Jumat, 18 Oktober 2019

Part 26, Diakah Bidadariku?

Hari ini tak ada kuliah. Kusempatkan sehari ini aku di Masjid Pesantren, belajar. Pikiranku sebentar melayang sejenak. Lintasan menikah begitu kuat sebenarnya membuncah. Ustadz Arifin bercerita sewaktu menikah dulu belum punya rumah apalagi kendaraan, masih menjadi marbot Masjid atau ustadz Ilham yang menikahnya sewaktu kuliah sehingga dia harus KKN – kuliah kerja nikahtapi Allah tidak pernah membuat mereka kekurangan. Apakah sudah saatnya aku menikah? Aku kadang diundang untuk mengisi walimatul ursy, tapi kenapa aku sendiri belum melangkah? Lamunanku membuyar saat Ustadz Umair memanggilku di luar Masjid setelah beliau shalat Dhuha. Aku keluar masjid, kulihat Ustadz Umair duduk dengan seorang yang sebaya dengannya memakai kacamata. Aku mengucapkan salam kepada mereka.
”Ini yang namanya Ali. Dia santri disini,” Ustadz Umair memperkenalkan namaku.
”Nama Bapak Hamdan, lengkapnya Hamdan Al-Faruq,” lelaki itu mulai mengenalkan dirinya, ”Saya dan Umair bersahabat ketika kami sama-sama belajar di Mesir. Saya juga memunyai Pesantren di Aceh, namanya Ulul Albab,” lelaki itu begitu ramah seperti Ustadz Wahid. Kami berbincang-bincang akrab. Aku tidak merasa canggung berdiskusi dengan mereka. Pak Hamdan baru saja datang dari Aceh.
”Ali” Pak Hamdan memerhatikanku teduh, ”Bagaimana menurutmu tentang suami yang menyakiti istrinya? Sampai sebatas manakah suami itu dapat memukul isterinya? Bagaimana pendapatmu?”

Aku berupaya menjelaskan sebisaku, ”Allah berfirman, “... Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuz-nya (meninggalkan kewajiban bersuami-istri. Seperti meninggalkan rumah tanpa izin) maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya allah Mahatinggi lagi Mahabesar.[1] dalam ayat tersebut Allah ’Azza wa Jalla memang mengizinkan suami memukul isterinya namun pada isterinya yang membangkang. yang harus dilakukan pertama kali oleh seorang suami adalah menasehatinya, jika belum berubah suami dapat memisahkan tempat tidurnya dengan isteri. jika memang bebal maka diambil langkah selanjutnya yaitu memukul. namun memukul tidak boleh memukul muka dan tidak boleh menyakitkan –ghairu mubrah-, seperti nabi Ayyub as. yang memukul isterinya dengan pelan dengan lidi karena isterinya menjual rambutnya, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya.
Al Qurthubi menyebutkan ketika bertanya pada Ibnu Abbas, ”Apa yang dimaksud pukulan yang tidak melukai?” jawab Ibnu Abbas : ”Pukulan menggunakan siwak.”
pukulan itu ditujukan hanya untuk mengingatkan sehingga tidak akan terasa sakit sama sekali. Rasulullah  saw bersabda tentang seorang suami yang memukul isterinya, ”Ali ra. menuturkan bahwa isteri Walid Ibnu Uqbah datang kepada Nabi seraya berkatra, ’Ya Rasulullah, sesungguhnya Walid memukulku.’ Rasulullah bersabda, ’Katakanlah bahwa Rasulullah saw telah melindungi aku.’ tidak lama setelah itu maka wanita itu kembali seraya berkata, ’Walid makin banyak memukulku.’ Maka beliau saw mengambil sebagian kain dari bajunya dan diserahkan kepada wanita itu untuk diserahkan kepada Walid seraya berpesan, ’Katakanlah kepada Walid bahwa aku melindungimu.’
Ketika wanita itu datang lagi dan mengadukan perlakuan Walid kepadanya untuk ketiga kalinya, maka Beliau saw mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya Walid telah menyakiti aku sebanyak dua kali, maka ia kuserahkan kepada-Mu[2] apakah seorang suami atau lelaki  ada yang berani menantang Rasulullah saw, dan menyakitinya? padahal begitu cintanya seorang Muslim kepada beliau melebihi dirinya sendiri. kehormatan Nabi saw ketika hidup dan sesudah wafat posisinya masih sama karena Sabdanya sampai sekarang mempunyai hukum mutlak. Maka akankah seorang suami tenteram jika didoakan seperti itu oleh Rasulullah saw.
”Lalu, Bagaimana menurutmu tentang bid’ah?’
Diskusi yang menarik walau terlihat seolah mengetesku, ”Tentu saja jika menilik secara luas, ia mencakup segala hal yang baru. Termasuk yang disebut Ibnu Taimiyah rahimallah sebagai ’Perbuatan yang seharusnya dilakukan pada zaman Nabi saw dan tidak ada larangan dari beliau untuk melakukannya di zaman itu, tetapi baru dilakukan pada zaman sepeninggal beliau.’ Contohnya adalah penghimpunan Mushaf Al-Qur’an atau misalnya lagi yang dilakukan di masa ’Umar ra. hal itu yang sempat dilarang Rasulullah yaitu shalat tarawih berjamaah. Ini tidak termasuk bid’ah yang dilarang syariat. Umar ra. berkata, ’Sebaik-baik bid’ah adalah ini,’ tentu maksudnya bid’ah secara keseluruhan.
Bid’ah haqiqiyah[3]lah yang harus dihilangkan. Kemudian ada bid’ah idhafiyah yaitu segala sesuatu yang akarnya disyariatkan tetapi sifatnya tidak seperti shalat nishfu sya’aban, asalnya sholat adalah disyariatkan tetapi disesuaikan dengan waktu khusus dan tatacara tersendiri yang tidak ada tuntunannya juga tertolak. Ada bid’ah tarkiyah[4] juga akan tertolak semisal meninggalkan menikah karena ingin beribadah secara total, atau meninggalkan tidur untuk beribadah sepanjang malam. Ada juga bid’ah iltizam, yaitu mengkhususkan ibadah-ibadah yang sebenarnya tidak ditentukan tatacara dan waktunya namun mereka melakukannya agar dapat komitmen menjalankan ibadah itu, misalnya dzikir yang ditentukan jumlahnya, istighfar atau shalawat Nabi. Ada kata mudah untuk menyelesaikan perdebatan tentang bid’ah yang dari zaman tabi’in hingga sekarang masih belum selesai,” aku diam sejenak.
”Apa itu?” Pak Hamdan merasa penasaran.
”Sebuah kata yang ringan dan mudah, ’Beringan-ringan melakukan sunnah adalah jauh lebih baik daripada berpayah-payah dengan bid’ah’[5] bukankah dengan begitu setiap amalan kita sesuai syariat. Kenapa berpayah-payah dalam urusan yang tidak jelas padahal amalan sunnah begitu banyak yang belum kita kerjakan,” mereka membenarkan kata-kataku. Kami berdiskusi tentang apa saja, bahkan juga tentang hubungan suami-istri. Aku memang belum pernah, tapi aku sudah banyak melahap buku tentang nikah jadi sedikit-sedikit aku nyambung. Nikah? Siapakah bidadariku yang masih kau tutupi dalam tabirmu ya Allah? Aku tak berani memilih, biarlah Engkau yang menunjukkan sendiri ya Allah.
”Bisa kau antarkan aku ke Asrama Ali? Anakku disana, aku sendiri belum pernah kesana,” Ustadz Umair menganggukkan kepalanya kearahku. Mengizinkanku.
Insyaallah, dengan senang hati Tadz.”
Aku mengganti bajuku sebentar di kamar lalu keluar kembali mengantar Pak Hamdan ke Asrama Mahasiswa. Kami naik bikun sambil mengobrol banyak hal, kami berasal dari pulau Sumatera jadi sudah merasa cocok dari awal. Kami turun di Asrama, tempat pertama kali aku tinggal di Depok dulu. Aku hendak pamitan tapi Pak Hamdan mencegahku, ”Kau pasti terkejut siapa anakku. Dia kenal denganmu,” beliau tersenyum dan mengambil Hp-nya. Suara percakapan lirih lalu hubungan terputus. Dia memintaku menunggu sejenak. Seorang wanita berjilbab keluar dari pintu Asrama Putri, sekilas aku kenal. Ya, dia Wanda Hamidah. Jadi, pak Hamdan adalah ayahnya?
Wanda mengecup punggung tangan ayahnya. Alangkah indah pertemuan, begitu rindunya aku pada Bapak dan Ibuku di Lampung. Kami berbincang sejenak, saat matahari mulai berada di ubun-ubun, aku pamitan. Aku langsung menuju Masjid, dzuhur sebentar lagi. Wanda? Diakah bidadariku? Yang tabirnya masih Kau tutupi. Wanita bermata lentik dan berhidung bangir itu? Aku tak berani berharap lebih, apalagi dia adalah seorang putri pemilik Pesantren di Aceh. Seolah menunggu hujan emas yang tak akan pernah jatuh.
Kembali lakon hidupku dimulai. Setelah dzuhur, aku bekerja kembali. Kerja bagiku adalah ibadah. Meniatkan untuk dapat berinfak, menghindari dari meminta-minta kepada makhlukNya, mempersiapkan biaya untuk naik haji, memberi makan fakir miskin, membantu biaya sekolah Fadli sementara, untuk persiapan nikah. Nikah? Kenapa kata-kata itu seolah selalu muncul tanpa kupersiapkan? Allah, jagalah hatiku agar selalu bersinar dalam naunganMu. Sore hari aku kembali ke Pesantren, Syahid mengatakan aku ditunggu seseorang, katanya teman Ustadz Umair. Berarti Ustadz Hamdan. Aku segera mandi, nanti insyaallah ketemu. Pukul 17,30 aku ke masjid sambil menunggu maghrib tiba, kuambil mushaf pemberian Sinta. Masih bagus hingga kini.
Sebuah senyum menyambutku, pak Hamdan. Dia mengajakku bicara empat mata di samping kolam.
”Kau tahu anakku, apa tujuanku kesini,” aku hanya menggelengkan kepalaku, ”Seorang temanku di Aceh, temanku sejak kecil tepatnya. Dia melamar putriku untuk putranya yang baru pulang belajar dari Malaysia,” pandangannya menatap tajam, ikan yang menghirup udara segar ke permukaan. Bibirnya bergerak kembali, ”Itulah masalahnya, Wanda tidak mau menikah dengan pemuda pilihan ayahnya, padahal dia juga belum pernah bertemu dengan pemuda pilihanku. Dia adalah anakku satu-satunya,” ada kesedihan dalam makna setiap katanya.
”Mungkin Wanda mempunyai alasan?”
”Itu dia,” aku sedikit kaget, ”Tadi dia telah terus-terang pada ayahnya, dan kami membuat kesepakatan. Ternyata dia telah mencintai seorang pemuda di Depok, dia sangat ingin menikah dengan pria itu. Dia ingin aku yang melamarkannya, jika pria itu tidak mau, maka dia akan menuruti kata-kataku untuk menikah dengan pemuda pilihanku,” pandangannya masih menembus air di kolam.
”Berarti masalahnya sudah selesai, hanya tinggal menyelesaikan kesepakatan itu,” aku berkomentar, kami merasa sudah akrab. Sama-sama dari Sumatera.
”Itu masalahnya!” aku semakin penasaran, ”Kau tahu siapa pilihannya?”
Aku menggelengkan kepalaku.
”Dia itu kamu,” matanya menatapku, namun aku tak tahu apa maknanya.
Aku? Kiamatkah dunia? Atau sudah gilakah dunia? Aku? Aku tersenyum tanpa tahu arti senyumku sendiri, ”Aku Pak?,” aku menunjuk dada dengan telunjukku, ”Ternyata selera humor Bapak bagus juga,” aku tersenyum lembut.
”Kaupikir aku bercanda anakku?” matanya kini terlihat tenang dan serius. Aku tak kuasa tersenyum, semua bungkam seperti ikan yang bungkam dalam ketenangan air. Hening tak ada suara, hingga adzan maghrib yang akhirnya mengakhiri percakapan kami. Dia menunggu jawabanku seminggu lagi, karena dia akan tinggal di Depok selama satu minggu, di Pesantren. Pak Hamdan menyerahkan biodata Wanda agar kupelajari. Allah, sekali lagi aku datang padaMu. ’Jadikanlah hatiku cahaya.’
Saat malam. Belajar Tafsir kepalaku benar-benar pusing. Aku tak bisa konsentrasi. Saat kajian ditutup aku lega. Kajian tadi benar-benar susah kupahami karena keadaan pikiranku yang sedikit kacau. Saat akan ke kamar, Samsul memanggilku, dia bilang aku dipanggil Syaikh Wahid di Masjid. Kebetulan, aku bisa meminta pendapat dari beliau. Senyum teduhnya menyambut kedatanganku yang kuyuh.
”Kau terlihat mengantuk. Wudhulah dulu, lalu shalat dua rekaat,” aku mengikuti ucapannya. Bukankah hati orang yang beriman hanya akan tenang dengan mengingat Allah? Aku shalat dua rekaat dengan memohon ketenangan dan mendatangi Ustadz Wahid kembali. Beliau mempersilakanku duduk.
”Sekarang kau sudah siap?” aku menganggukkan kepalaku.
”Sebelumnya agar kau tidak bingung aku akan bercerita sejenak. Aku mempunyai seorang kakak kandung. Beliau mempunyai empat orang anak. yang unik, dia melimpahkan semua tanggung-jawab akan hak pernikahannya padaku. tiga orang anaknya telah kuusahakan mencari jodohnya, hanya Allah yang Maha Menentukan sedangkan kita hanya berikhtiyar,” mata teduhnya menatapku sejenak, ”Masalahnya kini anaknya yang keempat memintaku mencarikan jodoh untuknya, terlepas nanti apakah jadi atau tidak. Manusia hanyalah berupaya.”
”Ustadz memintaku membantu mencarikan jodoh untuknya?”
”Tepat. Saya membutuhkan bantuanmu,” ustadz lembut itu menepuk pundakku. Apapun jika yang meminta tolong Ustadz Wahid, apapun akan kulakukan.
”Dia itu perempuan atau laki-laki tadz? Terus kriteria yang diinginkannya apa saja? Dia mencari yang seperti apa?” aku memberondong Ustadz dengan beberapa pertanyaan, aku begitu semangat. Kulihat senyum simpul darinya, legalah hati ini.
”Keponakanku itu wanita. Kriterianya terserah padaku, yang jelas dia bisa membimbingnya menuju jalan Allah. Akhlaknya diutamakan,” Ustadz tersenyum.
”Sulit jika kriterianya tidak jelas Tadz. Sesuatu yang umum akan sulit dicari,” aku mencoba berargumen.
”Aku sudah menemukannya, hanya tinggal menunggu kesiapannya. Dan langsung ta’aruf langsung antara kedua belah pihak.”
”Berarti tidak ada masalah. Lalu, apa yang bisa kubantu Tadz?”
”Ehm..., apakah engkau sudah siap untuk menikah?”
”Menikah? Saya Tadz?” Ustadz meminta jawabanku, ”Aku hanya orang miskin. Untuk kuliah saja aku harus berhemat, karena itu dari hasil kerjaku. Jika Allah, berkehendak mempertemukanku dengan jodohku. Aku akan menerimanya.”
Alhamdulillah, berarti hanya tinggal proses ta’arufnya saja.”
Aku tidak mengerti, ”Maksud Ustadz?”
”Saya ingin menjodohkannya denganmu Ali,” seolah gempa kembali terulang. Dua orang besar yang melamarkan seorang bidadari untukku, hari ini. Ya Allah..., padahal pagi tadi aku berujar dalam hatiku, ’Apakah sudah saatnya aku menikah?’ ternyata kau buka pintu-pintu kearahnya. Masyaallah, alangkah cepatnya engkau menetapkan sesuatu. Alangkah cintanya Engkau pada hambaMu. Saat pamitan hendak ke kamar, Ustadz Wahid memintaku shalat istikharah, dan meminta izin pada orangtua dulu. Dia menyerahkan map, kata beliau biodata keponakannya.
Malam ini adalah malam yang meresahkan seumur hidupku. Tak lelap tidurku, aku bahkan tak bisa memejamkan mataku. Kupaksa, tetap tak bisa. Tak kubawa dua map yang membuatku resah. Aku menuju Masjid, akan kuadukan semuanya padaMu Allah. Biarlah keputusanMu yang akan berkehendak.
Setelah shalat istikharah[6] aku mengadukan semuanya pada Allah. Aku tak kuasa membuka selembarpun biodata itu, aku teringat hadits Rasulullah saw, ”Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya ; karena mungkin saja kecantikan itu membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi wanita karena hartanya ; karena mungkin saja hartanya akan membuatnya melampaui batas, nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak yang shalihah meskipun buruk ruwanya adalah lebih utama.”[7] aku tak kuasa menatap foto, jika di dalam biodata ada. Aku sedikitpun tak berani membukanya.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu pilihan dengan ilmuMu, memohon kekuatan kepadaMu dengan kuasaMu. Aku memohon anugerahMu yang agung. Sesungguhnya hanya Engkau yang kuasa, sedangkan aku tidak. Hanya Engkaulah yang mengetahui, sementara aku tidak. Engkau Maha Mengetahui rahasia yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui mana yang baik bagiku dalam urusan agama, kehidupan dunia, dan kesudahan urusanku, maka tetapkanlah dia bagiku, mudahkanlah dia untukku, kemudian berikanlah berkah untukku dalam urusan dengannya. Dan, jika Engkau mengetahui bahwa mereka buruk bagiku dalam urusan agama, dunia dan kesudahan urusanku, maka palingkanlah mereka dariku dan palingkan aku darinya. Tetapkan bagiku kebaikan apapun, kemudian ridhailah aku.[8] Allah, pilihkan untukku jika di antara mereka memang jodohku dan tetapkanlah waktunya sekehendakMu. Jika aku yang tak pantas untuk mereka, maka tahanlah mereka dariku..., aku tak kuasa memilih kecuali atas petunjukMu. Amiin.
Pukul 02.30, aku mulai lebih tenang. Aku rebahan membaca doa dan tidur di Masjid. Aku harus bangun untuk shalat malam. Kuhidupkan alarm di Hp. Mataku menutup.

*     *    *
Dimana aku? Aku terduduk di ranjang empuk berhiaskan kemilau pita dan bunga-bunga nan indah. Ini seperti kamar pengantin. Pintu terkuak, sesorang masuk. Pak Hamdan? Dia mengucapkan salam. Masuk dan tersenyum padaku, lalu pamitan pergi meninggalkan kamar. Aku bingung, pintu terkuak kembali. Ustadz Wahid masuk dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum dan pamitan pulang, aku semakin bingung. Saat kuhendak keluar melalui pintu itu, seseorang masuk lagi ke kamar. Dia mengucapkan salam. Aku kaget, aku hafal betul siapa pemilik suara itu.
Bapak? Aku ingin memeluknya karena rinduku membuncah. Niatku kuurungkan, seseorang wanita muncul dari belakang Bapak, wajahnya tertutupi selendang hingga hanya matanya yang bening saja yang terlihat begitu indah. Aku semakin bingung, Bapak tersenyum lalu memegang tangan wanita itu dan memperlihatkan sesuatu untuk kulihat. Sebuah ukiran dalam jemarinya. ”Cincin berbentuk bulan”
”Pak, dia isteriku?” malam zafaf yang indah, ”Bolehkah kubuka tudung kepalanya yang menutupi wajahnya? Agar aku bisa menikmati wajahnya.”
”Bersabarlah Nak, sekarang belum saatnya. Masih banyak hal yang harus kamu persiapkan terutama hatimu,” Bapak menunjukkan telapak tangannya, tepat di dadanya.
”Tit..., Titt..., tiit tiit tiit,” suara menggema dari Hp 3315 ku yang semakin keras membangunkanku dari mimpi. Alhamdulillah, aku mematikan alarmnya. Astaghfirullah, sudah limabelas menit alarm berbunyi. Sekarang pukul 03.30, tadi kuhidupkan pukul 03.15. terima kasih ya Allah, Kau beri kesempatan padaku untuk kembali mengumpulkan bekal untuk bertemu denganMu.


[1] QS An-Nisaa’ : 34
[2] Al Hadits
[3] Hal baru yang ditentang Al-quran dan Sunnah
[4] Hal baru untuk lebih mendekatkan diri pada Allah
[5] Abdullah bin Mas’ud ra.
[6] Shalat meminta petunjuk
[7] HR Ibnu Majah
[8] HR Bukhari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar