Jumat, 08 November 2019

Bagian 55, Abolisi


Mobil berhenti. Aku dipegang dua orang polisi, mereka membawaku pelan. Beberapa orang menjepret foto tiba-tiba dari beberapa arah, mendekat. Namun, polisi sigap menghadang dan membubarkan barisan para wartawan itu. Telingaku mendengar gumam lirih dari seorang wanita yang tengah memegang mikrofon-nya.

Ternyata, kepahlawanannya dulu hanyalah topeng untuk menutupi kesalahannya.”

Aku memejamkan mataku, sambil tetap dipegangi. Kadang pers memang seperti itu, belum jelas informasinya, belum jelas salah atau tidaknya, asalkan beritanya dapat menjadi berita utama, bombastis news. Maka, siapa pun bisa kena jatah terburuknya dan terpampang di koran atau televisi.
Mereka berebut, mencari sensasi dalam beritanya. Inilah obsesi paling berbahaya, obsesi mencari kesalahan. Jangan kau ikuti, Kawan, kecuali berita itu benar-benar valid, dan harus disampaikan mengingat kebaikannya untuk memberi informasi, agar orang lain menjadikannya pelajaran.

Aku digiring, melewati sel-sel yang lain. Orang-orang di dalam sel melihatku dengan sinis, tapi tak semua. Di penjara banyak manusia yang bertobat, nyatanya kulihat tadi ada yang tengah melaksanakan shalat di dalam selnya.

Aku terus di giring, dibawalah aku ke dalam ruangan yang terpencil di ujung, mentok tak ada lagi jalan. Aku dimasukkan ke dalam penjara itu, mereka membuka ikatan borgolku, pintu sel di kunci. Aku terduduk, kedua lututku bertumpu di depan. Kutatap sel-sel itu, aku tak menyangka, bahwa aku akan menempati penjara, aku difitnah.

Di penjara itu, aku sendirian.

Aku berdzikir, tiba-tiba hatiku diliputi ketenangan. Hatiku begitu teduh, penjara tak berarti vakum bukan? Aku ingat semua kisah para orang besar yang dipenjara. Ya! Mereka adalah bukti sejarah. Mereka merasakan kesumpekan penjara, tapi mereka tak henti memberikan karyanya.

Minimal aku bisa shalat, maka aku tayamum di dinding penjara. Aku ingin shalat sunnah, sebentar lagi juga zuhur datang. Saat berwudhu, siluet sejarah dalam hidupku terbayang, terputar bagai rol film.

Setiap hal bukanlah kebetulan, Cucuku.

Aku teringat kata-kata kakek. Bahwa tidak ada kata kebetulan di dunia ini, semuanya telah diatur demikian indah oleh Sang Pencipta. Aku mencoba telusuri lebih jauh semua makna kehidupanku. Semuanya peristiwa tercipta pula karena sebab, tak ada akibat tanpa ada sebab.

Setiap cobaan maupun kerusakan adalah manusia yang memulainya, maka aku coba memaknai apa yang telah kulakukan hingga aku diberi Tuhan cobaan ini? Aku hanya takut kejiwaan para siswa Sekolah Cahaya. Aku takut mereka terpengaruh. Apa pun kata media dan koran, aku tak peduli, tapi aku takut jika para siswa berkata padaku. Berkata bahwa aku penjahat, aku tak kan bisa mengajarkan mimpi lagi pada mereka.

Apakah ini karena kesombonganku? Takabur? Berbangga diri karena merasa diri sebagai pahlawan?

Tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja, mengganggu kekhusyukan shalatku. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi manusia paling lemah di dunia ini, tak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Tuhan, Dialah yang telah memberi kelebihan padaku. Jika tidak, aku hanyalah debu yang terbang tanpa daya.

Allah.

Air mataku menetes, satu-satu, bertambah. Hingga aku tersedu-sedu, aku telah dibutakan oleh kesombongan. Sombong karena merasa diri hebat, tak merasa bahwa semua itu karunia Allah. Aku terpekur di lautan ampunan-Nya, ini hanyalah sedikit saja. Aku harus tegar.

***

Sepatu menjejak, semakin mendekat, membuatku bangun dari tidur pekurku. Dua orang petugas sedang membuka kunci tahanan. Pintu terbuka, salah satunya memegang pentungan, sorot matanya tajam. Tuhan, apa lagi ini? Apakah aku akan diinterogasi seperti penjahat dalam film-film, atau saat sang tokoh utama dikira seorang penjahat?

Mereka merengkuhku, tanganku diborgol kembali, aku menurut. Aku dibawa ke sebuah ruangan kedap suara. Aku didudukkan, salah satu dari mereka berdiri saja, satunya lagi menginjakkan sepatu larasnya pada kursi di hadapanku.
”Apa kau sudah mengaku sekarang, Penjahat?” matanya menatapku garang.
”Apa kesalahan saya, Pak?”

”Obat-obat terlarang ditemukan di kamarmu, dalam jumlah besar. Masih mau berkelit? Kau memang penjahat kakap, pura-pura menjadi pahlawan dengan membongkar kejahatan Gagak Hitam untuk menutupi kejahatan-kejahatanmu. Bersembunyi di desa Cahaya, dan menjadi penjahat!” suara meninggi.

”Demi Allah, saya difitnah, Pak.”
”Buk!”

Sebuah pukulan, mendarat di pipi kiriku. Tangan kanannya berputar sejajar, sangat kuat. Wajahku melencong ke kiri, perih, bibirku serasa pecah, perih. Kembali kutatap polisi itu, kutatap lembut wajahnya. Aku tak menyalahkannya, karena dia sedang menjalankan tugasnya.
”Masih tidak mau mengaku, Penjahat!”

Aku tersenyum, ”Aku tahu, Bapak sedang menjalankan prosedur interogasi. Aku tak menyalahkan Bapak, tapi aku juga tak akan mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat.”
”Kurang ajar!” tinjunya kembali melayang cepat, ”Buk!” tangan kirinya mendarat di pipi kananku, begitu kuat hingga aku terjatuh dari kursi dan jatuh ke lantai. Aku mencoba bangkit, aliran hangat mengalir dari bibirku. Kuusap dengan lenganku yang terborgol. Aku duduk kembali.

”Aldi! Giliranmu!” polisi berkumis tipis itu menengok ke arah teman di belakangnya.
”Sudah saatnya ternyata,” senyumnya menyeringai. Dia memukulkan pentungan di telapak tangan kirinya, suara benturan pentungan ke telapaknya menimbulkan suara menggema ruangan kedap suara itu. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari yang tadi. Dia bergantian berdiri di hadapanku.

Wajahnya didekatkan ke wajahku, ”Tanda tangani kertas ini,” dia menggeser sebuah kertas, pernyataan pengakuan. Aku membaca sekilas, ketika kertas itu disodorkan di depan mataku.
”Aku tidak melakukannya, dan akan kubela nanti di pengadilan,” aku berkata pelan.

”Sudah bosan hidup rupanya, kamu tahu ini? Jangan sampai membuat wajahmu yang lembut itu hancur.”

Polisi yang lebih besar itu mengangkat pentungan, bersiap memukul, ”Masih keras kepala?” nadanya lembut, tapi siap melumatku.

”Bukan keras kepala, tapi menjaga harga diri.”
Hilang senyum dari wajahnya, wajahnya siap menerkam. Kupejamkan mataku, biarlah kuserahkan pada Allah, hidupku, sakitku, matiku, sehatku. Aku yakinkan semuanya akan baik.
”Hentikan!” pintu di gedor berulang-ulang, pentungan belum mendarat di wajahku.

”Sial!”

Polisi berkumis tipis membuka pintu, dua orang polisi masuk. Mereka mendekatiku, merengkuhku, ”Maafkan kami Pak Arif, ada kesalahan prosedur sedikit,” aku tahu wajahnya, dia yang duduk di sebelahku sewaktu penangkapan. Tuhan menyelamatkanku.

Aku kembali dibawa ke selku, borgolku dibuka kembali. Polisi itu memberiku minyak, memintaku mengolesi luka memar di pipiku. ”Aku akan berusaha membantu Anda, Pak,” mata teduh itu meyakinkanku, aku tersenyum. Beginilah seharusnya polisi, hatiku ikut tersenyum.

***

Sudah dua hari aku dipenjara, makan dengan nasi bubur lauk tempe. Bagiku sudah nikmat, apa pun itu adalah dari rezeki yang harus disyukuri. Tak boleh lemah harapan, pasti setelah ini akan ada kebaikan-kebaikan. Setiap hidup adalah putaran, kadang sedih, sedetik kemudian ada senyum. Itulah rahasia yang tidak bisa dikuak manusia.

Dua orang polisi membuka selku, aku mundur.
”Ayo, Pak,” aku menurut, kali ini aku tak diborgol. Aku berjalan di koridor-koridor, di tikungan pertigaan belok ke kiri. Dan di depan sana, Pak Lurah dan Kang Mukhlis serta Pak Danu tersenyum menatapku.

”Kalian menjengukku?”
”Tidak! Tapi kami akan menjemputmu.”

”Iya, hari ini Anda bebas. Anda dinyatakan tidak bersalah,” Polisi yang tengah duduk di hadapan Pak Lurah itu tersenyum.

Detik itu juga, hatiku cerah. Aku dijemput dengan mobil, Pak Lurah menceritakan kejadian sebenarnya di perjalanan. Polisi mendapatkan laporan dari seseorang bahwa aku adalah seorang pengedar narkoba kelas kakap yang bersembunyi di desa Cahaya. Tapi, si pelapor sudah melakukan abolisi pada akhirnya. Selain itu, dia mengaku bahwa dialah yang menaruh obat-obat terlarang di kamarku.

Pelakunya adalah Aldi, polisi keamanan hutan lindung. Dia membalas dendam, atas tertangkapnya Gagak Hitam yang banyak memberinya keuntungan. Sewaktu aku izin ke Jakarta, Aldi datang ke rumah Kang Mukhlis saat Kang Mukhlis sedang pergi. Hanya ada Syahid, lantas ia minta dipanggilkan. Saat itulah Kang Mukhlis curiga bahwa dia memasukkan barang-barang haram ke kamarku.

”Bagaimana kalian membuatnya mengaku?”
Mereka tersenyum. Aku paham senyuman mereka, pasti mereka menghajarnya habis-habisan, atau bahkan satu desa membuatnya mengaku.
”Lalu, apakah penjaga hutan lindung sudah ada penggantinya?”

”Katanya minggu depan ada petugas baru.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar