Aku benar-benar lega
sudah. Dia adalah Bu Siska, dia berlari karena melihat ular. Bu Siska masuk
dari gerbang depan hutan lindung, dia dikawal oleh dua orang, diizinkan masuk
begitu saja oleh petugas keamanan hutan lindung. Dua petugas itu hendak
menggeledah Bu Siska, Bu Siska tidak mau lalu lari masuk belantara hutan.
Berarti, mereka
sebentar lagi pasti menyusuri hutan ini.
”Berarti benar dugaanku
selama ini,” Pak Lurah menambahkan, ”Pihak keamanan hutan lindung bekerja sama
dengan kelompok Gagak Hitam, ini bukan dugaan lagi, buktinya sudah jelas.”
”Lalu,” Pak Lurah
menatapku, ”apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
”Menguak misteri, mencoba
menyelamatkan Fitri.”
”Bagaimana kalau kita
menyelamatkan Bu Siska dulu, baru kita teruskan misi serta melapor kepada para
masyarakat?” Yanto memberi usul.
”Boleh juga.”
Bu Siska kami paksa untuk
diantar pulang ke Desa, biarkan kami yang akan berusaha membebaskan Fitri.
Tapi, kami salah duga! Tempat kami keluar telah dijaga beberapa orang yang
mondar-mandir, terlihat dari jauh.
”Kita telah ketahuan,”
itulah kata-kata yang keluar dari mulut Yanto.
Kami berjalan lagi,
kembali memasuki hutan. Tujuan kami adalah tebing tempat mengintip dari atas,
melihat gerbang yang menjadi markas Gagak Hitam. Bu Siska terseok-seok, tapi
dia cekatan.
Kami sampai di bibir
tebing, melihat beberapa orang yang mondar-mandir terlihat dari dalam gerbang. Gobang
Pelot, jorokan ke bawahnya terlihat.
”Menurut cerita, harta
karun yang disembunyikan Haji Mustaqim terletak di sekitar Gobang Pelot itu!
Berarti cerita itu benar, aku sendiri belum pernah masuk hutan, dan baru kali
ini melihat Gobang Pelot yang menjadi legenda hutan itu,” Pak Lurah menggeleng,
tanda takjub.
”Aku pernah meneliti
Gobang Pelot itu, di tengah-tengahnya yang menjorok ke dalam, ada sebuah lubang
seolah tempat kunci. Namun seperti bukan kunci karena bentuknya cabang delapan
gerigi, seperti sinar, lubangnya bersudut delapan,” Yanto menatap Pak Lurah, membenarkan.
”Iya, itulah lubang
kuncinya. Pastinya mereka menjaga dengan baik, karena itu mereka mencari kunci
itu hingga menculik Fitri.”
”Pak Arif,” suara lembut Bu
Siska.
Aku menoleh ke arahnya,
”Ada apa, Bu?”
Dia tak menjawab,
melainkan memasukkan kedua tangannya ke bawah jilbabnya. Seolah mengambil
sesuatu dari lehernya, seperti sewaktu Fitri diculik. Aku mengalihkan
pandanganku.
”Mungkin saja, ini
kuncinya.”
Sebuah kalung teruntai,
terulur di telapak tangan kanannya. Sebuah kalung berbandul sejenis pensil,
silinder agak panjang, berwarna biru berkilauan. Aku menerimanya, kuamati
teliti, bandul kalung itu memantulkan wajahku, terlihat mengkilap, bahan
tembaga yang sangat kuat.
Aku mengambil dompetku,
kuambil kertas rumus yang kutemukan di salah satu baju yang diberikan Bu Siska
padaku. Aku membacanya sekali lagi, untuk meyakinkan isinya, walau sudah hafal
karena seringnya kubaca.
’Tekanlah seperti Archimedes, putarlah seperti Copernicus dan Galileo
terhadap sistem tata surya, nyalakan seperti Thomas Alfa Edison, sempurnakanlah
dengan relativitas Einstein.’
Tekan! Aku menekan bagian
bawah bandul kalung itu. Dan! Ada sekitar ukuran satu sentimeter keluar ke atas,
seperti lipstick, ada dua sisi bertingkat tapi tipis. Benar-benar mirip lipstick.
Keterangan kedua.
Putar! Aku memutar 360
derajat, tak ada perubahan. Semua orang melihatku mengotak-atik bandul kalung
itu.
”Apa Arti Copernicus dan
Galileo, Pak Arif?” Syahid bertanya bingung.
”Kau benar, Hid, satu
ditambah satu adalah dua, dua putaran penuh!” aku memutar sekali lagi. Tapi,
lagi-lagi aku kecewa, tak ada perubahan.
Tapi! Relativitas
Einstein, hukum relatif. Sempurnakan? Aku menyentuh lembut, mencoba mengepaskan
putaran tepat dua kali, tanpa bergeser satu milimeter sekali pun, belum, belum,
yap! Tepat. Mataku sampai sakit rasanya melihat larik-larik tergurat di
silinder bandul kalung itu.
Bravo!
Semua mata takjub
melihatnya, mataku juga. Keringat yang mengucur di wajahku tiba-tiba tak
terasakan lagi. Ujung bandul bagian atas itu mekar membentuk seperti bunga yang
mekar, delapan sudut. Indah bukan main, warnanya kuning keemasan. Inikah kunci
yang dimaksud Gagak Hitam untuk membuka harta karun yang tersimpan puluhan
tahun yang disembunyikan mendiang Haji Mustaqim?
”Indah sekali,” itulah
kata-kata yang keluar dari bibir Bu Siska.
Aku mengembalikan putaran,
dua kali tepat. Bunga yang mekar, kuncup kembali, kunci itu telah kembali
seperti biasa. Ujungnya yang menyembul kutekan ke bawah, hingga utuh seperti
bandul warna biru berkilauan. Sungguh jenius orang yang membuat kunci ini,
tentang rumus yang dibuat membingungkan.
”Ini, Bu Siska,
kukembalikan.”
Bu Siska memegang handuk
kecil, kukira hendak menerima kalung itu. Aku salah! Dia membersihkan keringat
yang bercucuran di dahiku, aku gelagapan.
Syahid berdehem sedikit
kuat, aku tambah kikuk, begitupun Bu Siska. Kurasa dia tak sadar dengan apa
yang dilakukannya, buktinya, dia langsung menarik tangannya.
”Bawa Pak Arif saja, lebih
aman.”
”Baiklah.”
Aku mengantongi kalung
itu, kami kaget terlihat di bawah sana. Kami mengintip dengan tajam, melihat
dari balik pepohonan dengan merunduk demikian ke bawah, mengendap di atas
tebing itu.
Seorang gadis kecil diikat,
Fitri meronta-ronta hendak dibawa masuk ke gerbang, yang di atas teralisnya itu
ada patung burung gagak. Kulihat air muka Bu Siska berubah total, air matanya
menetes.
”Jangan ada yang bertindak
gegabah, tunggu…”
Belum habis kata-kataku, Bu
Siska telah lenyap dari belakangku. Dia hendak turun, untung saja tangan Pak Lurah
cepat meraihnya. Membekap mulutnya, untung tak ketahuan. Berlari menuruni
lembah itu sama namanya tanpa strategi, sama saja bunuh diri.
”Sabarlah, Bu Siska, kita
atur strategi.”
Melihat Bu Siska
mengangguk, aku merasa lega.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar