Pagi yang cerah, saat
semua peralatan medis yang melekat di tubuhku dilepas, kecuali perban-perban
yang meliliti luka bekas tembak di punggungku. Aku sangat bahagia, Pak Lurah
dan Kang Mukhlis sedari tadi malam telah menemaniku di kamar, kami mengobrol
banyak hal. Mereka datang menjemputku, untuk kembali berjibaku dengan anak-anak
desa Cahaya.
Saat keluar dari Rumah
Sakit, belasan kamera menjepret asal ke arah kami. Silau!
Pak Lurah dan Kang Mukhlis
sigap mengamankanku, bagai bodyguard yang menjaga orang penting. Mereka
menyibak barisan orang-orang yang bertanya berbeda-beda, ribut sekali, sampai
aku pusing sendiri melihat mereka seperti semut menemukan cacing yang tersasar.
Para wartawan masih terus
mengejar hingga ke tempat parkir motor, banyak pasang mata yang keheranan
melihat hal itu. Pak Lurah menghidupkan motornya, diengkol cepat, motor
segera menderum. Kang Mukhlis membantuku naik motor, Kang Mukhlis naik
selanjutnya. Para Wartawan masih riuh bertanya.
”Wawancaranya di desa
Cahaya, kutunggu kalian di sana!” teriakanku itu adalah salam perpisahan untuk
mereka. Mereka berhenti mematung memerhatikan kepergian kami, sang juru rekam
dengan kameranya lesu, menurunkan kameranya seolah menurunkan beban ratusan
kilo. Kuobati kekecewaan mereka dengan melambaikan tanganku, tersenyum lebar
padanya, mereka menyambutnya dengan melambaikan tangan pula.
Motor terus melaju,
membelah jalanan aspal yang halus. Kawasan kecamatan, sungguh, jika desa Cahaya
jalannya seperti ini, bagaimana jadinya? Pasti kemajuan akan cepat berkembang.
Aku melihat langit, harapanku luas ikut terpajang di sana, bersama matahari
yang bersinar amat terang.
Kami masuk ke gerbang
Cahaya. Kemilau seolah bertaburan, bagai bunga api jatuh dari langit. Semburat
cahaya matahari masuk melalui celah-celah ranting dedaunan, teduh, indah. Aku menghirup
udara demikian nikmat.
”I’m coming back!”
aku berteriak, menyembulkan suaraku ke angkasa.
Terlihat sebuah patok
semen kecil, setinggi setengah meter. Begitu melewati perbatasan, Subhanallah!
Mataku terpukau, masyarakat desa Cahaya berbaris di depan rumah-rumah
mereka, mereka melambaikan tangannya, tersenyum secerah warna mentari. Kulihat
Sarman melonjak-lonjak sambil meneriakkan namaku. Aku tersenyum pada mereka
semua.
Kang Mukhlis mengangkat
kedua tanganku ke atas, sorak-sorai warga semakin menggema. Seperti pemain
tinju yang menang saat turnamen saja. Motor terus melaju, aku mengenal
wajah-wajah penduduk yang melambaikan tangan menyambutku, mereka adalah pelanggan-pelanggan
telur yang kuantarkan berdasarkan pesanan mereka.
Aku diantar langsung ke
rumah, di rumah Kang Mukhlis. Aku harus banyak istirahat dulu, para siswa yang
hendak menjengukku diminta pulang dulu. Saat para siswa hendak pulang, aku
telah berdiri tegak di depan pintu. Mereka berteriak, dan berlari
mengerubutiku, mereka menciumi tanganku satu-persatu sambil tersenyum. Beberapa
orang menyenggol lukaku, aku mengaduh. Mereka diam, tampak bersalah. Lalu, aku
tertawa keras, dan mereka juga tertawa.
Aku rindu kalian
anak-anak. Rindu mengajarkan mimpi lagi kepada kalian,kalian adalah harapan negeri
ini, maka berjuanglah!
Siang itu banyak
masyarakat menjenguk, aku membiarkan mereka melihatku. Pak Lurah dan Kang
Mukhlis akhirnya angkat tangan. Pak Danu, Pak Yusuf, Bu Ria, Bu Siska, Ani juga
telah kembali ke desa. Kata Ani, sebentar lagi, Dokter Sandi dan masyarakat
akan membangun sebuah klinik pengobatan, dan akan berpraktik mengabdi di desa
kelahiran.
Anggota Geng Sar yang
tersisa datang, empat orang. Mereka meminta maaf padaku, wajah-wajah mereka
tampak sangat menyesal. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan mereka,
kukatakan pada mereka, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah, desa
Cahaya juga membutuhkan mereka. Mereka berjanji akan membangung desa Cahaya.
Hari mulai siang, aku
minta undur untuk istirahat, tubuhku masih terasa sakit-sakit. Kang Mukhlis
dengan ramah meminta pengertian orang-orang desa, bahwa aku membutuhkan
istirahat. Ingin sebenarnya berbincang dengan mereka, tapi nanti sajalah, aku
benar-benar lelah.
***
Selepas shalat Ashar, aku
menguatkan diri bertemu Yanto di lapangan. Kami sudah membuat janji untuk
bertemu. Aku melihatnya tengah duduk di pinggir lapangan.
”Antar aku lagi, Yan,” dia
mengangguk, dan kami masuk ke hutan melalui pohon seperti dulu. Yanto membantu,
lukaku masih sedikit sakit rasanya.
Kami masuk belantara, tujuan
kami adalah Gobang Pelot. Gerbang persembunyian Gagak Hitam telah dirobohkan.
Yanto menjelaskan bahwa bau harimau banyak di dalamnya ternyata dikurung dalam
kerangkeng, semuanya telah dibebaskan ke habitatnya.
Yanto juga bercerita, di
dalam gerbang itu, banyak warga desa Cahaya yang ditahan, mereka dipekerjakan
paksa. Berkata itu, Yanto tiba-tiba tersenyum dan memelukku erat.
”Kenapa, Yan?” Yanto belum
mau melepaskan pelukannya.
Kupaksa, kudorong,
”Katakan! Ada apa, Yan?”
”Ayahku masih hidup, Pak
Arif, dia ditangkap dan ditahan Gagak Hitam. Sekarang Ayahku di rumah, Ibuku
sangat bahagia.”
Subhanallah. Pantas saja, Yanto amat bahagia.
Tak ada waktu! Aku segera
turun ke Gobang Pelot, Yanto mengikuti. Aku mengeluarkan kalung dari saku
celanaku, kubentuk menjadi kunci delapan gerigi. Kumasukkan dalam lubang, sudah
satu putaran. Aku memutarnya hingga penuh satu putaran.
”Krek! Krek! Krek! Krek!
Krek! Krek! Krek!” tepat.
Tak ada yang terjadi,
kecuali angin berhembus pelan menampar wajah kami. Aku duduk, mendekatkan
wajahku ke kunci, seolah kunci itu bergerak perlahan-lahan. Benar! Kunci bandul
kalung itu bergerak.
”Krek! Krek! Krek! Krek!
Krek! Krek! Krek! Krek!” delapan kali, berputar ke arah kiri? Berarti kembali
ke asalnya.
Genap. Kembali penuh. Tapi
sebuah hal terjadi, lubang dan kuncinya delapan gerigi itu, berputar
pelan-pelan, semakin menonjol ke atas. Di pinggir gerigi lubang itu ada pelapis
melindung, bulatan. Sejenis tabung. Berputar pelan, semain naik, dan berhenti.
Aku mengangkat tabung itu
ke atas, kubuka penutupnya. Terbuka. Kuketukkan ke bawah, terjatuh sebuah
gulungan kertas. Kubersihkan dengan mengebutkannya. Sebuah tulisan dari tinta
kuas terlihat saat kuhamparkan.
’Harta itu aku simpan
di bawah kamarku, kukuburkan di tanah.’
”Kamar mendiang Haji
Mustaqim? Berarti, di rumah Bu Siska!” Yanto mengangguk, kami bergegas ke luar
hutan. Saat berlari melewati lembah, kami terkejut melihat barisan
loreng-loreng tengah berjalan berkelompok. Kami diam sejenak, tak membuat
gerakan apa pun. Jangan sampai ketahuan, barisan harimau itu berjalan biasa.
Di belakang sendiri,
harimau itu lebih besar dari yang lainnya. Dia menoleh ke arah kami, terdiam
agak lama walau yang lain terus berjalan. Kami tak berani bergerak sedikit pun.
Mata harimau itu? Aku
kenal!
Dia berkedip tenang,
mengaum, lalu kembali berjalan bersama gerombolannya. Huff! Kami lega, benarkah
dia harimau yang malam itu? Apakah tadi itu dia mengucapkan terima kasih? Ya,
setidaknya aku menangkapnya seperti itu, bagaimana pendapatmu, Kawan?
Kami melanjutkan
perjalanan, kami keluar hutan dan langsung ke rumah Bu Siska. Bu Siska tampak
kaget melihat kami, aku menjelaskan tentang harta karun itu, kukembalikan pula
kalung berbandul silinder warna biru mengilat itu padanya. Bu Siska paham,
mempersilakan masuk ke kamarnya. Aku dan Yanto menggali tanah di bawah ranjang
dengan linggis.
Peluh kami berloncatan,
punggungku yang sakit seolah tak terasakan. Sudah semeteran, kami istirahat.
Kami baru sadar ternyata banyak warga berkumpul di rumah Bu Siska, waktu kami
berlari dari arah hutan mungkin menarik perhatian orang. Warga membantu, kami
istirahat dulu. Namun setelah dua meter tak ada apa-apa, hanya tanah dan tanah.
Salahkah?
”Sebenarnya kalian mencari
apa?” suara Kang Mukhlis. Aku menjelaskan tentang apa yang kami baca di
gulungan kertas, masih kubawa dan kuberikan kepada Kang Mukhlis.
”Kenapa kalian menggali di
sini?” wajah Kang Mukhlis heran.
”Bukankah ini rumah
mendiang Haji Mustaqim?” Yanto bertanya.
”Rumah Haji Mustaqim
dijual kepada ayahku,” tak ambil waktu lama, kami dan segenap warga mendatangi
rumah Kang Mukhlis. Menggali kolong di bawah ranjang Kang Mukhlis, peluh
berjatuhan. Tapi, tak ada apa-apa.
”Kalian salah lagi!” Aku,
Yanto dan warga bingung menatap Kang Mukhlis.
”Ada apa lagi, Kang?” aku
menatapnya.
”Dulu, kamarnya mendiang
Mustaqim adalah kamar yang kau tempati sekarang…” tak sampai selesai ucapannya,
beberapa warga telah berlalu, begitu masuk kami menggali tanah di bawah
ranjangku. Saat satu meter, cangkul salah satu masyarakat membentur benda keras.
Sebuah peti, berukiran indah.
Kami terus menggalinya. Akhirnya
kotak berbentuk balok besar itu kami angkat. Peti berukuran panjang satu meter,
lebarnya 60 cm, dan tingginya 50 cm. Kau hitung sendirilah luasnya, aku malas.
Terdapat lubang delapan gerigi di atas peti itu.
Lagi-lagi kunci itu.
”Biar aku saja!” Syahid
paham, dia mengambil sepedanya ke rumah Bu Siska. Kami menunggu, beberapa menit
kemudian Syahid datang bersama Bu Siska. Kunci diberikan padaku, aku
menjadikannya kunci dengan delapan gerigi, masyarakat kagum melihatnya.
Aku gemetaran, mendekatkan
kunci ke lubangnya. Wajah warga terdiam, mendekat dan semakin mendekat.
Kumasukkan dalam lubang.
”Krek!” kuputar penuh.
Terbuka.
Aku membuka penutup itu,
demikian berat.
Mata-mata yang semula terbelalak, jadilah semakin
terbelalak. Kotak sebesar itu? Hanya berisi sebuah lencana tembaga putih mengilat,
dengan bentuk pipih dan berbentuk burung Gagak. Aku lemas sudah, punggungku
terasa remuk lagi. Luka bekas tembakan itu tiba-tiba serasa nyeri lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar