Seperti mimpi-mimpi yang
selalu hadir dalam tidurku. Tentang cahaya. Cahaya putih yang oleh Isaac Newton
dibuktikan sebagai campuran semua warna dalam pelangi dan mampu menjungkir-balikkan
anggapan dalam serentetan percobaan sebelumnya. Hingga, penemuannya berupa
teropong refleksi pertama, model teropong yang dipergunakan oleh sebagian besar
penyelidik benda-benda angkasa saat ini, yang merupakan analisa sangat
hati-hati tentang akibat-akibat hukum pemantulan dan pembiasan cahaya.
Mimpi itu
hadir kembali, dari gemintang bermula semuanya. Bukan! Bukan dari bintang,
melainkan dari cahaya. Aku berdiri di tempat yang tidak pernah ada di bumi
kurasa, bukan pula di bulan, bukan pula di seluruh planet. Bukan juga di
awang-awang. Bulan purnama, matahari yang bersinar. Kenapa mereka bisa terlihat
bersama? Tak hanya mereka berdua, lihatlah bintang gemerlapan begitu banyak,
entah itu bintang keseluruhan atau matahari-matahari semuanya. Yang jelas,
semua bercahaya, mereka mengitariku seperti sistem tata surya yang terus
berputar. Seolah, mereka mengajakku menari.
Seperti biasa, aku akan
bangun dan mengucek kedua mataku. Ya! Itu adalah mimpi yang sering
mendatangiku. Mimpi tentang cahaya. Aku menyibak selimutku. Subuh hampir tiba.
***
Kupakai sepatu yang telah menemaniku selama kuliah dulu.
Kembali kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan yang beraspal halus. sekilas
kutatap matahari dan langit yang terlihat mulai menua. Tangan kananku menenteng
map warna merah hati, tertulis namaku dengan huruf kapital di sampul depan. Di bawahnya
tertulis dengan jelas ”Permohonan Melamar Kerja.”
Angin yang kotor, asap
yang kotor, umpatan-umpatan kotor, suara-suara kotor, dan debu kotor
beterbangan, lalu hinggap di mana pun ia berhenti. Inilah gambaran kota. Panas yang disemaikan
matahari menciptakan fatamorgana di aspal yang hitam, bagai lidah api yang
menjilat-jilat. Dan aku masih berjalan di atasnya.
Lihatlah kehidupan di
metropolitan ini. Beburung malas menyambangi pepohonan yang tinggal
batangan-batangan besar, sementara daunnya bisa dihitung dengan jari-jari
tangan. Burung walet sesekali terlihat lewat, lalu menghilang digantikan walet
yang lain.
Masyarakat kota sering dicap sebagai
masyarakat yang individualistis. Sebenarnya tak apa-apa bersikap individualis. Karena
ada kalanya manusia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu, meski ada pula
saat-saat dia ingin berbincang untuk berbagi kesusahannya. Bahayanya ialah
ketika sifat individualistis ini berpadu dengan sifat egois, seolah hanya
dirinyalah yang penting. Tersenggol sedikit saja, sumpah serapah dan kalimat
jorok akan keluar, seolah bibir-bibir itu ingin melumat habis orang yang ia
anggap salah.
Seperti yang barusan
kualami. Sebenarnya aku hanya berjalan pelan, bahkan sangat pelan saat kulihat
gedung-gedung menjulang tinggi, mataku terlalu betah melihat ujungnya, indah.Aku
membayangkan bagaimana rasanya berada di atas sana, memakai dasi, menerapkan ilmu yang
telah kudapatkan selama ini. Aku bermimpi dan membayangkan bahwa aku berjalan
tiap pagi memasuki gedung itu, memakai jas dan setelan khas orang kantoran. Aku
kaget ketika tiba-tiba bahu kiriku menyenggol seorang wanita berpakaian jas
rapi. Aku terdorong ke samping kanan hingga berputar.
”Dasar Udik! Kampungan! Di
mana mata, Loe!” bentakan yang keras, telingaku panas. Bukankah aku yang
seharusnya marah? Karena dia telah menggangu keasyikanku berkhayal! Sabar...! Keceriaan
adalah buah janjiku pada Kakek.
Aku tersenyum ringan,
”Maaf ya, Mbak,” segera kualihkan pandanganku. Sungguh, budaya indah Indonesia
dengan segala keramah-tamahannya telah hilang dari generasi penerus negeri ini.
Lihat saja, jasnya yang ketat dan kesempitan masih dipakai juga! Lihat juga rok
mininya, sudah di atas lutut masih dibuat sempit juga. Tuhan! Hatiku menjerit
pada-Mu.
”Apa! Loe, menghina Gue!
Sampai melengos segala. Dasar gembel! Ini Jakarta, Bung! Lelet!” tangannya
terangkat dan telunjuknya menyenggol kening bagian kanannya, hingga kepalanya
sedikit tergerak ke kiri.
Memang, di baju kemeja
kuning yang kupakai ada tambalan tepat di arah ginjal, perut bagian kiri. Itu
pun hanya satu, dan bukan berarti aku adalah gembel! Namun bukan itu yang membuatku
terbakar amarah. Inikah kota
indah yang menjadi idaman para anak kampung, Ibukota negeri ini? Tanganku
gemetaran. Tapi, saat kuangkat hendak menyangkal. Wanita kota itu telah raib, hilang dari hadapanku.
Manusia lalu-lalang, berseliweran bagai lebah, terlalu cepatkah jalan mereka?
Atau memang waktu kini berjalan lebih cepat dari biasanya. Dan aku hanya
terdiam. Kutatap langit, dan seolah semesta berjalan begitu cepat melampauiku. Sudah
setengah tahun, semenjak aku di wisuda. Aku merantau di kota ini, mengadu nasib seperti anak-anak
kampung pada umumnya. Bedanya aku bukan anak kampung karena aku selalu
berpindah-pindah, entah sudah berapa kali aku pindah bersama Kakek. Sebenarnya
posisiku lebih mudah, karena aku tidak memiliki tanggungan apa pun. Aku
sebatang kara, bukankah begitu, Sobat? Kalian juga tahu bukan?
Mungkin setiap jengkal kota ini telah kulalui.
Hanya saja aku tidak sadar, aku hanya menuruti kakiku melangkah. Dari pagi, aku
selalu menyingkap selimutku satu-satunya. Di depan ruko di pinggiran Kota
Jakarta, tidur di emperan depannya. Bekal baju yang kumasukkan dalam tasku
telah raib dicuri orang kala pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Sambutan yang
terlalu meriah, sambutan yang mengejutkan. Dan itu tantangan bagiku. Untung
saja ijazah-ijazah dan surat
berharga masih ada. Aku pisah dengan tasku. Itu sudah cukup membuatku lega
selega-leganya.
Pagi aku berangkat dengan
map, satu-satunya yang tersisa. Untung ada pak Rahmat, dia adalah tukang sapu
di kompleks itu. Dia baik, dia memberiku uang. Aku sempat memfotokopi kertas
lamaran. Namun dari sekian yang kusebar di beberapa perusahaan, semua berakhir
tragis. Belum interview, aku sudah tidak lulus. Boro-boro interview,
tes saja belum pernah kesampaian. Kini, sempurna map itu satu-satunya yang
tersisa.
Aku pulang ketika azan
’Ashar. Kubantu Pak Rahmat menutup ruko-ruko itu. Beberapa kali aku tidur di
rumahnya. Namun, lama-lama aku tak enak. Karena isterinya teramat perhitungan. Gaji
Pak Rahmat tidak seberapa, belum lagi empat anaknya yang masih kecil-kecil. Aku
cukup paham, maka aku tidur di emperan ruko-ruko itu sambil sesekali mengobrol
dengan satpam di sana.
Aku menjadi teman ngobrol yang baik bagi Teguh, satpam satu-satunya yang
menjaga di kompleks itu di malam harinya.
Ba’da ’Ashar aku mencopot
baju kuningku dan kucuci. Pasti, pak Rahmat menyediakan satu baju kepadaku,
setiap berselang hari. Dan lusa, kupakai baju kuning satu-satunya itu. Berbekal
kaus satu-satunya pula, aku meminjam keranjang milik Pak Rahmat yang dipakai
membuang sampah, aku ikat dengan tali. Keranjang itu aku gendong di belakang,
di pundakku. Kau tahu untuk apa?
Aku mencari rongsokan,
mencari botol-botol plastik yang dibuang setelah diminum, baik kuambil di tempat
sampah karena orang yang membuangnya paham kebersihan, maupun dari sembarang
tempat seperti di bawah pohon, di emperan, atau pinggir jalan raya karena mereka
tidak paham bahaya berlaku jorok dan tidak menghargai kebersihan. Tapi, dari
pengetahuan yang kudapatkan selama menjadi pengumpul rongsokan, sebenarnya banyak
yang paham arti kebersihan, namun tetap saja membuang sampah sembarangan.
Kau tahu, kenapa aku beranggapa seperti itu?
Karena ini metropolitan,
Bung! Pastilah mereka masyarakat terdidik. Beda lagi di kampung-kampung. Ah!
Kau pasti lebih pandai.
Aku pulang menjelang maghrib.
Mandi di kamar mandi di dekat satpam, membilas tubuhku dengan siraman air.
Kesegaran memancar melalui seluruh pori-poriku, di antara pedihnya hidup yang
kujalani. Masih ada setitik kesegaran dapat kurasakan, di antaranya air dan
udara. Inilah yang membuatku tetap bersemangat. Selalu ada kemudahan di setiap
kesusahan. Itu yang kupelajari. Itu yang sering kudendangkan kala aku
memberikan motivasi dulu. Dan itulah keyakinan yang menancap kuat di hatiku.
Pasti akan ada, pasti! Akan ada jalan yang kucari. Biar pun metropolitan itu
tidak menerimaku dengan lapang dada.
Mimpi-mimpi masih kuat
tersimpan dalam memoriku, tak usah kau ragukan sedikit pun. Tentang impian
menjadi yang terbaik, impian untuk sekolah lebih tinggi lagi, walau aku tidak
tahu mata kuliah apa lagi yang diberikan ketika aku meneruskan kuliah. Kau juga
jangan mempertanyakan tentang motivasi hidupku serta seluruh keyakinan yang
selama ini kubangun.
Karena aku memiliki
keyakinan yang utuh dalam jiwaku, dalam dadaku, dalam hatiku. Tidak ada ujung
dalam perjuangan, itulah prinsip hidupku. Tidak ada ujung dalam sebuah
perjuangan kecuali sampai pada satu kata, ”kematian!”
Not Comments Yet "Bagian 5, Tidak Ada Ujung dalam Perjuangan"
Posting Komentar