Jumat, 08 November 2019

Bagian 48, Laga Pertama


Kurasa kami telah jauh melangkah. Semoga saja, rencana B berhasil, yaitu walau kami ketahuan, pengintai pertama tak ketahuan. Itu harapan kami. Kami berhenti sejenak. Malam menyapa, bulan semburat terlihat remang di balik awan. Gelap sekali, belum pernah rasanya dalam hidupku bermalam di tengah hutan belantara.

Bagaimana Bu Siska?

”Semoga mereka bertiga dapat bertahan di sana,” Yanto berujar sambil menyelonjorkan kedua kakinya. Pastinya lelah juga.

Napas kami yang memburu mulai teratur, ”Kau begitu tenang, ada apa, Yan?”
”Bau mereka juga berhenti, tak mengejar. Pasti mereka juga kelelahan. Selanjutnya, aku serahkan semuanya pada Pak Arif, bagaimana rencana kita selanjutnya?”
”Menunggu pagi.”

”Di tengah hutan begini?”

”Iya, cari kayu bakar dan sedikit daun kering,” kami mengumpulkan beberapa ranting dan daun-daunan kering. Mengumpulkannya, aku mengambil korek dari tas kecil yang melilit pinggangku, ternyata persiapan yang ada sebelum berangkat berguna juga, terutama korek api.

Aku menghidupkan korek api, nyala api merambat dari daun-daun kering. Jika ada api menyala, binatang buas tak akan mendekat.
”Bagaimana dengan mereka, Pak?”

”Tenanglah, aku sudah membawakan Syahid korek juga. Itulah pentingnya sebuah persiapan, sedia payung sebelum hujan.”

”Anda memang pintar Pak Arif, desa Cahaya bangga ada orang seperti Anda di sini.”

”Tak usah dibesar-besarkan, Yan, ini hanya persiapan saja, sedia payung sebelum hujan. Menyiapkan diri apa kira-kira yang akan diperlukan sewaktu-waktu,” dalam remang cahaya api, Yanto mengangguk. Sebenarnya, Yantolah yang lebih banyak jago. Keahliannya melihat medan sungguh jitu.

Kami tertidur, duduk bersandarkan pohon. Baju di copot, dijadikan selimut. Hangatnya kobaran api dan kemeretik suara kayu terbakar membawa kenyamanan tersendiri. Dinginnya hutan kala malam tergantikan hangatnya pantulan panas yang menyebar.

Malam semakin merayap, aku berucap doa. Kupejamkan paksa mata, esok adalah hari untuk berjuang kembali, menyiapkan energinya, adalah strategi terhebat yang kupikirkan saat ini.

***
”Krosak!”
Aku terbangun tiba-tiba. Mataku membelalak, kupaksakan terbuka tajam, sayu-sayu terlihat. Kesadaranku belum pulih kembali total. Tapi, kulihat beberapa orang sudah di depan kami.
Siapa mereka? Di mana aku? Kenapa gelap?

Masya Allah. Bukankah kami terjebak di hutan? Kesadaranku mulai kembali. Beberapa orang serba hitam, mendekati kami. Aku pura-pura memejamkan mata lagi. Mereka berjalan pelan-pelan, berarti mereka mau menyergap secara tiba-tiba. Kulirik Yanto, yang masih lelap dalam buaian mimpi. Mataku bergerak, kurasa mereka tak mengetahui, malam yang gelap.

Allah. Apa yang harus kulakukan? Berani!

Tinggal beberapa langkah, dari bayangan gelap itu, kulihat sekitar tujuh orang. Dari balik selimut bajuku, tanganku telah bersiap penuh. Kupersiapkan napas sepenuh kekuatan, kupersiapkan kaki-kakiku menjejak, kusiapkan seluruh persendian siap siaga.

Dua langkah lagi. Tangan mereka mulai terulur hendak membekap, begitu pun dengan beberapa orang  yang mendekati Yanto. Jantungku berpacu begitu kencang kawan.

Satu langkah tepat, saat tangan keempat orang itu hendak mencapai setengah meteran. Aku berkelit mendorong tubuhku sekuat tenaga ke kiri, kulempar baju yang sedari tadi kugunakan untuk selimut. Mereka kaget, tak menyangka aku sebenarnya sudah mengetahui kehadiran mereka. Kulihat Yanto sedang meronta-ronta dibekap sekitar tiga orang.

Empat orang tadi menyerangku bersamaan. Arang! Otakku berirama cepat, tak peduli kumasukkan kaki kananku yang masih memakai sepatu ke arang yang masih terlihat baranya, ketendang kuat ke arah muka mereka berempat. Bara api, seperti kembang api, bertebaran. Bunga api terlihat ramai di tengah hutan.

Mereka kaget, saling menepis, bahkan terjadi saling sikut dan mengenai kawannya sendiri. Kesempatan dan celah lebar, kutendang salah satu perut lelaki yang paling dekat denganku, pasti dia tak menyangka. Lelaki itu terjungkal keras ke belakang, menabrak Yanto yang tengah dikerubung tiga orang. Tangan kananku masih cekatan, menghadiahkan satu pukulan keras ke arah pipi lelaki yang berada paling kiri, hingga bergulingan di tanah.

Tangan kiriku refleks berputar ke kiri, mengenai orang ketiga di pipi kirinya, dia terpelanting. Berkelahi kala malam tak menguntungkan. Tak tahu mana kawan mana lawan, yang jelas setiap bayangan yang tampak, coba dilumpuhkan. Setelah pukulan kiriku, tangan kananku tercekal kuat, dia memelintirku dan beberapa orang lagi langsung memitingku kuat, aku tercekal sekitar tiga orang. Aku meronta, tapi sebuah bogem mendarat di pipi kananku. Gigi gemeretak terdengar.

Satu lagi susahnya berkelahi kala malam, masalahnya bukan apa-apa, tapi aku baru bangun tidur, kau tahu sendiri, kawan, kondisi orang bangun tidur. Jika tak percaya kau tanya dokter, atau orang yang ahli di bidang kesehatan, pasti orang baru bangun tidur itu lemah, persendian masih lemah pula.
Sekarang. Matilah aku.

Sebentuk benda berkilat, keluar dari salah satu pinggang lelaki yang berdiri di depanku, aku mencoba meronta tapi cekalan beberapa orang begitu kuat. Kilatan pisau terpias dari cahaya rembulan yang menyorot dari celah pohon. Aku tak kuat meronta.

Aku tawakkal, kupejamkan mataku. Aku telah siap mati, siap tak siap! Nyawa di ujung tanduk, hatiku hanya teringat satu kata, ”Allah”

”Sruuk!”

Darah menciprat mengenai wajahku, matikah aku? Bukan sakit yang kurasakan, selanjutnya adalah teriakan-teriakan tak karuan. Jerit-jeritan seolah ketakutan yang sangat, mataku yang masih terpejam, kupaksakan membuka pelan.

Dan... pandanganku tertawan. Yanto blingsatan di bawah pohon, tak ada orang  yang mencekalnya, dia memegangi lehernya, kurasa sakit karena cekalan-cekalan tadi yang teramat kuat. Mataku masih terpaku, melihat sosok besar yang berdiri tegap di depan Yanto yang terbatuk-batuk. Di depanku tepat, sesosok tubuh lunglai berlumur darah.

Mataku tak bisa digerakkan, fokus pada sosok besar di hadapanku, menatapku tajam. Yanto mulai sadar, dia menengokku, kurasa dia belum sadar dengan sosok yang berada di depannya. Tanganku bergerak pelan, menunjuknya, memberi isyarat agar tenang.

”Apa pun yang terjadi, jangan berteriak, tenang.”
Yanto bingung, dia melihat sesosok bayangan di depannya yang tengah tajam menatapku. Sosok besar, belang-belang, harimau hutan yang besar. Dia membuka mulutnya, sambil kepalanya seolah berputar, taringnya yang tajam terlihat teramat mengerikan. Siap melumat apa pun yang ada di hadapannya.

Yanto membekab mulutnya sendiri, suaranya tercekat, kakinya mendorong tubuhnya mundur pelan-pelan, tapi apa mau dikata, dibelakangnya adalah pohon besar berdiri.

Harimau besar itu kembali memutar kepalanya, mulutnya menyeringai. Tanganku tetap memberi isyarat pada Yanto, agar jangan bergerak sedikit pun. Lelaki yang memegang pisau hendak membunuhku tadi masih terkapar bersimbah darah, di depanku, pisaunya masih terpegang di tangan kanannya.

Aku masih sempat-sempatnya teringat kisah Kakek dulu tentang dongeng musang yang mengalahkan harimau. Suatu hari, harimau menangkap seekor musang. Ketika harimau siap memangsanya, musang berkata dengan tenang, ’Hai harimau, kamu tidak boleh memakan saya. Saya adalah wakil Tuhan yang baru di dunia ini. Kalau kamu memakan saya, Tuhan pasti akan menghukummu.’

Musang melihat si harimau menjadi ragu-ragu, tetapi juga tidak memercayai kata-katanya, maka dia cepat-cepat melanjutkannya, ’Kalau masih tidak percaya, ikuti saya dari belakang. Lihat saja saksi hewan-hewan lain.’ Harimau berkata, ’Baik kita lihat apa yang akan terjadi.’ Ia pun mulai mengikuti musang yang berjalan mendahului dengan penuh gaya.

Ketika hewan-hewan lain di hutan melihat sang harimau berjalan di belakang musang, mereka semua dengan cepat melarikan diri. Melihat itu, harimau percaya bahwa si musang adalah ’Wakil Tuhan’ dan melepaskannya. Itu hanya dongeng kawan, dan ini nyata. Aku tersadar dari igauan singkatku. Kini maut mengintai di depanku. Tapi pelajaran dari cerita itu adalah dalam kondisi apa pun, sekritis apa pun, kita harus terus tenang.

Harimau itu bergerak, dia melangkah satu langkah ke depan, ke arahku tepatnya. Padahal jarak kami tak kurang dari lima meter, pantas saja semua komplotan Gagak hitam tadi lari terbirit-birit. Tubuhku gemetaran, keringat dingin keluar berjejalan berebut turun hingga daguku.

Bergerak sedikit, maka cakar-cakar tajam itu akan mengoyak tubuhku, belum lagi taring yang terlihat tajam, bagai disikat gigi setiap pagi dan sore, mengilat kawan. Aku tetap diam, harimau itu lebih berani melangkah satu langkah lagi. Jarak kami kurang lebih tiga meter, hembusan angin dari hidungnya pun sudah membuat wajahku terkipasi, bulu di tengkukku bangkit semuanya. Tangan kananku masih terulur ke depan, ke arah harimau itu. Kurasa, ini terakhir kali aku menghirup udara dunia.

”Krek!”

Kau tahu suara apa, Kawan? Kakinya menginjak kaki tubuh yang tergeletak setelah dicakarnya tadi.
”Krek!” lagi, sekarang kakinya yang lain yang menginjak bagian tubuh si mayat yang kurasa telah tak bernyawa lagi. Tak lebih dari dua meter jarak kami, kuucapkan basmallah, harimau itu membuka mulutnya lebar-lebar, kupejamkan mataku perlahan. Tanganku masih lurus terulur ke depan, setidaknya, kubuktikan padanya bahwa aku penyayang hewan dan bukan perusak.

”Makhluk Allah, sembahlah Allah,” tiba-tiba kata itu yang keluar dari bibirku, lirih, teramat lirih. Kutunggu mautku, tapi malaikat maut pun tak datang mencerabut ruhku, seperti kisah-kisah sakaratul maut. Tak ada  yang sakit, tak ada yang kurasa tercabik. Kau heran.

Tapi, bulu-bulu besar tampak menyenggol-nyenggol tangan kananku yang terulur. Bulu? Kubuka perlahan kedua mataku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Luar biasa!

Harimau itu? Dia mengusapkan dahinya, menyenggol jemariku yang terulur. Seolah berkata, sayangi aku manusia. Kuberanikan diri, karena dia terus memaksa, aku mengelus kepalanya, dia melihatku dan melanjutkan menggerakkan kepalanya minta dielus. Matanya tak lagi tajam, tapi seolah bersahabat.

Ini bukan mimpi, sungguh! Agak canggung, aku semakin mendekat, mengelus-elus bulu di kepalanya demikian lembut. Dan keempat kaki binatang itu, luruh, terjatuh ke tanah, duduk seperti duduknya kucing kala disayang pemiliknya.

Desir angin, berucap mesra. Yanto melongo melihat pemandangan itu, dia berkali-kali mengucek kedua matanya. Sekitar beberapa menit, harimau itu bangkit dari tidur jenaknya, dia berdiri kembali, menatapku lembut, sorot matanya itu bagaikan sorot mata anggun dan penuh cinta.


Dia berbalik, ekornya mengibas-ngibas. Suara auman terdengar, dan dia menghilang di balik rerimbunan pohon besar. Kurasa auman itu adalah salam perpisahannya. Aku menjatuhkan tubuhku di tanah, lemas seluruh persendianku. Ini, hanyalah pertolongan Allah semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar