Dua minggu berlalu.
Sengaja aku singkat kawan,
tak perlu kau tahu apa yang kukerjakan selama dua minggu ini, izin ke Jakarta.
Tapi, sekarang aku bagaikan satu keluarga penuh. Pak Teguh tampak kerepotan
membawa barang-barangnya, pindahan dari kota ke desa. Permainan judinya menang.
Kini, dia ikut aku ke desa Cahaya, katanya pula, lebih enak cari istri di desa,
biasanya lebih terjaga. Walau tak bisa dikatakan benar, tapi mendekati benar. Pak
Rahmat tampak lelah.
Kami menyewa mobil pick up
sejak kami turun dari kapal. Satu anak sulung Pak Rahmat bersandarkan besi di
belakang sopir, sesekali mengipasi wajahnya dengan buku yang sudah kumal. Panas
mentari tak ada pelindung. Istri dan ketiga anak yang lain duduk di dekat sopir.
Mobil terus melaju,
membiarkan saja tubuhku basah, tembus hingga kemejaku. Kupandangi jejeran
pepohonan menjulang, sebentar lagi
sampai. Aku berdiri di belakang kepala mobil, kepalaku menyembul di atasnya,
kutatap di depan sana. Desa Cahaya telah tampak pepohonannya.
”Sebentar lagi sampai,
Pak,” aku duduk kembali.
”Sudah hampir sampai?” Pak
Rahmat mulai mengelap keringat di sekitar wajahnya. Aku menawarinya pekerjaan
pembersih pasar jika nanti belum ada pekerjaan, sedangkan Pak Teguh tentu saja
keamanan pasarnya, nanti dia akan kuminta belajar bela diri pada Kang Mukhlis.
Mobil berhenti tepat di
depan rumah Kang Mukhlis, kami kesusahan menurunkan barang bawaan. Kang Mukhlis
menyambutku aneh, dia mengangkati barang-barang diturunkan dahulu ke bawah,
semuanya. Lalu, meminta sang sopir segera pergi, aku membayar ongkos yang
setengahnya. Ada apa?
Mobil pergi, kami
mengangkati barang ke dalam. Seperti tadi, Kang Mukhlis seolah terburu-buru
mengangkati tas-tas itu. Aku menyamai gerakannya yang cepat, kusejajari dia
berjalan.
”Ada apa, Kang?” kutatap
wajahnya yang masih lurus ke depan.
”Cepatlah, Rif.”
Aku tak bisa berkata
apa-apa, aku mengikuti gerakannya cepat. Sudah selesai.
”Kau harus lari ke hutan
sekarang juga!”
”Kenapa, Kang?” semua
orang melihatku dan Kang Mukhlis dan berhadap-hadapan, ada sedikit ketegangan.
Pak Rahmat dan Teguh juga terpaku melihat kami, ”Ada apa, Kang?”
”Kau buronan, Rif! Polisi
akan datang menangkapmu. Cepatlah lari!”
”Saya tidak akan lari,
Kang, saya tak bersalah.”
”Kenapa kau keras kepala?”
”Kau belum mengenal aku,
Kang,” aku menggeleng.
”Aku sangat mengenal
sifatmu, makanya cepatlah lari!”
Aku menggeleng.
Semilir angin berhembus,
dan sehelai daun terbang dari pohonnya, meliuk indah. Saat daun itu pelan
menjejak bumi, sebuah mobil berhenti di depan rumah, mobil polisi. Mereka turun
dan menodongkan pistol ke arah kami.
”Menyerahlah, Pak Arif.
Anda ditangkap.”
Aku berbalik kepada
mereka, ”Apa salah saya, Pak?”
”Anda ditangkap karena di
dalam kamar Anda terdapat obat-obat terlarang. Mohon kerja samanya.”
”Baiklah, silakan,” aku
mengulurkan tanganku ke depan. Para polisi berseragam itu mendekat, dan salah
satunya mengeluarkan borgol dari pinggangnya. Seseorang menghadangnya.
”Kau tak boleh menangkap Pak
Arif! Kau harus menangkapku juga,” seorang anak kecil melebarkan kedua
tangannya, wajahnya menunduk. Syahid.
Polisi itu tersenyum dan
melangkah selangkah lagi. Kini dia kaget, bukan seorang yang menghadang, entah
mereka datang dari mana, mereka berlari dan berbaris berjubel di depanku,
anak-anak sekolah dengan seragam merah putihnya. Mereka kompak berteriak.
”Jangan tangkap Pak Arif!
Dia tidak bersalah. Ini fitnah!”
Anak-anak!
Setelah itu, banyak
masyarakat datang, dari segala penjuru. Mereka mendekat, termasuk Pak Lurah dan
dewan guru Cahaya, kulihat ada tiga orang asing di barisan guru, pastilah
mereka guru baru. Aku tersenyum pada mereka semua.
”Aku telah kembali. Kalian
sedang bercanda, ya? Itu tak lucu, Kawan-kawan,” aku tertawa-tawa, memegangi
perutku sendiri.
Beberapa polisi maju,
mengarah padaku. masyarakat tiba-tiba bergerak menghadang terjadilah aksi
saling dorong, persis seperti mahasiswa dan aparat yang tengah ricuh saat demonstrasi.
Aku baru sadar. Ini semua
bukan lelucon.
”Hentikan!” warga
berhenti, polisi juga. Aku menyibak barisan anak-anak sekolah, ”Ayo, tangkap
aku,” kuulurkan tanganku.
”Dia tidak bersalah!” Syahid
masih berteriak, aku mengangguk padanya, kurasa pastilah dia paham maksudnya.
”Biarkan aku pergi dengan
mereka, tolong kalian urus desa Cahaya. Aku pasti tak akan lama di penjara, aku
tak betah pastinya,” aku tersenyum pada mereka, saat tanganku dikunci dengan
borgol. Aku dimasukkan ke mobil. Sebelum sampai ke mobil, mataku mengedip pada Pak
Lurah, Kang Mukhlis, ’Lakukan tugas kalian’ begitu kira-kira maksudnya
isyaratku, semoga mereka paham.
Ketika masuk, sebuah suara
dari polisi yang duduk di sebelahku berkata pelan, ”Maaf, Pak Arif! Aku tahu
kau difitnah, ini hanyalah prosedur. Kami akan berusaha membebaskanmu.”
Mobil menderu ke arah
barat. Tatapan sedih masyarakat adalah terakhir kali kulihat hingga menghilang.
Aku tak percaya, kini aku tahanan polisi, dan aku belum tahu apa kesalahanku?
Mobil polisi itu melaju,
membawa jiwaku yang resah. Borgol di kedua pergelangan tanganku mengilat
memantulkan wajahku di kilatannya. Kami menikung, tepat di sana, di pinggir
jalan.
Tugu setinggi seperempat
meter, tertulis desa Cahaya.
Siluet rekaman, berputar
dalam otakku. Teringat aku sewaktu pertama
kali memasuki desa ini, dengan antusias mencari sebuah gerbang desa
Cahaya, kukira melengkung bagaikan janur kala hiasan pernikahan, melengkung
hingga dari sisi pinggir jalan di sebelah kiri hingga sebelah kanan.
Saat itu, pertama kalinya
aku bahagia karena mendapatkan pekerjaan setelah setahunan menganggur. Dan,
patok setinggi seperempat meter itu membuatku terperanjat kaget.
Kini, aku melihatnya. Aku
merasakan dia juga melihat keadaanku saat ini, tergiring sebagai seorang
penjahat. Bukankah aku telah memperjuangkanmu wahai patok desa Cahaya? Kini,
apakah kau juga akan berkata seperti para polisi itu, dan mengatakan bahwa aku
penjahat?
Gerbang Cahaya? Aku semakin jauh meninggalkannya. Aku tertunduk
lesu, aku akan datang kembali gerbang Cahaya, tapi bukan sebagai penjahat,
melainkan sebagai seorang pahlawan, tunggulah waktu itu. Aku yakin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar