Sabtu, 19 Oktober 2019

Part 31, Surat Terindah dari Ibu

Akh…, dapat surat dari Lampung! Surat dari Lampung!” matanya berbinar ketika masuk ke kamar sewaktu lantunan murottal menentramkan hati, sewaktu aku sedang menyetrika baju-bajuku. Tangannya menggoyang-goyangkan amplop putih bertanda cap post itu. Hatiku langsung bungah.
“Sini Hid,” Syahid masih menimang-nimang surat itu.
“Jangan bercanda Hid, atau kugosok kau nanti,” aku mengancamnya. Sambil mengangkat kedua telapak tanganku, dia lalu menyerahkan amplop itu dan tersenyum menatapku, “Aku sangat bahagia ketika melihat senyummu Akh,” aku tersenyum kearahnya. Persahabatan yang indah bagiku.
Aku teringat surat dari Wanda sebulan lalu. Surat yang kurasa dibuatnya karena keputus-asaan yang mendalam. Jika mau jujur, jika Wanda tidak mau menikah dengan Jamaaluddin kenapa dia mau menerima pinangannya? Rasa cinta haruslah kepada orang yang telah resmi menjadi istri atau suaminya, bukan cinta menggebu-gebu yang tidak ada ikatan. Kecuali syetan telah menggiringnya dalam lembah kehinaan.
Beberapa hari yang lalu, saat aku ke Rektorat bersama Hanif, aku melihat Wanda sedang bersama suaminya, bergandengan tangan dengan mesra. Mereka tidak melihatku, dan aku pura-pura tidak melihat mereka. Aku jadi yakin kini pada awal pernikahan setelah akad terjadi, dan bersama dalam malam Zafaf serta bulan madu, semua kenangan dengan kekasih atau yang dicintai selain suaminya akan lenyap. Ia hanya akan mencintai suaminya, orang yang pertama menyentuhnya.
Aku jadi teringat kembali pesan Ibnu Qayyim rahimallah, beliau berkata, “Ketika orang lain bergantung pada dunia, gantungkanlah dirimu kepada Allah, ketika orang lain merasa gembira dengan dunia, jadikanlah dirimu gembira karena Allah, ketika orang lain merasa senang  pada kekasih-kekasih mereka, jadikanlah dirimu bahagia dengan Allah. Dan ketika orang-orang pergi menghadap raja-raja dan pembesar-pembesar mereka, untuk mengais harta dan mencintai mereka, jadikanlah dirimu benar-benar mencintai Allah.” Dahaga cintaku terpuaskan oleh lautan untaian Ibnu Qayyim.
Dalam hal ini, dapat kupahami bahwa cinta Allah yang besar akan dapat menggetarkan hati, sehingga jika di hatimu dipenuhi cinta kepada Allah, maka dengan sendirinya cinta kepada wanita, harta akan tersingkirkan. Kita akan sibuk memikirkan Allah, dan rindu yang menyesak dada maka teringatlah kita pada doa Rasulullah saw, “Ya Allah, aku minta padaMu kenikmatan melihat wajahMu yang mulia, dan aku minta kerinduan bertemu denganMu,”[1] rindu adalah puncak kecintaan. Jika hati kita tidak mencintai Allah dengan kesungguhan, maka syetan akan memasuki hati kita dengan cinta pada syahwat; baik harta maupun wanita, sehingga ada orang yang gila karena harta maupun karena wanita.
Kenapa ada cinta yang membuat manusia tersiksa, karena rasa rindunya yang teramat sangat? Jawabannya sangat sederhana. Karena mencintai sesuatu yang tak abadi, dalam arti selain Allah maka kesempatan untuk kehilangan pasti ada, sehingga menimbulkan kecemasan dan keraguan dalam segala tindakannya. Jika mencintai makhluk Allah, maka kesempatannya ada dua, yaitu yang pertama kita akan diterimanya, namun juga masih ada kesempatan berpisah dan itu menimbulkan keraguan serta kecemasan juga. Yang kedua adalah kesempatan di tolak, dan itu yang akan membuat seolah dunia hancur menimpamu, karena perasaan kita sendirilah yang menjerumuskan dalam lubang kehinaan.
Satu hal yang terpenting yang patut dicatat, oleh setiap makhluk hidup, bahwa apabila mencintai Allah, Dzat yang menciptakan kita penuh cinta dan kasih sayang pasti cinta kita akan diterima.  Kita tidak akan pernah merasa kehilangan, dan hilang sudah semua kecemasan dan keragu-raguan. Tidak akan ada makhluk yang dapat merebut Allah dari hati kita. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita kecuali kita sendiri yang meninggalkanNya. Cinta itu indah sebenarnya, jika kita bisa mamaknainya dengan hati kita, bukan dengan rasio semata kita. Cinta menyembuhkan segala macam penyakit, dan itu membahagiakan. Itulah cinta sejati, cinta pada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sekarang coba kita cerna dengan akal kita, “Tidak ada yang aneh ketika seorang hamba mencintai tuannya, tetapi sangat aneh. Sungguh sangat aneh ada tuan yang mencintai hambanya,” itulah Allah yang mencintai hamba-hambaNya. Manusia diciptakanNya tapi dicintaiNya. Rasulullah saw bersabda, “Innallaa Halaa Yan Dzuru Ila Suwarikum Wa Amwalikum Walakin Yan Dzuru Ila Quluu Bikum Wa A’maa Lakum, Allah tidak memandang pada rupa-rupa dan harta-harta kalian, tetapi Ia memandang pada hati-hati dan amal-amal kalian,”[2] jujurlah pada hati kita, dimanakah letak ketidak adilan Allah? dimanakah letaknya Allah tidak cinta dan tidak mengasihi kita? Semua manusia dicintai Allah, bukankah itu indah dan menenangkan hati?
Dalam sebuah hadits Qudsy, Allah ‘Azza wa Jalla menjabarkan cintaNya, “Dan hambaKu senantiasa mendekat kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah (Nawaafil), sampai Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar; Aku menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat; Aku menjadi tangan yang dia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepadaKu, pasti Aku kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepadaKu, pasti akan Kulindungi.” Hati siapa yang tak akan bergetar mendengarkan firman Allah ini? Sampai Allah begitu sayang sehingga pasti dikabulkan dan diberi perlindungan. Seluruh organ kita selalu dituntunNya seandainya Allah mencintai kita. Aku melelehkan airmataku.
Begitulah cinta, dari zaman nabi Adam hingga kiamat nanti. Selalu indah dan menyejukkan jika kita tahu rumusnya. Aku kembali bertasbih.
Aku membuka surat itu perlahan, hatiku membuncah rindu tak terukur oleh apapun. Dalamnya lautan dapat diukur, tapi dalamnya hati tak ada yang bisa mengukur kecuali Rabb Semesta Alam.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Anakku tercinta di Depok
Salam terindah dari keluarga di Gedung Dalam Baru, salam terindah dari para perindu selayak bidadari-bidadari yang mengintip dari balik-balik daun, Yang mata mereka begitu lentik seumpama embun-embun yang jernih lagi jeli, yang siap menyatu dengan bumi menciptakan penghidupan bagi kehidupan.
Semoga cinta dan kasih sayang Allah selalu untukmu Le..., dimanapun dan kapanpun engkau berada, dalam keramaian ataupun kesendirian, dalam waktu luangmu maupun waktu sempitmu, dalam belajarmu menuntut ilmu maupun dalam pekerjaanmu, dalam lelahmu juga dalam tidurmu, Ibu tak pernah lupa selalu mendoakanmu, hingga wajahmu selalu terbayang dalam ingatan ibu siang dan malam, ibu selalu melihatmu bersinar dari segala ruang saat bintang menemani bulan yang purnama.
Airmataku menetes, aku tahu siapa yang merangkai kata-kata sehalus dan seindah ini, dia pasti Yasmin. Dia ingin memberikan segenap cintanya dalam setiap goresan penanya. Ibu, kaulah penyejuk kalbu, setiap tuturnya, setiap senyumannya, setiap kedipan matanya, setiap marahnya, gelisahnya, setiap desah nafasnya, tatapan cintanya, setiap gerak-geriknya, setiap lakunya, semuanya adalah cinta dan kerinduan yang nampak melekat padanya. Terlalu sedikit yang bisa kuceritakan tentang Ibu.
Buih dimataku menetes, bagaikan embun yang terkumpul di ujung daun dan jatuh menyuburkan bumi. Aku meneruskan membaca surat Ibu.
Umurmu kini telah 22 tahun. Mungkin sudah saatnya engkau menikah, dan mencari Bidadari yang akan memberikan ibu momongan agar ibu dipanggilnya ’Nenek!’  Ibu akan mengangkatnya tinggi-tinggi dan kudekatkan pada bintang yang gemerlapan menerangi langit, agar anakmu dapat memetik bintangnya kelak. Dari sorot matamu yang lelah, Ibu menangkap bahwa bidadari itu sudah dekat denganmu, kau pilihlah sendiri bidadarimu. Ibu sangat percaya padamu, karena keyakinan cinta kita yang kuat dan abadi.
Ibu mencintaimu dengan segala kelemahan Ibu. Ibu tak kuasa memberimu lebih, tapi bukankah Allah hanya melihat isi hati-hati kita, mana yang sungguh-sungguh menaatiNya, dan mana yang hanya berpura-pura mencintaiNya. Setidaknya hati Ibu telah kucurahkan sekuat Ibu, untukmu dan adik-adikmu, Ibu tak kuasa memberi kalian lebih, hanya doa Ibu..., hanya doa Ibu...
Aku memejamkan mataku. Genangan embun di mataku menetes, basah pipiku. Alangkah besar cinta yang kau berikan Ibu, dan kau masih merasa bersalah karena kurang mencintai kami? Ibu..., engkau bagai pelita di hati-hati kami yang merindukan surga, untuk melepaskan kelehan dan segala dahaga. Ibu, harus dengan apakah kami membalas cintamu yang tak bertepi?
Ibu tahu Le..., Ibu sudah berumur. Entah berapa lama lagi sisa umur Ibu yang digariskan Allah swt. Ibu tidak tahu Le..., sampai kapan Ibu bisa membersamai kalian bertiga untuk bertahan di bumi. Ibu juga sangat kangen sama Bapakmu. Ibu merasa bersalah, bersalah padamu Le..., karena tanggung jawabmu semakin besar. Entah sudah berapa banyak peluh dan darah yang kau peras untuk kebahagiaan Ibu dan adik-adikmu. Ibu merasa bersalah padamu Le...
Air mataku terus bercucuran. Ibu tak bersalah sama sekali, cinta Ibu sudah cukup membuatku bahagia, sangat bahagia. Ihsan-lah yang banyak menyusahkan ibu, membuat Ibu marah. Allah begitu agung Engkau. Kau kuatkan ikatan cinta kami, Kau kuatkan pula keimanan kami untuk selalu merindukanMu.
Banyak perubahan yang terjadi setelah kepulanganmu tempo hari, itulah yang membuat Ibu sangat berbahagia dan juga bersedih. Ibu tidak tahu seperti apa kehidupanmu di Depok, Ibu sangat tahu dirimu Le..., Ibu sangat tahu, karena ikatan darah kita berasal dari satu aliran. Kau tak ceritapun Ibu sudah tahu, kau sangat keletihan dan kepayahan, namun sandiwaramu begitu meyakinkan dunia bahwa kau tenang seolah tak ada beban. Tapi, Ibu tahu kau sangat kepayahan disana. Ibu merestuimu untuk menikah, tak usah kau risaukan tentang adik-adikmu. Yasmin dan Fajar juga ingin cerita kau baca saja surat mereka.
Ibu sangat mencintaimu Le..., sangat. Ibu mencintaimu karena Allah.
Ibumu
Tiada orang lain di dunia ini yang begitu memahamiku, kecuali kalian berdua, Ibu dan Bapak. Kita akan berkumpul lagi kelak, Allah izinkanlah pertemuan terindah kami nanti bersama barisan orang-orang mukmin.
Aku membuka surat yang masih terlipat di amplop.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kak Ihsan yang dicintai Allah
Kami tulis kala langit desa tampak sejuk dan sedikit mendung,
Kala Allah menggerakkan matahari mendekati waktu Maghrib, dia tutupkan siangNya sehingga berganti malam untuk menyeimbangkan kehidupan. Ketika tiada lagi cahaya matahari, bulan purnama menerangi kehidupan kami, kehidupan kedua adik Kakak, Fajar dan Yasmin. Kakak-lah pelita Bulan itu, Kakaklah penerang dalam redupnya gelap yang kami lewati, Kakaklah bulan penerang dalam hati-hati kami, Kakaklah yang menantang badai untuk memberi sinarnya pada kami.
Airmata kami memburai saat tulisan ini tergores pada kertas ini,
Kak Ihsan..., pengorbananmu laksana bendungan yang menahan ombak besar, kau korbankan dirimu untuk kami agar menemukan kedamaian. Malam ini tengah malam, kami bersama mengingatmu. Kakak pasti kini sedang kelelahan, jika kami ada di dekatmu akan kami pijit dan usap semua tanda-tanda keletihan Kakak dengan cinta dan rindu kami.
Kami tersenyum rindu dari desa,
Kakak boleh tersenyum kini. Yasmin telah berusaha sekuat tenaga menekuni dunia Jurnalistik seperti yang kakak pesankan sewaktu berangkat lagi ke Depok. Puji dan syukur hanya milik Allah yang Maha Menentukan, Yasmin berusaha keras walau tak bisa sekeras Kakak disana. Yasmin mendapatkan juara I penulisan artikel di Unila khusus pelajar, lalu karya-karya Yasmin berupa cerpen sering dimuat di Lampung Post, terakhir kali novel Yasmin sebentar lagi launching oleh Penerbit sekaliber Nasional. Kakak tahu cerita novel itu?
Novel yang kutulis itu adalah cerita Kakak yang berjuang keras demi menuntut ilmu dan bekerja keras untuk membantu  membiayai keluarganya. Kata mereka novel Yasmin banyak membuat mata menjadi menangis dan tersentuh begitu membacanya. Kak, semuanya adalah petunjuk Kakak, kesuksesan Yasmin adalah kesuksesan Kakak, kesenangan Yasmin adalah kesenangan Kakak, kebahagiaan Kakak adalah kebahagiaan Yasmin. Cepatlah Kakak menikah, Yasmin ingin punya kakak Perempuan nih! Ok? Insyaallah Yasmin kini bisa mengurusi biaya kuliah Yasmin walau tidak sepenuhnya. Tapi kebahagiaan Kakak, adalah yang utama. Menikahlah Kak, kami mendukung dengan sepenuh doa.
Eh..., Kak Fajar juga mau cerita. Sudah dulu dari Yasmin, adik Kak Ihsan yang paling cantik. He..he..he..
Dasar Yasmin! Masih bisa-bisanya bercanda. Aku bangga padanya.
Kak Ihsan di selimut kelelahan
Dari desa, aku menatap punggung Kakak yang terasa lelah. Dari desa kupandang Kakak rasanya semua tulangku ikut remuk. Fajar selalu menyusahkan Kakak, kakak menjadi motivasiku yang selalu hidup dalam hatiku, tidak seperti motivasi dalam buku yang hilang setiap saat dan muncul kembali tapi semangat dari Kakak selalu tumbuh setiap saat di hatiku.
Kakak juga harus bangga pada Fajar. Setelah Fajar, ketika hanya bisa berjalan dengan besi penyangga. Fajar berusaha keras agar tidak lagi mengecewakan Kakak. Fajar berjuang, Fajar tidak akan tidur nyenyak jika tidak bisa membuat Kakak tersenyum. Fajar belajar dengan sungguh-sungguh dan akhirnya hasil semester kemarin Fajar mendapatkan peringkat ke-dua di Fakultas Hukum.
Fajar berjuang lagi, sekarang yang bisa Fajar lakukan adalah menyanyi. Fajar berlatih dan belajar hingga kukurangi waktu tidur Fajar, karena kutahu Kakak juga jarang tidur nyenyak disana. Wajah Kakak selalu hidup di hatiku, itu yang membuat semangatku berkobar. Kau tahu Kak..., walau kakiku masih lumpuh kini Fajar selalu dapat order untuk melantunkan Nasheed di acara walimatul Ursy, atau acara kajian-kajian Islam.
Kata mereka suara Fajar lembut dan meneduhkan hati, dan merasa lebih dekat kepada Sang Pencipta. Fajar hanya mau melantunkan lagu-lagu yang bermuara pada Allah, Fajar tidak akan pernah mau bernyanyi jika muaranya pada syahwat dan dunia. Seorang pemilik studio musik menawari membuat album, dan alhamdulillah berhasil lancar. Nilai penjualannya tinggi untuk kategori pemula Kak. Kau yang membuat kami bangkit Kak, pengorbananmu tidak akan pernah kami sia-siakan.
Bersama ini, Insyaallah menyusul kaset lagu Fajar dan buku yang ditulis Yasmin. Tunggu ya Kak, dan Menikahlah Kak. Kami sangat bahagia jika Kakak menikah. Aku ingin segera punya ponakan yang akan aku ajari menyanyi dan akan kubuat dia menggemparkan musuh-musuh Allah dengan musik pengobar jihadnya.
Eh..., anak Kakak nanti aku ajari dia menulis agar menjadi penulis seperti ibnu Qayyim al Jauziyah. Yasmin.
Ini nomor telepon keluarga, Kakak bisa langsung kasih kabar jika ada apa-apa. Aku membelinya untuk mempermudah berkomunikasi, apalagi kalau nikahnya tiba-tiba. He..he..08xxxxxxxxxx
Salam dari keluargamu di Gedung Dalam Baru
Yang mencintaimu dengan sepenuh hati, di jalan Allah.
Aku sujud syukur, betapa agung Engkau ya Allah. Kau berikan kenikmatan yang luar biasa pada hambaMu yang tidak mampu sempurna mencintaiMu. Kau begitu sayang kepada hambaMu, walau Kau tahu ibadahku kepadaMu tidak akan pernah dapat mengganti satu nikmat biji mata saja. Allah, kenapa manusia sering ingkar? Jangan jadikan hambaMu sedikitpun ingkar, jadikan hati hamba selalu menetapi cintaMu dan bersyukur dengan kesungguhan. Amiin.
Tiada kubahagia sebahagia malam ini. Adik-adikku telah berusaha keras untuk membuktikan kepadaku, mereka tidak mau kalah pada kakaknya. Aku pun akan berusaha keras untuk tidak kalah, aku harus segera menyelesaikan skripsiku, sekarang aku sudah tidak bekerja di ’Zahra Corporation’, mungkin besok aku akan meneliti usaha apa yang mempunyai potensi, lalu untuk menutupi biaya aku masih harus menjadi kuli lagi. Aku juga telah mempelajari banyak hal ketika menjadi kuli, usaha-usaha telah aku teliti, tinggal memilih mana yang cocok untukku.
Satu hal yang paling penting untuk memenuhi kebahagiaan Ibu dan adik-adikku, terutama diriku. Mencari bidadari yang Allah masih menutupkan tabirnya untukku. Akan kujemput segera. Aku tidak akan mencari dengan kriteria yang meninggi, aku hanya mencari yang sholihah dan menerima aku apa adanya. Hatiku berucap doa berulang-ulang. Syahid telah tidur, aku mengambil wudhu, shalat dua rekaat dan tidur dengan senyuman terindah untuk Allah, untuk menjemput sang bidadari.


[1] HR Imam Ahmad
[2] HR Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar