Berdendang seceria burung
prenjak, nangkring jumpalitan di tangkai pohon ketela. Seriang monyet yang
kebetulan ketahuan mencuri pisang di belakang rumah, dan diusir Syahid tadi
pagi. Semerdu musik safana di padang ilalang hijau nan megah, seelok kupu-kupu
pelangi dan capung yang beterbangan saling kejar, mengarungi angkasa. Seperti
itulah ceria wajahku kala berangkat ke Sekolah Dasar Negeri Cahaya di hari
pertamaku, naik sepeda membonceng Syahid.
Semesta sepakat, kali
pertamanya bagiku, selain kebahagiaanku bersama Kakek, inilah bahagiaku kedua.
Aku dan Syahid mendendang bersama lagu, Satu Nusa Satu Bangsa disusul
lagu Indonesia Raya. Kawan, kami adalah anak negeri ini, jika kita tak
bangga pada negeri ini, siapa lagi yang akan menegakkannya? Apa para oknum
koruptor yang mengisap darah dan keringat rakyat jelata, yang membuat banyak
perut melilit dan kebodohan merajalela?
Sampai di titik ini, Kawan,
pendidikan itu penting. Sekolah atau tidak, formal atau non formal, belajar
dari apa pun dan bagaimana pun, jangan sekali-kali meremehkan ilmu. Karena
pelajaran yang kudapat dari Kakekku, ’Barang siapa meremehkan ilmu, maka zaman
akan meninggalkannya.’ Jika ilmu diremehkan, bagaimana kita bisa menikmati
televisi saat ini? Kita menikmati jalan terjal ini? Perkembangan tekhnologi di
kota, handphone, ah! Aku tak punya HP lagi, sudah kujual untuk makan.
Tapi kawan, pada intinya jangan pernah kau remehkan ilmu, sebab itulah salah
satu tokoh idolaku adalah James Watt, di tahun 1764 tertarik untuk
mengembangkan mesin ciptaan Newcomen yang belum sempurna.
Walau sesungguhnya, Watt
bukanlah orang yang pertama yang membikin mesin uap. Rancangan serupa disusun
oleh seorang penemu mesin uap sederhana bernama Hero dari Iskandariyah jauh
sebelum masa James Watt yaitu di awal tahun Masehi. Di tahun 1686 pula, Thomas
Savery membuat paten sebuah mesin uap yang digunakan untuk memompa air, dan di
tahun 1712, seorang Inggris Thomas Newcomen, membuat pula paten barang serupa
dengan versi yang lebih sempurna, namun mesin ciptaan Newcomen masih bermutu
rendah dan kurang efisien, hanya bisa digunakan untuk pompa air dari tambang
batubara.
Dan James Watt, salah satu
tokoh dalam daftar idolaku itu, orang Skotlandia itu, adalah tokoh kunci
Revolusi Industri. Perbedaannya dengan mesin Newcomen adalah isolasi pemisah
untuk mencegah menghilangnya panas dari silinder uap, dan mesin ganda hingga
empat kali lebih cepat dalam bekerja. Dari kegigihan dan ketekunannya belajar ilmu
untuk dimanfaatkan oleh banyak orang, walau aku tak tahu kisah selanjutnya si
Watt. Tapi aku belajar satu hal darinya, ’Tugas belajar tidak berhenti, sampai
kapan pun hingga raga terpisah.’
Ah! Cukuplah. Kami telah
sampai di depan Sekolah, tak ada gerbang, semua serba terbuka hingga mirip
sekolah alam.
Kami berpisah, Syahid ke kelas
lima. Aku berjalan memasuki kantor. Saat lonceng terdengar mendentum tiga kali,
aku diberi tugas pertama. Mengajar kelas lima. Menjadi guru sekolah di Sekolah
Negeri Cahaya adalah untuk semua pelajaran, tapi guru yang lain bisa membantu.
Kau bayangkan, Kawan, aku harus menguasai semua mata pelajaran, tapi bukankah
pelajaran Sekolah Dasar masih mudah? Hanya perlu penyampaian yang menarik saja
kurasa.
Jatahku pertama mengajari
kelas lima. Itu tugas dari Pak Danu untukku di awal.
”Berhati-hatilah!”
Pak Danu menepuk pundakku,
meyakinkanku. Seperti seorang Pilot yang hendak berangkat terbang. Sang
Komandan takut ada apa-apa dalam simulasi percobaan penerbangan pertama kali.
Matanya meyakinkanku seolah berkata, kau harus berhasil, kemudikan pesawatmu
dengan sekuat tenaga.
Aku pun melangkah dengan
tegap, membawa buku matematika untuk kelas lima. Ternyata Bu Siska, Bu Ria dan Pak
Yusuf telah keluar duluan. Aku melangkah menuju ruang kelas lima, ditandai
dengan huruf di kertas di atas pintu. Suaranya sangat ramai, saat melewati
ruang kelas enam, kulihat tatapan aneh Bu Siska yang berdiri di dalamnya, di
depan murid-muridnya.
Mata itu menatapku aneh,
ada gurat risau di sana. Kenapa?
Aku masuk ke dalam kelas
lima.
”Selamat pagi anak-anak!”
Mataku melotot sejenak,
ruangan kelas bukan lagi mirip ruangan. Tentu kau akan kaget, Kawan, jika kau
masuk dan berada di sana bersamaku. Kemarin, aku memang belum sempat masuk ke
kelas mana pun. Kau benar-benar ingin tahu apa yang kulihat, Kawan?
Tepat di sana, satu orang
memegang sapu, dan berdiri di atas meja di barisan sebelah kiri, dan di barisan
tengah seorang juga tengah memegang sapu dan mereka main perang seolah
gladiator zaman Yunani kuno. Yang lain bersorak-sorai riuh, menyemangati. Yang
lain lagi, masih beberapa yang menggengam kertas yang dilipat-lipat, hingga
menggulung rapat, saling melempar terjadi, seru! Mulutku terngangga, bengong
setengah mati, mataku terpana dengan pemandangan ini. Karena hanya aku yang terdiam, selainnya, seluruh siswa yang
berjumlah sekitar tiga puluh itu bermain riuh.
Syahid juga di kelas itu,
dia sedang main panco dengan seorang siswa di belakang tempat duduknya.
”Anak-anak, selamat pagi!”
Aku sedikit mengeraskan
suaraku.
Semua murid berhenti,
total, lunas. Yang masih memegang sapu lidi, tegak sapunya menjulang. Yang akan
melempar gulungan kertas, menoleh ke arahku dan terpaku pandangannya. Yang
sedang berdiri di kursi, terdiam dan masih nangkring di sana.
Aku tersenyum ramah,
menganggukkan kepalaku.
Dan keriuhan kembali
terulang, saling lempar, perang-perangan, panco, humpimpah, main perang
jari-jari, memukul meja, musik drum meja. Semuanya gaduh. Dahsyat!
Not Comments Yet "Bagian 15, Guru Baru"
Posting Komentar