Sabtu, 19 Oktober 2019

Part 34, Antara Persahabatan dan Cinta

”Bagaimana anakku? Bukankah kau juga pusing?”
Aku mencoba mengembalikan semuanya pada Allah. Apakah ini keputusanMu ya Allah? Kau berikan surat cinta dari Ibu dan Adik-adikku. Mereka telah dapat mandiri, adikku, Yasmin telah menjadi seorang Penulis, adikku Fajar menyanyikan lagu-lagu nasheed. Dan Ibuku dia memintaku untuk segera menikah, lalu Ustadz Umair memintaku untuk menikahi puterinya. Kemarin juga aku telah dikarunia nikmat berupa pekerjaan. Apakah ini petunjukMu ya Allah?
Pak Salim yang akan mengatakan pada adiknya, wanita yang memakai cincin bulan itu. Persahabatan itu? Aku harus merelakannya. Allah sudah memberi jalanNya, aku akan mengambil jalan cinta padaNya. Bukankah dengan cinta sejati kita akan menemukan sahabat sejati? Jika memilih, maka aku memilih cinta. Persahabatan dapat hilang, tapi cinta akan selalu menemani selamanya, dia akan terus hidup di hati.
”Bagaimana Ali, jika kau tak mau tidak masalah. Aku akan mencari orang lain,” nada Ustadz Umair nampak tenang.
”Bolehkah aku menghubungi keluargaku dulu di kampung Tadz?”
”Silakan. Menikah bukanlah sesuatu  yang bisa diputuskan tergesa-gesa. Karena umurnya tidaklah sehari, satu bulan atau setahun tapi selamanya bahkan hingga di akhirat kelak.”
Aku mengambil Hp bututku, kupilih nomor Yasmin yang pagi tadi kuterima dari suratnya. Aku menghubunginya. Nada sambung, ”Tuut...tuut,” seolah berpacu dengan getaran dan deguban jantungku. Ustadz Umair tenang menatapku.
Sebuah suara lembut menyapa salam. Yasmin. Di malam hening, aku menjawab salamnya.
Enten nopo malam-malam telepon Kak?”
Ampun tilem[1] Yasmin?”
”Tadi hendak Qiyamul layl jam tiga, tapi ini jam satu kakak udah bangunin. O ya, ada apa Kak?”
Aku lalu menceritakan semua keadaanku. Terjepit tapi mengasyikkan, aku sedikit bercanda dengan adikku. Ustadz Umair seolah penasaran dan menunggu-nungguku. Adikku kadang-kadang tertawa, dan lalu nadanya serius.
Insyaallah Yasmin sangat setuju apa yang menurut Kakak baik, Yasmin juga akan mengatakan baik. Tapi sebentar ya Kak, Yasmin akan berbicara sejenak dengan Ibu dan kak Fajar.”
”Ok adikku. Aku tunggu segera,” hubungan terputus.
Aku kembali menatap Ustadz, dia menatapku kembali.
”Saya akan segera memutuskannya Tadz, setelah Ibuku memberikan ridhanya padaku untuk melangkah.
Menunggu detak jarum detik yang terus berputar, seirama dengan denyut nadi, setara dengan deguban jantung, seimbang dengan larikan napas, semua bertasbih menunggu segala keputusan Allah ’Azza wa Jalla. Setelah lima menit Hp-ku menjerit. Sms.
Ibu sangat setuju, Ibu ingin segera menimang cucu. Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu. Terima saja, Ibu sangat setuju. Fajar Insyaallah merestui, kami mendukungmu.
Aku tersenyum, ”Tadz,” aku menatapnya. Kini aku mantap, ”Bismillaahirrahmaanirrahim, saya siap menikah dengan puteri bungsu Bapak.”
Ustadz Umair kembali tersenyum, ”Tapi ada syaratnya Ali.”
”Apa lagi Tadz?”
”Aku sangat tahu seleramu, maka syaratnya kau tidak boleh melihat isterimu dulu hingga zafaf[2], aku takut engkau berubah pikiran ketika melihat wajah puteri bungsuku.”
Kini aku yang terdiam. Aku mencoba meraba hatiku, kembali kuingat sms dari Ibu, ”Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu.” Allah. Mantapkanlah langkahku dalam meniti jalanMu, ”Saya siap Ustadz, semoga Allah meridhainya. Saya akan menerima syarat Ustadz, tapi saya juga mempunyai satu syarat,” kulihat perubahan air muka Ustadz Umair.
”Apa itu Ali?”
”Ustadz harus mulai mengupayakan cinta kepada istri Ustadz, alangkah menderitanya seorang isteri yang melayani suami dan anak-anaknya, tanpa mendapatkan cinta dari suaminya? Ustadz harus memenuhinya,” Ustadz Umair manggut-manggut, airmatanya menetes di pipinya. Dia mencium keningku, ”Aku tak salah pilih memilihkanmu untuk anakku, Ali.”
”Tapi aku hanya orang desa yang miskin harta Ustadz,” aku teringat kembali statusku. Aku tak mau ada kecewa di belakang.
Mata Ustadz Umair menatapku, ”Kau pikir Ali bin Abi Thalib lebih kaya darimu pada saat menikahi Fatimah? Kau pikir anakku hanya akan kau beri makan? Dia hanya membutuhkan keimanan dan ketaqwaan seorang suami yang akan membimbingnya.”
Aku menundukkan kepalaku, ”Maafkan saya Ustadz.”
Ustadz Umair memegang pundakku pelan, ”Jadi, kamu mau berubah pikiran?”
”Tidak Tadz, Insyaallah saya siap menikah. Bukankah Allah yang memberi rizki pada hamba-hambaNya. Bukan saya, tugasku hanyalah berusaha,” kulihat ada senyum secerah mentari dari sudut bibirnya.
Kami sedikit berbincang tentang calon isteriku. Dia adalah mahasiswa UI juga, tapi Ustadz Umair lupa konsentrasi yang diambilnya. Calon isteriku adalah penulis, beberapa karyanya telah terbit, diantaranya sebuah novel yang begitu disukai Ustadz Umair adalah novel berjudul, ”Kudus Gelombang Cinta,” yang menceritakan ketegaran seorang lelaki yang merawat anaknya seorang diri, setelah isterinya meninggal dunia. Gelombang-gelombang kedukaan dihadapi dengan cintanya yang besar pada anaknya. Dia tidak ingin menikah lagi, untuk mengabdikan dirinya pada anaknya. Ternyata buku itu juga pernah kubaca. Aku beruntung akan mendapatkan seorang isteri Penulis. Cerita itupun selalu mengingatkanku akan almarhum Bapak.
Ustadz Umair merasa bahwa cerita itu ditujukan padanya, yang kurang memerhatikan anak-anaknya, namun cintanya amat melekat dari kejauhan. Betapa hati ingin dekat tapi cinta yang menghalangi.
”Semua telah diatur Allah. Kini, puteriku telah menyelesaikan skripsinya. Dia sekarang berada di Pesantren ini, menginap di salah satu rumah Ustadz. Setelah Maghrib tadi dia kesini. Di rumah Ustadz Wahid. Aku akan menikahkanmu saat ini juga. Bersiaplah, aku akan memanggil para santri yang lain,” kini aku yang melongo, benar-benar Ustadz Umair ini. Dia berlalu.
”Tapi Tadz,” beliau menengok kembali, ”Aku tidak mempunyai uang banyak untuk maharnya?”
”Kau tidak usah khawatir Ali, ada seorang jama’ah yang telah menyediakan mas kawin untuk pernikahanmu. Kalung  emas seberat 100 gram.”
Aku kaget, ”Siapa dia Ustadz?”
”Pak Purwiro, dia merasa harus memberi hadiah kepadamu. Dia sebenarnya ingin menikahkan anaknya padamu, tapi Allah berkehendak lain sehingga dia ingin agar bisa membantumu, dalam menyediakan mas kawin untuk isterimu. Bersiap-siaplah!” Ustadz Umair berlalu. Aku terdiam tak dapat berkata apa-apa. Allah, alangkah dekatnya Engkau. Betapa cepat doa hambaMu Kau kabulkan. Mataku gerimis.
Aku menulis pesan singkat di Hp-ku untuk keluarga di rumah. Mereka pasti kaget bukan main, ”Aku menikah saat ini juga, segeralah ke Depok. Aku mencintai kalian.”
Beberapa santri datang dan tersenyum kearahku, Syahid masih mengucek-ucek matanya. Dia pasti belum tahu apa yang terjadi. Ketika kutanya dia hanya bilang dibangunkan untuk segera ke Masjid, segera. Sebuah sms masuk.
”Masyaallah, secepat itu Ibu akan mendapatkan bidadari?? Kami bersiap-siap sekarang berangkat, mungkin besok sore baru sampai. Semoga kau diridhai Allah anakku.” aku semakin mantap melangkah.
Ustadz Umair datang. Para santri sekitar dua puluh orang,  yang lain mungkin masih terlelap. Aqad mendayu mantap, ijab qabul terucap. Nama isteriku baru kuketahui lengkapnya, ”Zahra Mutaqwiati” Aku telah mendapatkan ketentraman jiwa. Ustadz Umair memelukku erat. Ustadz Wahid juga tersenyum menatapku. Lantunan doa, ”Barakallahulaka wabaraka ’alaiku wajama’abainakuma fikhoiri.” aku diantar Ustadz Umair menuju rumah Ustadz Wahid. Calon isteriku menginap disana. Pak Purwiro memelukku kuat, ”Aku mencintaimu anakku, semoga isterimu, ilmu, hartamu berkah bagimu,” aku mengamininya.
Di depan kamar pengantin. Ustadz Umair menepuk punggungku agak kuat, ”Masuklah, dan jangan mengecewakanku,” senyumnya mengiringi deraian airmata, dia mengusapnya. Dia meninggalkanku.
Aku bingung. Tanganku gemetaran mengetuk pintu pelan, kuucapkan salam. Sebuah suara lembut menjawab salam.
”Masuklah suamiku, pintunya tidak dikunci,” aku membuka pintu itu perlahan. Seorang wanita membelakangiku. Mukena putih bersih masih dipakainya. Aku menutup pintu perlahan. Kamar itu sederhana, hiasannya belumlah sempurna. Hanya ada beberapa bunga di taruh di meja kayu, dan rak buku yang luas. Banyak buku-buku baru dipajang disana.
Dadaku gemetaran, kuraba agar tak lepas jantungku. Sekamar dengan seorang wanita yang tak kukenal? Dia bidadariku? Tapi wajahnya belum kuketahui. Aku duduk dibelakangnya, ikut membelakanginya.
”Berbaliklah isteriku, biarkan aku melihat wajahmu,” jujur dadaku tak kuat lagi kutahan. Rasa penasaran dan ingin tahu berpacu dalam setiap aliran darahku. Seperti apa wajah isteriku? Apakah Ustadz Umair akan rela menjerumuskanku? Tapi aku yakin dengan Allah yang tak akan mendzalimi hambaNya.
”Bersabarlah suamiku. Terangkanlah kepadaku, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai dari seseorang agar aku dapat mentaatimu,” suaranya yang lembut telah menggetarkan seluruh jiwaku.
”Aku..., menyukai orang yang sedikit bicara. Dia hanya berbicara jika bermanfaat, aku ingin kau tidak terbahak-bahak jika tertawa, aku ingin kau mengerti keadaanku yang orang miskin harta ini, aku ingin kau menerima cinta Ibuku dan adik-adikku, dan satu hal lagi.”
”Apa itu Suamiku, kini sepenuhnya aku berada di kuasamu.”
”Isteriku harus menerima resiko menikah denganku, dia harus merelakanku dengan ikhlas jika aku pergi untuk urusan Allah, berdakwah untukNya,”
Insyaallah, adik akan mengusahakan itu semua.” keheningan menyelimuti kamar zafaf itu.
”Sekarang maukah kau membuka tabirmu isteriku?”
”Baiklah, tapi pejamkan dulu matamu suamiku,” aku yang duduk di pinggir ranjang empuk itu memejamkan mata. Sebuah gerakan lembut, tangan kananku disentuhnya dan kecupan lembut mendarat di punggung tangan kananku.
”Sekarang bukalah matamu suamiku,” mataku yang basah memaksa membuka. Aku tertegun, kekagetanku tergantikan rasa manis memandang wajahnya. Wajah pualam, bibirnya yang lembut, matanya jernih dan bening. Wajah bersih itu yang dulu pernah kukejar mengeliling UI, wajah yang dulu kulihat di ruang Fakultas Budaya Sastra. Wanita yang tadi sore kutemui di rumah pak Salim. Dialah adiknya. Kini, semua pertanyaan itu mulai terjawab satu-persatu. Siapa Ustadz Umair? Syaikh Wahid? Lalu Pak Salim? Apakah ini nyata? Dia adalah Mawar. Wanita yang Aku memakai cincin di jemarinya. Cincin yang pernah di pahat almarhum Bapak. Aku menangis tersedu. Rahasia takdirMu yang luar biasa ya Allah.
”Apakah aku menyakitimu suamiku?”
Aku tak menjawabnya. Aku mengecup ubun-ubunnya, ”Allahumma innii as aluka khoiri haa wa khoiri maa jabal tahaa ’alaihi,”[3] kudengar desahan lirih lembut mengamini. Seolah Malaikat berkumpul di sekeliling kami dan mengamini doaku. Aku kembali meneteskan airmata.
”Isteriku,” wanita berwajah bersih itu mendongakkan kepalanya padaku, ”Apakah Kakakmu ada yang bernama Mbak Fatimah?”
”Iya, dia sekarang berada di Sudan menemani suaminya. Kau kenal dengan dia Suamiku?” wajahnya nampak teduh. Dia duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
”Ayo kita shalat dulu,” aku menjentikkan telunjuk jariku tepat di hidungnya. Dia hanya mengangguk.
Kami khusyuk dalam sujud panjang itu. Aku membaca Ar-Rahman dan Al-layl, alangkah mesra dan hening. Allah menaungi kami dengan cahaya. Para malaikat bertasbih. Aku masih sesenggukan, kudengar Zahra juga sesenggukan. Saat sholat selesai, Zahra memelukku dari belakang. Kepalanya menyandar di punggungku. Dia belum tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Yang bergemuruh dalam dadaku.
”Adakah kau mempunyai seseorang lelaki dalam hatimu selain diriku Isteriku?”
”Ada.”
Aku kaget. ”Siapa dia?” aku berbalik dan menatapnya. Dia hanya tersenyum.
”Dia Ayahku,” aku mendesah napas lega. Hatiku kembali penasaran, apakah dia benar Mawar?
”Tiadakah lelaki lain yang ada di hatimu, yang dia bukan keluargamu?”
Wajahnya berkerut, seolah memikirkan sesuatu yang sulit, ”Baiklah, tapi Kakak tidak boleh marah sedikitpun apalagi cemburu pada Zahra. Kakak harus janji.”
”Baiklah, aku janji,” hatiku penasaran, akankah dia bercerita tentang persahabatan?
”Aku hanya bertemu dengannya beberapa hari,” dia tersenyum sendiri.
”Kenapa tersenyum?”
”Dia sangat lucu,” Zahra kembali tersenyum.
”Sangat lucu?”
”Kakak janji tak akan marah dan cemburu. Ingat itu?” aku hanya mengangguk.
”Aku bertemu dengannya saat aku masih kecil. Waktu itu aku menemani kakakku Fatimah di salah satu desa di Lampung. Saat itu aku masih sangat nakal, kenakalanku membuat Umi menyerah apalagi kakak-kakakku. Sahabat kecilku yang lucu itu bernama Ihsan,” saat itu dadaku bergetar hebat, mataku kembali gerimis. Dia benar-benar tidak tahu, siapa suaminya saat ini.
”Kau menangis suamiku? Apakah aku membuatmu cemburu?”
”Tidak Dik. Teruskanlah ceritamu aku ingin mendengarnya.”
”Dia yang merubah hidupku. Aku tak ingin menjadi anak nakal lagi. Dia yang mengubahku, aku berjanji akan selalu menjadi sahabatnya. Kami melewati waktu beberapa hari semasa kecil itu dengan keceriaan,” dia terus bercerita tentang Ihsan. Kadang tawa kami berdua bersamaan, betapa lucunya Ihsan kecil itu.
”Saat itu aku benar-benar marah padanya, dia ingin menjadi sahabatku hanya karena hadiah coklat dari mbak Fatimah. Tapi, kusadari dari keberaniannya menaiki sepedanya mengejarku ketika pulang hingga dia menyusuri tebing dan terjatuh di aspal. Airmataku saat itu menetes. Aku berjanji dalam hati, tak akan mengecewakan persahabatan itu,” kulihat airmatanya sembab.
”Isteriku..., apakah kau pernah bertemu dengan Ihsan itu setelah itu?”
”Belum pernah, tapi setidaknya aku selalu berdoa pada Allah untuk bertemu dengannya, dan meminta maaf karena aku meninggalkannya saat dia mengantarku,” aku memeluknya. Dialah yang selama ini kucari, tapi Engkau menentukan caranya ya Allah. Aku memeluknya erat, entah apa lagi yang akan kuingkari dari kuasaMu Allah. Aku merasa Kau begitu menyayangiku.
”Dik..., ayo kutunjukkan sesuatu padamu,” aku mendirikannya dan menarik pergelangan tangannya ke jendela. Kubuka perlahan, sinar bulan yang tak purnama tepat menyorot dengan indah di langit utara, dia telah condong.
Aku mengangkat kedua tanganku ke depan, menyatukan telunjuk kanan dan telunjuk kiri dan ibu jari dengan ibu jari ke luar jendela. Mirip bentuk lingkaran tak sempurna namun juga segitiga tak sempurna, aku me-ngeker rembulan tak penuh dan memasukkankanya dalam lubang jemariku, ”Lihatlah Dik, kau ingat? Lihatlah rembulan itu dari tanganku.”
Zahra menyandarkan kepalanya di pundakku, ”Sangat indah suamiku, menatap wajah bulan yang terus menyapa bumi dengan cahayanya. Kau sangat romantis suamiku.”
Hatiku sedikit jengkel, dia belum sadar juga, ”Aku punya sebuah puisi untukmu isteriku, maukah kau mendengarnya?”
”Aku sangat menyukai sastra, aku Penulis, pasti aku tahu mana syair yang bermutu dan tidak. Bacakanlah untukku suamiku.”
    ”Bulan menyapa saat siang telah lelah
          Menyapa insan dalam kesenyapan
     Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu
     Tataplah bulan dari jemariku
     Biarkan secara mesra
     Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya”
”Syairmu sangat lembut dan menyentuh suamiku, syair-syairku pun bisa kalah,” dia bermanja ria di pundakku. Hatiku semakin penasaran. Dia pura-pura tak tahu atau memang tidak tahu? Bukankah puisi itu darinya?
”Bolehkah aku bertanya, tapi kau harus menjawabnya jujur isteriku,”
”Aku akan selalu jujur padamu suamiku, kaulah imamku.”
 Aku memegang kedua pipinya, wajah kami begitu dekat berpandangan. Kutatap bening matanya dalam-dalam, ”Kenapa kau memakai nama Mawar, ketika kau berteman dengan Ihsan?”
Kulihat kekagetan dari wajahnya. Matanya yang bening lembut menatapku, ”Da.. dari mana Kakak mengetahuinya. Tidak ada yang tahu tentang itu kecuali...,”
”Iya isteriku, akulah Ihsan. Sahabatmu..., sahabatmu ketika kecil. Sahabat dari sebuah desa yang kau tinggalkan bersama hilangnya Mawar,” kami saling berpandangan lama.
Bibir Zahra bergetar, ”Kau Ihsan...,” aku mengangguk. Dia memelukku erat, tangisnya pecah. Isaknya memenuhi ruangan kamar, tasbih bergetar di setiap detak napas kami. Beriringan dengan kesyukuran. Zahra masih betah menangis di pelukanku, di depan jendela yang terbuka. Bulan malu-malu menatap kami.
”Kau jahat sahabatku..., kau jahat,” sesenggukannya memiris hatiku.
”Kau tahu Dik, Allah mengatur pertemuan ini begitu indah. Dulu..., kau ingat, aku pernah menciummu dan kau marah lalu memukulku. Sekarang..., bolehkan aku menciummu?” wajahnya bersemu merah, airmatanya masih menetes. Dia memejamkan matanya. Aku menatapnya lama, wajahnya putih sangat beda ketika kecilnya dulu. Bibirnya yang merekah bagaikan mawar yang masih merah ranum, lentik matanya begitu lembut. Aku ingat sebuah hadits;
”Sesungguhnya seorang suami yang memandang isterinya dan isterinya pun memandangnya (dengan syahwat); maka Allah akan memandang kedua insah itu dengan pandangan rahmat. Dan saat ia memegang telapak tangan isterinya maka dosa-dosa kedua insan itu berjatuhan dari sela jemari-jemarinya.”[4]
Aku menyatukan tanganku dengannya, kutelusuri sela-sela jemarinya. Agar dosa-dosa kami berjatuhan, Insyaallah. Aku melepaskan tanganku dari jemarinya, Zahra masih menutup matanya. Seolah dia menunggu aku menciumnya, tanganku beralih memegang kepalanya dan mengucek-ucek telekungnya, ”Dasar gadis nakal.”
Dia membuka mata dan balas mengucek rambutku. Kami tersenyum bersama, ada kebahagiaan yang ingin ditumpahkan, teringat kembali wajah kecilnya dulu ketika bersama almarhum Bapak, memukul-mukulkan tangkai padi ke sabetan.
”Ini balasan karena Adik dulu memukulku tiga kali kali,” aku mengambil bantal dan melemparnya, dia pun membalasnya. Suara sedikit gaduh. Seseorang mengetuk pintu.
”Ali..., kalian tidak apa-apa,” suara Ustadz Wahid.
Isteriku membalas, ”Tidak apa-apa ’Ammu, biasa pasangan pengantin, butuh penyesuaian,” suaranya nyaring. Dasar. Aku sendiri tak habis pikir, semua yang menimpaku tanpa bisa kuperkirakan. Allah-lah yang menciptakan segala rekayasa indah ini.
”Segala sesuatu selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai isterinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panah), dan seseorang yang berlatih perang.”[5]
Malam itu, pukul 02.30. Kami bercerita tentang perjalanan kami setelah berpisah belasan tahun yang lalu. Ternyata semua jelas. Siapa Ustadz Umair, siapa Syaikh Wahid yang ternyata adiknya yang telah diceritakan Ustadz Umair. Perihal cincin bulan itu ternyata sejak kecil telah diambil Kakak kembarnya, Wardah. Tanpa izin, setelah dia menikah lalu mengembalikan cincin itu dan menceritakan bahwa dia mengambilnya sewaktu kecil dulu.
Satu hal yang masih mengganjal dalam jiwaku.
”Dik, lalu kenapa ketika kubacakan puisiku tadi kau tidak sadar kalau aku adalah Ihsan? Bukankah kau menuliskannya untukku sewaktu kau akan pergi dulu?”
”Tidak. Aku hanya menuliskan surat perpisahan saja.”
Aku membuka dompetku, walau dompetku sudah pernah ganti, tapi surat yang kusimpan sejak kecil itu tak pernah kubuang. Aku menyodorkan surat itu, istriku membacanya.
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
Ihsan Sahabatku
Perpisahan memang akan menyakitkan kita, tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri persahabatan, membelai heningnya kesepian.
Engkau adalah sahabatku yang telah menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjadi sahabatmu.
Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya
Ihsan! Aku menunggumu di Universitas Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya padaku, ”Aku tak pernah menuliskan itu suamiku. Sungguh. Berarti Mbak Ningsihlah yang menulis itu.”
Kami merasa semua telah diatur oleh Allah, jodoh, rizki, mati, telah diatur oleh Allah. Kami menikmati takdir Allah dengan penuh kesyukuran. Zahra kecil mengatakan namanya Mawar, karena dia sangat membenci pada Kakaknya Wardah yang selalu mendapatkan perhatian lebih darinya. Bukankah Wardah artinya Mawar dan Zahra adalah bunga?
”Bagaimana kalau kubuatkan masakan?”
Aku berpikir sejenak, ”Boleh, tapi jangan lama-lama ya Dik,” dia menyilangkan jarinya di kening kanannya. Mirip tentara yang siap menjalankan tugas. Senyumnya sangat menawan, dia keluar dengan mukena yang masih dikenakannya. Memang tidak lama, hanya lima belas menit tapi serasa ribuan tahun aku menunggunya.
Dia mendekat kepadaku sambil tersenyum, dan meletakkan mangkuk sayur di meja rias, “Kak, maaf kalau masakannya kurang sesuai dengan lidah kakak. Aku belajar memasak dari restoran-restoran Abi belumlah lama,” dia tertunduk pelan, aku sempatkan sebelum makan mengecup keningnya, dan wajahnya kulihat memerah. Aromanya membangkitkan seleraku, semerbak. Masakan yang belum pernah kulihat, telur yang diberi kuah. Kuambil sendok dan kubuka telur itu, isinya daging cincang.
Aku mencicipi kuahnya, masih hangat. Lezat. Kulihat Zahra begitu tegang melihatku makan sehingga aku menyuapinya pula. Setelah selesai makan bersama.
“Bagaimana rasanya Suamiku?” kulihat raut mukanya seperti terdakwa yang menunggu vonis hakim dengan berdebar-debar.
“Masakanmu terlalu pedas, padahal aku paling tidak suka rasa pedas, dan jika sudah kepedasan biasanya akan sembuh lama mungkin dua hari. Tapi tidak apa-apa, masakan Dinda begitu nikmat apalagi dicampur dengan bumbu cinta,” jujur kuakui bahwa masakannya sebenarnya tidak kurang susuatu apapun. Aku ingin mencandainya saja.
Waktu menunjukkan pukul 03.00. aku mengajaknya shalat malam. Dia mengangguk. Wajahnya tampak sedikit murung, biarlah sedikit kukerjai. Insyaallah besok ba’da subuh aku akan memuji masakannya. Untuk saat ini, aku ingin tertawa tapi kutahan. Alangkah kecewanya dia bersusah payah memasak? Tapi, kulihat lagi wajahnya yang murung, aku tak tega. Insyaallah nanti sesudah shalat akan kupuji dia.
     Sesudah shalat, aku merasa lelah. Hari ini aku belum sempat istirahat tidur. Mataku tak kuasa ingin memejam.
”Sahabatku,” aku menatapnya, ketika bibirnya mencium punggung tanganku.
”Ada apa Kak,” kulihat senyumnya seolah dipaksakan.
”Bolehkah aku tidur di pangkuanmu, aku ingin sejenak tidur, menunggu adzan subuh. Aku belum tidur sejenakpun hari ini,” kepalanya mengangguk. Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya. Aku berdoa. Zahra membelai rambutku hingga aku terlelap. Seolah terbang ke alam nirwana, semua hal adalah cahaya dan semua cahaya adalah kesejukan, dan setiap kesejukan akan bermuara kepada kesejatian.
     Tiada  kusangka kata-kataku, benar-benar diingatnya sepanjang malam itu aku kelelahan dan tidur. Ketika pagi beranjak aku, merasakan seperti percikan air yang membasahi wajahku ketika mataku masih terpejam, aku mengira bahwa Zahra pasti membangunkanku untuk shalat subuh dengan memerciki air.


[1] Sudah tidur
[2] Malam Pengantin
[3] ya Allah sesungguhnya aku mohon kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya (HR Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Majah.
[4] HR Maisarah bin Ali dan Imam Rafi’i dan Abu Said Al Khudri
[5] HR An Nasa’i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar