Malam itu, aku duduk di
depan Pak Lukman bersama Kang Mukhlis, Pak Yusuf dan Syahid. Mendengarkan
wejangan ilmu Pak Lukman, mereka baru tahu setelah kuceritakan tentang cerita Pak
Lukman bahwa beliau khatam al-Qur`an, dan banyak mempelajari hadis. Maka, malam
ini untuk kesekian kalinya kami belajar agama padanya.
”Seperti inilah Islam
sesungguhnya, dia adalah sistem yang syamil, menyeluruh. Mencakup
seluruh aspek kehidupan, tak ada yang tidak diatur dalam agama ini. Maka dialah
negara dan tanah air, dia adalah ilmu pengetahuan dan hukum, dia adalah ekonomi
dan politik. Tak ada yang tertinggal dalam Islam.
Jangan sampai manusia
berkata, Islam hanya berada di dalam masjid. Dan dalam kehidupan dia akan
bekerja sehendaknya saja. Pemisahan antara ibadah dan kehidupan tidak dikenal
dalam Islam, dan memang tak diajarkan dalam Islam. Karena Islam adalah satu
kesatuan yang utuh, ajarannya saling melengkapi. Pemisahan ini sering terjadi. Manusia
sering terlihat beribadah seolah ahli ibadah, di saat lain melakukan maksiat,
seolah ahli maksiat.
Ini adalah kesalahan
fatal.
Kubuat sebuah permisalan,
ada manusia baik ibadahnya tapi buruk perangainya, dan ada manusia yang buruk
ibadahnya tapi sosialnya baik. Kedua contoh ini, tak ada dari ajaran Islam.
Islam seperti dua mata uang logam, saling melengkapi. Jika satu sisi tak ada,
maka satu sisi juga tak akan ada.”
Kajian selesai, banyak
yang kami pelajari. Seandainya semua masyarakat desa Cahaya mendengarkan nasihat-nasihat
Pak Lukman, mungkin mereka akan sadar. Kuingat, pemuda desa Cahaya lebih sering
nongkrong di perempatan, mereka tertawa-tawa sambil menenggak minuman keras.
Selain itu, banyak remaja tanggung yang masih sekolah menengah pertama sudah
berpacaran melebihi batas. Walau aku belum paham agama seujung kuku pun, aku
risih melihat kemaksiatan yang telah jauh merambah hingga desa Cahaya.
Seperti kata Pak Lukman,
hidup hanyalah numpang minum, menimba bekal untuk keabadian di akhirat. Aduh!
Kini bicaraku penuh makna, Kawan, tak ada salahnya kamu juga sering mengaji,
kau akan menemukan ketenangan sesungguhnya, kala zikir kita bertalu-talu, membumbung
ke angkasa, hingga sampai ke haribaan Allah.
Desa Cahaya, bisa saja
bagian dari azab Allah, karena kemiskinan dan kebodohan merajalela. Karena
cahaya sesungguhnya hanya akan diterima oleh orang yang bersih jiwa dan raganya dari maksiat.
Sedangkan desa Cahaya memang terhimpit khurafat, kebobrokan moral, desa ini
mengalami degradasi akhlak. Kawan, apakah aku sok bicara arif sekarang, seperti
namaku. Ah! Moga kau mengerti, ilmu ini kudapatkan dari pria buta, berbalut
kulit saja, tapi ilmunya sungguh dalam, rasionalitasnya susah dibantah,
penjelasannya ilmiah. Belajar dari mana dia?
Aku berbincang dengan Pak
Yusuf dan Kang Mukhlis di depan masjid, mereka semua setuju. Desa Cahaya harus
bercahaya dengan cahaya iman, hilang khurafat dan animisme. Maka kami membuat
makar, menyiasati masyarakat agar mau mengaji, dengan Pak Lukman tentunya,
karena ilmu kami belum seberapa. Tapi, ilmu Pak Yusuf lumayan, dia lancar
membaca Qur`an, aku masih patah-patah.
Esoknya, kami mendatangi Pak
Danu, beliau antusias dan ingin mengaji pula. Begitu pun Pak Lurah, saat di sana,
Indah keluar membawakan minuman.
”Indah mulai bulan depan
akan melanjutkan kuliahnya. Niatnya dulu, untuk berhenti kuliah dibatalkan. Dia
ingin menjadi sarjana, untuk mengabdi di Desa Cahaya lagi. Dia sadar, kau yang
bukan bagian dari desa ini begitu banyak berbuat, sedangkan dia yang lahir di sini,
kenapa berputus asa.”
”Ayah!” Indah tersipu
malu.
Aku tersenyum. Bahkan, Pak
Karta, Isterinya serta Indah akan ikut mengaji pula.
Rencana awal berhasil,
rencana terakhir, kami minta izin pada Pak Lukman untuk bersedia mengajarkan
agama kepada masyarakat desa Cahaya. Pak Lukman sedikit ragu, apa masyarakat
mau belajar kepada orang buta yang selama ini mereka beri makan? Kami katakan
bahwa itu urusan kami, tugas Pak Lukman mengajarkan agama. Akhirnya setelah
kami bujuk terus dia bersedia.
Setiap rumah kami undangi,
mengaji, termasuk rumah-rumah Geng Sar. Preman-preman juga layak bertobat, Kawan?
Seharian menyebarkan undangan, aku dan Pak Yusuf kelelahan juga, saat itu Bu
Siska datang, membawa dua gelas teh untuk kami. Kami memang menjadikan masjid
sebagai base camp, proyek dakwah ini.
”Terima kasih, Bu Siska,”
aku keduluan Pak Yusuf.
”Iya, Pak Yusuf,” aku
melihat senyum mereka, mereka memang cocok, pasangan serasi. Tiba-tiba hatiku
seolah terluka, apakah aku cemburu, Kawan? Bu Siska pamitan, aku tak sempat
mengucapkan terima kasih.
Sambil ngobrol, Pak Yusuf
menyeruput hingga habis tehnya. Dia pamitan, katanya ada perlu. Aku masih di
depan masjid, teh masih kupegang alas cangkirnya, belum kuminum. Hatiku masih
melayang, Kawan, entahlah.
Aku menyeruput pelan teh
itu, manis, hingga tiba-tiba wajah Bu Siska terbayang. Ah! Kutepis segera.
Siapalah aku ini?
”Kenapa, Pak Arif? Hatimu
seolah gundah?” Pak Lukman berjalan mendekatiku.
”Tidak, Pak! Bapak mau
teh?”
Aku memberikan teh itu
pada Pak Lukman, ”Habiskan ya, Pak, walau tadi sedikit kucoba. Aku pamit dulu,
harus mengantarkan telur-telur, insya Allah besok kajiannya.”
”Baiklah anak muda,”
lelaki buta itu tersenyum, jenggotnya kemerah-merahan.
Aku pun tersenyum padanya,
walau dia tak bisa melihat, kurasa hatinya tajam menangkap senyumku.
Kajian pertama dijadwalkan
sore. Tak banyak yang datang, hanya sekitar sepuluh orang; ada Indah, Ani pak
Lurah dan Pak Danu serta dua orang warga desa, ditambah grup pengumpul. Kami
takut Pak Lukman kecewa.
”Tak apa, ini sudah banyak
anak muda!” seolah dia tahu, tanpa kami memberi penjelasan, ”Sesuatu yang
besar, bermula dari yang kecil. Seperti mimpi yang kau ajarkan, Pak Arif.”
Benar saja, semakin hari,
semakin bertambah, hingga lama-lama, desa Cahaya mulai bersinar. Mushala yang
dulu mati, kini hidup lagi untuk shalat dan mengaji. Seminggu sekali, mereka
berkumpul di masjid mendengarkan petuah agama dari seorang tua lagi buta.
Aku merasakan kebodohan
desa Cahaya akan segera berakhir, khurafat akan mulai sirna, semoga, Kawan, amiin.
Not Comments Yet "Bagian 38, Cahaya Belajar Agama"
Posting Komentar