Sabtu, 19 Oktober 2019

Part 32, Menjemput Bidadari


Setelah judul skripsi kuajukan dan ternyata dari empat judul, akhirnya salah satunya disetujui juga. Aku berucap syukur. Setelah itu, selama seminggu menyusun proposal dan seminar ternyata semua dimudahkan Allah ‘Azza wa Jalla. ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[1]’ tidak ada ya Allah. Tidak ada yang kami dustakan sedikitpun. Teman-teman di Pesantren mengucapkan selamat dan mereka siap membantu jika dibutuhkan. Mata kuliah telah habis, aku bisa lebih konsentrasi menyelesaikan skripsi dan memikirkan usaha yang hendak kulakukan.
Pikiranku berkelebat, alangkah indahnya menyelesaikan skripsi didampingi seorang bidadari? Aku segera beristighfar. Hari ini aku juga harus mengisi khutbah jumat. Alhamdulillah telah kuseiapkan materinya tadi malam.
Saat hendak ke Masjid, Hp-ku berdering. Nomor pak Salim.
“Assalamu’alaikum. Ada apa Pak?”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah, bisa bicara selepas shalat Jumat?”
“Di Jakarta Timur Pak?”
“Tidak di UI, saya sudah di UI Insyaallah shalat jumat disini. Kamu bisa datang ke Masjid Ukhuwah Islamiyah Ba’da shalat?”
Subhanallah, kebetulan saya juga Insyaallah shalat disana Pak.”
“Dengan senang hati saya tunggu. Assalamu’alaikum.”
Aku menjawab salam dan hubungan terputus. Aku melihat jam tanganku pukul 11.30 menit. Aku bergegas naik Bikun. Kebetulan bikun yang ditumpangi pak Bejan. Aku duduk di dekatnya.
“Bagaimana kabarmu Ali?”
Alhamdulillah baik Pak. Bapak sendiri bagaiman?”
“Bapak Insyaallah selalu sehat. Ternyata kamu telah jauh berbeda dengan Ali yang pertama kali kukenal dulu ya, pantas...,” nada bicaranya gamang.
“Pantas kenapa Pak?” aku bertanya lembut.
Pak Bejan seolah ingin bicara sesuatu dari nada bibirnya, tapi segera kembali lagi seolah tak ada apa-apa.
“Bagaimana kabar si Farid, Hilwa dan Husein Pak. Lalu bu Yanti juga baik-baik saja kan?” aku bertanya tentang tiga putra-putrinya serta isterinya. Kebetulan dulu pernah bersilaturahim. Alangkah lucunya ketiga anaknya.
“Si Farid kini kelas 2 SMA, si Hilwa baru semester dua ini di kelas 2 SMP, lalu si Husein masih di SDIT kelas 3. Isteriku memang hebat, semua anakku mendapat ranking tiga besar semua,” senyum pak Bejan menampakkan kebanggaan. Dulu ketika bersilaturahim, si Farid masih kelas 3 SMP, ternyata waktu bergulir begitu cepat.
Saat senyum supir bikun itu tercipta, aku jadi teringat sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda “Ada empat perkara yang memberi kebahagiaan kepada seseorang. Jika ia mempunyai istri yang seiya sekata dengannya, putra putri yang berbakti, saudara-saudara yang baik dan bila rezekinya dapat diperoleh di tempat tinggalnya.[2] Kata Syaikh Abu Hamid Al Ghazali rahimallah menerangkan tentang hadits ini adalah ’apabila seorang istri memiliki hal-hal yang menyenangkan suaminya, yaitu kebaikan agamanya, kehalusan budi pekertinya, cantik parasnya, mempunyai anak, nasabnya yang baik, dan masih perawan ketika menikah.Karena banyak wanita maupun pria pada masa ini telah kehilangan nilai-nilai kesucian Ilahiahnya. Itulah nilai keindahan yang harus dijaga.
Tiba di depan Masjid. Aku turun, aku mengucapkan terima kasih. Pak Bejan seolah akan berkata sesuatu lagi, tapi tiba-tiba bibirnya terkatup kembali.
”Ali..., kamu bisa silaturahim ke rumahku lagi tidak, dalam beberapa hari ini. Ini sangat penting bagi kehidupan seseorang. Hanya kau yang bisa menolongnya!”
”Hanya aku?” Pak bejan mengangguk, ”Insyaallah, setelah segala urusanku sedikit longgar Pak.”
”Baiklah,” ada sedikit nada kekecewaan dalam raut wajahnya, ”Maaf, aku tidak bisa mendengarkan khutbahmu nanti. Aku langsung pulang ke rumah, ada keperluan. Aku Shalat di masjid sekitar rumahku itu,” aku mengangguk dan bikun melesat membelah jalan aspal, menyisakan sedikit debu dan sedikit asap knalpot. Aku segera menuju bilik Masjid, kesempatkan mandi. Tinggal beberapa menit lagi, kupakai surban putih yang kubeli di Pasar Minggu, sudah dua tahun namun warnanya masih jernih.
Aku masuk dari arah samping, sehingga dapat tempat dekat dengan mimbar. Aku shalat dua rekaat. Selesai shalat aku menyalami sesosok pria di sebelahku, dia sangat kukenal. Kak Nugroho.
Kaifa haluk ya Akhi?” sapanya lembut, senyumnya seteduh telaga kautsar.
Khoir, wa anta?
Kami sedikit berbincang dan beliau menanyakan beberapa hal, aku menjawabnya dengan tenang. Bukankah kak Nugroho sudah menikah empat bulan yang lalu, dan itu bertepatan dengan kepulanganku ke Lampung.
”Maaf Kak, waktu Walimatul Ursy, saya tidak datang. Saat itu Bapak saya meninggal dan saya harus pulang ke Lampung.”
”Iya, saya paham tidak apa-apa, yang penting doanya,” kami tersenyum.
Waktu telah tiba, si Amir sang muadzin memberi isyarat kepadaku. Aku maju ke mimbar. Aku mengucap salam dan adzan menggema indah ketika aku duduk.
”Jama’ah shalat jum’ah yang dimulyakan Allah. Mari kita bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, bukan pasrah dan menerima tanpa kerja dan usaha. Ketika kita tawakkal, maka anggota badan kita mulai kaki, tangan dan lisan kita harus bekerja keras seolah tidak ada tawakkal. Karena kita jangan berfikir tawakkal, tapi kerjakanlah kebaikan dengan sekuat tenaga. Janganlah kita pasrah dan berdiam diri menunggu ketetapan Allah dan tidak mau merubah kebiasaan buruk kita.
Allah swt berfirman, ”Katakanlah, ’Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah,[3] setiap hal harus dijemput dengan kerja keras dan kesungguhan. Berjihad di jalan Allah adalah menjemput kerja keras mengalahkan hawa nafsu kita. Dalam kehidupan ketika kita mencari rezeki, maka bertawakallah dengan sungguh-sungguh dengan bekerja secara profesional dan terarah.
Rasulullah saw bersabda, ”Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Allah akan memberi rizeki kalian seperti Dia memberi rizeki kepada burung  yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dengan keadaan kenyang,[4] bertawakkal dalam segala hal, jangan sedetikpun terlintas untuk memenuhi pikiran kita untuk meminta-minta. Jagalah izzah kita dengan kesungguhan dan kerja keras bukan bermalas-malasan dan membiarkan negara dipimpin oleh orang-orang yang tak paham agama. Saatnya Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti agama, sehingga tahu mana jalan menuju Tuhannya.
Rasulullah mengajarkan nilai berharga, Nabi mengajarkan ilmu yang dahsyat pada Ibnu Abbas ra. sewaktu kecil, ketika beliau berumur sepuluh tahun, ”Wahai Ghulam, aku akan mengajarkan padamu beberapa kata : Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu; jagalah Allah, maka kau akan dapatkan Dia di hadapanmu; jika kau meminta, mintalah kepada Allah; jika kau minta pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah, sekiranya satu ummat berkumpul intin memberi manfaat, mereka tidak akan memberikan manfaat kecuali telah Allah tulis untukmu. Demikian pula sekiranya mereka berkumpul ingin mencelakakanmu, maka mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali dengan apa yang telah ditulis untukmu. Pena telah terangkat, dan kertas telah kering.”[5]
Lihatlah keyakinan dan komitmen kita, masihkah ada keyakinan? Jika satu kota Depok sepakat memberi kita uang seratus ribu, mereka tidak akan mampu memberikan kepada kita kecuali dengan apa yang Allah tentukan. Pena telah terangkat, Ia tak akan menulis lagi. Maka tiada ada yang dihapus dari yang sudah ditulis? Tidak akan ada yang terdzolimi. Itulah keyakinan yang harus ummat Islam jemput untuk mencapai kemenangannya melawan hawa nafsu, untuk kemenangan dirinya dan umat Islam. Ingatlah, ’Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga kita.”
Selesai shalat aku sejenak berdzikir di masjid, sudah terlihat jama’ah bubar. Seseorang mendekatiku. Pak Salim, mungkin beliau akan menyerahkan uang pesangonku? Dia memintaku untuk bicara di luar, tidak pas jika di Masjid untuk membicarakan masalah dunia. Aku mengikuti langkahnya ke depan masjid. Kami duduk di serambi masjid.
”Khutbahmu begitu menyentuh. Aku memang banyak belajar darimu Ali,” saat kedua matanya menatapku tulus, aku membalasnya senyumannya.
”Pak Salim ada keperluan apa dengan saya?” aku memerhatikannya yang belum langsung ke pokok permasalahan. Jadwalku harus segera ke Pasar Minggu.
”Kau tahu, ada perubahan apa setelah kau mengundurkan diri dari kerja?” Pak Salim melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di kantong kemejanya.
”Saya tidak tahu Pak,” aku memang tidak tahu ada apa setelah aku pamit sewaktu rapat itu. Mungkin telah terjadi perampingan personalian dengan memberhentikan karyawan atau mungkin terjadi sesuatu?
”Aku mengambil keputusan untuk melakukan apa yang kau sarankan saat itu, walau dari para mereka ada yang tidak sepakat. Kurasa pendapatmu pada saat itu ada benarnya. Dan kini, aku datang mengucapkan terima kasih padamu. Berkat ide-ide sederhanamu, yang kamipun tak sempat memikirkannya para karyawan tidak ada yang diberhentikan. Perusahaan terlepas dari resiko kerugian yang kata pengawas tidak bisa dihindari. Saya datang juga mewakili teman-teman di kantor minta maaf, karena mereka meremehkanmu dan mereka mengajakmu untuk kembali. Mereka optimis untuk bisa membesarkan usaha ini bersamamu. Bersama ide-idemu,” matanya yang jernih, sejernih embun itu begitu tulus.
”Mereka terlalu berlebihan Pak, saya hanyalah orang desa.”
”Kau tahu, ide sederhanamu itu telah membuat omzet perusahaan naik, bahkan hotel yang kemarin telah sepi kini begitu ramai. Seperti kata-katamu, kami membuang semua isi gudang dan kami hias menjadi tempat pemutaran film-film yang baik, kadang kami adakan konser dari para pencinta seni. Para pengunjung hotel merasa puas, dan akan menjadi langganan tetap. Rumah makan yang telah diedarkan surat resmi dari MUI, kemudian bukti keaslian bahan bebas dari bahan-bahan pengawet, kami iklankan di koran dan kami tempel di tempat pengumuman, ternyata mengembalikan para pengunjung. Mereka merasa terpuaskan dan akan kembali jika ingin makan.”
”Kau juga yang menyarankan untuk produk makanan, untuk dapat segera dipatenkan, lalu diperiksakan kebersihannya di dinas kesehatan dan untuk lebih menguatkan kami serahkan ke MUI untuk diperiksa. Kebetulan teman saya banyak disana. Setelah itu kami menempel copy-nya, di pengumuman dan kami iklankan juga di koran. Kamu harus tahu, respon dari masyarakat menyambut baik dan mereka merasa senang dengan perusahaan yang terbuka kepada publik. Tidak ada yang disembunyikan, atau tidak ada label resmi tentang kebersihannya dari bahan-bahan sejenis pengawet, dan bahan berbahaya lainnya. Dan satu hal lagi yang lebih patut kau tahu dari saranmu Ali.”
”Apa itu Pak?”
”Analisamu tentang keberkahan harta telah terjawab. Pak Rangga yang mengurusi bagian keuangan sekarang sedang menjalani proses hukum. Ternyata benar, laporan keuangan seluruh usaha diperkecilnya, dan dia bekerja sama dengan oknum pihak pajak untuk meraup keuntungan pribadi. Kau telah menyelamatkan banyak asset perusahaan Ali, aku bahagia pernah berkenalan denganmu. Banyak para karyawan, baik yang sudah mengenalmu atau belum, mereka ingin kau bekerja sama lagi bersama mereka. Aku mewakili yang lain untuk meminta maaf padamu. Mereka mengakui kalau mereka juga pada awalnya meremehkanmu.
”Dari awal sebenarnya aku sudah percaya pada kemampuanmu. Karena orang yamg mengirimmu, adalah orang yang hebat dan kau pasti telah melalui ujian-ujian darinya. Kini aku mempunyai tawaran untukmu Ali, aku akan menempatkanmu di bagian pengawasan sebagai CEO[6], aku berharap kau mau kembali bekerja bersama kami, dan akan kunaikkan gajimu menjadi sepuluh kali lipat. Itupun sebagai awal, jika kau bisa memberi ide-ide yang lebih baik, maka gajimu akan perusahaan naikkan. Bagaimana?”
Hatiku berdesir kembali, detak jantungku berdebar lebih cepat. Alangkah cepatnya Engkau memberi jawaban atas doa-doa hambaMu ya Allah. Kudengar lagi kata, ’Orang itu’ pasti itu Ustadz Umair. Seolah ini bagaikan mimpi yang nyata, ”Saya siap kembali bekerja sama, tapi ada satu syarat?”
”Jika bisa kita bicarakan mungkin bisa disepakati,” pak Salim mengangguk.
”Saya mau bergabung kembali, jika waktunya sesuai dengan kemauanku, maksud saya seperti ini. Ehm..., saya akan selalu berangkat kerja, jika waktu saya longgar di luar jam kuliah, karena saya sedang menyelesaikan skripsi. Lalu, jika saya ada kepentingan dakwah izin saya tidak dipersulit, walau begitu saya akan bekerja secara profesional. Saya akan berusaha mengoptimalkan tenaga dan pikiran, untuk kemajuan usaha. Dan satu hal lagi yang ingin kutanyakan. Apakah yang Bapak bilang dengan ’Orang itu’ adalah Ustadz Umair?”
Pak Salim menatapku dan mengangguk, ”Benar. Dia adalah Ustadz Umair, pemilik Pondok Pesantren Darussalam, dan seluruh syaratmu aku terima,” beliau menyalamiku. Ternyata Ustadz Umair adalah orang yang masih misterius, entah apa yang masih disembunyikannya. Biarlah waktu jua yang akan menjawabnya kelak.
”Hari ini, isteri dan adikku sedang memasak makanan kesukaanku. Bagaimana kalau untuk memperkuat ikatan kerja ini, kau makan di rumahku. Kau juga belum pernah sekalipun ke rumahku. Bagaimana?”
”Tapi Pak, aku belum mengganti pakaianku. Saya juga harus menyelesaikan skripsi saya,” aku berusaha menolak, tapi bingung alasannya.
”Skripsi itu tidak usah ngoyo, jika kau mau, aku yakin kau dapat menyelesaikannya dalam waktu dua hari saja. Atau kau ingin kupaksa, siapa tahu kau tertarik dengan adikku si Zahra. Siapa tahu kalian berjodoh. Dia cantik lho, banyak pemuda yang terpikat padanya, tapi selain cantik, dia Insyaallah shalihah.”
Mendengar itu aku tak berani lagi menolak. Mendengar kata jodoh, sebuah harapan tiba-tiba terbersit untuk mengukuhkan keimanan dan ibadah kenikmatan. Kenikmatan, agar manusia dapat mencicipi surga dunia. Bukankah ini juga termasuk ikhtiar untuk mencari istri? Terpaksa aku masuk ke mobilnya, lalu kami meluncur. Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari kompleks Terminal Depok. Rumah yang tidak semewah yang ada dalam bayanganku, rumah pak Salim sederhana dan anggun. Taman yang indah terhampar mesra di sekeliling rumah itu.
”Ayo masuk, Insyaallah makanannya telah tersedia.”
Aku turun. Pak Salim memencet bel, dan sejurus kemudian seorang wanita keluar sambil menggapai tangan pak Salim dan menempelkannya di keningnya. Mereka mempersilakanku masuk, pak Salim masuk ke dalam rumah sebentar, lalu keluar lagi dan menemaniku berbincang-bincang.
”Aku mempunyai seorang Paman di Pesantren Darussalam. Mungkin engkau kenal.”
”Siapa dia Pak?”
”Dia salah satu Ustadz disana, namanya Muhammad Wahid Al-Faza. Biasanya beliau sering dipanggil Ustadz atau Syaikh Wahid.”
Subhanallah, jadi beliau itu paman pak Salim?”
”Iya,” aku jadi teringat tentang lamaran yang beberapa bulan yang lalu. Dalam hatiku ingin menolak, tapi ternyata calon yang diajukan Ustadz Wahid ternyata juga sama denganku.
Istri pak Salim keluar, membawa teh dan satu toples kue. Nama istri pak Salim adalah Nurul Fadhilah. Wanita itu lalu di dekat suaminya, saat teh yang telah mulai hangat itu kuangkat dan kuminum sedikit, seorang wanita berjilbab keluar dari dalam dengan membawa buah-buahan. Mataku terpana sejenak melihatnya, bukan karena cantiknya, tapi karena aku kenal betul siapa wanita itu. Dia adalah Mawar.
Aku tersedak tiba-tiba. Mata kami sempat bertatapan sejenak, lalu kami sama-sama menunduk. Tiba-tiba desiran halus itu menyusup, menciptakan suasana aneh di hatiku. Segera kutata hatiku sekuat tenaga, bukankah dia sudah menikah. Aku harus sadar, Allah tolong hambaMu. Mawar menaruh piring berisi buah-buahan itu di meja.
”Tadi itu Adikku yang terakhir, namanya Zahra. Mungkin kau kenal karena dia juga kuliah di UI. Kau ingat sewaktu menolongku di komplek UI. Saat itu aku baru saja mengantarkan kedua adikku. Adikku yang ketiga dan keempat kembar, saudara Zahra yaitu Wardah sudah menikah dengan Ilham, Mahasiswa pasca sarjana dan kini sedang menyelesaikan program Doktornya, dia membawa Wardah ikut ke Mesir, karena kebetulan suaminya juga diamanahi menjadi bekerja di kantor KBRI di Mesir sekaligus meneruskan S3. Bagaimana? Aku tidak bohong kan, adikku cantik bukan?”
Aku menyambut senyum ejekan pak Salim, hatiku semakin mendesir-desir mendengar penjelasannya. Hanya Allah dan diriku yang tahu, apa yang ada di dalam hatiku mencerna kata-kata pak Salim barusan. Jika kembar, yang manakah yang Mawar, ataukah tidak ada dari keduanya?
”Bukankah engkau yang mengisi Tausyiyah acara Walimatul Ursy saat pernikahannya Wardah?” aku hanya mengangguk, ”Setelah acara, aku mencarimu tapi kau telah pulang,”
Pak Salim mengajakku makan di ruang tengah. Makanan telah disiapkan, begitu banyak menu yang disediakan. Aku makan berdua dengan pak Salim, Istrinya dan Zahra tidak ikut makan bersama.
”Bagaimana? Engkau mau maju untuk melamar adikku Zahra?”
Aku terbatuk-batuk karena tersedak. Aku mengambil air putih lalu menenggaknya, tiga tegukan, ”Saya mawas diri Pak, siapalah aku. Aku hanya orang desa. Tanyakan saja pada adik pak Salim itu, baru setelah itu Bapak tanyakan kepada saya.”
”Baiklah, nanti Insyaallah kutanyakan padanya. Kemarin Zahra curhat pada istriku, dia sedang mencari suami yang bisa membimbingnya, dan dia tidak minta kriteria yang aneh-aneh. Dia hanya mengingingkan lelaki yang sholeh, sekarang dia sedang menyelesaikan skripsinya,” kami meneruskan makanan kami. Ada soto lamongan, ada sayur kuah wortel dan ada sayur jamur. Dalam hatiku, ada satu bagian yang menginginkan agar pak Salim benar-benar mengatakan pada Zahra, karena gadis itu sangat cantik, Insyaallah shalihah. Di satu sisi, aku harus menjaga izzahku.
Setelah makan pak Salim mengantarkanku hingga ke Pesantren.
”Salamku untuk Ustadz Umair ya?”
Insyaallah,” mobil itu kembali melaju, menghilang di senjanya sore hari.
Langkahku melangkah, pikiranku masih melayang. Mawar! Zahra yang kembar dengan Wardah, yang menikah tempo lalu adalah Wardah. Seseorang memanggilku dari luar gerbang Pesantren. Pak Purwiro.
Aku berbalik arah. Dan menyalami beliau.
”Sudah lama Bapak tidak kelihatan di Masjid?”
”Maafkan aku Nak, aku baru saja pulang dari Bali. Biasa ada klien,” senyumnya kini sejuk, jauh ketika membandingkan beliau dulu dengan sekarang. Aku jadi tidak enak, sewaktu pernikahan anaknya si Laila, yang dulu pernah kutemui saat aku menyerahkan koran-koran yang menumpuk. Aku tidak dapat hadir, karena bertepatan ketika aku harus pulang ke kampung dan menjaga Fajar saat operasi.
”Memang manusia hanya bisa berencana dan berusaha, tapi Allah jualah yang menentukan hasilnya,” pak Purwiro menghembuskan napasnya panjang.
”Memangnya ada apa Pak?”
”Aku berencana menikahkan puteriku denganmu Nak, tapi ternyata ada seorang lelaki yang datang dan melamar anakku, yang baru mulai berkomitmen memakai jilbab sekitar seminggu. Laila puteriku langsung menerima lamaran itu, karena dia yakin Hamdi bisa menuntunnya kepada kebenaran. Hamdi adalah salah satu lulusan Pesantren ini.”
”Semuanya sudah tertulis Pak, tidak usah khawatir. Bapak juga punya keinginan menikahkanku dengan Laila, Laila memang pantas mendapatkan orang yang baik. Lha, saya, bukankah tidak seimbang dengan Bapak,” aku tersenyum.
”Kau ini Nak Ali, selalu merendah terus,” kami berpisah.
Malam itu, setelah kajian shirah nabawi dan sirah sahabat. Aku mampir ke masjid, biasanya ada Ustadz Umair. Aku ingin menceritakan kisahku siang ini, saat bertemu dan berbincang-bincang dengan pak Salim.
”Kemarilah Ali, aku ingin cerita sebuah rahasia padamu,” ketika mulutku ingin bercerita, ternyata Ustadz Umair mendahuluiku. Mungkin penting, dan urusanku tidaklah terlalu penting, ”Aku ingin menceritakan kisahku padamu, tapi kau harus menyembunyikannya. Aku percaya padamu. Setelah itu, kamu boleh menilai aku apa saja. Kisah ini belum pernah kuceritakan pada siapapun, kecuali Allah yang Maha Tahu. Berjanjilah kau tak akan menceritakannya pada siapapun.”
Insyaallah Tadz.”



[1] QS Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) : 13
[2] HR Nasa’i
[3] QS Al-Anbiya’ : 42
[4] HR At-Turmudzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad
[5] HR At-Turmudzi dan Imam Ahmad
[6]   Chief Eksekutif Officer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar