Jumat, 08 November 2019

Bagian 45, Cerita Turun-Temurun


Di pinggir kawat besar yang semula ada celah lubang, dan sekarang lubang itu hilang! Lubang itu telah sirna, seolah tak pernah ada lubang di sana. Aku bingung, kudekati, ternyata terlihat jelas sambungan-sambungan antara kawat-kawat sebagai pengait pertama. Sambungan las, begitu kuat. Berarti, Gagak Hitam telah mengetahui ada penyelundup sewaktu aku masuk kemarin.

”Sial!”

Aku memukul kawat-kawat itu, kucoba menenangkan diri. Kukembalikan pada-Nya, aku khilaf. Kuatur napas, berpikir jernih, ayolah!
”Bagaimana sekarang, Pak?” Syahid menatapku.
”Iya, kini kau ketua pasukan pemberani ini,” Pak Lurah.
”Harusnya Bapaklah yang jadi ketua regu ini.”

”Tidak begitu,” Pak Lurah menepuk pundakku yang masih menatap ke dalam hutan, bersandarkan kawat-kawat membentuk pagar itu, ”Apa yang didapatkan dari posisi itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang kita kontribusikan di posisi itu. Kami percaya padamu, maka kami akan menjalankan perintahmu dalam misi ini.”

”Yan, kau punya ide?” dia adalah referensiku di hutan lindung.
Matanya mengerling, ”Ikut aku.”

Yanto berjalan terus ke arah utara, dari lubang yang tertutup sekitar 20 meter dia berhenti, ”Lewat pohon ini.”
Kawan, di sana, dekat dengan kawat pembatas itu. Menjulang pohon mahoni, begitu besarnya pohon itu, berumur puluhan tahun.

”Dulu, sebelum lubang tadi ada. Aku dan Ayah selalu masuk hutan lewat pohon ini, naik dan melompat dari dahan ke dahan. Itulah pengalaman terindah bersama Ayah, aku tidak menyangka, hari ini aku akan mengalaminya lagi,” kulihat senyum secerah mentari dari wajah kehitam-hitamannya.

Kami mulai naik ke pohon, Yanto terakhir naik. Dia membantu tiap orang yang hendak naik, Pak Lurah dan syahid sudah di atas. Mereka meraih dahan pohon yang menjorok keluar batas kawat, lalu lagaknya seperti lutung, menggelayut dan pindah ke pohon di dalam hutan. Aku naik di atas pundak Yanto, memanjat setelah sebelumnya melempar sepatu ke dalam hutan. Bahaya berjalan di hutan tanpa alas kaki.

Kami semua melompat turun, menjejak di tanah dalam hutan. Sudah masuk, pantang kembali. Dalam perjalanan ini, akulah ketuanya. Aku ingat permainan catur, cerita kakek tentang dua orang sahabat yang sering bermain catur hingga menjadi teman akrab, mereka adalah seorang raja dan patihnya.

Suatu hari, dalam permainan, Sang Raja bertanya saat Sang Patih mengangkat satu pion catur, ’Apa itu, Patih?’ Patih menjawab, ’Ini adalah benteng yang bebas bergerak ke mana saja.’ Lalu, Raja mengangkat satu pion bentengnya yang telah mati, ’Apa ini?’ Patih menjawab, ’Oh, itu hanya sebutir pion catur biasa.’ Maharaja bingung dan bertanya kenapa jawabannya beda-beda.

Kau ingin tahu kawan, karena sebutir catur itu hanya memiliki peran sebagai benteng apabila ia masih ada dalam permainan catur. Jika permainan selesai, ia menjadi sama dengan yang lainnya. Maknanya, setiap orang memiliki tugas, tanggung jawab, dan peran yang berbeda pada tempat yang berbeda. Melakukan yang terbaik adalah intinya, melakukan terbaik untuk peranan yang diberikan kepada kita.

Dalam dunia ini, tidak ada peranan kecil. Yang ada hanyalah orang yang berjiwa kecil. Orang yang berhasil di sebuah bidang akan ada penghargaan tinggi, tapi jangan lupa bahwa itu adalah bukan usaha sendiri. Ini karena adanya sebuah panggung yang dibentuk oleh orang banyak. Saat meninggalkan panggung itu, orang itu hanya seorang biasa di belakang layar. Karena itu, gunakanlah posisi itu sebaik mungkin.

Yanto, memandu kami seperti biasa. Kami melewati sungai dengan aliran begitu bening. Melewati pula barisan semut hitam yang besar-besar bentuknya, desa Cahaya menyebutnya, semut tritip. Kami melangkah berhati-hati, sebab tritip jika menggigit bagai sengatan kalajengking rasanya. Kami terus berjalan, Pak Lurah dan Syahid masih merayap, kadang menabrak punggungku tak sadar. Pasti mereka takjub, bagi mereka, warga asli desa Cahaya, baru pertama kali masuk hutan lindung? Aneh sekali bukan, Kawan!

Melewati kawasan lintah, trenggiling serta kawasan ular bergelantungan, ditimpali beruk dan lutung yang sering kali menyeringai, merasa terganggu akan kehadiran orang-orang yang asing bagi mereka. Atau? Mereka mengira kami adalah para perusak hutan yang akan menghabisi habitat mereka? Mungkin saja.

Kawan, aku jadi teringat lagi sebuah kisah yang dikisahkan Pak Lukman tempo hari. Kau ingin mendengarkanm, Kawan? Kumohon, untuk mengiringi perjalanan berbahayaku ini, setidaknya, jika aku tak kembali lagi, aku sudah punya nasihat berharga untukmu.

Pak Lukman bercerita padaku, tiga malam kemarin: “Suatu saat Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa  Sallam menyampaikan khotbah jum’at di samping sebatang kayu, di mana ia menjadi tempat sandaran punggungnya, maka ketika para jamaah sudah semakin banyak datang, Rasulullah Saw bersabda: ’Buatkan saya mimbar yang memiliki dua pintu (tangga), maka beliau berdiri di atas mimbar untuk berkhutbah, batang pohon rindu kepada Rasulullah Saw, setelah pindah di mimbar.

Orang-orang juga mendengarkan batang kayu itu menangis dan terus rindu hingga Rasulullah Saw turun dan mendekatinya, lalu memeluknya, sampai akhirnya kayu itu kemudian diam.”

Saat menceritakan itu, Pak Lukman menangis hingga menetesi jenggotnya yang terjuntai, air mata menggenang dari kedua matanya yang buta. Dia berkata dalam tangisnya, “Wahai hamba Allah,  jika sepotong kayu bisa merindukan Rasulullah Saw dan menangis, maka kita sebagai umatnya lebih berhak untuk merindukan pertemuan indah dengan beliau.”

Sungguh kawan, saat mendengar cerita itu, aku turut menangis. Sungguh, Rasulullah Saw adalah contoh yang teramat agung. Sebuah cerita mengalir lagi, waktu itu Rasulullah Saw hendak berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, saat itu Rasulullah Saw melihat bahwa sajadahnya yang untuk sutrah ditiduri seekor kucing.

Apa yang akan kau lakukan, Kawan, jika melihat sajadah untuk shalat ditiduri kucing, inilah contoh yang diberikan Rasulullah Saw. Beliau mengambil gunting dan menggunting mengeliling kucing yang tidur itu, hingga kucing itu tak terganggu dan melanjutkan tidurnya, barulah Rasulullah Saw mengambil sisa guntingan dan menggunakannya untuk shalat di masjid.

Cerita sederhana ini sudah cukup bagiku menempatkan Rasulullah Saw menjadi tokoh nomor satu dalam kamus idola di hatiku. Di atas tokoh manusia siapa pun, aku yakin, tak akan goyah lagi, walau ada seorang manusia lain yang mempunyai kelebihan di semua bidang.

”Kamu tahu tentang cerita turun-temurun di desa Cahaya, Pak Arif.”
”Belum, Pak,” aku menoleh sejenak ke arah Pak Lurah yang berjalan di belakangku.
”Hutan ini adalah hutan keramat, begitu frame di masyarakat. Ki Marmo selalu menakut-nakuti dengan keangkeran, hingga animisme desa Cahaya masih kental. Selain itu, siapa pun yang masuk hutan larang, maka pasti tak akan bisa kembali dengan selamat. Itu sebabnya, penduduk Cahaya phobia dengan kata hutan lindung.

Selain itu, dulu Haji Mustaqim yang merupakan Kakek Bu Siska dan pemimpin pertama seluruh desa saat membuka desa Cahaya ini. Menurut kabar, dia telah menyembunyikan banyak harta karun, harta perampokan dari kelompok Gagak Hitam. Harta itu disembunyikan di hutan lindung ini, dan menyimpan kuncinya entah di mana. Hingga turun-temurun, Gagak Hitam masih mengincar keturunan Haji Mustaqim yang masih hidup.”

Aku menggut-manggut, ternyata misteri seperti itu masih hidup di masa serba canggih begini.
”Satu hal lagi! Dan kau perlu tahu sesuatu hal.”
”Apa itu, Pak?”

”Ini tentang Kang Mukhlis, dia menyembunyikan sesuatu, hingga aku tak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa, kala adik seperguruanku itu, masuk dengan berani ke hutan lindung, saat kekacauan terjadi. Saat penduduk banyak yang terbunuh, tercabik-cabik binatang buas. Saat kengerian itu terjadi, Mukhlis masuk hutan. Dia tidak keluar beberapa hari.

Hingga, isterinya hilang bersama Syahid yang waktu itu masih bayi. Selanjutnya, Mukhlis keluar dari hutan menenteng Syahid bayi, tanpa ibunya, dia bercerita bahwa isterinya diterkam binatang buas. Katanya, jangan ada lagi yang berani masuk hutan, bahaya binatang buas mengancam di setiap sudutnya,” Pak Lurah mengakhiri ceritanya.

”Bau manusia mendekat!” aku kaget.
Aku sembunyi di balik pohon, Syahid dan Pak Lurah juga mengikuti apa yang aku dan Yanto lakukan. Mereka pasti belum paham.
”Semakin dekat! Kurasa dia sedang berlari!”

”Apa kita dikejar? Berarti kita telah ketahuan.”
”Tapi, bau ini.”
”Apa?”
”Cuma satu orang.”

Sesosok manusia berlari dari lebatnya hutan, sungguh tak ketahuan apa-apa kecuali sela pepohonan dan sekadar kelebatan saja. Dia berlari ke arah kami, kulihat Yanto dan yang lain masih merunduk di balik pohon.
”Semakin dekat.”

Aku belum sama sekali melihatnya, tapi tanganku telah bersiap jika ada kemungkinan terburuk. Napasku turun-naik, aku benar-benar tegang, mencekam. Detik-detik seolah mendebarkan, seiring detak jantungku yang cepat, denyut nadiku pun tak karuan, semua suara aliran darah terdengar keras di telingaku.

”Wett!” aku bergerak secepat kilat, refleks setiap latihan sangat berguna. Aku mendekap seseorang dengan cepat, saat dia melewati pohon tempatku bersembunyi. Aku membekab mulutnya.
Tapi?

Dia berkerudung, dia wanita! Aku kaget dan melepaskan cekalanku. Dia menengok ketakutan ke arahku.

”Pak Arif!”

Dan, aku hampir saja jatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar