Jumat, 08 November 2019

Bagian 47, Misteri Harta Karun


Terdengar sebuah ketukan lonceng dari arah dalam gerbang. Beberapa orang datang entah dari mana, tapi jika kulihat, beberapa dari mereka memegangi perut-perut mereka, memutar-mutar seperti membuat bulatan onde-onde. Pasti ini saatnya makan.

Ada kesempatan.

Aku memberi aba-aba kepada yang lain untuk tetap bersembunyi di sini, aku dan Yanto mencoba turun ke bawah, Yanto dapat diandalkan untuk urusan ini. Langit sore mulai menyebarkan aroma gelap, kabut seolah menjuntai dari langit ke bawah, gelap, samar mulai terasa. Sebentar lagi gelap.

Kami menuruni tebing dari arah berbeda dari arah sembunyi, kami mengantisipasi jika sampai ada yang tertangkap, maka bisa dinetralisir agar yang bersembunyi tidak akan diperiksa karena dari arah yang berbeda.

Yanto sangat lancar menuruni tebing itu, seolah main pelesetan saja. Seolah taman bermainnya saja, aku sering berpegangan pada kayu-kayu yang hidup di tebing-tebing itu, sesekali kayu yang tumbang atau terpotong, kujadikan pegangan agar tak terlalu cepat jatuhnya.

Kami sangat pelan, bersembunyi dari satu pohon ke pohon lain. Saatnya makan adalah saatnya manusia lemah, perut memang melalaikan manusia pada tugasnya, melalaikan pada bahaya. Kami dekat dengan Gobang Pelot. Aman.

Kami sudah di atasnya, setinggi mungkin satu meter, menjorok dari pinggir dan semakin mendalam ke lubang. Diameternya besar, aku terjun ke bawah, sambil mengendap, diikuti Yanto. Tepat di tengah, persis seperti yang dikatakan Yanto, ada lubang kunci, bergerigi delapan.

Saatnya melihat, rahasia apa di dalamnya. Sebuah misteri yang mengundang maut di mana-mana, sebuah misteri yang menjadi pelarian komplotan Gagak Hitam hingga menunggu bertahun-tahun mengasingkan diri di hutan ini, hingga mereka berbisnis di sini, menjual barang-barang haram tentunya, menjarah hutan seenaknya, merampas kekayaan rakyat Indonesia.

Aku gemas benar.
Kuambil kalung di saku celanaku. Kubuka persis seperti tadi siang, bandul kalung itu mekar indah bergerigi delapan. Aku gemetaran memasukkan kunci itu ke dalam lubang di tengah Gobang Pelot itu.

”Cepat Pak, waktu kita tak banyak.”
Aku mengangguk, memasukkan kunci itu. Kuputar pelan, satu gerigi berpindah ke gerigi di sebelah kanannya.

”Krek!”

Aku membiarkannya. Angin berhembus lembut, kami menunggu penuh was-was, bersiap-siap, seandainya saja Gobang Pelot yang kami injak terbuka dan kami terjeblos masuk ke bawah, terjebak di dalamnya, seperti dalam film The Indiana Jones.

Tak ada apa-apa. Saat tanganku hendak memutar lagi, mungkin kupikir menggunakan bukan sekali putaran. Tiba-tiba Gobang Pelot yang kami injak bergetar pelan, seperti lindu (gempa kecil).
Tepat di depanku, menyembul sebuah kotak persegi panjang. Panjangnya sekitar setengah meter, dan lebarnya sepuluh centimeter. Di sana, tertulis tulisan latin abjad yang terlihat ukiran benda tajam.
”Cahaya menuntunmu menuju tempat yang lain.”

Kami berpandangan, ”Apa maksudnya kira-kira ya, Yan?”
Yanto menggeleng, ”Mungkin, sebenarnya harta karun itu bukan di bawah Gobang Pelot ini, jika ia bukannya mudah membukanya. Dicongkel saja dari bawah, atau diberi peledak, pasti akan hancur.
”Benar juga!”

Aku hendak memutar lagi, bisa jadi ada teka-teki yang lain. Tapi tak sempat lagi, seseorang yang keluar dengan santai, mengelus-elus perutnya, memanjakan kantong ginjalnya yang telah terisi, sambil menusuk-nusukkan rumput dalam ilalang, untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel memergoki kami.

”Lari Pak Arif! Aku tak sempat mencium bau mereka datang karena berpikir tentang membuka harta karun itu!”

Kami tak ambil langkah pusing lagi, kami keluar, kuambil paksa kunci itu. Lepas. Kami berlari sejadi-jadinya ke mana saja, entahlah! Kami tak tahu arah, hari mulai gelap, sore hampir habis.

Dan beberapa orang mengejar kami. Maut mengancam, kami hanya berlari dan berlari tak tentu arah, tapi masih sejajar, aku di belakang Yanto. Dia yang paham medan, maka aku membuntutinya mati-matian, hingga napasku hampir habis. Untunglah, latihan maratonku tiap pagi bermanfaat.

”Mereka terus mengejar!” Yanto berkata tanpa menoleh, tak usah heran kawan, pasti karena indera pembaunya yang tajam, setajam silet.






Kawan,
Jangan takut ancaman dan halangan,
Tak usah kau lari,

Hadapilah secara ksatria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar