Kurasa kami telah jauh
melangkah. Semoga saja, rencana B berhasil, yaitu walau kami ketahuan,
pengintai pertama tak ketahuan. Itu harapan kami. Kami berhenti sejenak. Malam menyapa,
bulan semburat terlihat remang di balik awan. Gelap sekali, belum pernah
rasanya dalam hidupku bermalam di tengah hutan belantara.
Bagaimana Bu Siska?
”Semoga mereka bertiga
dapat bertahan di sana,” Yanto berujar sambil menyelonjorkan kedua kakinya.
Pastinya lelah juga.
Napas kami yang memburu
mulai teratur, ”Kau begitu tenang, ada apa, Yan?”
”Bau mereka juga berhenti,
tak mengejar. Pasti mereka juga kelelahan. Selanjutnya, aku serahkan semuanya
pada Pak Arif, bagaimana rencana kita selanjutnya?”
”Menunggu pagi.”
”Di tengah hutan begini?”
”Iya, cari kayu bakar dan
sedikit daun kering,” kami mengumpulkan beberapa ranting dan daun-daunan
kering. Mengumpulkannya, aku mengambil korek dari tas kecil yang melilit pinggangku,
ternyata persiapan yang ada sebelum berangkat berguna juga, terutama korek api.
Aku menghidupkan korek
api, nyala api merambat dari daun-daun kering. Jika ada api menyala, binatang
buas tak akan mendekat.
”Bagaimana dengan mereka,
Pak?”
”Tenanglah, aku sudah
membawakan Syahid korek juga. Itulah pentingnya sebuah persiapan, sedia payung
sebelum hujan.”
”Anda memang pintar Pak
Arif, desa Cahaya bangga ada orang seperti Anda di sini.”
”Tak usah dibesar-besarkan,
Yan, ini hanya persiapan saja, sedia payung sebelum hujan. Menyiapkan diri apa kira-kira
yang akan diperlukan sewaktu-waktu,” dalam remang cahaya api, Yanto mengangguk.
Sebenarnya, Yantolah yang lebih banyak jago. Keahliannya melihat medan sungguh
jitu.
Kami tertidur, duduk
bersandarkan pohon. Baju di copot, dijadikan selimut. Hangatnya kobaran api dan
kemeretik suara kayu terbakar membawa kenyamanan tersendiri. Dinginnya hutan
kala malam tergantikan hangatnya pantulan panas yang menyebar.
Malam semakin merayap, aku
berucap doa. Kupejamkan paksa mata, esok adalah hari untuk berjuang kembali,
menyiapkan energinya, adalah strategi terhebat yang kupikirkan saat ini.
***
”Krosak!”
Aku terbangun tiba-tiba.
Mataku membelalak, kupaksakan terbuka tajam, sayu-sayu terlihat. Kesadaranku
belum pulih kembali total. Tapi, kulihat beberapa orang sudah di depan kami.
Siapa mereka? Di mana
aku? Kenapa gelap?
Masya Allah. Bukankah kami
terjebak di hutan? Kesadaranku mulai kembali. Beberapa orang serba hitam,
mendekati kami. Aku pura-pura memejamkan mata lagi. Mereka berjalan
pelan-pelan, berarti mereka mau menyergap secara tiba-tiba. Kulirik Yanto, yang
masih lelap dalam buaian mimpi. Mataku bergerak, kurasa mereka tak mengetahui,
malam yang gelap.
Allah. Apa yang harus
kulakukan? Berani!
Tinggal beberapa langkah,
dari bayangan gelap itu, kulihat sekitar tujuh orang. Dari balik selimut
bajuku, tanganku telah bersiap penuh. Kupersiapkan napas sepenuh kekuatan,
kupersiapkan kaki-kakiku menjejak, kusiapkan seluruh persendian siap siaga.
Dua langkah lagi. Tangan
mereka mulai terulur hendak membekap, begitu pun dengan beberapa orang yang mendekati Yanto. Jantungku berpacu
begitu kencang kawan.
Satu langkah tepat, saat
tangan keempat orang itu hendak mencapai setengah meteran. Aku berkelit
mendorong tubuhku sekuat tenaga ke kiri, kulempar baju yang sedari tadi
kugunakan untuk selimut. Mereka kaget, tak menyangka aku sebenarnya sudah
mengetahui kehadiran mereka. Kulihat Yanto sedang meronta-ronta dibekap sekitar
tiga orang.
Empat orang tadi
menyerangku bersamaan. Arang! Otakku berirama cepat, tak peduli
kumasukkan kaki kananku yang masih memakai sepatu ke arang yang masih terlihat
baranya, ketendang kuat ke arah muka mereka berempat. Bara api, seperti kembang
api, bertebaran. Bunga api terlihat ramai di tengah hutan.
Mereka kaget, saling
menepis, bahkan terjadi saling sikut dan mengenai kawannya sendiri. Kesempatan
dan celah lebar, kutendang salah satu perut lelaki yang paling dekat denganku,
pasti dia tak menyangka. Lelaki itu terjungkal keras ke belakang, menabrak Yanto
yang tengah dikerubung tiga orang. Tangan kananku masih cekatan, menghadiahkan
satu pukulan keras ke arah pipi lelaki yang berada paling kiri, hingga
bergulingan di tanah.
Tangan kiriku refleks
berputar ke kiri, mengenai orang ketiga di pipi kirinya, dia terpelanting.
Berkelahi kala malam tak menguntungkan. Tak tahu mana kawan mana lawan, yang
jelas setiap bayangan yang tampak, coba dilumpuhkan. Setelah pukulan kiriku,
tangan kananku tercekal kuat, dia memelintirku dan beberapa orang lagi langsung
memitingku kuat, aku tercekal sekitar tiga orang. Aku meronta, tapi sebuah
bogem mendarat di pipi kananku. Gigi gemeretak terdengar.
Satu lagi susahnya
berkelahi kala malam, masalahnya bukan apa-apa, tapi aku baru bangun tidur, kau
tahu sendiri, kawan, kondisi orang bangun tidur. Jika tak percaya kau tanya
dokter, atau orang yang ahli di bidang kesehatan, pasti orang baru bangun tidur
itu lemah, persendian masih lemah pula.
Sekarang. Matilah aku.
Sebentuk benda berkilat,
keluar dari salah satu pinggang lelaki yang berdiri di depanku, aku mencoba
meronta tapi cekalan beberapa orang begitu kuat. Kilatan pisau terpias dari
cahaya rembulan yang menyorot dari celah pohon. Aku tak kuat meronta.
Aku tawakkal,
kupejamkan mataku. Aku telah siap mati, siap tak siap! Nyawa di ujung tanduk,
hatiku hanya teringat satu kata, ”Allah”
”Sruuk!”
Darah menciprat mengenai
wajahku, matikah aku? Bukan sakit yang kurasakan, selanjutnya adalah
teriakan-teriakan tak karuan. Jerit-jeritan seolah ketakutan yang sangat,
mataku yang masih terpejam, kupaksakan membuka pelan.
Dan... pandanganku
tertawan. Yanto blingsatan di bawah pohon, tak ada orang yang mencekalnya, dia memegangi lehernya,
kurasa sakit karena cekalan-cekalan tadi yang teramat kuat. Mataku masih
terpaku, melihat sosok besar yang berdiri tegap di depan Yanto yang terbatuk-batuk.
Di depanku tepat, sesosok tubuh lunglai berlumur darah.
Mataku tak bisa
digerakkan, fokus pada sosok besar di hadapanku, menatapku tajam. Yanto mulai
sadar, dia menengokku, kurasa dia belum sadar dengan sosok yang berada di
depannya. Tanganku bergerak pelan, menunjuknya, memberi isyarat agar tenang.
”Apa pun yang terjadi,
jangan berteriak, tenang.”
Yanto bingung, dia melihat
sesosok bayangan di depannya yang tengah tajam menatapku. Sosok besar,
belang-belang, harimau hutan yang besar. Dia membuka mulutnya, sambil kepalanya
seolah berputar, taringnya yang tajam terlihat teramat mengerikan. Siap melumat
apa pun yang ada di hadapannya.
Yanto membekab mulutnya
sendiri, suaranya tercekat, kakinya mendorong tubuhnya mundur pelan-pelan, tapi
apa mau dikata, dibelakangnya adalah pohon besar berdiri.
Harimau besar itu kembali
memutar kepalanya, mulutnya menyeringai. Tanganku tetap memberi isyarat pada
Yanto, agar jangan bergerak sedikit pun. Lelaki yang memegang pisau hendak
membunuhku tadi masih terkapar bersimbah darah, di depanku, pisaunya masih
terpegang di tangan kanannya.
Aku masih sempat-sempatnya
teringat kisah Kakek dulu tentang dongeng musang yang mengalahkan harimau.
Suatu hari, harimau menangkap seekor musang. Ketika harimau siap memangsanya,
musang berkata dengan tenang, ’Hai harimau, kamu tidak boleh memakan saya. Saya
adalah wakil Tuhan yang baru di dunia ini. Kalau kamu memakan saya, Tuhan pasti
akan menghukummu.’
Musang melihat si harimau
menjadi ragu-ragu, tetapi juga tidak memercayai kata-katanya, maka dia
cepat-cepat melanjutkannya, ’Kalau masih tidak percaya, ikuti saya dari
belakang. Lihat saja saksi hewan-hewan lain.’ Harimau berkata, ’Baik kita lihat
apa yang akan terjadi.’ Ia pun mulai mengikuti musang yang berjalan mendahului
dengan penuh gaya.
Ketika hewan-hewan lain di
hutan melihat sang harimau berjalan di belakang musang, mereka semua dengan
cepat melarikan diri. Melihat itu, harimau percaya bahwa si musang adalah
’Wakil Tuhan’ dan melepaskannya. Itu hanya dongeng kawan, dan ini nyata. Aku
tersadar dari igauan singkatku. Kini maut mengintai di depanku. Tapi pelajaran
dari cerita itu adalah dalam kondisi apa pun, sekritis apa pun, kita harus
terus tenang.
Harimau itu bergerak, dia
melangkah satu langkah ke depan, ke arahku tepatnya. Padahal jarak kami tak
kurang dari lima meter, pantas saja semua komplotan Gagak hitam tadi lari
terbirit-birit. Tubuhku gemetaran, keringat dingin keluar berjejalan berebut
turun hingga daguku.
Bergerak sedikit, maka
cakar-cakar tajam itu akan mengoyak tubuhku, belum lagi taring yang terlihat
tajam, bagai disikat gigi setiap pagi dan sore, mengilat kawan. Aku tetap diam,
harimau itu lebih berani melangkah satu langkah lagi. Jarak kami kurang lebih
tiga meter, hembusan angin dari hidungnya pun sudah membuat wajahku terkipasi,
bulu di tengkukku bangkit semuanya. Tangan kananku masih terulur ke depan, ke
arah harimau itu. Kurasa, ini terakhir kali aku menghirup udara dunia.
”Krek!”
Kau tahu suara apa, Kawan?
Kakinya menginjak kaki tubuh yang tergeletak setelah dicakarnya tadi.
”Krek!” lagi, sekarang
kakinya yang lain yang menginjak bagian tubuh si mayat yang kurasa telah tak
bernyawa lagi. Tak lebih dari dua meter jarak kami, kuucapkan basmallah, harimau
itu membuka mulutnya lebar-lebar, kupejamkan mataku perlahan. Tanganku
masih lurus terulur ke depan, setidaknya, kubuktikan padanya bahwa aku
penyayang hewan dan bukan perusak.
”Makhluk Allah, sembahlah
Allah,” tiba-tiba kata itu yang keluar dari bibirku, lirih, teramat lirih.
Kutunggu mautku, tapi malaikat maut pun tak datang mencerabut ruhku, seperti
kisah-kisah sakaratul maut. Tak ada yang
sakit, tak ada yang kurasa tercabik. Kau heran.
Tapi, bulu-bulu besar
tampak menyenggol-nyenggol tangan kananku yang terulur. Bulu? Kubuka
perlahan kedua mataku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Luar biasa!
Harimau itu? Dia
mengusapkan dahinya, menyenggol jemariku yang terulur. Seolah berkata, sayangi
aku manusia. Kuberanikan diri, karena dia terus memaksa, aku mengelus
kepalanya, dia melihatku dan melanjutkan menggerakkan kepalanya minta dielus.
Matanya tak lagi tajam, tapi seolah bersahabat.
Ini bukan mimpi, sungguh!
Agak canggung, aku semakin mendekat, mengelus-elus bulu di kepalanya demikian
lembut. Dan keempat kaki binatang itu, luruh, terjatuh ke tanah, duduk seperti
duduknya kucing kala disayang pemiliknya.
Desir angin, berucap
mesra. Yanto melongo melihat pemandangan itu, dia berkali-kali mengucek kedua
matanya. Sekitar beberapa menit, harimau itu bangkit dari tidur jenaknya, dia
berdiri kembali, menatapku lembut, sorot matanya itu bagaikan sorot mata anggun
dan penuh cinta.
Dia berbalik, ekornya
mengibas-ngibas. Suara auman terdengar, dan dia menghilang di balik rerimbunan
pohon besar. Kurasa auman itu adalah salam perpisahannya. Aku menjatuhkan
tubuhku di tanah, lemas seluruh persendianku. Ini, hanyalah pertolongan Allah
semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar