Jumat, 18 Oktober 2019

Part 3, Sebuah Kesepakatan

Minggu Ini Dimulainya Liburan Cawu Dua. Tepatnya, 3 Februari 1991.
“San, kamu jangan pulang dulu, Mbak ingin bicara,” Fatimah mencegah Ihsan yang telah siap berlari, Ningsih dimintanya untuk pulang duluan. Tinggallah mereka berdua.
Ihsan duduk bersila menghadap guru ngajinya, wajahnya menunduk. Apakah dia berbuat salah? Sepertinya tidak.
“Kenapa kamu menunduk terus, Mbak kan ingin bicara?”
Ihsan mengangkat wajahnya pelan, tepat menatap mata Fatimah. Tiba-tiba wajahnya merekah, senyumnya melebar, “Aku sedang bahagia Mbak, hari jum’at kemarin aku mendapatkan dua hadiah sekaligus. Dan aku memberikan jilbab yang cantik untuk Ibu, seperti punya Mbak. Aku mengatakan pada Ibu seperti yang Mbak ajarkan, dan Ibu memelukku sambil menangis, Bapak juga tiba-tiba merangkulku erat sekali. Mereka benar-benar menyayangi Ihsan. Terima kasih atas kata yang Mbak ajarkan itu, dan…”
Ihsan melanjutkan ucapannya, ketika Fatimah menatapnya semakin dalam, “Dan Ihsan juga mencintai Mbak karena Allah,” dan benar apa yang diduga oleh Ihsan, Fatimah memeluknya erat, isaknya lirih terdengar Pelan. Ihsan tersenyum dalam pelukan Fatimah. Berhasil, ternyata kata-kata itu sanggup membuat siapapun menangis dan jadi menyayanginya. Seorang bocah yang sebenarnya belum memahami kata-kata itu.
“Kenapa Mbak nangis?”
“Mbak merasa terharu, baru kali ini ada yang mengatakan itu pada Mbak. Ayah mbak jarang sekali pulang, apalagi kini Mbak harus tinggal di asrama tempat Mbak kuliah,” Suasana hening sejenak. Cek…cek…cek… suara cicak menggantikan kesenyapan, kaki-kakinya menempel erat pada dinding Mushola, menyaksikan dua orang yang sedang duduk tepat di bawahnya.
“O…iya, bagaimana dagangan kuenya tadi bersama ibu?”
“Siiplah! Tadi sebelum kesini sudah habis, kata ibu kalau kita semangat bekerja, Allah pasti akan memberikan rezeki yang banyak, dan aku bisa terus sekolah,” Yasmin belum bisa ditinggal, karena itu bu Nur hanya dagang di rumah untuk sementara.
“Hasil raport kemarin kamu dapat Ranking berapa di kelas San?”
“Siiplah! Ada kemajuan Mbak, sejak Ihsan mulai mengaji sama Mbak. Pada cawu satu kemarin Ihsan dapat Ranking 30 dan cawu dua ini, naik satu peringkat jadi ranking 3 dari belakang, he…he…,” dan senyum polos itu merubah senyum pula di wajah kekagetan Fatimah.
Fatimah tersenyum untuk kesekian kalinya, anak yang belum saatnya bekerja keras, tapi Ihsan telah membuktikan dirinya. Berbeda jauh dengan anak-anak di Jakarta, bisanya hanya menengadahkan tangannya setiap kali berangkat sekolah.
“Mbak punya tawaran untukmu, apakah kamu mau menerimanya?”
“Apa ada hadiahnya?” mata Ihsan bulat berbinar.
“Tentu saja, kali ini hadiahnya coklat. Terserah mau coklat yang mana.”
“Aku mau coklat satu kotak besar, biar gak pernah habis sampai aku gede nanti,” mata yang tajam penuh keyakinan.
“Baiklah, satu kotak besar. Tapi dengar dulu apa yang harus kamu selesaikan. Kamu…”
Terlambat. Ihsan sudah cengar-cengir sambil melonjak-lonjak matanya melirik ke atas kian kemari, seperti membayangkan sesuatu, “Hore…hore…coklat. Fajar dan Yasmin pasti aku bagi, hore…”
Fatimah menepuk jidatnya keras dengan kedua telapak tangannya, gelengan kepalanya pun tidak ketinggalan. Belum sempat kata-katanya keluar lagi…
“Apa yang harus Ihsan selesaikan, apakah misi rahasia atau… hafalan surat seperti yang diminta Mbak Ningsih, atau menyelesaikan suatu pekerjaan, atau…” Ihsan menatap cicak yang masih betah di atas kepalanya, merambat di lampu neon panjang.
Fatimah menggelengkan kepalanya berkali-kali, “Bukan. Bukan itu, semuanya salah. Dengarkan baik-baik, besok adikku akan datang bersama Ibu Mbak. Tugasmu mudah. Dia  akan tinggal disini selama satu minggu bersama Mbak, jika kamu bisa mengetahui namanya langsung dari adikku, maka coklatnya akan Mbak berikan. Mudah bukan, Bagaimana? Apakah kamu sepakat?”
Ihsan diam tanpa ekspresi, dagunya ditopang oleh kedua tangannya dengan siku tangannya menolak mester –lantai- “Cukup Mbak, hanya itu?”
Dan anggukan berat kepala Fatimah membuat Ihsan tertawa puas, hingga terpingkal-pingkal. Untuk mendapatkan coklat yang hanya mendengarkan rasanya dari teman-temannya yang terbilang kaya itu, akan diperolehnya dengan mudah, coklat yang hanya di makan beberapa kali oleh Bowo anaknya Bayan, Ratna anaknya pak RW, atau Rani anaknya pak Kades. Sebentar lagi, dia akan menikmatinya.
“Aku sepakat Mbak, siapkan saja coklatnya. Aku pamit dulu, aku harus menggiring si Jali dan Jalu untuk pulang.”
“Baiklah, pulanglah dan Persiapkanlah dirimu San.”
Ihsan mengucapkan salam dan berlari menuju sepeda kecilnya, dua ayamnya mungkin kini telah memasuki kandang. Kalau lupa memberi makan dengan menir[1], ibu bisa marah. Eh… kan selama ini, ibu belum pernah marah.
Fatimah tersenyum menjawab salam, memandangi Ihsan hingga menghilang di balik pepohonan teduh. Terdorong cerita Ningsih, membuatnya harus melakukan uji coba, hafalan huruf hijaiyah dikiranya hanya kebetulan, namun ketika mendengar Ningsih tentang penjelasan sekalinya tentang hujan, dan hafalan surat An Naas dalam waktu sehari, bukanlah pekerjaan remeh. Tapi adik bungsunya…, Kali ini apa yang akan terjadi, karena dia tahu adiknya yang paling kecil adalah…
 
Senin, Hari Kedua Liburan Cawu II
Mobil Kijang merah melaju memasuki jalanan batu terjal, memasuki Desa Gedung Dalam Baru, pembangunan yang belum merata di Indonesia membuat desa terpencil itu terabaikan, karena mementingkan jalur di jalan-jalan kota dan lintas. Setelah mobil itu melewati perbatasan desa Besuki 37C, berhenti di rumah nomor dua. Rumah nomor satu adalah pabrik padi, dan di pagi hari pemilik rumah masih di Pekalongan, karena giliran kerja menggiling padi pada sore hari sebelum Ashar.
Syarif, sang supir turun dari mobil, meminta izin kepada seorang ibu yang berada di jok belakang, untuk bertanya kepada sang pemilik rumah kecil geribik itu. Kebetulan seorang Ibu sedang berada di luar, menggendong seorang anak dalam dekapannya. Syarif membenahi pecinya yang sedikit miring, tampak guratan kelelahan menyembul dari wajahnya yang berkumis tipis. Sudah lama dia bekerja kepada majikannya, sejak masih bujang. Mereka sungguh baik padanya, selain bekerja, dia diminta menempati rumah kecil yang letaknya tidak berjauhan. Di rumah yang menurutnya cukup besar itulah, dia bersama istri dan kedua anaknya, merawat rumah itu.
Di dekatinya wanita berkerudung itu, “Maaf Bu, saya mau tanya. Rumah pak bayan Yadi di sebelah mana ya?” Syarif melihat si kecil. Bayi yang manis, menciptakan rindu.
Nur menjelaskan arah jalan sambil memperagakan tangannya. Kebetulan  Ihsan keluar karena mendengar deru mobil lewat, ternyata berhenti di depan rumahnya, teriakannya membahana, “Mobil lewat…, ada mobil lewat…, gerrrengg… greeeeng…,” maklum untuk ukuran mobil lewat, mungkin hanya sebulan sekali atau hingga setahun, karena saking jauhnya dari Kecamatan.
Sang Ibu meminta Ihsan mengantarkan mereka ke rumah pak Bayan, bibir Ihsan cemberut sejenak, tapi sang Ibu segera menangkap kegamangan itu, “Biar Fajar Ibu yang nemenin, sekarang laksanakan tugas, wahai permata Ibu.”
“Baiklah Bu, ayo pak ikuti saya, rumahnya tidak jauh kok,” langkahnya langsung diikuti Syarif hingga Ihsan berada di depan mobil. Setelah syarif masuk, dia meminta Ihsan untuk masuk, namun Ihsan menolak, “Bapak ikuti saja aku, kejar kalau bisa,” dasar Ihsan. Tangannya membentang seperti sayap pesawat atau sayap Alap-alap, yang betah mengapung di angkasa, tanpa mengibaskan sayapnya. Langkahnya menari bersama cerianya siang, seorang Ibu menatapnya dari dalam mobil yang mulai melaju, “Anak yang lucu,” seorang gadis kecil berumur 6 tahun tepat, yang berada di sampingnya bergumam dalam hati, “Dasar anak desa!”
Sampai di rumah pak Bayan, Ihsan mendahului memasuki rumah itu. Mbak Fatimah dan Ningsih sedang duduk-duduk di kursi halaman rumah. Ihsan mengucapkan salam, berbarengan dengan itu, tiga orang dalam mobil kijang itu keluar. Fatimah segera menyambut Ibunya; Ratih, mencium punggung tangannya. Kemudian duduk untuk mensejajarkan diri dengan gadis kecil berkerudung pink, “Adik Kakak sudah datang, bagaimana kabarmu?”
Senyum gadis kecil itu terlihat sekilas, lalu kembali ke posisi semula, “Baik. Aku  akan menemani Kakak disini, walau hanya sebentar,” tangannya menyambut tangan Fatimah dan menciumnya pelan.
Syarif mengambil barang bawaan dari mobil, dan membawanya memasuki halaman rumah itu. Ningsih sedang berbincang dengan bu Ratih.
Fatimah mengapit tangan adiknya, dan mendekati Ihsan yang sedari tadi berdiri terdiam, “Kenalkan, ini salah satu murid ngaji Kakak, namanya Ihsan,” Ihsan cengar-cengir sambil menggarukkan tangannya di kepala, sambil menganggukkan kepalanya.
“Mbak aku pulang dulu ya? Aku harus menjaga adikku. Dan misinya akan aku mulai besok, siapkan saja hadiahnya,” Ihsan mengucapkan salam, namun bu Ratih mencegahnya dan mengambil dompetnya. Ihsan paham, “Gak usah Bu. Ibu Mbak Fatimah adalah ibu saya juga,” Ihsan berlari mendekati jalan, namun tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan, “Mbak, pokoknya siapkan saja. Aku pasti berhasil.” Langkahnya mengayun, orang-orang di halaman rumah itu merasa bingung kecuali satu orang; Fatimah.
Entah apa yang ada dalam pikiran Ihsan, langkahnya melaju kencang, ingin segera dicapainya rumah. Kalau saja dia adalah burung, mungkin dia menggunakan daya kepaknya dengan tenaga maksimum. Sampai di rumah, ibunya masih di depan pintu.
Ihsan mengucapkan salam, tiba-tiba Ihsan merengkuh tangan Ibunya, dan sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Nur, yang masih menina-bobokan Yasmin. Keterkejutan nampak dari raut mukanya, begitu pula ketika sang Ayah pulang di hadapan malam, punggung tangannya di kecup dengan mesra oleh Ihsan. Jika diteliti di Gedung Dalam baru pada saat itu, yang mencium tangan orangtuanya mungkin baru Ihsan. Hari ini adalah hari terindah dalam bayangan Ali dan Nur, hilang sudah kesusahan hidup yang menghimpit mereka selama ini. Ternyata buah hati adalah harta yang tak terbayar oleh lautan berlian
*     *     *
Matahari muncul lagi di Gedung Dalam Baru, seluruh makhluk melakukan rutinitasnya kembali. Ihsan baru saja memberi makan dua ayamnya yang sedari pagi sudah ribut, Ihsan tampak sewot karena kakinya sempat di patuk si jalu, ketika memberi segenggam beras dan satu butir terjatuh tepat di punggung kakinya, tentu saja Ihsan berteriak keras.
“Bu, Ihsan mau main ke tempat Mbak Fatimah,” dan anggukan Ibu membuatya segera mengambil sepeda kecil, pemberian ayahnya sebulan yang lalu. Dia belum bisa menaiki sepeda jengki milik ayahnya karena terlalu tinggi. Hari ini, ayahnya sedang memanen padi, di tempat yang dekat dengan rumah.
Ihsan baru bisa mengemudikan sepedanya. Siulnya susul-menyusul sambil mengiringi putaran pedal. Dia, sewaktu sekolah selalu menaruh kue buatan ibunya yang akan dijual ke sekolah, di boncengan kecil sepedanya. Sekarang Ihsan pergi ke sekolah dan mengaji dengan sepeda barunya.
Sebuah mobil merah melintasinya dan berhenti. Mobil ibunya Fatimah. Seorang supir memanggil Ihsan, “Berhenti Nak.”
Ihsan menghentikan lajunya dan memutar kemudi dengan cepat. Istilah  Farid, “ngempot[2],” lalu mendekati Syarif. Seorang ibu muncul dari pintu yang dibukanya, di jok belakang, jilbabnya menjuntai, “Terima kasih ya Nak, siapa namamu?”
Ihsan menyangga sepeda dengan satu kakinya, “Ihsan Bu. Ibu mau pulang ke tempat yang jauh lagi ya?”
“Iya, ini terimalah sedikit uang untuk jajan kamu,” selembar uang yang lumayan besar untuk ukuran desa terulur.
“Tidak Bu, terima kasih. Aku juga sudah bekerja kok, jadi saya juga punya uang jajan,” Ihsan menggelengkan kepalanya pelan.
Bu Ratih tetap memaksa, tapi Ihsan tetap menolak, hingga akhirnya kewalahan dan berpamitan pulang dengan senyuman yang akan selalu diingat Ihsan, “Ternyata orang jauh itu baik-baik, tidak seperti yang di bilang Bowo, yang katanya banyak yang jahat.”
Pedalan kakinya berlanjut, senyumnya selalu menghiasi bibirnya.
“San, tolong kamu temenin adikku. Mbak lagi banyak pasien, ajaklah dia bermain,” Fatimah yang sedang mengukur tensi salah satu ibu hamil, meminta Ihsan yang baru saja datang. Ihsan menganggukkan kepalanya.
Seorang gadis kecil berkerudung pink, kini duduk di boncengan kecil sepeda Ihsan. Sedari tadi hanya diam, Ihsan bersiul lalu bernyanyi, bersiul lalu bernyanyi lagi. Bingung memulai. Hingga lagu Bintang kecil versi orang buta, mengalun melalui bibir kecilnya, “Bintang kecil katanya-katanya, di langit yang tinggi katanya-katanya, amat banyak katanya-katanya, menghias angkasa katanya-katanya,” bagian katanya di buat Backing vokal cempreng, hingga sebuah tawa kecil muncul dari arah belakang sepeda, membuatnya salah tingkah dan menghentikan alunan syairnya.
Sepeda itu berhenti di gubuk bagian atas sawah, pandangan seolah terpaku tak mau beralih dari keindahan panorama. Si gadis kecil tersenyum sendiri, lamunannya seolah terbang tak terjangkau. Melayang bagaikan kehidupan ini miliknya sendiri. Terlihat beberapa petani sedang menyabit padi, lalu di panggul di siku kirinya untuk di hantamkan pada papan segitiga, yang di bawahnya di letakkan terpal[3] untuk menampung padi yang bertebaran. Ada beberapa di bagian lain yang sedang tandur[4], di lahan baru yang tanahnya barusan di garis dengan garu[5], mereka berjongkok dan berjalan mundur, sambil meninggalkan tancapan-tancapan wet[6] pari-nya.
Di angkasa, banyak bertebaran burung Sriti sedang mengundang hujan turun, walau matahari masih menyala. Ihsan mendekati gadis kecil itu dan berdiri di depannya, menutupi pandangan gadis kecil itu. Seekor burung Manyar sedang terbang di angkasa dengan kecepatan tinggi, di belakangnya seekor burung alap-alap sedang memburunya. Kecepatan yang tidak seimbang, menimbulkan desau suara angin. Wuusss.
“Aku Ihsan. Aku boleh tahu namamu?” tak lupa senyumnya tersunggirng.
“Duk!” sebuah pukulan kecil mendarat di antara mata kiri Ihsan, tanpa pengantar.
Ihsan merubah posisi bibirnya. Hendak menangis atau marah. Tapi…, coklat gede. Tiba-tiba senyumnya tersungging untuk kedua kalinya. Senyum paksaan, “He…he… kamu suka bercanda ya? Sekarang pasti kamu mau memberi tahu namamu?”
Ihsan menunggu. Tapi tak juga keluar suara sama sekali, yang dilihatnya hanya sorot mata tajam tanpa makna, “Hai manis, aku ingin menjadi temanmu? Siapa namamu?” senyumnya kembali beraksi, kini dibuatnya semanis mungkin.
bunyi cicit terakhir keluar dari Manyar, ketika kepalanya terpatuk oleh Alap-alap. Terjadi pembunuhan di lengangnya angkasa.
“Duk!” pukulan kedua mendarat, di antara mata kanan Ihsan. Kali ini hampir saja tangisnya pecah, kalau tidak ingat wajah orang yang paling dia hormati, Kak Fatimah. Tentu saja plus coklat.
“He…he… kamu memang suka bercanda,” padahal kerutan di keningnya menandakan tangisnya tak tertahan, “Kerudungmu bagus, seperti punya ibuku. Aku ingin menjadi temanmu. Siapa namamu?” ulangan senyum. Kini terlihat terpaksa.
“Wuaaaaa…,” Ihsan menutup kedua mata dengan kedua telapak tangannya, ketika gadis kecil itu hendak menggerakkan tangannya. Tapi salah, ternyata sasarannya kini adalah perut dan ketiak ihsan, hingga Ihsan tertawa sambil berlari. Kelitikan itu membuat Ihsan berlari menjauh, si gadis kecil mengejarnya sambil terkekeh-kekeh, “Hi…hi…,” mirip si nenek sihir dalam cerita dongeng. Semesta sepakat, inilah tawa pertama si gadis kecil.

*     *     *
Ihsan duduk menekukkan kedua lututnya, di gubuk yang sudah reot itu. Sepedanya ikut berteduh, di tatapnya gadis kecil yang sedang asyik memandang panorama. Betah walau matahari sedang terik, tanpa berteduh. Gadis kecil itu membentangkan kedua tangannya, berlari di pematang antara pepadian yang menguning. Dasar anak aneh, teringat misinya belum berhasil. Inilah misi tersulitnya selama ini.
Dua orang yang sangat dikenalnya, Bimo dan Wahyu, sedang mendekati si gadis kecil. Di tangan mereka memegang burung yang direnteng, burung Sriti yang mereka dapat dengan menjeratnya melalui biting blarak[7], yang di buat melingkar di ujung dan diberi umpan jangkrik kecil atau belalang, lalu di taruh di sawah yang sedang digarap. Di saat Sriti sedang memangsa umpan itu, maka dia akan masuk ke lubang itu dan menjeratnya.
Ihsan segera berlari mendekati si gadis kecil, sebuah bahaya. Dua orang itu anak kelas III yang biasanya jahil, dan kadang meminta uang kepada anak-anak kelas I dan II. Mereka berdua benar-benar menggangu gadis kecil itu. Mereka meminta uang. Sebelum Ihsan sampai ke tempat mereka, si gadis ternyata melakukan hal yang sama kepada Wahyu. Tanpa pengantar, tinjunya mendarat di pipi Wahyu. Ihsan menepuk jidatnya sambil berlari sekencang-kencangnya, tinggal sebentar lagi.
Ketika Wahyu dan Bimo hendak membalas dan mengeroyok gadis kecil itu, Ihsan datang tepat waktu, “Hentikan!” mengatur napas, “Jika kalian mau membalasnya, balaslah aku. Beraninya sama anak perempuan, main keroyokan lagi!” keberanian yang tiba-tiba muncul, entah dari mana. Biasanya dia paling takut, apalagi dua preman sekolahnya ini.
Jadilah Ihsan bulan-bulanan kedua anak kelas III itu, jurusnya yang dikeluarkan tak akan mampu menghadapi mereka berdua, apalagi itu jurus yang asal-asalan.
Belum sembuh dua pukulan dari gadis kecil itu, di tambah seluruh tubuhnya remuk di pukul membabi buta. Mukanya kini tampak kebiru-biruan. Gadis kecil itu hanya diam saja. Setelah dua orang pengeroyok itu puas, mereka pergi meninggalkan Ihsan begitu saja dan melupakan si gadis kecil itu.
Ihsan meringis kesakitan sambil bergumam, “Kalian belum mengetahui jurusku, coba kalau tahu, kalian pasti sudah terbirit-birit, aduh…,” Ihsan mendudukkan dirinya, sambil membersihkan pakainnya dari debu-debu dan lumpur yang menempel. Bajunya kotor, pasti ibunya akan marah. Tapi, selama ini ibu kan belum pernah marah. Senyum kecilnya mengembang.
“Kenapa kamu malah tersenyum?” suara si gadis kecil itu keluar juga, mendekati Ihsan dan duduk di sebelahnya.
“Aku bahagia. Karena aku menolong orang, dan ibuku tidak akan marah padaku. Mbak Fatimah juga pasti bangga padaku. Semua orang mencintaiku. He…he…, eh! Kamu…, horee… akhirnya kamu bicara juga. horeeee….,” angin sepoi membelai mereka, memberikan kesejukan di tengah teriknya siang.
“Dasar anak desa!” mulut itu sewot, namun segera diambilnya tissu kecil dari saku bajunya. Lalu mengelap debu di pipi Ihsan. Sesekali Ihsan meringis ketika tissu itu menyentuh lukanya, mata Ihsan menatap sejenak mata gadis kecil itu.
“Anak desa! Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Matamu begitu indah. Mungkin seperti itulah cerita Ibu, yang menceritakan kepadaku tentang Bidadari yang mempunyai mata jeli.”
“Diam! Atau aku beri satu lagi,” tangan kanan itu mengepal menandakan siap beraksi, “Tapi…, terima kasih kamu tadi menolongku. Padahal itu membahayakan dirimu sendiri,” kepalan tangan itu turun dan mukanya menunduk perlahan.
“Dasar perempuan, sebentar-sebentar sedih. Cengeng! Dan ingat, jangan panggil namaku dengan anak desa. Namaku Ihsan tahu!”
Ihsan segera berlari menuju gubuk, karena dilihatnya muka gadis kecil itu berubah garang lagi. Lari sebelum terlambat.
Mereka pulang ketika matahari tepat berada di atas kepala, ketika ubun-ubun terasa dikecup oleh bara panas, bersama beberapa petani yang pulang untuk ngaso dan shalat dhuhur.


[1] sisa beras yang di saring hingga tinggal bagian-bagian kecilnya
[2] mengerem sepeda sambil berputar, ban menyeret tanah.
[3] Alas plastik tebal
[4] Menanam padi
[5] Mengolah tanah setelah dibajak
[6] Tanaman
[7] Lidi diantara daun kelapa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar