Jumat, 18 Oktober 2019

Part 30, Semangat Kesuksesan


Sepulang kuliah hari ini, aku punya rutinitas baru. Setelah shalat Dzuhur berjamaah aku berangkat ke Jakarta Timur, kebetulan ada sepeda di Pesantren dan Ustadz Umair mempersilakan aku memakainya. Kukayuh sepeda, sambil menikmati semilir angin sejuk kota Depok. Pori-poriku sejuk, terpaan angin kadang menampar mataku hingga harus berkedip-kedip, menghilangkan debu yang nyasar masuk hingga membuatku mengucek-nguceknya. aku terus mengayuh.
Aku jadi teringat masa kecilku, kenangan itu amat kuat terbayang bagai layar monitor yang terbentang di depanku. Kenangan itu semakin kuat, ketika aku mengejar Mawar. Aku melewati bukit terjal, mengebut dan, ‘brakk!’ aku terjatuh akibat penghalang kayu yang jatuh dan menghalangi jalan. Aku mengaduh, lutut kakiku berdarah-darah. Tapi keyakinanku begitu kuat, hingga rasa sakit itu seolah hilang sama sekali. Aku kembali mengangkat sepeda itu dan melewati kayu lalu kukayuh kembali.
Aku melihat mobil itu, dimana Mawar kecil berada di dalamnya. Aku nekad menuruni lereng dan begitu cepat saat mendarat di aspal mobil itu telah mendahuluiku. Kulihat Mawar melambaikan tangan, mataku terpaku sejenak menatapnya. Tak kusadari sepeda melaju tanpa kutahan dan aku terjungkal.
Aku membuyarkan semua lamunanku. Kenangan itu perlahan menghilang. Kalau saja waktu itu, aku kuat menjalani segala sesuatu karena keyakinan yang kuat. Kini, keyakinanku melambung demi sebuah keyakinan yang lebih suci, keyakinan yang lebih abadi, keyakinan yang terindah. Keyakinan untuk menetapi Allah, Ibu dan adik-adikku. Aku pasti bisa. Bismillaa hirrahmaan nirrahiim.
Aku memarkir sepeda di tempat parkir, ada beberapa sepeda juga disana. Areal parkir dibagi tiga ruang, yang pertama di sebelah kanan untuk mobil, ruangan kedua yaitu di sebelahnya untuk kendaraan bermotor, dan di sebelah kiri adalah untuk sepeda. Mataku kembali menatap papan nama yang dicetak besar, di gedung menjulang di depanku itu. Zahra Corporation. Nama siapa yang digunakan pak Salim untuk dijadikan perusahaannya. Aku tersenyum, alangkah cintanya seorang suami kepada isterinya, sehingga menjadikannya namanya untuk nama usahanya. Pikiranku melayang akan keinginanku menikah tempo waktu, tetapi kuyakin dengan bersabar Allah akan memberikan yang terbaik. Aku yakin padaMu ya Allah. Aku melangkah masuk.
Aku sempatkan mengobrol sebentar dengan satpam yang ramah itu, namanya Sugiarto. Dia disini atas saran Ibunya, yang ternyata dulu pernah bekerja di rumah Pak Salim. Setelah Ibunya sudah tak sanggup lagi bekerja karena telah senja, maka dia meminta anaknya dari desa untuk menggantikannya, mengabdi kepada keluarga Pak Salim. Sebenarnya Sugiarto diminta membantu di Solo, untuk toko buku tapi dia memilih menjadi Satpam, karena dia mengganggap pekerjaan ini yang ia bisa. Umurnya sekitar 35 tahun, beliau dari Sragen. Dia menikah dengan orang Depok, sekarang sudah dikarunia tiga anak. Begitu ceritanya dengan bangga. Aku pamit untuk masuk.
“Mas, besok-besok kita ngobrol lagi ya?”
“Memangnya ngobrol dengan saya enak?” aku berbalik menatapnya.
“Mas Ali adalah satu-satunya karyawan yang masih berstatus Mahasiswa, pikirannya pasti masih cling! Aku yakin Pak Salim tidak akan asal memilih. Aku yakin Mas Ali punya kemampuan atau potensi yang bagus.”
“Ah! Mungkin kebetulan saja Pak. Ya sudah, Assalamu’alaikum,” aku meninggalkannya. Kata-kata Satpam itu terus terngiang sambil kumelangkah. Aku tidak boleh mengecewakan Ustadz Umair yang memercayakanku pada pak Salim, aku harus dapat menguasai setiap kesulitan karena dengan itu aku dapat meraih kesempatan. Pak Salim ternyata duduk di ruangan itu. Beliau tersenyum dan menyambutku. Saat kutanya kenapa sampai menunggu karyawan baru sepertiku, dan jawabanku semakin memperjelas uraian Sugiarto. Katanya, “Aku akan membimbingmu, aku tahu kau punya potensi yang besar Ali. Sebagaimana orang itu memercayakanmu,” aku berpikir sejenak, ‘Orang itu’ pasti Ustadz Umair.
Pak Salim memperkenalkan dengan beberapa staff dan jajaran manajer. Pak Salim meminta rapat hari ini juga.
Hari itu setelah musyawarah sejenak di ruangan, untuk menentukan aku di bagian mana, mereka tampak sedikit berdiskusi. Pak Salim memberikan kelonggaran kepadaku untuk memilih di bagian manapun. Surya di bagian Administrasi memintaku untuk membantunya. Hasan, Manajer Personalia juga memintaku membantunya di bagian pengelolaan pegawai, Mbak Husna juga menawarkanku untuk bidang promosi, suasana musyawarah nampak cair sehingga membuatku seolah telah akrab.
“Jika diperkenankan aku memilih untuk membantu Pak Arifin di bidang pengawasan,” nampak mereka diam sejenak. Karena aku tahu bagian itu memang harus benar-benar menguasai seluruh bidang usaha, dan aku belum tahu seberapa besar usaha yang sesungguhnya milik ‘Zahra Corporation’ tapi bukankah pemenang harus menguasai kesulitan, jika ingin mendapatkan kesempatan? Aku yakin dengan langkahku.
Hanya satu orang yang tersenyum. Dia pak Salim, “Aku sangat yakin dia bisa, aku yakin dengan kemampuannya. Engkau akan membantu kerja Pak Arifin dan gajimu akan kusesuaikan dengan pekerjaanmu.”
Semua orang dalam musyawarah itu mengucapkan selamat bergabung, dan mereka menyatakan siap membantuku apa saja jika membutuhkan bantuan. Hari ini, aku mulai bersama Pak Arifin. Mempelajari semua struktural usaha, kantor Zahra Corporation ternyata membawahi 21 usaha di banyak tempat, dan dengan usaha yang berbeda. Aku semakin terhenyak, setiap usaha ternyata telah memiliki cabangnya, hanya tiga usaha yang kategorinya menengah, dan yang masih belum ada cabangnya karena itu masih usaha baru.
Aku tak menyesal sama sekali mengambil bagian ini, aku sering keluar ternyata. Berkeliling menggunakan mobil xenia biru muda, pak Arifin selalu mengajakku memantau ke setiap usaha center maupun cabang-cabangnya. Ada yang di Semarang untuk usaha konveksi, dan ternyata usaha ini mencapai angka sepuluh besar di kota itu, lalu di di Solo ada toko buku yang begitu besar, menjual buku-buku agama dan buku-buku umum. Saat pak Arifin berbincang dengan pengelola disana. Aku membaca buku, pak Arifin tahu aku tertarik  dengan buku itu. Dia membelikannya untukku dua buku. Satu tentang motivasi dan satunya novel berjudul Kudus Gelombang Cinta, karena dari prolog di depan terdapat kata, ’Perjuangan Cinta Seorang Ayah.” Kami pulang kembali, aku membaca buku itu di mobil, ‘Panduan CEO.’ Kelihatannya buku yang bagus.
Ketika pergi keluar kota pun, aku tidak selalu bisa ikut menyertai Pak Arifin, kecuali pada saat libur Sabtu dan Minggu bertepatan dengan liburnya belajar di Pesantren juga kuliah, karena hari sabtu kosong. Kugunakan waktu itu untuk menemani pak Arifin pergi ke usaha-usaha di luar kota sekalipun.
Saat di Pesantren, kuatur waktuku yang semakin rapat. Kajian di pondok jangan tertinggal, ujian sebentar lagi tak boleh diabaikan sama sekali, privat dengan Fadli pun tak boleh kutinggalkan, karena aku ingin melihatnya mandiri dan berhasil. Hanya kerjaku di Pasar Minggu yang aku tinggalkan. Aku banyak melahap buku-buku tentang bisnis dan usaha, dan itu sesuai dengan jurusanku. Aku ingat motivasi dalam buku Panduan CEO ‘Pandangan yang luas selalu mengalahkan ide yang sederhana.’
Aku bertekad untuk memberikan andil besar dalam usaha pak Salim. Aku jadi teringat kembali dengan ide Sir Winston Leonard Spencer Churchil, ‘Semakin jauh anda melihat ke belakang, semakin jauh anda dapat melihat ke depan. Saya tidak pernah khawatir akan tindakan, tetapi saya sangat khawatir akan ketiadaan tindakan. Dan cara terbaik menghadapi segala situasi adalah tindakan yang sederhana.” Aku akan berjuang keras selama sebulan ini.
Malam itu, mataku belum bisa terpejam. Aku ingin mencontoh salah satu semangat motivasi sahabat Nabi saw. Aku menemukan satu nama yang kurasa cocok untuk melejitkan semangat kesuksesanku. Dialah Khalid bin Walid ra yang bergelar Saifullah, ‘Pedang Allah yang selalu terhunus’
Khalid pada masa kekhalifahan pernah mencapai puncak prestasi, titik kulminasi, nilai tertinggi yaitu pada saat perang Yarmuk berkobar. Khalid bin Walid ra. Memimpin 36.000 pasukan kaum Muslimin dengan heroiknya, mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah 240.000, hingga pasukan Romawi terkocar-kacir dan bersembunyi bagai tikus yang dikejar kucing. Hingga Khalid berteriak, ‘Seandainya kalian lari ke langit kami akan naik dengan kuda-kuda kami dan kupancung kepala kalian!’ begitulah geramnya Khalid bin Walid  ra. dan umat Muslim, karena sewenang-wenangnya Romawi dan zalimnya mereka yang selalu membantai manusia seenaknya dan mempertuhankan manusia.
Sebuah rahasia Khalid bin Walid dapat kubaca dalam salah satu riwayat. Dia mengabarkan kaum Muslimin yang ingin meraih kesempatan untuk menang di jalan Allah. Beliau berpesan, “Seluruh lembah, gunung-gunung, dan gurun yang pernah kulewati, pasti akan selalu kuingat (kupelajari). Sekaligus kubayangkan segenap strategi dan rencana yang akan kugunakan jika suatu saat aku berperang di tempat tersebut.”
Setelah Khalid bin Walid ra. memenangkan perang Yarmuk, beliau dipecat  khalifah Umar bin Khattab ra. karena rasa cinta Umar yang mendalam pada saudaranya, karena Umar khawatir setelah umat muslim mengelu-ngelukan nama Khalid, bisa jadi Khalid menjadi sombong akan keberhasilan-keberhasilannya. Hingga Khalid membayar sangat mahal kepada seorang penyair yang menyanjung-nyanjung kehebatannya. Rasa cinta Umar bin Khatab membuatnya harus mengambil langkah, agar Khalid tidak merasa dirinyalah yang berjasa pada kemenangan Islam, sebagaimana Iblis yang congkak karena dirinya merasa lebih baik, dalam hal penciptaan ketimbang Adam as.
Inilah nilai kepahlawanan yang murni dari Khalid bin Walid ra. harus ditunjukkan pada Allah, RasulNya dan segenap kaum muslimin. Khalid bin Walid tak mau namanya dicantumkan dalam sejarah, sebagai orang yang memimpin kemenangan perang Yarmuk, inilah kekuatan lapang dadanya yang membuat Umar bin Khatab ra. menangis untuknya.
Setelah perang Yarmuk itulah, Khalid tidak pernah ikut dalam peperangan lagi. Tubuhnya telah banyak luka perang, dia sakit. Saat itulah, Beliau melewati hari-hari terberat dalam kehidupannya. Peperangan sangat dirindukannya hingga dulu dia berprinsip dan berkata, “Malam mencekam dalam kondisi perang membela agama Allah, lebih aku cintai dari pada bersama dengan seorang gadis pada malam pernikahanku,” kini dia harus kuat menahan kerinduannya itu.
Dia tidak ingin kaum muslimin mengelu-ngelukannya. Sehingga dari kaum muslimin ada yang mengatakan, “Setiap pertempuran akan selalu menang jika ada Khalid bin Walid,” Walid menangis kepada Rabbnya, bukankah kemenangan hanyalah milik Allah? Dia terus mengintrospeksi dirinya dan membenarkan tindakan khalifah.
Khalid kemudian menghadap Allah dengan senyum keikhlasan, senyumnya teduh seteduh telaga kautsar, senyumnya tanda kerinduan membuncah kepada Tuhannya. Matanya yang tertutup begitu lembut, bagaikan kapas yang tenang kala meninggalkan sangkarnya, terbang kemanapun ia suka, terbang bebas untuk mengabarkan kebahagiaan. Beliau meninggal di atas kasurnya dan bukan di medan peperangan, walaupun dia membawa lebih dari 70 luka tusukan dalam tubuhnya.
Begitulah benarnya Sabda Rasulullah, bahwa di antara ummatnya ada yang syahidnya di atas ranjangnya. Subhanallah. Itulah pemenang! Itulah pemenang! Mereka bukan orang-orang cengeng yang mengejar popularitas dan dunia, mereka hanya mengharap ridha Allah semata. Air mataku berderai-derai, aku harus belajar banyak hal. Aku harus mengikuti Khalid bin Walid ra., seorang Pahlawan tanpa tanda jasa, kecuali tanda kesyahidan dalam harum namanya.
Kuliah hari ini hanya satu mata kuliah, sebentar lagi ujian. Aku harus mempersiapkan diri secara penuh, harus dapat membagi waktu dan pikiran. Banyak orang yang berpikir ‘Kapan libur’, jika dia sedang kuliah dan belajar dan berpikir ‘Kapan sekolah lagi’ jika sedang liburan. Banyak orang yang shalat pikirannya kemana-mana dan tidak fokus, orang sedang makan memikirkan kerja, ketika kerja memikirkan makanan dan lain sebagainya. Itulah yang membuat manusia tidak bisa fokus, kenapa tidak memikirkan apa yang sedang dilakukannya saat itu juga.
Saat hendak pulang, sebuah suara membuatku menghentikan laju langkahku.
“Ali…, sebentar,” suara Aisyah lembut.
“Ada apa Ais?”
“Ehm…, bagaimana perkembangan Fadli adikku?”
“Bagus. Sangat bagus! dia kini telah hafal satu juz, juz 28,” aku menjawab prestasi hafalannya, bukan prestasi akademiknya. Bukankah akademik dia lebih tahu daripada aku? Karena dia lebih sering bersamanya.
“Apakah kau punya janji dengan Fadli?”
Janji?”
Ya.”
“Janji apa?” aku tak ingat.
“Janji jika Fadli bisa menghafal satu juz, kau akan memberinya hadiah istimewa.
Astaghfirullahal ‘Adhim, iya aku lupa. Insyaallah aku akan memberikan hadiah padanya. Tapi, kenapa dia tidak menagihnya padaku?”
“Dia malu mendahuluimu, dia ingin kau yang menawarkan hadiah itu,”
“Benarkah?”
Aisyah menggangukkan kepalanya. Bisa juga Fadli bercanda, hatiku tersenyum sendiri. Aisyah pamitan padaku. Aku meneruskan langkahku untuk pulang.
“Kau pasti ada apa-apanya sama Aisyah? Ayo Ustadz ngaku sama aku? Aku tidak akan marah. Aku bahagia jika kamu menikah dengannya,” Hanif memberondongku, sambil berjalan keluar kelas. Aku tersenyum padanya.
“Nif, kau tahu sendiri aku ini siapa? Aku anak Pesantren yang mendapat keringanan, karena tidak kuat membayar, lalu bekerja di Pasar Minggu dan kerja apa saja. Aku orang miskin Nif. Tenang saja, jodohku dan jodohmu ada di tangan Allah.”
“Iya aku tahu, aku salut sama kamu Fren. Aku saja masih minta sama orangtua. Semoga Allah selalu menyertai langkahmu. Aku janji tak akan menjahilimu lagi. Kecuali…, jika terpaksa,” matanya mengedip sambil tersenyum sambil memukul bahu kananku pelan.
“Ayo kita pulang,” kami melangkah keluar kelas, keluar dari Fakultas Ekonomi. Menantang matahari yang tegar berpijar, bagaikan petala langit yang dihidupkan Allah ‘Azza wa Jalla, untuk memperingatkan manusia akan panasnya api neraka.
Sepulang kuliah, aku mengambil sepeda di Pesantren, aku sampai di kantor ‘Zahra Corporation’ pukul 11.00. Dzuhur masih sekitar satu jam lagi. Masih ada waktu untuk lebih mengenal jauh usaha-usaha secara keseluruhan. Pak Arifin tersenyum melihatku masuk ke ruangannya. Hari ini kami akan berangkat ke Surabaya untuk melihat kondisi usaha Rumah makan ‘Barakah’, yang disana menyediakan hampir semua makanan khas setiap daerah di Indonesia.
Rumah makan Barakah terdiri dari empat tingkat. Di setiap tingkat terdapat tukang masaknya sendiri-sendiri. Tingkat ke-empat adalah makanan khas untuk Negara Barat, tingkat ke-tiga merupakan masakan khas Timur Tengah, untuk tingkat ke-dua makanan khas Jawa dan sekitarnya, dan tingkat pertama khas masakan Sumatera.
Adzan Ashar menggema. Para pegawai di Rumah Makan itu bergantian shalat di Mushola Al-Muhajirin. Aku pamitan dengan Pak Arifin untuk sejenak ke Masjid. Aku teringat pesan Khalid bin Walid ra., maka setelah shalat aku banyak mencari informasi dari masyarakat sekitar rumah makan itu, banyak yang kutanyakan pada setiap orang yang kutemui di Masjid. Aku banyak menemukan informasi baru, kucatat dan kusimpan dalam tas bututku.
Tanpa terasa sabtu sore itu menjelang Maghrib, aku kembali ke rumah makan. Wajah pak Arifin sedikit muram, kutahu dia sedikit kecewa dengan kinerjaku, karena untuk shalat saja menggunakan waktu yang terlalu lama. Aku hanya menjelaskan aku bertemu dengan orang-orang disana dan sedikit ngobrol. Setelah Maghrib kami meluncur ke Bekasi yaitu dihotel ’Salim’. Hotel yang megah, kami disambut dengan baik. Aku terus mengikuti pak Arifin, hingga rapat musyawarah untuk jajaran tertinggi di hotel tersebut.
Aku izin untuk keluar, mencoba menggali informasi sebanyak-banyaknya, ilmu sebanyak-banyaknya. Jadilah malam itu ba’da isya’ malam minggu aku mengelilingi seluruh hotel itu, sambil sedikit berbincang-bincang pada para penjaga, para kasir hotel dan para pengunjung, sedangkan pak Arifin kutahu masih rapat, karena biasanya kutahu rapat-rapat yang lain terlalu lama dan aku merasa tak tahan. Aku mencatat segala informasi yang kudapat, nanti setelah kembali ke Depok akan aku analisis sendiri.
Senin pagi, aku menyiapkan segalanya berangkat kuliah, kumasukkan perlengkapan yang akan kugunakan pada hari ini. Dua minggu lagi ujian semester ganjil. Aku sudah semester tujuh. Aku harus segera melengkapi bahan-bahan untuk semester, aku segera ke perpustakaan mencari bahan yang belum kudapat. Dapat! Langsung kusalin disana tentang Korelasi dan Regresi, dalam hal proyeksi usaha perdagangan barang maupun jasa. Saat konsentrasiku penuh, seseorang mengagetkanku.
”Ali.., kau sedang sibuk ya?”
Aku menengok ke sebelah kanan, akhir-akhir ini aku sering berkonsentrasi penuh hingga tak menyadari jika apapun terjadi di sekitarku. Mau gempa atau tsunami pun mungkin aku tak merasakannya, sebagaimana Imam Nawawi Rahimallah tak merasakan rasa makanan ketika ibunya menyuapi, ketika beliau sedang belajar dan menulis kitab. Aku kaget, Aisyah berada di sebelahku dengan satu kursi kosong yang membatasinya. Sejak kapan?
”Tidak juga, aku sedang menambah bahan-bahan untuk semester minggu depan. Sebentar lagi kita juga harus segera menyusun skripsi. Aku ingin lulus pada semester depan ini.”
”Kau sudah tahu kabarnya Wanda Hamidah?” dia menatapku lalu menunduk.
”Memangnya ada apa dengan Wanda?” aku sedikit kaget mendengar nama gadis Aceh itu disebut. Aku jadi teringat kejadian di Lampung dulu.
”Minggu depan dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Jamaaluddin Al-Afghani. Kau tahu, dia amat mencintaimu. Kau tahu, perempuan itu sangat sensitif. Berkali-kali kulihat dia saat berbicara padaku. Matanya sering sembab, dia tersiksa oleh rasa cinta, dan kutahu dia tak berani mengungkapnya kepadamu. Karena aku juga...,”
”Ketahuan sekarang!” Aku dan Aisyah kaget. Hanif telah berada di antara kami duduk. Hanif menatapku, aku sedikit mendelikkan mataku supaya dia tahu kalau aku sedang berbicara serius dengan Aisyah. Saat itu aku melihat jam tanganku, hampir Dzuhur. Aku juga harus segera ke kantor.
”Baiklah, mungkin kita teruskan obrolan kita lain kali. Aku ada keperluan. Silakan jika ingin mengobrol lagi,” aku beranjak hendak meninggalkan mereka.
”Ali,” aku menoleh, kulihat Aisyah ingin mengatakan sesuatu dari raut wajahnya sekilas.
Bibirnya bergerak, ”Ehm..., hati-hati,” Hanif melongo dibuatnya. Wanita berjilbab itu tersenyum kearahku lalu menunduk. Hanif seolah menyinyir kuda kepadaku, tanpa diketahui Aisyah. Dia semakin mengejek aku pasti nantinya. Aku keluar, tapi ketika aku mengambil tasku di loker, mereka juga ikut keluar. Aku tak peduli, aku harus bergegas.
Naik Bikun, aku tak menyiakan waktu. Siapa yang menguasai waktu dialah yang menang. Bayangkan jika waktu setiap orang terbuang walau hanya satu menit, ketika dikalikan jumlah penduduk bumi misalnya empat milyar. Jumlahnya menjadi empat milyar menit, dengan waktu sebanyak itu bukankah dunia sudah dapat digunakan beribadah kepada Allah? Atau dapat merubah tatanan masyarakat yang rusak menjadi baik. Aku bergegas.
Waktu terus merambat, tak kuasa aku telah satu bulan bekerja di Zahra Corporation. Ternyata gaji diberikan sesuai dengan tanggal masuknya setiap pegawai, oleh sebab itu jarang ada yang berbarengan antara gaji pegawai yang satu dengan yang lainnya. Saat itu, genap usia kerjaku 30 hari. Aku dipanggil pak Salim.
”Bagaimana ujianmu Ali?”
Insyaallah lancar Pak,” aku tersenyum karena keramahannya. Matanya yang jernih menandakan ketulusan akhlak. Tentu dia paham banyak tentang agama, terlihat dari peraturan di seluruh cabang usahanya yaitu dahulukan shalat.
”Sebelumnya aku minta maaf. Hari ini aku akan memberi insentifmu,” pak Salim menyerahkan amplop kepadaku, ”Ini terimalah.”
”Bapak tadi bilang minta maaf? Boleh kutahu kenapa Pak?”
”Pada saat kamu datang kita telah membuat satu kesepakatan. Engkau akan digaji sesuai kinerjamu, untuk itulah aku meminta maaf karena berdasarkan laporan dari pak Arifin, kerjamu sering tak disiplin dan sering meninggalkannya semaumu, tanpa memberi tahu akan kemana dan berada dimana. Ini menjadi pelajaran untukmu, bukan aku meragukanmu, karena kutahu kau punya kemampuan yang bagus, tapi kinerjamu dalam sebulan ini cukup memuaskan sebagai karyawan baru,” nadanya begitu tenang, berkarakter kuat, dan mempunyai kharisma dalam setiap untaian kata-katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Aku mengakui bahwa aku kurang disiplin dalam menjalankan tugasku.
”Tidak usah khawatir Ali, ini hanya permulaan saja. Biasanya pegawai baru disini rata-rata dulu selama tiga bulan adalah usaha adaptasinya dengan seluruh lingkungan. Aku sangat percaya padamu, tapi berusahalah baik-baik bekerja sama dengan yang lain. Karena usaha ini mengutamakan profesionalitas bukan hubungan kedekatan dengan pemimpin utama. Kau paham Ali?”
Aku mengangguk dan pamitan pergi.
”Oya Ali, adikku juga kuliah di UI kau kenal dia? Ingat sewaktu kamu menolongku di kompleks Asrama Mahasiswa?” aku mengangguk, ”Kedua adikku kuliah di UI, yang satu kini ikut dengan suaminya di Mesir karena suaminya sedang menyelesaikan S2-nya, sedangkan ia harus meneruskan kuliah disana. Mungkin kau kenal dengannya. Satunya lagi masih di UI”
”Siapa namanya Pak?”
”Zahra.”
”Zahra? Sepertinya saya pernah dengar,” kuingat nama itu. Iya aku ingat sekarang! Bukankah itu nama yang selalu kubaca ketika aku masuk ke kantor ini. Tapi seolah nama itu pernah kudengar, tapi dimana? Aku lupa. Mungkin karena aku pelupa, tapi aku pernah mendengarnya. Aku yakin itu.
”Maaf Pak, saya tidak ingat.”
”Tidak apa-apa, padahal dia terbaik satu angkatannya. Tapi, mungkin dia memang jarang keluar kecuali dia berdakwah dan menuntut ilmu. Apalagi kau, kudengar kau juga sering mengisi kajian besar dan mengisi jadwal jum’at di sekitaran kota Depok. Aku pernah mendengar khutbahmu sekali sewaktu di masjid Raya di pusat Depok,” aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Senja kota Depok menyapaku, membalut keringatku yang bercucuran sehabis naik sepeda dengan kecepatan penuh. Matahari mulai tidur dalam buaian malam di kaki langit barat.
Aku pulang ke Pesantren pukul 17.00. aku mandi dan membuka amplop gaji pertamaku. 3.000.000. aku tersenyum, ’lumayan untuk permulaan’ begitu hatiku berucap. Besok yang 2 juta akan kukirim ke Lampung, kasihan si Yasmin telat bayar untuk semesterannya. Fajar dari suratnya kemarin sudah mulai dapat berjalan dengan penyangganya, dia sementara harus kost di dekat kampus sebelum sembuh karena kasihan jika harus naik angkot, naik-turun dan berjalan kaki dari jalan besar ke Kampus. Itu jelas menambah biaya. Aku harus semakin giat bekerja.
Kunyalakan kipas angin. Segar! Kutelentangkan tubuhku di atas tikar, aku tidak membeli kasur karena satu alasan khusus. Aku selalu ingin bangun malam untuk Qiyamul Layl, karena jika aku tidur dalam keenakan kasur apalagi empuk aku pasti akan bangun begitu adzan subuh berkumandang. Kudengarkan Murottal Al-Mathrud, hatiku berdebar-debar kala asma Allah dibaca, mataku menganak air. Sembab. Ya Allah, jangan jadikan dunia melenakanku. Aku takut, jika harta melalaikanku padaMu.
Aku teringat Yasmin yang mempunyai semangat tinggi. Aku teringat Ibu yang kesepian setelah Bapak tiada, aku teringat Fajar yang harus tertatih-tatih untuk menuntut ilmu, dia harus berjuang keras untuk memperbaiki dirinya. Menjadi lelaki sholeh. Aku harus bekerja lebih keras lagi, ini adalah tanggung jawabku. Terlintas dalam benakku, rencanaku menikah. Segera kuurungkan karena aku takut akan ada yang terdzalimi nantinya. Bukankah aku harus membantu Ibuku yang kini telah lemah tubuhnya.
Ya Allah, Engkau yang bijak. Aku yakin Kau berikan yang terbaik untuk hamba-hambaMu. Aku yakin ya Allah. Aku yakin. Adzan kembali bersahutan.
*     *    *
Awal Maret 2008
Pengumuman ujian telah keluar. Sekarang semester genap sudah dimulai kembali, sudah beberapa bulan yang lalu. Aku berlari menuju kantor FE dan mengambil KHS, nihil. Aku tak menemukannya, kata pak Romli sudah diambilkan oleh teman sefakultasku. Siapa yang mengambilnya? Aku harus segera melihat hasil semester itu, apalagi ini sudah harus mengajukan judul skripsi. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah, agar bisa total membantu semua kebutuhan Ibu, dan  adik-adikku.
”Nif!” aku melihat Hanif, mungkin dia yang mengambilkannya, atau dia tahu siapa yang mengambilkannya. Hanif juga menuju ke arahku.
”Kamu tahu Nif, siapa yang mengambil KHS-ku?”
Hanif malah tersenyum, ”Siapa lagi kalau bukan Aisyah, tadi dia mengambil miliknya sekalian milikmu,” aku mengucapkan terima kasih pada Hanif. Aku percaya kepadanya karena ada sms masuk dari Aisyah.
Asw. Akh, aku tunggu di perpustakaan.
Aku mengajak Hanif, kutakut jika terjadi fitnah. Apalagi aku sangat malu kepadaNya. Hanif yang kupaksa akhirnya bersedia juga. Kami masuk ke perpustakaan, kami menaruh tas, dan kulihat Aisyah dengan jilbab putihnya telah duduk sambil membaca buku. Kami mendekatinya dan duduk di sampingnya, kulonggarkan satu kursi agar tidak berdekatan.
”Ini surat dari Wanda, sebelum dia menikah sebulan yang lalu. Aku coba mencarimu tapi selalu tak ketemu selama liburan. Kutahu surat ini sangat terlambat datangnya, tapi mungkin ini ketetapan Allah untuk hambaNya. Kau juga tak kelihatan di Pasar Minggu? Disana banyak orang yang merindukanmu Ali,” dia menyodorkan amplop putih kepadaku. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Aku menerima amplop itu, ”Alhamdulillah, aku mendapat pekerjaan di Jakarta Timur. Mungkin sesekali aku hanya bisa main ke Pasar Minggu untuk belanja. Aku masih sering bersilaturahim pada mereka,” aku memutar-mutar surat itu.
Aisyah pamitan padaku, katanya hendak kerja. Setelah mengobrol sedikit dengan Hanif, diapun pamit. Aku berterimakasih padanya sudah menemaniku. Seperginya, surat itu kubaca dan menjadikan hatiku resah setelah membacanya. Kubaca sekali lagi;
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Ali...
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang menulis dan membaca surat ini. Semoga Allah mengampuniku. Semoga ketika aku menulis ini, Rabbku tidak murka dan marah kepadaku.
Ini adalah usaha terakhirku Ali. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku tak kuasa lagi menahan rasa cinta, rasa itu tumbuh begitu saja menyusup dalam hatiku. Perasaan ini timbul ketika kau mengisi kajian menggantikan Dr Ramahdan Al-Buthy, kau memesona jiwaku hingga tersihir. Sejak itu, aku tak bisa memejamkan mataku demi mendengar namamu. Dalam shalatku selalu terbayang wajahmu, seandainya jika aku shalat bersamamu. Jika makan selalu wajahmu ada, seandainya kita dapat beribadah dan  makan bersama.
Aku tak bisa dan tak kuasa menikah dengan Jamaaluddin, aku tak bisa. Entah akan jadi apa ketika aku menikah nantinya dengannya. Aku merasa menjadi wanita paling sengsara sejagad, tolonglah aku Ali..., datanglah dan jemput aku. Aku rela lari denganmu, kemanapun engkau mau. Aku tak akan bisa hidup tanpamu di dunia ini.
Wanda
Mataku kembali sembab. Kipas angin di atasku menjadi saksi dan dia mengeringkannya, agar aku dapat tabah dalam menghadapi semua persoalan. Saat hatiku masih bimbang aku membuka KHS yang baru saja diberikan Aisyah. Subhanallah, keresahan hatiku terobati cepat. Nilaiku Cum laude, 3,88. hanya ada satu nilai B dan yang lainnya A. Kau Maha membolak-balikkan hati, kadang sedih kadang bahagia secepat kilat. Allah...
*     *     *
Hari ini aku akan mengakhiri segalanya. Sudah kurencanakan semua. Dua bulan tepat aku bekerja di ’Zahra Corporation’, selama itu aku mengumpulkan serpihan-serpihan yang ada di semua bidang. Aku kembali teringat akan kepahlawanan Khalid bin Walid. Saat aku sedikit berbincang ba’da Dzuhur dengan Sugiarto sang Satpam. Kudengar darinya tadi pagi terdengar kabar bahwa ’Zahra Corporation’ akan mengurangi jumlah karyawan karena dinilai kurang produktif.
Aku sudah menduganya. Mungkin aku harus menemui mereka hari ini juga.
”Mungkin aku termasuk yang dikeluarkan Mas,” nadanya tampak sedih, ”Bagaimana nanti dengan isteriku yang sedang hamil tua. Terus terang saya tidak punya usaha selain ini Mas,” wajahnya menunduk.
”Pak Sugi tahu dari mana, jika akan ada pengurangan karyawan?”
”Tadi pagi mereka rapat, pak Arifin memberitahu kepada kami sebelum Dzuhur bahwa akan ada pengurangan karyawan, dan kami diminta siap-siap jika kami harus keluar. Tapi dia mengatakan pesangon tetap diberikan secara profesional. Setelah Dzuhur mereka rapat kembali,” nadanya sangat murung.
”Jangan khawatir Pak. Serahkan semua urusan kepada Allah jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Allah itu berdasarkan prasangka hambaNya. Aku akan coba untuk masuk dan memberi masukan pada mereka, agar membatalkan pemecatan ini.”
”Apa bisa Mas?”
”Kita lihat saja,” aku mengambil handphone, aku harus bertindak sesuai feelingku kini. Karena berbuat atau tidak berbuat sesuatu aku juga pasti akan diberhentikan, apalagi mengingat belum ada kontribusi terhadap kerjaku selama dua bulan ini. Sambungan terhubung, pak Salman. Dia adalah Staf TU di Pesantren, aku minta disambungkan pada Ustadz Umair.
”Ada apa Ali?” sapa Ustadz Umair ketika gagang telpon telah berpindah.
Aku menceritakan tentang program pemberhentian itu, dan jika Ustadz bisa mengusahakan aku masuk ke ruang rapat, dan ikut dalam rapat itu. Mungkin aku bisa merubah sedikit keadaan yang tampak buruk ini. Ada nada kesanggupan dalam kata-katanya. Aku menutup hubungan. Bukankah Ustadz teman baik pak Salim? Dengan mudah, dia dapat memasukkan aku dalam usaha besar ini. Berarti...
Beberapa menit, seorang berjilbab memanggilku dan memintaku masuk ke ruangan rapat. Aku tersenyum. Ada titik-titik terang. Wanita yang memanggilku juga tampak kusam mukanya tidak seperti pertama kali aku masuk kesini. Saatnya teladan Khalid bin Walid ra. aku praktekkan. Ridhai aku ya Allah.
Aku masuk dan duduk di samping para manajer bagian. Mereka meneruskan diskusi itu, aku mencoba menyelami. Mulai dari PHK yang mungkin akan memberhentikan sekitar ratusan, bahkan bisa ribuan orang. Pak Salim tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, keringat dingin mengucur deras dari wajahnya.
”Aku boleh bicara?” setelah sekitar sepuluh menit semua terdiam dalam pikiran masing-masing, aku memberanikan diri berbicara. Tampak pak Arifin, mengernyitkan dahinya ada nada meremehkan dari tatapannya, yang langsung berpaling dari wajahku. Beberapa yang lain juga melihatku dengan wajah putus asa.
”Aku tahu mungkin namaku ada dalam jajaran karyawan yang akan diberhentikan. Seperti para pejuang Islam dahulu, mereka akan berjihad atau tidak berjihad maka jika kematian datang, maka mereka tidak akan bisa memundurkan atau memajukannya,” Beberapa manajer kulihat melihatku lebih serius, dan pak Salim kini seolah memusatkan konsentrasinya padaku.
”Baiklah, misalnya begini. Seseorang yang sedang ditembak dan peluru meluncur kearahnya, maka hal yang paling membahagiakan baginya adalah saat peluru itu mengarah padanya, dan akhirnya meleset dan tidak mengenainya. Cara terbaik dari permasalahan yang berat adalah berpikir tenang dan sederhana. Sebenarnya penyelesaian masalah walau berat, dapat diselesaikan dengan hal-hal yang sederhana.”
”Maksudmu” empat orang manajer hampir bersamaan.
”Iya Ali, apakah engkau punya masukan?” pak Salim menatapku serius.
Bismillahirrahmaanirrahiim,” aku memulai dengan Basmallah, karena Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, ’apabila amal tidak didahului mengucap basmalah, maka terputuslah amalnya’ aku meneruskan kata-kataku, ”Setelah aku mengatakan ini, mungkin aku juga akan berhenti dari kantor ini. Karena aku ingin membuka usaha sendiri walau kecil-kecilan. Aku ingin menjadi enterpreneur dengan kemandirian saya. Setelah aku mengatakan ini, silakan mau dipakai cara saya atau tidak.
”Pertama, begitu banyak usaha di Indonesia saat ini hanya mencari keuntungan semata. Mereka tidak lagi memperhitungkan nilai akan ketuhanan, ”Dalam keuangan, semua yang disetujui tidak sehat dan semua yang tidak sehat itu tidak disetujui[1],” maksud saya, banyak usaha saat ini berlaku curang dengan menipu negara karena mengecilkan laba dalam laporan keuangan. Ada perusahaan yang membuat lebih dari satu laporan, atau empat laporan keuangan, satu untuk pemimpin perusahaan, satu untuk kantor pajak, satu untuk pemegang saham dan satu lagi untuk laporan yang sesungguhnya.
Dalam hal ini mungkin terasa lebih menguntungkan kalau dalam kacamata dunia, namun harta yang banyak, kalau Allah tidak memberi keberkahan maka usaha tersebut pada ujungnya juga tidak akan membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
Laporan yang dibuat harus satu macam dan sama untuk semua bagian. Jangan ada lagi kerjasama dengan pihak pajak, bukankah itu sangat menyengsarakan rakyat. Dari PPN Indonesia, sebenarnya jika usaha-usaha di Indonesia mau jujur akan terkumpul sekitar1000 Trilyun setahunnya, tapi ternyata sekarang tiap tahun terkumpul 300 Trilyun karena perusahaan tidak benar dalam laporan keuangannya. Jika jujur, Insyaallah Allah akan membawa kelanggengan dan keberkahan dalam setiap usaha.
Yang kedua; usaha-usaha yang menyediakan makanan. Dua bulan saya berkeliling dengan pak Arifin. Bukannya saya menghilang dan bersantai, tapi saya mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, kenapa pelangan berkurang dan pembeli semakin hari semakin kurang. Saya meneliti hingga penduduk sekitar dan jama’ah masjid. Saya tahu ada rumor mengatakan bahwa makanannya tidak higienis, dan banyak ditambah pengawet. Maka saya sarankan agar setiap usaha yang menyediakan makanan segera membuat label halal dari MUI, lalu produksinya dipatenkan agar tidak ditiru dan dapat di franchise-kan, agar dapat berkembang ke seluruh penjuru Indonesia. Tempel semua bukti itu di tempat usaha dan di tempat pengumuman umum.
Ketiga; di beberapa hotel yang saya kunjungi ternyata membosankan walaupun disana fasilitas terasa lengkap. Cobalah buat agar kenyamanan lebih dibuat semarak. Saya sarankan, di hotel Salim misalnya, di tingkat tengah kulihat ada ruangan yang besar dijadikan gudang. Coba singkirkan dan bersihkan gudang itu, lalu jadikan ruangan itu sebagai ruang rehat untuk pengunjung hotel, jadikan ruangan itu bioskop untuk penayangan film-film yang bermanfaat dan bernilai agama, atau bisa juga untuk konser Nasyid, atau kebudayaan lainnya. Para pengunjung Insyaallah akan betah berada disana, karena merasa diperhatikan.
”Hal paling penting dalam usaha adalah meramalkan kemana pelanggan bergerak, dan berada di depan mereka karena merekalah perancang produk sesungguhnya.”
Sesekali setiap usaha baik pusat maupun cabangnya, cobalah untuk menarik karyawan berapa persen mengambil penduduk sekitar. Sering saya bertanya pada para masyarakat sekitar, mengeluh karena usaha itu telah mereka bantu waktu awal berdiri, lalu setelah besar mereka ditinggalkan. Minimal mereka meminta ada beberapa masyarakat sekitar yang dijadikan karyawan, dengan begitu masyarakat sekitar akan menjadi asset, apabila para konsumen bertanya maka mereka akan langsung membantu promosi perusahaan.
”Saya ingin pamit, semoga penjelasan sedikit tadi tidak mengurangi esensi rapat Pak Salim dan Bapak-Bapak sekalian. Terutama pak Arifin, terimakasih telah banyak memberi pelajaran berharga pada saya. Karena itulah sebenarnya yang kulakukan dua bulan menyertai Bapak, saya mengumpulkan serpihan-serpihan informasi tentang perusahaan secara keseluruhan. Saya pamit, assalamu’alaikum.” aku beranjak pergi tanpa ada yang mencegah, kecuali Allah yang terus menuntun langkahku hingga pergi dari ’Zahra Corporation’ dan kembali ke Pesantren saat Ashar tiba. Perasaanku teramat lega. Dan Allah lah yang membuat ketentraman hati sesungguhnya, ”(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat allah. Ingatlah, dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.”[2]


[1] Winston Churcill
[2] QS Ar-Ra’d : 28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar