Jumat, 08 November 2019

Bagian 46, Kalung


Aku benar-benar lega sudah. Dia adalah Bu Siska, dia berlari karena melihat ular. Bu Siska masuk dari gerbang depan hutan lindung, dia dikawal oleh dua orang, diizinkan masuk begitu saja oleh petugas keamanan hutan lindung. Dua petugas itu hendak menggeledah Bu Siska, Bu Siska tidak mau lalu lari masuk belantara hutan.

Berarti, mereka sebentar lagi pasti menyusuri hutan ini.

”Berarti benar dugaanku selama ini,” Pak Lurah menambahkan, ”Pihak keamanan hutan lindung bekerja sama dengan kelompok Gagak Hitam, ini bukan dugaan lagi, buktinya sudah jelas.”
”Lalu,” Pak Lurah menatapku, ”apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
”Menguak misteri, mencoba menyelamatkan Fitri.”

”Bagaimana kalau kita menyelamatkan Bu Siska dulu, baru kita teruskan misi serta melapor kepada para masyarakat?” Yanto memberi usul.
”Boleh juga.”

Bu Siska kami paksa untuk diantar pulang ke Desa, biarkan kami yang akan berusaha membebaskan Fitri. Tapi, kami salah duga! Tempat kami keluar telah dijaga beberapa orang yang mondar-mandir, terlihat dari jauh.

”Kita telah ketahuan,” itulah kata-kata yang keluar dari mulut Yanto.
Kami berjalan lagi, kembali memasuki hutan. Tujuan kami adalah tebing tempat mengintip dari atas, melihat gerbang yang menjadi markas Gagak Hitam. Bu Siska terseok-seok, tapi dia cekatan.

Kami sampai di bibir tebing, melihat beberapa orang yang mondar-mandir terlihat dari dalam gerbang. Gobang Pelot, jorokan ke bawahnya terlihat.

”Menurut cerita, harta karun yang disembunyikan Haji Mustaqim terletak di sekitar Gobang Pelot itu! Berarti cerita itu benar, aku sendiri belum pernah masuk hutan, dan baru kali ini melihat Gobang Pelot yang menjadi legenda hutan itu,” Pak Lurah menggeleng, tanda takjub.

”Aku pernah meneliti Gobang Pelot itu, di tengah-tengahnya yang menjorok ke dalam, ada sebuah lubang seolah tempat kunci. Namun seperti bukan kunci karena bentuknya cabang delapan gerigi, seperti sinar, lubangnya bersudut delapan,” Yanto menatap Pak Lurah, membenarkan.

”Iya, itulah lubang kuncinya. Pastinya mereka menjaga dengan baik, karena itu mereka mencari kunci itu hingga menculik Fitri.”
”Pak Arif,” suara lembut Bu Siska.
Aku menoleh ke arahnya, ”Ada apa, Bu?”

Dia tak menjawab, melainkan memasukkan kedua tangannya ke bawah jilbabnya. Seolah mengambil sesuatu dari lehernya, seperti sewaktu Fitri diculik. Aku mengalihkan pandanganku.
”Mungkin saja, ini kuncinya.”

Sebuah kalung teruntai, terulur di telapak tangan kanannya. Sebuah kalung berbandul sejenis pensil, silinder agak panjang, berwarna biru berkilauan. Aku menerimanya, kuamati teliti, bandul kalung itu memantulkan wajahku, terlihat mengkilap, bahan tembaga yang sangat kuat.

Aku mengambil dompetku, kuambil kertas rumus yang kutemukan di salah satu baju yang diberikan Bu Siska padaku. Aku membacanya sekali lagi, untuk meyakinkan isinya, walau sudah hafal karena seringnya kubaca.

’Tekanlah seperti Archimedes, putarlah seperti Copernicus dan Galileo terhadap sistem tata surya, nyalakan seperti Thomas Alfa Edison, sempurnakanlah dengan relativitas Einstein.’

Tekan! Aku menekan bagian bawah bandul kalung itu. Dan! Ada sekitar ukuran satu sentimeter keluar ke atas, seperti lipstick, ada dua sisi bertingkat tapi tipis. Benar-benar mirip lipstick.
Keterangan kedua.

Putar! Aku memutar 360 derajat, tak ada perubahan. Semua orang melihatku mengotak-atik bandul kalung itu.

”Apa Arti Copernicus dan Galileo, Pak Arif?” Syahid bertanya bingung.
”Kau benar, Hid, satu ditambah satu adalah dua, dua putaran penuh!” aku memutar sekali lagi. Tapi, lagi-lagi aku kecewa, tak ada perubahan.

Tapi! Relativitas Einstein, hukum relatif. Sempurnakan? Aku menyentuh lembut, mencoba mengepaskan putaran tepat dua kali, tanpa bergeser satu milimeter sekali pun, belum, belum, yap! Tepat. Mataku sampai sakit rasanya melihat larik-larik tergurat di silinder bandul kalung itu.
Bravo!

Semua mata takjub melihatnya, mataku juga. Keringat yang mengucur di wajahku tiba-tiba tak terasakan lagi. Ujung bandul bagian atas itu mekar membentuk seperti bunga yang mekar, delapan sudut. Indah bukan main, warnanya kuning keemasan. Inikah kunci yang dimaksud Gagak Hitam untuk membuka harta karun yang tersimpan puluhan tahun yang disembunyikan mendiang Haji Mustaqim?

”Indah sekali,” itulah kata-kata yang keluar dari bibir Bu Siska.
Aku mengembalikan putaran, dua kali tepat. Bunga yang mekar, kuncup kembali, kunci itu telah kembali seperti biasa. Ujungnya yang menyembul kutekan ke bawah, hingga utuh seperti bandul warna biru berkilauan. Sungguh jenius orang yang membuat kunci ini, tentang rumus yang dibuat membingungkan.

”Ini, Bu Siska, kukembalikan.”

Bu Siska memegang handuk kecil, kukira hendak menerima kalung itu. Aku salah! Dia membersihkan keringat yang bercucuran di dahiku, aku gelagapan.

Syahid berdehem sedikit kuat, aku tambah kikuk, begitupun Bu Siska. Kurasa dia tak sadar dengan apa yang dilakukannya, buktinya, dia langsung menarik tangannya.
”Bawa Pak Arif saja, lebih aman.”

”Baiklah.”
Aku mengantongi kalung itu, kami kaget terlihat di bawah sana. Kami mengintip dengan tajam, melihat dari balik pepohonan dengan merunduk demikian ke bawah, mengendap di atas tebing itu.
Seorang gadis kecil diikat, Fitri meronta-ronta hendak dibawa masuk ke gerbang, yang di atas teralisnya itu ada patung burung gagak. Kulihat air muka Bu Siska berubah total, air matanya menetes.

”Jangan ada yang bertindak gegabah, tunggu…”
Belum habis kata-kataku, Bu Siska telah lenyap dari belakangku. Dia hendak turun, untung saja tangan Pak Lurah cepat meraihnya. Membekap mulutnya, untung tak ketahuan. Berlari menuruni lembah itu sama namanya tanpa strategi, sama saja bunuh diri.

”Sabarlah, Bu Siska, kita atur strategi.”

Melihat Bu Siska mengangguk, aku merasa lega.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar