Kentongan berbunyi,
bertalu-talu di seantaro penjuru desa Cahaya, pengeras suara di Masjid an-Nur dan
mushala lain menyebarkan berita bahwa rapat kilat segera harus datang ke
lapangan Sekolah Cahaya.
Hari ini, dalam sejarah
mukimku di desa Cahaya, suasana paling mencekam, hening. Seluruh penduduk desa
Cahaya, walau tak semuanya, ini adalah majelis terbesar desa Cahaya yang pernah
ada; melebihi acara pelajaran mimpi yang diadakan Sekolah Cahaya, melebihi
acara launching mesin impian Hasan, melebihi majelis sewaktu Bu Ria
pulang dari rumah sakit, melebihi perhelatan akbar saat pertandingan final
sepak bola yang dimenangkan Sekolah Cahaya.
Ajaibnya, di perkumpulan
ini tak ada penduduk desa Cahaya yang berani bersuara, semuanya terdiam, saling
menatap penasaran. Kurasa informasi sudah
menyebar sebenarnya, tapi wajah-wajah itu adalah wajah-wajah ketakutan
kawan. Kau harus bisa membedakan mana wajah ketakutan dan antusias. Sangat
beda.
Pak Lurah, dia berdiri di
tengah-tengah manusia yang berjubel mengeliling. Wajah Pak Karta itu,
berkeliling, berkeliling lagi, wajahnya beda dengan biasanya, terlihat keras.
Baru kali ini, kulihat wajah itu ditampakkannya, mungkin jika kuboleh menerka,
itu adalah wajah seorang ksatria, wajah yang siap bertempur, wajah yang menunjukkan
bahwa tatapannya melindungi.
”Kalian tahu Saudara-saudaraku!
Desa Cahaya terancam kembali. Gagak Hitam telah kembali!”
Belum lanjut suara keluar
dari bibir Pak Karta, beberapa ibu-ibu menjerit, ada yang histeris dan terjatuh
ke tanah, beberapa orang menenangkannya. Kurasa itu adalah ketakutan tak wajar,
aku belum tahu banyak tentang organisasi Gagak Hitam itu, tapi kenapa mendengar
namanya saja telah membuat wajah-wajah mereka merunduk?
”Mereka telah menculik
Fitri! Cucu dari mendiang Haji Mustaqim!” semua masih diam, ”Saya mengumpulkan
kalian di sini karena ini adalah masalah yang genting, saya ingin mengetahui
apa pendapat dan tanggapan kalian semua, apa yang harus kita lakukan?”
Pak Danu mengangkat
tangannya, ”Kita harus lapor polisi secepatnya.”
Satu pertimbangan, lapor
polisi memang penting tapi waktu untuk menju Kecamatan membutuhkan waktu agak
lama, belum identifikasi laporan, saksi-saksi dan sebagainya, sedangkan Fitri
dalam bahaya dan harus diselamatkan segera.
”Benar! Akan ada yang
bertugas melapor Polisi, ada usul lainnya?”
Sepi. Tak ada, tapi
seseorang menyeruak masuk, memaksa masuk ke dalam lingkaran besar itu, tubuh
wanita itu, terus merangsek mendekati Pak Lurah sambil terengah-engah.
”Ada apa, Indah?”
”Bu Siska hilang!”
Bagai petir menyambar di
siang hari, aku kaget, Pak Lurah kaget, seluruh manusia di sana saling pandang.
Terdengar bisik-bisik ramai tak jelas, Pak Lurah menenangkan dirinya lalu
mengangkat tangan kanannya. Semua warga desa melihat Pak Lurah.
Semuanya terdiam lama,
tertunduk seolah pasrah. Apakah aku akan diam saja? Tidak! Aku maju melangkah,
menguak barisan, aku masuk di tengah. Berdiri di hadapan Pak Karta. Pak Karta
mengangguk.
”Kita tak punya waktu
banyak Saudara-saudaraku! Desa Cahaya membutuhkan pasukan pemberani, menerjang
terjal hutan! Melewati sungai-sungai! Melawan ketakutannya, masuk dengan gagah
sebagai pahlawan, dan membebaskan Fitri di dalam hutan sana!” tanganku menuding
hutan lindung.
”Tak peduli, apa pun
ketakutan kita! Desa Cahaya hanya membutuhkan pasukan pemberaninya! Sekarang,
sekaranglah waktunya! Siapa yang akan masuk menjadi barisan pasukan pemberani
itu!”
Semuanya terdiam, bahkan, Kang
Mukhlis yang kukira menjadi orang yang pertama kali maju hanya terdiam
memandangku. Apa? Kenapa untuk hal sebesar ini, jawara desa pun tak
ambil bagian. Lima belas menit sudah, tak ada yang maju sedikit pun.
”Mana pasukan pemberani
desa Cahaya!” aku berteriak, seolah habis sudah suaraku.
”Aku!”
Seluruh suara tertuju pada
asal suara itu, ya! Air mataku hampir menetes, suara itu kecil, dari orang yang
kecil, tapi mempunyai jiwa besar. Dia Syahid. Dia maju mendekatiku dan berdiri
di samping kananku, semua mata melihatnya.
”Kau tak boleh ikut, Anakku!”
suara tegas dari Kang Mukhlis.
”Untuk kali ini, Ayah, aku
tak bisa memenuhi permintaanmu,” suara Syahid lebih tegas, Kang Mukhlis tak
bisa berucap lagi.
”Satu orang! Siapa lagi!”
”Aku.”
Kembali, semua orang
terheran. Suara itu berasal dari sebelahku, dialah Pak Lurah dan dia berbaris
di sebelah kiriku. Aku mencoba menegarkan diriku, mereka adalah orang-orang
hebat, aku tak akan pernah menyesal jika seandainya, aku hilang dalam tugas
ini, seandainya aku gugur dalam tugas ini, aku tak akan menyesal, Kawan.
”Siapa lagi,” kini,
suaraku pelan, tak sekeras pertama tadi.
”Aku, Pak!” seorang yang
sekitar dua tahun di bawah usiaku maju, berbaris di pinggir, sebelah Syahid.
Dia memanggilku, Kang? Apa ini pertanda bahwa dia telah memakai simbol bela
diri? Simbol siap bertarung? Dia adalah Yanto, seorang yang memang telah
kutunjuk nantinya menjadi pemandu jalan, sekaligus menggunakan penciumannya
yang tajam.
”Kuhitung hingga tiga,
jika tak ada. Maka, inilah sisa pasukan pemberani yang dimiliki desa Cahaya!
Jikalau kami hilang di hutan sana, kalianlah yang harus meneruskan perjuangan
desa!”
Aku menghitung sangat
pelan, hingga hitungan ketiga yang jaraknya kubuat jauh. Tak ada lagi yang mengatakan ”Aku” atau maju ke depan.
Maka, inilah pasukan pemberani yang akan menerjang hutan, melakukan misi
penyelamatan. Sedangkan, kami juga belum tahu, Bu Siska hilang ke mana. Praduga
sementara, Bu Siska pun masuk menerjang hutan. Karena kami tahu, Fitri adalah
satu-satunya keluarga, satu-satunya harapan bagi hidup Bu Siska.
Kami melangkah pergi, aku
adalah ketua rombongan untuk hal ini. Pak Lurah menepuk pundak Pak Danu, aku
seolah merasakan arti tepukan itu, ’Carilah bantuan,’ lalu berlalu. Kami
melangkah ke perbatasan hutan lindung. Aku berpikir bahwa Bu Siska, jika ingin
ke hutan lindung pasti akan masuk lewat gerbang pengamanan hutan lindung, dan
meminta izin kepada petugas keamanan yang menjaga. Maka, kami mengecek ke sana.
Penduduk desa Cahaya melihat kami pergi, kulihat semangat sebenarnya, tapi
kurasa mereka sedang melawan ketidakberdayaan. Kami adalah korban eksperimen.
Sampai di gerbang masuk
hutan lindung, di sana terdapat dua petugas penjaga. Kami heran melihat tiga
orang besar, duduk di dalam ruang pos, televisi 14 inci memancarkan acara dari
salah satu stasiun televisi. Tiga orang itu adalah dukun Ki Marmo, wajahnya
telah sewot ketika melihatku. Dua orang lagi adalah seorang berpangkat
tertinggi di pos penjaga hutan lindung, satunya adalah kepala kepolisian di
perbatasan desa Cahaya, dengan desa sebelah timur yang dipotong bulak
yang lumayan panjang. Seringnya kejahatan yang terjadi di bulak itu,
maka ditempatkan kesatuan pos polisi di sana.
Kami bertanya pada dua
penjaga gerbang tentang Bu Siska, dua orang itu saling pandang dan menggeleng,
”Tidak ada yang lewat masuk, apalagi wanita.” Pak Lurah, mengomandoi kami
bersalaman dengan ketiga pembesar yang duduk di pos, sedikit
berbincang-bincang, tapi tak ada yang menyinggung tentang keributan di desa
Cahaya. Kami pamitan akhirnya.
Dalam perjalanan.
”Kau ketuanya kini Pak
Arif, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Aku berpikir sejenak.
”Ada yang aneh!” suara
Yanto.
”Apa, Yan?” semoga analisa
Yanto kali ini dapat menjadi rujukan untuk bergerak selanjutnya.
”Aku mencium bau Bu Siska,
melewati gerbang hutan lindung beberapa jam yang lalu. Tapi, mengapa mereka tak
mengaku? Apa penciumanku salah?”
”Bau?” kulihat Pak Lurah
dan Syahid membelalakkan matanya, aku tak kaget melihatnya. Itulah reaksi
pertamaku, melihat kejeniusan lain dari sisi Yanto; daya penciuman yang tajam.
Bravo!
”Kita masuk hutan sekarang
juga!”
”Bagaimana caranya, Pak?”
Syahid bertanya penasaran.
”Iya, bagaimana?” Pak Lurah
menimpali.
Aku tersenyum, ”Yan, ayo
kita tunjukkan pada mereka, jalan yang belum pernah terjamah. Jalan menuju
pembebasan, dan Yanto mengangguk mantap.
Memoar Juang
Rehat kawan,
Musim dapat berganti,
Hatipun bisa berubah
Tapi untuk hidup, hanya
Dimenangkan oleh orang
yang berani
Not Comments Yet "Bagian 44, Pasukan Pemberani"
Posting Komentar