Sepulang kuliah hari ini,
aku punya rutinitas baru. Setelah shalat Dzuhur berjamaah aku berangkat ke
Jakarta Timur, kebetulan ada sepeda di Pesantren dan Ustadz Umair mempersilakan
aku memakainya. Kukayuh sepeda, sambil menikmati semilir angin sejuk kota
Depok. Pori-poriku sejuk, terpaan angin kadang menampar mataku hingga harus
berkedip-kedip, menghilangkan debu yang nyasar masuk hingga membuatku
mengucek-nguceknya. aku terus mengayuh.
Aku jadi teringat masa
kecilku, kenangan itu amat kuat terbayang bagai layar monitor yang terbentang
di depanku. Kenangan itu semakin kuat, ketika aku mengejar Mawar. Aku melewati
bukit terjal, mengebut dan, ‘brakk!’ aku terjatuh akibat penghalang kayu yang
jatuh dan menghalangi jalan. Aku mengaduh, lutut kakiku berdarah-darah. Tapi
keyakinanku begitu kuat, hingga rasa sakit itu seolah hilang sama sekali. Aku
kembali mengangkat sepeda itu dan melewati kayu lalu kukayuh kembali.
Aku melihat mobil itu,
dimana Mawar kecil berada di dalamnya. Aku nekad menuruni lereng dan begitu
cepat saat mendarat di aspal mobil itu telah mendahuluiku. Kulihat Mawar
melambaikan tangan, mataku terpaku sejenak menatapnya. Tak kusadari sepeda
melaju tanpa kutahan dan aku terjungkal.
Aku membuyarkan semua
lamunanku. Kenangan itu perlahan menghilang. Kalau saja waktu itu, aku kuat menjalani segala
sesuatu karena keyakinan yang kuat. Kini, keyakinanku melambung demi sebuah
keyakinan yang lebih suci, keyakinan yang lebih abadi, keyakinan yang terindah.
Keyakinan untuk menetapi Allah, Ibu dan adik-adikku. Aku pasti bisa. Bismillaa
hirrahmaan nirrahiim.
Aku memarkir sepeda di tempat
parkir, ada beberapa sepeda juga disana. Areal parkir dibagi tiga ruang, yang
pertama di sebelah kanan untuk mobil, ruangan kedua yaitu di sebelahnya untuk
kendaraan bermotor, dan di sebelah kiri adalah untuk sepeda. Mataku kembali
menatap papan nama yang dicetak besar, di gedung menjulang di depanku itu.
Zahra Corporation. Nama siapa yang digunakan pak Salim untuk dijadikan
perusahaannya. Aku tersenyum, alangkah cintanya seorang suami kepada isterinya,
sehingga menjadikannya namanya untuk nama usahanya. Pikiranku melayang akan
keinginanku menikah tempo waktu, tetapi kuyakin dengan bersabar Allah akan
memberikan yang terbaik. Aku yakin padaMu ya Allah. Aku melangkah masuk.
Aku sempatkan mengobrol
sebentar dengan satpam yang ramah itu, namanya Sugiarto. Dia disini atas saran
Ibunya, yang ternyata dulu pernah bekerja di rumah Pak Salim. Setelah Ibunya
sudah tak sanggup lagi bekerja karena telah senja, maka dia meminta anaknya
dari desa untuk menggantikannya, mengabdi kepada keluarga Pak Salim. Sebenarnya
Sugiarto diminta membantu di Solo, untuk toko buku tapi dia memilih menjadi
Satpam, karena dia mengganggap pekerjaan ini yang ia bisa. Umurnya sekitar 35
tahun, beliau dari Sragen. Dia menikah dengan orang Depok, sekarang sudah
dikarunia tiga anak. Begitu ceritanya dengan bangga. Aku pamit untuk masuk.
“Mas, besok-besok kita ngobrol
lagi ya?”
“Memangnya ngobrol dengan saya
enak?” aku berbalik menatapnya.
“Mas Ali adalah satu-satunya
karyawan yang masih berstatus Mahasiswa, pikirannya pasti masih cling! Aku
yakin Pak Salim tidak akan asal memilih. Aku yakin Mas Ali punya kemampuan atau
potensi yang bagus.”
“Ah! Mungkin kebetulan saja
Pak. Ya sudah, Assalamu’alaikum,” aku meninggalkannya. Kata-kata Satpam itu
terus terngiang sambil kumelangkah. Aku tidak boleh mengecewakan Ustadz Umair
yang memercayakanku pada pak Salim, aku harus dapat menguasai setiap
kesulitan karena dengan itu aku dapat meraih kesempatan. Pak Salim ternyata
duduk di ruangan itu. Beliau tersenyum dan menyambutku. Saat kutanya kenapa
sampai menunggu karyawan baru sepertiku, dan jawabanku semakin memperjelas
uraian Sugiarto. Katanya, “Aku akan membimbingmu, aku tahu kau punya potensi
yang besar Ali. Sebagaimana orang itu memercayakanmu,” aku berpikir sejenak,
‘Orang itu’ pasti Ustadz Umair.
Pak Salim memperkenalkan
dengan beberapa staff dan jajaran manajer. Pak Salim
meminta rapat hari ini juga.
Hari itu setelah musyawarah
sejenak di ruangan, untuk menentukan aku di bagian mana, mereka tampak sedikit
berdiskusi. Pak Salim memberikan kelonggaran kepadaku untuk memilih di bagian
manapun. Surya di bagian Administrasi memintaku untuk membantunya. Hasan, Manajer Personalia juga memintaku membantunya di bagian pengelolaan pegawai, Mbak Husna juga menawarkanku untuk
bidang promosi, suasana musyawarah nampak cair sehingga membuatku seolah telah
akrab.
“Jika diperkenankan aku
memilih untuk membantu Pak Arifin di bidang pengawasan,” nampak mereka diam
sejenak. Karena aku tahu bagian itu memang harus benar-benar menguasai seluruh
bidang usaha, dan aku belum tahu seberapa besar usaha yang sesungguhnya milik
‘Zahra Corporation’ tapi bukankah pemenang harus menguasai kesulitan, jika
ingin mendapatkan kesempatan? Aku yakin dengan langkahku.
Hanya satu orang yang
tersenyum. Dia pak Salim, “Aku sangat yakin dia bisa, aku yakin dengan
kemampuannya. Engkau akan membantu kerja Pak Arifin dan gajimu akan kusesuaikan
dengan pekerjaanmu.”
Semua orang dalam musyawarah
itu mengucapkan selamat bergabung, dan mereka menyatakan siap membantuku apa
saja jika membutuhkan bantuan. Hari ini, aku mulai bersama Pak Arifin.
Mempelajari semua struktural usaha, kantor Zahra Corporation ternyata membawahi
21 usaha di banyak tempat, dan dengan usaha yang berbeda. Aku semakin
terhenyak, setiap usaha ternyata telah memiliki cabangnya, hanya tiga usaha
yang kategorinya menengah, dan yang masih belum ada cabangnya karena itu masih
usaha baru.
Aku tak menyesal sama sekali
mengambil bagian ini, aku sering keluar ternyata. Berkeliling menggunakan mobil
xenia biru muda, pak Arifin selalu mengajakku memantau ke setiap usaha center
maupun cabang-cabangnya. Ada yang di Semarang untuk usaha konveksi, dan ternyata
usaha ini mencapai angka sepuluh besar di kota itu, lalu di di Solo ada toko
buku yang begitu besar, menjual buku-buku agama dan buku-buku umum. Saat pak
Arifin berbincang dengan pengelola disana. Aku membaca buku, pak Arifin tahu
aku tertarik dengan buku itu. Dia
membelikannya untukku dua buku. Satu tentang motivasi dan satunya novel
berjudul Kudus Gelombang Cinta, karena dari prolog di depan terdapat kata,
’Perjuangan Cinta Seorang Ayah.” Kami pulang kembali, aku membaca buku itu di
mobil, ‘Panduan CEO.’ Kelihatannya buku yang bagus.
Ketika pergi keluar kota pun,
aku tidak selalu bisa ikut menyertai Pak Arifin, kecuali pada saat libur Sabtu
dan Minggu bertepatan dengan liburnya belajar di Pesantren juga kuliah, karena
hari sabtu kosong. Kugunakan waktu itu untuk menemani pak Arifin pergi ke
usaha-usaha di luar kota sekalipun.
Saat di Pesantren, kuatur
waktuku yang semakin rapat. Kajian di pondok jangan tertinggal, ujian sebentar
lagi tak boleh diabaikan sama sekali, privat dengan Fadli pun tak boleh kutinggalkan,
karena aku ingin melihatnya mandiri dan berhasil. Hanya kerjaku di Pasar Minggu
yang aku tinggalkan. Aku banyak melahap buku-buku tentang bisnis dan usaha, dan
itu sesuai dengan jurusanku. Aku ingat motivasi dalam buku Panduan CEO ‘Pandangan
yang luas selalu mengalahkan ide yang sederhana.’
Aku bertekad untuk memberikan
andil besar dalam usaha pak Salim. Aku jadi teringat kembali dengan ide Sir
Winston Leonard Spencer Churchil, ‘Semakin jauh anda melihat ke belakang,
semakin jauh anda dapat melihat ke depan. Saya tidak pernah khawatir akan
tindakan, tetapi saya sangat khawatir akan ketiadaan tindakan. Dan cara terbaik
menghadapi segala situasi adalah tindakan yang sederhana.” Aku akan
berjuang keras selama sebulan ini.
Malam itu, mataku belum bisa
terpejam. Aku ingin mencontoh salah satu semangat motivasi sahabat Nabi saw.
Aku menemukan satu nama yang kurasa cocok untuk melejitkan semangat
kesuksesanku. Dialah Khalid bin Walid ra yang bergelar Saifullah, ‘Pedang
Allah yang selalu terhunus’
Khalid pada masa kekhalifahan
pernah mencapai puncak prestasi, titik kulminasi, nilai tertinggi yaitu pada
saat perang Yarmuk berkobar. Khalid bin Walid ra. Memimpin 36.000 pasukan kaum
Muslimin dengan heroiknya, mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah 240.000,
hingga pasukan Romawi terkocar-kacir dan bersembunyi bagai tikus yang dikejar
kucing. Hingga Khalid berteriak, ‘Seandainya kalian lari ke langit kami akan
naik dengan kuda-kuda kami dan kupancung kepala kalian!’ begitulah geramnya
Khalid bin Walid ra. dan umat Muslim,
karena sewenang-wenangnya Romawi dan zalimnya mereka yang selalu membantai
manusia seenaknya dan mempertuhankan manusia.
Sebuah rahasia Khalid bin
Walid dapat kubaca dalam salah satu riwayat. Dia mengabarkan kaum Muslimin yang
ingin meraih kesempatan untuk menang di jalan Allah. Beliau berpesan, “Seluruh
lembah, gunung-gunung, dan gurun yang pernah kulewati, pasti akan selalu
kuingat (kupelajari). Sekaligus kubayangkan segenap strategi dan rencana yang
akan kugunakan jika suatu saat aku berperang di tempat tersebut.”
Setelah Khalid bin Walid ra.
memenangkan perang Yarmuk, beliau dipecat
khalifah Umar bin Khattab ra. karena rasa cinta Umar yang mendalam pada
saudaranya, karena Umar khawatir setelah umat muslim mengelu-ngelukan nama
Khalid, bisa jadi Khalid menjadi sombong akan keberhasilan-keberhasilannya.
Hingga Khalid membayar sangat mahal kepada seorang penyair yang
menyanjung-nyanjung kehebatannya. Rasa cinta Umar bin Khatab membuatnya harus
mengambil langkah, agar Khalid tidak merasa dirinyalah yang berjasa pada
kemenangan Islam, sebagaimana Iblis yang congkak karena dirinya merasa lebih
baik, dalam hal penciptaan ketimbang Adam as.
Inilah nilai kepahlawanan yang
murni dari Khalid bin Walid ra. harus ditunjukkan pada Allah, RasulNya dan segenap
kaum muslimin. Khalid bin Walid tak mau namanya dicantumkan dalam sejarah,
sebagai orang yang memimpin kemenangan perang Yarmuk, inilah kekuatan lapang
dadanya yang membuat Umar bin Khatab ra. menangis untuknya.
Setelah perang Yarmuk itulah,
Khalid tidak pernah ikut dalam peperangan lagi. Tubuhnya telah banyak luka
perang, dia sakit. Saat itulah, Beliau melewati hari-hari terberat dalam
kehidupannya. Peperangan sangat dirindukannya hingga dulu dia berprinsip dan
berkata, “Malam mencekam dalam kondisi perang membela agama Allah, lebih aku
cintai dari pada bersama dengan seorang gadis pada malam pernikahanku,” kini
dia harus kuat menahan kerinduannya itu.
Dia tidak ingin kaum muslimin
mengelu-ngelukannya. Sehingga dari kaum muslimin ada yang mengatakan, “Setiap
pertempuran akan selalu menang jika ada Khalid bin Walid,” Walid menangis
kepada Rabbnya, bukankah kemenangan hanyalah milik Allah? Dia terus
mengintrospeksi dirinya dan membenarkan tindakan khalifah.
Khalid kemudian menghadap
Allah dengan senyum keikhlasan, senyumnya teduh seteduh telaga kautsar,
senyumnya tanda kerinduan membuncah kepada Tuhannya. Matanya yang tertutup
begitu lembut, bagaikan kapas yang tenang kala meninggalkan sangkarnya, terbang
kemanapun ia suka, terbang bebas untuk mengabarkan kebahagiaan. Beliau
meninggal di atas kasurnya dan bukan di medan peperangan, walaupun dia membawa
lebih dari 70 luka tusukan dalam tubuhnya.
Begitulah benarnya Sabda
Rasulullah, bahwa di antara ummatnya ada yang syahidnya di atas ranjangnya. Subhanallah.
Itulah pemenang! Itulah pemenang! Mereka bukan orang-orang cengeng yang
mengejar popularitas dan dunia, mereka hanya mengharap ridha Allah semata. Air
mataku berderai-derai, aku harus belajar banyak hal. Aku harus mengikuti Khalid
bin Walid ra., seorang Pahlawan tanpa tanda jasa, kecuali tanda kesyahidan
dalam harum namanya.
Kuliah hari ini hanya satu
mata kuliah, sebentar lagi ujian. Aku harus mempersiapkan diri secara penuh,
harus dapat membagi waktu dan pikiran. Banyak orang yang berpikir ‘Kapan libur’, jika dia sedang kuliah dan
belajar dan berpikir ‘Kapan sekolah lagi’ jika sedang liburan. Banyak orang
yang shalat pikirannya kemana-mana dan tidak fokus, orang sedang makan
memikirkan kerja, ketika kerja memikirkan makanan dan lain sebagainya. Itulah
yang membuat manusia tidak bisa fokus, kenapa tidak memikirkan apa yang sedang
dilakukannya saat itu juga.
Saat hendak pulang, sebuah
suara membuatku menghentikan laju langkahku.
“Ali…, sebentar,” suara Aisyah
lembut.
“Ada apa Ais?”
“Ehm…, bagaimana perkembangan
Fadli adikku?”
“Bagus. Sangat bagus! dia kini
telah hafal satu juz, juz 28,” aku menjawab prestasi hafalannya, bukan prestasi
akademiknya. Bukankah akademik dia lebih tahu daripada aku? Karena dia lebih
sering bersamanya.
“Apakah kau punya janji dengan
Fadli?”
“Janji?”
“Ya.”
“Janji apa?” aku tak ingat.
“Janji jika Fadli bisa
menghafal satu juz, kau akan memberinya hadiah istimewa.
“Astaghfirullahal ‘Adhim, iya aku lupa. Insyaallah aku akan memberikan hadiah padanya. Tapi, kenapa dia
tidak menagihnya padaku?”
“Dia malu mendahuluimu, dia
ingin kau yang menawarkan hadiah itu,”
“Benarkah?”
Aisyah menggangukkan
kepalanya. Bisa juga Fadli bercanda, hatiku tersenyum sendiri. Aisyah pamitan padaku. Aku meneruskan
langkahku untuk pulang.
“Kau pasti ada apa-apanya sama
Aisyah? Ayo Ustadz ngaku sama aku? Aku tidak akan marah. Aku bahagia jika kamu
menikah dengannya,” Hanif memberondongku, sambil berjalan keluar kelas. Aku
tersenyum padanya.
“Nif, kau tahu sendiri aku ini
siapa? Aku anak Pesantren yang mendapat keringanan, karena tidak kuat membayar,
lalu bekerja di Pasar Minggu dan kerja apa saja. Aku orang miskin Nif. Tenang
saja, jodohku dan jodohmu ada di tangan Allah.”
“Iya aku tahu, aku salut sama
kamu Fren. Aku saja masih minta sama orangtua. Semoga Allah selalu menyertai
langkahmu. Aku janji tak akan menjahilimu lagi. Kecuali…, jika terpaksa,”
matanya mengedip sambil tersenyum sambil memukul bahu kananku pelan.
“Ayo kita pulang,” kami
melangkah keluar kelas, keluar dari Fakultas Ekonomi. Menantang matahari yang
tegar berpijar, bagaikan petala langit yang dihidupkan Allah ‘Azza wa Jalla, untuk memperingatkan
manusia akan panasnya api neraka.
Sepulang kuliah, aku mengambil
sepeda di Pesantren, aku sampai di kantor ‘Zahra Corporation’ pukul 11.00.
Dzuhur masih sekitar satu jam lagi. Masih ada waktu untuk lebih mengenal jauh
usaha-usaha secara keseluruhan. Pak Arifin tersenyum melihatku masuk ke
ruangannya. Hari ini kami akan berangkat ke Surabaya untuk melihat kondisi
usaha Rumah makan ‘Barakah’, yang disana menyediakan hampir semua makanan khas
setiap daerah di Indonesia.
Rumah makan Barakah terdiri
dari empat tingkat. Di setiap tingkat terdapat tukang masaknya sendiri-sendiri.
Tingkat ke-empat adalah makanan khas untuk Negara Barat, tingkat ke-tiga
merupakan masakan khas Timur Tengah, untuk tingkat ke-dua makanan khas Jawa dan
sekitarnya, dan tingkat pertama khas masakan Sumatera.
Adzan Ashar menggema. Para
pegawai di Rumah Makan itu bergantian shalat di Mushola Al-Muhajirin. Aku
pamitan dengan Pak Arifin untuk sejenak ke Masjid. Aku teringat pesan Khalid
bin Walid ra., maka setelah shalat aku banyak mencari informasi dari masyarakat
sekitar rumah makan itu, banyak yang kutanyakan pada setiap orang yang kutemui
di Masjid. Aku banyak menemukan informasi baru, kucatat dan kusimpan dalam tas
bututku.
Tanpa terasa sabtu sore itu
menjelang Maghrib, aku kembali ke rumah makan. Wajah pak Arifin sedikit muram,
kutahu dia sedikit kecewa dengan kinerjaku, karena untuk shalat saja
menggunakan waktu yang terlalu lama. Aku hanya menjelaskan aku bertemu dengan
orang-orang disana dan sedikit ngobrol. Setelah Maghrib kami meluncur ke Bekasi
yaitu dihotel ’Salim’. Hotel yang megah, kami disambut dengan baik. Aku terus
mengikuti pak Arifin, hingga rapat musyawarah untuk jajaran tertinggi di hotel
tersebut.
Aku izin untuk keluar, mencoba
menggali informasi sebanyak-banyaknya, ilmu sebanyak-banyaknya. Jadilah malam
itu ba’da isya’ malam minggu aku
mengelilingi seluruh hotel itu, sambil sedikit berbincang-bincang pada para
penjaga, para kasir hotel dan para pengunjung, sedangkan pak Arifin kutahu
masih rapat, karena biasanya kutahu rapat-rapat yang lain terlalu lama dan aku
merasa tak tahan. Aku mencatat segala informasi yang kudapat, nanti setelah
kembali ke Depok akan aku analisis sendiri.
Senin pagi, aku menyiapkan
segalanya berangkat kuliah, kumasukkan perlengkapan yang akan kugunakan pada
hari ini. Dua minggu lagi ujian semester ganjil. Aku sudah semester tujuh. Aku
harus segera melengkapi bahan-bahan untuk semester, aku segera ke perpustakaan
mencari bahan yang belum kudapat. Dapat! Langsung kusalin disana tentang
Korelasi dan Regresi, dalam hal proyeksi usaha perdagangan barang maupun jasa.
Saat konsentrasiku penuh, seseorang mengagetkanku.
”Ali.., kau sedang sibuk ya?”
Aku menengok ke sebelah kanan,
akhir-akhir ini aku sering berkonsentrasi penuh hingga tak menyadari jika
apapun terjadi di sekitarku. Mau gempa atau tsunami pun mungkin aku tak
merasakannya, sebagaimana Imam Nawawi Rahimallah tak merasakan rasa makanan
ketika ibunya menyuapi, ketika beliau sedang belajar dan menulis kitab. Aku
kaget, Aisyah berada di sebelahku dengan satu kursi kosong yang membatasinya.
Sejak kapan?
”Tidak juga, aku sedang
menambah bahan-bahan untuk semester minggu depan. Sebentar lagi kita juga harus
segera menyusun skripsi. Aku ingin lulus pada semester depan ini.”
”Kau sudah tahu kabarnya Wanda
Hamidah?” dia menatapku lalu menunduk.
”Memangnya ada apa dengan
Wanda?” aku sedikit kaget mendengar nama gadis Aceh itu disebut. Aku jadi
teringat kejadian di Lampung dulu.
”Minggu depan dia akan
melangsungkan pernikahannya dengan Jamaaluddin Al-Afghani. Kau tahu, dia amat mencintaimu. Kau tahu,
perempuan itu sangat sensitif. Berkali-kali kulihat dia saat berbicara padaku.
Matanya sering sembab, dia tersiksa oleh rasa cinta, dan kutahu dia tak berani
mengungkapnya kepadamu. Karena aku juga...,”
”Ketahuan sekarang!” Aku dan
Aisyah kaget. Hanif telah berada di antara kami duduk. Hanif menatapku, aku
sedikit mendelikkan mataku supaya dia tahu kalau aku sedang berbicara serius
dengan Aisyah. Saat itu aku melihat jam tanganku, hampir Dzuhur. Aku juga harus
segera ke kantor.
”Baiklah, mungkin kita
teruskan obrolan kita lain kali. Aku ada keperluan. Silakan jika ingin
mengobrol lagi,” aku beranjak hendak meninggalkan mereka.
”Ali,” aku menoleh, kulihat
Aisyah ingin mengatakan sesuatu dari raut wajahnya sekilas.
Bibirnya bergerak, ”Ehm...,
hati-hati,” Hanif melongo dibuatnya. Wanita berjilbab itu tersenyum kearahku
lalu menunduk. Hanif seolah menyinyir kuda kepadaku, tanpa diketahui Aisyah.
Dia semakin mengejek aku pasti nantinya. Aku keluar, tapi ketika aku mengambil
tasku di loker, mereka juga ikut keluar. Aku tak peduli, aku harus bergegas.
Naik Bikun, aku tak menyiakan waktu. Siapa yang menguasai waktu dialah
yang menang. Bayangkan jika waktu setiap orang terbuang walau hanya satu menit,
ketika dikalikan jumlah penduduk bumi misalnya empat milyar. Jumlahnya menjadi
empat milyar menit, dengan waktu sebanyak itu bukankah dunia sudah dapat
digunakan beribadah kepada Allah? Atau dapat merubah tatanan masyarakat yang
rusak menjadi baik. Aku bergegas.
Waktu terus merambat, tak
kuasa aku telah satu bulan bekerja di Zahra Corporation. Ternyata gaji
diberikan sesuai dengan tanggal masuknya setiap pegawai, oleh sebab itu jarang
ada yang berbarengan antara gaji pegawai yang satu dengan yang lainnya. Saat
itu, genap usia kerjaku 30 hari. Aku dipanggil pak Salim.
”Bagaimana ujianmu Ali?”
”Insyaallah lancar Pak,” aku tersenyum karena keramahannya. Matanya
yang jernih menandakan ketulusan akhlak. Tentu dia paham banyak tentang agama,
terlihat dari peraturan di seluruh cabang usahanya yaitu dahulukan shalat.
”Sebelumnya aku minta maaf.
Hari ini aku akan memberi insentifmu,” pak Salim menyerahkan amplop kepadaku,
”Ini terimalah.”
”Bapak tadi bilang minta maaf?
Boleh kutahu kenapa Pak?”
”Pada saat kamu datang kita
telah membuat satu kesepakatan. Engkau akan digaji sesuai kinerjamu, untuk
itulah aku meminta maaf karena berdasarkan laporan dari pak Arifin, kerjamu
sering tak disiplin dan sering meninggalkannya semaumu, tanpa memberi tahu akan
kemana dan berada dimana. Ini menjadi pelajaran untukmu, bukan aku meragukanmu,
karena kutahu kau punya kemampuan yang bagus, tapi kinerjamu dalam sebulan ini
cukup memuaskan sebagai karyawan baru,” nadanya begitu tenang, berkarakter kuat,
dan mempunyai kharisma dalam setiap untaian kata-katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Aku
mengakui bahwa aku kurang disiplin dalam menjalankan tugasku.
”Tidak usah khawatir Ali, ini
hanya permulaan saja. Biasanya pegawai baru disini rata-rata dulu selama tiga
bulan adalah usaha adaptasinya dengan seluruh lingkungan. Aku sangat percaya
padamu, tapi berusahalah baik-baik bekerja sama dengan yang lain. Karena usaha
ini mengutamakan profesionalitas bukan hubungan kedekatan dengan pemimpin
utama. Kau paham Ali?”
Aku mengangguk dan pamitan
pergi.
”Oya Ali, adikku juga kuliah
di UI kau kenal dia? Ingat sewaktu kamu menolongku di kompleks Asrama
Mahasiswa?” aku mengangguk, ”Kedua adikku kuliah di UI, yang satu kini ikut
dengan suaminya di Mesir karena suaminya sedang menyelesaikan S2-nya, sedangkan
ia harus meneruskan kuliah disana. Mungkin kau kenal dengannya. Satunya lagi
masih di UI”
”Siapa namanya Pak?”
”Zahra.”
”Zahra? Sepertinya saya pernah
dengar,” kuingat nama itu. Iya aku ingat sekarang! Bukankah itu nama yang
selalu kubaca ketika aku masuk ke kantor ini. Tapi seolah nama itu pernah
kudengar, tapi dimana? Aku lupa. Mungkin karena aku pelupa, tapi aku pernah
mendengarnya. Aku yakin itu.
”Maaf Pak, saya tidak ingat.”
”Tidak apa-apa, padahal dia
terbaik satu angkatannya. Tapi, mungkin dia memang jarang keluar kecuali dia
berdakwah dan menuntut ilmu. Apalagi kau, kudengar kau juga sering mengisi
kajian besar dan mengisi jadwal jum’at di sekitaran kota Depok. Aku pernah
mendengar khutbahmu sekali sewaktu di masjid Raya di pusat Depok,” aku hanya
membalasnya dengan senyuman.
Senja kota Depok menyapaku,
membalut keringatku yang bercucuran sehabis naik sepeda dengan kecepatan penuh.
Matahari mulai tidur dalam buaian malam di kaki langit barat.
Aku pulang ke Pesantren pukul
17.00. aku mandi dan membuka amplop gaji pertamaku. 3.000.000. aku tersenyum,
’lumayan untuk permulaan’ begitu hatiku berucap. Besok yang 2 juta akan kukirim
ke Lampung, kasihan si Yasmin telat bayar untuk semesterannya. Fajar dari
suratnya kemarin sudah mulai dapat berjalan dengan penyangganya, dia sementara
harus kost di dekat kampus sebelum sembuh karena kasihan jika harus naik
angkot, naik-turun dan berjalan kaki dari jalan besar ke Kampus. Itu jelas
menambah biaya. Aku harus semakin giat bekerja.
Kunyalakan kipas angin. Segar! Kutelentangkan tubuhku di atas
tikar, aku tidak membeli kasur karena satu alasan khusus. Aku selalu ingin
bangun malam untuk Qiyamul Layl,
karena jika aku tidur dalam keenakan kasur apalagi empuk aku pasti akan bangun
begitu adzan subuh berkumandang. Kudengarkan Murottal Al-Mathrud, hatiku
berdebar-debar kala asma Allah dibaca, mataku menganak air. Sembab. Ya Allah, jangan jadikan dunia
melenakanku. Aku takut, jika harta melalaikanku padaMu.
Aku teringat Yasmin yang
mempunyai semangat tinggi. Aku teringat Ibu yang kesepian setelah Bapak tiada,
aku teringat Fajar yang harus tertatih-tatih untuk menuntut ilmu, dia harus
berjuang keras untuk memperbaiki dirinya. Menjadi lelaki sholeh. Aku harus bekerja
lebih keras lagi, ini adalah tanggung jawabku. Terlintas dalam benakku,
rencanaku menikah. Segera kuurungkan karena aku takut akan ada yang terdzalimi
nantinya. Bukankah aku harus membantu Ibuku yang kini telah lemah tubuhnya.
Ya Allah, Engkau yang bijak.
Aku yakin Kau berikan yang terbaik untuk hamba-hambaMu. Aku yakin ya Allah. Aku
yakin. Adzan kembali bersahutan.
* *
*
Awal Maret 2008
Pengumuman ujian telah keluar.
Sekarang semester genap sudah dimulai kembali, sudah beberapa bulan yang lalu.
Aku berlari menuju kantor FE dan mengambil KHS, nihil. Aku tak menemukannya,
kata pak Romli sudah diambilkan oleh teman sefakultasku. Siapa yang
mengambilnya? Aku harus segera melihat hasil semester itu, apalagi ini sudah
harus mengajukan judul skripsi. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah,
agar bisa total membantu semua kebutuhan Ibu, dan adik-adikku.
”Nif!” aku melihat Hanif,
mungkin dia yang mengambilkannya, atau dia tahu siapa yang mengambilkannya.
Hanif juga menuju ke arahku.
”Kamu tahu Nif, siapa yang
mengambil KHS-ku?”
Hanif malah tersenyum, ”Siapa
lagi kalau bukan Aisyah, tadi dia mengambil miliknya sekalian milikmu,” aku
mengucapkan terima kasih pada Hanif. Aku percaya kepadanya karena ada sms masuk
dari Aisyah.
”Asw. Akh, aku tunggu di perpustakaan.”
Aku mengajak Hanif,
kutakut jika terjadi fitnah. Apalagi aku sangat malu kepadaNya. Hanif yang
kupaksa akhirnya bersedia juga. Kami masuk ke perpustakaan, kami menaruh tas,
dan kulihat Aisyah dengan jilbab putihnya telah duduk sambil membaca buku. Kami
mendekatinya dan duduk di sampingnya, kulonggarkan satu kursi agar tidak
berdekatan.
”Ini surat dari Wanda,
sebelum dia menikah sebulan yang lalu. Aku coba mencarimu tapi selalu tak
ketemu selama liburan. Kutahu surat ini sangat terlambat datangnya, tapi
mungkin ini ketetapan Allah untuk hambaNya. Kau juga tak kelihatan di Pasar
Minggu? Disana banyak orang yang merindukanmu Ali,” dia menyodorkan amplop
putih kepadaku. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Aku menerima amplop
itu, ”Alhamdulillah, aku mendapat
pekerjaan di Jakarta Timur. Mungkin sesekali aku hanya bisa main ke Pasar
Minggu untuk belanja. Aku masih sering bersilaturahim pada mereka,” aku
memutar-mutar surat itu.
Aisyah pamitan padaku,
katanya hendak kerja. Setelah mengobrol sedikit dengan Hanif, diapun pamit. Aku
berterimakasih padanya sudah menemaniku. Seperginya, surat itu kubaca dan
menjadikan hatiku resah setelah membacanya. Kubaca sekali lagi;
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Ali...
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang menulis dan membaca surat ini.
Semoga Allah mengampuniku. Semoga ketika aku menulis ini, Rabbku tidak murka
dan marah kepadaku.
Ini adalah usaha terakhirku Ali. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku
tak kuasa lagi menahan rasa cinta, rasa itu tumbuh begitu saja menyusup dalam
hatiku. Perasaan ini timbul ketika kau mengisi kajian menggantikan Dr Ramahdan
Al-Buthy, kau memesona jiwaku hingga tersihir. Sejak itu, aku tak bisa
memejamkan mataku demi mendengar namamu. Dalam shalatku selalu terbayang wajahmu,
seandainya jika aku shalat bersamamu. Jika makan selalu wajahmu ada, seandainya
kita dapat beribadah dan makan bersama.
Aku tak bisa dan tak kuasa menikah dengan Jamaaluddin, aku tak bisa.
Entah akan jadi apa ketika aku menikah nantinya dengannya. Aku merasa menjadi
wanita paling sengsara sejagad, tolonglah aku Ali..., datanglah dan jemput aku.
Aku rela lari denganmu, kemanapun engkau mau. Aku tak akan bisa hidup tanpamu
di dunia ini.
Wanda
Mataku kembali sembab.
Kipas angin di atasku menjadi saksi dan dia mengeringkannya, agar aku dapat
tabah dalam menghadapi semua persoalan. Saat hatiku masih bimbang aku membuka
KHS yang baru saja diberikan Aisyah. Subhanallah,
keresahan hatiku terobati cepat. Nilaiku Cum
laude, 3,88. hanya ada satu nilai B dan yang lainnya A. Kau Maha
membolak-balikkan hati, kadang sedih kadang bahagia secepat kilat. Allah...
* *
*
Hari ini aku akan
mengakhiri segalanya. Sudah kurencanakan semua. Dua bulan tepat aku bekerja di
’Zahra Corporation’, selama itu aku mengumpulkan serpihan-serpihan yang ada di
semua bidang. Aku kembali teringat akan kepahlawanan Khalid bin Walid. Saat aku
sedikit berbincang ba’da Dzuhur dengan Sugiarto sang Satpam. Kudengar darinya
tadi pagi terdengar kabar bahwa ’Zahra Corporation’ akan mengurangi jumlah
karyawan karena dinilai kurang produktif.
Aku sudah menduganya.
Mungkin aku harus menemui mereka hari ini juga.
”Mungkin aku termasuk
yang dikeluarkan Mas,” nadanya tampak sedih, ”Bagaimana nanti dengan isteriku
yang sedang hamil tua. Terus terang saya tidak punya usaha selain ini Mas,”
wajahnya menunduk.
”Pak Sugi tahu dari
mana, jika akan ada pengurangan karyawan?”
”Tadi pagi mereka
rapat, pak Arifin memberitahu kepada kami sebelum Dzuhur bahwa akan ada
pengurangan karyawan, dan kami diminta siap-siap jika kami harus keluar. Tapi
dia mengatakan pesangon tetap diberikan secara profesional. Setelah Dzuhur
mereka rapat kembali,” nadanya sangat murung.
”Jangan khawatir Pak.
Serahkan semua urusan kepada Allah jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Allah
itu berdasarkan prasangka hambaNya. Aku akan coba untuk masuk dan memberi
masukan pada mereka, agar membatalkan pemecatan ini.”
”Apa bisa Mas?”
”Kita lihat saja,” aku
mengambil handphone, aku harus bertindak sesuai feelingku kini. Karena berbuat
atau tidak berbuat sesuatu aku juga pasti akan diberhentikan, apalagi mengingat
belum ada kontribusi terhadap kerjaku selama dua bulan ini. Sambungan
terhubung, pak Salman. Dia adalah Staf TU di Pesantren, aku minta disambungkan
pada Ustadz Umair.
”Ada apa Ali?” sapa
Ustadz Umair ketika gagang telpon telah berpindah.
Aku menceritakan
tentang program pemberhentian itu, dan jika Ustadz bisa mengusahakan aku masuk
ke ruang rapat, dan ikut dalam rapat itu. Mungkin aku bisa merubah sedikit
keadaan yang tampak buruk ini. Ada nada kesanggupan dalam kata-katanya. Aku
menutup hubungan. Bukankah Ustadz teman baik pak Salim? Dengan mudah, dia dapat
memasukkan aku dalam usaha besar ini. Berarti...
Beberapa menit,
seorang berjilbab memanggilku dan memintaku masuk ke ruangan rapat. Aku
tersenyum. Ada titik-titik terang. Wanita yang memanggilku juga tampak kusam
mukanya tidak seperti pertama kali aku masuk kesini. Saatnya teladan Khalid bin
Walid ra. aku praktekkan. Ridhai aku ya Allah.
Aku masuk dan duduk di
samping para manajer bagian. Mereka meneruskan diskusi itu, aku mencoba
menyelami. Mulai dari PHK yang mungkin akan memberhentikan sekitar ratusan,
bahkan bisa ribuan orang. Pak Salim tampak menggeleng-gelengkan kepalanya,
keringat dingin mengucur deras dari wajahnya.
”Aku boleh bicara?”
setelah sekitar sepuluh menit semua terdiam dalam pikiran masing-masing, aku
memberanikan diri berbicara. Tampak pak Arifin, mengernyitkan dahinya ada nada
meremehkan dari tatapannya, yang langsung berpaling dari wajahku. Beberapa yang
lain juga melihatku dengan wajah putus asa.
”Aku tahu mungkin
namaku ada dalam jajaran karyawan yang akan diberhentikan. Seperti para pejuang
Islam dahulu, mereka akan berjihad atau tidak berjihad maka jika kematian
datang, maka mereka tidak akan bisa memundurkan atau memajukannya,” Beberapa
manajer kulihat melihatku lebih serius, dan pak Salim kini seolah memusatkan
konsentrasinya padaku.
”Baiklah, misalnya
begini. Seseorang yang sedang ditembak dan peluru meluncur kearahnya, maka hal
yang paling membahagiakan baginya adalah saat peluru itu mengarah padanya, dan
akhirnya meleset dan tidak mengenainya. Cara terbaik dari permasalahan yang
berat adalah berpikir tenang dan sederhana. Sebenarnya penyelesaian masalah
walau berat, dapat diselesaikan dengan hal-hal yang sederhana.”
”Maksudmu” empat orang
manajer hampir bersamaan.
”Iya Ali, apakah
engkau punya masukan?” pak Salim menatapku serius.
”Bismillahirrahmaanirrahiim,” aku memulai dengan Basmallah, karena
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, ’apabila
amal tidak didahului mengucap basmalah, maka terputuslah amalnya’ aku
meneruskan kata-kataku, ”Setelah aku mengatakan ini, mungkin aku juga akan
berhenti dari kantor ini. Karena aku ingin membuka usaha sendiri walau
kecil-kecilan. Aku ingin menjadi enterpreneur dengan kemandirian saya. Setelah
aku mengatakan ini, silakan mau dipakai cara saya atau tidak.
”Pertama, begitu
banyak usaha di Indonesia saat ini hanya mencari keuntungan semata. Mereka
tidak lagi memperhitungkan nilai akan ketuhanan, ”Dalam keuangan, semua yang disetujui tidak sehat dan semua yang tidak
sehat itu tidak disetujui,”
maksud saya, banyak usaha saat ini berlaku curang dengan menipu negara karena
mengecilkan laba dalam laporan keuangan. Ada perusahaan yang membuat lebih dari
satu laporan, atau empat laporan keuangan, satu untuk pemimpin perusahaan, satu
untuk kantor pajak, satu untuk pemegang saham dan satu lagi untuk laporan yang
sesungguhnya.
Dalam hal ini mungkin
terasa lebih menguntungkan kalau dalam kacamata dunia, namun harta yang banyak,
kalau Allah tidak memberi keberkahan maka usaha tersebut pada ujungnya juga
tidak akan membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
Laporan yang dibuat
harus satu macam dan sama untuk semua bagian. Jangan ada lagi kerjasama dengan
pihak pajak, bukankah itu sangat menyengsarakan rakyat. Dari PPN Indonesia,
sebenarnya jika usaha-usaha di Indonesia mau jujur akan terkumpul sekitar1000
Trilyun setahunnya, tapi ternyata sekarang tiap tahun terkumpul 300 Trilyun
karena perusahaan tidak benar dalam laporan keuangannya. Jika jujur, Insyaallah Allah akan membawa
kelanggengan dan keberkahan dalam setiap usaha.
Yang kedua;
usaha-usaha yang menyediakan makanan. Dua bulan saya berkeliling dengan pak
Arifin. Bukannya saya menghilang dan bersantai, tapi saya mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya, kenapa pelangan berkurang dan pembeli semakin
hari semakin kurang. Saya meneliti hingga penduduk sekitar dan jama’ah masjid.
Saya tahu ada rumor mengatakan bahwa makanannya tidak higienis, dan banyak
ditambah pengawet. Maka saya sarankan agar setiap usaha yang menyediakan
makanan segera membuat label halal dari MUI, lalu produksinya dipatenkan agar
tidak ditiru dan dapat di franchise-kan, agar dapat berkembang ke seluruh
penjuru Indonesia. Tempel semua bukti itu di tempat usaha dan di tempat
pengumuman umum.
Ketiga; di beberapa
hotel yang saya kunjungi ternyata membosankan walaupun disana fasilitas terasa
lengkap. Cobalah buat agar kenyamanan lebih dibuat semarak. Saya sarankan, di
hotel Salim misalnya, di tingkat tengah kulihat ada ruangan yang besar
dijadikan gudang. Coba singkirkan dan bersihkan gudang itu, lalu jadikan
ruangan itu sebagai ruang rehat untuk pengunjung hotel, jadikan ruangan itu
bioskop untuk penayangan film-film yang bermanfaat dan bernilai agama, atau
bisa juga untuk konser Nasyid, atau kebudayaan lainnya. Para pengunjung Insyaallah akan betah berada disana,
karena merasa diperhatikan.
”Hal paling penting
dalam usaha adalah meramalkan kemana pelanggan bergerak, dan berada di depan
mereka karena merekalah perancang produk sesungguhnya.”
Sesekali setiap usaha
baik pusat maupun cabangnya, cobalah untuk menarik karyawan berapa persen
mengambil penduduk sekitar. Sering saya bertanya pada para masyarakat sekitar, mengeluh karena
usaha itu telah mereka bantu waktu awal berdiri, lalu setelah besar mereka
ditinggalkan. Minimal mereka meminta ada beberapa masyarakat sekitar yang
dijadikan karyawan, dengan begitu masyarakat sekitar akan menjadi asset,
apabila para konsumen bertanya maka mereka akan langsung membantu promosi
perusahaan.
”Saya ingin pamit,
semoga penjelasan sedikit tadi tidak mengurangi esensi rapat Pak Salim dan
Bapak-Bapak sekalian. Terutama pak Arifin, terimakasih telah banyak memberi
pelajaran berharga pada saya. Karena itulah sebenarnya yang kulakukan dua bulan
menyertai Bapak, saya mengumpulkan serpihan-serpihan informasi tentang
perusahaan secara keseluruhan. Saya pamit, assalamu’alaikum.” aku beranjak
pergi tanpa ada yang mencegah, kecuali Allah yang terus menuntun langkahku
hingga pergi dari ’Zahra Corporation’ dan kembali ke Pesantren saat Ashar tiba.
Perasaanku teramat lega. Dan Allah lah yang membuat ketentraman hati
sesungguhnya, ”(yaitu) Orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat allah. Ingatlah, dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.”
Not Comments Yet "Part 30, Semangat Kesuksesan"
Posting Komentar