HARI-HARIKU seolah
sirna, seperti berada dalam alam khayal atau alam nyata, tak kumerasakan.
Daftar nama yang tidak menampakkan apa yang aku cari, meski berhari-hari aku
mencoba menguak kembali. Kukira mencari Mawar semudah membalikkan telapak
tangan, dengan keyakinan yang
menggebu-gebu. Namun kadang, kenyataan tak selalu sesuai dengan
angan-angan. Beberapa hari ini, sebelum tiba di Pasar Minggu, kadang
kusempatkan menjambangi setiap Fakultas. Semuanya sia-sia.
Aku menyisir rambutku
di depan cermin. Dengan wajah seperti ini, apakah jika bertemu, Mawar akan
mengakui persahabatanku. Aku sudah merasa dewasa kini, apakah mimpi
persahabatan masih berlaku? Aku mengambil Al Qur’an pemberian Sinta, mungkin
kini dia sedang bercinta dengan Tuhannya. Kucium Al-Quran itu, ada resapan
lembut yang menjalar dari ubun-ubun hingga kaki. Aku memasukkannya ke dalam tas
punggungku, dan memasukkan air minum di samping kanan tas. Aku berangkat,
menjemput harapan.
* *
*
Hari Jumat. Mata kuliah pertama selesai. Saat hendak
pulang, tiga orang kakak tingkat meminta izin untuk mengumumkan sesuatu, salah
satunya Nugroho, yang menungguiku waktu di rumah sakit. Agenda Mentoring.
Seminggu sekali, belajar Al-Quran dan ilmu agama. Aku salah satu yang
mendaftar, aku merasa tidak enak jika tidak ikut. Apalagi senyum mereka
benar-benar membuatku tidak enak menolaknya.
”Assalamu’alaikum
Ali,” Nugroho menghampiriku ketika keluar kelas.
”Wa’alaikumsalam,” aku
menyambut uluran tangannya, begitu akrab terasa.
”Gimana kesehatanmu?
Kelihatannya sudah baikan.”
”Alhamdulillah
Kak, terima kasih Kakak mau menjagaku waktu di Rumah Sakit. Aku berhutang budi
pada Kakak.”
”Tidak seperti itu Akhi,
kita sesama saudara seiman harus saling menolong, bahkan kita diwajibkan
menjaga darah dan martabatnya, demi tegaknya bangunan Islam. Dan Allah
senantiasa menolong hambaNya manakala hambaNya itu mau menolong saudaranya
”
Ucapan itu membuatku
merasa tenang. Aku sempat merasa nyaman dengan sebutan Akhi, yang sering
kudengar dari percakapan di Rohis sewaktu SMK, dan aku baru mendengarnya kali
ini.
”Kami melihat semua
data mahasiswa baru, dan kutahu di Sekolah Menengah dulu kamu ikut Rohis,
bagaimana? Siap meneruskan organisasi itu di Universitas?”
”Insyaallah
Kak.” Nugroho pamitan, hari ini hanya satu mata kuliah. Aku naik bikun, aku menuju masjid Ukhuwah
Islamiyah untuk shalat jumat disana, baru ke Pasar Minggu. Sekarang pukul
11.00.
Aku melangkahkan
kakiku ke danau Kenanga, sungguh sejuk walau panas kian
menyengat. Aku duduk di tepian danau, mirip dengan balong di kampungku. Sorot kemilau matahari, yang menelisik celah
reranting menambah keindahan hatiku, yang beberapa hari ini gelisah. Semilir
angin tengah menggulung ombak kecil di danau, terlihat permukaan air sedikit
menggurat garis, di tanggulnya ia menggerakkan gemerisik reranting. Alam
semesta tengah berbuat hal besar, menggumamkan tasbih. Ada keriap, ada desing,
ada cericit burung, ada gemericik air, ada desau angin, ada gema mengagungkan
Penciptanya. Hatiku tenang sejenak dibuatnya.
Terlena dengan
panorama, hingga sebuah suara dari masjid terdengar mengucapkan salam. Adzan
berkumandang. Panggilan suci yang menggetarkan hatiku, untuk bangkit dan segera
menghampiri. Masjid Ukhuwah Islamiyah terlihat mentereng dan indah, apalagi
letaknya sudah dekat dengan asrama. Aku mengambil air wudhu, begitu ramai. Aku
menyelinap di barisan tengah, masih ada yang kosong. Aku shalat dua rekaat dan
tenang mendengarkan khutbah.
Khotib hari ini masih
terlihat muda, mungkin 29 tahunan. Wajahnya terlihat tenang ketika menyampaikan
khutbah. Pandangannya menyejukkan. Materi yang disampaikannya amat menarik,
sehingga tidak membuatku ngantuk seperti dulu ketika di kampung, karena di
kampung terlihat cuma membaca teks buku, dan kadang membacanya pun salah-salah.
Khutbah yang disampaikan memang singkat namun begitu berkesan. Materinya
tentang Cinta, aku masih ingat tadi dia bercerita tentang seorang sahabat nabi
yang bernama Utsman bin Madh’un ra.
”Dia adalah seorang
sahabat Rasulullah saw. Disaat semua sahabat disakiti oleh kaum kafir karena
membela agama Allah, Utsman bin Madh’un tetap aman, karena mendapat
perlindungan mutlak dari Walid bin Mughirah. Akan tetapi dia berkata dalam
hati, ”Patutkah diriku berada dalam kenikmatan seperti ini, sementara para
sahabat, demi memperoleh cinta Allah, harus mengalami penderitaan?”
Apa yang dipikirkan
beliau? Untuk mendapatkan ridha Allah, hendaknya harus didapat dengan jalan
yang sama. Beliau ingin merasakan penderitaan bersama sahabat-sahabatnya. Ia
akhirnya datang kepada Mughirah dan berkata, ”Wahai Walid, saya tidak
membutuhkan perlindunganmu lagi,” lalu ditanyakan kepadanya, ’kenapa? Apakah kamu
mendapat perlindungan yang lebih baik dari diriku?’ Utsman menjawab, ”Benar!” Walid penasaran dan
bertanya siapakah pelindung yang dimaksud. Dengan mantap Utsman menjawab,
”Allah. Perlindungan Allah lebih kuat dan lebih mulia.” kemudian beliau pergi dan
masuk ke arena ka’bah. Sungguh cinta yang mengagumkan. Bahkan beliau ingin
disakiti, seperti halnya saudara-saudaranya yang disakiti di jalan Allah.
Setelah beliau masuk
ke arena ka’bah. Dilihatnya para sahabat sedang duduk, begitu juga dengan
orang-orang kafir. Sementara seorang penyair terkenal, Labid sedang membacakan
bait-bait syairnya. Telah menjadi tradisi ketika itu, jika ada seorang penyair
sedang membacakan syairnya, semua orang yang hadir tidak ada yang berani
bicara. Hingga saat Labid bersyair, ”Ingatlah, segala sesuatu selain Allah
adalah batil...” Utsman bin Mad’un berkata, ”Anda benar!”
Penyair itu pun diam
sejenak, dan ketika kembali melanjutkan bait keduanya, ”Dan setiap kenikmatan
itu pasti akan lenyap...” tiba-tiba Utsman menyahut, ”Anda bohong! Kenikmatan
surga tiada habisnya.” Si penyair itu marah dan berkata, ”Wahai sekalian kaum
Quraisy, sejak kapan penyair mulai dilecehkan di dalam majelis kalian?”
”Sudahlah, jangan
hiraukan ia! Ia sedang dilindungi oleh Walid,” kata mereka.
”Tidak! Saya sudah
menolak perlindungannya,” kata Utsman dengan berani.
Spontan, mereka pun
bangun dan memukulinya dengan sadis, hingga bola matanya sebelah terluka parah.
Darahnya pun mengucur deras dari sebelah matanya, lalu Walid datang dan
menertawakannya, ”Hai Utsman! Andai kamu tetap berada dalam perlindungan
seorang yang berwibawa...”
”Tidak! Demi Allah, bahkan jika sebelah mataku yang masih sehat
ini pun merindukan, maka bisa jadi akan seperti saudaranya yang sebelah, cidera
di jalan Allah. Alangkah nikmatnya jika Allah meridhai setiap luka di
jalanNya.”
Subhanallah!
Cinta seperti apa ini? Cidera parah pada sebelah matanya tidak dipedulikan,
bahkan mata sebelahnya lagi yang selamat masih dikatakan ingin mengikuti mata
sebelahnya yang cidera. Saat itu Rasulullah saw datang dan berkata, ”Tidak ya
Utsman, kami akan pulihkan sebelah matamu seperti sediakala.” lalu Rasulullah
mengangkat telapak tangannya, dan
mengusapkannya ke mata Utsman yang cidera, lalu sembuh seperti sediakala.
Hak cinta adalah untuk
Allah dan rasulNya. Dan tanda-tandanya dapat dilihat ketika kita banyak
mengingat Allah, baik dengan membaca Al-Quran dan berdzikir. Lalu pencinta itu
terlihat ketika dia rindu bertemu dengan Allah, kemudian mengikuti Rasulullah
saw, karena beliaulah yang akan mengantarkan kita kepada Allah. Dan kita
merasakan kemanisan dan keindahan bersama Allah, disaat sendiri maupun ramai,
saat senggang maupun sibuk. Adalah bohong belaka jika ada orang berkoar
mencintai Allah, namun pada sepertiga malam tidak mau bercinta dengan Sang
Kekasih dengan ruku’ dan sujud menghamparkan wajahnya ke bumi berlama-lama.”
Selesai shalat jum’at
aku duduk di depan masjid, udara panas menampar wajahku, membuatku agak malas
hendak ke Pasar Minggu.
”Assalamualaikum,”
seorang lelaki duduk di sebelahku. Keadaan sekitar sudah sepi.
Aku menjawab salam,
dan menengok ke kanan tempat lelaki itu duduk. Aku terperanjat. Aku menyambut
uluran tangannya. Sang khotib jumat. Senyumnya tampak tenang, sorot matanya
begitu teduh dan nyaman. Wajahnya nampak putih bersih, bulu di dagunya tipis
memanjang. Terlihat berwibawa.
”Adik menunggu
seseorang?”
”Tidak. Hanya masih
sedikit malas hendak keluar. Ustadz sendiri hendak kemana?” aku teringat
panggilan sewaktu pemateri waktu di Rohis dulu, seringnya menggunakan Ustadz.
Apa salahnya aku memakainya.
”Saya menunggu dua
anak saya, tadi salah seorang mahasiswa mengajaknya keluar sebentar setelah
shalat.”
Sang Khotib itu
bernama Wahid. Ustadz Wahid, begitu aku memanggilnya. Umurnya membuatku tak
percaya, 47 tahun. Padahal wajahnya masih sangat muda dan bersih. Beliau
mengajar di pondok pesantren di dekat Terminal. Walau lebih tua jauh dariku, namun
dia begitu akrab sehingga aku tidak canggung lagi, bahkan aku meminta saran
darinya tanpa malu.
”Tadz, seandainya
semua yang kulakukan selama ini untuk sebuah janji persahabatan. Apakah aku
telah mengingkari cintaku pada Allah? Terus terang saya masih bingung dengan
khutbah yang Ustadz sampaikan tadi.”
Ustadz Wahid tersenyum
renyah. Matanya menatapku teduh, ”Semua hal, apakah itu cinta maupun
persahabatan, asalkan untuk mendekatkan diri dan mengantarkan kepada kesejatian
cinta pada Allah. Itu tidaklah mengapa, dan itu dianjurkan kecuali jika itu
malah menjauhkan kita kepada Allah, maka tinggalkanlah. Dan aku yakin, engkau
pasti dapat mencerna mana yang bisa membuatmu lebih dekat dengan Allah, karena
kamu sudah baligh, sehingga mampu memilih mana yang seharusnya dilakukan dan
ditinggalkan,” aku mengangukkan kepalaku, begitu nyaman kurasakan.
”Apakah mentoringnya
sudah dimulai?” beliau bertanya, dia tahu aku semestar baru dari percakapan
kami tadi.
”Insyaallah
minggu depan Tadz.”
Samar-samar kulihat
seorang lelaki menggandeng dua anak kecil, dari kilaunya sinar mentari yang
menimbulkan liukan di sepanjang mata memandang, menguapkan panas bumi dan
aspal. Mereka mendekati kami, mataku silau ketika mereka telah dekat. Ustadz
Wahid tersenyum, setelah menjawab salam dari dua anak kecil itu. Ustadz
merangkul kedua anak kecil itu dan menciumnya. Senyumku pun terukir kepada
lelaki yang membawa kedua anak Ustadz Wahid.
”Kamu sudah kenal
dengan Ustadz Wahid ya?” lelaki itu bertanya heran.
”Barusan saja Kak,
barusan ketemu tadi,” lelaki itu adalah kak Nugroho, kedua bocah itu memegang
plastik yang berisi juice mangga,
warnanya kuning segar. Kami mengobrol bertiga walau sejenak, kedua bocah itu
perempuan dan laki-laki, Fitri dan
Muslim. Fitri berumur 13 tahun dan
Muslim 11 tahun, mereka anak Ustadz Wahid yang pertama dan kedua, dan kedua
anaknya yang lain di rumah bersama ibunya. Anak Ustadz ada empat kini.
Setelah agak lama,
Ustadz Wahid pamitan pulang. Ada yang harus diselesaikan. Mereka naik bikun,
jaraknya masih lumayan jauh dengan Terminal, apalagi panas menyengat. Tidak baik
untuk kedua anaknya berjalan kaki, di bawah teriknya matahari yang memanggang.
Sempat kuingat pesannya, ”Rajinlah belajar dan rajin mempelajari ilmu agama,
belajarlah dari akh Nugroho selaku pembimbing mentoring.”
Aku dan Nugroho
berpisah, dia hendak rapat di masjid Ukhuwah Islamiyah, sedangkan aku pamitan,
tanpa memberitahukan hendak kerja di Pasar Minggu, kecuali kubilang ingin ke
Pasar Minggu semata. Dia tersenyum tanpa menanyakan keperluanku kesana.
Rahasiaku menjadi kuli aman, aku tidak mau memperoleh simpati. Aku lebih suka
bekerja keras, dan mendapatkan hasil dari jerih payahku, yang akan membuatku
merasa lega dan tenang.
Not Comments Yet "Part 11, Sebuah Awal yang Terpaksa"
Posting Komentar