Jumat, 08 November 2019

Bagian 51, Misteri Harta Karun


Pagi yang cerah, saat semua peralatan medis yang melekat di tubuhku dilepas, kecuali perban-perban yang meliliti luka bekas tembak di punggungku. Aku sangat bahagia, Pak Lurah dan Kang Mukhlis sedari tadi malam telah menemaniku di kamar, kami mengobrol banyak hal. Mereka datang menjemputku, untuk kembali berjibaku dengan anak-anak desa Cahaya.

Saat keluar dari Rumah Sakit, belasan kamera menjepret asal ke arah kami. Silau!

Pak Lurah dan Kang Mukhlis sigap mengamankanku, bagai bodyguard yang menjaga orang penting. Mereka menyibak barisan orang-orang yang bertanya berbeda-beda, ribut sekali, sampai aku pusing sendiri melihat mereka seperti semut menemukan cacing yang tersasar.

Para wartawan masih terus mengejar hingga ke tempat parkir motor, banyak pasang mata yang keheranan melihat hal itu. Pak Lurah menghidupkan motornya, diengkol cepat, motor segera menderum. Kang Mukhlis membantuku naik motor, Kang Mukhlis naik selanjutnya. Para Wartawan masih riuh bertanya.

”Wawancaranya di desa Cahaya, kutunggu kalian di sana!” teriakanku itu adalah salam perpisahan untuk mereka. Mereka berhenti mematung memerhatikan kepergian kami, sang juru rekam dengan kameranya lesu, menurunkan kameranya seolah menurunkan beban ratusan kilo. Kuobati kekecewaan mereka dengan melambaikan tanganku, tersenyum lebar padanya, mereka menyambutnya dengan melambaikan tangan pula.

Motor terus melaju, membelah jalanan aspal yang halus. Kawasan kecamatan, sungguh, jika desa Cahaya jalannya seperti ini, bagaimana jadinya? Pasti kemajuan akan cepat berkembang. Aku melihat langit, harapanku luas ikut terpajang di sana, bersama matahari yang bersinar amat terang.

Kami masuk ke gerbang Cahaya. Kemilau seolah bertaburan, bagai bunga api jatuh dari langit. Semburat cahaya matahari masuk melalui celah-celah ranting dedaunan, teduh, indah. Aku menghirup udara demikian nikmat.

I’m coming back!” aku berteriak, menyembulkan suaraku ke angkasa.
Terlihat sebuah patok semen kecil, setinggi setengah meter. Begitu melewati perbatasan, Subhanallah! Mataku terpukau, masyarakat desa Cahaya berbaris di depan rumah-rumah mereka, mereka melambaikan tangannya, tersenyum secerah warna mentari. Kulihat Sarman melonjak-lonjak sambil meneriakkan namaku. Aku tersenyum pada mereka semua.

Kang Mukhlis mengangkat kedua tanganku ke atas, sorak-sorai warga semakin menggema. Seperti pemain tinju yang menang saat turnamen saja. Motor terus melaju, aku mengenal wajah-wajah penduduk yang melambaikan tangan menyambutku, mereka adalah pelanggan-pelanggan telur yang kuantarkan berdasarkan pesanan mereka.

Aku diantar langsung ke rumah, di rumah Kang Mukhlis. Aku harus banyak istirahat dulu, para siswa yang hendak menjengukku diminta pulang dulu. Saat para siswa hendak pulang, aku telah berdiri tegak di depan pintu. Mereka berteriak, dan berlari mengerubutiku, mereka menciumi tanganku satu-persatu sambil tersenyum. Beberapa orang menyenggol lukaku, aku mengaduh. Mereka diam, tampak bersalah. Lalu, aku tertawa keras, dan mereka juga tertawa.

Aku rindu kalian anak-anak. Rindu mengajarkan mimpi lagi kepada kalian,kalian adalah harapan negeri ini, maka berjuanglah!

Siang itu banyak masyarakat menjenguk, aku membiarkan mereka melihatku. Pak Lurah dan Kang Mukhlis akhirnya angkat tangan. Pak Danu, Pak Yusuf, Bu Ria, Bu Siska, Ani juga telah kembali ke desa. Kata Ani, sebentar lagi, Dokter Sandi dan masyarakat akan membangun sebuah klinik pengobatan, dan akan berpraktik mengabdi di desa kelahiran.

Anggota Geng Sar yang tersisa datang, empat orang. Mereka meminta maaf padaku, wajah-wajah mereka tampak sangat menyesal. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan mereka, kukatakan pada mereka, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah, desa Cahaya juga membutuhkan mereka. Mereka berjanji akan membangung desa Cahaya.

Hari mulai siang, aku minta undur untuk istirahat, tubuhku masih terasa sakit-sakit. Kang Mukhlis dengan ramah meminta pengertian orang-orang desa, bahwa aku membutuhkan istirahat. Ingin sebenarnya berbincang dengan mereka, tapi nanti sajalah, aku benar-benar lelah.

***

Selepas shalat Ashar, aku menguatkan diri bertemu Yanto di lapangan. Kami sudah membuat janji untuk bertemu. Aku melihatnya tengah duduk di pinggir lapangan.
”Antar aku lagi, Yan,” dia mengangguk, dan kami masuk ke hutan melalui pohon seperti dulu. Yanto membantu, lukaku masih sedikit sakit rasanya.

Kami masuk belantara, tujuan kami adalah Gobang Pelot. Gerbang persembunyian Gagak Hitam telah dirobohkan. Yanto menjelaskan bahwa bau harimau banyak di dalamnya ternyata dikurung dalam kerangkeng, semuanya telah dibebaskan ke habitatnya.

Yanto juga bercerita, di dalam gerbang itu, banyak warga desa Cahaya yang ditahan, mereka dipekerjakan paksa. Berkata itu, Yanto tiba-tiba tersenyum dan memelukku erat.
”Kenapa, Yan?” Yanto belum mau melepaskan pelukannya.
Kupaksa, kudorong, ”Katakan! Ada apa, Yan?”

”Ayahku masih hidup, Pak Arif, dia ditangkap dan ditahan Gagak Hitam. Sekarang Ayahku di rumah, Ibuku sangat bahagia.”

Subhanallah. Pantas saja, Yanto amat bahagia.
Tak ada waktu! Aku segera turun ke Gobang Pelot, Yanto mengikuti. Aku mengeluarkan kalung dari saku celanaku, kubentuk menjadi kunci delapan gerigi. Kumasukkan dalam lubang, sudah satu putaran. Aku memutarnya hingga penuh satu putaran.

”Krek! Krek! Krek! Krek! Krek! Krek! Krek!” tepat.

Tak ada yang terjadi, kecuali angin berhembus pelan menampar wajah kami. Aku duduk, mendekatkan wajahku ke kunci, seolah kunci itu bergerak perlahan-lahan. Benar! Kunci bandul kalung itu bergerak.

”Krek! Krek! Krek! Krek! Krek! Krek! Krek! Krek!” delapan kali, berputar ke arah kiri? Berarti kembali ke asalnya.

Genap. Kembali penuh. Tapi sebuah hal terjadi, lubang dan kuncinya delapan gerigi itu, berputar pelan-pelan, semakin menonjol ke atas. Di pinggir gerigi lubang itu ada pelapis melindung, bulatan. Sejenis tabung. Berputar pelan, semain naik, dan berhenti.

Aku mengangkat tabung itu ke atas, kubuka penutupnya. Terbuka. Kuketukkan ke bawah, terjatuh sebuah gulungan kertas. Kubersihkan dengan mengebutkannya. Sebuah tulisan dari tinta kuas terlihat saat kuhamparkan.

Harta itu aku simpan di bawah kamarku, kukuburkan di tanah.

”Kamar mendiang Haji Mustaqim? Berarti, di rumah Bu Siska!” Yanto mengangguk, kami bergegas ke luar hutan. Saat berlari melewati lembah, kami terkejut melihat barisan loreng-loreng tengah berjalan berkelompok. Kami diam sejenak, tak membuat gerakan apa pun. Jangan sampai ketahuan, barisan harimau itu berjalan biasa.

Di belakang sendiri, harimau itu lebih besar dari yang lainnya. Dia menoleh ke arah kami, terdiam agak lama walau yang lain terus berjalan. Kami tak berani bergerak sedikit pun.
Mata harimau itu? Aku kenal!

Dia berkedip tenang, mengaum, lalu kembali berjalan bersama gerombolannya. Huff! Kami lega, benarkah dia harimau yang malam itu? Apakah tadi itu dia mengucapkan terima kasih? Ya, setidaknya aku menangkapnya seperti itu, bagaimana pendapatmu, Kawan?

Kami melanjutkan perjalanan, kami keluar hutan dan langsung ke rumah Bu Siska. Bu Siska tampak kaget melihat kami, aku menjelaskan tentang harta karun itu, kukembalikan pula kalung berbandul silinder warna biru mengilat itu padanya. Bu Siska paham, mempersilakan masuk ke kamarnya. Aku dan Yanto menggali tanah di bawah ranjang dengan linggis.

Peluh kami berloncatan, punggungku yang sakit seolah tak terasakan. Sudah semeteran, kami istirahat. Kami baru sadar ternyata banyak warga berkumpul di rumah Bu Siska, waktu kami berlari dari arah hutan mungkin menarik perhatian orang. Warga membantu, kami istirahat dulu. Namun setelah dua meter tak ada apa-apa, hanya tanah dan tanah. Salahkah?

”Sebenarnya kalian mencari apa?” suara Kang Mukhlis. Aku menjelaskan tentang apa yang kami baca di gulungan kertas, masih kubawa dan kuberikan kepada Kang Mukhlis.
”Kenapa kalian menggali di sini?” wajah Kang Mukhlis heran.
”Bukankah ini rumah mendiang Haji Mustaqim?” Yanto bertanya.

”Rumah Haji Mustaqim dijual kepada ayahku,” tak ambil waktu lama, kami dan segenap warga mendatangi rumah Kang Mukhlis. Menggali kolong di bawah ranjang Kang Mukhlis, peluh berjatuhan. Tapi, tak ada apa-apa.

”Kalian salah lagi!” Aku, Yanto dan warga bingung menatap Kang Mukhlis.
”Ada apa lagi, Kang?” aku menatapnya.

”Dulu, kamarnya mendiang Mustaqim adalah kamar yang kau tempati sekarang…” tak sampai selesai ucapannya, beberapa warga telah berlalu, begitu masuk kami menggali tanah di bawah ranjangku. Saat satu meter, cangkul salah satu masyarakat membentur benda keras. Sebuah peti, berukiran indah.

Kami terus menggalinya. Akhirnya kotak berbentuk balok besar itu kami angkat. Peti berukuran panjang satu meter, lebarnya 60 cm, dan tingginya 50 cm. Kau hitung sendirilah luasnya, aku malas. Terdapat lubang delapan gerigi di atas peti itu.

Lagi-lagi kunci itu.
”Biar aku saja!” Syahid paham, dia mengambil sepedanya ke rumah Bu Siska. Kami menunggu, beberapa menit kemudian Syahid datang bersama Bu Siska. Kunci diberikan padaku, aku menjadikannya kunci dengan delapan gerigi, masyarakat kagum melihatnya.

Aku gemetaran, mendekatkan kunci ke lubangnya. Wajah warga terdiam, mendekat dan semakin mendekat. Kumasukkan dalam lubang.
”Krek!” kuputar penuh. Terbuka.

Aku membuka penutup itu, demikian berat.


Mata-mata  yang semula terbelalak, jadilah semakin terbelalak. Kotak sebesar itu? Hanya berisi sebuah lencana tembaga putih mengilat, dengan bentuk pipih dan berbentuk burung Gagak. Aku lemas sudah, punggungku terasa remuk lagi. Luka bekas tembakan itu tiba-tiba serasa nyeri lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar