Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 30, Sound System Bang Rizal


Aku ke rumah Pak Karta, saat itu Indah tengah menyiram bunga. Aku turun dari sepeda bersama Syahid, seperti kata Kang Mukhlis, memang hanya sedikit orang yang tidak percaya wabah kutukan itu. Di antaranya adalah Pak Lurah sendiri yang selalu berpikir rasional, para guru dan Kang Mukhlis sendiri.

Indah memanggil ayahnya, kami akhirnya urun rembug, empat orang; aku, Syahid, Pak Karta dan Indah. Empat orang tentu lebih baik pemikirannya daripada hanya dua orang bukan?

Kami membicarakan bagaimana menyelesaikan kasus ini, yaitu mengecek berapa orang warga yang telah terjangkit penyakit, kemudian yang kedua adalah membuatkan kartu jaminan kesehatan masyarakat. Baru saja kami mulai berembuk, rombongan guru Sekolah Cahaya datang dan bergabung, semakin lengkaplah.

Para guru tentu saja gelisah, bagaimana tidak. Mereka berangkat ke sekolah, tak satu pun ada siswa yang datang. Isu yang menyebar lebih terasa bebannya daripada penyakit itu sendiri.

Kami membagi kelompok relawan menjadi dua. Aku, Pak Yusuf, Pak Lurah, bertugas membuatkan masyarakat surat jaminan kesehatan dengan mencatat data penduduk desa. Bu Siska, Pak Danu, Indah, Syahid bertugas memeriksa warga desa yang sakit, tapi mereka harus menjemput Ani dulu.

Saat kami siap-siap berangkat, seorang lelaki datang sambil menenteng golok dalam ikat pinggangnya, ”Apa kalian pikir aku tidak diikutsertakan?” dialah Kang Mukhlis, sang jawara telah kembali memakai golok, pertanda siap menjalankan tugas.

Kang Mukhlis bergabung dengan kelompok yang akan membawa Ani, memeriksa warga desa yang sakit. Saat itu pula, kami berangkat. Kelompok pertama, mencari, mengambil blangko di kantor kelurahan, sedangkan kelompok kedua menjemput Ani, Kang Muklis bertindak sebagai bodyguard, jikalau ada perusuh. Suasana sangat mencekam kawan, sepi, para rampok dan pencuri bisa beraksi pula di siang hari. Dalam situasi seperti ini, tak ada penduduk yang berani keluar jauh dari rumah. Mungkin, kalau kambingnya dicuri dari kandangnya; jikalau hilang tak akan ketahuan, jikalau ketahuan mungkin si pemilik hanya berteriak dan tidak akan ada yang menolong dalam kondisi mencekam seperti ini.

Di kelompok pertama, kami telah menemukan blangko pengisiannya. Sudah sedikit terkena debu, pertama kami mengumumkannya lewat pengeras suara di masjid, juga seluruh mushala dan langgar yang ada, Pak Lukmanlah yang mengumumkannya di masjid.

Lelaki buta itu mencegahku sejenak, sebelum aku kembali ke kelurahan.
”Berjuanglah, Pak Arif! Karena untuk itulah Allah mengutusmu ke sini,” aku tak tahu maksudnya. Tapi, aku tak takut lagi padanya, dulu, kupikir mungkin karena obsesi yang terlalu tinggi, karena aku memberinya kurma dan kuambil bijinya.

Kami menunggu di kelurahan hingga satu jam lebih, tak ada yang datang.
”Percuma, dulu, beberapa tahun yang lalu cara ini tak berhasil,” Pak Lurah menerangkan,” Itulah sebabnya, aku merasa kasihan pada Ani, dia mahasiswi terbaik, pulang ke desa untuk membaktikan dirinya, berjanji, tapi tak ada yang menghargainya. Bahkan dia bersedia tanpa bayaran. Beberapa panggilan datang lagi, agar dia bekerja di kota, tapi katanya lebih baik jadi petani daripada menjadi perawat bukan di desanya,” Pak Lurah menunduk.

”Bagaimana kalau kita datangi rumah mereka satu-persatu?” aku coba mengusulkan.
”Baiklah, harus dicoba,” Pak Yusuf membelaku.

Kami berangkat, kawan jika kau tahu maka sebenarnya tak akan selesai semudah yang dipikirkan, satu-persatu rumah. Tapi, hanya ini sementara langkah kami. Kami mulai dari perbatasan desa di sebelah barat, di barisan ruas paling selatan.

Rumah pertama, saat kami datang tak mau sedikit pun membuka pintunya, walau Pak Lurah sendiri telah memperkenalkan dirinya. Mereka sangat takut, tentang wabah kutukan, angin yang berhembus dari luar rumah adalah penyebab wabah itu menular. Pak Lurah sampai mengatakan bahwa kami sehat-sehat saja berada di luar. Dalih mereka selanjutnya, karena Pak Lurah mempunyai aji penangkal karena pernah berguru silat, sedang mereka sama sekali tak punya ajian.

Rumah kedua, ketiga, keempat, kelima semuanya sebenarnya menerima kami, tapi tak ada yang percaya dengan hukum kesehatan modern. Animisme masih menguasai isi otak mereka, daripada percaya dengan perkembangan pengobatan yang ada. Pak Lurah mulai putus asa, kami kembali ke Kelurahan untuk menyusun strategi baru. Aku kehabisan akal, Pak Yusuf terlihat bingung.
”Inilah realitas penduduk desa Cahaya,” Pak Yusuf menatapku, ”Di sinilah aku dilahirkan, aku ingin mengubah dogma khurafat, tapi siapalah aku ini?”

Rombongan kedua datang ke kelurahan, Ani memakai baju putih kebesarannya. Kami berkumpul kembali, Ani menjelaskan bahwa masyarakat yang sakit, beberapa tidak mau diperiksa. Tapi, ada beberapa yang berhasil dibujuk dengan kemampuan lobi-lobi Pak Danu, di antaranya Bu Ria ternyata terkena indikasi demam berdarah. Yang lain demam biasa, tapi jika tidak segera diberi perawatan akan menjadi parah.

Kulihat dari wajah Ani yang lelah, sambil menjelaskan. Wajah itu tampak gembira, keahliannya digunakan di desa Cahaya, walau waktunya tak tepat, walau sedikit memaksa.
”Bagaimana sekarang?” Pak Lurah kini yang bicara.

Semuanya tampak berpikir.
”Apakah di desa ini ada yang memiliki sound system yang besar, bisa menjangkau seluruh desa?”
”Untuk apa, Pak Arif?” Pak Yusuf menatapku.

”Kita harus punya pengeras suara yang bisa didengar di seantaro desa, kita juga akan mudah koordinasi di antara kelompok.”
”Ada, di rumah Bang Rizal, pemilik orgen tunggal Dendang Cinta.”
Tanpa dikomando terlalu lama, aku, Pak Danu, Pak Yusuf dan Pak Lurah berangkat membawa gerobak besar. Kami datangi Bang Rizal, dia tengah duduk di depan rumahnya, rumahnya sangat jauh di ujung bagian timur. Ternyata masih ada orang yang tidak takut wabah itu, buktinya Bang Rizal santai sambil makan singkong goreng.

”Kenapa takut penyakit? Kalau mati ya mati saja,” jawab Bang Rizal santai.
Pak Lurah menyampaikan maksud kami datang, sekaligus jika bersedia Bang Rizal untuk membantu mengoperasikan sound system-nya.

”Apa untungnya bagiku?”
”Pahlawan desa Cahaya, itu akan  melekat di pundakmu sampai tujuh keturunanmu,” kata-kata Pak Lurah, orang nomor satu di desa, bukanlah main-main.
”Baiklah. Pahlawan telah datang, ayo kita angkut salon-nya.”

Kami menaikkan delapan buah sound system itu, mendorongnya dan menurunkannya di kantor kelurahan, memasangnya dalam dua tumpukan. Bang Rizal menata, memasang kabel-kabel, mencobanya. Bunyinya keras, tetangga desa pun pasti mendengarnya.

”Bunyikan sekeras-kerasnya, lagu apa saja, musik apa saja. Terserah Bang Rizal. Orang-orang desa harus sudah sadar sekarang,” aku menatap Bang Rizal.
Pak Lurah menatap Bang Rizal pula dan mengangguk meyakinkan, ”Untuk hal ini, kaulah pahlawannya, Rizal.”

”Baiklah, ini memang keahlianku!” Bang Rizal dengan senang hati, senyumnya terukir, dia memasukkan kaset, mengatur soundnya. Musik bersuara keras membahana seluruh desa Cahaya, musik itu adalah lagu dangdut kesukaannya, lagu-lagu yang dinyanyikan Elvi Sukaesih. Kawan, seumur-umur sebenarnya baru kali ini aku mendengarkan musik dangdut, kunikmati saja.”

Kelompok dibagi dua lagi. Satu kelompok mendatangi warga, dengan suara dangdut diharapkan penduduk berani keluar rumah, biasanya musik adalah panggilan jiwa bagi para pencinta musik.
”Ani, bisakah surat jaminan itu jadi dalam waktu sehari?” aku sedikit mengeraskan suaraku, karena musik yang keras.

”Minimal besok, jika hari ini kelar biodatanya.”
”Lalu yang sakit tadi, apakah sudah ada biodatanya.”
”Aku sudah bawa KTP-KTP mereka,” Ani menunjukkan beberapa KTP.
”KTP?”
”Iya, KTP.”

”Kenapa tidak terpikirkan?” aku dekati Bang Rizal, memintanya menghentikan musik. Kuminta dia mengumumkan berulang-ulang, bahwa masyarakat diharapkan menyerahkan KTP-KTP mereka, kutambahkan sedikit bumbu bahwa akan ada bantuan dari Pemerintah. Sebenarnya aku tak bohong kawan, jika dijelaskan bantuannya berupa diringankan biaya berobatnya, subsidi kesehatan, bukankah itu juga bantuan?

Bang Rizal mengangguk gembira, lalu, dari kedelapan sound system itu terdengar pengumuman berulang-ulang:


Kepada masyarakat desa Cahaya, saya Bang Rizal, mohon menyerahkan KTP-KTP kalian kepada petugas kelurahan yang datang ke rumah-rumah, karena akan ada bantuan dari Pemerintah untuk desa Cahaya. Jika tak menyerahkan KTP, tak akan dapat bantuan. Terima kasih, tertanda Pak Karta, Lurah Cahaya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar