Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 31, Bersih - Bersih Desa


KTP-KTP terkumpul, kami menyalin biodata-biodata ke dalam blangko, beberapa yang lain bertugas mengambil KTP dari rumah-ke rumah, beberapa warga mengumpulkan langsung ke Kelurahan. Terkumpullah, KTP begitu banyak. Pak Lurah tersenyum puas.

Menjelang sore, pekerjaan kami selesai, kelelahan tampak terlihat dari wajah-wajah kami. Tangan gemetaran karena menulis demikian banyak biodata. Kang Mukhlis dan Pak Lurah pergi ke Kecamatan, menyetorkan biodata setelah dicap dan ditandatangani seluruhnya. Besok semoga sudah jadi walau belum seluruhnya.

Malam ini, semua relawan kembali ke rumah masing-masing, besok perjuangan akan dimulai kembali. Tapi, para relawan laki-laki menunggui sound system, dua orang pemuda datang membantu; Yanto dan satunya anak buah orgen tunggal Dendang Cinta, jiwa dangdutnya terpanggil karena musik dibunyikan bertalu-talu.

Malam harinya, delapan sound system dibunyikan lagu-lagu dangdut. Itulah keinginan tertinggi Bang Rizal, dia ingin semua penduduk Cahaya mendengarkan lagu-lagu dangdut kesayangannya. Di satu sisi, aku, walau tak suka mendengarkan lagu dangdut, tapi dengan suara dangdut ini, suara lolongan serigala dan bunyi burung gagak hitam tak akan kedengaran. Warga desa pasti lebih tenang.

Musik hanya berhenti saat shalat datang, Bang Rizal selain suka dangdut, dia rajin ibadah. Dia selalu teringat petuah raja dangdut, ’H. Rhoma Irama’ bahwa musik itu tujuannya juga untuk dakwah, jadi shalat adalah tetap utama. Dalam lubuk hatiku terdalam, aku salut pada Bang Rizal.

Malamnya, saat musik berbunyi keras, saat terpekur. Ada satu hal permasalahan lagi, membersihkan desa dari kotoran dan sampah, itulah pesan Ani. Tapi, bagaimana melakukannya? Kau tahu, Kawan, desa teramat kotor, selokan-selokan penuh sampah, air tersumbat, pantas saja nyamuk-nyamuk menyebarkan demam demikian cepat.

Anak-anak sekolah.
Benar! Aku dekati Bang Rizal, ”Bang, tugas kepahlawananmu belum selesai. Ada lagi yang harus kau lakukan!”
”Apa? Semalaman tak tidur menunggui dangdut, mengumumkan sesuatu sampai pagi? Apa?” antusiasmenya berlebihan, jangan kau ikuti yang satu ini. Obsesi pahlawan membuat orang menjadi berlebihan.

”Umumkan agar anak-anak sekolah besok datang ke sekolah. Mereka harus datang!”
”Beres!”

Tak terlalu lama kutunggu, suara dari sound system kembali menggelegar, musik mati.

Kepada anak-anak Sekolah Cahaya, saya Bang Rizal, besok sekolah masuk seperti biasa! Kalian harus datang, tak usah takut pada penyakit, karena telah kuusir semuanya dengan musik dangdutku! Kalian harus berangkat, mimpi kalian sedang menunggu.Terima kasih, tertanda Pak Danu Kepala Sekolah, tertanda seluruh dewan guru Sekolah Cahaya .”

***

Pagi menyapa desa Cahaya. Kami tunggu hingga pukul tujuh pagi. Satu orang siswa telah hadir, dialah Syahid. Kawan, sebenarnya ini tak perlu dibahas. Syahid memang tak takut dan dia diizinkan Kang Mukhlis. Aku hanya ingin membuatmu tidak tegang melihat keadaan desa Cahaya.

Pukul 07.10, seorang dari arah selatan datang dengan sepeda onthelnya yang dibeli dengan hasil franchise-nya yang bertambah tiap hari. Dia Hasan, lelaki kurus yang kini telah menulis menggunakan jari-jari kanannya. Tak ada lagi luka parutan baru di jarinya, tapi, luka lama pasti selalu menyisa, itulah bukti sebuah sejarah yang berubah karena mimpi.

Hasan turun dan menghampiriku, diciumnya tangan-tangan para guru yang berbaris di lapangan upacara bendera, Sang Merah Putih berkibar di tiangnya, semilir pelan angin mengibarkannya, menambah wibawa Indonesia.

Hasan berdiri di samping Syahid, berbaris di depan kami. Para dewan guru menunggu, satu-persatu siswa hadir hingga pukul 07.30, di barisan itu, setiap kelas telah ada perwakilannya. Kami tunggu hingga pukul 08.00, rata-rata tiap kelas yang hadir adalah setengahnya. Ini cukup bagus daripada kemarin, hanya Syahid saja.
”Apakah kita mau belajar, Pak Arif? Dengan murid demikian jumlahnya?” Pak Yusuf menatapku, Bu Siska juga.

”Bagaimana, Pak Arif? Kuserahkan padamu, kaulah yang mempunyai ide mengumpulkan mereka,” Pak Danu menimpali.

Aku mengangguk, maju ke depan. Aku berdiri menghadap para murid, tepat di posisi tengah mereka.
”Untuk kalian! Aku acungi jempol, kalian telah berani mendobrak ketakutan. Ini membuktikan bahwa kalian adalah siswa-siswa yang berani! Sekarang aku minta setiap kelas, membagi diri menjadi lima kelompok, harus rata. Berapa pun jumlahnya, dalam hitungan kesepuluh, semua harus segera beres!”

”Satu! Dua! Tiga! Empat...!

Siswa-siswa saling dorong, aku senang melihat keceriaan mereka kembali. Mungkin, sehari di rumah saja membuat karakter bermain mereka terpasung. Setiap barisan kelas, saling berebut, mungkin memilih-milih teman. Kubiarkan saja. Hatiku gembira, walau tak terpancar dari raut wajahku.
”Delapan! Sembilan! Sepuluh! Semuanya diam!”

Siswa yang masih belum terima dan masih mencari celah pindah, segera diam tak berdaya karena teriakanku. Sudah terbagi, walau mungkin ada yang dua orang satu kelompoknya.
”Baiklah, kelompok sebelah kanan adalah kelompok satu dari tiap-tiap kelas. Kelompok satu! Berbaris di depan Pak Danu, sekarang juga dalam hitungan ketiga, selesai! Satu! Dua! Tiga!” masing-masing kelompok satu yang kusebut, berlari dan berbaris di depan Pak Danu, masih ada yang terlihat bingung. Biar sajalah.

Kelompok kedua tiap-tiap kelas, berbaris di depan Pak Yusuf. Kelompok ketiga, berbaris di depan Bu Siska, kelompok keempat berbaris lurus di depanku.” Bu Ria? Dia masih sakit. Saat aku bingung hendak menempatkan kelompok kelima dimana, seorang berbaju putih, jilbab putih pula datang mengendarai sepedanya. Ani.

Aku terdiam, menunggu Ani yang masih berjalan ke arah kami. Saat dia dekat.
”Kelompok kelima, berbaris di depan petugas kesehatan, di depan Bu Ani yang memakai baju putih!” siswa-siswa kelompok kelima berhamburan, Bu Ani sempat bingung, tapi anggukanku cukup membuatnya menerima.

Aku berteriak lantang bahwa tugas kita adalah membersihkan desa. Kelompok satu dipimpin Pak Danu membersihkan sepanjang jalan ruas pertama dari selatan. Kelompok kedua dipimpin Pak Yusuf membersihkan ruas jalan utama, barisan rumah di depan Kang Mukhlis. Kelompok ketiga dipimpin Bu Siska, membersihkan ruas jalan ketiga dari selatan. Kelompok empat, aku pimpin untuk membersihkan ruas jalan keempat yang jalurnya arah utara selatan. Kelompok kelima, dipimpin Bu Ani membersihkan ruas terakhir, di samping ruasku. Ani membersihkan jalanan di depan rumahnya sepanjang jalur.

Kami berangkat membawa alat-alat kebersihan apa saja. Ani melepas baju putihnya, di dalamnya dia memakai baju panjangnya. Kulihat ada senyum tersungging kala memberi aba-aba jalan kepada para siswa.

Sebelum berangkat, aku berpesan bahwa barang siapa yang jalurnya paling bersih, maka ada hadiahnya. Jadilah semua siswa bersemangat, seperti lomba tujuh belasan saat ulang tahun kemerdekaan. Kami berangkat bagai pahlawan-pahlawan Indonesia saat berperang membebaskan penjajahan.

Di jalurku, para siswa begitu bersemangat. Aku turun ke selokan, parit, membersihkan plastik, sampah, rumput yang terlalu tinggi, bahkan kaleng-kaleng dibuang di sana. Jumlah personel yang banyak membuat  pekerjaan itu seakan ringan saja. Panas mulai menyengat, keringat bercucuran, tapi ada saja tawa renyah kala wajah terciprat lumpur. Semuanya tertawa, apalagi anak-anak, mereka paling senang bagian ini, Kawan.

Kukumpulkan sampah-sampah itu dalam kandi yang digelar di atas selokan, tapi tiba-tiba kandi itu telah menghilang. Kemana? Subhanallah, itulah kata-kata zikir pertamaku yang keluar dari lubuk hatiku terdalam. Sepanjang aku melihat dengan mataku, banyak lelaki perkasa dan ibu-ibu telah turun bersama kami. Sampah tadi juga telah digotong oleh dua orang pemuda, mereka turun, bagaikan seribu malaikat yang membantu Rasulullah Saw saat Perang Badar, begitulah cerita Kakek padaku dulu.

Air mataku hampir saja menetes, tak ada kesusahan jika mau mencoba. Lihatlah, mereka tersenyum padaku, kepala mereka mengangguk, mengacungkan jempol padaku. Wabah terkutuk, sama sekali tak membuat mereka takut lagi. Tanganku bergetar, aku semakin bersemangat segera mengambil sampah-sampah yang menumpuk tinggi.


”Pak, mana sampahnya lagi, kami akan membuangnya,” lelaki itu menaruh kandi di atas selokan, dia ikut turun bersamaku di parit, ”Mari kita angkat bersama-sama kotoran ini. Aku malu pada anak-anak yang rajin, sedangkan kami membiarkan saja sampah menggunung,” tangannya segera memunguti kotoran, sampah, rumput liar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar