”Kretek!” suara dipan
berkasur lembut itu terdengar bunyinya, saat tubuhku bergerak, tubuhku serasa
nyilu semuanya. Kubuka kedua mataku paksa, berat pula rasanya terbuka. Pertama
kali yang kutatap adalah seprei putih, glek! Aku menelan ludah.
Jangan-jangan! Kain kafan. Tak mungkin, bukankah aku belum didatangi malaikat
pencabut nyawa? Kedua mataku semakin kutajamkan, hingga kugoyang-goyangkan
kepalaku. Ah! Ternyata putih itu adalah kain seprei kamar. Aku dalam posisi
tertidur dengan posisi tengkurap.
Kuangkat kepalaku.
Punggungku seolah patah tulang-tulangnya, remuk terasa. Kupaksakan bergerak,
bertopang kuat dengan kedua tanganku, tapi sendi-sendi di tanganku rasanya
bergetar semuanya. Allah! Kuatkanlah, kuatkanlah. Karena hanya dari-Mu
segala kekuatan.
Aku berusaha sekuat
tenaga, tubuhku diperban melilit-lilit dari dada hingga punggung.
”Pak Arif! Anda sudah
siuman,” suara lelaki berkacamata, terlihat cerah wajahnya, dia menatapku
takjub. Aku tak mengenalnya, tapi satu hal yang kutahu, dia adalah dokter. Baju
kebesarannya menjuntai.
Dia mendekati dan membantu
mengangkat tubuhku, berputar dan duduk pelan-pelan bersandarkan bantal putih.
Lelaki berkacamata itu, dokter itu, kutaksir sepadan umurnya denganku, atau
lebih tua beberapa tahun dariku. Dia sangat antusias memegangiku, seolah aku
ini anaknya.
”Apakah saya di Rumah
Sakit, Pak?” suaraku sangat lirih, pelan sekali.
”Iya, peluru di punggung Anda
telah kami ambil. Beberapa benturan benda keras juga sudah kami coba pulihkan,
rontgen Anda sudah menyatakan bahwa tulang-tulang Anda tak ada yang sampai luka
dalam. Anda memang hebat, Pak Arif! Aku salut pada Anda.”
Aku hanya tersenyum
padanya.
”Kelak, jika aku punya
anak. Aku akan menyekolahkannya di tempat Anda mengajar! Aku ingin anakku kelak
bisa seperti Anda. Memperjuangkan sebuah harapan yang memang patut
diperjuangkan.”
Sekali lagi aku tersenyum.
Seluruh tubuhku masih lemah, mau berbicara saja serasa masih berat.
”Berapa hari aku tidak
siuman, Dokter?”
Dokter itu tidak menjawab,
dia berjalan ke rak meja di dekat ranjang. Mengambil lipatan kertas, koran. Dia
mengulurkan koran itu padaku, ”Sejak sehari sebelum koran ini beredar.”
Aku menerima koran itu.
Kulihat bagian atas koran, tanggal 2 Februari, ”Sekarang tanggal berapa, Pak?”
”Tanggal 4 Februari, Pak
Arif.”
Masya Allah! Tiga
hari penuh aku tak sadarkan diri. Aku ingat pelajaran dari Pak Lukman, bahwa
shalat yang tertinggal karena pingsan tidak diganti, yang diganti adalah karena
terlalai atau tertidur. Jadi aku mengganti shalatku yang terakhir ini saja.
”Bisakah membantu saya, Dok?”
”Dengan senang hati Pak
Arif, Anda membutuhkan apa?”
”Saya minta sedikit air,
untuk wudhu.”
Dokter itu langsung menuju
kamar kecil di ruangan itu, membawa air, setengah ember kecil. Aku berwudhu
dengannya, dokter paham, dia undur diri dan membiarkanku untuk shalat.
Allah! Setelah semua yang terjadi. Kuhamparkan jiwa
dan hatiku, untuk-Mu. Rukuk dan sujudku hanya menganguk-anggukkan kepalaku,
nikmat rasanya kala shalat. Rasa sakit seolah hilang, berganti ketenangan.
Hembusan bau obat-obat menyengat pun tak ada. Yang ada hanya ketenangan.
* * *
Aku membuka-buka koran
yang tadi diberikan Pak Sandi, kubaca sekilas dari nama di atas saku baju
dinasnya. Aku membaca koran itu acak. Kucoba urutkan, dari depan dulu. Mataku
terbelalak melihat headline, aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mengucek
mataku berulang-ulang. Tak terima lagi, kini, kugoyang-goyangkan koran baris
pertama itu ke kiri dan kanan. Siapa tahu bukan mataku yang salah, tapi koran
itu seperti fatamorgana di padang pasir.
Amboi! Ini sungguhan. Di
halaman pertama itu tertulis:
Pahlawan Desa Cahaya
Penyelamat Aset Negara, Membongkar Penjualan Narkoba
Bukan sekilas bagiku
tulisan itu biasa, masalahnya adalah di bawah tulisan itu terpampang foto
berukuran 3R atau lebih, gambarku tengah memukul lelaki brewok berlencana burung
gagak di pundaknya. Berarti saat penduduk desa datang ke hutan beramai-ramai,
ada juga wartawan yang ikut.
Aku baca berita itu, si
Brewok ketua Gagak Hitam diancam vonis hukuman mati. Kejahatannya sangat banyak
dan merupakan buronan yang dicari di seluruh Indonesia. Perampokan sejak
puluhan tahun, ternyata ketua Gagak Hitam dijabat turun-temurun, dan kelompok
ini selalu ganti ketua jika sang ketua sudah merasa tak sanggup lagi atau
meninggal.
Kejahatan mereka di antaranya
adalah melakukan penculikan untuk dipekerjakan secara paksa di hutan lindung. Setelah
kejadian penangkapan itu, banyak tawanan yang dibebaskan dari dalam markas besar
Gagak Hitam, di antaranya banyak penduduk desa Cahaya. Selain itu, Gagak Hitam
juga melakukan transaksi jual-beli narkoba dalam jumlah besar kepada para
mafia, penebangan hutan secara liar, juga pelanggaran besar karena membunuh
hewan-hewan langka untuk dijual kulit, gading, dan lain sebagainya. Kejahatan
mereka masih banyak selain itu.
Belum habis aku membaca,
seorang wanita dengan baju serba putih masuk ruangan. Senyumnya begitu cerah
kala mengucapkan salam, jilbabnya berwarna hijau muda, cerah dengan warna putih
bajunya.
”Pak Arif, insya Allah
besok sudah diizinkan pulang,” Ani tersenyum dan duduk di dekatku, ”Siap-siap
saja jadi publik figur.”
”Maksud, Bu Ani?”
”Kau sudah baca koran itu,
kan?”
”Tak akan dibaca orang,
hanya koran lokal saja.”
”Kau salah, Pak Arif,
koran-koran nasional telah ambil bagian dalam berita ini. Stasiun televisi
nasional juga menayangkannya, beberapa wartawan kemarin sempat menunggu Anda
sembuh untuk wawancara.”
”Benarkah?”
”Benar!’ seorang laki-laki
berbaju putih masuk, dia Pak Sandi, dia duduk di dekat Ani, ”Besok pagi Anda
boleh pulang, dan kembalilah berjuang di desa Cahaya, mereka menunggu Anda,”
senyumnya mirip sekali dengan Ani jika kuperhatikan saksama. Mereka jodoh
mungkin, sama-sama orang kesehatan.
”Oya, ada satu yang
terlupa tidak diungkap dalam berita. Sebenarnya apa isi harta karun yang berada
di Gobang Pelot itu?” aku menatap Ani.
”Tak ada yang tahu,
kuncinya pun hilang setelah penangkapan Gagak Hitam itu.”
”Seingatku, terakhir kali.
Akulah yang memegangnya.”
”Apakah ini, Pak Arif?” Pak
Sandi mengambil sesuatu dari saku celananya, diangkat ke atas, kalung berbandul
silinder warna biru mengilat. Dia memberikannya padaku, kuambil.
”Kusembunyikan dari dalam
sakumu, saat aku mengeluarkan peluru di punggungmu.”
”Sebenarnya Anda siapa, Pak
Sandi? Aku belum mengenal Anda.”
”Dia adalah dokter Sandi
Aulia, ketika dia tahu engkau dirawat di sini. Dialah yang meminta pihak Rumah
Sakit untuk dapat bertanggung jawab penuh dalam semua pengobatanmu, Pak Arif,
dia dokter yang hebat!” kurasa, keterangan Bu Ani tentang Pak Sandi adalah
indikasi kekaguman mendalam, benar-benar jodoh mungkin.
”Kalian sangat serasi.”
Aku tak sadar, kata-kata
itu meluncur begitu saja. Kedua orang yang duduk di hadapanku itu melotot tajam
ke arahku, lalu saling berpandangan, menatap aku lagi. Aku salah bicara?
Pak Sandi tertawa lepas,
sedangkan Ani tertawa lirih ditutup dengan kedua telapak tangannya yang putih.
”Kau sungguh lucu, Pak
Arif, kepahlawananmu melegenda, tapi kau sungguh lucu!” Pak Sandi meneruskan
tawanya.
”Apanya yang lucu?” aku
heran.
”Pak Sandi adalah kakak
kandungku,” Ani berkata sambil tersenyum. Pantas saja.
”Setelah ini, Kakakku akan
pulang kembali ke Desa Cahaya, membuka klinik sendiri. Itu semua karenamu Pak
Arif, karena perjuanganmu! Kau yang bukan dilahirkan di desa Cahaya memiliki
mimpi besar untuk mengubah desa menjadi maju,” Ani menambahi.
”Benar Pak Arif, kaulah
pahlawan desa Cahaya. Idealismeku dulu pernah hilang ketika melihat kondisi
Desa yang terpuruk, aku pergi mendaftar di sini,” Pak Sandi menepuk pundakku,
”Aku akan kembali ke desa Cahaya, untuk mengabdi dan berjuang bersamamu,”
senyumnya adalah senyum persahabatan, senyum sebuah mimpi yang bertemu harapan.
Not Comments Yet "Bagian 50, Aku Kembali Untuk Mengabdi"
Posting Komentar