Apakah perasaan ini cinta?
Ah! Aku melemparkan jauh-jauh ilusi itu. Tapi, wajahnya sesekali datang lagi
tanpa diundang dalam pikiranku. Tidak! Aku tak pantas untuknya. Dia pantas
mendapatkan yang lebih baik, dan siapalah aku? Tak usah aku merendahkan diri,
aku memang tak cocok untuknya.
Kuredam demikian kuat,
kufokuskan pada proyek pembuatan pasar yang sedang dibangun, sudah 80 persen,
masyarakat sangat antusias membangun. Pagi aku mengajar, dan setelah pulang aku
bersama masyarakat bergelut mengangkati batu, pasir, cor, mengaduk semen, kami
sangat ceria.
Pada akhirnya, pasar itu
selesai. Ruko-ruko sederhana telah tegak, tinggal ditempati, bahkan sudah ada
pendatang dari daerah lain yang sudah menyewa dan deal harga sewa dengan Pak Lurah yang sebelumnya telah meminta
pendapatku dan seluruh masyarakat tentang berapa biaya sewanya.
Sudah sembilan orang yang menanamkan sahamnya, bersedia menempati
ruko dan sekaligus akan tinggal di desa Cahaya, menjadi penduduk baru desa
Cahaya. Desa ini, suatu saat akan ramai. Itulah harapanku.
***
Kawan, sudahlah. Tak akan
kuceritakan pada kalian bagaimana peresmian pasar itu bagi desa Cahaya. Melebihi
acara kemerdekaan tujuh belasan. Tak usah juga kuceritakan bagaimana ramainya,
kau akan berdecak kagum. Pak Lurah kuminta memotong pitanya. Kalian reka saja
sendiri, bagaimana serunya.
Setelah peresmian itu, aku
menghadap Pak Danu, aku meminta izin selama dua minggu untuk liburan, aku ingin
ke kota Jakarta.
”Apakah Pak Arif tak betah
di sini?” suaranya yang agak keras, terdengar Pak Yusuf, Bu Ria dan Bu Siska,
hingga mereka berdiri di pintu dan melihatku.
”Bukan! Bukan! Aku hanya
ingin bertemu dengan teman-teman lamaku. Aku telah berjanji pada mereka jika
aku punya tempat mukim yang bagus, aku akan membawa mereka besertaku. Aku ingin
mengajak mereka tinggal di desa Cahaya.”
”Teman-teman kuliah, Pak
Arif?” Pak Danu mengejar.
Aku menggeleng, ”Teman
yang banyak membantuku, sewaktu aku di Jakarta.”
”Baiklah, kami izinkan.”
”Satu hal lagi, Pak,” aku
memberanikan diri bicara, ”Sudah saatnya Sekolah Cahaya mengambil guru-guru
baru, anak-anak harus diberikan porsi pelajaran yang benar-benar matang, bukan
satu guru beberapa pelajaran. Guru-guru baru selanjutnya, tak akan mengundurkan
diri lagi, desa telah aman, bukan?”
Pak Danu mengacungkan
jemarinya, naik-turun ke arah wajahku, ”Benar! Kenapa tidak kupikirkan.”
Kulihat wajah Pak Yusuf
dan lainnya tersenyum, aku yakin mereka juga capek harus mengajar secara penuh,
belum lagi bidang ajarnya kurang sesuai.
Jadilah malam itu,
berbekal beberapa baju yang kumasukkan ke dalam tas yang diberikan Pak Teguh
dulu. Seperti apa wajah satpam yang sering main judi itu sekarang? Bagaimana
kabarmu, Pak Rahmat? Aku akan datang kepada kalian, menjemput kalian untuk ikut
bersamaku ke desa Cahaya, desa harapan.
Kurasa, kali ini. Taruhan Pak
Teguh benar. Ketika memberiku uang, katanya taruhannya adalah kesuksesanku. Mereka
akan menyukai desa Cahaya ini, sejuk dan teduh. Sebentar lagi, desa ini akan
berdiri beberapa usaha yang pastinya akan menyerap banyak tenaga kerja.
Paginya aku berangkat,
meminta izin pada Kang Mukhlis. Kucium tangannya, dia membelai rambutku yang
lumayan panjang melewati telingaku, ”Hati-hati, Rif.”
”Iya, Kang.”
Aku mendekati si kecil
yang tampak meneteskan air matanya, ”Hei, aku tak akan lama pergi. Kau jangan
cengeng begitu, bagaimana kau bisa jadi dokter? Bagaimana kau menjadi striker
bola nantinya?”
Dia memelukku, ”Aku sayang
Pak Arif, bolehkan aku panggil Kakak?”
Aku mengangguk.
”Kak Arif, cepatlah
kembali!” aku melepaskan pelukannya. Aku pamitan kepada mereka, saat keluar.
Aku terperangah, warga desa datang, mereka turut mengantarkanku.
”Insya Allah saya
akan kembali, hanya menjemput teman lama saja,” tahukah kau, Kawan, bagi yang
tinggal di desa-desa, kau akan tahu makna keluarga yang sesungguhnya. Jika ada
yang baik lakunya, maka kepergiannya seolah anak sendiri yang akan pergi jauh,
tak peduli walau hanya sebentar perginya.
Kurasa inilah indahnya ukhuwah
sebenarnya, tetangga saling mengenal, saling membantu apabila ada yang
kesusahan. Itulah yang hilang di masyarakat perkotaan, dengan tetangga sebelah
rumah pun tak tahu namanya, hanya berhubungan saat satu pihak ada hajatan,
alangkah miris, hilang nilai yang Rasulullah Saw tanamkan dalam kehidupan
bertetangga.
Seseorang wanita keluar
dari barisan, bukan satu tapi tiga orang kawan. Apakah mereka kompakan? Ani
memberikan butiran dalam pembungkus, ”Ini obat, agar kau tak mabuk di
perjalanan, tak ada efek sampingnya kok, aman!” aku menerimanya.
”Bapak membawakan ini
untuk Kak Arif,” Indah memberikan sebuah bungkusan plastik, aku pun menerimanya
dan mengucapkan terima-kasih.
”Kapan Indah mau berangkat
melanjutkan kuliahnya?”
”Sebulan lagi,” aku
mengangguk.
Wanita ketiga, tak membawa
apa-apa, tapi tangannya mengepal, ”Ini untuk Pak Arif. Kalung ini lebih pas
untuk Bapak, simpan saja, mungkin suatu saat berguna bagi Bapak.”
”Tapi, ini kan peninggalan
dari mendiang kakek Bu Siska.”
”Kuberikan padamu,
simpanlah.”
Aku tak tega melihat
wajahnya, aku terima. Aku pamitan ketika matahari mulai tegak berdiri, aku
melambaikan tanganku pada mereka semua yang mengantar hingga batas desa. Kang
Mukhlis mengantarku dengan sepeda, dia tidak mau dengan motor walau belum lama
beli. Katanya, tak terlihat bekas perjuangannya.
”Aku akan kembali!”
teriakku sambil melambaikan tangan, hingga menghilang tertutupnya jarak yang
melintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar