tahun, tapi
wajahnya masih secerah saat memberiku hadiah karena hafal huruf hijaiyah
pertama kali.
”Iya
Mbak.”
”Tapi
Mbak lupa, kamu yang mana. Saat
itu ada puluhan anak bukan?”
”Aku
yang menghafal huruf hijaiyah pertama kali, dan mendapatkan hadiah dari Mbak,
aku yang Mbak tawari satu kotak coklat, aku yang berjualan kue bersama Ibuku
ini?” aku menunjukkan ibuku yang sedang duduk dengan Yasmin dan Fajar. Fajar
kakinya telah bisa mulai jalan, walaupun belum bisa berlari, masih harus
pelan-pelan.
”Kamu...,
Ihsan,” aku mengangguk. Mbak Fatimah lalu mencium tangan Ibuku, adikku Yasmin
juga berterima kasih, karena dulu telah membantu mengeluarkannya dari perut
Ibuku hingga sehat saat ini. Hari bahagia dan benar-benar bahagia.
* *
*
Ba’da shalat Isya’ di Masjid Pesantren, aku segera
ingin pulang rasanya. Menemui sahabatku yang mungkin telah menungguku dengan
cinta dan senyumnya. Hari ini masih sedikit lelah, karena tamu-tamu tadi siang
hingga sore masih terus berdatangan. Kini, saatnya aku berdua bersama isteriku.
”Sesungguhnya mereka (para isteri) senang
jika kalian berhias untuk mereka, sebagaimana kalian senang jika mereka
bersolek untuk kalian,
bersabarlah..., masuklah kalian pada malam atau waktu Isya’ agar wanita yang
rambutnya kusut bisa menyisirnya dan wanita yang ditinggal pergi sempat ber-istihdaad
(membersihkan diri)
Seminggu
ini Zahra meminta untuk tinggal di Pesantren, dia ingin bersama Abinya selama
seminggu. Aku mengiyakan. Aku mengetuk pintu kamar. Seperti biasa, suara
lembutnya mengatakan, ’Masuklah suamiku, pintunya tidak dikunci’
Aku
membuka perlahan dan mengunci pintunya. Zahra sedang menyisiri rambutnya yang
terurai panjang di depan cermin. Mematut-matut dirinya. Aku mendekatinya dan
memeluknya dari belakang, kucium rambutnya. Ada aroma wewangian yang menyetrum
anganku. Saat dia berbalik, dan saat bibirnya yang ranum mendekatiku, dering
Hp-ku berbunyi.
Nomor
baru, Zahra tersenyum dan mempersilakan dengan anggukannya, walau wajahnya
sedikit kecewa.
Suara
seorang lelaki.
”Iya
saya sendiri,” namaku disebutnya. Ada sesuatu ”Ada apa Pak?”
”Baik
Pak, saya segera kesana,” hubungan terputus.
Zahra
menatapku, ”Ada apa Kak?” wajahnya juga panik, mungkin melihat wajahku.
”Temanku
kuliah kecelakaan, lukanya parah,”
”Siapa
dia?”
”Aisyah.”
”Siti
Nur Aisyah?”
”Kau
kenal dia Dik?”
”Sangat
kenal,” akhirnya malam itu, kami meluncur menggunakan mobil mbak Fatimah,
kebetulan dia menginap di rumah Syaikh Wahid juga. Aku mengemudi mobil,
membelah aspal menghitam, jarak Rumah Sakit Umum tak begitu jauh dari terminal
Depok, tepatnya di pusat kota.
”Kami
sering berdiskusi dan menghadiri kajian bersama, termasuk ketika Kakak
menggantikan Dr. Ramadhan Al Buthy,” di mobil Zahra bercerita.
Kami
sampai. Aku dan Zahra langsung menuju Unit pelayanan, kecelakaannya terjadi
tadi pagi. Tabrak lari. Aku bertanya pada perawat yang memakai kerudung.
”Pasien
bernama Aisyah tadi pagi memang masuk UGD, tapi sekarang dia dipindah ke kamar
melati Nomor 2,” aku dan Aisyah menuju lorong-lorong di antara kamar-kamar,
kami berhenti di depan kamar berkodekan ”2 Melati” kulihat Fadli sedang duduk
di kursi panjang, di depan kamar itu, dia terpekur.
”Assalamu’alaikum
Fadli,” bocah itu langsung memelukku erat dan menangis.
Seseorang
datang dari arah lorong utara, lelaki yang amat kukenal, ’Pak Bejan’ dia
menatapku kuyu.
”Aku
terlambat anakku, ini kesalahanku,” aku dan Aisyah mendengarkan pak Bejan.
Fadli tertidur di kursi berbantalkan pahaku, ”Dia adalah keponakanku, dulu
keluarganya kaya. Kehidupan Aisyah begitu dimanja, hingga ayahnya meninggal
dunia. Ibunya yang sendirian ingin menikah lagi, walau Aisyah tidak setuju.
Setelah ibunya menikah lagi itulah, beban berat mulai merongrong kebahagiaan
Aisyah.
Ayah
tirinya hanya bisa menghabiskan uang ibunya, usahanya yang bangkrut membuatnya
hanya bisa marah-marah setiap pulang. Setelah itu, kerjaannya hanya
mabuk-mabukkan dan berjudi. Lama-kelamaan kekayaan dan perabotan rumah
dijualnya satu persatu, Aisyah harus bekerja untuk membiayai kuliahnya,
sedangkan ibunya menjadi tukang jahit untuk memenuhi keperluan sekolah Fadli.
Puncaknya
adalah ketika ayah tiri Aisyah, menemukan harta terakhir yang disimpan Ibu
Aisyah, dia adalah kakak iparku. Ibunya berusaha sekuat tenaga mempertahankan
harta terakhir itu, suaminya memaksa dan memukuli Ibu Zahra. Saat itu Ayah tiri
Aisyah sedang mabuk, maka tanpa ampun isterinya dipukuli hingga berbuntut pada
komanya adik iparku itu,” lelehan airmata membasah di wajah tua pak Bejan.
Biasanya kulihat dia menyupir bikun dengan ceria, malam ini sangat
berbeda.
”Kau
tahu cerita selanjutnya Ali?”
Aku
hanya menggeleng.
”Dialah
yang membiayai sendiri sekolah adiknya, biaya kuliahnya dan biaya perawatan
Ibunya di rumah sakit ini. Ibunya masih hidup hingga kini, tapi keadaannya
bagaikan orang yang tertidur hingga tahunan. Aku tak bisa membantunya, karena
anak-anakku tiga, semuanya harus sekolah dan pekerjaanku hanyalah supir bikun.
Aku tak kuasa membantu banyak, hingga hari itu, dia ingin aku mengatakan
sesuatu padamu bahwa dia mencintaimu. Tapi...,
Tapi...,
dia tak mengharapkan kau mencintainya, dia hanya ingin kau tahu lewat
perantaraanku. Tapi semuanya telah terlambat. Saat dia tahu kau menikah, dia
hendak pergi ke Pesantren, saat hatinya labil itulah sebuah mobil sedan yang
mengebut menabraknya. Alhamdulillah,
sore tadi penjahat yang tidak bertanggung jawab itu tertangkap, dan dia siap
membiayai biaya perawatan Aisyah. Hanyalah namamu yang disebutnya dalam
lirihnya. Dan ini..., kutemukan di dalam tasnya, sebuah surat yang akan dia
berikan padamu ketika hendak ke Pesantren,” aku menerima amplop warna polos
itu.
Zahra mengangguk,
menyilakanku untuk membacanya. Kubuka pelan.
Maret 2008
Untuk Ali, sahabatku..., kutulis kala
hatiku serasa diiris-iris
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kuberanikan diriku untuk menyusun kata
untukmu dan menyerahkannya untukmu. Berita tentang pernikahanmu, membuatku
semakin sadar. Bahwa, deritalah yang akan selalu hinggap dalam hidupku. Allah,
kini..., aku hanya punya Allah. Dalam segala kesepian dan nestapa.
Semoga kau bahagia sahabatku...,
Terimakasih kau telah menyelamatkan
kesucianku
Aku
menutup mataku, kenapa harus berterima kasih untuk sebuah kewajiban Ais?
Ketika semesta mengagungkan nama Allah,
ingin kuungkapkan perasaanku padamu, semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan
dosa-dosamu. Aku mencintaimu Ali, sangat mencintaimu. Jika tak di dunia ini,
kuharap kelak di akhirat. Jika sesuatu hal terjadi padaku, tolong jagalah
adikku untukku.
Siti Nur Aisyah
Ada
beberapa titik bekas air, yang membulat dan melebar di kertas itu. Aisyah
menangis saat menulis ini. Saat aku menutup surat itu, sebuah berita dari
seorang suster mengagetkan kami, Aisyah telah siuman.
Kami
diperbolehkan masuk, tubuh yang dulu begitu sempurna, kini telah menampakkan
perbannya di setiap bagian tubuhnya. Jilbabnya masih kokoh menutupi wajahnya,
saat sang suster hendak melepasnya, Aisyah menolaknya keras. Dia ingin memakai
mahkota itu.
”Ali...”
bibirnya bergerak. Zahra ikut menangis.
”Semoga
kalian bahagia sahabatku,” Aisyah menatap Zahra.
Bibirnya
bergerak kembali, ”Bolehkan aku meminta padamu sesuatu Zahra?”
”Katakanlah
saudariku,” Zahra menggenggam tangan kanan Aisyah.
”Sebelum
Allah memanggilku, kumohon. Perkenankanlah Ali menjadikanku isteri keduanya.
Izinkanlah, aku ingin menunggunya di sisiNya, aku ingin menghadapnya dalam
keadaan sudah menikah. Kumohon Zahra..., pahamilah aku... uhuk..uhuk,” matanya
tak henti melelehkan embun air.
Zahra
menggelengkan kepalanya pelan, airmatanya tumpah, ”Aku tak bisa Aisyah..., aku
tak bisa, jangan paksa aku,” aku hanya diam mendengarkan mereka.
”Kumohon,
tidakkah kau lihat kebaikan untukku. Mungkin, hanya sejenak saja. Mengertilah Zahra...”
”Jangan
paksa aku Ais,” mereka sama-sama menangis.
Percakapan
itu berulang terus. Kepalaku seolah berat, bagaikan ada bisikan-bisikan, atau
sama dengan jarum-jarum yang menusuk keras dan menghunjam. ’Jangan paksa aku’ ’Komohon’
’Mengertilah’ ’Tolong mengertilah aku’ ’Pahami aku’ kepalaku berat,
berkunang-kunang. Bumi tempatku berpijak bergetar dan semuanya gelap. sangat
gelap.
* *
*
Aku
membuka mataku berat. Bau obat-obatan menyeruak memenuhi adrenalinku. Aku
mencoba bangkit. Seprei putih, ruangan serba putih, mataku menangkap tas
terbuka di atas meja. Sebuah kertas terjatuh di bawahnya, aku memungutnya.
Sebuah
kertas pelunasan administrasi Rumah Sakit.
Aku
membacanya, tertulis pelunasan untuk biaya rumah sakit atas namaku, dan
tertulis nama di bawahnya, tertanda,
Wiati.
Kini aku
tahu, siapa yang membayar biaya rumah sakit, saat aku dulu pernah di rawat di
Rumah Sakit ini. Dia adalah Zahra, Zahra Mutaqwiati. Ternyata dialah Malaikat
yang kucari itu. Zahra masuk kamar dan kaget melihatku telah sadar.
”Suamiku...,
kau telah sadar,” matanya terlihat mengantuk. Dia duduk di pinggir ranjang. Dia baru saja keluar
untuk shalat malam, meminta kesembuhan untukku dan Allah mengabulkannya dengan
segera.
”Kak...,
aku mengizinkan Kakak menikah dengan Aisyah. Apapun yang terjadi nanti, biarlah
kita hadapi bersama. Denyut nadi Aisyah saat ini semakin melemah, dia ingin
menikah dengan Kakak, agar engkau menjadi kakak Fadli dan memeliharanya dalam
pengawasan kita. Dia memang mencintaimu Kak, tapi dia ingin adiknya bersama
orang yang dicintainya, yaitu Kak Ihsan.”
Aku
menatapnya, ”Sejak kapan kau berubah pikiran Dik?”
”Sejak
aku berpikir jernih, sewaktu shalat layl barusan.”
”Bagaimana
jika aku yang tidak mau menduakanmu, aku sangat mencintaimu isteriku..., aku
sangat mencintaimu sahabatku..., kau tahu ini?” aku menunjukkannya kertas
pembayaran yang baru kutemukan tadi.
Airmatanya
luluh, ”Maafkan Zahra Kak, menyembunyikannya dari Kakak. Aku melakukannya
karena Kakak dulu, kudengar pernah menyelamatkan Kak Salim sewaktu
mengantarkanku dan Wardah ke Asrama UI.”
Aku
memeluknya erat. Aku tak akan melepaskanmu sampai kapanpun sahabat, ”Aku
mencintaimu Mawar kecil, tak akan pernah kutinggalkan dan kubagi cintaku untuk orang
lain,” aku sesenggukan.
”Kak,
nikahilah Aisyah. Saat ini dia kritis. Semoga ini dapat menyelamatkannya, jika
tidak, Insyaallah dia akan lebih
tenang dalam keadaan sudah menikah dengan orang yang dicintainya. Dia amat
mencintaimu Kak, dia sangat membutuhkanmu. Demi cinta kita, kumohon lakukanlah
untukku,” dia menatap mataku tajam, ”Percayalah padaku, dia sangat
membutuhkanmu,” tangis kami pecah di ruang Rumah Sakit itu.
Kami
buru-buru menuju Kamar Melati 2, dini hari 03.30. Saat kami mendekati Aisyah, dia sangat lemah dan
terus meneteskan airmata. Aku tak tega.
”Nikahkan
kami Pak,” Pak Bejan menatapku, airmatanya ikut meleleh.
Ijab
qabul terucap, dua orang pegawai Rumah Sakit kuminta menjadi saksi. Sempat aku
bingung mas kawinnya, Zahra menyerahkan cincin bulan persahabatan itu. Dan
setelah Ijab Qabul, aku memasangkannya pada jemari kiri Aisyah, dia menangis.
Aku mencium ubun-ubunnya dan mendoakan untuk kebaikan kami. Kulirik Zahra
menangis sesenggukan, bersandar di pintu masuk. Aku tak kuasa melihat airmatanya,
airmata Sahabat lebih pedih kurasa dari pada sebilah pisau yang menusuk
jantungku.
”Suamiku,”
lirih Aisyah, ”Setelah tak ada kebahagiaan dalam dunia kecuali hari ini.
Kumohon setelah hari ini, jagalah Fadli untukku dan jika kau mampu jagalah
ibuku, ibu kita. Tolong aku suamiku, aku akan menunggumu disana. Di tempat yang
tiada lagi kesakitan dan penderitaan.”
”Kau
tidak boleh bicara seperti itu Ais. Allah akan memberi kesembuhan kepadamu,
kita akan selalu berusaha dan berdoa untukmu.”
”Mungkin
tak akan bisa, aku sudah tidak tahan suamiku. Aku tadi bermimpi bertemu
Almarhum bapak, dia bersama Ibu dan mengajakku pergi bersamanya, dan
meninggalkan Ibuku sendirian. Terimakasih untuk semua cinta dan kelembutanmu suamiku. Terimakasih atas
jalan yang kau tunjukkan pada Tuhan. Allah...” napasnya senggal, aku berteriak
memanggil Dokter. Zahra ikut panik.
Tiba-tiba
pak Bejan masuk, ”Mu’jizat! Adik
iparku sadar, dia sadar! Dia memanggil-manggil nama Aisyah!”
Kami
kaget. Aisyah masih menatapku, ”Tolong pertemukanku dengan Ibuku, aku ingin
melihat senyumnya yang terakhir kali..., selama ini aku hanya melihatnya
kaku... kumohon sekarang... juga..heek”
Aku
mengangkat dan membopong tubuh Aisyah, Zahra membantuku memegang infus. Kami
menyusuri lorong, para wajah yang melihat kami keheranan tak kami hiraukan.
Airmataku berhamburan, Aisyah menatapku, dalam senggalnya kulihat senyuman yang
teduh. ’Bertahanlah Aisyah’
”Di
kamar apa pak Bejan?”
”Ikuti
saja aku,” dia berjalan lebih cepat mendahului kami. Fadli berlari di belakangku.
Zahra
yang memegangi infus menangis menatapku, dia mengusap airmatanya sendiri dengan
tangan kirinya. Pak Bejan
berhenti, dia berada di depan kami. Dia membuka pintu kamar yang ada di
depannya. Aku yakin itulah kamarnya.
”Sebentar
lagi Aisyah, kumohon bertahanlah,” kepalaku yang pusing seolah tak terasa lagi.
Saat sampai di depan pintu itu. Tangan Aisyah bergerak ke atas, dia memegang
pipiku, tepat di luka goresan pisau saat aku menyelamatkan kesuciannya. Tangan
itu jatuh terkulai ke bawah seiring desahan hembusan. Dia tersenyum pada dunia.
”Mana
Aisyah! Aku ingin menciumnya,” Suara wanita kurus di depan kami lantang, Aku
dan Zahra tertunduk kelelahan. Malam semilir menyapa teduh kota Depok. Seteduh
hati insan yang pulang dengan jiwa ridha padaNya.
----
Selesai ----
Kumulai novel ini pada tangal 2 Mei 2007
Dan keselesaikan saat siang terik kota
Metro membara menjelang dhuhur tanggal 17 januari 2008
Berapa banyak airmata yang tercurah kala
novel ini kutulis
Untuk Ibuku yang airmatanya tak pernah lelah
untukku,
terus mengalir, menemani dzikir dan desahan
tasbihku
menjadi doa di setiap gerakku
(Untuk semua yang sedang memilih
Karena
cinta tak pernah salah memilih)
Referensi Buku Panduan
Al – Qur’an dan
Terjemahnya, Depag RI, CV
Penerbit J – ART, Bandung.
Logika CEO, C. Ray Johnson by National Press
Publications USA, tahun 1998.
Fi –
Zhilalil Qur’an I (di
bawah Naungan Al-Qur’an), Sayyid Quthb, Rabbani Press, jakarta cetakan ke-4,
2004.
Gue
Never Die, Salim A.
Fillah, PRO-U MEDIA cetakan ke-III, Yogyakarta, Februari 2006.
Hati
Sebening Mata Air, Amru
Khalid, AQWAM, Solo, cetakan ke – V Februari 2007 M / Muharram 1428 H.
Index – Index Ayat, Editor : Abu Fathan, Asaduddin Press.
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun, Setting : Abu Hudzaifah Abdurrahman, DARUL HAQ, Jakarta cetakan
ke-V, Rabi’uts Tsani 1425 H. Mei 2004.
Kumpulan Hadits Terpilih Shohih
Bukhari, penyusun : Ust. Maftuh Ahnan Asy, terbit
terang, Surabaya.
Kutunggu Kamu di Pelaminan, Jon Hariyadi, Pustaka La Raiba Bima Amanta (eLBA), cetakan ke-II,
Maret 2007.
Mahabbatuzzaujaat : Nikmatnya Cinta, Syeikh Muhammad Yunus Abdus Sattar, Pustaka
Anisah, Rembang, April 2006.
Manajemen Pemasaran Edisi Melenium, Philip
Khotler, PT Prenhallindo Indonesia
: Jakarta,
2002.
Mari Bersabar, Amru Khalid, Aqwam : cetakan ke I,
Solo, Muharram 1427 H. 2006
Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta, The Tarbawi Center,
Jakarta,
Januari 2004.
Minhajul Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, PT Darul
Falah, Jakarta Timur cetakan ke-7 Desember, 2004.
Nikmatnya Pacaran
Setelah Pernikahan,
Salim Akhukum Fillah, Pro-U Media, Yogyakarta
cetakan ke-VIII, 2005.
Renovasi Dakwah
Kampus, Arya
Sandhiyudha, CV. Kalimatun ‘Anil Fityah (KAF), Jakarta, November 2006.
Rihlatul Ulama Fi Thalabil Ilmi
: Perjalanan Ulama Dalam Menuntut Ilmu, Abu Anas
Majid Al-Bankani, Darul Fatah, Jakarta
cetakan ke-1, 2006
Semulia Akhlak Nabi SAW, Amru Khalid, AQWAM, Solo, cetakan ke-III Agustus 2006.
Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Robbani Press, Batuampar,
Jakarta, Cetakan Kesebelas Agustus 2006.
Terjemah Hadits Shohih Muslim, penerjemah Achmad Sunarto, Husaini, Bandung, 2002.
Tiada Cerita Sebagus Al –
Qur’an, Ummu Harits, Ziyad Books, Surakarta, Januari 2007.
Trilogi Hikmah Abadi, Kahlil Ghibran, Pustakan pelajar cetakan ke-IX, Yogyakarta,
November 2002.
Beberapa Novel yang menjadi
panduan ; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, Ronggeng
Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman
El Shirazy.
Not Comments Yet "Part 35, Airmata Sahabat"
Posting Komentar