Tak sepenuhnya ucapan Ari
Sihasale benar, memang naik kereta api lebih murah, gratis bahkan. Tapi ada
susahnya, Kawan. Masih mending naik bus ekonomi, penuh pun masih lebih baik. Di
kereta, tidak hanya penuh lagi, sangat penuh. Saling desak, dan pandangan mata
terlihat tajam-tajam. Tidak sepenuhnya benar pendapatku ini, tapi kadang
sedikit sample sudah cukup mewakili populasi yang ada. Ah! Aku teringat
mata kuliah statistik jadinya.
Seorang wanita tua tampak
kelelahan di dekat pintu, terduduk paksa di bawah, terhimpit. Aku duduk
berjarak dua manusia dengannya. Apa yang bisa kulakukan untuknya? Aku sendiri
saja kepayahan.
Wajah wanita tua semakin
terlihat pias dan pucat, seolah wajah itu semakin sengsara, sedang perjalanan
ini pastilah masih sangat jauh. Peta di brosur desa Cahaya menunjukkan bahwa
perjalananku ke sana bisa sampai dua hari.
Beberapa jam dalam
perjalanan, para penumpang mulai ribut dan saling desak. Hingga untuk bergerak
sedikit saja pastilah di bagian sebelahnya akan ikut tergeser, dan akhirnya
menggeser dan terus menggeser.Aku terombang-ambing kian kemari,
sebentar-sebentar geser karena tangan wanita di sebelah kiriku bergerak-gerak,
mengambil sesuatu dalam tas yang dibawanya. Sebuah roti menyembul, dan dia
makan dengan anaknya yang kecil dengan lahap. Sebentar kemudian aku geser lagi
ke kanan, ternyata sebagian besar penumpang mulai merasakan lapar.
Suasana panas, gerah,
semakin berhimpit. Dan kulihat wanita tua yang kuceritakan kepayahan tadi
semakin menderita. Terdesak ke kiri, ke kanan, ke belakang, ke depan. Wajahnya
bertambah pucat. Jika kau melihatnya, Kawan, apa yang akan kau lakukan? Sedang
kau sendiri sedang terombang-ambing seperti di tengah lautan samudera hanya
berpegang pada kelapa yang terapung.
Tas yang kupangku kubuka restletingnya.
Agak susah untuk bergerak. Gerakan membuka restleting membuat siku tanganku
menyenggol siku orang di kananku. Aku meminta maaf padanya, tapi diacuhkan, dia
sedang makan. Terlalu nikmatkah hingga siku kuatku yang menyenggolnya tak
terasa?
Ada sedikit makanan dalam
tas. Kuambil dua roti dalam satu pak roti itu, berisi sepuluh roti, yang lain
untuk persediaan selanjutnya. Kubuka
pelan bungkus roti itu, air liurku seolah hampir mengalir duluan, aku sangat
lapar. Saat roti mulai satu gigitan, aku teringat Teguh. Kali ini, pasti dia
sedang tidur karena kelelahan habis berjaga. Terima kasih Teguh.
Satu gigitan roti, aku
kunyah dengan nikmat. Tapi, mataku tertuju pada wanita tua yang kuceritakan
menderita tadi, dia melihatku mengunyah satu kunyahan. Aku berhenti mengunyah,
kulihat bagian leher wanita tua itu naik turun. Bibirnya bergerak, dia
melihatku saksama.
Tanganku bergerak pelan,
mengambil satu roti yang masih dalam bungkusnya. Kuulurkan padanya dengan
kesusahan, karena semua penumpang bergerak-gerak, menikmati makanannya
sendiri-sendiri. Semoga yang kulakukan tidak salah, semoga persepsiku tidak
salah, semoga pendapatku tidak salah. Bahwa, wanita tua itu kelaparan.
Saat roti berada dekat
dengannya, kepalaku mengangguk padanya. Aku penasaran apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Wanita tua itu, menggigit
salah satu sisi bungkus roti dan merobek dengan giginya yang telah banyak
tanggal. Dia menyeringai melihat roti itu keluar, dipegangnya, dimakannya
dengan lahap. Tak melihat ke arahku sama sekali, dia melihat ke bawah, sangat
menikmati makanan itu. Aku heran, dalam dalam waktu yang relatif cepat, makanan
itu telah sempurna hilang ke dalam mulutnya. Seperti orang yang seminggu tidak
makan saja. Mungkin saja persepsiku kali ini salah. Tapi, setidaknya itulah
gambaranku ketika melihatnya makan dengan cepat.
Setelah habis, wanita itu
melihatku lagi, besar harapan terlihat dari sorot matanya yang tertutupi keriput.
Aku melihat wajah itu, belum pernah selama hidupku melihat sorot mata penuh
pengharapan seperti itu. Jika ada sorot mata seperti itu dari seorang lelaki
saat melamar seorang wanita, maka wanita manapun tak akan sanggup menolaknya.
Jika sorot mata itu digunakan seorang pelamar kerja, maka pemilik usaha tak
akan mungkin menolaknya, jika sorot mata itu dari seorang pengemis maka siapa
pun tak akan melewatkannya tanpa memberi.
Dan, aku terpukau oleh
sorot mata itu. Aku mengambil roti dalam bungkus, langsung empat bungkus karena
itu yang bisa kuraup dengan tanganku. Jika bisa semuanya maka mungkin aku akan
raup semuanya. Aku benar-benar tersihir, Kawan, sorot mata adalah kekuatan yang
benar-benar bisa melumerkan segala perasaan. Ini dia pelajaran yang bisa kuambil
dari wanita tua itu, ’Jangan memerhatikan mata orang lain secara dalam, kau
akan tersihir. Maka jauhilah terlalu banyak melihat mata orang, karena bisa
jadi kau akan tersihir oleh pandangannya.’
Kereta api berhenti,
penumpang berjubelan turun. Wanita tua itu, ya, dia terjepit. Aku memaksakan
tubuhku menyelinap, walau aku beberapa kali kena sikut, samping mataku akhirnya
memar. Aku menggapai wanita tua itu, kulindungi dengan tubuhku. Jadilah tamparan, tendangan, dengkul nyasar
menghantam punggungku bahkan samping tubuhku.
Akhirnya semuanya selesai.
Tubuhku sakit-sakit, wanita tua itu masih terlihat kelelahan. Aku menuntunnya
hingga turun, sungguh di kereta tidak ada lagi manusia kecuali petugas. Kami
turun perlahan, tubuhku sakit-sakit.
”Terima kasih ya, Nak,”
wanita tua itu memegangi punggungnya, jalannya telah kepayahan.
”Nenek tidak apa-apa?”
”Hanya sedikit sakit,
maklum Nenek kan sudah tua.”
”Nenek sendirian?”
”Iya.”
”Rumah Nenek di mana?”
”Itu! Di blok belakang
sana,” wanita itu menunjuk barisan rumah kecil di dekat stasiun, ”nenek baru
pulang dari kota Jakarta. Tapi, ternyata keluargaku satu-satunya, anakku
satu-satunya, dia mengusirku dan tak mengakuiku sebagai ibunya. Sebenarnya aku
hanya ingin bertemu cucu-cucuku, tapi dia tak mengizinkan. Aku diusirnya,”
wanita tua itu menangis.
”Kuantar sampai rumah ya,
Nek?”
Kini aku tersihir bukan
karena sorot matanya, tapi karena prihatin akan nasibnya. Aku mendapatkan
pelajaran kehidupan lagi dari wanita tua itu, ’Jika kalian mendengarkan cerita
orang lain, jangan didramatisir, kau juga pasti akan tersihir.’
”Tidak usah, Nak!”
Dia menolak tawaranku?
”Ini untukmu, gunakan
sebaik-baiknya. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi,” wanita itu mengeluarkan
dompet kecil dalam sakunya. Sebuah dompet yang teramat kecil, mungkin ukurannya
2x3 cm. Dia memaksaku menerimanya, dompet itu di masukkannya dalam genggaman
tanganku. Aku tersihir, tak bisa menolaknya.
”Tapi..., aku antar ya,
Nek?”
”Tidak usah! Cahaya itu
sedang menunggumu anakku. Aku melihat sorot matamu yang telah merindukan
cahaya, pergilah segera, cahaya itu menunggumu. Cepatlah,” wanita tua itu
tersenyum sambil mendorong pelan kedua pundakku. Aku berbalik, dia agak kuat
mendorong punggungku. Aku menengok sejenak, lantas tersenyum padanya. Dan
kakiku melangkah, menuju arah tujuanku.
Aku meneruskan perjalanan,
naik bus ekonomi. Turun lagi, naik bus lagi dan hari telah gelap. Sampai di
dermaga hari telah malam, aku naik kapal. Lagi-lagi kugunakan saran Ari
Sihasale, ’Jika kau naik kapal dan tak punya uang, naiklah lewat naiknya
mobil-mobil truk dan fuso. Masuk saja, kau tak usah bayar.’ Dan aku
melakukannya, uangku habis, uang dari Teguh tinggal sedikit, kugunakan nanti
untuk naik bus lagi.
Menjelang pagi, kapal
merapat. Aku turun, shalat subuh di mushala di pelabuhan. Sekalian mandi,
menyegarkan diri sejenak.
Aku istirahat dulu di mushala
itu, tiduran sejenak, roti telah habis. Aku membuka bungkus hitam pemberian pak
Rahmat, nasi lontong dan sayur tempe. Pastilah mereka tahu bahwa perjalananku
panjang sehingga mereka memasakanku makanan yang awet. Alhamdulillaah,
kusyukuri semua atas indahnya hidup yang Kau anugerahkan, ya Allah. Selesai
makan, perutku terasa enak. Aku wudhu
dan shalat, setelah itu akan kulanjutkan perjalanan kembali.
Aku berjalan ke terminal,
hari menjelang siang. Aku naik bus ekonomi lagi, kalian tahu kenapa aku dari
kemarin selalu naik bus ekonomi? Itu karena aku waktu kuliah mengambil jurusan
ekonomi, makanya aku suka bus ekonomi. Ah! Tak boleh bohong. Benar, Kawan,
sebenarnya aku tak punya uang.
Kernet-kernet berteriak,
layaknya teriakan pedagang di pasar Tanah Abang. Seorang kernet menanyaiku,
ketika kujawab dia memaksaku dan ingin merebut tas yang kubawa.
”Biar aku bawa sendiri!
Tunjukkan saja busnya!” aku tegas, sungguh kernet itu diam dan menunjukkan bus
yang ditumpanginya. Kawan, kadang sesekali ketegasan dan memasang wajah sangar
tak bersahabat itu penting. Kalau tidak, harga diri kita akan diinjak-injak dan
diremehkan. Kali ini kau pasti setuju bukan?
Aku naik bus, dan ini
adalah bus terakhir yang akan kutumpangi untuk sampai di desa Cahaya. Setelah
penumpang terasa penuh, bus melaju, menderukan knalpot yang terdengar seperti
bisingnya gergaji mesin.
Aku teringat dompet kecil
pemberian nenek tua itu, aku mengambilnya dari kantong celanaku. Kubuka resletingnya.
Isinya kertas. Kubuka lipatannya, ada sebuah cincin berwarna kuning dan bukan
itu yang membuatku terbelalak, mataku terpukau. Cincin itu, di tengahnya
membentuk matahari dengan sinar mengelilinginya, seperti gerigi, simbol cahaya.
Kertas itu, lebih
mengagetkanku. Di sana tertulis nama sebuah toko emas, dan tertulis bahwa
cincin itu adalah emas, masya Allah, cincin itu 50 gram.
Ternyata semua pendapat,
persepsi, sangkaan, prejudice salah semua. Tentang sorot mata menyihir,
tentang cerita yang didramatisir, ah! Kawan, aku ralat semua pelajaran awal
yang kuberikan padamu. Kuakui aku salah. Bahwa menolong orang harus tanpa
pamrih. Dan kebanyakan prasangka adalah dosa, Kawan. Kawan, maafkanlah aku.
Aku bergetar memegang
cincin itu, teramat indah. Kenapa nenek itu memberikanku hadiah cincin ini?
Suatu saat mungkin kutemukan jawabannya, dan pasti akan kucari jawabannya.
Sore hari bus sampai di
terminal, aku naik angkot. Uangku tinggal sedikit, masih cukup. Angkot berhenti
di pinggir kota ujung, aku turun. Uangku tinggal lima ribu rupiah, bagiku sudah
banyak. Sebentar lagi aku sampai.
Ba’da ‘ashar, aku berjalan
di jalanan batu terjal. Seorang tukang ojek menawariku, kusebutkan desa Cahaya,
biayanya berapa. Jaraknya dengan desa Cahaya adalah sepuluh kilo, jadi dua
puluh ribu. Aku mengucapkan terima kasih padanya, aku memutuskan jalan kaki.
Kususuri jalanan batu
terjal itu, melewati desa, perkebunan, beberapa sungai. Aku sering bertanya
pada orang yang kutemui. Desa Cahaya sebentar lagi aku datang. Aku membayangkan
gerbangnya begitu indah, gerbang cahaya. Melengkung seperti janur kuning saat
pernikahan, sambutan para warganya antusias karena pahlawan yang mereka tunggu
telah tiba.
Aku tersenyum sambil
terus berjalan.
Lelahku hilang,
Terganti rasa terang
indah nian
Dua jam tepat kira-kira,
ketika aku bertanya pada orang di ladang bahwa desa Cahaya akan kutemui satu
belokan di depanku. Tinggal seratus meter lagi. Aku berlari, gembira seolah
menggiring bola ke gawang, gawangnya adalah gerbang desa. Sebentar lagi, tunggu
aku desa Cahaya.
Sudah seratus meter.
Aku berdiri terdiam,
berdiri setegak-tegaknya. Mana gerbang desanya? Aku menengok ke kanan dan kiri,
tak ada. Ada jalan lurus ke depan, rumah-rumah berjarak agak jauh terlihat.
Itukah desa Cahaya, Kawan? Tapi mana gerbangnya?
Dan, mataku terpaku pada
patok semen setinggi seperempat meter. Aku memiringkan kepalaku pelan ke kiri.
Bibirku nyenggir, dalam patok itu tertulis;
”GERBANG CAHAYA”
Not Comments Yet "Bagian 10, Gerbang Cahaya Menyambut"
Posting Komentar