Kamis, 31 Oktober 2019

Chapter 2, Jupiter Wind

Chapter 2
Jupiter Wind

Suara ayam berkokok dan suara hewan pagi saling bersahutan, rumah terpencil di ujung desa, rumah Noran dan Kaja.

Entah mengapa, Kaja merasa heran dia diminta Cuma membawa dua ember air dan disuruh pulang segera setelah mengambil air tersebut. Bahkan, Kaja diminta tak mengambil air di gunung dan hanya di ujung desa dimana ada sumur umum yang bisa digunakan oleh siapapun.

Kaja keheranan, namun terus bergegas mengambil air tersebut. Sampai melewati Perguruan Angin Timur, Kaja kembali diejek.

“Sampah sedang sakit! Dia bawa dua ember saja, hahahaha,” Baron dan rekan-rekannya masih membully, kecuali Putri yang kasihan melihat Kaja. Guru Perguruan yang berada ditingkatan tertinggi Perak mendiamkan murid-muridnya menghina Kaja. Di perguruan Angin Timur punya 5 guru utama, kelimanya adalah anggota Aflif dari Desa Pertiwi. Ya, mereka mendapatkan tugas dari Aflif Pusat untuk mengajar di desa mereka, membina generasi baru agar banyak pahlawan baru yang lahir dan membantu perdamaian dunia, itu misi mereka.

Arda, pemimpin Aflif dan menjadi pendiri perguruan Angin Timur. Prabu, Loka, Samo dan Bunto merekalah tumpuan harapan desa untuk mendidik anak-anak desa untuk memiliki masa depan yang cerah. Selain mendapatkan bayaran dari Aflif pusat mereka juga mendapatkan berkah setoran dari sukarela masyarakat. Sudah 10 tahun mereka mengabdi dan memenuhi misi Aflif di desa Pertiwi.

Kaja tak mempedulikan olok-olok para murid Perguruan Angin Timur, dia bergegas.

“Hentikan semua latihan! Kita akan menyaksikan pertandingan terbesar di dunia, penantang baru akan mencoba merebut tahta Lord Master. Ayo bersiap dan menyaksikan Televisi!” Semua murid tersenyum, “Ayo!”

Kaja sempat mendengarnya, dia pun bergegas pergi dan mempercepat langkahnya agar sampai rumah dan mendapatkan kesempatan untuk menonton pertandingan lima tahunan tersebut. Ya, pertandingan akan dibagi dalam kualifikasi 5 benua, hingga mendapatkan 4 pemenang setiap benua dan akhirnya ke 20 peserta terbaik bertanding untuk menentukan siapa yang bisa mengalahkan Lord Master sang pemimpin Aflif. Jika menang, dia akan menggantikan Lord Master sesuai dengan kebijakannya dengan para penasehat Aflif.
Tentu saja semua orang ingin menjadi peserta dan bisa menjadi Lord Master, dan syaratnya ikut turnamen adalah menjadi anggota Aflif.
* * * * *
Kaja menaruh ember air, belum sempat duduk dia dipanggil Kakeknya.
“Kesinilah, bukankah kau ingin melihat pertarungan Lord Master?”

Kaja mengangguk dan mendekati Noran, tv sudah menyala. Penyiar pertandingan sedang berapi-api memberikan arahan dan siapa pemenang turnamen 5 benua dan orang paling beruntung berkesempatan menjadi Lord Master berikutnya. Namun, jika itu dia bisa mengalahkan Lord Master yang sudah 15 tahun memimpin Aflif dan tak terkalahkan, Gasan Arwana.

Pertandingan dimulai, Lord Master mengenakan topeng seperti biasanya. Ketegangan terjadi dalam pertempuran itu meskipun itu dari layar televisi. Sorak penonton histeris meneriakkan Gasan! Gasan! Menang!

Kaja ikut terbawa suasana, matanya berbinar. Namun, Noran Kakeknya seolah santai saja dan acuh. Lebih dari 10 menit pertarungan masih berlanjut

Booom Booom Booom
Wusssshhhh

Lawan Lord Master, Master Ramaya mengeluarkan dentuman keras dengan tombaknya, bayangan Srigala Perak hampir menembus dinding penghalang Lord Master. Ramaya penantang menggunakan Kekuatan Rakuta yang diperolehnya, Srigala Perak.

“Kakek, Pertarungan mereka luar biasa!”
“Biasa saja Kaja, sebentar lagi juga kelar. Lord Master pasti menang!” Noran menjawab santai.
“Darimana Kakek tahu, lihat saja Ramaya mendesak mundur Lord Master pertahanannya hampir jebol.”

Penyiar pertarungan lantang bersuara, “Apakah Ramaya akan sukses mengalahkan Gasan Arwana dan menjadi Lord Master yang baru! Menarik! Menarik! Kita lihat saja!”

Saat itulah Nampak senyuman kecil dari Lord Master Gasan, dia menarik tangan kirinya ke belakang dan muncullah bayangan Mamoth besar menjuntai belalali dan gading berjumlah 6. Ramaya kaget dan keadaan berbalik, serangan kemudian saling bersahutan, perbedaan kekuatan mulai terlihat. Pada akhirnya, Lord Master kembali dimenangkan oleh Gasan, Ramaya mengaku kalah.

*****
Noran mematikan TV-nya dan tak peduli dengan Kaja yang masih terlihat takjub akan pertandingan tersebut.
“Ikuti aku Kaja! Aku akan mengajarimu sesuatu yang paling penting dalam hidupmu, ini akan menjadi bekal selama hidupmu.”

Kaja berpikir kalau Kakeknya akan mengajari receptarier lagi atau obat baru, sayangnya Kaja salah. Saat melangkah meninggalkan Rumah dan meninggalkan pelataran rumah yang luas itu, Noran berhenti dan Kaja pun berhenti tepat di belakangnya.

“Kaja! Ikuti aku, jangan teralihkan dan fokus mengikuti aku! Ingat, jika kau tak bisa mengikutiku di belakangku, Kau akan menyesal!”
Ada aura yang muncul dari tubuh Noran, energinya meluap, Apa Ini?? Kaja kaget, seolah ini pertama kalinya Kakeknya bicara serius sekali, angin hembusan energi bahkan sangat kuat hendak mementalkan tubuh Kaja.

“MULAAIII!”

Noran berteriak dan angin di sekitarnya seolah air mengalir, dia terlihat berlari dengan cepat. Kaja mengikutinya dan mencoba berlari, entah kenapa dia bisa terus mengejar Kakeknya. Selama ini, dia memang setiap hari berlari sebagai hukuman, tapi itu berlari biasa. Kali ini, Dia berlari sangat cepat dan tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Noran semakin cepat, Kaja pun tak mau tertinggal. Semakin cepat! Cepat dan cepat. Noran bahkan seolah seperti kilat dan meliuk menghindari pepohonan lebat, Kaja pun konsentrasi, matanya terlihat jernih bercahaya, dia menghindari pepohonan meskipun beberapa kali hendak menabrak tapi dia kemudian fokus dan akhirnya bisa menstabilkan tubuh dan kecepatannya.

Mereka bahkan kini sangat cepat seperti dua kilatan petir yang bekejaran. Terus berlari, sesekali menendang pohon dan beralih ke pohon lain untuk memberikan tekanan agar lebih cepat. Kaja mengikuti semua gerakan Noran Kakeknya, dia baru sadar bahwa dirinya menjadi sosok yang luar biasa dan tak bisa dibayangkannya.

Noran tiba-tiba berhenti di tepiah  danau yang luas, di atasnya ada air terjun yang deras dan tinggi sekali. Noran tersenyum saat menyadari Kaja bisa mengikutinya dengan baik.

“Itu adalah pelajaran pertama, Kau menguasai teknik Wind Speed.”

Kaja menjadi heran, dia sedikit menahan napasnya karena masih terlihat sedikit lelah namun segera mengatur napasnya dan memulihkan dirinya dengan Teknik pengobatan dan pemurnian jiwa.

“Pelajaran Kedua, Lihat Aku dan konsentrasi!”
Noran melangkahkan kaki kanannya di air di pinggiran danau itu, gelombang riak air terjun terlihat namun Noran tetap menaruh kaki kanannya di atas air. Kaja sedikit khawatir, Kakek, air danau ini sangatlah dalam. Tapi, Kaja diam tak bersuara.

Keajaiban terjadi, Noran tetap terjaga dengan kaki kanannya menempel di air di susul kaki kirinya dan melangkah biasa saja di air. Kaja terkejut luar biasa, matanya keheranan membulat. Ini luar biasa.

Noran melangkah dengan santai dan kedua tangannya bersedekap hingga ke tengah danau, tepat sekitar 10 meter sebelum air terjun yang deras itu.

“Kaja! Percayalah dan lakukan seperti Kakek, kau hanya perlu konsentrasi dan meringankan tubuhmu!”

Kaja tak peduli lagi, dia konsentrasi. Selama ini, dia yakin sepenuhnya pada kakeknya, apapun itu. Kaja memusatkan energi di hatinya, membuat gerakan seringannya, dan keajaiban pun terjadi dia melangkah meskipun awalnya agak goyang namun akhirnya dia menstabilkan tubuhnya dan mendekati kakeknya, dia berjalan di atas air, Kaja kagum luar biasa, Amazing.

Noran kembali tersenyum, Sesuai harapannya, anak ini punya bakat besar.

“Kaja, kau sudah menguasai Soul Balancing, kau bisa berkembang lebih besar nantinya. Kini, pelajaran ketiga, perhatikan kakekmu ini baik-baik.”

Noran sedikit memajukan kaki kanannya di atas air, memundurkan sedikit kaki kirinya. Sedikit menunduk untuk memperoleh keseimbangan, air di sekitar kaki Noran pun bereaksi, seolah riak berputar seperti ada angin tekanan menyebar. Dan…… Wuuussssssshhhhhh!

Kaja kaget, matanya membesar. Dia benar-benar tak percaya, dia melihat Kakeknya terbang melompat ke atas langit meninggalkannya dan melewati air terjun dan mendarat dengan indah di tebing atas di dekat air terjun.

Belum sempat hilang kekagetannya, Noran sudah berteriak dari atas air terjun, “Kaja! Lakukanlah!”

Kakek benar-benar gila! Ternyata dia menyembunyikan kemampuan sehebat ini?

Kaja berkonsentrasi, energinya meluap ada kebahagiaan dan rasa takjub bercampur, dia memusatkan energi di ujung kaki-kakinya dan… “ Terbaaaangggg!” Kaja berteriak dan dia benar-benar terbang melompat sangat tinggi, bahkan saking semangatnya dia sadar bahwa dia sudah melewati kakeknya dan melompat dengan sangat tinggi hingga tak bisa menstabilkan tubuhnya sendiri.

“Sial! OH Tuhan!” Noran tertawa terkekeh melihat Kaja mendekap pohon tinggi di atas air terjun, dia menabrak pohon karena lompatannya terlalu tinggi. Dasar bocah!

Kaja menggaruk kepalanya dan melompat turun, dia turun dengan mudah dan menapak tanah di dekat Kakeknya berada.

“Kaja, inilah latihanmu selama ini. Setiap hari yang kamu lakukan sesungguhnya adalah latihan, mulai dari mengambil air hingga seluruh hukuman adalah latihanmu. Penyiksaan yang kamu alami selama 10 tahun adalah penggemblengan dirimu untuk meraih takdirmu.”

“Kakeek,” Kaja baru menyadari sekarang, meski curiga tapi Kaja tak pernah protes sekalipun. Setiap hari harus mengambil air dari mata air di atas gunung, alasannya hanya dengan air itu Kakeknya tetap segar. Setiap hari menerima hukuman, push up, lari. Dan, siang harinya belajar pengobatan, semuanya adalah untuk menempanya.

Kaja menekuk satu lututnya, membungkung, airmatanya menetes. Jadi, selama ini Kakek bukanlah orang yang kejam. Dia hanya melatihku.

“Bangunlah Kaja,” Noran membantu cucunya itu bangun. Kaja pun bangun.
“Dengarlah, aku akan mengajarimu jurus pamungkas yang aku miliki, kau sudah memenuhi syarat dan ini bisa menjagamu dari serangan musuh yang kuat. Lihat dan dengarkan Kakek baik-baik, karena bisa jadi terakhir kali aku mengajarimu.”
Kaja hanya terdiam dan seluruh inderanya mengarah fokus ke Kakeknya.

Noran mundur beberapa langkah, dia membuka kedua tangannya ke masing-masing arah, udara pun seolah berkobar di sekitarnya. Kaja dapat merasakan tenaga yang luar biasa terpancar. Lalu, tangan kanan Noran ke atas, jari telunjuknya mengarah satu keatas. Saat itulah seolah ada kilauan yang berpusat di atas jari telunjuk itu, membentuk lingkaran.

“Konsentrasi, tarik dan pusatkan energi di luar dirimu di sekitarmu. Semakin banyak energi yang bisa kau kumpulkan dari alam itu lebih dahsyat, lalu pusatkan energimu untuk mengawal energi dari alam tersebut.”

Lingkaran energi mulai berkumpul dari alam menuju jari telunjuk Noran, terus memutar dan berpusat, sementara ada semacam ikatan energi seperti cincin mengitari lingkaran energi itu. Semakin membesar bola energi, semakin besar pula cincin energi yang mengikatnya.

“Kaja, jika energimu besar, kau bisa menampung energi alam dan itu akan membuat daya kekuatannya tak terbatas. Ini hanya demo.”

Noran menghentikan kumpulan energi itu, pusarannya terlihat dahsyat dan…

“JUPITER WIND” Noran melemparkan bola dan cincin itu ke bawahnya, agak condong jauh dan sesuatu yang ajaib terjadi.

DUAARRR DUAARRR BRAAAKKK !!

Ledakan besar, bahkan tiga pohon ikut terkena energi dan rubuh, dan juga sebuah lubang besar di bumi tercipta cukup besar dan seolah ada meteorid jatuh. Mata Kaja terbelalak melihatnya, dahsyatnya.

“Cobalah Kaja, konsentrasilah, jika kau menciptakan kecil tak mengapa itu sudah berpotensi mengingat kamu baru sekali mencobanya.”

Kaja memejamkan matanya, dia mengangkat tubuhnya ke atas, meringankan tubuhnya dan menstabilkan dirinya. Dia melayang sekira 7 meter dari permukaan tanah dan Noran melihatnya dari bawah. Kaja mengangkat tangannya ke atas, dia menarik energi alam di sekitarnya dengan fokus di atas seluruh jarinya. Kaja merenggangkan seluruh jarinya, dan energi pun mulai Nampak kecil sebiji kelereng berkumpul.

Kaja sedikit kesulitan membentuk cincin pengikat energi, itulah yang tersulit karena cincin pengikat itu adalah energi diri sendiri dan terus berputar menyeimbangkan energi alam yang terus berkumpul. Namun, Kaja akhirnya mampu melakukannya dan kini Noran yang terkaget melihat, energi alam yang terkumpul tak terkendali, pengikat semakin membesar dan  kini bahkan seperti bentuk Jupiter dan cincinnya, bola energi sekitar diameter 2 meter terbentuk. Kaja terlihat mulai kewalahan, dahinya berkerut dan dia pun membuka matanya seolah sadar dia tak bisa menahan terlalu besar lagi.

“JUPITER WIIIN”

DUAAAARRRR!!! DUAAAARRRR!!! DUAAAARRRR!!!
BRAAAAAKKKKK!!!

Sekali lagi, ledakan besar dan lebih besar dari pertama milik Noran, Noran pun terbelalak. Kaja turun dan terlihat sedikit berkeringat.

Noran tersenyum pada Kaja, “Bagus Kaja, kau sudah menguasainya.” Anak ajaib, selanjutnya kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.

Keduanya tersenyum dan Noran meminta Kaja untuk pulang.

    *****

DUAAARRRR!!
Lima orang yang tengah dalam mobil dengan roda besar dalam perjalanan tersebut terkaget. Jalanan mulai masuk ke pelosok dan perbukitan yang jarang dilewati orang.
“Informasi itu benar! Lelaki tua itu disana,” Ucap Cukra Mamba, Pemimpin Aflif TRUE DEMON, Lelaki berewok tipi situ berkata kepada 4 rekannya, dia merasakan energi dahsyat dari Jupiter Wind, jurus yang sangat dikenal dari lelaki yang tengah mereka incar.
“Benar, itu jurus legendaris milik si Kakek Bonto,” Sahut Ruciko di sebelahnya, “Tapi sepertinya, mulai sekarang perjalanan kita harus dengan jalan, Mobil sudah tak bisa masuk.” Ketiga yang lain mengangguk.
Sepertinya mereka sadar, jika menggunakan energi mereka bisa sehari sampai, tapi jika bersantai maka mereka membutuhkan 3 hari perjalanan lagi.
Salah satu dari mereka, Sultan ikut nimbrung, “Dalam tugas perburuan ini, kita harus menangkap hidup-hidup Bonto, dan aku memastikan ada 4 Aflif yang bergerak, dan salah satunya adalah Tim Kita.”
Mamba pun tersenyum sambil turun dari Mobil, Menarik!

*****

Di sisi lain, dua grup Aflif tampak bertemu dan sepakat untuk melakukan perburuan bersama, menangkap hidup-hidup Bonto.
Aflif BUMI LANGIT (7 Orang) dan Aflif MAYAPADA (5 Orang) Dalam aturan Aflif, setiap orang bisa membentuk tim minimal 5 orang untuk memulai Job sebagai Aflif lalu bisa 7 atau 9 orang. Kedua tim Aflif ini sama-sama menyusuri tebing di lain sisi dan meninggalkan mobil mereka. Mereka sadar, tugas ini berat karena Bonto sudah menghilang sejak 10 tahun yang lalu, dia dulu adalah mantan anggota Aflif yang terkenal dan dulu berada di puncak Emas untuk kemampuannya.
“Kamu tahu apa yang disimpan Bonto sehingga kita harus mengejarnya?” Salah satu kelompok Aflif BUMI LANGIT bicara sambil terus berjalan.
Pemimpin Aflif MAYAPADA, Ranggi tersenyum, “Pasti karena benda Itu!”
Semua pun mendengar Ranggi dan terus berjalan.

DUUAARRRR DUAARRRR
Kedua Tim Aflif itu menyadari ledakan besar. Sepertinya, kita harus cepat. Siapa tahu dia sudah mendapatkan bocoran raid ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar