Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 29, Tahu Apa Kau Tentang Profesiku?


”Desa Cahaya sangat membutuhkanmu saat ini.”
Ani terdiam, matanya menyorot sela antara kepalaku dan Syahid, tembus hingga jendela transparan, memandang pepohonan di sepanjang panorama. Melihat semilir angin menggerakkan daun-daunan, serta sayur-mayur dan helai daun singkong.

”Kenapa kau berpikir bahwa desa Cahaya membutuhkanku?”

”Tidak ada orang lain lagi di sini, di desa ini yang memahami tentang kesehatan melebihi dirimu. Kau lulusan keperawatan, kau bisa menjelaskan dan mengidentifikasi penyakit yang mewabah, bukan karena kutukan yang meracuni pikiran orang-orang desa. Untuk hal ini, kaulah pahlawannya.”

Satu kata yang kuharapkan dari bibirnya, dari sorot matanya yang tak jelas ke mana arah pandangnya, dari kewibawaannya, dari semua diamnya, dari sikap ketegapannya. Satu kata saja: bersedia! Bersedia untuk bekerja sama.

”Sok pahlawan! Aku muak dengan kata itu. Apalagi kabar tentang kepahlawananmu!”
”Apa maksudmu? Ini tidak ada hubungannya dengan pahlawan atau bukan, ini tidak ada hubungannya dengan pujian atau bukan. Ini adalah nasib yang harus diperjuangkan desa Cahaya,” belum pernah rasanya aku bersemangat demikian gencar, entahlah, aku tiba-tiba ingin memperjuangkan prinsip.

”Kau lihatlah dirimu, Pak Arif! Sungguh naif! Kau bukan lahir di sini, kau bukan anak desa ini, kau bahkan seperti tiba-tiba datang dan mengacau. Begitu hebatnya kau mengatakan kemajuan desa? Ironis sekali, sedangkan banyak yang lahir di sini, merasa nyaman saja dengan kondisi yang ada.”
”Apa maksud Anda?”

”Aku ingin tahu, kenapa kau ngotot memperjuangkan sebuah desa. Desa yang jauh dari kemajuan dan terjebak dalam kebodohannya? Jawablah pertanyaanku ini, Pak Guru?”
”Panggilan hati! Jika hati yang bicara, seluruh malaikat yang ada tak akan bisa menahannya, seluruh dunia dikumpulkan untuk menggoyahkannya tentu tak akan bisa, kecuali yang menghentikannya adalah Pemilik kehidupan ini.”

”Kau pintar bicara Pak Guru.”
”Kau pikir aku mengarang retorika? Lalu, bagaimana dengan kau sendiri, apa yang telah kau lakukan? Apakah kau lupa janjimu pada almarhum Bu Fitri, ibunda Syahid? Kau lupa cita-citamu dulu? Bahwa kau akan menjadi dokter di desa ini?” aku tahu cerita ini dari kang Mukhlis.
”Jangan ungkit-ungkit itu lagi Pak Arif, aku peringatkan pada Anda.”

Hening. Padahal, aku hanya memancingnya agar ingat salah satu memorinya, tentang janjinya pada ibunda Syahid, karena mereka adalah sepupu, dari ibunda Syahidlah Ani belajar banyak hal. Jadi, dalam kamus Ani, salah satu tokoh yang masuk dalam daftarnya adalah Ibunda Syahid.

”Baiklah, aku tak mengungkit itu lagi. Tapi, lihatlah hanya karena isu wabah aneh itu, seluruh murid tak sekolah. Mau jadi apa mereka di masa depan? Apakah Anda tak kasihan pada mimpi-mimpi mereka? Di antara mereka ada yang ingin jadi dokter, apa kau tega membiarkannya? Bukankah dokter adalah profesi yang mulia?”

”Tahu apa kau tentang profesi kesehatan!”
”Aku tidak tahu! yang aku tahu, jika kita punya kemampuan lalu ditinggalkan dan lari dari kemampuan itu, padahal banyak yang membutuhkan, berarti dia adalah seorang pengecut...”

”Plak!”

Sebuah tamparan membuat wajahku melencong ke kanan. Kawan, panas sekali. Satu pelajaran penting untukmu, jangan main-main dengan wanita. Beginilah akibatnya, tak kukira wanita yang terlihat tenang itu menghanyutkan. Apa kata-kataku ada yang salah, Kawan?

”Kau pikir aku pengecut? Kau tak tahu, aku telah setahun lengkap membaktikan diriku menjadi penjaga kesehatan di Cahaya, selesai kuselesaikan program D3-ku, aku tak ambil semua tawaran, karena ingin kupenuhi desa dengan baktiku. Saat itu, aku sendiri berjuang. Tak ada yang datang sekadar mengecek kesehatan. Bahkan, kutawarkan dari rumah ke rumah, tapi tak ada yang menanggapi.

Setiap hari kutunggu di rumahku, jikalau ada yang sekadar konsultasi kesehatan. Bukankah telah kau lihat ibuku sendiri, tak memercayai kesehatan yang kupelajari di bangku kuliah? Hingga aku memutuskan menjadi petani sayur, karena aku tak akan menjadi perawat di kota atau di daerah lain, kalau aku tak bisa menjadi perawat di Cahaya. Kini, saat penyakit menjangkit, kau berkata seolah kaulah pahlawan? Jika kau tahu, hatiku lebih sakit. Kau sebut aku pengecut! Hari ini pun, tak akan ada yang percaya tentang kesehatan. Karena itu, pulanglah dan jadilah seorang guru yang baik! Dan maaf atas tamparan tadi.” Ani berdiri tegap, sempurna hendak melangkah.

”Jikalau warga desa meminta bantuan padamu, apakah kau akan kembali mengenakan baju kebesaranmu?” Kawan, nadaku kali ini kupelankan, bahkan sangat pelan. Ini adalah usaha terakhirku.
Semilir angin masuk melalui celah lubang di atas jendela, teramat sejuk.

Syahid memegang pergelangan tanganku, saat aku hendak meneruskan kata-kataku, ”Mbak Ani, kali ini aku yang memohon. Berkenanlah untuk membantu desa ini, ini adalah permintaanku dan Ayah, serta seluruh penghuni Cahaya.”

Wanita itu menoleh, ada air mata yang berkaca di pelupuk matanya, “Baiklah, insya Allah aku akan berusaha semampuku, Hid.”
Alhamdulillah. Walau tak mengatakan bersedia, kata-kata itu sudah cukup bagi kami.
”Menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ani duduk kembali.
”Buatlah kartu peserta jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS), itulah pertama yang harus dilakukan.  Dulu, tak satu pun mau mengisi blangkonya. Kartu itu untuk keringanan biaya, jika ada yang sakit dan berobat ke Rumah Sakit maupun Puskesmas. Dari situ akan kulihat kesungguhan kalian.”

”Kalau begitu akan aku diskusikan dengan Pak Lurah segera. Selain itu, apa yang bisa kita lakukan?”
”Bersihkan desa, sampah menumpuk, kebersihan tak terurus adalah akar semua penyakit. Makanya, kebersihan adalah sebagian dari iman.”

Kami kaget, pembicaraan terhenti, terdengar deruman memekakkan telinga. Dan di luar sana, dari balik kaca rumah, lima orang tengah mengeraskan suara motornya. Geng Sar, mereka tertawa, raut wajah ingin melumat. Bahaya, Kawan.

”Waktumu sudah habis, Pak Guru! Keluarlah pahlawan edan! Sudah kutunggu waktu ini, kalau penduduk desa tak mau keluar membantumu lagi. Tak ada yang menolongmu, keluar! Atau kubakar rumah ini!”

Ibunda Ani keluar dan kebingungan, Ani gelisah, aku menenangkannya. Mataku mengedip pada Syahid, semoga dia paham isyaratku, kau lewat belakang, ambil sepeda dan siap-siap, aku urus mereka dulu. Syahid mengangguk.

Aku mendekati pintu, hendak membukanya.

”Berhati-hatilah,” kutengok suara itu, wajah Ani tampak khawatir. Aku tersenyum, baru kali ini kudengar nada suaranya tampak perhatian, mirip karakter seorang perawat yang membawa ketenangan. Kurasa, mental perawat, mental penjaga kesehatan telah kembali sepenuhnya.
”Tenang saja, jika aku harus mati sudah ada yang meneruskan perjuanganku kembali. Seorang pahlawan telah lahir kembali,” aku tersenyum padanya.

Kubuka pintu rumah, kututup pelan, aku mendekati mereka berlima. Mereka berlima, turun dari motor-motor mereka.

”Berani juga sang pahlawan kampung kita ini!” mereka tertawa terbahak-bahak. Tanganku mulai gatal kawan, aku ingin membalas kejadian tempo pertama aku datang ke Cahaya, perutku saat itu kosong. Berbulan-bulan ini, latihan yang diajarkan Kang Mukhlis harus minimal dilihat sampai mana kemampuannya.

”Sikat!” itu pasti Sarjito, ketua Geng Sar. Dua orang mengarahkan tinjunya, menyerang bersamaan, saat itu kulihat kelebat Syahid telah mencapai sepeda. Cepatlah Hid! Kutangkap salah satu tangan mereka, aku berputar dan memelintir tangan itu cepat, kakiku refleks menendang pukulan seorang yang lain, dan tubuh itu limbung. Lelaki yang masih kupelintir tangannya, kupukul tengkuk lehernya, dia terjatuh ke tanah.

Satu orang datang lagi dengan tendangannya. Saat tendangan kaki kanannya mengarah padaku, aku menjatuhkan diri ke bawah, kutendang kaki kirinya dari belakang, dia terjungkal ke belakang, aku melompatinya dan menyongsong dengan tendangan baru, ke arah orang keempat yang hendak menyerang, tendangan lurus, tepat di dadanya.

Sang Ketua mengkal, aku mengayunkan kepalan tanganku padanya. Apa? Dia bukan berusaha menghindar, malah menutupi wajahnya sambil berteriak dengan kedua tangannya, dasar penakut!

Tapi, bukan itu tujuanku. Aku berlari ke arah Syahid yang telah mendirikan sepeda, aku langsung mengambil kemudi, Syahid naik, kukayuh dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Geng Sar mengkal, mereka mengambil motornya masing-masing, bisa-bisa terkejar, apalagi  penduduk desa tak berani keluar. Sial juga agaknya hari ini, harus berhadapan lagi dengan mereka jika sampai terkejar.
Motor mereka tak bisa distarter, macet. Kami lumayan jauh.

”Aku copot busi-busi motor mereka.”
Ternyata isyaratku dibaca lebih olehnya, anak yang pintar.

”Tapi, jika mereka tahu. Mereka akan memasangnya dan bisa menyusul kita. Itu adalah kabar buruknya!”

Benar saja, motor menderu terdengar. Mulai dekat, sudah mulai terlihat di spion sepeda yang dipasang Kang Mukhlis. Ah! Harus berurusan lagi dengan mereka. Mereka semakin dekat, bagaimana turunnya? Kita pasti ditabrak. Harus cari belokan. Yap! Di depan, ada belokan, masih 50 meter. Kutambah kecepatan.

Telat! Tak ada waktu lagi, saat jarak dengan belokan tinggal sepuluh meter, jarak motor-motor mereka kutaksir juga 10 meter. Jika melihat hukum kecepatan, maka kami pasti kalah, hanya doa kini yang kupanjatkan. Allah, bantulah kami.

Sepersekian detik, kala tadi masih kudengar tawa mereka terbahak-bahak sambil bersiap melumat kami dengan motor-motor mereka. Keajaiban terjadi, sedikit lagi, dan motor mereka macet semua, berhenti begitu saja. Kami melaju meninggalkan mereka jauh, motor mereka miring dan terjatuh. Terlihat dari jauh, mereka mengkal setengah mati dan menendangi motor-motor mereka.
”Allah menolong kita, Hid.”

”Selain kucopot sambungan busi, aku juga memutus selang bensin ke mesin mereka. Allah menolong tepat pada waktunya.”
Aku kaget. Anak ini? Ternyata isyaratku dibaca lebih olehnya, anak yang pintar. Kawan, jangan kau remehkan kemampuan manusia, sekecil apa pun. Bisa jadi, kecil itulah  yang membuat manusia mulia.

”Dari mana kau belajar secepat itu?”


”Pak Arif lupa gelar yang disematkan pada Hasan? MoM, Master of Machine, dia adalah temanku, aku juga belajar darinya,” amat bangganya dia mengatakan itu, dan aku tersenyum, menatap langit biru yang tertutupi pohon-pohon menjulang, sela-selanya seolah menyapu desa ini dengan cahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar