Kamis, 07 November 2019

Bagian 32, Pahlawan Cahaya Sesungguhnya


Kejadian masyarakat turun membantu bersih-bersih itu bukan hanya terjadi di kelompok keempat yang kupimpin. Itu terjadi di semua kelompok bersih-bersih, siswa-siswa yang belum berangkat segera bergabung saat melihat teman-teman mereka asyik bersih-bersih. Kami selesai ketika hari hendak ashar, dzuhur istirahat untuk shalat dan masyarakat menyediakan makanan dan minuman.

Selain itu, saat bersih-bersih, musik dangdut selalu mendayukan lagunya. Bang Rizal menghibur dengan dangdut ala semangat, seperti lagu H. Rhoma Irama, serta lagu-lagu yang mengobarkan semangat, bahkan sesekali distelnya lagu-lagu perjuangan, hingga lelah yang datang dan peluh yang membanjir terhapus dengan musik pengobar semangat.

Hebat benar pemikiran Bang Rizal. Untuk hal ini, dialah pahlawannya.
Saat selesai, suasana desa terlihat benderang. Benar kata Ani, kebersihan adalah ciri-ciri orang beriman, pangkal kesehatan. Apa sajalah, kebersihan adalah sedap dipandang mata, benar bukan, Kawan?

Kulihat senyum-senyum membanjir, pekerjaan selesai. Para dewan guru dan Ani berkumpul di Sekolah Cahaya, para siswa diperbolehkan langsung pulang. Saat para guru berkumpul dan Ani, saat kami bertemu, hanya senyum yang tersungging begitu lama. Lelah hilang semua.
”Kita berhasil,” itu satu kata yang keluar dari lisan tua Pak Danu, walau napas tuanya turun naik, kuakui semangatnya adalah milik seorang pemuda.

Saat itu Pak Lurah datang, ternyata bajunya penuh lumpur. Dia ikut membersihkan desa, masuk dalam kelompok kedua bersama Pak Yusuf. Dia mengajak ke kecamatan, kali ini aku yang diajak, mengambil surat-surat jaminan kesehatan.

Sebelum berangkat, kami mengumumkan pada masyarakat melalui suara Bang Rizal, bahwa Bu Ria yang terkena wabah penyakit akan dibawa ke Rumah Sakit untuk diobati. Saat itulah, respon masyarakat masih sangsi, mereka berpendapat percuma karena yang terkena wabah terkutuk itu tak akan ada harapan lagi. Itulah yang kuharapkan, jika Bu Ria sembuh, maka persepsi gelap desa Cahaya akan mulai berubah. Ideku diterima Pak Lurah.

Ani, Bu Siska membawa Bu Ria naik motor ke Rumah Sakit di Kecamatan. Aku dan Pak Lurah, tak peduli baju yang kotor, hanya sedikit mengelapnya saja, kami ke Kecamatan mengambil kartu jaminan kesehatan. Sudah jadi.

Di Rumah Sakit, Bu Ria langsung diberi pelayanan kesehatan. Trombosit belum tinggi, transfusi darah dilakukan. Kata para perawat di sana, bahwa Bu Ria minimal akan menjalani rawat inap beberapa hari. Kata-kata mereka menenangkan, Bu Ria insya Allah akan sembuh, indikasi demam berdarah masih permulaan. Kesempatan sembuh probabilitasnya lebih tinggi, ini sepenuhnya kata-kataku, maklum lulusan Sarjana Ekonomi.

Kami pulang, sementara yang menunggui adalah Ani, dia tahu lebih banyak. Namun menjelang maghrib, Pak Lurah datang ke Rumah Sakit dan meminta Ani pulang. Biarlah Indah yang menunggui Bu Ria, Indah sempat kuliah semester tiga, tapi keluar, mengambil cuti beberapa bulan ini, sehingga dia yang menunggui, sedangkan Ani  masih dibutuhkan masyarakat.

***

Seminggu berselang. Anak-anak Cahaya sekolah seperti biasa, Bu Ria pulang hari ini, dia lebih cepat sehat dari perkiraan Rumah Sakit, Indah yang menungguinya selalu membisikkan semangat untuk segera sembuh. Dialah harapan desa agar tak terkungkung dalam dunia animisme, dunia khurafat, dunia kebodohan.

Kepulangan Bu Ria langsung disambut di balai desa sekaligus balai sekolah, di buat tratak. Sound system Bang Rizal kembali bertengger ditumpuk dua, delapan salon besar itu terpajang di pinggir tratak.
Bu Ria didudukkan di depan, masyarakat kembali datang berduyun-duyun berdasarkan lobi-lobi Pak Lurah dan Pak Danu. Selain itu, mereka amat penasaran karena ada orang yang sembuh setelah terkena wabah terkutuk yang dipercaya dari zaman nenek moyang bahwa tak akan ada yang selamat dari wabah itu jika sudah terjangkit.

Ki Marmo, juru kunci hutan lindung, yang mengancamku saat pertama kali aku kerumah Pak Lurah, kini datang. Sorot matanya terlihat tak senang dengan kemajuan desa Cahaya. Terang saja, wibawanya sebagai pengayom desa, serta rujukan tentang dunia gaib akan sedikit terkurang pamornya.

Pak Lurah berdiri di depan, mikrofon diserahkan padanya dari Bang Rizal.
”Para Masyarakat, ini adalah hari yang bahagia sekali, karena mitos yang telah membuat gelap desa kita, akhirnya hari ini akan terkubur. Di sinilah buktinya, Bu Ria, seorang guru di Sekolah Cahaya yang kita kira tak akan bisa diselamatkan lagi, lihatlah kini, dia tengah duduk manis penuh senyum,” Pak Karta menunjuk dengan tangan kirinya, ke arah Bu Ria yang duduk di samping kiri, di depan para warga yang melihatnya tak percaya.

”Selanjutnya, akan kupanggil pahlawan kita yang telah berusaha keras, memberi kita pandangan baru menuju kemajuan desa, menghilangkan kebodohan. Saya panggilkan namanya,” Pak Karta menatapku, senyumnya merekah, dia mengangguk padaku.

”Dialah Bu Ani, ahli kesehatan yang membaktikan dirinya di desa kita. Kita harus memintanya menjadi perawat di desa kita, dulu kita mengucilkan dan meremehkan kemampuannya!” pandangan Pak Lurah kini beralih ke arah Bu Ani, ”Majulah Bu Ani, jelaskanlah bahwa sudah seharusnya desa Cahaya berpikir maju, kumohon majulah,” suara Pak Lurah merendah, pertanda amat hormat.

Aku tahu sekarang maksud senyum  Pak Lurah padaku, dia meminta pengertianku, bahwa Ani harus sudah saatnya maju dan harus mengambil bagian. Kasihan dia, perjuangannya harus dihargai dengan setimpal. Dan aku sangat sepakat kawan, karena memang dialah pahlawannya.

Ani, dengan baju putih kebesarannya, dia maju demikian anggun. Semua terdiam, siswa-siswa yang semula mengobrol terdiam, apalagi yang mereka bercita-cita menjadi dokter, pastilah akan melihat gaya Bu Ani. Termasuk Syahid, karena salah satu alternatif cita-citanya adalah menjadi dokter.
Ani memegang mikrofon, Pak Lurah turun dan duduk di kursi depan.

”Inilah hari bahagia, untuk pertama kalinya, profesiku digunakan di desa Cahaya tempat aku dilahirkan. Ini adalah cita-citaku, itu adalah mimpiku, yang kupeluk setiap kali hendak tidur agar masuk dalam mimpiku, agar terjaga dalam sadarku, mimpi yang selalu terngiang di seluruh syarafku. Desa Cahaya mulai bersinar, kulihat bahwa desa kita akan maju jika kita tahu pentingnya arti kesehatan. Aku terharu pada kalian semua, ternyata aku tak sendiri menjaga kesehatan.

Untuk itu, bukanlah aku pahlawannya, tapi... dialah orangnya,” seluruh jemari Bu Ani, menunjuk ke arahku, seperti menyilakan aku untuk maju. Aku kaget, di tempat berdiriku.
”Dialah yang kembali meyakinkanku, untuk kembali menjadi seorang yang teguh pada cita-citanya. Untuk itu, aku tak pantas menjadi pahlawan, dialah yang layak maju di sini,” matanya yang jernih terlihat berkaca.
”Maju! Maju, Pak Arif!” warga seolah kompak berteriak pada namaku.
Aku bergetar, seperti saat aku membawakan pidato saat acara wisudaku, saat menjadi lulusan terbaik universitas dulu.

”Majulah, Pak Arif, kau pantas mendapatkannya,” Pak Danu memukul pundak kananku.
Aku berdiri perlahan, maju ke depan. Ani menyerahkan mikrofon padaku. Aku berkata pelan pada Ani, ’Tapi kau jangan turun dulu.’
”Masyarakat desa Cahaya,” semuanya terdiam mendengarkanku, ”Sudah saatnya, Desa Cahaya bangkit dari keterpurukan, kita harus maju bersama-sama.”

Suara tepuk tangan membahana, menggeletar, ada harapan besar yang tumbuh tiba-tiba.
”Kuberitahu satu hal, bukan saya pahlawan desa Cahaya sesungguhnya. Melainkan dia!” tangan kiriku menunjuk pada lelaki yang tengah mengatur sound, memutar tombol dan menyelaraskan suara mikrofon di salon.
”Aku?” Bang Rizal tampak kaget.
”Dialah pahlawan sesungguhnya! Tanpa dia, kita akan ketakutan, musik dangdutnya telah menghilangkan ketakutan-ketakutan desa!”
”Benar! Itu benar!” masyarakat kembali berteriak.

Bang Rizal mendekatiku dan merebut mikrofon, ”Bukan saya pahlawan sesungguhnya, melainkan Pak Yusuf! Dialah yang mengajarkanku kata-kata saat hendak mengumumkan pengumuman pada kalian!”

”Pak Yusuf pahlawannya!” para warga tambah bingung.
Pak Yusuf berdiri tanpa mikrofon berkata, ”Bukan aku, tapi pak Kepala Sekolahlah pahlawannya!”
Pak Danu berdiri dan berdada ria dengan kedua tangannya, dan menunjuk Pak Lurah. Warga benar-benar bingung. Tak ada yang mengaku menjadi pahlawan, itulah makna ikhlas, Kawan, keadaan ricuh, saling tak terima dikatakan pahlawan. Bang Rizal, pertama kali mau membantu karena tawaran Pak Lurah, bahwa pahlawan sampai tujuh turunan akan disematkan padanya, kini, apakah dia berubah pikiran?

Aku pusing kawan, masalah sepele, kenapa menjadi ribut demikian? Saat itulah, kulihat Bu Siska berdiri dari duduknya, berjalan di antara riuhnya suara, dia melewatiku dengan tenang, setenang air di sungai desa. Dia mendekati Bang Rizal, merebut mikrofon dari tangan Bang Rizal.
”Berhenti!”

Semuanya berhenti, terdiam, menatap ke arah Bu Siska semuanya. Bagai terpaku dari berdiri dan duduknya masing-masing.

”Kalian ingin tahu siapa pahlawan Desa Cahaya sesungguhnya? Pahlawan itu adalah aku! Pahlawan itu adalah Pak Lurah! Pahlawan itu adalah Bu Ani! Pahlawan itu adalah Bu Ria! Indah, Pak Yusuf, Pak Danu, Pak Arif, bAng Rizal, seluruh anak-anak Sekolah Cahaya, pahlawan itu adalah penduduk Desa Cahaya. Kita semualah pahlawanannya!”

Semuanya terduduk, terdiam. Bu Siska sendirilah yang masih di depan, karena memang dialah pahlawan desa Cahaya saat ini. Untuk hal ini, dialah pahlawannya.


Rehat kawan,

Kukatakan satu hal padamu
Ini penting; perhatikanlah, camkanlah
Bahwa,
Setiap zaman itu
Ada pahlawannya masing-masing.

Dan untuk zamanmu,

Kaulah pahlawannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar