Sabtu, 19 Oktober 2019

Part 33, Cinta yang HILANG

”Ketika itu, aku baru saja lulus Madrasah Aliyah. Aku adalah orang dari desa yang kedua orangtuaku telah meninggal dunia. Ibuku meninggal ketika melahirkan adikku, yang umurnya berjarak sepuluh tahun denganku. Setelah itu, setahun kemudian ayahku meninggalkan kami dan menyusul ibuku. Ayahku meninggal karena dituduh mencuri kardus di depan sebuah toko, karena ayahku adalah seorang pemulung. Ayahku hanya ingin menyambung hidup kami, tapi zaman memang telah gila. Dia dihakimi massa hanya karena mengambil kardus bekas, yang dibuang di tempat sampah.
Aku lalu dibesarkan oleh bibiku di Klaten. Setiap hari, sepulang sekolah,  aku bekerja membantunya berdagang buah-buahan di pasar. Setiap pagi sebelum sekolah, aku harus mengantarkan koran-koran yang berlangganan. Aku sadar jika aku tak bekerja keras, aku tak akan bisa sekolah. Aku juga harus menunaikan amanah ayahku yang meminta adikku untuk dapat menjadi Hafidz Qur’an, aku memasukkannya di pesantren Fatahillah Jombang. Dia belajar disana, gratis dengan membantu pekerjaan Kyai Amarullah. Adikku menjadi Khadim[1] di Pesantren itu, dan aku melepasnya saat usianya 6 tahun.
Lulus Madrasah Aliyah, betapa aku bersyukur padaNya yang memberi kemudahan padaku, aku mendapatkan nilai terbaik. Saat itu, aku mencintai seorang wanita yang sangat cantik. Kecantikannya begitu jernih, lebih jernih dari mutiara, terangnya lebih terang dari terangnya siang hari, dan tingkah lakunya yang lembut, benar-benar membuatku tak kuasa mendebarkan melodi cinta dalam hatiku, yang selalu berdebar-debar kala mendengar namanya. Apalagi ketika aku bertemu dengannya, seolah kakiku gemetar. Dia adalah teman sekelasku ketika Madrasah Aliyah.
Aku datang ke rumahnya, aku membawa suatu kekuatan yang membuat pikiranku tak tenang. Aku selalu gelisah jika tak bertemu dengannya, gejolak itu benar-benar terasa menyiksaku. Wanita itu bernama Sarah, jika aku mengingatnya maka wajahnya seperti rembulan yang tak memiliki cela. Kau tahu, dia adalah anak tunggal dari Kyai Husain, pemilik pesantren kecil di sebuah desa. Aku datang kepada beliau dan melamar puterinya untukku. Saat itu, aku di mintanya membaca Al-Quran dengan tartil. Aku membacanya, tapi hasilnya hanya sekedar membaca. Aku tak lulus ujiannya.
Kyai Husain berkata padaku, ”Pergilah menuntut ilmu, kau akan mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Jika kau mau sungguh-sungguh belajar, mungkin aku bisa mempertimbangkan tentang lamaranmu ini,” Setelah itu Kyai Husain mengurus keperluan surat-suratku, ternyata dia bekerja di KUA dan aku ketika masuk test ternyata lulus untuk kuliah di Al-Azhar Mesir. Sebelum berangkat kuminta pada beliau untuk menyalamkan rinduku pada Sarah, dan aku pasti kembali untuk melamarnya. Aku juga pamitan dengan Bibi. Aku berangkat ke Mesir dengan harapan besar.
Ketika baru menginjak satu tahun usia belajarku di Al-Azhar, kudengar kabar bahwa bibiku telah meninggal dunia. Kini, aku tak punya siapa-siapa lagi. Di Mesir, aku harus berjuang keras untuk meneruskan kuliahku, dan menyiapkan segalanya. Kulakukan karena cintaku yang besar pada Sarah, sebagaimana cinta Adam as kepada Hawa, sebagaimana cinta Majnun kepada Laila. Ketika libur tiba, aku bekerja bersama para buruh bangunan, di saat panas terik ku panggang tubuhku di tingkat-tingkat bangunan, hingga kulit terasa terbakar. Semua luka dan kelelahan pun sirna jika teringat Sarah, hanya ingat saja membuatku menatap dunia dengan keindahan. Saat pulang kuliah, kuhabiskan untuk belajar ilmu, tapi semuanya kumuarakan pada Sarah. Gadis yang membuatku terpukau karena pesonanya.
Aku semakin mencintai ilmu, aku dapat belajar dengan cepat dan akhirnya lulus S1 dengan nilai tertinggi, Jayyid Jiddan. Aku mendapatkan tawaran beasiswa kembali untuk melanjutkan S2. Aku tak ingin mengecewakan Sarah ketika telah melihatku nanti pulang ke Indonesia, dan menemuinya. Akhirnya aku nekad, mengambil S2 di Universitas yang sama itu, Universitas tertua di dunia. Nama Umair terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia. Apa saja yang bisa kulakukan disana, pasti kulakukan untuk mencari uang, selain itu aku bisnis catering untuk pesanan. Di sana aku membangun link, untuk semakin menambah wawasan dan perkembangan usaha. Aku berpikir belajar sekaligus mengumpulkan uang untuk Sarah dan Adikku kelak.
Saat akhir-akhirku studiku menyelesaikan Tesis, barulah kusadari semuanya bahwa ilmu itu bukanlah untuk mendapatkan dunia, apalagi wanita. Aku bertobat kepada Allah, aku sadar bahwa ilmu itu hanya bisa didapat dengan menjernihkan niat untuk Allah. Tetapi, hatiku begitu berat melupakan Sarah. Wanita yang begitu anggun dan memikat hatiku, aku merasa bahwa aku diciptakan sebagai bayangannya, untuk selalu menemaninya.
Hatiku yang resah, hanya bisa diobati dengan melamarnya atau melupakannya sama sekali. Tapi, aku tak bisa. Hatiku telah dipenuhi oleh wajahnya, senyumnya, jernih matanya. Aku tak kuasa, satu jalan yang akan menenangkan hatiku adalah ketika Tesisku selesai, aku akan langsung terbang dan menjemput Bidadari itu.
Hari yang begitu kurindu untuk segera menyapaku itu, akhirnya datang juga. Aku teramat bahagia, aku akan bertemu dengan Sarah dan adikku. Setelah itu aku pulang ke Indonesia, kutemui adikku dulu di Jombang. Umurnya telah mencapai 16 tahun, dia kelas 2 SMA. Adikku telah hafal Al-Quran 21 Juz, aku teramat bahagia. Kuajak dia mengantarkanku ke tempat Sarah untuk melamar. Saat disanalah petir seolah menyambar kepalaku, bagaikan godam besar memukul keningku, bagaikan  beliung yang menerbangkan rumput-rumputan, setelah mendengar kabar dari Kyai Husain.
Sarah telah menikah. Sarah menungguku terlalu lama, padahal dia juga menantiku, sebagaimana yang diceritakan kyai Husein. Tapi, apalah daya dan kekuatan kecuali Allah-lah yang telah menggariskan segalanya. Aku pulang dengan langkah yang berat, mataku berair sepanjang jalan menaiki Bus itu. Aku kembali pulang ke Klaten, di rumah bibiku yang telah meninggal, dan adikku ingin menemaniku karena kebetulan dia juga sedang liburan.
Hal yang tak kuduga adalah, aku seorang lulusan S2 Al-Azhar Mesir yang menempa generasi Rabbani. Menjadi pemurung, aku telah kalah dengan keadaan. Hidupku serasa jasad tanpa ruh.
Aku jatuh sakit, hingga berbulan-bulan.
Adikku terpaksa menungguiku, dia meminta izin liburan di pesantrennya dan sekaligus di sekolahnya. Dalam hening sakitku, aku ingin bangkit dari keterpurukan tapi wajah Sarah selalu berada di kelopak mataku, aku benar-benar telah gila. Setiap hari mataku hanya membuyarkan bening aliran. Aku benar-benar terpuruk. Adikku dengan sabar membimbingku untuk berubah.
Hingga suatu hari keyakinanku bangkit oleh kata-katanya.
”Kak, bangkitlah. Kakakku Umair tidaklah bermental lemah seperti ini. Kakakku Umair adalah seorang ksatria, Ibu dan Bapak di sisi Allah juga memercayakan aku padanya. Aku percaya kakakku, bukanlah menghancurkan dirinya hanya gara-gara seorang wanita. Sungguh Allah begitu sayang kepada Kakak! Dia tidak pernah bersikap dzolim sedikitpun pada Kakak. Allah telah menganugerahkan ilmu kepada Kakak, kakak telah lulus dan menguasai ilmu hadits. Hanya seperti inikah, orang yang telah Bapak dan Ibu percaya untuk menjagaku,”
Adikku menangis, mungkin kesabarannya mulai hilang. Tapi, aku masih diam tak berbahasa. Walau, airmataku mengalir karena kecewa pada diriku sendiri.
”Kakak telah mengecewakanku. Kini, akulah tulang punggung keluarga. Kakak tega? Menjadikanku seorang pemulung demi mencari sesuap nasi untuk Kakak yang hanya bisa bermalas-malasan. Demi Allah! Dia sangat membenci orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya. Allah sangat mencintaimu Kak,” tangisnya malam itu membuat hatiku teriris-iris.
”Selama Kakak di Mesir, Kakak selalu mengirimkan uang kepadaku untuk biaya sekolahku. Aku kira Kakak adalah seorang yang tegar, kini kutahu. Aku sangat kecewa pada Kakak!” isaknya yang lirih terdengar, lebih keras di keheningan malam. Airmatanya menetes di lenganku yang kurus, berbalut kulit saja.
”Kakak, kumohon bangkitlah. Aku mencintaimu karena Allah, aku akan selalu menemanimu hingga nyawaku pun akan terpisah, aku tak peduli. Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali Kakak. Jika Kakak seperti ini, Kakak tidak ingin membuktikan bahwa Kakak seorang yang kuat? Apakah Kakak merasa Allah tidak adil? Aku ingin melihat Kakak bangkit! Aku tak akan bisa tidur dengan tenang jika Kakak seperti ini,”
Aku memejamkan mataku, gerimis jernihnya tak kuasa membasah dipan yang telah reot. Kayunya telah mulai lapuk, bunyi kriut-kriut setiap kubergerak adalah buktinya.
Sepertiga malam terakhir itu, kulihat adikku kembali bermunajat di atas sajadahnya. Di depan tidurku yang sebenarnya mataku melihat, hatiku merasa, tapi seolah tak ada kuasa untukku bertindak lebih kecuali bagaikan jasad semata.
Dia kembali menangis dalam doanya. Aku mendengarkannya.
”Ya Allah, berilah hambaMu cintaMu, dan cinta orang yang cintanya memberi kebaikan padaku di sisiMu. Ya Allah, apa yang kau berikan padaku dan aku senangi, maka jadikanlah itu kekuatan bagiku untuk melakukan apa yang Kau sukai. Ya Allah, apa yang Kau jauhkan dariku dari apa yang kusenangi, maka jadikanlah itu kelapanganku dari apa yang Kau sukai.”[2] kumemohon hanya kepadaMu, tidak ada selainMu dalam hatiku. Jagalah kakakku ya Allah. Ya Allah, tidak pernah hambaMu ini berputus asa kecuali hanya karena kakakku yang malang nasibnya ya Allah. Kumohon, dengan segenap cintaMu, kembalikan dia padaku ya Allah. Jangan Kau ambil dia, jangan Kau jadikan dia bagaikan jasad tak bergerak.
Allah..., aku telah ikhlaskan diriku kepadaMu. Aku belajar menghafal Al-Quran hanyalah mengharap ridhaMu, seandainya Engkau ridha akan amalku itu. Maka kembalikanlah kakakku seperti semula. Kakakku yang akan memperjuangkan agamaMu dengan segenap jiwanya. Allah..., kembalikan kakakku ya Allah. Jadikanlah dia kuat, jadikan dia tegar. Jika aku dijadikan tebusanpun untuknya, aku bersedia ya Allah.”
Isaknya yang meratap membuat tanganku bergerak. Terus kupaksa bergerak, sangat berat. Menjentik dan akhirnya terangkat, gemetaran kuletakkan pelan telapak tangan kananku, di kepalanya yang tertutup surban. Bibirku bergerak sembari tepat tanganku yang gemetaran menyentuh kepalanya, ”Adik...k,” suaraku keluar.
Dia langsung menoleh dan menatap mataku. Kami bertatapan lama, kedipan mata kami berpacu dan derai airmata terus mengalir menyiratkan ikatan kami yang kuat. Bibir kami sama-sama bergetar, tasbih dalam hati kami tak kuasa tercurahkan untuk Allah. Allah membangkitkan aku lagi. Aku harus bangkit!
”Aku akan bangkit dari kelemahan ini adikku,” kugerakkan tubuhku untuk duduk.
Adikku langsung menghambur dan menubrukku. Dia sesenggukan. Dia berujar hamdalah tanpa henti hingga adzan subuh dari masjid Ar-Rahman berkumandang. Airmata kami bersatu dalam kesyukuran. Aku dibantunya untuk bangkit lalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Tertatih aku membasuh semua bagian, wudhu, bergetar kurasakan kesegaran yang tiada terkira. Kulihat adikku memerhatikanku sambil terus menangis gembira.
Aku shalat subuh berjamaah, saat itulah aku menjadi manusia yang baru. Aku bangkit dari keterpurukan. Tapi, rasa cintaku kepada Sarah tidak pernah berubah sampai kapan pun. Aku mulai mengatur pola hidupku. Aku mengirim kembali adikku ke Jombang yang telah libur selama setahun. Selama menungguiku, dia menghafal Al-Quran sendiri tanpa ada yang memandunya. Kini disana dia ingin mengetes hafalan 30 juznya yang telah selesai.
Aku mencoba mencari peluang usaha. Aku ingin menjadi enterpreneur, aku telah banyak belajar di Mesir. Bukankah Rasulullah saw, Abdurahman bin auf ra., Utsman bin Affan ra., Abu Bakar ra. juga sukses dalam berdagang, modalnya yang utama sangat sederhana. Jujur.
Aku kembali membaca buku-buku bisnis yang kubeli sewaktu di Mesir. Aku harus berpacu akan ketertinggalanku selama ini. Kini, adikkulah harapanku. Aku bertekad kuat dalam hatiku, tak akan membuatnya menangis lagi, walau hanya dalam mimpi. Hidupku akan kucurahkan untuknya. Dia yang membangkitkanku dalam tidur panjang, saatnya kubuktikan padanya bahwa dia tidak pernah sia-sia menjagaku.
Uangku dari hasil kerja di Mesir selalu kusimpan, sehingga dapat kugunakan untuk modal usaha di Indonesia. Pound masih mahal harga jualnya dari rupiah.
Sebagai langkah awal, aku di terima sebagai dosen di salah satu Universitas Swasta di Surabaya. Aku terus mempelajari usaha-usaha yang berkembang. Teringat pepatah bisnis, ”Masa depan bukannya di depan kita, melainkan sudah terjadi.[3]” aku mencoba membuka rumah makan ala Arab di dekat Kampus. Walau cibiran datang dari beberapa mahasiswa dan Dosen, tak aku gubris. Aku harus maju, kalau gerbang masa depan sudah terjadi, siapa tidak mau masuk akan tertinggal di belakang. Seperti itulah ucapan Philip Khotler, ”Hari ini anda harus berlari lebih cepat untuk tetap berada di tempat yang sama.” untuk menempati posisi yang sama, kita harus berlari lebih cepat bukan?
Di rumah makan itu semakin ramai, setelah kusediakan panggung untuk para pecinta seni untuk unjuk kebolehan, bukankah mereka juga senang jika unjuk kebolehannya? Maka ini saling memanfaatkan, mutualisme, tidak ada yang dirugikan. Jika rumah makanku ramai, mereka juga kebagian jatahnya, setidaknya makan gratis. Aku membuat menu-menu baru, apalagi aku banyak belajar masakan ala Timur Tengah. Subhanallah, Allah sangat menyayangiku. Rumah makan itu semakin lama semakin ramai, kuperlebar dan tanah yang semula menyewa, dapat kubeli walaupun mengangsur.
Rumah makan Barakah akhirnya semakin maju, dan membuka cabang di dekat-dekat Kampus, di titik strategis. Di dekat UI Depok, lalu di dekat UM Malang, di dekat Stasiun Gambir dan beberapa titik strategis lainnya.
Pengelolaan rumah makan Barakah, akhirnya kuserahkan pada Ridwan, karyawanku sejak awal. Aku hanya sesekali memantaunya, aku akan mencari usaha yang lain. Aku beralih membuat usaha baru di Stasiun Gambir. Sebuah hotel yang mempunyai standar khusus, yaitu standar Syariah Islam. Saat awal launching, banyak kebingungan dari banyak pihak. Hotel Mawaddah bertuliskan Syariah di belakangnya.
Hotel itu, seluruh pelayan wanitanya memakai jilbab. Di setiap sudut tembok banyak ukiran ayat-ayat Al-Quran, sebagai bahan muhasabbah. Di setiap kamar tersedia, Al-Quran, buku hadits Bukhari dan Muslim, juga kumpulan doa, perlengkapan shalat, dan lain-lain. Setiap pengunjung yang akan menginap diperiksa, jika berpasangan harus menyertakan surat tanda nikah, menggeledah jika ada barang-barang haram dan sebagainya. Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat antusias.
Menyitir kembali kata-kata Philip Khotler bahwa, ”Jangan membeli pangsa pasar, pikirkanlah bagaimana mendapatkannya. Dan siapakah yang akhirnya merancang suatu produk baik jasa maupun barang? Tentu saja pelanggan.” masyarakat kurasa sudah muak dengan segala kebobrokan, masyarakat Indonesia telah merindukan syariat di tengah-tengah kehidupan mereka.  Bukankah syariah itu menentramkan?
Pelangganlah yang membuatku mendirikan setiap usaha, dan akhirnya Allah mempermudah segala jalannya. Setiap kuanalisa masyarakat butuh ini, maka aku ciptakan barang ini. Jika masyarakat membutuhkan barang itu, maka aku menciptakan barang itu. Aku bekerja berdasarkan pemenuhan akan para perancang itu sendiri, yaitu konsumen. Misalnya di Stasiun Gambir, kulihat sering ketika malam banyak para wanita dan pria yang kebingungan ketika sampai disana kemalaman. Untuk menghindari segala marabahaya dan resiko di kala malam, aku ciptakan hotel syariah itu. Dan hasilnya Insyaallah baik dan sukses.
Aku semakin gemar berusaha, tapi tak kutinggalkan kegemaranku dalam berdakwah sebagaimana kebiasaanku saat di Mesir. Aku benar-benar bisa bangkit. Adikku telah lulus SMA, dan dia telah hafal Al-Quran, aku masih kalah dengannya. Setelah kami berkumpul dan berembuk, dia sepakat dengan usulku untuk meneruskan kuliah di Mesir seperti aku dulu. Dia mendalami ilmu Tafsir. Dengan mudah, beasiswa cepat di perolehnya, karena aku sangat paham dengan kemampuannya.
Sejak dia berangkat, jujur selalu ada kerinduan yang menyesak dalam dada. Tapi selalu kuobati dengan menyebut nama Allah, dalam setiap ruang jiwaku. Kuobati pula dengan menyibukkan diri dengan usaha, dan banyak meringankan beban fakir miskin. Walau tak bisa sepenuhnya menggantikannya, hingga suatu hari.
Datanglah seorang lelaki seumuran denganku. Bertandang ke rumahku di Klaten.
”Aku tahu sampai sekarang, kau sangat mencintai Sarah. Sampai sekarang pun, walaupun dia telah menjadi sah isteriku. Tapi dalam  hatinya selalu dipenuhi oleh namamu Umair. Aku hanya ingin menawarkan segala kebaikan untuk kita berdua saudaraku. Jujur saja, aku membutuhkan uang banyak, untuk meneruskan hidupku yang sampai sekarang masih menjadi pengangguran.”
”Aku tidak tahu maksudmu saudaraku?”
”Aku akan menceraikan Sarah yang pernah membuatmu sakit hingga lama. Dan kau bisa menikahinya. Dan berikanlah santunan kepadaku sebesar lima juta rupiah, bukankah itu sepadan dengan Sarah yang begitu cantik?”
Wajahku langsung memerah, bagai bara api yang di tambah dengan minyak. Darahku mendidih, sore yang sejuk itu seolah berubah bagai siang di Mesir kala musim panas menyenggat, lebih-lebih ketika matahari tepat beradi di atas ubun-ubun. Seluruh organ di tubuhku mendidih. Sarah, alangkah menderitanya kau di tangan seorang suami yang rela menjualmu. Hatiku bergumam marah.
”Ceraikanlah dia, akan kuberi kau uang itu. Tapi aku tak akan menikahinya!” emosiku meluap. Ingin sekali kutampar dia, tapi baginda Rasulullah saw mengajarkan pada umat muslim untuk memulyakan tamunya.
Aku menulis cek, lalu kuserahkan padanya, ”Terserah padamu, yang jelas ceraikan Sarah segera, dan kembalikan dia pada orangtuanya. Biarkanlah dia hidup bahagia tanpa lelaki bejat sepertimu.”
”Jangan marah saudaraku! Baiklah kau tidak mau menikahinya cukuplah bagiku uang ini untuk segera menceraikannya. Bukankah kenikmatan kuncup mawarnya telah kuhirup. Jika kau menikahinya kau hanya mendapatkan sepahnya. Ha..ha..ha..”
Aku sudah tak sabar lagi. Tamu yang keterlaluan. Aku memukulnya dari belakang. Dia mencoba melawan, saat berbalik ketendang dia sekali lagi. Saat kami bergelut, Satpam rumahku datang dan melerai kami.
”Baiklah! Aku terima pukulanmu ini! Tapi ingat, uang ini telah menjadi milikku dan Sarah akan kubuang!” pergilah dia, meninggalkanku yang masih memendam bara.
Aku merasa tak tenang dalam setiap tidurku, Setiap makanku, setiap gerakku. Jujur wajah Sarah terus membayang kembali dalam ingatanku, wajahnya tersenyum kepadaku. Aku langsung menuju ke rumah Kyai Husein, ayahnya.
Kabar dari Kyai Husein semakin membuat hatiku gerimis. Sarah dan suaminya telah meninggal dunia dalam perjalanan, saat mereka sedang menuju rumah Kyai Husein. Hatiku bergetar hebat.
”Dua malam yang lalu, Sarah menelepon kalau dia akan pulang ke rumah. Dari nada suaranya dia seperti terisak dan menangis. Saat kami tunggu kedatangannya, dia tidak datang juga, hingga kami ketiduran di ruang tamu. Hingga pagi, kami dikejutkan oleh kedatangan Polisi, yang memberitahukan bahwa Sarah dan suaminya kecelakaan dan keduanya meninggal di tempat.”
”Dari wajah Sarah selain bekas kecelakaan, terdapat bekas pukulan tangan. Dia baru saja dipukul. Lalu di mobil ditemukan surat cerai yang telah ditandatangani oleh kedua pihak suami dan isteri. Mereka telah resmi bercerai. Kami kehilangan Sarah, aku sangat menyesal menyerahkannya pada lelaki itu, bukan kepadamu anakku,” Kyai Husein menangis dan mengusap airmatanya. Kyai Husein menyerahkan secarik kertas yang ditemukan di dalam mobil, saat mobil itu kecelakaan dan digeledah Polisi, tertulis di atasnya, ”Untuk Umair sahabatku.”
Aku pamit pada Kyai Husein. Aku menjenguk Sarah di pekuburan. Semua ini telah digariskan Allah, tapi atas kesalahanku juga. Kenapa aku begitu angkuh! Tanah merah itu terasa lembab di pagi yang teduh. Embun masih menyelimuti gundukan itu.
Aku membuka surat itu.
Umair...
Maafkan suamiku yang aku tahu dia pasti memerasmu. Dia sangat marah ketika sampai di rumah, langsung aku di hajarnya. Setiap hari memang itu yang selalu dilakukannya. Aku selalu menunggumu dulu, tapi kukira kau telah melupakanku maka aku menerima keinginan Abah, untuk menikah dengan anak salah satu muridnya.
Bertahun-tahun aku bungkam dalam penderitaan. Aku tak katakan, apapun tentang perlakuan suamiku. Hingga malam itu dia hendak datang ke rumahmu, aku melarangnya dengan keras dan dia memukulku. Aku hanya bisa berdoa. Ketika dia pulang sambil membawa mobil, yang entah dia dapat dimana dia langsung memukulku dan memaksaku menandatangani surat perceraian.
Aku diaraknya masuk ke mobil sambil diseret. Aku menulis surat ini saat di mobil, saat mantan suamiku sedang bernyanyi sambil menyetir. Dia kelihatannya sangat gembira, aku yang sudah sangat menderita. Cukuplah rasanya, aku ingin memukulnya saat ini karena aku telah bukan isterinya lagi. Maafkan aku Umair, aku tak menepati janji kita dulu. Salamku
Sarah
Ada ciprat darah yang mengotori tulisan Sarah. Alangkah besar penderitaanmu Sarah. Maafkan aku, maafkan aku, semoga Allah memberimu tempat terindah, sehingga kau tak lagi merasa menderita. Aku meninggalkan pekuburan itu dan menatap matahari yang mulai meninggi.
Setelah itu hidupku kembali seperti biasa, walau wajah Sarah selalu membayangi setiap langkahku. Sebuah email dari Mesir masuk ke emailku, dari adikku. Dia memintaku untuk segera menikah, bukankah umur telah menginjak hampir kepala tiga. Kini, hidupku hanyalah untuk adikku. Aku balas emailnya, jika dia mau aku menikah, maka dia harus mencarikannya dan pulang untuk sejenak ke Indonesia.
Dia langsung terbang ke Indonesia. Walau kuliahnya masih ada, dia izin. Aku memarahinya, tapi dia malah tersenyum. Hilang pula selera marahku dan terganti kerinduan. Aku memeluknya.
”Sekarang mari kita ke pesantren dimana aku dulu pernah belajar menghafal Quran.”
”Untuk apa?”
”Untuk menjemput kakak iparku, menjemput bidadari Kakak!” semangatnya yang menggebu-gebu tak berani kutolak. Tak kuceritakan ada kejadian apa setelah dia ke Mesir. Saat di Pesantren di Jombang tempatnya dulu mondok. Dia mengatakan niatnya untuk mencarikan isteri untukku, dia mengumbar kata-kata bahwa kakaknya adalah lulusan Al-Azhar jurusan Hadits. Dasar adikku, dia menurun sifat promosiku. Aku kembali tersenyum.
Saat berhadapan dengan Kyai Amarullah, aku tak bisa berkutik apa-apa. Kuserahkan semuanya pada adikku, Kyai Amarullah menatapku teduh. Yang jelas aku percaya, adikku tak akan menjerumuskan aku, dialah orang yang aku cintai di dunia ini. Kyai Amar memintaku membaca beberapa Hadits tentang iman, tentang nikah, tentang dakwah, tentang kasih sayang. Aku membacakannya sesuai dengan riwayat dan atsarnya. Dia hanya manggut-manggut.
”Kau membawa orang yang tepat,” Kyai itu berkata pada adikku, ”Allah telah menggariskan garis takdirnya. Anakku yang terakhir kemarin memintaku mencarikan seorang suami yang saleh. Insyaallah puteriku itu Hafidz Quran, dia baru saja wisuda jurusan Kedokteran di Universitas Indonesia. Semoga kalian cocok, dia akan kupanggilkan.”
”Kakak saya setuju Kyai, dia memang mencari isteri yang Hafidz Quran, karena dia juga ingin belajar darinya, karena dia hanya tinggal kurang sedikit lagi untuk mengkhatamkan Quran,” dia melirikku dan mengangkat sebelah alisnya.
Insyaallah saya bersedia, bukanlah Rasulullah saw bersabda, ”Sesudah taqwa kepada Allah, tidak ada yang bermanfaat bagi seorang mukmin yang lebih baik, daripada seorang isteri yang sholihah,”[4]
”Baiklah, jika memang ini kehendak Allah. Mari kita ke masjid untuk melangsungkan aqad nikah. Akan kupanggilkan puteriku. Kau masih ingat masjidnya bukan?” adikku manggut, ”Inggih Kyai.” aku bangga pada adikku, walau dia telah kuliah di Mesir, sikap sahajanya selalu terpelihara.
Aqad sederhana itu terjadi di Masjid Baiturrahman, di Pesantren Baiturrahman tempat adikku dulu nyantri. Isteriku itu kuakui, dia lebih cantik dari Sarah. Tapi entah kenapa, hatiku kurang condong kepadanya. Hingga atas saran isteriku itulah, aku mendirikan pesantren Darussalam ini Ali.”
Ustadz Umair mengakhiri ceritanya. Embun di matanya sembab, aku ikut pula merasakan, betapa pedih dan beratnya perjalanan Ustadz Umair.
”Isteriku tahu kalau aku belum bisa mencintainya hingga kini, kau tahu Ali. Setiap hari aku selalu di Pesantren ini, kecuali hari minggu aku pulang untuk menemui isteri dan anak-anakku, itupun jika aku tak ada agenda kajian tambahan atau undangan. Aku merasa berbuat dzolim padanya, pada bidadari yang dipilihkan adikku. Pada anak-anakku, darah dagingku. Aku tidak ingin menyakiti bidadari yang begitu tegar hidup membina anak-anakku, hingga mereka semua menjadi soleh dan solehah,” isaknya terdengar bagaikan ratapan.
”Aku ingin saran darimu Ali, karena kumerasa sebenarnya kau juga mengalami hal yang mirip denganku. Tapi kau dapat mengatasinya?”
Aku kaget, degup jantungku seolah hampir berhenti. Ustadz Umair tahu? Padahal hanya aku dan Allahlah yang tahu. Apakah kekuatan perasaan yang sama, bisa mendapatkan gelombang resonansi yang terkait bisa terasakan.
Aku diam beberapa saat.
”Ustadz, aku sebenarnya tak pantas memberi masukan untuk Ustadz. Tapi Ustadz sepertinya sedang membutuhkan nasehat, bukankah Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Yang harus Ustadz Umair lakukan adalah mengupayakan cinta kepada isteri Ustadz. Tidak ada yang terlambat Tadz. Bukankah baginda Rasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya,”[5] berbuat baik disini bukanlah hanya tidak menyakitinya, atau melayaninya dengan baik, melainkan mencintainya dengan sepenuh hati, karena baginda Rasul amat sangat mencintai isteri-isterinya hingga jika beliau saw diundang selalu mencantumkan perhatian, ”Apakah isteriku juga diundang?” jika isterinya diundang juga maka Rasulullah akan datang pula.
Ustadz haruslah mencandainya, agar tumbuh rasa cinta diantara suami isteri, ”Rasulullah saw membolehkan dusta dalam tiga perkara ; peperangan, mendamaikan dua orang yang berselisih, dan pembicaraan suami kepada isterinya.[6] Ustadz harus terus berdoa kepada Allah agar cinta itu ditumbuhkan. Sarah yang telah meninggal, bukankah dia telah diambil oleh Pemiliknya. Ustadz harus memberikan cinta kepada orang-orang yang masih Ustadz miliki. Penyesalan akan terjadi, jika Ustadz mengecewakan karunia Allah berupa isteri yang shalihah.”
Jazakallah Ali, hayyakallah ya bunayya[7]. Aku akan mencoba mengikuti saranmu,” matanya masih berkaca-kaca, ”Seolah hadits yang baru kau baca itu baru kedengar sama sekali. Padahal dulu aku mempelajarinya, tapi kini aku langsung mendapat pengajaran darimu anakku.”
Aku sejenak terlelap dalam buaian angin sepoi kota Depok. Baru kutahu, aku sedang berhadapan dengan orang yang sebenarnya seorang sukses dalam berdagang, mungkin dia menyamakanku, karena kami sama-sama berusaha bekerja dan berwirausaha.
”Ali...,” Ustadz Umair menatapku, ”Aku ingin minta bantuan padamu,”
”Apa itu Ustadz?”
”Aku mempunyai empat orang anak,” beliau menatap langit bertabur gemintang gemerlap, ”Mereka semua telah besar dan mandiri. Anakku yang pertama laki-laki telah berusaha dan menikah dengan seorang muslimah lulusan UIN Yogyakarta. Dia seorang aktivis yang berkarakter, anakku yang perempuan dia telah menikah dengan seorang lelaki sholih lulusan University of Sudan dan akhirnya menetap di sana, karena sang suami menjadi duta besar disana. Dia pun mengabdikan dirinya menjadi Dokter di Sudan. Anakku yang ketiga dia menikah dengan seorang lulusan Al-Azhar Mesir S2 Hadits. Saat ini puteriku itu menemani suaminya menyelesaikan S3 nya, dan dia menyelesaikan S1 yang dilanjutkan dari UI ini.”
”Ketiga anakku yang telah menikah itu semuanya memercayakan jodohnya pada adikku yang telah banyak menunjukkan jalan padaku. Aku merelakan di setiap pernikahan anak-anakku, dialah yang menggantikanku sebagai walinya. Aku tak kuat mengikrarkan aqad nikah, karena aku merasa tak memberikan cintaku pada isteri dan anak-anakku. Aku memang lelaki yang kehilangan cintanya, aku orang yang menderita karena cinta tak ada dalam hatiku,” beliau mengusap bening di kedua sudut matanya.
”Kini, setelah kau berkata padaku tadi dan baru saja anakku datang menjengukku kesini, dia adalah anakku yang keempat. Seorang wanita, dia ingin aku yang menikahkannya, bukan adikku lagi seperti ketiga kakaknya. Aku tak bisa menolaknya Ali..., dia memintaku untuk mencarikan calon suami yang sholeh. Aku tak kuasa menolak tatapan matanya yang penuh cinta. Dia akan patuh pada calon yang akan kuberikan.
Lihatlah anakku itu, alangkah percaya dan cintanya padaku. Padahal, cintaku belum juga bisa tumbuh untuk isteriku. Aku ingin kau membantu meringankan bebanku ini Ali. Aku ingin kau membantuku mencarikan pasangan untuknya.”
”Tadz, insyaallah lelaki sholeh itu banyak. Disini juga banyak, insyaallah saya akan membantu sekuat tenaga. Saya juga kenal beberapa santri atau aktivis atau orang yang hanif saat bertemu di kala itikaf, juga saya kadang ke tempat pesantren lain untuk mengisi kajian ataupun mengikuti kajian. Ustadz tidak perlu pusing.”
”Anakku...,” dia menatap mataku, seolah menusuk tajam, ”Kaulah orangnya Ali, dia memintaku mencarikan orang yang benar-benar aku kenal, dan kaulah yang kukenal. Seandainya kau tidak mencintainya kau tidak akan pernah menyakitinya karena ilmumu anakku. Itulah masalahnya kenapa aku pusing. Saat kusebutkan namamu dia tampak memerah wajahnya. Dia mengenalmu, tapi kau mungkin belum tahu dia.”
Dadaku benar-benar sesak. Kupegangi dadaku agar jantung tidak jatuh. Dan bulan menyapaku merdu. Dia kenal denganku? Anak Ustadz Umair?


[1] Pembantu Keluarga Kyai
[2] HR At-Tirmidzi dan Ibnul Mubarak
[3] Philip Khotler
[4] HR Muslim
[5] HR Muslim
[6] HR Ahmad
[7] Semoga Allah selalu menjagamu, memberimu keberhasilan hidup wahai anakku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar