Jumat, 08 November 2019

Bagian 52, Pasar Cahaya


Kawasan desa Cahaya adalah kawasan pertengahan. Letaknya di tengah-tengah, sangat strategis. Kecamatan di sebelah timur; seberang selatan melewati kali, melewati satu desa adalah kawasan industri. Sebelah barat desa adalah kota; sebelah utara, melewati pinggiran hutan adalah kawasan jalan lintas. Maka ketika Pak Lurah menyampaikan proposal pembangunan jalan, dengan cepat Pemerintah menanggapi dengan baik. Melihat juga bahwa desa Cahaya telah banyak menyelamatkan aset negara, maka jalan terjal desa langsung diubah menjadi jalanan raya halus. Listrik pun akan segera dipasang.

Masyarakat bekerja sama, meratakan batu-batu hitam, aspal dipanaskan dan disiram, diratakan dengan silinder besi. Anak-anak Cahaya, sekolah seperti biasa, tak terganggu dengan bising ramainya pembangunan jalan. Aku sudah mulai berangkat, kembali merajut pelajaran yang tertunda, melihat tawa anak-anak sekolah adalah kebahagiaan tersendiri. Tak akan tergantikan.

Setelah pekerjaan pembuatan jalan selesai, anak-anak sekolah semakin ngebut saja naik sepedanya. Aku dan Syahid tak mau tersalip kala berangkat sekolah, kami balapan habis-habisan, tak takut lagi dengan ban sepeda yang menabrak batu besar seperti dulu. Ngebut ya ngebut, merebut posisi nomor satu, memperebutkan mimpi, mencapai sebuah harapan.

Dan kami gembira ketika sepeda kami parkirkan di parkiran sekolah, tertawa lepas bersama beburung yang tengah meninggalkan sarangnya, mencari makanan untuk anak-anak mereka, kepak sayapnya terjun bebas, melanglang angin, menikmati hembusannya dan membantu daya terbangnya.

Pulang sekolah, rapat di balai sekolah. Masyarakat berbondong-bondong datang, seluruh dewan guru sudah ikut. Pak Lurah mengucapkan sepatah kata di depan, langsung ke pokok bahasan yang ingin beliau sampaikan, mengingat para warga juga harus bekerja kembali.

Pada intinya, di rapat itu Pak Lurah mengajak masyarakat berunding bagaimana memajukan desa Cahaya. Jalan telah bagus, langkah awal apa yang seharusnya dilakukan sebagai langkah selanjutnya. Ditunggu, hingga bermenit-menit, tak ada  yang angkat tangan.

Saatnya aku bicara, ini adalah keahlianku.

Aku mengangkat tangan, Pak Karta mempersilakanku, ”Dalam teori ekonomi yang saya pelajari di bangku kuliah, serta melihat sejarah cerita-cerita. Kemakmuran itu dimulai dari satu kata, yaitu ’Pasar!’ Kita harus mendirikan pasar sebagai basis perekonomian desa, setelah pasar nantinya akan tumbuh bermacam-macam peluang usaha.”

Semuanya terdiam mendengarkan kata-kataku, ”Ada yang salah dengan kata-kataku?”
”Saya setuju!” Pak Lurah angkat tangan di sampingku.
”Saya juga,” Bu Ria, Bu Siska, Pak Yusuf,  Pak Danu.
”Saya juga!” ”Saya setuju!” ”Setuju” semuanya tampak kompak.

Saat itu juga aku ditunjuk sebagai penanggung jawabnya, membuat master plan bentuknya. Kawan, tahukah kau, selama dua tahun lebih aku yang lulusan Fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen. Kini bisa kukatakan, ilmu itu akan digunakan untuk membuat manajemen pasar! Tak ada yang lebih membahagiakan kecuali melakukan apa yang kita sukai.

Akhirnya, teori yang kudapatkan selama empat tahun di bangku kuliah kini akan dipertanggungjawabkan. Untuk membangun sebuah harapan, harapan dari ratusan penduduk desa Cahaya, terangkat begitu indah nan mulia di pundakku.

***
Aku tidak mau main-main jika ini menyangkut kredibilitasku, teori-teori tentang ekonomi pembangunan, ekonomi mikro, manajemen pemasaran, analisis SWOT, teori-teori ekonomi, sumber daya manusia, promosi, legalitas usaha, izin usaha jika perlu, bla bla bla. Ah! Tiba-tiba semua pelajaran seolah diputar di depan mataku, otakku tak mau berhenti berpikir.

Pertama izin ke Pemerintah Daerah, mereka pasti membantu pembangunan pasar ini. Memilih para pekerja untuk struktur pembangunan. Tak main-main, aku sewa sarjana teknik untuk struktur bangunannya. Tata letak mulai dari pasar, WC umum, mushala, serta penempatan setiap segmen dagangannya.

Sesekali aku pergi ke kecamatan, mencari informasi di internet, teori-teori ekonomi, pemasaran, pasar, pokoknya semuanya kukumpulkan dan kuprint dan kubaca di rumah. Syahid yang melihatku sampai geleng-geleng kepala karena hingga pukul dua dini hari masih mengotak-atik kertas demi kertas. Dia masuk dapur, dan keluar lagi membawa secangkir kopi dan mi rebus dalam mangkuk yang siap santap.

Selain sibuk mengajar, mengantarkan telur-telur bebek, walaupun ada karyawan baru juga. Di samping tak lupa berlatih bela diri, aku meluangkan waktuku untuk merevisi ulang format pasar desa Cahaya.
Tujuh hari, lunas. Kuusap keringat di dahiku, tersenyum lebar menatap kertas yang terbuka di atas meja. Kutatap penuh syukur, selesai juga. Rancangan pasar desa Cahaya.

Pak Lurah mengumpulkan kembali warga desa, kali ini sangat ramai, Balai Sekolah tak muat, maka dipindahkan ke lapangan. Di bawah teriknya mentari, aku mempresentasikan master plan pasar, untung tadi aku fotokopi banyak di kecamatan, jadi mereka bisa melihat beberapa orang satu kertas. Aku mudah menjelaskannya.

Di ujung arah barat desa Cahaya, di tikungan dekat dengan perbatasan patok pembatas desa, di situlah letak pasarnya. Kenapa? Akses akan cepat dari sana, tanahnya begitu padat, selain itu mempermudah keluar masuk barang, karena pusat pasar terbesar provinsi ada di sebelah barat melewati denah pasar yang akan dibuat.

Aku jelaskan dengan detail, mana tempat untuk penjual ikan, sayur-sayuran, mana untuk tempat penjual seperti baju, juga bangunan. Sedetail-detailnya, bahkan hingga para instruktur bangunannya. Tapi mereka semua sedari tadi terdiam.
”Ada yang salah,  Pak Lurah?” aku menatap Pak Lurah.

”Kau jelaskan detail seperti itu, atau tidak. Desa Cahaya telah memercayaimu melebihi apa pun. Bahkan, jika kau mengajak bertempur pun, semuanya telah siap!” Pak lurah menjelaskan mantap.
”Baiklah!” aku berteriak keras, ”Besok kita mulai proyek raksasa ini! Kalian semua setuju?”


Mereka berhamburan mendekatiku, berebut mengangkatku tinggi-tinggi, aku dilempar dan ditangkap kembali. Saat itu kulihat senyum Bu Siska, begitu indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar