Jumat, 18 Oktober 2019

Part 29, Tawaran Kerja

Kota Depok yang ramai dikala pagi. Syahid memelukku dan meminta maaf, teman-teman santri yang lain juga. Ustadz Wahid menentramkan hatiku dengan taujihnya sebelum aku berangkat kuliah. Dia ingin bicara padaku nanti sore, membahas tawarannya yang dulu. Aku baru ingat, keputusan apa yang akan kujawab jika beliau menagih keputusanku? Yang jelas aku harus adil, aku harus menjawab sesuai dengan jawaban yang kuberikan pada Pak Hamdan.
Sepulang kuliah aku bekerja biasa di Pasar Minggu, uangku tidak seberapa. Aku harus bekerja lebih keras dan cerdas kini. Teman-temanku di Pasar menyambutku dengan ceria, mereka juga ikut mendoakan Bapak. Sambil memikul barang, aku memikirkan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan lebih banyak, Enterpreneur? Memulai suatu usaha, tapi aku tak punya modal sama sekali. Aku berpikir keras, sampai adzan ashar menggema.
Aku ruku’ bersama-sama orang yang rukuk, ”Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan sel-selku telah khusyu’ pada-Mu.”[1] doa itu hanya pantas diucapkan Nabi saw, tapi aku ingin berusaha mengikutinya. Nabi saw, menyadari bahwa otaknya, tulang-tulangnya dan seluruh sel-selnya hanyalah untuk Allah. Para sahabat pernah mengatakan, ”Kami mendengar Nabi saw ketika melakukan shalat beliau di dada beliau gemuruh, seperti gemuruhnya periuk air yang memanas, akibat beliau menangis.”[2] lalu, dimanakan posisi kita? Aku menangis padaNya karena begitu banyak yang membayang dalam pikiranku. Dimanakah kesyukuranku?
”Allahumma inni as aluka ladz dzatan nadzr ilaa wajhika al-kariim wa as aluka asy-syauq ilaa liqaa ika, ya Allah, aku minta pada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, dan aku minta kerinduan bertemu dengan-Mu.”[3]
 Aku menyudahi shalatku, beberapa teman semuanya juga shalat di Masjid. Beberapa orangtua yang dulu kuajak masih sering menolak, kini terlihat telah menyiapkan sarung dan peci dalam tasnya, lalu ketika shalat mereka memakainya. Subhanallah, Allah menghendaki siapa saja yang akan diberi petunjuk dan siapa yang tidak diberi petunjuk. Aku sempat berpikir untuk berhenti mondok, walaupun aku gratis karena prestasi di Pondok, tapi aku harus bekerja untuk menutupi biaya kuliah dan keluargaku di kampung. Allah, tunjukkanlah jalan bagiku.
Pukul 16.30 aku pulang duluan. Di Pesantren aku melihat Syahid yang sedang menyapu halaman Masjid, hari ini dia dapat giliran piket bersama teman-teman yang juga jatahnya hari ini. Aku mendekatinya dan mengucapkan salam, senyumnya merekah. Bukankah senyuman itu juga shadaqoh?
Akh, kumohon kamu jujur,”
”Masalah apa?” Syahid kelihatan bingung.
”Siapa orang yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningku? Apakah itu uang Santri? Atau tabungan kas Pesantren? kenapa kau bilang bahwa orangnya mengatakan tidak usah dibayar? Kau bilang dia menganggapku anaknya,” aku memberondongnya.
Syahid memegang tangan kiriku, dan menarikku ke taman kecil di samping Masjid. Dia menatapku sejenak dan lirih berucap, ”Kau benar-benar ingin tahu? Tapi, janji jangan beritahu kalau aku yang mengabarkannya padamu,” aku mengangguk. Syahid mendekatkan bibirnya ke telingaku, ”Kurasa..., dia adalah Ustadz Umair, setelah tahu ayahmu meninggal dan kabar bahwa adikmu kecelakaan. Dia mengirimkan uang itu padamu karena beliau bertanya pada Farid nomor rekeningmu.”
”Kukira? Jadi belum pasti, lalu kenapa kau bilang bahwa dia menganggapku anaknya, dan tidak ingin uangnya kukembalikan?”
”Waktu itu, ketika aku hendak shalat malam di Masjid. Kulihat Ustadz Umair disana, kebetulan aku shalat di belakangnya dan di belakang tabir tempat shalat wanita. Saat itu kudengar isaknya dan menangis untukmu,” Syahid berhenti sejenak.
”Dia berdoa untukku?” bibirku bergetar, ”Berdoa untukku? Dia menangis?”
Syahid melihat keherananku. Dia melanjutkan ucapannya, ”Aku tak sengaja mendengarnya. Ustadz mengadu pada Allah untuk kesembuhan adikmu dan mendoakanmu agar tabah. Bahkan, dia berkata kalau dia merelakan hidupnya untukmu. Yang aku ingat dengan kuat adalah doanya, ’Aku tidak mau kesalahanku terulang pada Ali, mohon jagalah dia ya Allah,’ aku tak tahu maksudnya. Dia terus mendoakanmu, dan tak menyadari jika aku shalat di pojok belakang. Aku ikut menangis, karena suara tangisnya bisa terdengar sampai seluruh ruangan Masjid.”
”Ustadz Umair, beliau....,” hati dan bibirku kembali mengucap hamdalah beriringan, betapa Allah teramat mencintaiku.
”Aku akan menemuinya, yang jelas jika dia yang mengirimkan uang itu, maka kewajibanku membayarnya. Aku tak ingin dikasihani orang lain, aku akan berusaha membayar uang itu. Aku harus menjaga izzah harga diriku, Bapakku selalu mengajarkan itu padaku,” aku menatap Syahid, meyakinkan.
”Kau memang sahabatku. Itu baru yang namanya Ali,” dia tersenyum kepadaku. Kami berangkulan. Persahabatan memang selalu ada, bukan untuk membantu melainkan memberikan yang terbaik untuk persahabatan. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran dan bersama menetapi jalan Allah ’Azza wa Jalla.
Aku teringat, aku ada janji dengan syaikh Wahid sore ini, aku pamitan pada Syahid dan dia meneruskan tugasnya. Aku langsung menuju rumahnya yang tak jauh dari Pesantren, hanya dibatasi jalan membentang. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam, sebuah suara dari dalam menjawab. Sepertinya Ustadz Wahid.
Ustadz Wahid terlihat telah rapi dengan gamis coklat mudanya. Sosok penuh kharisma, matanya yang jernih membuat orang yang hendak berbuat jahatpun, pasti akan luluh dari niatnya semula, yang terpancar dari wajahnya adalah cahaya yang mampu mempertebal iman. Sungguh, beginikah wajah-wajah orang yang shalih? Betapa inginnya menjadi orang yang dicintai Allah.
Beliau mempersilakan aku masuk. Aku meminta duduk di beranda rumah saja, karena rumah syaikh Wahid nampak begitu asri, penuh dengan bunga berwarna-warni dan juga bunga yang hanya  berbentuk daunnya saja. Ada sejenis bunga-bunga desa, mungkin mereka sengaja menanamnya, untuk menciptakan suasana desa. Ustadz bertanya kabar, dan dari mana. Aku menjawabnya seperti biasa.
”Ustadz ingin menyampaikan sesuatu?”
”Iya Ali, sebelum kamu pulang kampung. Kita pernah bicara sesuatu tentang keponakanku yang memintaku mencarikan suami untuknya. Untuk itulah aku memanggilmu kini,” seorang wanita berjilbab keluar, dan memberikan nampan berisi dua gelas teh pada Ustadz. Wanita itu mempersilakanku minum, dia pasti isterinya Ustadz. Aku telah mempersiapkan kata-kata yang telah aku ucapkan pada Pak Hamdan, surat Bapak kembali membuka dalam memoriku. Bapak minta, kamu sementara jangan menikah dulu. Entah apa yang membuat Bapak berwasiat seperti itu. Aku harus adil.
”Begini Ali, saya meminta maaf padamu jika apa yang akan kusampaikan padamu membuatmu kecewa. Keponakanku itu..., tiba-tiba saja memundurkan kata-katanya kepadaku. Dia merasa ingin berbeda dengan kakak-kakaknya, dia ingin mencari calonnya bukan lewat saya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah dia lebih berhak memilih hidupnya daripada siapapun?
Itu sebabnya saya ingin mengucapkan maaf sedalam-dalamnya, karena bisa jadi berita ini membuatmu kecewa. Umur, rezeki, dan jodoh ada di tangan Allah, jika kita sabar Insyaallah Dia akan memberikan yang lebih baik,” aku menganggukkan kepala.
”Semua telah diatur Allah Tadz. Sebenarnya kedatanganku kesini untuk menyampaikan bahwa saya juga akan mundur dari tawaran Ustadz tempo hari. Bukan karena menolak, tetapi karena wasiat Bapak sebelum meninggal memintaku untuk menunda pernikahanku. Aku harus menjaga ibu dan adik-adikku dulu, walau mungkin sebenarnya menikah tak akan menghalangiku menjaga mereka, namun saya merasa pesan Bapak mempunyai makna yang hanya Allah saja yang tahu,” aku teringat kembali mimpi malam itu. Kata Ibu, Bapak telah bertemu denganku malam itu, juga ketika paginya waktu Bapak di dunia telah habis.
Subhanallah, kenapa semuanya bisa searah. Berarti tidak ada yang dikecewakan dengan keputusan ini. Allah benar-benar mempermudah persoalan hamba-hambaNya.”
”Allah mempermudah jalanku juga Tadz,” aku lalu menceritakan tentang lamaran dari Wanda melalui ayahnya pak Hamdan. Lalu, bagaimana jawabanku dan ketika akan kesini harus adil dalam menentukan keputusan. Ustadz Wahid menyimak ceritaku, dan mendoakan kebaikan bagiku. Menjelang Maghrib, aku pamitan untuk pulang ke Pesantren. Aku langsung mandi dan memakai baju terbaik untuk mendatangi masjid.
Malam itu sesudah kajian malam, aku menemui Ustadz Umair di serambi Masjid. Beliau selalu disana ketika malam, kadang sering itikaf. Begitu seringnya kulihat beliau di Masjid ketika waktu tak mengajar. Hatinya kurasa terpaut kuat pada Masjid.
”Assalamu’alaikum,” aku berdiri di depan Ustadz, beliau seperti melamun.
”Wa’alaikumsalam warahmatullah,” beliau menatapku sejenak. Tangannya mempersilakanku duduk di sebelahnya, ”Duduklah Ali.”
Keheningan tercipta, hanya desahan malam yang menusuk hati. Terasa dingin. Gemintang gemerlap menyinari dunia dengan hiasan lampunya, suara air yang berkecipak di kolam terdengar karena malam begitu tenang. Aku melihat kelelawar, yang berkelebat menyambar serangga-serangga kecil yang terbang di antara lelampu yang putih bercahaya.
”Boleh aku bertanya Tadz?”
”Boleh. Tanyalah,” Ustadz Umair tak menoleh sedikitpun kearahku.
”Apakah Bapak yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningku?” aku menatapnya penasaran, entah apa yang akan dijawabnya. Dan aku terus menunggunya.
Senyum kecil tercipta dari kedua ujung bibirnya. Lalu menoleh kearahku, ”Dasar orang Sumatera, walau kau asli Jawa tapi kau telah dididik di Lampung. Ewoh-pakewoh-mu telah bercampur dengan lingkungan. Tapi aku suka orang yang terus- terang, daripada disembunyikan dan jadi beban.”
Ustadz Umair tersenyum lagi, ”Memang aku yang mengirimkan uang itu, kau tahu kenapa?” aku hanya menggeleng, ”Karena aku takut,” beliau berhenti lama.
”Takut apa Tadz.”
”Aku takut kau tidak kembali lagi kesini, menemaniku. Jika kau tak kesini, aku tak akan bisa tertawa lagi, he...he...,” Ustadz Umair tertawa hingga gigi serinya terlihat, aku ikut tertawa renyah bersamanya. Malam itu kami bercanda, ada keakraban yang sulit kugambarkan atau pun kutuliskan. Ada semacam magnet yang berbeda haluan, kemudian menyatu dan seolah susah untuk dilepas. Kami seolah telah kenal lama sebelum kami bertemu, seolah dialah pengganti Bapak bagiku.
”Tapi aku tetap akan melunasi uang itu Tadz, walaupun mungkin waktunya akan memakan waktu lama. Aku akan berusaha, aku tidak mau berhutang,” aku menatapnya, dan beliau juga menatapku teduh.
”Baiklah. Tapi aku punya tawaran. Uang itu akan kuanggap lunas jika kau mau membantuku sesuatu. Apakah kamu mau?”
”Baiklah, saya mau tapi dengan satu syarat.”
”Apa itu?”
”Bantuan itu harus sesuai dengan nilai uang yang Ustadz kirimkan, jika tidak resiko maupun tanggung-jawabnya sesuai dengan uang enam juta itu,” jawabku mantap.
”Aku punya seorang kenalan. Kenalan baik. Aku ingin kau bekerja disana, aku ingin kau belajar tidak hanya teori tapi juga langsung praktek. Kau akan digaji, dan gaji itu bisa kau gunakan untuk mengangsur hutang-hutangmu padaku. Bagaimana?”
”Lalu bagaimana dengan kuliah dan mengajiku disini Tadz?”
”Pagi hari kau kuliah dan setelah pulang kau ke kantor, menyelesaikan tugas-tugasmu di kantor. Jika kerjamu bagus gajimu akan dinaikkan. Kantor pulang pukul 16.30, kecuali jika engkau mau lembur. Dan engkau masih bisa mengaji dengan baik disini bukan walau tidak semua kajian kau ambil.”
”Apakah bekerja bisa seperti itu Tadz?” aku bertanya keheranan.
”Kau mau tidak?” dia menatapku serius.
”Maau.., mmau Tadz,” aku menjawab mantap tapi gugup.
”Kau pasti belum percaya ada pekerjaan seperti itu, sudahlah itu tidak penting. Aku kau akan digaji setelah temanku itu melihat hasil kerjamu nanti. Bukankah nilaimu cum laude?”
Aku tak perlu menjawab, ”Tapi Tadz, aku belum mempunyai pengalaman apa-apa dalam dunia kerja?”
”Pengalaman akan datang seiring kau mengambil keputusan. Seperti itulah kau ketika tiba di Depok, dari sebuah desa. Kini, pengalamanmu telah membuatmu menjadi orang yang tahu bagaimana memaknai hidupmu.”
Aku hanya mengangguk. Ingin rasanya aku menjerit, hatiku menjerit tangis, menyebut asmaNya. Begitu mudahnya Kau balikkan dunia, begitu mudah pula Kau beri hambaMu sesuatu yang kuharapkan. Aku harus mawas diri, aku tahu siapalah diriku. Aku tak mau berharap lebih. Malam semakin merayap.
”Ali...,” suara Ustadz Umair terlihat basah dan berat, ”Kenapa engkau bekerja keras di Pasar Minggu. Kau angkut barang-barang, menjadi kuli. Kau menyembunyikan dirimu dari teman-temanmu. Ceritakanlah padaku, jangan kau buat aku bersedih dan menangis, melihat dirimu setiap hari bekerja tanpa ada yang memperhatikanmu. Semua orang banyak yang mengenalmu di Depok karena ceramahmu yang lembut, lalu kau bekerja membaur bersama kuli, dan kau tutupi wajahmu dengan kain agar kau tak terlihat. Kau pikir kau sendirian di dunia, sehingga hanya kau saja yang layak menderita? Dan kau sering membolos dari kajian di pondok.”
Aku terperangah kaget, Ustadz Umair benar-benar menangis. Kukira hanya kudengar lewat cerita Syahid. Kini beliau menangis di depanku.
”Saya..., saya melakukannya karena saya mencintai Ibuku, saya mencintai Bapak, saya mencintai kedua adik saya, Yasmin dan Fajar. Saya mencintai Allah sehingga tidak mau membiarkan diriku meminta-minta kepada orang. Sungguh..., jika seseorang berada dalam posisiku dia akan melakukan apa yang kulakukan. Jika, itu membuat Pesantren tercemar, maka saya siap untuk mundur Tadz,” tiba-tiba ada sedikit keberanian yang keluar. Rasa cintaku pada keluarga membuatku harus tegas.
”Kenapa kau berpikir aku akan mengeluarkanmu Ali?” beliau memelukku erat, dia menangis tersedu. Aku merasakan cinta Allah begitu dekat. Saat itulah terdengar desahan serak Ustadz Umair pelan, ”Aku tak akan melepaskan mutiara yang begitu langka di temukan di dunia,” aku meneteskan airmata. Allah, hanya sedikit musibah yang kualami, tapi karuniaMu begitu tak ternilai oleh apapun, walaupun itu dunia dan seisinya. Allah, aku rela, aku ridha, aku ikhlas Kau sebagai Tuhanku. Aku rela jika tubuh ini terluka dan tersiksa terkena apapun, asalkan aku bersamaMu.
*     *     *
Siang itu sepulang kuliah, aku langsung menuju Pesantren. Tiba di depan, Ustadz Umair memberiku secarik kertas, ”Pergilah dengan taksi ini, dia akan membawamu sampai ke tempat kantor temanku itu. Kau berikan surat ini dan tunggu apa reaksinya. Setelah itu, terserah kamu mau menerima tawaranku ini atau tidak?” aku menerima secarik kertas itu, dan menaiki taksi dengan tanda tanya besar dalam hatiku. Taksi hijau itu meluncur, membelah jalan aspal. Baru kali ini rasanya, aku naik mobil taksi. Begitu nyaman, aku duduk di belakang taksi. Sopir taksi beberapa kali melihatku dari spion di samping kanannya.
”Apakah biaya taksi ini sudah dibayar Pak?” tanyaku.
”Bapak tadi sudah membayarnya lebih Mas,” sopir itu kini lurus memandang jalan di depannya. Mungkin dia merasa aku curiga, ketika sebentar-sebentar beliau melihat spionnya.
Mobil melaju kearah utara UI, melewati jalan-jalan yang sedikit macet, namun masih tidak semacet di Jakarta, yang sering membuat mobil harus sangat memelankan laju kendaraannya. Mobil terus melaju melewati banyak kantor maupun usaha-usaha, baik kecil maupun sedang hingga yang besar. Walau sudah hampir tiga tahun lebih di Depok, aku sangat jarang berkeliling kota. Biasanya kalau pergi hanya ke Pasar Minggu. Namanya juga orang prihatin, aku tersenyum dalam hati.
”Bapak sudah lama jadi sopir taksi?” aku mengajaknya bercakap-cakap.
Nama sopir itu pak Rahman. Lengkapnya Rohmanuddin. Dia bekerja menjadi supir taksi juga karena kebaikan Ustadz Umair. Dulu dia adalah mantan perampok, setelah tertangkap dan disiksa di kepolisian karena timah panas menembus betis kakinya. Setelah bebas, dia kembali pada keluarganya, tetapi keluarganya tidak menerimanya lagi. Akhirnya dia putus asa, dan datang ke Masjid di Pesantren Mahasiswa. Disana pak Rahman bertemu Ustadz Umair, dan Ustadz Umairlah yang mendengarkan semua keluhanya hingga dia mau bertobat.
Esoknya di minta menjadi sopir taksi.Ternyata si pemilik perusahaan ’Buroq Taxi’ adalah teman Ustadz, nama pemilik ’Buroq Taxi’ adalah Pak Sofwan. Meskipun pak Rohman tidak bisa menyetir pada awalnya, namun dia toh tetap diterima dan di training selama seminggu belajar mengemudi, hingga benar-benar bisa menguasai. Setelah bisa dilepas. Pak Rahman resmi membawa salah satu mobil disertai kartu kelengkapan dan SIM. Semuanya diurus, dan dia tinggal menjalankan tugasnya dengan baik dan amanah. Setiap mendengar nama Ustadz Umair, seolah sosok beliaulah Bapaknya sendiri.
Berkat Ustadz Umairlah juga, dirinya dapat menikah dengan Siti Nur Anisa, salah satu santri jebolan pesantren ’Nurul Iman’ di Kudus. Isterinya yang lulusan Madrasah Aliyah, ternyata amat penyabar dan penyayang hingga kini mereka dikarunia tiga orang anak. Pak Rohman bercerita dengan serunya, aku mendengarkannya. Rata-rata manusia jika diminta cerita perjalanan hidupnya, pasti dia merasa senang jika diperhatikan. Tapi entah kenapa, diriku sendiri malas menceritakan pengalamanku sendiri. Sebenarnya bukan malas, tapi aku merasa cukuplah Allah yang tahu dan Dialah yang Maha Mengetahui. Biarlah kurasa cukup aku mengadu padaNya.
Tangan pak Rohman menunjuk sesuatu di sebelah kiri jalan, ”Kau lihat itu?”
aku mendekatkan kepalaku di kaca dekatku. Sebuah barisan gedung, ada satu bangunan yang warnanya unik, ’Hotel Mawaddah’ nama yang bagus. Pasti pemiliknya menginginkan agar usahanya diridhai Allah.
”Maksud pak Rahman, hotel Mawaddah?” aku balik bertanya.
Pak Rahman langsung menjawab, ”Itu salah satu usaha yang berada dalam manajemen tempat yang akan menjadi tempat kerjamu nanti,” aku hanya menganggukkan kepalaku, walau aku sendiri masih belum mengerti yang dimaksudnya.
Dalam perjalanan itu, pak Rahman beberapa kali menunjukkan usaha-usaha. yang dikatakannya sebagai usaha yang berada di bawah manajemen kantor yang akan menjadi tempat kerjaku. Ada rumah makan ’Barakah’ letaknya di dekat pasar, dan bersebelahan dengan Masjid Taqwa, Sebuah usaha Konveksi, juga ada Restorant dan beberapa usaha lainnya, dikatakan juga masih dalam satu manajemen. Mobil terus melaju, hingga masuk wilayah Jakarta Timur. Mobil berhenti di tempat parkir sebuah bangunan yang tinggi menjulang.
”Ayo turun,” aku mengikuti langkah Pak Rohman, lalu kami mendekati pintu masuknya. Gedung yang tinggi, besar dan tingginya kurasa melebihi gedung Rektorat Universitas Indonesia. Sungguh megah dan bersih, Rektorat saja masih kalah. Pintu kaca itu otomatis terbuka, ketika Pak Rahman masuk, aku mengikutinya dari belakang. Mobil taksinya diparkir di sebelah mobil-mobil lainnya.
Saat masuk, kulihat beberapa orang sedang duduk di ruangan itu. Rata-rata mereka mengenakan baju rapi dan ditutup jas. Pak Rahman mendekati custumer service, wanita berjilbab yang wajahnya selalu tersenyum itu.
Pak Rahman berbincang sebentar dengan wanita itu. Lalu wanita itu memencet beberapa nomor, dan terjadi percakapan pelan, lalu wanita itu berhenti lagi seolah menunggu suara dari seberang.
”Silakan masuk, anda ditunggu sekarang,” wanita itu mempersilakan.
”Sekarang kamu naik kesana sendiri, Bapak harus bekerja lagi. Ok? Semoga sukses Ali,” pak Rahman hendak berlalu.
”Pak,” pak Rohman kembali menoleh, ”Aku..., aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?”
”Tenang saja, kau sama seperti aku sewaktu awal ditawari Ustadz Umair. Percaya dirilah, beliau tidak akan membantumu jika kau tak punya kemampuan,” pak Rahman tersenyum sambil berlalu, ”Assalamu’alaikum.”
Aku menjawab salamnya, hingga kulihat dia menghilang dari balik pintu.
”Maaf Mbak,” wanita itu tersenyum ke arahku, ”Dimana ruang orang yang menunggu saya?”
”Anda belum tahu?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Wanita itu memanggil seorang OB[4] dan  memintanya mengantarkanku ke tempat ’Rapat pak Abdullah’, aku yang bingung, hanya mengikuti langkah lelaki muda berseragam hijau muda loreng itu.
Kami naik lift. Lift terbuka setelah hampir satu menit. Roni berjalan santai, melewati satu lorong. Begitu namanya ketika kami berkenalan barusan, dia orang yang supel.
Seorang wanita berjilbab duduk di tepi kiri, wanita itu tersenyum padaku dan memencet beberapa nomor telepon di depannya. Setelah hubungan telepon diputus, wanita itu mempersilakan aku masuk ke ruangan. Roni berpamitan untuk meneruskan tugasnya. Aku berjalan ke depan, tampak sebuah ruangan yang pintunya bergagang kaca bening bagaikan mutiara.
Di lorong itu, sebelum pintu terdapat banyak ukiran bertuliskan arab. Ada kalimat Laa ilaa haillallah, surat Al-Fatihah, dan lain sebagainya. Perusahaan yang mengutamakan unsur agama sebagai landasan dan Allah sebagai tujuan. Perusahaan yang luar biasa. Di depan pintu tertulis sebuah kalimat yang langsung tertancap dalam hatiku, ”Bekerja dan berusaha menjadi yang terbaik, untuk menggapai ridha Allah semata,” alangkah indahnya jika aku bekerja disini. Alangkah tidak terpisahkannya antara hidup, kerja maupun ibadah. Tidak seperti yang selalu diumbar oleh para Orientalis dan Liberalisme, yang mengatakan bahwa agama dan kehidupan apalagi urusan kerja, tidak akan pernah bisa digabung jika ingin maju.
Aku membuka pintu pelan sambil mengucapkan salam. Ruangan di dalam begitu besar, ruangan yang sangat besar. Di pinggir-pinggirnya terdapat hiasan-hiasan kaligrafi, ada bunga-bunga indah yang berada di tiap pojok, ada Aquarium ikan yang jernih airnya dan besar bentuknya. Di depanku ada meja besar, beberapa orang duduk di pinggir kiri dan kanannya. Wanita-wanita berjilbab saling berhadapan begitupun dengan para prianya. Setiap mereka memegang laptop masing-masing. Disana ada sekitar sebelas orang atau lebih, aku tak terlalu memerhatikan, karena dalam pandanganku adalah ruangan indah seperti ini ternyata ada di dunia ini. Begitu jernih dan bersih. Bagaikan jiwa yang murni, seperti bayi yang polos.
”Anda!” seseorang yang duduk paling ujung, yang berbeda dengan barisan lainnya yang saling berhadapan berteriak. Mungkin dia pemimpinnya. Aku menatap orang itu, bajunya teramat gagah, dengan setelan jas walaupun usianya kuterka sekitar 40an lebih,. mengingati wajahnya lebih seksama. Aku ingat!
”Anda,” Dia mengacungkan jari tengahnya kearahku sambil berdiri, ”kaukah yang menolongku sewaktu di UI?”
Aku tersenyum padanya, ”Iya Pak. Anda pak Salim kan?”
Beberapa orang di ruangan itu mengamatiku dan bergantian dengan pak Salim.
”Bapak pemilik usaha ini?” aku mendekati beliau lalu menyerahkan kertas pemberian Ustadz Umair, beliau membacanya pelan. Aku tak tahu sama sekali apa isi tulisan itu.
”Kata Ustadz Umair nama anda Abdullah, lalu bukankah nama bapak Salim?” aku bertanya penasaran. Aku dipersilakannya duduk, aku duduk tepat di hadapan pak Salim, jadilah aku seperti pemimpin rapat bersama pak Salim. Masih kulihat wajah keheranan dari setiap orang yang duduk disana.
”O..., itu. Nama lengkapku adalah Abdullah Salim Al-Jahsy. Biasanya teman-temanku di rumah maupun sewaktu kuliah dulu panggilanku adalah Salim,” senyumnya bagaikan keteduhan di sela-sela kebingunganku. Akupun belum merasa berada di dunia. Aku berada diantara orang-orang yang sukses? Aku mencubit pahaku, sakit! Ternyata ini tidak mimpi.
Setelah rapat diakhiri. pak Salim, meminta semuanya mendengarkannya, ”Aku menginformasikan bahwa Ali seorang Mahasiswa, dia orangnya pintar dan ulet. Aku ingin dia bekerja disini, aku tempatkan dia membantu di bagian pemasaran,” semuanya menatapku. Mereka semua menganggukkan kepalanya dan berkata, ”Selamat datang di kantor ini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,”walau ada kekagetan dalam setiap wajah mereka kemudian rapat itu bubar. Hanya tinggal Aku dan pak Salim
Pak Salim mengajakku bicara santai. Dia akan membantuku selama disini, dia sekali lagi berterima kasih padaku, dan maaf karena setelah kejadian itu tak pernah mengunjungiku. Aku tersenyum, aku bagaikan orang penting. Dan Allah-lah yang membuatku menjadi seperti ini. Aku masih penasaran, Ustadz Umair ternyata mempunyai kolega yang banyak. Pekerjaan untuk pak Rahman saja dapat diusahakan dalam waktu sehari, sedangkan aku hanya beberapa menit. Orang seperti apa Ustadz Umair itu? Aku sendiri tidak tahu.
Hari itu, aku diajak keliling oleh Pak Salim, dikenalkan ke setiap bagian. Aku jadi ta’aruf di setiap bagian. Namaku seolah menggema di kantor itu, bagaimana tidak aku, diperkenalkan ke seluruh jajaran hingga satpam dan cleaning servicenya. Setahuku gambaran suatu kantor besar adalah mereka saling acuh tak acuh, menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri, egoisme diutamakan, kompetisi yang kurang sehat. Begitulah yang tergambar ketika dalam materi kuliah, terutama materi kuliah Management Personalia atau Teori Pengambilan Keputusan. Sungguh, ini adalah suasana kerja yang begitu nyaman pastinya.
Saat Ashar tiba, aku pamitan. Ternyata kantor itu tutup sementara. Semuanya shalat kecuali yang berhalangan bagi wanitanya. Ada yang shalat di Masjid dan ada yang shalat di Kantor, mereka berjamaah. Aku dan pak Salim keluar di Masjid yang letaknya sekitar 35 meter dari kantor, saat keluar aku melihat kantor itu  dari luar. Aku tadi lupa belum membaca nama perusahaan itu. Aku mengeja huruf itu dalam hati, ’ZAHRA CORPORATION’ hatiku tiba-tiba sejuk membacanya. Nama-nama yang baik memang merupakan doa. Maka, banyak orang yang tidak asal dalam memberikan nama untuk anak-anaknya.
Setelah shalat kami pamitan pada pak Salim. Katanya besok, aku sudah bisa memulai kerjaku. Beliau akan membimbingku, lalu dia bertanya kepadaku tentang gaji, beliau menanyakannya padaku. Aku menjawab santai, ”Sesuaikan saja nanti dengan kinerjaku, aku siap dibayar berapapun, asal sesuai dengan kontribusiku terhadap ’Zahra Corporation’ mudah bukan?”
Saat kembali ke Pesantren. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Benarkah aku telah bekerja di suatu perusahaan yang begitu besar? yang menaungi beberapa usaha di dalamnya? Hatiku terus berdesir dan berdzikir.


[1] HR Muslim dan Imam Ahmad (Doa Nabi saw ketika rukuk)
[2] HR Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i
[3] HR An-Nasa’I dan Imam Ahmad
[4] Office Boy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar