Jumat, 08 November 2019

Bagian 50, Aku Kembali Untuk Mengabdi


”Kretek!” suara dipan berkasur lembut itu terdengar bunyinya, saat tubuhku bergerak, tubuhku serasa nyilu semuanya. Kubuka kedua mataku paksa, berat pula rasanya terbuka. Pertama kali yang kutatap adalah seprei putih, glek! Aku menelan ludah. Jangan-jangan! Kain kafan. Tak mungkin, bukankah aku belum didatangi malaikat pencabut nyawa? Kedua mataku semakin kutajamkan, hingga kugoyang-goyangkan kepalaku. Ah! Ternyata putih itu adalah kain seprei kamar. Aku dalam posisi tertidur dengan posisi tengkurap.

Kuangkat kepalaku. Punggungku seolah patah tulang-tulangnya, remuk terasa. Kupaksakan bergerak, bertopang kuat dengan kedua tanganku, tapi sendi-sendi di tanganku rasanya bergetar semuanya. Allah! Kuatkanlah, kuatkanlah. Karena hanya dari-Mu segala kekuatan.

Aku berusaha sekuat tenaga, tubuhku diperban melilit-lilit dari dada hingga punggung.
”Pak Arif! Anda sudah siuman,” suara lelaki berkacamata, terlihat cerah wajahnya, dia menatapku takjub. Aku tak mengenalnya, tapi satu hal yang kutahu, dia adalah dokter. Baju kebesarannya menjuntai.

Dia mendekati dan membantu mengangkat tubuhku, berputar dan duduk pelan-pelan bersandarkan bantal putih. Lelaki berkacamata itu, dokter itu, kutaksir sepadan umurnya denganku, atau lebih tua beberapa tahun dariku. Dia sangat antusias memegangiku, seolah aku ini anaknya.

”Apakah saya di Rumah Sakit, Pak?” suaraku sangat lirih, pelan sekali.
”Iya, peluru di punggung Anda telah kami ambil. Beberapa benturan benda keras juga sudah kami coba pulihkan, rontgen Anda sudah menyatakan bahwa tulang-tulang Anda tak ada yang sampai luka dalam. Anda memang hebat, Pak Arif! Aku salut pada Anda.”
Aku hanya tersenyum padanya.

”Kelak, jika aku punya anak. Aku akan menyekolahkannya di tempat Anda mengajar! Aku ingin anakku kelak bisa seperti Anda. Memperjuangkan sebuah harapan yang memang patut diperjuangkan.”

Sekali lagi aku tersenyum. Seluruh tubuhku masih lemah, mau berbicara saja serasa masih berat.
”Berapa hari aku tidak siuman, Dokter?”

Dokter itu tidak menjawab, dia berjalan ke rak meja di dekat ranjang. Mengambil lipatan kertas, koran. Dia mengulurkan koran itu padaku, ”Sejak sehari sebelum koran ini beredar.”
Aku menerima koran itu. Kulihat bagian atas koran, tanggal 2 Februari, ”Sekarang tanggal berapa, Pak?”

”Tanggal 4 Februari, Pak Arif.”
Masya Allah! Tiga hari penuh aku tak sadarkan diri. Aku ingat pelajaran dari Pak Lukman, bahwa shalat yang tertinggal karena pingsan tidak diganti, yang diganti adalah karena terlalai atau tertidur. Jadi aku mengganti shalatku yang terakhir ini saja.

”Bisakah membantu saya, Dok?”
”Dengan senang hati Pak Arif, Anda membutuhkan apa?”
”Saya minta sedikit air, untuk wudhu.”

Dokter itu langsung menuju kamar kecil di ruangan itu, membawa air, setengah ember kecil. Aku berwudhu dengannya, dokter paham, dia undur diri dan membiarkanku untuk shalat.

Allah! Setelah semua yang terjadi. Kuhamparkan jiwa dan hatiku, untuk-Mu. Rukuk dan sujudku hanya menganguk-anggukkan kepalaku, nikmat rasanya kala shalat. Rasa sakit seolah hilang, berganti ketenangan. Hembusan bau obat-obat menyengat pun tak ada. Yang ada hanya ketenangan.

* * *

Aku membuka-buka koran yang tadi diberikan Pak Sandi, kubaca sekilas dari nama di atas saku baju dinasnya. Aku membaca koran itu acak. Kucoba urutkan, dari depan dulu. Mataku terbelalak melihat headline, aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mengucek mataku berulang-ulang. Tak terima lagi, kini, kugoyang-goyangkan koran baris pertama itu ke kiri dan kanan. Siapa tahu bukan mataku yang salah, tapi koran itu seperti fatamorgana di padang pasir.

Amboi! Ini sungguhan. Di halaman pertama itu tertulis:

Pahlawan Desa Cahaya
Penyelamat Aset Negara, Membongkar Penjualan Narkoba

Bukan sekilas bagiku tulisan itu biasa, masalahnya adalah di bawah tulisan itu terpampang foto berukuran 3R atau lebih, gambarku tengah memukul lelaki brewok berlencana burung gagak di pundaknya. Berarti saat penduduk desa datang ke hutan beramai-ramai, ada juga wartawan yang ikut.
Aku baca berita itu, si Brewok ketua Gagak Hitam diancam vonis hukuman mati. Kejahatannya sangat banyak dan merupakan buronan yang dicari di seluruh Indonesia. Perampokan sejak puluhan tahun, ternyata ketua Gagak Hitam dijabat turun-temurun, dan kelompok ini selalu ganti ketua jika sang ketua sudah merasa tak sanggup lagi atau meninggal.

Kejahatan mereka di antaranya adalah melakukan penculikan untuk dipekerjakan secara paksa di hutan lindung. Setelah kejadian penangkapan itu, banyak tawanan yang dibebaskan dari dalam markas besar Gagak Hitam, di antaranya banyak penduduk desa Cahaya. Selain itu, Gagak Hitam juga melakukan transaksi jual-beli narkoba dalam jumlah besar kepada para mafia, penebangan hutan secara liar, juga pelanggaran besar karena membunuh hewan-hewan langka untuk dijual kulit, gading, dan lain sebagainya. Kejahatan mereka masih banyak selain itu.

Belum habis aku membaca, seorang wanita dengan baju serba putih masuk ruangan. Senyumnya begitu cerah kala mengucapkan salam, jilbabnya berwarna hijau muda, cerah dengan warna putih bajunya.

”Pak Arif, insya Allah besok sudah diizinkan pulang,” Ani tersenyum dan duduk di dekatku, ”Siap-siap saja jadi  publik figur.”
”Maksud, Bu Ani?”

”Kau sudah baca koran itu, kan?”
”Tak akan dibaca orang, hanya koran lokal saja.”
”Kau salah, Pak Arif, koran-koran nasional telah ambil bagian dalam berita ini. Stasiun televisi nasional juga menayangkannya, beberapa wartawan kemarin sempat menunggu Anda sembuh untuk wawancara.”

”Benarkah?”
”Benar!’ seorang laki-laki berbaju putih masuk, dia Pak Sandi, dia duduk di dekat Ani, ”Besok pagi Anda boleh pulang, dan kembalilah berjuang di desa Cahaya, mereka menunggu Anda,” senyumnya mirip sekali dengan Ani jika kuperhatikan saksama. Mereka jodoh mungkin, sama-sama orang kesehatan.

”Oya, ada satu yang terlupa tidak diungkap dalam berita. Sebenarnya apa isi harta karun yang berada di Gobang Pelot itu?” aku menatap Ani.

”Tak ada yang tahu, kuncinya pun hilang setelah penangkapan Gagak Hitam itu.”
”Seingatku, terakhir kali. Akulah yang memegangnya.”

”Apakah ini, Pak Arif?” Pak Sandi mengambil sesuatu dari saku celananya, diangkat ke atas, kalung berbandul silinder warna biru mengilat. Dia memberikannya padaku, kuambil.
”Kusembunyikan dari dalam sakumu, saat aku mengeluarkan peluru di punggungmu.”
”Sebenarnya Anda siapa, Pak Sandi? Aku belum mengenal Anda.”

”Dia adalah dokter Sandi Aulia, ketika dia tahu engkau dirawat di sini. Dialah yang meminta pihak Rumah Sakit untuk dapat bertanggung jawab penuh dalam semua pengobatanmu, Pak Arif, dia dokter yang hebat!” kurasa, keterangan Bu Ani tentang Pak Sandi adalah indikasi kekaguman mendalam, benar-benar jodoh mungkin.

”Kalian sangat serasi.”
Aku tak sadar, kata-kata itu meluncur begitu saja. Kedua orang yang duduk di hadapanku itu melotot tajam ke arahku, lalu saling berpandangan, menatap aku lagi. Aku salah bicara?
Pak Sandi tertawa lepas, sedangkan Ani tertawa lirih ditutup dengan kedua telapak tangannya yang putih.

”Kau sungguh lucu, Pak Arif, kepahlawananmu melegenda, tapi kau sungguh lucu!” Pak Sandi meneruskan tawanya.

”Apanya yang lucu?” aku heran.
”Pak Sandi adalah kakak kandungku,” Ani berkata sambil tersenyum. Pantas saja.

”Setelah ini, Kakakku akan pulang kembali ke Desa Cahaya, membuka klinik sendiri. Itu semua karenamu Pak Arif, karena perjuanganmu! Kau yang bukan dilahirkan di desa Cahaya memiliki mimpi besar untuk mengubah desa menjadi maju,” Ani menambahi.


”Benar Pak Arif, kaulah pahlawan desa Cahaya. Idealismeku dulu pernah hilang ketika melihat kondisi Desa yang terpuruk, aku pergi mendaftar di sini,” Pak Sandi menepuk pundakku, ”Aku akan kembali ke desa Cahaya, untuk mengabdi dan berjuang bersamamu,” senyumnya adalah senyum persahabatan, senyum sebuah mimpi yang bertemu harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar