Matahari kembali berpijar,
aku dan Yanto tertatih menyusuri belantara hutan. Kakiku mulai tak gemetaran
lagi, kejadian dengan harimau tadi malam masih terekam jelas, aku bagai pemain
sirkus. Tak lepas-lepasnya, berulang kali, Yanto memujiku, mempunyai pembawaan
penjinak harimau.
Aku jelaskan padanya, itu
semuanya hanyalah kehendak Allah semata, Dia mengutus harimau itu untuk menyelamatkan
kita.
Kami meneruskan
perjalanan, tak banyak waktu jika terlalu lama di dalam hutan. Kita terancam
bahaya lebih besar, selain persediaan makanan tak ada, binatang buas selalu
tampak berkeliaran. Harusnya, hutan ini dijaga dengan baik. Kami menyusuri
jalan, melewati terjal tebing-tebing. Aku tak usah risau, ada pemandu paling
pintar untuk urusan hutan lindung. Aku tinggal mengikutinya saja.
”Kenapa bau manusia
menyeruak demikian banyak.”
”Benarkah, Yan?”
”Tak salah.”
”Ayo!” langkah Yanto
semakin cepat, aku membuntutinya demikian cepat, tujuan kami adalah tebing.
Melihat keadaan Pak Lurah, Syahid, terutama Bu Siska. Aku menabrak punggung
Yanto, dia berhenti mendadak.
”Ada apa?”
”Lewat jalan memutar, di
depan sana, persis segerombolan manusia demikian banyak.”
Aku manut lagi,
memutar, kakiku pasti ngilu-ngilu kawan. Kakiku benar-benar telah lemah,
naik-turun bukit terus, tapi, hebat benar kaki Yanto, seolah main selancar saja
di atas lautan. Dia tetap bugar. Kupaksakan mempercepat langkahku, memaksanya
agar bisa bertahan, karena hidup perlu diperjuangkan juga, tidak hanya mimpi.
Akhirnya kami sampai, di
tempat persembunyian Bu Siska dan yang lainnya. Mereka masih bertahan di sana,
aku berucap syukur dalam hati. Kami terengah-engah mendekati mereka.
”Untuk kalian masih di
sini, kami tidak perlu mencari ke mana-mana.”
”Tentu saja kami di sini,
kami patuhi aba-abamu, Pak Arif,” Pak Lurah menatapku, dia benar-benar
memercayaiku sedemikian rupa?
Kulihat semburat dingin di
wajah Bu Siska, kuberikan bajuku padanya. Dia memakainya, ”Kami sempat berantem
dengan beberapa anggota Gagak Hitam tadi malam, untung kita selamat.”
Tak berapa lama, reuni
itu. Seorang yang memakai lencana di pundak kanannya, lencana patung Gagak
Hitam kecil, seperti jabatan militer, keluar dari gerbang diikuti yang lainnya.
Dia memegang sebuah tali, yang mengikat Fitri, dia diseret. Kasihan, tapi apa
yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya.
”Bagaimana…”
Aku melongo, Bu Siska
telah hilang. Kali ini, dia berlari sudah jauh dari kami. Dan sialnya, para
anggota Gagak Hitam telah melihatnya, jadilah mereka menangkap Bu Siska, Bu
Siska meronta dan diajak mendekati adiknya. Terjadi percakapan antara Bu Siska
dan lelaki berlencana gagak itu. Aku tak tahu mereka sedang membicarakan apa,
tapi pastinya berhubungan dengan kunci yang mereka cari.
Saat mata kami berempat
mulai saling tatap, menyamakan isyarat dan strategi. Seseorang berlari demikian
kencang dari arah Gobang Pelot, aduh! Kenapa Pak Yusuf! Tanpa persiapan
strategi, sama saja bunuh diri. Kenapa kau Pak Yusuf, kenapa kau demikian
bodoh?
Pak Yusuf berlari
mendekat, dia dicekal paksa. Dia berteriak, ’Lepaskan Bu Siska, lepaskan Fitri!
Mereka tak tahu apa-apa!”
”Kenapa Pak Yusuf demikian
sembrono?”
”Itulah kekuatan cinta, Pak
Arif,” suara itu pelan, dari Pak Lurah.
Kekuatan cinta?
Aku tak bisa meneruskan
kata-kataku, aku tertegun oleh kata-kata Pak Lurah. Benarkah kekuatan cinta
membuat orang cerdas menjadi bodoh? Tapi lihatlah faktanya, apakah cinta juga
harus ikut dipersalahkan? Ah! Bukan itu yang kumaksud. Tapi, aku baru sadar
sekarang. Pak Yusuf, dia mencintai Bu Siska, dia mencintai Bu Siska. Kata–kata
itu terngiang bagaikan bisikan malaikat yang membisikkan kebaikan-kebaikan.
”Serahkan kunci itu
sekarang! Atau laki-laki ini mati!” suara lelaki berlencana burung gagak itu
teramat keras, mungkin kesabarannya telah hilang.
”Cepat!”
”Door!” satu tembakan,
tepat ke arah tubuh Pak Yusuf, jeritannya menyayat terdengar hingga tempatku
bersembunyi.
”Sial! Kalian tetap di
sini, aku akan mengecoh mereka.”
”Tapi, Pak?” wajah Syahid
menatapku, ”Aku ikut? Jika kita mati, maka kita akan selalu bersama, Pak.”
Aku mengelus rambutnya,
”Hid, harapanmu masih panjang. Aku akan merasa berdosa jika kau terluka,
percayalah padaku,” Syahid menubrukku, aku memeluknya sejenak, dan kulepas
lagi.
”Yan, jika ada apa-apa,
bawa yang tersisa pergi menyelamatkan diri. Kau paham?”
Yanto mengangguk sambil
memelukku, seperti mau pergi jauh saja. Tapi tak apalah. Aku menatap Pak Lurah,
dia mengangguk, aku tak perlu berbasa-basi lagi.
Aku berlari ke arah lain,
seperti planning B kemarin. Aku mengendap-endap, semua konsentrasi tertuju pada
ketiga tawanan, sehingga pengamanan lemah. Aku lebih leluasa bergerak.
”Cepat katakan! Aku sudah
tidak sabar lagi!” lelaki itu hendak menarik lagi pelatuknya.
”Plok! Plok! Plok!” aku
bertepuk tangan keras, sambil langkahku pelan melangkah menuruni tebing. Aku
sudah kehabisan ide, tak ada lagi, maka jika terakhir sudah. Nekatlah rumusnya.
Semua mata tertuju ke arahku,
”Hebat! Hebat!” beberapa orang dari mereka melihatku, mereka ketakutan dari
raut wajahnya.
”Dia masih hidup?”
”Apa maksudmu? Si lelaki
berlencana, brewok dan kumisnya lebat, wajahnya terlihat jelas olehku kini.
”Dia adalah orang yang
berhadapan dengan harimau semalam, Bos!”
”Hemm.., siapa kau
sebenarnya, Anak muda?” dia menatapku tajam, tapi juga menaruh simpati padaku,
kugunakan kesempatan yang ada. Biasanya kesempatan datang ketika kita berani
melangkah. Kucoba hilangkan ketegangan, aku coba santai, walau terlihat
dibuat-buat.
”Saya Arif, Arif Maulana.
Semoga Anda ingat baik-baik nama saya.”
”Jadi kau pengacau yang
selalu mengganggu di desa Cahaya? Pahlawan kesiangan itu? Ternyata besar juga
nyalimu, Anak muda! Jika aku mau, kubunuh sekarang tak akan ada yang pernah
mengenalmu lagi!”
”Bukankah kau mencari
kunci pembuka Gobang Pelot itu? Aku tahu di mana kunci itu.”
”Benarkah?” kulihat
matanya membulat.
”Jangan serahkan pada
mereka, Pak Arif! Jangan!” Bu Siska berteriak demikian keras. Aduh! Kenapa dia
tidak memahami kalau ini rekayasa? Jika mereka tahu kunci itu ada padaku,
mereka akan…”
Tak habis pikiranku
berputar, si Lelaki berlencana burung gagak memberi isyarat agar menangkapku.
Sudahlah! Habis sudah ideku kini. Aku tak berontak saat dicekal paksa, kantong
celanaku digeledah, mereka menemukan kalung silinder berwarna biru mengilat
itu.
Lelaki berlencana itu
tertawa terbahak-bahak, dia mendekatiku dan menendang sesukanya di dadaku,
hingga aku terjengkang ke belakang. Dia menginjakku sambil tertawa keras, bagai
petir saja, telingaku seolah lepas.
Sedetik kemudian dia diam.
Dia memutar-mutar bandul kalung itu. Aku tahu!
”Ha...ha...ha..” aku
tertawa lepas.
”Kenapa tertawa bodoh!”
”Kau pasti tak bisa
menggerakkan bandul itu, hanya aku yang tahu rumusnya,” aku kembali tertawa.
”Sial!” dia mencekikku,
memelintir kausku dan aku dipaksanya berdiri, ”Cepat beritahukan caranya! Aku
bisa gila! Aku akan membagi harta itu denganmu, bagaimana?”
”Tawaran menggiurkan, aku
tak butuh itu.”
”Lalu apa? Katakan!”
”Bebaskan mereka bertiga,
biarkan mereka pergi. Aku berjanji akan memberitahukan caranya pada kalian!”
”Baiklah, lepaskan
mereka!”
”Cepat kalian pergi!” aku
berpura-pura marah pada mereka, tak menatap mereka,”Cepat pergi!” suaraku
menggelegar. Bu Siska menuntun Fitri, dan memapah Pak Yusuf, kulirik sejenak ke
arah mereka pergi. Kulihat terakhir sorot mata lentik berwarna anggur itu, aku
tersenyum, mungkin ini senyum terakhirku.
Mereka telah menghilang
dari balik pepohonan, ”Kau harus janji! Tak akan mengganggu mereka lagi!”
”Baiklah. Pegang janjiku.”
Aku mendekati Gobang Pelot,
kubuka kunci itu, mereka takjub melihat silinder itu bisa membentuk gerigi
delapan. Belum sempat kumasukkan, lelaki berlencana burung gagak di pundaknya
itu merebut paksa kunci.
Gerakanku lebih cepat
darinya, aku mengambil pistol dan mengarahkan ke keningnya, menarik pelat di
belakangnya, siap menembak. Dia gemetaran.
”Jangan ada yang
macam-macam, atau akan kuledakkan kepalanya!” aku memegang kerah belakangnya,
kutodongkan pistol di belakang kepalanya.
”Kau pikir kau hebat, Pak Guru?”
”Jangan bertingkah!” aku
menakut-nakutinya.
”Pistol itu telah habis
isinya, hanya satu, habis ketika menembak tadi,” aku kini gemetaran. Lelaki
berlencana berbalik, mencoba memukulku, aku mengelak ke bawah, kurebut
secepatnya kunci yang berada di tangannya.
”Door!” punggungku terasa
panas, ada aliran hangat yang mengalir rasanya di punggungku. Aku tak memedulikannya,
aku terus bergelut dengan si Brewok.
Dapat! Namun, sebuah
tendangan mendarat tepat di pelipisku. Aku terjengkang, beberapa orang mendekatiku,
terjadilah perkelahian tak seimbang, aku mati-matian melawan, hilang sudah
jurus-jurus yang kupelajari, tersisa refleks gerakan; menghindar, mematahkan,
mematikan langsung tanpa belas kasihan. Beberapa kali aku kena pukul.
”Hebat! Hebat! seorang pahlawan
sedang sendirian melawan begitu banyak penjahat” suara Pak Lurah, dia turun
dari tebing.
”Plok! Plok!” suara
tepukan, semua mata tertuju pada anak kecil dari arah tebing yang berbeda, dia
Syahid.
”Hoe! Aku ikutan!” seorang
lelaki dari tebing yang lain lagi, Yanto.
”Aku juga!” kali ini suara
itu tegas, dia... dia Kang Mukhlis!
”Rupanya sang jawara
berani kembali! Sudah kuselamatkan hidup anakmu, kini! Kau mau menantang lagi!
Apa tidak kapok kubantai isterimu! Ha!” lelaki berlencana gagak itu berteriak
garang.
”Aku bukan pengecut lagi,
Brewok! Anakkulah yang mengajariku kembali menjadi pemberani!”
Kulihat Syahid tersenyum,
aku mengusap darah yang menetes di bibirku, perih.
”Cuma segini! Kalian akan
mati semuanya, ha...ha...”
”Kamu salah penjahat!” suara
itu, Pak Danu, orang tua seperti dia masih kuat memasuki hutan belantara? Demi
sebuah harapan pastinya.
”Kami tidak sendiri!”
seorang lain lagi dari tebing-tebing yang lain, satu-satu keluar, seluruh
penduduk cahaya bermunculan satu-persatu. Aku hampir-hampir saja tak kuat
berdiri, aku melihat sinar matahari memasuki celah-celah ranting, menyinariku,
memberiku semacam energi.
Kini, kelompok Gagak Hitam
kebingungan. Penduduk desa berkumpul, membawa tongkat, parang, golok, dan
sebagainya.
”Tenang saja Brewok, bukan
kami yang membereskan kalian! Tapi mereka!” Kang Mukhlis mengacungkan telunjuknya
ke atas. Dua helicopter berputar-putar di angkasa, terdengar menderu-deru,
anginnya kencang sehingga pepohonan terombang-ambing. Beberapa polisi turun
dari tangga tali, senjata lengkap telah diarahkan.
Beberapa mobil polisi juga
datang, ada kesatuan yang berjalan kaki. Seluruh anggota Gagak Hitam mengangkat
tangan tanda menyerah. Aku berjalan lunglai mendekati lelaki brewok yang
memakai lencana gagak di pundaknya, dialah dalang kebodohan desa, wajahnya
menatapku.
”Kubilang namaku Arif,
ingat itu baik-baik!”
”Buk!” sebuah pukulan
tepat mengenai pipinya, cukuplah untuk oleh-oleh kenangan seumur hidupnya, agar
dia selalu ingat namaku.
Seluruh penduduk desa
Cahaya bersorak, bertepuk tangan, melihatku memukul si brewok. Aku berjalan
mendekati Pak Lurah, tiba-tiba semua berputar, terakhir kali kulihat Pak Lurah
dan beberapa orang berlari menangkap tubuhku. Aku pingsan.
Suggestion.
Rehat, Kawan.
Suatu kali, aku bersama seorang
penjual somay. Dagangannya sangat laris, bahkan selama sehari dia bisa kembali
tiga kali ke rumahnya. Somaynya terkenal memiliki rasa yang khas, banyak
penjual somay lain ingin tahu resepnya, tapi dia tak pernah membagi.
Aku membeli somaynya, aku
bertanya resepnya, aku memohon padanya, tak akan membocorkan resep khasnya
kepada siapa pun.
Kukatakan padamu, tapi kau
harus jaga rahasia.
Resepnya adalah ”Nothing!”
Ya! Resepnya tak ada, dia
membuatnya biasa saja. Aku bingung dan bertanya padanya. Dia tersenyum dan
berkata, ”Resepnya adalah keyakinan, saat kau membuat somay itu, yakinkan
dirimu bahwa kue buatanmu itu sangat lezat, tak ada bandingannya.”
Satu pelajaran penting, Kawan.
Jangan remehkan kekuatan ’Keyakinan!’ jika kau yakin
bisa melakukan sesuatu, tujuh lapis langit pun, kan bisa kau lampaui.
Not Comments Yet "Bagian 49, Kekuatan Cinta"
Posting Komentar