Sabtu, 19 Oktober 2019

Part 35, Airmata Sahabat

Hujan turun begitu lebat, aku berlari meninggalkan tumpukan jerami yang siap di gebuk-kan. Kujatuhkan begitu saja di atas terpal. Padang pepadian yang siap panen, menjentikkan deburan air yang tercurah dari langit Allah. Aku berteduh di gubuk. Membuka caping, dan duduk nangkring di anyaman bambu yang biasanya digunakan Bapakku dulu ketika kelelahan untuk tidur sejenak.
Mendung semakin gelap dan menggumpal-gumpal. Tidak seperti biasanya. Deburan angin menyebabkan buliran air hujan menampar wajahku keras, walaupun aku sudah mundur beberapa langkah ke belakang, hingga merapat di gedek[1] belakang. Aku kedinginan. Awan semakin pekat menggulung, pohon-pohon di sekitar sawah seolah bagaikan nyiur yang terpelanting kesana dan kemari.
Mataku menangkap satu titik. Sosok berjilbab yang berdiri berjalan riang melebarkan dua tangannya seperti sayap burung perkutut, dia menatap kearahku. Di antara hujan yang deras. Aku manajamkan pandanganku. Hujan semakin mengguntur, awan tak karuan menggulung-gulung, petir terlihat bagaikan akar yang mengerikan penuh dengan api. Suasana kacau.
”Mawar!” tak kuhiraukan hujan lebat. Aku berlari hendak menyelematkannya, karena angin semakin membadai, padi beterbangan, pohon tumbang. Mataku berat menatap ke depan, mencoba melihat tapi butiran air menggelapkan pandangan.
”Mawar!” mataku membuka perlahan. Sangat perlahan.
Wajahku basah. Gerai rambut mengelilingi wajahku. Zahra menelangkupkan tubuhnya menyelimutiku. Bibirnya menyatu erat dengan bibirku. Isaknya yang lirih seperti rintihan. Airmatanya menetes berjatuhan di pipiku, tangannya erat menyatu dengan jeramiku. Allah... kenapa dengan isteriku?
Wajahku basah terkena aliran tangisnya. Aku melihat wajahnya yang begitu dekat. Tak kuasa, air mataku luluh. Aku mengusap airmatanya pelan dan dia tidak mau mengalihkan bibirnya sama sekali dari bibirku, hingga aku merangkulnya erat, “Kenapa dinda melakukan ini?” kubersihkan sisa airmatanya yang masih membanjir.
Zahra terisak, “Aku tidak tahu sampai kapan Allah akan memberi umur kepadaku, dan seorang isteri akan masuk surga jika suaminya ridha padanya. Tadi Kakak sebenarnya tidak ridha pada masakan Zahra, dan Zahra takut jika Kakak akan kepanasan karena pedas, maka dinda memilih terjaga untuk menawarkan panas itu dengan bibir, yang mungkin bisa memadamkan panas yang Kakak rasakan.”
Aku semakin terisak, “Maafkan Kakak, sebenarnya aku hanya bercanda tadi. Ingin kukatakan ba’da shalat malam, tapi mataku begitu lelah hingga terlupa untuk memberitahukan kebohonganku. Maafkan Kakak membuatmu harus terjaga.” aku mengangkat tubuhku dan duduk di hadapannya.
”Sungguh demi Allah, masakanmu sangat nikmat dan tidak kurang suatu apapun. Aku berbohong padamu Dik, untuk mencandaimu. Maafkan aku membuatmu melakukan ini semua. Sekarang tersenyumlah sahabatku,” kedua sudut bibirnya bergerak, walau sedikit dipaksakan. Aku berazam pada diriku untuk tidak terlalu lagi dalam mencandainya.
Senyumnya seindah pelangi yang melengkung di atas telaga Kautsar, ”Kakak tadi bicara sungguh-sungguh?” matanya kembali jernih dan bening.
Aku tak menjawabnya. Aku memeluknya dan berbisik, “Jujur sahabatku, aku bahagia menjadi suamimu. Jujur, aku bahagia. Bila kupandangi Dinda, hilang sudah segala kelelahan dan beban yang menghimpit hidupku,” sungguh benar semuanya yang disabdakan Rasulullah saw, aku telah mendapatkan kesemuanya, lengkaplah kebahagiaanku.
Aku melelehkan airmata untuk kesekian kalinya, membersamai dunia yang walau fana terasa nikmat. Jika aku menghadapi permasalahan dunia, maka akan kuingat indahnya malam zafaf ini, maka ringanlah rasanya ujian demi ujian dalam hidup ini.
Adzan subuh mengema, menantang siapa saja yang merasa mempunyai iman di hatinya. Aku melepaskan rengkuhan Zahra. Senyumnya tersungging dan menyodorkan wajahnya sambil mengedipkan matanya.
”Setelah kucium, kau tak akan memukulku seperti waktu kita kecil dulu kan?”
Senyumnya terukir lembut, aku pun mengecup pipinya. Aku ber-azzam dalam hati akan selalu menjaga keharmonisan, kemesraan hingga ajal menjemput. Menjemput surga bersama, senyum bersama, merasai bersama, hingga bersin pun setiap goncangannya akan terasakan bersama.
”Kak, selesai shalat langsung pulang ya?” wajahnya merona. Kupenuhi panggilanMu ya Allah. padaMu-lah tempat kembali segala sesuatu.
*     *     *
Sore hari keluargaku datang dari Desa. Saat Zahra mencium punggung tangannya, Ibuku tersenyum haru. Adikku Yasmin dan Fajar juga datang ke Pesantren. Mereka baru tahu kini, ternyata aku seorang Santri di Pesantren. Ibu semakin menangis tersedu, katanya ’Pantas kalau bacaan Quranmu kemarin bagus,’ aku hanya tersenyum.
”Oalah Le..., kamu pintar banget milih isteri,” tangannya  mengusap rambut yang terbungkus jilbab biru muda yang dikenakan Zahra.
”Bu...,” Ibu menatapku, ”Tahukah Ibu, siapa isteriku ini?” Ibu bingung menatapku, dia melihat seksama wajah isteriku yang tampak bersemu merah. Wajahnya yang bening dan matanya yang jernih, malu-malu dilihat oleh Ibu.
”Memangnya Ibu kenal dengan dia San?”
”Dia adalah Zahra, dulu nama kecilnya adalah Mawar. Dia adalah adiknya mbak Fatimah, yang dulu pernah membantu Ibu ketika Yasmin lahir. Ibu masih ingat?”
Masyaallah, tentu Ibu ingat. Allah benar-benar membuktikan kuasaNya dalam menentukan takdirNya, Le,” Yasmin semakin bingung, Fajar juga.
Akhirnya siang itu aku dan Zahra menceritakan semuanya pada Ustadz Umair, Syaikh Wahid, para Ustadz dan Para Santri Darussalam juga pak Salim beserta istri dan anak-anaknya. Perihal perjalanku dan Zahra. Zahra adalah penulis, dia pandai menceritakan kisah kami dengan syahdu, hingga para pendengar dibuatnya menangis termasuk aku. ’Kisah ini adalah ibrah yang berharga, begitu tutur Ustadz Wahid. Ustadz Wahid baru menyadari, kenapa dulu ketika waktunya belum tepat ternyata Zahra menolak perjodohan, karena takdirNya belum tiba.
Kisahku terus berlanjut. Hari itu, mbak Fatimah datang dari Sudan. Katanya bermimpi bertemu dengan Ustadz Umair dan diminta pulang. Mimpi itu dua hari yang lalu, maka mbak Fatimah langsung terbang ke Indonesia, suaminya tidak ikut serta karena sedang menghadapi Desertasi ujiannya.
”Mbak tahu siapa suamiku ini?” giliran Zahra yang bermanja ria.
”Tentu saja tidak Dik, Mbak kan di Sudan terus. Apa dia Mahasiswa Sudan juga?”
Aku sepertinya harus bicara, ”Mbak ingat di sebuah Desa di Lampung? Tempat mbak KKN, di Mushola Miftahul Jannah, mengajar anak-anak TPA?”
”Kamu salah satu murid TPA sewaktu Mbak magang dulu?” wajahnya yang sedikit kaget tampak berpikir keras. Wajahnya yang walaupun kurasa sekitaran 35 tahun, tapi wajahnya masih secerah saat memberiku hadiah karena hafal huruf hijaiyah pertama kali.
”Iya Mbak.”
”Tapi Mbak lupa, kamu yang mana. Saat itu ada puluhan anak bukan?”
”Aku yang menghafal huruf hijaiyah pertama kali, dan mendapatkan hadiah dari Mbak, aku yang Mbak tawari satu kotak coklat, aku yang berjualan kue bersama Ibuku ini?” aku menunjukkan ibuku yang sedang duduk dengan Yasmin dan Fajar. Fajar kakinya telah bisa mulai jalan, walaupun belum bisa berlari, masih harus pelan-pelan.
”Kamu..., Ihsan,” aku mengangguk. Mbak Fatimah lalu mencium tangan Ibuku, adikku Yasmin juga berterima kasih, karena dulu telah membantu mengeluarkannya dari perut Ibuku hingga sehat saat ini. Hari bahagia dan benar-benar bahagia.
*     *     *
Ba’da shalat Isya’ di Masjid Pesantren, aku segera ingin pulang rasanya. Menemui sahabatku yang mungkin telah menungguku dengan cinta dan senyumnya. Hari ini masih sedikit lelah, karena tamu-tamu tadi siang hingga sore masih terus berdatangan. Kini, saatnya aku berdua bersama isteriku.
”Sesungguhnya mereka (para isteri) senang jika kalian berhias untuk mereka, sebagaimana kalian senang jika mereka bersolek untuk kalian,[2] bersabarlah..., masuklah kalian pada malam atau waktu Isya’ agar wanita yang rambutnya kusut bisa menyisirnya dan wanita yang ditinggal pergi sempat ber-istihdaad (membersihkan diri)
Seminggu ini Zahra meminta untuk tinggal di Pesantren, dia ingin bersama Abinya selama seminggu. Aku mengiyakan. Aku mengetuk pintu kamar. Seperti biasa, suara lembutnya mengatakan, ’Masuklah suamiku, pintunya tidak dikunci’
Aku membuka perlahan dan mengunci pintunya. Zahra sedang menyisiri rambutnya yang terurai panjang di depan cermin. Mematut-matut dirinya. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang, kucium rambutnya. Ada aroma wewangian yang menyetrum anganku. Saat dia berbalik, dan saat bibirnya yang ranum mendekatiku, dering Hp-ku berbunyi.
Nomor baru, Zahra tersenyum dan mempersilakan dengan anggukannya, walau wajahnya sedikit kecewa.
Suara seorang lelaki.
”Iya saya sendiri,” namaku disebutnya. Ada sesuatu ”Ada apa Pak?”
”Baik Pak, saya segera kesana,” hubungan terputus.
Zahra menatapku, ”Ada apa Kak?” wajahnya juga panik, mungkin melihat wajahku.
”Temanku kuliah kecelakaan, lukanya parah,”
”Siapa dia?”
”Aisyah.”
”Siti Nur Aisyah?”
”Kau kenal dia Dik?”
”Sangat kenal,” akhirnya malam itu, kami meluncur menggunakan mobil mbak Fatimah, kebetulan dia menginap di rumah Syaikh Wahid juga. Aku mengemudi mobil, membelah aspal menghitam, jarak Rumah Sakit Umum tak begitu jauh dari terminal Depok, tepatnya di pusat kota.
”Kami sering berdiskusi dan menghadiri kajian bersama, termasuk ketika Kakak menggantikan Dr. Ramadhan Al Buthy,” di mobil Zahra bercerita.
Kami sampai. Aku dan Zahra langsung menuju Unit pelayanan, kecelakaannya terjadi tadi pagi. Tabrak lari. Aku bertanya pada perawat yang memakai kerudung.
”Pasien bernama Aisyah tadi pagi memang masuk UGD, tapi sekarang dia dipindah ke kamar melati Nomor 2,” aku dan Aisyah menuju lorong-lorong di antara kamar-kamar, kami berhenti di depan kamar berkodekan ”2 Melati” kulihat Fadli sedang duduk di kursi panjang, di depan kamar itu, dia terpekur.
”Assalamu’alaikum Fadli,” bocah itu langsung memelukku erat dan menangis.
Seseorang datang dari arah lorong utara, lelaki yang amat kukenal, ’Pak Bejan’ dia menatapku kuyu.
”Aku terlambat anakku, ini kesalahanku,” aku dan Aisyah mendengarkan pak Bejan. Fadli tertidur di kursi berbantalkan pahaku, ”Dia adalah keponakanku, dulu keluarganya kaya. Kehidupan Aisyah begitu dimanja, hingga ayahnya meninggal dunia. Ibunya yang sendirian ingin menikah lagi, walau Aisyah tidak setuju. Setelah ibunya menikah lagi itulah, beban berat mulai merongrong kebahagiaan Aisyah.
Ayah tirinya hanya bisa menghabiskan uang ibunya, usahanya yang bangkrut membuatnya hanya bisa marah-marah setiap pulang. Setelah itu, kerjaannya hanya mabuk-mabukkan dan berjudi. Lama-kelamaan kekayaan dan perabotan rumah dijualnya satu persatu, Aisyah harus bekerja untuk membiayai kuliahnya, sedangkan ibunya menjadi tukang jahit untuk memenuhi keperluan sekolah Fadli.
Puncaknya adalah ketika ayah tiri Aisyah, menemukan harta terakhir yang disimpan Ibu Aisyah, dia adalah kakak iparku. Ibunya berusaha sekuat tenaga mempertahankan harta terakhir itu, suaminya memaksa dan memukuli Ibu Zahra. Saat itu Ayah tiri Aisyah sedang mabuk, maka tanpa ampun isterinya dipukuli hingga berbuntut pada komanya adik iparku itu,” lelehan airmata membasah di wajah tua pak Bejan. Biasanya kulihat dia menyupir bikun dengan ceria, malam ini sangat berbeda.
”Kau tahu cerita selanjutnya Ali?”
Aku hanya menggeleng.
”Dialah yang membiayai sendiri sekolah adiknya, biaya kuliahnya dan biaya perawatan Ibunya di rumah sakit ini. Ibunya masih hidup hingga kini, tapi keadaannya bagaikan orang yang tertidur hingga tahunan. Aku tak bisa membantunya, karena anak-anakku tiga, semuanya harus sekolah dan pekerjaanku hanyalah supir bikun. Aku tak kuasa membantu banyak, hingga hari itu, dia ingin aku mengatakan sesuatu padamu bahwa dia mencintaimu. Tapi...,
Tapi..., dia tak mengharapkan kau mencintainya, dia hanya ingin kau tahu lewat perantaraanku. Tapi semuanya telah terlambat. Saat dia tahu kau menikah, dia hendak pergi ke Pesantren, saat hatinya labil itulah sebuah mobil sedan yang mengebut menabraknya. Alhamdulillah, sore tadi penjahat yang tidak bertanggung jawab itu tertangkap, dan dia siap membiayai biaya perawatan Aisyah. Hanyalah namamu yang disebutnya dalam lirihnya. Dan ini..., kutemukan di dalam tasnya, sebuah surat yang akan dia berikan padamu ketika hendak ke Pesantren,” aku menerima amplop warna polos itu.
Zahra mengangguk, menyilakanku untuk membacanya. Kubuka pelan.
Maret 2008
Untuk Ali, sahabatku..., kutulis kala hatiku serasa diiris-iris
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kuberanikan diriku untuk menyusun kata untukmu dan menyerahkannya untukmu. Berita tentang pernikahanmu, membuatku semakin sadar. Bahwa, deritalah yang akan selalu hinggap dalam hidupku. Allah, kini..., aku hanya punya Allah. Dalam segala kesepian dan nestapa.
Semoga kau bahagia sahabatku...,
Terimakasih kau telah menyelamatkan kesucianku
Aku menutup mataku, kenapa harus berterima kasih untuk sebuah kewajiban Ais?
Ketika semesta mengagungkan nama Allah, ingin kuungkapkan perasaanku padamu, semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa-dosamu. Aku mencintaimu Ali, sangat mencintaimu. Jika tak di dunia ini, kuharap kelak di akhirat. Jika sesuatu hal terjadi padaku, tolong jagalah adikku untukku.
Siti Nur Aisyah
Ada beberapa titik bekas air, yang membulat dan melebar di kertas itu. Aisyah menangis saat menulis ini. Saat aku menutup surat itu, sebuah berita dari seorang suster mengagetkan kami, Aisyah telah siuman.
Kami diperbolehkan masuk, tubuh yang dulu begitu sempurna, kini telah menampakkan perbannya di setiap bagian tubuhnya. Jilbabnya masih kokoh menutupi wajahnya, saat sang suster hendak melepasnya, Aisyah menolaknya keras. Dia ingin memakai mahkota itu.
”Ali...” bibirnya bergerak. Zahra ikut menangis.
”Semoga kalian bahagia sahabatku,” Aisyah menatap Zahra.
Bibirnya bergerak kembali, ”Bolehkan aku meminta padamu sesuatu Zahra?”
”Katakanlah saudariku,” Zahra menggenggam tangan kanan Aisyah.
”Sebelum Allah memanggilku, kumohon. Perkenankanlah Ali menjadikanku isteri keduanya. Izinkanlah, aku ingin menunggunya di sisiNya, aku ingin menghadapnya dalam keadaan sudah menikah. Kumohon Zahra..., pahamilah aku... uhuk..uhuk,” matanya tak henti melelehkan embun air.
Zahra menggelengkan kepalanya pelan, airmatanya tumpah, ”Aku tak bisa Aisyah..., aku tak bisa, jangan paksa aku,” aku hanya diam mendengarkan mereka.
”Kumohon, tidakkah kau lihat kebaikan untukku. Mungkin, hanya sejenak saja. Mengertilah Zahra...”
”Jangan paksa aku Ais,” mereka sama-sama menangis.
Percakapan itu berulang terus. Kepalaku seolah berat, bagaikan ada bisikan-bisikan, atau sama dengan jarum-jarum yang menusuk keras dan menghunjam. ’Jangan paksa aku’ ’Komohon’  ’Mengertilah’ ’Tolong mengertilah aku’ ’Pahami aku’ kepalaku berat, berkunang-kunang. Bumi tempatku berpijak bergetar dan semuanya gelap. sangat gelap.
*     *     *
Aku membuka mataku berat. Bau obat-obatan menyeruak memenuhi adrenalinku. Aku mencoba bangkit. Seprei putih, ruangan serba putih, mataku menangkap tas terbuka di atas meja. Sebuah kertas terjatuh di bawahnya, aku memungutnya.
Sebuah kertas pelunasan administrasi Rumah Sakit.
Aku membacanya, tertulis pelunasan untuk biaya rumah sakit atas namaku, dan tertulis nama di bawahnya, tertanda, Wiati.
Kini aku tahu, siapa yang membayar biaya rumah sakit, saat aku dulu pernah di rawat di Rumah Sakit ini. Dia adalah Zahra, Zahra Mutaqwiati. Ternyata dialah Malaikat yang kucari itu. Zahra masuk kamar dan kaget melihatku telah sadar.
”Suamiku..., kau telah sadar,” matanya terlihat mengantuk. Dia duduk di pinggir ranjang. Dia baru saja keluar untuk shalat malam, meminta kesembuhan untukku dan Allah mengabulkannya dengan segera.
”Kak..., aku mengizinkan Kakak menikah dengan Aisyah. Apapun yang terjadi nanti, biarlah kita hadapi bersama. Denyut nadi Aisyah saat ini semakin melemah, dia ingin menikah dengan Kakak, agar engkau menjadi kakak Fadli dan memeliharanya dalam pengawasan kita. Dia memang mencintaimu Kak, tapi dia ingin adiknya bersama orang yang dicintainya, yaitu Kak Ihsan.”
Aku menatapnya, ”Sejak kapan kau berubah pikiran Dik?”
”Sejak aku berpikir jernih, sewaktu shalat layl barusan.”
”Bagaimana jika aku yang tidak mau menduakanmu, aku sangat mencintaimu isteriku..., aku sangat mencintaimu sahabatku..., kau tahu ini?” aku menunjukkannya kertas pembayaran yang baru kutemukan tadi.
Airmatanya luluh, ”Maafkan Zahra Kak, menyembunyikannya dari Kakak. Aku melakukannya karena Kakak dulu, kudengar pernah menyelamatkan Kak Salim sewaktu mengantarkanku dan Wardah ke Asrama UI.”
Aku memeluknya erat. Aku tak akan melepaskanmu sampai kapanpun sahabat, ”Aku mencintaimu Mawar kecil, tak akan pernah kutinggalkan dan kubagi cintaku untuk orang lain,” aku sesenggukan.
”Kak, nikahilah Aisyah. Saat ini dia kritis. Semoga ini dapat menyelamatkannya, jika tidak, Insyaallah dia akan lebih tenang dalam keadaan sudah menikah dengan orang yang dicintainya. Dia amat mencintaimu Kak, dia sangat membutuhkanmu. Demi cinta kita, kumohon lakukanlah untukku,” dia menatap mataku tajam, ”Percayalah padaku, dia sangat membutuhkanmu,” tangis kami pecah di ruang Rumah Sakit itu.
Kami buru-buru menuju Kamar Melati 2, dini hari 03.30. Saat kami mendekati Aisyah, dia sangat lemah dan terus meneteskan airmata. Aku tak tega.
”Nikahkan kami Pak,” Pak Bejan menatapku, airmatanya ikut meleleh.
Ijab qabul terucap, dua orang pegawai Rumah Sakit kuminta menjadi saksi. Sempat aku bingung mas kawinnya, Zahra menyerahkan cincin bulan persahabatan itu. Dan setelah Ijab Qabul, aku memasangkannya pada jemari kiri Aisyah, dia menangis. Aku mencium ubun-ubunnya dan mendoakan untuk kebaikan kami. Kulirik Zahra menangis sesenggukan, bersandar di pintu masuk. Aku tak kuasa melihat airmatanya, airmata Sahabat lebih pedih kurasa dari pada sebilah pisau yang menusuk jantungku.
”Suamiku,” lirih Aisyah, ”Setelah tak ada kebahagiaan dalam dunia kecuali hari ini. Kumohon setelah hari ini, jagalah Fadli untukku dan jika kau mampu jagalah ibuku, ibu kita. Tolong aku suamiku, aku akan menunggumu disana. Di tempat yang tiada lagi kesakitan dan penderitaan.”
”Kau tidak boleh bicara seperti itu Ais. Allah akan memberi kesembuhan kepadamu, kita akan selalu berusaha dan berdoa untukmu.”
”Mungkin tak akan bisa, aku sudah tidak tahan suamiku. Aku tadi bermimpi bertemu Almarhum bapak, dia bersama Ibu dan mengajakku pergi bersamanya, dan meninggalkan Ibuku sendirian. Terimakasih untuk semua cinta dan kelembutanmu suamiku. Terimakasih atas jalan yang kau tunjukkan pada Tuhan. Allah...” napasnya senggal, aku berteriak memanggil Dokter. Zahra ikut panik.
Tiba-tiba pak Bejan masuk, ”Mu’jizat! Adik iparku sadar, dia sadar! Dia memanggil-manggil nama Aisyah!”
Kami kaget. Aisyah masih menatapku, ”Tolong pertemukanku dengan Ibuku, aku ingin melihat senyumnya yang terakhir kali..., selama ini aku hanya melihatnya kaku... kumohon sekarang... juga..heek”
Aku mengangkat dan membopong tubuh Aisyah, Zahra membantuku memegang infus. Kami menyusuri lorong, para wajah yang melihat kami keheranan tak kami hiraukan. Airmataku berhamburan, Aisyah menatapku, dalam senggalnya kulihat senyuman yang teduh. ’Bertahanlah Aisyah’
”Di kamar apa pak Bejan?”
”Ikuti saja aku,” dia berjalan lebih cepat mendahului kami. Fadli berlari di belakangku.
Zahra yang memegangi infus menangis menatapku, dia mengusap airmatanya sendiri dengan tangan kirinya. Pak Bejan berhenti, dia berada di depan kami. Dia membuka pintu kamar yang ada di depannya. Aku yakin itulah kamarnya.
”Sebentar lagi Aisyah, kumohon bertahanlah,” kepalaku yang pusing seolah tak terasa lagi. Saat sampai di depan pintu itu. Tangan Aisyah bergerak ke atas, dia memegang pipiku, tepat di luka goresan pisau saat aku menyelamatkan kesuciannya. Tangan itu jatuh terkulai ke bawah seiring desahan hembusan. Dia tersenyum pada dunia.
”Mana Aisyah! Aku ingin menciumnya,” Suara wanita kurus di depan kami lantang, Aku dan Zahra tertunduk kelelahan. Malam semilir menyapa teduh kota Depok. Seteduh hati insan yang pulang dengan jiwa ridha padaNya.

----  Selesai  ----

Kumulai novel ini pada tangal 2 Mei 2007
Dan keselesaikan saat siang terik kota Metro membara menjelang dhuhur tanggal 17 januari 2008
Berapa banyak airmata yang tercurah kala novel ini kutulis
Untuk Ibuku yang airmatanya tak pernah lelah untukku,
 terus mengalir, menemani dzikir dan desahan tasbihku
menjadi doa di setiap gerakku

(Untuk semua yang sedang memilih
Karena cinta tak pernah salah memilih)


Referensi Buku Panduan


Al – Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, CV Penerbit J – ART, Bandung.
Logika CEO, C. Ray Johnson by National Press Publications USA, tahun 1998.
Fi – Zhilalil Qur’an I (di bawah Naungan Al-Qur’an), Sayyid Quthb, Rabbani Press, jakarta cetakan ke-4, 2004.
Gue Never Die, Salim A. Fillah, PRO-U MEDIA cetakan ke-III, Yogyakarta, Februari 2006.
Hati Sebening Mata Air, Amru Khalid, AQWAM, Solo, cetakan ke – V Februari 2007 M / Muharram 1428 H.
Index – Index Ayat, Editor : Abu Fathan, Asaduddin Press.
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun, Setting : Abu Hudzaifah Abdurrahman, DARUL HAQ, Jakarta cetakan ke-V, Rabi’uts Tsani 1425 H. Mei 2004.
Kumpulan Hadits Terpilih Shohih Bukhari, penyusun : Ust. Maftuh Ahnan Asy, terbit terang, Surabaya.
Kutunggu Kamu di Pelaminan, Jon Hariyadi, Pustaka La Raiba Bima Amanta (eLBA), cetakan ke-II, Maret 2007.
Mahabbatuzzaujaat : Nikmatnya Cinta, Syeikh Muhammad Yunus Abdus Sattar, Pustaka Anisah, Rembang, April 2006.
Manajemen Pemasaran Edisi Melenium, Philip Khotler, PT Prenhallindo Indonesia : Jakarta, 2002.
Mari Bersabar, Amru Khalid, Aqwam : cetakan ke I,  Solo, Muharram 1427 H. 2006
Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta, The Tarbawi Center, Jakarta, Januari 2004.
Minhajul Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, PT Darul Falah, Jakarta Timur cetakan ke-7 Desember, 2004.
Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim Akhukum Fillah, Pro-U Media, Yogyakarta cetakan ke-VIII, 2005.
Renovasi Dakwah Kampus, Arya Sandhiyudha, CV. Kalimatun ‘Anil Fityah (KAF), Jakarta, November 2006.
Rihlatul Ulama Fi Thalabil Ilmi : Perjalanan Ulama Dalam Menuntut Ilmu, Abu Anas Majid Al-Bankani, Darul Fatah, Jakarta cetakan ke-1, 2006
Semulia Akhlak Nabi SAW, Amru Khalid, AQWAM, Solo, cetakan ke-III Agustus 2006.
Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Robbani Press, Batuampar, Jakarta, Cetakan Kesebelas Agustus 2006.
Terjemah Hadits Shohih Muslim, penerjemah Achmad Sunarto, Husaini, Bandung, 2002.
Tiada Cerita Sebagus Al – Qur’an, Ummu Harits, Ziyad Books, Surakarta, Januari 2007.
Trilogi Hikmah Abadi, Kahlil Ghibran, Pustakan pelajar cetakan ke-IX, Yogyakarta, November 2002.
Beberapa Novel yang menjadi panduan ; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El Shirazy.


[1] Anyaman bambu untuk tembok
[2] ‘Umar bin Khattab ra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar