Jumat, 08 November 2019

Bagian 54, Fitnah


Dua minggu berlalu.

Sengaja aku singkat kawan, tak perlu kau tahu apa yang kukerjakan selama dua minggu ini, izin ke Jakarta. Tapi, sekarang aku bagaikan satu keluarga penuh. Pak Teguh tampak kerepotan membawa barang-barangnya, pindahan dari kota ke desa. Permainan judinya menang. Kini, dia ikut aku ke desa Cahaya, katanya pula, lebih enak cari istri di desa, biasanya lebih terjaga. Walau tak bisa dikatakan benar, tapi mendekati benar. Pak Rahmat tampak lelah.

Kami menyewa mobil pick up sejak kami turun dari kapal. Satu anak sulung Pak Rahmat bersandarkan besi di belakang sopir, sesekali mengipasi wajahnya dengan buku yang sudah kumal. Panas mentari tak ada pelindung. Istri dan ketiga anak yang lain duduk di dekat sopir.

Mobil terus melaju, membiarkan saja tubuhku basah, tembus hingga kemejaku. Kupandangi jejeran pepohonan  menjulang, sebentar lagi sampai. Aku berdiri di belakang kepala mobil, kepalaku menyembul di atasnya, kutatap di depan sana. Desa Cahaya telah tampak pepohonannya.
”Sebentar lagi sampai, Pak,” aku duduk kembali.

”Sudah hampir sampai?” Pak Rahmat mulai mengelap keringat di sekitar wajahnya. Aku menawarinya pekerjaan pembersih pasar jika nanti belum ada pekerjaan, sedangkan Pak Teguh tentu saja keamanan pasarnya, nanti dia akan kuminta belajar bela diri pada Kang Mukhlis.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Kang Mukhlis, kami kesusahan menurunkan barang bawaan. Kang Mukhlis menyambutku aneh, dia mengangkati barang-barang diturunkan dahulu ke bawah, semuanya. Lalu, meminta sang sopir segera pergi, aku membayar ongkos yang setengahnya. Ada apa?

Mobil pergi, kami mengangkati barang ke dalam. Seperti tadi, Kang Mukhlis seolah terburu-buru mengangkati tas-tas itu. Aku menyamai gerakannya yang cepat, kusejajari dia berjalan.
”Ada apa, Kang?” kutatap wajahnya yang masih lurus ke depan.
”Cepatlah, Rif.”

Aku tak bisa berkata apa-apa, aku mengikuti gerakannya cepat. Sudah selesai.
”Kau harus lari ke hutan sekarang juga!”
”Kenapa, Kang?” semua orang melihatku dan Kang Mukhlis dan berhadap-hadapan, ada sedikit ketegangan. Pak Rahmat dan Teguh juga terpaku melihat kami, ”Ada apa, Kang?”
”Kau buronan, Rif! Polisi akan datang menangkapmu. Cepatlah lari!”
”Saya tidak akan lari, Kang, saya tak bersalah.”

”Kenapa kau keras kepala?”
”Kau belum mengenal aku, Kang,” aku menggeleng.
”Aku sangat mengenal sifatmu, makanya cepatlah lari!”
Aku menggeleng.

Semilir angin berhembus, dan sehelai daun terbang dari pohonnya, meliuk indah. Saat daun itu pelan menjejak bumi, sebuah mobil berhenti di depan rumah, mobil polisi. Mereka turun dan menodongkan pistol ke arah kami.

”Menyerahlah, Pak Arif. Anda ditangkap.”
Aku berbalik kepada mereka, ”Apa salah saya, Pak?”
”Anda ditangkap karena di dalam kamar Anda terdapat obat-obat terlarang. Mohon kerja samanya.”
”Baiklah, silakan,” aku mengulurkan tanganku ke depan. Para polisi berseragam itu mendekat, dan salah satunya mengeluarkan borgol dari pinggangnya. Seseorang menghadangnya.

”Kau tak boleh menangkap Pak Arif! Kau harus menangkapku juga,” seorang anak kecil melebarkan kedua tangannya, wajahnya menunduk. Syahid.

Polisi itu tersenyum dan melangkah selangkah lagi. Kini dia kaget, bukan seorang yang menghadang, entah mereka datang dari mana, mereka berlari dan berbaris berjubel di depanku, anak-anak sekolah dengan seragam merah putihnya. Mereka kompak berteriak.
”Jangan tangkap Pak Arif! Dia tidak bersalah. Ini fitnah!”

Anak-anak!

Setelah itu, banyak masyarakat datang, dari segala penjuru. Mereka mendekat, termasuk Pak Lurah dan dewan guru Cahaya, kulihat ada tiga orang asing di barisan guru, pastilah mereka guru baru. Aku tersenyum pada mereka semua.

”Aku telah kembali. Kalian sedang bercanda, ya? Itu tak lucu, Kawan-kawan,” aku tertawa-tawa, memegangi perutku sendiri.
Beberapa polisi maju, mengarah padaku. masyarakat tiba-tiba bergerak menghadang terjadilah aksi saling dorong, persis seperti mahasiswa dan aparat  yang tengah ricuh saat demonstrasi.
Aku baru sadar. Ini semua bukan lelucon.

”Hentikan!” warga berhenti, polisi juga. Aku menyibak barisan anak-anak sekolah, ”Ayo, tangkap aku,” kuulurkan tanganku.
”Dia tidak bersalah!” Syahid masih berteriak, aku mengangguk padanya, kurasa pastilah dia paham maksudnya.

”Biarkan aku pergi dengan mereka, tolong kalian urus desa Cahaya. Aku pasti tak akan lama di penjara, aku tak betah pastinya,” aku tersenyum pada mereka, saat tanganku dikunci dengan borgol. Aku dimasukkan ke mobil. Sebelum sampai ke mobil, mataku mengedip pada Pak Lurah, Kang Mukhlis, ’Lakukan tugas kalian’ begitu kira-kira maksudnya isyaratku, semoga mereka paham.

Ketika masuk, sebuah suara dari polisi yang duduk di sebelahku berkata pelan, ”Maaf, Pak Arif! Aku tahu kau difitnah, ini hanyalah prosedur. Kami akan berusaha membebaskanmu.”

Mobil menderu ke arah barat. Tatapan sedih masyarakat adalah terakhir kali kulihat hingga menghilang. Aku tak percaya, kini aku tahanan polisi, dan aku belum tahu apa kesalahanku?
Mobil polisi itu melaju, membawa jiwaku yang resah. Borgol di kedua pergelangan tanganku mengilat memantulkan wajahku di kilatannya. Kami menikung, tepat di sana, di pinggir jalan.
Tugu setinggi seperempat meter, tertulis desa Cahaya.

Siluet rekaman, berputar dalam otakku. Teringat aku sewaktu pertama  kali memasuki desa ini, dengan antusias mencari sebuah gerbang desa Cahaya, kukira melengkung bagaikan janur kala hiasan pernikahan, melengkung hingga dari sisi pinggir jalan di sebelah kiri hingga sebelah kanan.

Saat itu, pertama kalinya aku bahagia karena mendapatkan pekerjaan setelah setahunan menganggur. Dan, patok setinggi seperempat meter itu membuatku terperanjat kaget.

Kini, aku melihatnya. Aku merasakan dia juga melihat keadaanku saat ini, tergiring sebagai seorang penjahat. Bukankah aku telah memperjuangkanmu wahai patok desa Cahaya? Kini, apakah kau juga akan berkata seperti para polisi itu, dan mengatakan bahwa aku penjahat?


Gerbang Cahaya? Aku semakin jauh meninggalkannya. Aku tertunduk lesu, aku akan datang kembali gerbang Cahaya, tapi bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai seorang pahlawan, tunggulah waktu itu. Aku yakin itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar