Jumat, 18 Oktober 2019

Part 2, Kemampuan yang Tersembunyi

Part 2, Kemampuan yang Tersembunyi

Pulang sekolah tidak seperti biasanya, Ihsan tidak langsung pulang untuk menjaga adik-adiknya, tapi berlari ke rumah Pak Bayan Yadi, tempat mbak Fatimah dan Ningsih praktek penyuluhan. Burung Darsih bernyanyi riang mengiringi setiap langkah Ihsan, menambah kobaran semangat untuk semakin melaju dengan ayunan angin. Erat tangannya masih memegang baskom plastiknya.
Setelah mengucapkan salam, terlihat ada seorang ibu yang sedang memeriksakan diri pada mbak Fatimah, Fatimah membalas salam dan tersenyum kepada Ihsan yang terlihat ngos-ngosan, pucat. Ihsan langsung bertanya keberadaan mbak Ningsih, ketika Fatimah menjawab di kamar sedang mengambil stetoskop, Ali menghambur ke kamar dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.
Ali menunggu di luar kamar, hingga Ningsih keluar dari kamar sambil memegang stetoskop, “Mbak, tolong jelaskan pada Ihsan, bagaimanakah terjadinya hujan dan salju?”
Ningsih merasa kaget, namun senyumnya segera mengembang, “Baiklah, tapi ayo duduk dulu, lihat kamu masih ngos-ngosan gitu.”
Ihsan duduk di kursi kayu ruang tengah itu, menyusul kemudian Ningsih ikut duduk. Senyum ningsih mengembang pelan. Pikirannya agak ragu. Tapi tidak apalah, dia takut Ihsan kecewa. Kata-katanya meluncur dengan pelan, menjelaskan sedetailnya agar mudah dipahami anak berusia 6 tahun itu.
“Bagaimana? Ya udah kalau Ihsan bingung, nanti atau kapan-kapan Mbak jelaskan lagi,” Ningsih menatap Ihsan yang terdiam, semua indera seperti menyatu, atau malah terlihat bingung total.
“Sudah ya Mbak, cuma seperti itu. Kenapa terlalu mudah.”
Ningsih tak pelak, melongo hingga menyipitkan kedua matanya, keriput dikeningnya menciptakan guratan, “Jangan sok paham, coba jelaskan apa yang mbak jelaskan tadi!”
Sewaktu udara naik lebih tinggi ke Atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian yang suhunya sekitar 400 C di bawah titik beku, awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar, dan menjadi butir-butir salju. Bila  melalui udaranya  hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair,” Ihsan menatap mata Ningsih, yang menatapnya aneh, “Apakah ada yang salah Mbak?”
Tidak ada yang diperbuat Ningsih kecuali mengedipkan mata, dan tarikan nafasnya yang teratur, penjelasannya dapat disimpulkan dengan baik tanpa ada kekurangan. Anak berusia 6 tahun ini…, “Enggak… enggak pa-pa sudah benar kok San. Sebenarnya kenapa kamu bertanya tentang  sebab hujan?”
“Karena ada hadiahnya dari bu Lastri, dan hadiahnya boleh memilih.”
“Demi hadiah?” Ningsih menggaruk jilbabnya pelan, “Baiklah apakah kamu mau menerima tawaran dari Mbak? Ada hadiahnya, dan kamu juga boleh memilih.”
“Hadiah lagi? tentu saja mbak, apa yang harus Ihsan lakukan?” kenapa hari ini penuh dengan gemerlap bintang hadiah, angin dari mana?
“Kamu harus menghafalkan surat An Naas,” Ningsih tersenyum. Mungkin  terlalu berat, apalagi Ihsan masih Iqra 1.
“Ok, besok pagi sebelum ke sekolah, aku akan kesini. Mbak siap-siap saja membelikan hadiah yang Ihsan inginkan,” dan mata Ningsih yang membesar membuat Ihsan semakin bersemangat.
Fatimah ikut bergabung bersama mereka, setelah pasien yang diperiksanya pamitan pulang. Mereka berbincang apa saja, hingga Ihsan harus pamitan untuk menemani Ibunya mengawasi kedua adiknya, sudah beberapa hari ini ibunya libur dagang keliling, karena Yasmin masih terlalu kecil untuk ditinggal. Hari mendekati waktu Ashar, lalu mentari akan mencapai tempat peraduannya. Malam yang gelap akan menyapa kehidupan lagi. Musim rendeng ketika malam, pasti jika tidak hujan maka gerimis pasti menggantikannya. Malam tidaklah sehina pandangan manusia, karena Allah menciptakan gelap, untuk menciptakan cahaya.
Malam senyap. Sedikit suara yang menyisa, suara-suara binatang malam, terutama gangsir yang menyanyikan bunyi riik riik panjangnya melalui kedua sayapnya yang mengembung, melebar dan bergetar ketika berada di luar lubangnya. Walau malam gerimis tak membuatnya bergeming, kadang kilatan menimbulkan garis patah-patah.
 Lampu ublik[1] dan petromak terlihat berkelap-kelip di setiap rumah, menandakan masih adanya kehidupan di Gedung Dalam Baru yang letaknya terpencil. Di sebuah rumah geribik yang letaknya di dekat ledeng, seorang lelaki berumur sekitar 30-an sedang berhadapan dengan lampu ublik yang remang, sambil memegang Al-Quran yang masih terlihat bersih, walaupun umur Al-Quran itu telah melampaui sepuluh tahun.
Firman-firman Allah meluncur dari mulutnya, kadang matanya ikut terpejam terbawa alunan suasana, kadang buliran bening mengalir, namun segera di usapnya, karena anaknya kini berada di depannya, sedang mendengarkan dengan seksama surat An-Naas yang sedang dibacanya.
Alunannya berhenti. Sudah tiga kali dia membaca surat An-Naas. Ditatapnya wajah polos anaknya, “Enten nopo[2] ingin menghafal surat An-Naas, apakah hafalannya adalah tugas dari Sekolah? Atau dari mbak Fatimah?”
Ihsan menggeleng pelan, “Sudah ya Pak? Tak kiroin akeh[3], ternyata Cuma sedikit saja,” senyumnya mengembang. Kembara lamunannya terbang mengangkasa.
“Kalau kamu masih belum hafal, Bapak siap membacakannya lagi, sampai pahlawan dan permata hati Bapak tidak mengalami kesulitan lagi dalam membacanya. Bahkan sampai napas Bapak terhenti,” ditatapnya Ihsan penuh cinta dan kesyukuran, yang ditatapnya hanya cengar-cengir.
Ura usah Pak, ketika Bapak membaca yang kedua kali, Ihsan sudah hafal kok. Memang bacaan Al-Quran agak susah untuk diingat. He… he…, maafkan Ihsan harus membuat Bapak membacanya berulang-ulang.”
Kini giliran Ali yang melongo terdiam, tapi senyumnya kembali bersinar merekah perlahan, dasar anak kecil, senangnya bercanda, “Baiklah coba kamu baca, nanti bapak pasti tahu, di bagian mana yang belum hafal.”
Ihsan mengambil napas pelan. Matanya terpejam sejenak, membiarkan hembusan dingin malam, menyentuh, dan merambati setiap pori kulitnya yang tidak tertutup kain. Mulutnya mulai terbuka pelan, “Bismillaa Hirrahmaa Nirrahiim,” Hembusan angin di sekitar mereka merekah, hembusannya begitu teduh. Semesta terdiam, tunduk mendengarkan Firman Allah, yang mengalun dari bibir si kecil.
Qul A’uu Dzu Birabbin Naas[4],si cicak yang merambat di bambu dinding geribik itu terbungkam, sorot matanya teralih dari kupu-kupu tersesat yang sedang di bidiknya dari tadi. Ekornya yang melenggak-lenggok diam lurus. Sesekali hanya kedipan mata dan gerakan napasnya yang terlihat, dzikirnya mengikuti alunan suara kecil itu.
“Malikin Naas[5],” Kolomonggo yang sedang mengikat serangga yang terperangkap dalam sangkarnya, di pojok siku geribik atap menghentikan serabut yang keluar dari bawah kakinya. Matanya menatap pendar cahaya di ruangan itu, gigi-giginya bergerak-gerak, mengikuti irama merdu kecil yang membuatnya terpesona.
Ilaa Hin Naas[6],” Nur, sang Ibu terbangun, karena suara mungil nan merdu itu. Ditinggalkannya Yasmin yang terlelap, yang baru berumur beberapa bulan itu, untuk ikut bersenandung melantunkan ayat-ayat cinta. Dilihatnya dari pintu kamar dengan membuka daun pintu pelan, dua orang yang sedang duduk di atas tikar di ruang tamu. Dilihatnya mata sang Bapak bening bercahaya, semburat cinta dan keharuan nampak disana. Basah.
Min Syarril Waswaa Sil Khan Naas[7],” lengang sunyi terliputi pendar cahaya, kegelapan hati yang ternoda telah tercuci, dengan kucuran lelehan embun di mata pendengaran. Hilang sudah kegelapan yang nampak. Seekor burung ’gereja’ betina yang menyelimuti ketiga anaknya di sarang, yang dibuat di atap genting itu mengajak anaknya, untuk bersama memohon perlindungan dan memuji kebesaran Rabb Semesta Alam. alunan membahana, susul menyusul. Entah sudah berapa Malaikat datang, menyelimuti rumah itu dengan cahaya dan pendar ketenangan.
Alladzii Yuwaswisu Fii Suduu Rin Naas, Minal Jinnati Wan Naas[8],” semesta menggema, memantulkan alunan untuk diangkat ke Arsy, kilatan cahaya dari atap langit nampak membelah kegelapan malam, mengusir kegelapan, tak sedikitpun membiarkan golongan pembisik untuk mencuri-curi dengar.
Tiba-tiba terang benderang terasai di hati setiap makhluk, hati yang laksana cermin. Bukan hanya benderang di pandangan mata.
Ali mengusap air matanya pelan, dengan tangannya yang kasar dan ngapal[9] karena keletihan bekerja, namun semua sirna dengan senyuman yang membahana, menyejukkan pandangan. Nur yang sedari tadi berdiri, menyandar di pintu mendekati suami dan anak tertuanya, matanya telah basah dan bercahaya, terpantulkan cahaya redup ublik. Tanganya menggapai rambut Ihsan, mengelusnya pelan nan lembut.
Ihsan menatap bergantian kedua orangtuanya. Inilah saatnya, “Ibu,” pandangannya kini bertumpu pada wanita yang duduk di sampingnya, “Apakah Ibu tahu, Ihsan… Ihsan mencintai Ibu karena Allah,” tangan kecil itu mengusap air mata yang mengalir jernih di pipi Ibunya. Pandangannya beralih kepada lelaki yang masih memegang Mushaf kesayangannya, “Dan Ihsan juga mencintai Bapak karena Allah, Ihsan mencintai kalian semua karena Allah,” suasana menciptakan hening, Nur memeluk erat Ihsan mesra, tak ketinggalan sang Bapak yang biasa bekerja keras tanpa mengenal lelah, memeluk lebar kedua orang di hadapannya. Aliran air mata terus mengalir, air mata penuh kesyukuran.
Fajar terbangun, dan segera menghambur tanpa banyak berpikir, ikut memeluk tiga orang di ruang tamu itu. Tapi sayang, tangannya terlalu kecil  menjangkau, hingga sang Ibu menggendongnya. Ihsan mengecup kening Fajar pelan, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Kehidupan terasa indah jika semua hidup untuk saling mencintai karena Allah, tak ada dendam dan permusuhan, yang ada hanyalah saling mempercayai.
*     *     *
Hari yang benar-benar secerah matahari, yang tersenyum dengan bara panasnya, menyengat. Sudah beberapa hari ini, Ibunya hanya berdagang di rumah, tidak mengajaknya berdagang keliling karena masih repot mengurusi Yasmin dan Fajar. Ihsan telah meminta izin.

Ihsan baru saja pulang dari pasar bersama Mbak Ningsih karena hafalan surat An-Naas-nya telah lulus, dan hadiah yang dimintanya bukanlah jajanan seperti yang biasa dibelikan mbak ningsih, tapi kali ini dia meminta beberapa hadiah. Dua buah jilbab untuk ibunya, karena Ihsan ingin melihat ibunya cantik seperti Fatimah.

Tidak ada kebahagiaan yang terasai kecuali hari ini, apalagi tadi pagi juga penjelasannya mengenai terjadinya hujan mengagetkan bu Lastri, teman-temannya berterima kasih karena berkat dia, ancaman hukuman untuk mereka terbatalkan. Dan  hadiah yang dimintanya adalah sepatu baru, karena sepatunya telah berlubang dan setiap kali berjalan terlihatlah jari-jari kakinya menyembul keluar. Ejekan teman-teman membuatnya memilih sepatu, sebagai hadiah dari bu Lastri.
Mungkin hari ini. Orang terbahagia sedunia yang bisa terlihat dari senyumnya adalah Ihsan. Kakinya berjalan menari seperti mengikuti lagu bahagia hari ini. Langit, bumi, serta semesta Gedung Dalam Baru menganggukkan kepalanya, mesra meyakinkan.

 

Minggu, Mushola Miftahul Jannah
Mentari beranjak ke peraduan, mendekati garis cakrawala. Warnanya merah kekuning-kuningan, menyala layaknya lampu yang dihidupkan sang Peronda di kala malam gelap gulita. Burung-burung dengan nalurinya, mulai berinisiatif pulang ke sarangnya masing-masing. Ayam dan itik mulai tergopoh-gopoh mencari kandangnya, karena jatah mereka sebentar lagi akan dihidangkan di baskom atau manci yang telah usang, dedak plus merang ditambah sedikit menir, membuat mereka harus segera pulang, jika tidak ingin kehabisan oleh yang lain. Capung sudah tinggal menyisa di angkasa, terapung-apung. Entah berapa lama lagi mereka akan betah.
Kini saatnya giliran binatang-binatang malam, yang telah bersiap-siap untuk terjun mencari santapan kesukaan mereka, mereka masih bersembunyi di sarangnya masing-masing, hingga matahari benar-benar menghilang di kaki langit sebelah barat. Seekor Kampret[10] betina di ketiak pohon kelapa sedang kewalahan menenangkan tiga anaknya, yang sedari tadi berteriak mencericit, membuka mulutnya terus-menerus. Kelaparan, waktunya belum tiba. Kalong, Kelelawar, Codot, dan Burung Hantu sudah terlihat tidak sabar, mereka benar-benar telah mencengkeramkan kakinya kuat-kuat, mirip pelari estafet yang menunggu start, start dari Allah Azza Wa Jalla, ketika menimbun matahari dari pandangan.
Mushola Miftahul Jannah masih terlihat ramai, Fatimah dan Ningsih terlihat ceria menghadapi anak-anak binaan mereka. Mereka tahu, waktu mereka tinggal dua bulan lagi. Mereka pasti akan selalu merindukan anak-anak Gedung Dalam Baru.
Roni masih betah mengganggu Ratna yang sedari tadi sibuk, menyalin huruf-huruf hijaiyah dari papan board hitam, tulisan dengan menggunakan kapur. Roni paling terkenal dengan jahilnya, mengagetkan, melempar dengan lipatan kertas, atau merobek anyaman tikar tempat mereka duduk, untuk mengelitiki hingga membuat tulisan Ratna tercoret dan pasti Roni akan tertawa terkekeh, Ihsan hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Dasar gak ada kerjaan.
Fatimah biasanya memberikan hukuman ringan ketika Roni ketahuan, tapi dasar bandel. Besok pasti diulangin lagi jahilnya.
Setelah Muraja’ah satu-persatu membaca, dan waktu menunjukkan 17.30. Saatnya pulang dan berpamitan pada guru-guru ngaji, bersalam-salaman antara laki-laki dan perempuan terpisah. Saatnya anak-anak Gedung Dalam Baru membantu orang tua di rumah. Respon masyarakat besar ketika Fatimah mengusulkan mengajar ngaji, walaupun hanya empat bulan. Sekitar 31 anak mengikutinya setiap sore.



[1] Lampu penerang dari botol yang diberi sumbu
[2] ada apa                                                   
[3] saya kirain banyak
[4] Katakanlah, “aku berlindung kepada Tuhan (yeng memelihara dan menguasai) manusia
[5] Raja manusia
[6] Sembahan manusia
[7] dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi
[8] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia
[9] Keras
[10] binatang sejenis kelelawar, tapi lebih besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar