Badanku masih terasa
pegal-pegal usai shalat Zuhur di masjid Istiqlal. Kuselonjorkan kedua kakiku
lurus ke arah gerbang luar. Semilir angin memeluk dan mengipasi, hingga keringat yang membasahi kaus dan kemejaku mulai mengering,
menguap karena panasnya matahari.
Map berwarna merah hati
kini tergeletak di sebelah kakiku. Aku teringat satu kata motivasi, ’Tidak
ada kata terlambat, untuk orang yang sudah terlambat!’ Ya, kita, semua
manusia sudah sangat terlambat. Tapi, ada satu rumus yang hendaknya digunakan oleh orang yang terlambat
dan ingin memperbaiki keterlambatannya. Rumus itu adalah evaluasi. Menakar apa
yang kurang selama perjalanan waktunya, waktu yang telah terlampaui.
Maka, di pelataran masjid
ini aku mencoba menilik ulang masa yang telah terlampaui. Ironis! Mahasiswa
terbaik tingkat universitas, saat ini sedang mencari pekerjaan. Dan sudah
hampir satu tahun menjadi pengangguran. Aku tersenyum dan menggelengkan
kepalaku pelan. Ternyata teori yang telah kudapat di bangku kuliah belum banyak
memberikan kontribusi bagiku.
Aku kembali mengulang
kisah hidupku, memoriku terbuka secara nyata. Saat aku memberikan pidato di
podium, saat wisuda, ’Tugas kita sekarang, pasca kuliah ini adalah menemukan
potensi kita, menemukan cara terbaik yang tepat. Menjemput harapan, dengan
kesungguhan. Tidak ada lagi kata kemalasan dan berhenti berkarya karena dunia
telah menunggu karya-karya kita, bertelur dalam inovasi.’
Oh, hilang ke manakah
kemantapan dan semangat itu? Sekali lagi kupandangi langit. Karena jujur, aku
tak menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghantam pikiranku.
Engkau pasti tahu kawan, setiap aku bingung dan mencari jawaban pasti kutatap
langit biru. Negeri ini belum memberikan banyak kesempatan bagi para lulusan
sekolah maupun sarjana. Aku bingung hendak menyalahkan siapa, akukah? Atau
Pemerintah yang sebenarnya belum memberi kesempatan secara layak. Hingga
pengangguran, jika kau tahu jumlahnya, akan membuat bulu kuduk merinding
melebihi rindingnya kala bertemu semisal gendruwo atau kuntilanak.
Ah! Aku jadi pusing.
Kutetapi saja memandangi langit untuk sementara.
Sudahlah! Tidak usah
kurisau. Bukankah aku selama ini belum pernah menyerah? Aku tak pernah mengaku
kalah, bukan? Siapa pun tahu itu. Saban hari aku berjuang, mencari pekerjaan,
menguapkan sampah-sampah untuk dijual, aku bekerja dan aku tidak terhina karena
meminta. Aku sedang dalam proses mencari dan menemukan potensiku.
Life is choice. Dan aku memilih menang. Jika pun kalah, aku
tak mau jadi pecundang.
Kuambil map merah itu,
mendekapnya kembali ke sisi perut kiriku. Memakai sepatu yang telah butut.
Tunggu dulu! Aku berjalan mendekati kran di depan masjid, kuhirup air itu,
segar hingga tanpa terasa kuminum juga dan masuk dengan plong ke tenggorokan,
dan mengalir ke usus-ususku yang melilit-lilit. Percikan air kubasahkan sedikit
di rambutku, tanpa minyak tapi setidaknya terlihat basah dengan air. Tanpa cermin,
aku mematut diri sejenak, bersandiwara kulihat di depanku sebuah wajah yang sudah
rapi. Dan aku tersenyum dengan senyuman indah, cermin yang kubayangkan membalas
senyum itu.
Ingatanku menerawang
sejenak. Membayang saat Kakekku tersenyum dulu, mengajariku berakting saat
Kakek bercerita tentang kepahlawanan, keberanian dan perjuangan. Saat
mengisahkan orang-orang sukses, pastilah Kakek berdiri dan memeragakan sikap
orang-orang sukses, dari mulai cara berjalan dan merapikan dasinya atau
merapikan rambutnya. Khas. Betapa Kakek telah mempelajari karakter tokoh-tokoh
itu dengan baik. Ia memeragakan ekspresi tokoh-tokoh itu. Seperti suatu saat
ketika ia menirukan ucapan Khalid bin Walid r.a yang mengatakan bahwa malam–malam
di medan
pertempuran lebih disukainya daripada bersama dengan seorang gadis di malam
pertama saat pernikahan, Kakek memegang sapu dan menentengnya selaksa pedang
tajam yang berkilau, tajam mengilat. Saat mengibas pedangnya pelan ke kiri dan
kanan, mata Kakeklah yang berkilau, betapa penjiwaannya tak berharap apa pun
kecuali aku sebagai pendengar, tengah menyaksikan dengan seksama episode
benar-benar yang diceritakan. Hingga, aku teramat paham dengan kisah-kisah itu
tanpa harus mengingat-ingatnya, karena cukuplah jika teringat Kakek semua
kenangan tentangnya ada di depan mata dan tak bisa sirna.
Dan kini, semua cerita
kepahlawanan yang diceritakan Kakek telah menjelma dalam diriku. Seluruhnya,
seutuhnya, hingga tak tersisa sedikit pun kecuali harapan dan impian untuk
menghadirkan kepahlawanan dan keberanian dalam diri ini. Semangatku terpompa. Aku
masih bernapas, aku masih kuat berpijak, dan itu berarti bahwa aku belum akan
menyerah.
Aku tak menatap langit,
karena aku kini tidak bingung lagi. Aku berjalan dengan gemulai percaya diri. Kan kutaklukkan gunung Everest, kan seberangi danau terdalam di seluruh
dunia sekalipun, danau Baikal di Siberia. Kau tahu kawan, bahkan gunung Kilimanjaro pun akan kusiram dengan air, menghadirkan
kesungguhan. Itulah bukti kemantapan hatiku
hingga saat ini. Jadi, tidak perlu kau ragukan sedikit pun semangatku untuk
menjadi yang terbaik, untuk memilih
menjadi pemenang. Walau untuk sejenak aku harus terlihat kuyu, susah, dan perut
teramat keriting karena belum makan siang. Sarapan tadi aku memakan roti
bungkus seharga lima
ratus rupiah. Kurasa tak penting, yang penting aku tetap bersemangat! Dengan
semangat membara, aku kembali mengayuh harapan di tengah kota yang telah banyak menghasilkan
keputusasaan.
Lihat saja, PHK menjamur,
demonstrasi di mana-mana dari mulai pesangon yang tidak dibayarkan, menolak
pemecatan, hingga kontrak yang tidak jelas. Sampai kapankah keadaan ini akan
berakhir? Tapi, tentu saja, selama Indonesia masih
ada, harapan itu juga akan selalu ada. Benar bukan, Kawan?
Seluruh beban, baik beban
lelah dan lapar maupun beban psikologi kini telah hilang. Maukah kau dengar
ceritaku dari Kakekku? Tentang salah satu tokoh yang dikaguminya dari Amerika
Serikat, dialah Abraham Lincoln. Sudah kubilang tak ada yang perlu bingung,
Kakekku adalah pembaca biografi paling lengkap tentang orang-orang hebat. Aku
beruntung, sangat beruntung mempunyai Kakek sepertinya.
Satu saja kusebut karya
Abraham Lincoln, dia telah membebaskan sebanyak 3.500.000 orang budak dan
memerdekakannya. Itulah kenapa salah satu alasan Kakek menempatkan Abraham
Lincoln sebagai salah satu tokoh sejarah yang dikaguminya.
Ini adalah kisahnya, pada
suatu hari Abraham lincoln berjalan-jalan di taman. Dia kaget melihat seorang
anak kecil berumur sekitar 6 tahun sedang menggendong sebuah beban yang
terlihat teramat berat di punggung, tetapi isinya tak terlihat karena tertutupi
kain.
Presiden Amerika Serikat
ke-16 itu merasa empati, sigap menolong. Ia berkata kepada anak
tersebut, ’Nak, berat sekali beban yang kau pikul?’
Tetapi, bukan jawaban
mengenakkan dan meminta bantuan dari anak kecil itu. Anak kecil itu menjawab
dengan enteng, walaupun terlihat bibirnya menyinyir-nyinyir terlihat keberatan,
’Tuan, ini bukan beban, ini adalah adik saya.’
Lincoln, belajar dari setiap keadaan. Beban! Tidak akan menjadi beban jika
dilakukan dengan sebuah pemahaman dan cinta serta kesukaan. Seperti pula Thomas
Alfa Edison, saat ditanya tentang apakah dia tidak lelah melakukan percobaan
hingga ribuan kali dan selalu gagal. Jawabnya mudah, ’Saya tidak pernah
bekerja, sehari pun dalam hidup saya, karena semuanya adalah keasyikan.’
Pemikiran yang cerdas.
Ini baru namanya mental
pemenang! Mental yang tak belok walau diterpa badai, ditelan gurita, digulung
angin ujian, ah! Yakinlah, jika sudah mempunyai keyakinan yang utuh, apa pun
yang menimpa, maka akan seperti telaga besar yang terjatuhi tahi kelelawar atau
tahi burung. Tentu saja kesegarannya tak akan terkurangi.
Aku meneruskan langkahku,
sambil kudendang dalam hati sebuah syair penuh semangat, kala seluruh alam
tersenyum padaku.
Bagai gunung yang
menjulang
Jika kau ingin
memindahkannya
Kau akan kelelahan,
Seperti air terjun
deras
Menghantam batu sebesar
apa pun
Dia kan luluh,
Sudah kubilang padamu
Bahwa cahaya itu
Akan aku kejar
Hingga ke ujung bumi
Ujung langit
Ujung yang tak ada
ujung lagi
Aku akan berlari
Not Comments Yet "Bagian 6, Berlari Mengejar Cahaya"
Posting Komentar