Jumat, 08 November 2019

Bagian 53, Restu


Apakah perasaan ini cinta? Ah! Aku melemparkan jauh-jauh ilusi itu. Tapi, wajahnya sesekali datang lagi tanpa diundang dalam pikiranku. Tidak! Aku tak pantas untuknya. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik, dan siapalah aku? Tak usah aku merendahkan diri, aku memang tak cocok untuknya.

Kuredam demikian kuat, kufokuskan pada proyek pembuatan pasar yang sedang dibangun, sudah 80 persen, masyarakat sangat antusias membangun. Pagi aku mengajar, dan setelah pulang aku bersama masyarakat bergelut mengangkati batu, pasir, cor, mengaduk semen, kami sangat ceria.

Pada akhirnya, pasar itu selesai. Ruko-ruko sederhana telah tegak, tinggal ditempati, bahkan sudah ada pendatang dari daerah lain yang sudah menyewa dan deal harga sewa dengan Pak Lurah yang sebelumnya telah meminta pendapatku dan seluruh masyarakat tentang berapa biaya sewanya.

Sudah sembilan orang  yang menanamkan sahamnya, bersedia menempati ruko dan sekaligus akan tinggal di desa Cahaya, menjadi penduduk baru desa Cahaya. Desa ini, suatu saat akan ramai. Itulah harapanku.

***

Kawan, sudahlah. Tak akan kuceritakan pada kalian bagaimana peresmian pasar itu bagi desa Cahaya. Melebihi acara kemerdekaan tujuh belasan. Tak usah juga kuceritakan bagaimana ramainya, kau akan berdecak kagum. Pak Lurah kuminta memotong pitanya. Kalian reka saja sendiri, bagaimana serunya.

Setelah peresmian itu, aku menghadap Pak Danu, aku meminta izin selama dua minggu untuk liburan, aku ingin ke kota Jakarta.
”Apakah Pak Arif tak betah di sini?” suaranya yang agak keras, terdengar Pak Yusuf, Bu Ria dan Bu Siska, hingga mereka berdiri di pintu dan melihatku.

”Bukan! Bukan! Aku hanya ingin bertemu dengan teman-teman lamaku. Aku telah berjanji pada mereka jika aku punya tempat mukim yang bagus, aku akan membawa mereka besertaku. Aku ingin mengajak mereka tinggal di desa Cahaya.”
”Teman-teman kuliah, Pak Arif?” Pak Danu mengejar.
Aku menggeleng, ”Teman yang banyak membantuku, sewaktu aku di Jakarta.”
”Baiklah, kami izinkan.”

”Satu hal lagi, Pak,” aku memberanikan diri bicara, ”Sudah saatnya Sekolah Cahaya mengambil guru-guru baru, anak-anak harus diberikan porsi pelajaran yang benar-benar matang, bukan satu guru beberapa pelajaran. Guru-guru baru selanjutnya, tak akan mengundurkan diri lagi, desa telah aman, bukan?”

Pak Danu mengacungkan jemarinya, naik-turun ke arah wajahku, ”Benar! Kenapa tidak kupikirkan.”
Kulihat wajah Pak Yusuf dan lainnya tersenyum, aku yakin mereka juga capek harus mengajar secara penuh, belum lagi bidang ajarnya kurang sesuai.

Jadilah malam itu, berbekal beberapa baju yang kumasukkan ke dalam tas yang diberikan Pak Teguh dulu. Seperti apa wajah satpam yang sering main judi itu sekarang? Bagaimana kabarmu, Pak Rahmat? Aku akan datang kepada kalian, menjemput kalian untuk ikut bersamaku ke desa Cahaya, desa harapan.

Kurasa, kali ini. Taruhan Pak Teguh benar. Ketika memberiku uang, katanya taruhannya adalah kesuksesanku. Mereka akan menyukai desa Cahaya ini, sejuk dan teduh. Sebentar lagi, desa ini akan berdiri beberapa usaha yang pastinya akan menyerap banyak tenaga kerja.
Paginya aku berangkat, meminta izin pada Kang Mukhlis. Kucium tangannya, dia membelai rambutku yang lumayan panjang melewati telingaku, ”Hati-hati, Rif.”

”Iya, Kang.”
Aku mendekati si kecil yang tampak meneteskan air matanya, ”Hei, aku tak akan lama pergi. Kau jangan cengeng begitu, bagaimana kau bisa jadi dokter? Bagaimana kau menjadi striker bola nantinya?”
Dia memelukku, ”Aku sayang Pak Arif, bolehkan aku panggil Kakak?”
Aku mengangguk.

”Kak Arif, cepatlah kembali!” aku melepaskan pelukannya. Aku pamitan kepada mereka, saat keluar. Aku terperangah, warga desa datang, mereka turut mengantarkanku.
”Insya Allah saya akan kembali, hanya menjemput teman lama saja,” tahukah kau, Kawan, bagi yang tinggal di desa-desa, kau akan tahu makna keluarga yang sesungguhnya. Jika ada yang baik lakunya, maka kepergiannya seolah anak sendiri yang akan pergi jauh, tak peduli walau hanya sebentar perginya.

Kurasa inilah indahnya ukhuwah sebenarnya, tetangga saling mengenal, saling membantu apabila ada yang kesusahan. Itulah yang hilang di masyarakat perkotaan, dengan tetangga sebelah rumah pun tak tahu namanya, hanya berhubungan saat satu pihak ada hajatan, alangkah miris, hilang nilai yang Rasulullah Saw tanamkan dalam kehidupan bertetangga.

Seseorang wanita keluar dari barisan, bukan satu tapi tiga orang kawan. Apakah mereka kompakan? Ani memberikan butiran dalam pembungkus, ”Ini obat, agar kau tak mabuk di perjalanan, tak ada efek sampingnya kok, aman!” aku menerimanya.

”Bapak membawakan ini untuk Kak Arif,” Indah memberikan sebuah bungkusan plastik, aku pun menerimanya dan mengucapkan terima-kasih.
”Kapan Indah mau berangkat melanjutkan kuliahnya?”
”Sebulan lagi,” aku mengangguk.

Wanita ketiga, tak membawa apa-apa, tapi tangannya mengepal, ”Ini untuk Pak Arif. Kalung ini lebih pas untuk Bapak, simpan saja, mungkin suatu saat berguna bagi Bapak.”
”Tapi, ini kan peninggalan dari mendiang kakek Bu Siska.”

”Kuberikan padamu, simpanlah.”

Aku tak tega melihat wajahnya, aku terima. Aku pamitan ketika matahari mulai tegak berdiri, aku melambaikan tanganku pada mereka semua yang mengantar hingga batas desa. Kang Mukhlis mengantarku dengan sepeda, dia tidak mau dengan motor walau belum lama beli. Katanya, tak terlihat bekas perjuangannya.


”Aku akan kembali!” teriakku sambil melambaikan tangan, hingga menghilang tertutupnya jarak yang melintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar