Jumat, 08 November 2019

Bagian 44, Pasukan Pemberani


Kentongan berbunyi, bertalu-talu di seantaro penjuru desa Cahaya, pengeras suara di Masjid an-Nur dan mushala lain menyebarkan berita bahwa rapat kilat segera harus datang ke lapangan Sekolah Cahaya.

Hari ini, dalam sejarah mukimku di desa Cahaya, suasana paling mencekam, hening. Seluruh penduduk desa Cahaya, walau tak semuanya, ini adalah majelis terbesar desa Cahaya yang pernah ada; melebihi acara pelajaran mimpi yang diadakan Sekolah Cahaya, melebihi acara launching mesin impian Hasan, melebihi majelis sewaktu Bu Ria pulang dari rumah sakit, melebihi perhelatan akbar saat pertandingan final sepak bola yang dimenangkan Sekolah Cahaya.

Ajaibnya, di perkumpulan ini tak ada penduduk desa Cahaya yang berani bersuara, semuanya terdiam, saling menatap penasaran. Kurasa informasi sudah  menyebar sebenarnya, tapi wajah-wajah itu adalah wajah-wajah ketakutan kawan. Kau harus bisa membedakan mana wajah ketakutan dan antusias. Sangat beda.

Pak Lurah, dia berdiri di tengah-tengah manusia yang berjubel mengeliling. Wajah Pak Karta itu, berkeliling, berkeliling lagi, wajahnya beda dengan biasanya, terlihat keras. Baru kali ini, kulihat wajah itu ditampakkannya, mungkin jika kuboleh menerka, itu adalah wajah seorang ksatria, wajah yang siap bertempur, wajah yang menunjukkan bahwa tatapannya melindungi.

”Kalian tahu Saudara-saudaraku! Desa Cahaya terancam kembali. Gagak Hitam telah kembali!”
Belum lanjut suara keluar dari bibir Pak Karta, beberapa ibu-ibu menjerit, ada yang histeris dan terjatuh ke tanah, beberapa orang menenangkannya. Kurasa itu adalah ketakutan tak wajar, aku belum tahu banyak tentang organisasi Gagak Hitam itu, tapi kenapa mendengar namanya saja telah membuat wajah-wajah mereka merunduk?

”Mereka telah menculik Fitri! Cucu dari mendiang Haji Mustaqim!” semua masih diam, ”Saya mengumpulkan kalian di sini karena ini adalah masalah yang genting, saya ingin mengetahui apa pendapat dan tanggapan kalian semua, apa yang harus kita lakukan?”
Pak Danu mengangkat tangannya, ”Kita harus lapor polisi secepatnya.”

Satu pertimbangan, lapor polisi memang penting tapi waktu untuk menju Kecamatan membutuhkan waktu agak lama, belum identifikasi laporan, saksi-saksi dan sebagainya, sedangkan Fitri dalam bahaya dan harus diselamatkan segera.
”Benar! Akan ada yang bertugas melapor Polisi, ada usul lainnya?”

Sepi. Tak ada, tapi seseorang menyeruak masuk, memaksa masuk ke dalam lingkaran besar itu, tubuh wanita itu, terus merangsek mendekati Pak Lurah sambil terengah-engah.
”Ada apa, Indah?”
”Bu Siska hilang!”

Bagai petir menyambar di siang hari, aku kaget, Pak Lurah kaget, seluruh manusia di sana saling pandang. Terdengar bisik-bisik ramai tak jelas, Pak Lurah menenangkan dirinya lalu mengangkat tangan kanannya. Semua warga desa melihat Pak Lurah.

Semuanya terdiam lama, tertunduk seolah pasrah. Apakah aku akan diam saja? Tidak! Aku maju melangkah, menguak barisan, aku masuk di tengah. Berdiri di hadapan Pak Karta. Pak Karta mengangguk.

”Kita tak punya waktu banyak Saudara-saudaraku! Desa Cahaya membutuhkan pasukan pemberani, menerjang terjal hutan! Melewati sungai-sungai! Melawan ketakutannya, masuk dengan gagah sebagai pahlawan, dan membebaskan Fitri di dalam hutan sana!” tanganku menuding hutan lindung.
”Tak peduli, apa pun ketakutan kita! Desa Cahaya hanya membutuhkan pasukan pemberaninya! Sekarang, sekaranglah waktunya! Siapa yang akan masuk menjadi barisan pasukan pemberani itu!”
Semuanya terdiam, bahkan, Kang Mukhlis yang kukira menjadi orang yang pertama kali maju hanya terdiam memandangku. Apa? Kenapa untuk hal sebesar ini, jawara desa pun tak ambil bagian. Lima belas menit sudah, tak ada yang maju sedikit pun.

”Mana pasukan pemberani desa Cahaya!” aku berteriak, seolah habis sudah suaraku.
”Aku!”

Seluruh suara tertuju pada asal suara itu, ya! Air mataku hampir menetes, suara itu kecil, dari orang yang kecil, tapi mempunyai jiwa besar. Dia Syahid. Dia maju mendekatiku dan berdiri di samping kananku, semua mata melihatnya.

”Kau tak boleh ikut, Anakku!” suara tegas dari Kang Mukhlis.
”Untuk kali ini, Ayah, aku tak bisa memenuhi permintaanmu,” suara Syahid lebih tegas, Kang Mukhlis tak bisa berucap lagi.
”Satu orang! Siapa lagi!”

”Aku.”
Kembali, semua orang terheran. Suara itu berasal dari sebelahku, dialah Pak Lurah dan dia berbaris di sebelah kiriku. Aku mencoba menegarkan diriku, mereka adalah orang-orang hebat, aku tak akan pernah menyesal jika seandainya, aku hilang dalam tugas ini, seandainya aku gugur dalam tugas ini, aku tak akan menyesal, Kawan.

”Siapa lagi,” kini, suaraku pelan, tak sekeras pertama tadi.

”Aku, Pak!” seorang yang sekitar dua tahun di bawah usiaku maju, berbaris di pinggir, sebelah Syahid. Dia memanggilku, Kang? Apa ini pertanda bahwa dia telah memakai simbol bela diri? Simbol siap bertarung? Dia adalah Yanto, seorang yang memang telah kutunjuk nantinya menjadi pemandu jalan, sekaligus menggunakan penciumannya yang tajam.

”Kuhitung hingga tiga, jika tak ada. Maka, inilah sisa pasukan pemberani yang dimiliki desa Cahaya! Jikalau kami hilang di hutan sana, kalianlah yang harus meneruskan perjuangan desa!”

Aku menghitung sangat pelan, hingga hitungan ketiga yang jaraknya kubuat jauh. Tak ada lagi  yang mengatakan ”Aku” atau maju ke depan. Maka, inilah pasukan pemberani yang akan menerjang hutan, melakukan misi penyelamatan. Sedangkan, kami juga belum tahu, Bu Siska hilang ke mana. Praduga sementara, Bu Siska pun masuk menerjang hutan. Karena kami tahu, Fitri adalah satu-satunya keluarga, satu-satunya harapan bagi hidup Bu Siska.

Kami melangkah pergi, aku adalah ketua rombongan untuk hal ini. Pak Lurah menepuk pundak Pak Danu, aku seolah merasakan arti tepukan itu, ’Carilah bantuan,’ lalu berlalu. Kami melangkah ke perbatasan hutan lindung. Aku berpikir bahwa Bu Siska, jika ingin ke hutan lindung pasti akan masuk lewat gerbang pengamanan hutan lindung, dan meminta izin kepada petugas keamanan yang menjaga. Maka, kami mengecek ke sana. Penduduk desa Cahaya melihat kami pergi, kulihat semangat sebenarnya, tapi kurasa mereka sedang melawan ketidakberdayaan. Kami adalah korban eksperimen.

Sampai di gerbang masuk hutan lindung, di sana terdapat dua petugas penjaga. Kami heran melihat tiga orang besar, duduk di dalam ruang pos, televisi 14 inci memancarkan acara dari salah satu stasiun televisi. Tiga orang itu adalah dukun Ki Marmo, wajahnya telah sewot ketika melihatku. Dua orang lagi adalah seorang berpangkat tertinggi di pos penjaga hutan lindung, satunya adalah kepala kepolisian di perbatasan desa Cahaya, dengan desa sebelah timur yang dipotong bulak yang lumayan panjang. Seringnya kejahatan yang terjadi di bulak itu, maka ditempatkan kesatuan pos polisi di sana.
Kami bertanya pada dua penjaga gerbang tentang Bu Siska, dua orang itu saling pandang dan menggeleng, ”Tidak ada yang lewat masuk, apalagi wanita.” Pak Lurah, mengomandoi kami bersalaman dengan ketiga pembesar yang duduk di pos, sedikit berbincang-bincang, tapi tak ada yang menyinggung tentang keributan di desa Cahaya. Kami pamitan akhirnya.

Dalam perjalanan.
”Kau ketuanya kini Pak Arif, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Aku berpikir sejenak.
”Ada yang aneh!” suara Yanto.

”Apa, Yan?” semoga analisa Yanto kali ini dapat menjadi rujukan untuk bergerak selanjutnya.
”Aku mencium bau Bu Siska, melewati gerbang hutan lindung beberapa jam yang lalu. Tapi, mengapa mereka tak mengaku? Apa penciumanku salah?”

”Bau?” kulihat Pak Lurah dan Syahid membelalakkan matanya, aku tak kaget melihatnya. Itulah reaksi pertamaku, melihat kejeniusan lain dari sisi Yanto; daya penciuman yang tajam.
Bravo!

”Kita masuk hutan sekarang juga!”
”Bagaimana caranya, Pak?” Syahid bertanya penasaran.
”Iya, bagaimana?” Pak Lurah menimpali.

Aku tersenyum, ”Yan, ayo kita tunjukkan pada mereka, jalan yang belum pernah terjamah. Jalan menuju pembebasan,  dan Yanto mengangguk mantap.


Memoar Juang

Rehat kawan,

Musim dapat berganti,
Hatipun bisa berubah
Tapi untuk hidup, hanya

Dimenangkan oleh orang yang berani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar