Jumat, 08 November 2019

Bagian 43, Penculikan


Yanto, seolah aku baru mengenalnya kemarin. Memang kawan, kadang kau baru menyadari seseorang setelah kau berinteraksi lama dengannya. Satu-dua hari tak akan cukup mengenali karakter, sifat, kelebihan dan kekurangan seseorang. Yanto memang sering ke hutan lindung, tapi dia tak pernah menceritakan pada siapa pun bahwa dia sering menemukan orang-orang berkeliaran di hutan, dikiranya itu adalah petugas dari kepolisian atau penjaga hutan yang secara legal di utus pemerintah negara ini.

Itu mustahil kawan, karena masyarakat juga dilarang masuk oleh keamanan hutan lindung yang menjaga di perbatasan masuk hutan. Lalu, kenapa ada transaksi seperti kulihat kemarin?

Sepulang dari hutan lindung, kuceritakan kejadian yang kualami pada Kang Mukhlis, tapi dia menyarankan agar jangan terlibat terlalu jauh. Dia memperingatkanku untuk menjalani hidupku seperti biasa, aku tak melihat reaksi beliau mencoba menguak kasus ini. Walau aku kecewa pada sikapnya, aku tak berani mengatakan apa-apa padanya.

Kuberanikan menceritakan kisahku dengan Yanto kepada Pak Karta selaku lurah. Dia menanggapi dengan positif, ingin mengungkap kasus itu, tapi dia meminta untuk merahasiakan apa yang kami lihat di dalam hutan. Pak Lurah mengatakan bahwa ini harus diselidiki dulu kebenarannya, dan jangan membuat masyarakat desa Cahaya khawatir dan merasa ketakutan, aku dan Yanto paham.

Hari ini, seperti biasa, aku berangkat ke Sekolah Cahaya. Mengajar seperti hari-hari biasa, seolah tak ada masalah sama sekali, kucoba sembunyikan permasalahan misteri hutan lindung, Gobang Pelot, Gagak Hitam, transaksi jual - beli, kunci rahasia, semua hal kucoba simpan baik-baik dalam otakku.

Memasuki kantor sekolah, semuanya juga tampak seperti biasa. Tak ada masalah. Khazanah ilmu harus disampaikan apa pun keadaannya, semenjak kematian salah satu anggota Geng Sar yang mengerikan, desa masih dicekam takut, tapi tak begitu anak-anak sekolah, mimpi telah membuat mereka kehilangan takutnya. Maka teori kudapatkan, mimpi dapat membuat penakut menjadi pemberani.

Satu hal bermain di otakku, di mana anggota Geng Sar yang lain? Menurut penjelasan Sarman, ketiga temannya yang lain terpencar di hutan. Aku sedikit tegang teringat kata-kata Sarman tempo hari, bahwa Gagak Hitam sedang mempersiapkan diri, Bu Siska!

Kutatap Bu Siska yang sedang mengerjakan sesuatu di atas mejanya, menulis di kertasnya. Wajah itu, begitu tenangnya. Mata lentiknya mengingatkanku pada pertemuan dengannya pertama kali, mata lentik, seperti buah anggur sewaktu matang.

Astaghfirullah! Bukan itu maksudku, aku harus menjaganya jika Gagak Hitam hendak melakukan sesuatu untuk merebut kunci, ah, entahlah! Persetan dengan kata kunci, yang mereka cari hingga saat ini.

Saat itu, wajah Bu Siska menengok ke arahku. Allah, aku tak sempat menghindar, aku masih menatapnya. Aku kaget, dan gugup begitu kulihat Bu Siska tampak gelagapan, dia bingung hendak berulah, menutup bukunya, dan membukanya lagi. Aku paham, aku segera mengalihkan pandanganku.

Bu Ria tak melihat adegan itu, dia tengah asyik membahas tugas para muridnya. Kalau sampai tahu, dia pasti mengejek habis-habisan. Pak Yusuf belum kembali dari masjid, aku sudah sejak pagi shalat Dhuhanya.

”Pak Arif,” untung saja. Itu tadi suara Bu Ria, dia memanggilku dan refleks menatapku. Aku mendongakkan kepala, tanda siap mendengarkannya.

”Tolong saya, bisa Pak Arif bacakan lembar jawaban milik Rahmat ini. Inilah repotnya mengajar kelas satu dan dua. Lihat saja tulisan ini seperti cacing kepanasan, kian kemari, mengolet, tak terbaca,” Bu Ria menyodorkan kertas itu padaku.

”Jangan menyalahkan murid-murid begitu Bu, tulisan mereka kan terbentuk karena melihat contoh tulisan ibu di papan juga,” Bu Ria sudah kembali menekuri buku-buku yang lain, aku tak yakin dia mendengarkan kata-kataku tadi.

Amboi! Tulisan apa ini? Terang saja tak terbaca, ini hanya coret-coretan ngawur, ini bukan tulisan, kecuali Rahmat, si siswa itu mempunyai refleksi menemukan abjad sendiri selain huruf A hingga Z. Aku hanya geleng-geleng kepala.

”Sudah terbaca Pak Arif, pasti sudah! Bapak kan lulusan sarjana, pasti bisa membaca tulisan seperti itu,” tanpa berdosa, Bu Ria menatapku kembali.

Aku menatapnya, ”Bu Ria, kukatakan sejujurnya, ini bukanlah tulisan. Mungkin Bu Ria terlalu kecapaian, sehingga coret-coretan asal ini dikira tulisan. Kulihat di sini, sama sekali tak ada abjad Indonesia, tak ada A sampai Z.”
”Masak sih, Pak?”

”Mungkin saja, si Rahmat tak bisa mengerjakan, makanya dia mengasal coretan, agar terlepas dari hukuman,” kudengar beberapa kali dari siswa kelas satu dan dua mengadu karena ancaman hukuman, setiap tak mengerjakan PR bisa setengah jam di minta berdiri dengan tangan kiri memegangi telinga. Berdiri di depan kelas. Ah! Kasihannya, ini juga buat koreksi Bu Ria.

”Hukuman seperti itu sekarang kurang efektif untuk prestasi bagi para siswa lho, Bu Ria.”
Kulihat Bu Ria mengangguk-angguk, semoga tidak terkesan menggurui. Biasanya kawan, menasihati dengan bercanda itu lebih cepat ditangkap, dan si penerima nasihat tidak merasa digurui. Itu hanya teoriku saja, Kawan, tapi kalau kau mau pake, boleh juga.

”Pak Arif.”
”Ya!” aku sedikit kaget dan mengangkat kepalaku, kukira Bu Ria, tapi salah! Suara itu dari Bu Siska, mata kami bertemu kembali.
”Ada apa, Bu Siska?”

”Kurasa kata-kata Anda dulu benar, seperti kuncup bunga dari cincin Pak Arif, lalu, rumus-rumus teori yang membingungkan itu, lalu analisis Pak Arif. Setelah kupikirkan mungkin aku menemukan sebuah jawaban.”
”Maksud Bu Siska?” Bu Ria juga ikut menatap Bu Siska.

Bu Siska seolah memasukkan tangannya dari bawah jilbab yang menjulur panjang sampai ke dadanya. Aku terkejut mau apa dia? Tangan itu bergerak masuk dari bawah jilbabnya, sampai ke lehernya, seolah hendak mengambil sesuatu dari dalam jilbabnya. Aku mengalihkan pandanganku ke lain tempat.

Saat itulah, konsentrasiku hilang.
Suara-suara jeritan tampak riuh, dari arah kelas-kelas siswa. Suara deruman motor memekkakkan telinga, dan menghilang suaranya. Bu Siska kaget, dia berdiri hingga keluar ke pintu kantor, aku dan Bu Ria mengikutinya keluar dari kantor guru.

Kulihat dua siswa berlari sekencang-kencangnya ke arah kami, para siswa berhamburan dan berteriak-teriak, berlari kian-kemari tak jelas, ada apa ini?

­Dua orang siswa itu adalah Hasan dan Syahid, mereka berhenti di depan kami, terengah-engah. Hasan memegangi perutnya, kurasa sedikit sakit, hendak berkata tapi dia hanya menuding-nudingkan tangannya ke arah kelas-kelas. Syahid terlihat masih mengatur napasnya.

Kami menunggu apa  yang hendak mereka katakan, kami penasaran.
”Bu Siska, Fitri, Bu… Fitri,” itulah kata-kata yang keluar, tak jelas, sambil napasnya turun naik keluar dari mulut Syahid.

Sebelum otakku mencerna dengan baik, Bu Siska sudah berlari ke arah kelas satu. Tak ada pengantar, dia berlari begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa ancang-ancang. Aku memburu berlari mengikutinya, ada apa dengan Fitri?

Aku dapat menyusul Bu Siska, tepat di depan kelas satu, semuanya terdiam, aku tepat berdiri di belakang Bu Siska. Bu Siska tampak kebingungan.
”Fitri! Di mana kamu adikku, di mana kamu?” Bu Siska terisak, tangannya mengusap air mata di kedua matanya, aku sungguh tak tega. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa.

Seorang siswi mendekati Bu Siska, di kedua tangannya yang bergetar, sebuah kertas terlipat dan diulurkan pada Bu Siska. Bu Siska menerimanya, membuka, dan membacanya.
”Fitri!” Bu Siska menjerit setelah menyelesaikan membaca tulisan itu.

”Ada apa, Bu?” aku penasaran.

”Dia adalah harapanku, dia adalah hidupku,” Bu Siska terjatuh, kedua lututnya membentur tanah. Aku bingung hendak berbuat. Sekeliling kami, semua siswa pun terdiam. Tak berapa lama, Bu Siska berdiri dan berjalan kuyu, pulang ke arah rumahnya. Kertas itu tertinggal, kupungut, mataku penasaran dan membacanya.

Kepada : Bu Siska,
Sudah kuberikan waktu terlalu lama, kami tak sabar lagi. Serahkan kunci itu, atau kau ingin melihat adikmu yang manis, dimakan binatang buas! Serahkan di hutan lindung, secepatnya.


Gagak Hitam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar