Jumat, 08 November 2019

Bagian 49, Kekuatan Cinta


Matahari kembali berpijar, aku dan Yanto tertatih menyusuri belantara hutan. Kakiku mulai tak gemetaran lagi, kejadian dengan harimau tadi malam masih terekam jelas, aku bagai pemain sirkus. Tak lepas-lepasnya, berulang kali, Yanto memujiku, mempunyai pembawaan penjinak harimau.

Aku jelaskan padanya, itu semuanya hanyalah kehendak Allah semata, Dia mengutus harimau itu untuk menyelamatkan kita.

Kami meneruskan perjalanan, tak banyak waktu jika terlalu lama di dalam hutan. Kita terancam bahaya lebih besar, selain persediaan makanan tak ada, binatang buas selalu tampak berkeliaran. Harusnya, hutan ini dijaga dengan baik. Kami menyusuri jalan, melewati terjal tebing-tebing. Aku tak usah risau, ada pemandu paling pintar untuk urusan hutan lindung. Aku tinggal mengikutinya saja.
”Kenapa bau manusia menyeruak demikian banyak.”

”Benarkah, Yan?”
”Tak salah.”

”Ayo!” langkah Yanto semakin cepat, aku membuntutinya demikian cepat, tujuan kami adalah tebing. Melihat keadaan Pak Lurah, Syahid, terutama Bu Siska. Aku menabrak punggung Yanto, dia berhenti mendadak.

”Ada apa?”
”Lewat jalan memutar, di depan sana, persis segerombolan manusia demikian banyak.”

Aku manut lagi, memutar, kakiku pasti ngilu-ngilu kawan. Kakiku benar-benar telah lemah, naik-turun bukit terus, tapi, hebat benar kaki Yanto, seolah main selancar saja di atas lautan. Dia tetap bugar. Kupaksakan mempercepat langkahku, memaksanya agar bisa bertahan, karena hidup perlu diperjuangkan juga, tidak hanya mimpi.

Akhirnya kami sampai, di tempat persembunyian Bu Siska dan yang lainnya. Mereka masih bertahan di sana, aku berucap syukur dalam hati. Kami terengah-engah mendekati mereka.
”Untuk kalian masih di sini, kami tidak perlu mencari ke mana-mana.”

”Tentu saja kami di sini, kami patuhi aba-abamu, Pak Arif,” Pak Lurah menatapku, dia benar-benar memercayaiku sedemikian rupa?

Kulihat semburat dingin di wajah Bu Siska, kuberikan bajuku padanya. Dia memakainya, ”Kami sempat berantem dengan beberapa anggota Gagak Hitam tadi malam, untung kita selamat.”

Tak berapa lama, reuni itu. Seorang yang memakai lencana di pundak kanannya, lencana patung Gagak Hitam kecil, seperti jabatan militer, keluar dari gerbang diikuti yang lainnya. Dia memegang sebuah tali, yang mengikat Fitri, dia diseret. Kasihan, tapi apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya.

”Bagaimana…”

Aku melongo, Bu Siska telah hilang. Kali ini, dia berlari sudah jauh dari kami. Dan sialnya, para anggota Gagak Hitam telah melihatnya, jadilah mereka menangkap Bu Siska, Bu Siska meronta dan diajak mendekati adiknya. Terjadi percakapan antara Bu Siska dan lelaki berlencana gagak itu. Aku tak tahu mereka sedang membicarakan apa, tapi pastinya berhubungan dengan kunci yang mereka cari.

Saat mata kami berempat mulai saling tatap, menyamakan isyarat dan strategi. Seseorang berlari demikian kencang dari arah Gobang Pelot, aduh! Kenapa Pak Yusuf! Tanpa persiapan strategi, sama saja bunuh diri. Kenapa kau Pak Yusuf, kenapa kau demikian bodoh?

Pak Yusuf berlari mendekat, dia dicekal paksa. Dia berteriak, ’Lepaskan Bu Siska, lepaskan Fitri! Mereka tak tahu apa-apa!”
”Kenapa Pak Yusuf demikian sembrono?”

”Itulah kekuatan cinta, Pak Arif,” suara itu pelan, dari Pak Lurah.
Kekuatan cinta?

Aku tak bisa meneruskan kata-kataku, aku tertegun oleh kata-kata Pak Lurah. Benarkah kekuatan cinta membuat orang cerdas menjadi bodoh? Tapi lihatlah faktanya, apakah cinta juga harus ikut dipersalahkan? Ah! Bukan itu yang kumaksud. Tapi, aku baru sadar sekarang. Pak Yusuf, dia mencintai Bu Siska, dia mencintai Bu Siska. Kata–kata itu terngiang bagaikan bisikan malaikat yang membisikkan kebaikan-kebaikan.

”Serahkan kunci itu sekarang! Atau laki-laki ini mati!” suara lelaki berlencana burung gagak itu teramat keras, mungkin kesabarannya telah hilang.

”Cepat!”
”Door!” satu tembakan, tepat ke arah tubuh Pak Yusuf, jeritannya menyayat terdengar hingga tempatku bersembunyi.

”Sial! Kalian tetap di sini, aku akan mengecoh mereka.”
”Tapi, Pak?” wajah Syahid menatapku, ”Aku ikut? Jika kita mati, maka kita akan selalu bersama, Pak.”

Aku mengelus rambutnya, ”Hid, harapanmu masih panjang. Aku akan merasa berdosa jika kau terluka, percayalah padaku,” Syahid menubrukku, aku memeluknya sejenak, dan kulepas lagi.
”Yan, jika ada apa-apa, bawa yang tersisa pergi menyelamatkan diri. Kau paham?”

Yanto mengangguk sambil memelukku, seperti mau pergi jauh saja. Tapi tak apalah. Aku menatap Pak Lurah, dia mengangguk, aku tak perlu berbasa-basi lagi.

Aku berlari ke arah lain, seperti planning B kemarin. Aku mengendap-endap, semua konsentrasi tertuju pada ketiga tawanan, sehingga pengamanan lemah. Aku lebih leluasa bergerak.
”Cepat katakan! Aku sudah tidak sabar lagi!” lelaki itu hendak menarik lagi pelatuknya.

”Plok! Plok! Plok!” aku bertepuk tangan keras, sambil langkahku pelan melangkah menuruni tebing. Aku sudah kehabisan ide, tak ada lagi, maka jika terakhir sudah. Nekatlah rumusnya.
Semua mata tertuju ke arahku, ”Hebat! Hebat!” beberapa orang dari mereka melihatku, mereka ketakutan dari raut wajahnya.

”Dia masih hidup?”
”Apa maksudmu? Si lelaki berlencana, brewok dan kumisnya lebat, wajahnya terlihat jelas olehku kini.

”Dia adalah orang yang berhadapan dengan harimau semalam, Bos!”

”Hemm.., siapa kau sebenarnya, Anak muda?” dia menatapku tajam, tapi juga menaruh simpati padaku, kugunakan kesempatan yang ada. Biasanya kesempatan datang ketika kita berani melangkah. Kucoba hilangkan ketegangan, aku coba santai, walau terlihat dibuat-buat.

”Saya Arif, Arif Maulana. Semoga Anda ingat baik-baik nama saya.”
”Jadi kau pengacau yang selalu mengganggu di desa Cahaya? Pahlawan kesiangan itu? Ternyata besar juga nyalimu, Anak muda! Jika aku mau, kubunuh sekarang tak akan ada yang pernah mengenalmu lagi!”

”Bukankah kau mencari kunci pembuka Gobang Pelot itu? Aku tahu di mana kunci itu.”
”Benarkah?” kulihat matanya membulat.

”Jangan serahkan pada mereka, Pak Arif! Jangan!” Bu Siska berteriak demikian keras. Aduh! Kenapa dia tidak memahami kalau ini rekayasa? Jika mereka tahu kunci itu ada padaku, mereka akan…”
Tak habis pikiranku berputar, si Lelaki berlencana burung gagak memberi isyarat agar menangkapku. Sudahlah! Habis sudah ideku kini. Aku tak berontak saat dicekal paksa, kantong celanaku digeledah, mereka menemukan kalung silinder berwarna biru mengilat itu.

Lelaki berlencana itu tertawa terbahak-bahak, dia mendekatiku dan menendang sesukanya di dadaku, hingga aku terjengkang ke belakang. Dia menginjakku sambil tertawa keras, bagai petir saja, telingaku seolah lepas.

Sedetik kemudian dia diam. Dia memutar-mutar bandul kalung itu. Aku tahu!
”Ha...ha...ha..” aku tertawa lepas.
”Kenapa tertawa bodoh!”

”Kau pasti tak bisa menggerakkan bandul itu, hanya aku yang tahu rumusnya,” aku kembali tertawa.
”Sial!” dia mencekikku, memelintir kausku dan aku dipaksanya berdiri, ”Cepat beritahukan caranya! Aku bisa gila! Aku akan membagi harta itu denganmu, bagaimana?”
”Tawaran menggiurkan, aku tak butuh itu.”
”Lalu apa? Katakan!”

”Bebaskan mereka bertiga, biarkan mereka pergi. Aku berjanji akan memberitahukan caranya pada kalian!”

”Baiklah, lepaskan mereka!”
”Cepat kalian pergi!” aku berpura-pura marah pada mereka, tak menatap mereka,”Cepat pergi!” suaraku menggelegar. Bu Siska menuntun Fitri, dan memapah Pak Yusuf, kulirik sejenak ke arah mereka pergi. Kulihat terakhir sorot mata lentik berwarna anggur itu, aku tersenyum, mungkin ini senyum terakhirku.

Mereka telah menghilang dari balik pepohonan, ”Kau harus janji! Tak akan mengganggu mereka lagi!”
”Baiklah. Pegang janjiku.”

Aku mendekati Gobang Pelot, kubuka kunci itu, mereka takjub melihat silinder itu bisa membentuk gerigi delapan. Belum sempat kumasukkan, lelaki berlencana burung gagak di pundaknya itu merebut paksa kunci.

Gerakanku lebih cepat darinya, aku mengambil pistol dan mengarahkan ke keningnya, menarik pelat di belakangnya, siap menembak. Dia gemetaran.
”Jangan ada yang macam-macam, atau akan kuledakkan kepalanya!” aku memegang kerah belakangnya, kutodongkan pistol di belakang kepalanya.

”Kau pikir kau hebat, Pak Guru?”
”Jangan bertingkah!” aku menakut-nakutinya.
”Pistol itu telah habis isinya, hanya satu, habis ketika menembak tadi,” aku kini gemetaran. Lelaki berlencana berbalik, mencoba memukulku, aku mengelak ke bawah, kurebut secepatnya kunci yang berada di tangannya.

”Door!” punggungku terasa panas, ada aliran hangat yang mengalir rasanya di punggungku. Aku tak memedulikannya, aku terus bergelut dengan si Brewok.

Dapat! Namun, sebuah tendangan mendarat tepat di pelipisku. Aku terjengkang, beberapa orang mendekatiku, terjadilah perkelahian tak seimbang, aku mati-matian melawan, hilang sudah jurus-jurus yang kupelajari, tersisa refleks gerakan; menghindar, mematahkan, mematikan langsung tanpa belas kasihan. Beberapa kali aku kena pukul.

”Hebat! Hebat! seorang pahlawan sedang sendirian melawan begitu banyak penjahat” suara Pak Lurah, dia turun dari tebing.
”Plok! Plok!” suara tepukan, semua mata tertuju pada anak kecil dari arah tebing yang berbeda, dia Syahid.

”Hoe! Aku ikutan!” seorang lelaki dari tebing yang lain lagi, Yanto.
”Aku juga!” kali ini suara itu tegas, dia... dia Kang Mukhlis!

”Rupanya sang jawara berani kembali! Sudah kuselamatkan hidup anakmu, kini! Kau mau menantang lagi! Apa tidak kapok kubantai isterimu! Ha!” lelaki berlencana gagak itu berteriak garang.

”Aku bukan pengecut lagi, Brewok! Anakkulah yang mengajariku kembali menjadi pemberani!”
Kulihat Syahid tersenyum, aku mengusap darah yang menetes di bibirku, perih.
”Cuma segini! Kalian akan mati semuanya, ha...ha...”

”Kamu salah penjahat!” suara itu, Pak Danu, orang tua seperti dia masih kuat memasuki hutan belantara? Demi sebuah harapan pastinya.

”Kami tidak sendiri!” seorang lain lagi dari tebing-tebing yang lain, satu-satu keluar, seluruh penduduk cahaya bermunculan satu-persatu. Aku hampir-hampir saja tak kuat berdiri, aku melihat sinar matahari memasuki celah-celah ranting, menyinariku, memberiku semacam energi.
Kini, kelompok Gagak Hitam kebingungan. Penduduk desa berkumpul, membawa tongkat, parang, golok, dan sebagainya.

”Tenang saja Brewok, bukan kami yang membereskan kalian! Tapi mereka!” Kang Mukhlis mengacungkan telunjuknya ke atas. Dua helicopter berputar-putar di angkasa, terdengar menderu-deru, anginnya kencang sehingga pepohonan terombang-ambing. Beberapa polisi turun dari tangga tali, senjata lengkap telah diarahkan.

Beberapa mobil polisi juga datang, ada kesatuan yang berjalan kaki. Seluruh anggota Gagak Hitam mengangkat tangan tanda menyerah. Aku berjalan lunglai mendekati lelaki brewok yang memakai lencana gagak di pundaknya, dialah dalang kebodohan desa, wajahnya menatapku.
”Kubilang namaku Arif, ingat itu baik-baik!”

”Buk!” sebuah pukulan tepat mengenai pipinya, cukuplah untuk oleh-oleh kenangan seumur hidupnya, agar dia selalu ingat namaku.

Seluruh penduduk desa Cahaya bersorak, bertepuk tangan, melihatku memukul si brewok. Aku berjalan mendekati Pak Lurah, tiba-tiba semua berputar, terakhir kali kulihat Pak Lurah dan beberapa orang berlari menangkap tubuhku. Aku pingsan.


Suggestion.

Rehat, Kawan.

Suatu kali, aku bersama seorang penjual somay. Dagangannya sangat laris, bahkan selama sehari dia bisa kembali tiga kali ke rumahnya. Somaynya terkenal memiliki rasa yang khas, banyak penjual somay lain ingin tahu resepnya, tapi dia tak pernah membagi.
Aku membeli somaynya, aku bertanya resepnya, aku memohon padanya, tak akan membocorkan resep khasnya kepada siapa pun.
Kukatakan padamu, tapi kau harus jaga rahasia.
Resepnya adalah ”Nothing!”
Ya! Resepnya tak ada, dia membuatnya biasa saja. Aku bingung dan bertanya padanya. Dia tersenyum dan berkata, ”Resepnya adalah keyakinan, saat kau membuat somay itu, yakinkan dirimu bahwa kue buatanmu itu sangat lezat, tak ada bandingannya.”
Satu pelajaran penting, Kawan.
Jangan remehkan kekuatan ’Keyakinan!’ jika kau yakin bisa melakukan sesuatu, tujuh lapis langit pun, kan bisa kau lampaui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar