Kejadian masyarakat turun
membantu bersih-bersih itu bukan hanya terjadi di kelompok keempat yang
kupimpin. Itu terjadi di semua kelompok bersih-bersih, siswa-siswa yang belum
berangkat segera bergabung saat melihat teman-teman mereka asyik bersih-bersih.
Kami selesai ketika hari hendak ashar, dzuhur istirahat untuk shalat dan
masyarakat menyediakan makanan dan minuman.
Selain itu, saat
bersih-bersih, musik dangdut selalu mendayukan lagunya. Bang Rizal menghibur
dengan dangdut ala semangat, seperti lagu H. Rhoma Irama, serta lagu-lagu yang
mengobarkan semangat, bahkan sesekali distelnya lagu-lagu perjuangan, hingga
lelah yang datang dan peluh yang membanjir terhapus dengan musik pengobar
semangat.
Hebat benar pemikiran Bang Rizal. Untuk hal ini,
dialah pahlawannya.
Saat selesai, suasana desa
terlihat benderang. Benar kata Ani, kebersihan adalah ciri-ciri orang beriman,
pangkal kesehatan. Apa sajalah, kebersihan adalah sedap dipandang mata, benar
bukan, Kawan?
Kulihat senyum-senyum
membanjir, pekerjaan selesai. Para dewan guru dan Ani berkumpul di Sekolah
Cahaya, para siswa diperbolehkan langsung pulang. Saat para guru berkumpul dan
Ani, saat kami bertemu, hanya senyum yang tersungging begitu lama. Lelah hilang
semua.
”Kita berhasil,” itu satu
kata yang keluar dari lisan tua Pak Danu, walau napas tuanya turun naik, kuakui
semangatnya adalah milik seorang pemuda.
Saat itu Pak Lurah datang,
ternyata bajunya penuh lumpur. Dia ikut membersihkan desa, masuk dalam kelompok
kedua bersama Pak Yusuf. Dia mengajak ke kecamatan, kali ini aku yang diajak,
mengambil surat-surat jaminan kesehatan.
Sebelum berangkat, kami
mengumumkan pada masyarakat melalui suara Bang Rizal, bahwa Bu Ria yang terkena
wabah penyakit akan dibawa ke Rumah Sakit untuk diobati. Saat itulah, respon
masyarakat masih sangsi, mereka berpendapat percuma karena yang terkena wabah
terkutuk itu tak akan ada harapan lagi. Itulah yang kuharapkan, jika Bu Ria
sembuh, maka persepsi gelap desa Cahaya akan mulai berubah. Ideku diterima Pak Lurah.
Ani, Bu Siska membawa Bu Ria
naik motor ke Rumah Sakit di Kecamatan. Aku dan Pak Lurah, tak peduli baju yang
kotor, hanya sedikit mengelapnya saja, kami ke Kecamatan mengambil kartu
jaminan kesehatan. Sudah jadi.
Di Rumah Sakit, Bu Ria
langsung diberi pelayanan kesehatan. Trombosit belum tinggi, transfusi darah
dilakukan. Kata para perawat di sana, bahwa Bu Ria minimal akan menjalani rawat
inap beberapa hari. Kata-kata mereka menenangkan, Bu Ria insya Allah akan sembuh,
indikasi demam berdarah masih permulaan. Kesempatan sembuh probabilitasnya
lebih tinggi, ini sepenuhnya kata-kataku, maklum lulusan Sarjana Ekonomi.
Kami pulang, sementara
yang menunggui adalah Ani, dia tahu lebih banyak. Namun menjelang maghrib, Pak Lurah
datang ke Rumah Sakit dan meminta Ani pulang. Biarlah Indah yang menunggui Bu Ria,
Indah sempat kuliah semester tiga, tapi keluar, mengambil cuti beberapa bulan
ini, sehingga dia yang menunggui, sedangkan Ani
masih dibutuhkan masyarakat.
***
Seminggu berselang.
Anak-anak Cahaya sekolah seperti biasa, Bu Ria pulang hari ini, dia lebih cepat
sehat dari perkiraan Rumah Sakit, Indah yang menungguinya selalu membisikkan
semangat untuk segera sembuh. Dialah harapan desa agar tak terkungkung dalam
dunia animisme, dunia khurafat, dunia kebodohan.
Kepulangan Bu Ria langsung
disambut di balai desa sekaligus balai sekolah, di buat tratak. Sound system
Bang Rizal kembali bertengger ditumpuk dua, delapan salon besar itu terpajang
di pinggir tratak.
Bu Ria didudukkan di
depan, masyarakat kembali datang berduyun-duyun berdasarkan lobi-lobi Pak Lurah
dan Pak Danu. Selain itu, mereka amat penasaran karena ada orang yang sembuh
setelah terkena wabah terkutuk yang dipercaya dari zaman nenek moyang bahwa tak
akan ada yang selamat dari wabah itu jika sudah terjangkit.
Ki Marmo, juru kunci hutan
lindung, yang mengancamku saat pertama kali aku kerumah Pak Lurah, kini datang.
Sorot matanya terlihat tak senang dengan kemajuan desa Cahaya. Terang saja,
wibawanya sebagai pengayom desa, serta rujukan tentang dunia gaib akan sedikit
terkurang pamornya.
Pak Lurah berdiri di
depan, mikrofon diserahkan padanya dari Bang Rizal.
”Para Masyarakat, ini
adalah hari yang bahagia sekali, karena mitos yang telah membuat gelap desa
kita, akhirnya hari ini akan terkubur. Di sinilah buktinya, Bu Ria, seorang
guru di Sekolah Cahaya yang kita kira tak akan bisa diselamatkan lagi, lihatlah
kini, dia tengah duduk manis penuh senyum,” Pak Karta menunjuk dengan tangan
kirinya, ke arah Bu Ria yang duduk di samping kiri, di depan para warga yang
melihatnya tak percaya.
”Selanjutnya, akan
kupanggil pahlawan kita yang telah berusaha keras, memberi kita pandangan baru
menuju kemajuan desa, menghilangkan kebodohan. Saya panggilkan namanya,” Pak
Karta menatapku, senyumnya merekah, dia mengangguk padaku.
”Dialah Bu Ani, ahli
kesehatan yang membaktikan dirinya di desa kita. Kita harus memintanya menjadi perawat
di desa kita, dulu kita mengucilkan dan meremehkan kemampuannya!” pandangan Pak
Lurah kini beralih ke arah Bu Ani, ”Majulah Bu Ani, jelaskanlah bahwa sudah
seharusnya desa Cahaya berpikir maju, kumohon majulah,” suara Pak Lurah
merendah, pertanda amat hormat.
Aku tahu sekarang maksud
senyum Pak Lurah padaku, dia meminta
pengertianku, bahwa Ani harus sudah saatnya maju dan harus mengambil bagian. Kasihan
dia, perjuangannya harus dihargai dengan setimpal. Dan aku sangat sepakat
kawan, karena memang dialah pahlawannya.
Ani, dengan baju putih
kebesarannya, dia maju demikian anggun. Semua terdiam, siswa-siswa yang semula
mengobrol terdiam, apalagi yang mereka bercita-cita menjadi dokter, pastilah
akan melihat gaya Bu Ani. Termasuk Syahid, karena salah satu alternatif
cita-citanya adalah menjadi dokter.
Ani memegang mikrofon, Pak
Lurah turun dan duduk di kursi depan.
”Inilah hari bahagia,
untuk pertama kalinya, profesiku digunakan di desa Cahaya tempat aku
dilahirkan. Ini adalah cita-citaku, itu adalah mimpiku, yang kupeluk setiap
kali hendak tidur agar masuk dalam mimpiku, agar terjaga dalam sadarku, mimpi
yang selalu terngiang di seluruh syarafku. Desa Cahaya mulai bersinar, kulihat
bahwa desa kita akan maju jika kita tahu pentingnya arti kesehatan. Aku terharu
pada kalian semua, ternyata aku tak sendiri menjaga kesehatan.
Untuk itu, bukanlah aku
pahlawannya, tapi... dialah orangnya,” seluruh jemari Bu Ani, menunjuk ke arahku,
seperti menyilakan aku untuk maju. Aku kaget, di tempat berdiriku.
”Dialah yang kembali
meyakinkanku, untuk kembali menjadi seorang yang teguh pada cita-citanya. Untuk
itu, aku tak pantas menjadi pahlawan, dialah yang layak maju di sini,” matanya
yang jernih terlihat berkaca.
”Maju! Maju, Pak Arif!”
warga seolah kompak berteriak pada namaku.
Aku bergetar, seperti saat
aku membawakan pidato saat acara wisudaku, saat menjadi lulusan terbaik universitas
dulu.
”Majulah, Pak Arif, kau
pantas mendapatkannya,” Pak Danu memukul pundak kananku.
Aku berdiri perlahan, maju
ke depan. Ani menyerahkan mikrofon padaku. Aku berkata pelan pada Ani, ’Tapi
kau jangan turun dulu.’
”Masyarakat desa Cahaya,”
semuanya terdiam mendengarkanku, ”Sudah saatnya, Desa Cahaya bangkit dari
keterpurukan, kita harus maju bersama-sama.”
Suara tepuk tangan
membahana, menggeletar, ada harapan besar yang tumbuh tiba-tiba.
”Kuberitahu satu hal,
bukan saya pahlawan desa Cahaya sesungguhnya. Melainkan dia!” tangan kiriku
menunjuk pada lelaki yang tengah mengatur sound, memutar tombol dan
menyelaraskan suara mikrofon di salon.
”Aku?” Bang Rizal tampak
kaget.
”Dialah pahlawan
sesungguhnya! Tanpa dia, kita akan ketakutan, musik dangdutnya telah
menghilangkan ketakutan-ketakutan desa!”
”Benar! Itu benar!”
masyarakat kembali berteriak.
Bang Rizal mendekatiku dan
merebut mikrofon, ”Bukan saya pahlawan sesungguhnya, melainkan Pak Yusuf!
Dialah yang mengajarkanku kata-kata saat hendak mengumumkan pengumuman pada
kalian!”
”Pak Yusuf pahlawannya!”
para warga tambah bingung.
Pak Yusuf berdiri tanpa mikrofon
berkata, ”Bukan aku, tapi pak Kepala Sekolahlah pahlawannya!”
Pak Danu berdiri dan
berdada ria dengan kedua tangannya, dan menunjuk Pak Lurah. Warga benar-benar
bingung. Tak ada yang mengaku menjadi pahlawan, itulah makna ikhlas, Kawan,
keadaan ricuh, saling tak terima dikatakan pahlawan. Bang Rizal, pertama kali
mau membantu karena tawaran Pak Lurah, bahwa pahlawan sampai tujuh turunan akan
disematkan padanya, kini, apakah dia berubah pikiran?
Aku pusing kawan, masalah
sepele, kenapa menjadi ribut demikian? Saat itulah, kulihat Bu Siska berdiri
dari duduknya, berjalan di antara riuhnya suara, dia melewatiku dengan tenang,
setenang air di sungai desa. Dia mendekati Bang Rizal, merebut mikrofon dari
tangan Bang Rizal.
”Berhenti!”
Semuanya berhenti,
terdiam, menatap ke arah Bu Siska semuanya. Bagai terpaku dari berdiri dan
duduknya masing-masing.
”Kalian ingin tahu siapa
pahlawan Desa Cahaya sesungguhnya? Pahlawan itu adalah aku! Pahlawan itu adalah
Pak Lurah! Pahlawan itu adalah Bu Ani! Pahlawan itu adalah Bu Ria! Indah, Pak
Yusuf, Pak Danu, Pak Arif, bAng Rizal, seluruh anak-anak Sekolah Cahaya,
pahlawan itu adalah penduduk Desa Cahaya. Kita semualah pahlawanannya!”
Semuanya terduduk,
terdiam. Bu Siska sendirilah yang masih di depan, karena memang dialah pahlawan
desa Cahaya saat ini. Untuk hal ini, dialah pahlawannya.
Rehat kawan,
Kukatakan satu hal
padamu
Ini penting;
perhatikanlah, camkanlah
Bahwa,
Setiap zaman itu
Ada pahlawannya
masing-masing.
Dan untuk zamanmu,
Kaulah pahlawannya
Not Comments Yet "Bagian 32, Pahlawan Cahaya Sesungguhnya"
Posting Komentar