Jumat, 08 November 2019

Bagian 56, SMP Negeri Cahaya


Murid-murid kelas enam Sekolah Cahaya dinyatakan lulus semua, dan bukan itu yang membuat aku bisa tersenyum dengan puas, begitu pun Pak Danu dan Bu Siska sebagai wali murid kelas enam. Pasalnya, anak-anak kelas enam lulus dengan nilai yang tinggi, nilai yang amat memuaskan.

Dalam sejarah Ujian Nasional, tidak ada lagi yang mendapatkan nilai buruk. Semua nilai yang diujikan minimal mendapat nilai enam, pihak Pemerintah Kabupaten pun memberi acungan jempol, dan memuji keberhasilan proses belajar mengajar di Sekolah Cahaya.

Kawan, kuingatkan sekali lagi. Jangan kau remehkan mimpi karena mimpi mempunyai korelasi tinggi dengan harapan. Seluruh manusia di dunia ini bisa saja menjadi seorang pemimpi, tapi sedikit sekali yang mau bertanggung jawab terhadap mimpinya. Bertanggung jawab untuk memperjuangkan mimpi yang telah merasuki setiap angan dan geraknya, sungguh-sungguh, dan terus bersungguh-sungguh.

Satu hal yang masih meresahkanku dan seluruh dewan guru, termasuk guru-guru yang baru adalah tidak adanya SMP yang dekat dengan desa Cahaya. Banyak anak-anak desa Cahaya putus sekolah karena SMP-nya terlalu jauh. Sebagian anak laki-laki bekerja atau merantau. Sementara yang perempuan di rumah dan menunggu jika ada lelaki yang melamarnya. Inilah mirisnya jika ilmu kurang diperhatikan, pikiran manusia terhambat untuk mengalami proses kemajuan. Lalu, bagaimana desa Cahaya bisa maju?

”Pak, bisakah kita mendirikan SMP di sini? Kami ingin selalu berada di desa Cahaya, kami ingin belajar terus, Pak?” Ratna, siswi terbaik lulusan Sekolah Cahaya menatapku di kantor guru. Pak Yusuf, Bu Siska, dan guru yang lain tengah duduk di sana. Guru-guru baru itu ada tiga: Pak Pujo, Bu Ranti, Bu Rahmi. Mereka semua sarjana PGSD. Mereka terpanggil ke desa Cahaya ketika melihat lowongan yang dibuka pemerintah kabupaten.

Pak Danu keluar dari ruangannya. Kulihat matanya sedikit berair, dia pasti mendengarkan apa yang dikatakan Ratna, kami semua terdiam.

”Di antara teman-teman Ratna, sudah ada yang tidak ingin sekolah karena letaknya jauh dari rumah. Mereka mau sekolah kalau dekat, jika jauh, kami juga kasihan kepada orangtua kami. Bantulah kami, Pak?” wajahnya semakin memelas menatapku.

”Bapak akan mencari jalan yang terbaik, Bapak akan berusaha.”
”Itulah mimpi kami, Pak, mimpi yang selalu Bapak ajarkan, mimpi yang kami peluk setiap malam, agar kami bisa sekolah terus. Karena desa Cahaya adalah harapan kami,” air matanya menetes, dan kupandang di belakangnya, Pak Danu juga telah luluh air matanya.

”Kami percaya pada mimpi-mimpi kalian, Anakku,” Pak Danu berjalan mendekatiku, langkahnya bagai derak-derak pembaca sastra di Istora Senayan Jakarta.

Pak Danu berhenti di depanku, tangan kanan tuanya terangkat dan menyentuh rambut Ratna, ”Yakinlah, bahwa mimpi kita semua bukan sekadar angan. Kami semua akan bekerja keras untuk mendirikan SMP Negeri Cahaya,” kulihat sorot mata harapan menyala-nyala di bola mata Pak Danu. Kurasa, inilah saatnya pahlawan yang sesungguhnya bangkit, jiwaku ikut tergerak.

”Saya setuju, Pak!” aku berdiri saking semangatnya, melihat nyala di mata Pak Danu.
”Saya juga!” ”Saya Setuju!” ”Setuju!” seluruh dewan guru berdiri, kami saling pandang dan tersenyum, saling menguatkan untuk sebuah mimpi indah.

”Terima kasih Pak, Bu… Ratna akan memberitahukan semua teman-teman kabar gembira ini,” wajah Ratna menyala bagai pijar lalu berlari keluar kantor. Ah! Leganya melihat kebahagiaan di wajahnya.
”Jadi, langkah apa yang harus kita siapkan untuk mendirikan SMP itu, Pak Danu?” Pak Yusuf bertanya kepada Pak Danu yang masih tersenyum berwibawa.

Semua terdiam, semua melihat wajah Pak Danu yang masih melihat arah luar kantor. Sang harimau telah kembali, jiwa Pak Danu berkobar kembali, pastinya kata-kata yang akan keluar, yang sedang kami tunggu adalah auman yang mendebarkan dan mengagumkan.

Benar, Pak Danu berbalik melihat kami satu-persatu, wajahnya sumringah, wibawanya menguasai pandangan kami. Tapi, tatapannya tiba-tiba terpaku padaku lama.
”Itulah masalahnya, aku tak tahu caranya!”

Seolah kunang-kunang muncul di siang bolong, berkeliling di sekitar pandangan di depanku. Hilang sudah anganku, menganggap taring semangat Pak Danu telah kembali menjadi muda. Persepsi manusia sering salah, makanya kau jangan cepat percaya dengan anganmu sendiri.

”Aku hanya tak tega, tak memberikan harapan pada anak-anak desa Cahaya, kalian tahu kan betapa hidupku ini kucurahkan untuk desa ini?”
Kami akhirnya mafhum, kalau teringat ini, aku jadi teringat nasihat Pak Lukman, “Jika ada yang datang padamu meminta sesuatu karena keperluan, maka penuhilah. Allah akan memenuhi segala kesahmu di akhirat kelak.” Ah! Indah nian.

”Sekarang, kita bersama-sama harus menciptakan mimpi itu menjadi nyata, bahwa ada SMP di desa Cahaya! Dan tugas ini kuserahkan sepenuhnya pada Pak Arif!” tangan kanan Pak Danu, menujuk mutlak ke arahku.

”Kenapa aku, Pak,  yang lain lebih banyak berkompeten. Ada Pak Pujo, Bu Rahmi, dan Bu Ranti yang mereka adalah sarjana pendidikan keguruan. Mereka pasti lebih paham tentang ini, Pak,” aku protes.

Bukan sebuah pembelaan yang kudapatkan, mata mereka melihatku tajam. Dan kau tahu, maksud tatapan mereka kira-kira begini: Untuk urusan mimpi, kaulah ahlinya. Kami percaya itu, sejarah telah menyatakan buktinya.

Kawan, jika sudah berlebihan dalam menyanjung orang, maka inilah jawabannya. Padahal, tidak semua hal bisa dimimpikan, atau setidaknya paling parahnya, kita selalu menjadi korban.

^___^

”Bisakah kami belajar lagi, tanpa nama SMP juga tidak apa-apa. Kami akan belajar di sini, setelah tamat barulah kami akan pergi keluar desa untuk melanjutkan SMA,” Ratna menemuiku ketika malam tadi bersama Ayahnya, sewaktu aku berlatih bela diri bersama pemuda desa, dan anak-anak sekolah yang laki-laki. Kini pencak silat Kang Mukhlis ramai.

Butuh waktu yang agak lama untuk mengurus perizinan sekolah, belum lagi Pemerintah Kabupaten juga masih sanksi dengan kualitas sekolah yang baru karena minimnya sarana dan prasarana untuk pendidikan.

Tapi aku benar-benar tak tega melihat wajah Ratna, wajah bercahaya karena ilmu yang begitu dirindukannya. Jika sekolah jauh, lebih baik di kampung saja membantu orangtua bekerja, lalu mungkin dia akan menunggu seorang lelaki datang melamarnya. Apa ini yang akan terjadi?

Tidak! Pendidikan harus diperjuangkan! Mimpi mereka, Allah! Apa pun yang terjadi, mimpi-mimpi mereka wajib diperjuangkan.

Kusejajarkan tubuhku di depan wajah Ratna, kutatap matanya yang penuh harap, ”Dengarkan Bapak, Allah menjadi saksi, malam yang dingin ini menjadi saksi. Kau lihat bulan dan bintang bertaburan di langit?” kepala Ratna mengangguk pelan, ”kalian akan bisa bersekolah di desa Cahaya, itulah janji yang akan Bapak perjuangkan,” aku menunduk padanya. Kulihat terang di wajahnya, aku puas kawan, membahagiakan orang lain adalah bagian dari ibadah.

Ratna dan ayahnya pamitan membawa senyum.
”Rif!”

”Iya, Kang,” aku menoleh ke arah Kang Mukhlis yang duduk di rumput, latihan telah selesai.
”Bukankah tadi sore kau telah menyerah, Pemerintah Kabupaten membutuhkan kondisi riil akan adanya tempat belajar bagi siswanya. Untuk membangun bangunan sekolah pun, pasti akan membutuhkan waktu  yang lama, mungkin mereka harus libur dulu selama setahun.”
”Tak perlu, Kang.”

”Maksudmu, Rif?”
”Itulah kekuatan mimpi, bisa mengubah apa pun di dunia ini. Tadi sore, aku sempat putus harapan, tapi jika mimpi dan harapan telah merasuki seluruh jiwa, maka akan ada jalan yang pasti terbuka. Allah pasti akan memberikan jalan-Nya.”

”Bagaimana langkahmu selanjutnya.”

”Sebelum bangunannya jadi, mereka akan tetap belajar. Selama proses perizinan, mereka akan belajar. Materi kurikulum akan disesuaikan dengan pelajaran SMP. Dan untuk tempat…”
Mataku kualihkan pada bangunan Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Kulihat pesonanya kala malam, hanya ada dua atau tiga lampu yang menyala kala malam.


”Mereka akan belajar siang hari setelah siswa-siswi SD pulang. Mereka sekolah siang hingga sore.” Jujur, aku menemukan ide ini barusan. Saat kulihat harapan yang demikian menyala dari mata Ratna dan Ayahnya, mata yang mencintai ilmu. Maka, Indonesia harus mulai berbenah, sekolah itu untuk mencari ilmu bukan untuk mencari pekerjaan. Dan kita harus memperjuangkannya bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar