Jumat, 08 November 2019

Bagian 42, Jual Beli


”Kita telah mengawasi cukup lama, Yan, bagaimana kalau kita kembali sekarang?”
”Sebentar Pak, aku mencium bau manusia yang banyak. Mereka akan datang.”

Aku diam, menunggu di sebelah Yanto, mataku awas menatap sekeliling. Gerbang itu selalu tertutup. Dua orang terlihat mondar-mandir di dalam gerbang, salah satu dari mereka menguap, mengobrol sejenak, lalu satunya tertidur bersandarkan gerbang tralis itu.

Seperti tadi, penciuman Yanto itu sepanjang apa? Kenapa setelah lima belas menit tak ada serombongan orang datang? Apa mungkin hanya kebetulan saja? Ah! Kutunggu saja.

Terdengar sebuah deruman mobil. Mobil? Kenapa di hutan seperti ini ada mobil masuk? Salah! Sebuah helicopter, Kawan! Melintas di atas kami, berputar-putar di atas hutan, lalu pelan-pelan turun di tengah-tengah area dalam benteng yang dijaga tersebut.

”Wah hebat penciumanmu, Yan! Bahkan di udara kau bisa menciumnya demikian jauhnya, sejak lima belas menit yang lalu.”

”Kau salah Pak, aku mencium bau orang-orang yang di sana,” Yanto menunjuk ke arah jauh, berhadapan dengan benteng itu, dua buah mobil Jeep, berjalan pelan-pelan, mendekati benteng.
Mataku tajam mengawasi, suaraku terdiam. Aku dan Yanto, sama-sama terdiam melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setiap mobil Jeep berisi lima orang kurasa, mereka semua turun. Ada sebelas orang, pintu gerbang teralis terbuka, beberapa orang keluar dari dalam. Satu hal yang tiba-tiba menjadi pusat perhatianku, di atas teralis itu,  ya! Sebuah lambang, patung burung Gagak Hitam, tak salah lagi!

Mereka berjabat tangan, salah satu orang yang keluar memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya. Lalu dari dalam gerbang beberapa orang mengeluarkan beberapa kardus besar.
Orang-orang yang turun dari Jeep, salah seorang di antaranya tersenyum. Dia mendekati kardus, membukanya dengan pisau, menciumi sesuatu dari dalam kardus, dan tertawa.

”Ambilkan uangnya,” begitu katanya, jika aku tak salah dengar.
Maka beberapa orang di belakangnya mengambil tas-tas dari dalam mobil jeep mereka, mereka bertukar barang. Barang-barang di kardus di usung dimasukkan ke mobil, sedangkan tas-tas diserahkan kepada orang yang dari dalam gerbang, lalu dimasukkan ke dalam gerbang.

Ini... ini adalah transaksi jual-beli, tak kusangka, bahwa aku pernah menyaksikan ini, seperti dalam film-film mafia yang dulu sering kutonton saat masih kuliah, sejenis Policy Story colection film Jacky Chan, atau Rambo, atau The Triad Mafia. Film-film yang menceritakan tentang kejahatan dan pasti ada pahlawan dalam film itu yang menuntaskan misi membersihkan kejahatan itu. Tapi, kini, siapa pahlawannya? Apakah aku? Melawan mereka, terlibat baku-tembak? Berkelahi dengan seru? Ah! Tiba-tiba imajinasiku bermain-main, seperti anak kecil saja!

Ini kenyataan kawan!
”Ayo kita kembali, Yan, kita harus memberitahu Pak Lurah.”
”Iya,” Yanto mengangguk.

Yanto melangkah duluan, aku mengikutinya, kali ini aku harus selalu mengekor padanya, aku sama sekali tak paham medan hutan lindung. Belum beberapa langkah aku mengikuti langkahnya, dia berhenti mendadak dan membuatku menabrak tubuhnya pelan, agak sakit,  keningku menabrak kepala belakangnya. Tapi aku tak berani bersuara.

”Kenapa berhenti mendadak, Yan?”

”Aku heran,” Yanto terdiam sejenak, dia berbalik menatap arah gerbang, walau sudah tertutup tebing tempat kami bersembunyi tadi, ”Kenapa aku mencium bau manusia dan harimau bersamaan tidak hanya satu, karena baunya banyak, dari dalam gerbang sana!” pandangannya mengarah pada kawasan gerbang itu.

Benarkah? Kenapa banyak harimau?

Belum henti otakku berputar, kata-katanya kembali menimpaliku.
”Tak hanya harimau, ada bau gajah dan hewan-hewan yang lain.”

Langit di atas hutan terlihat celahnya dari reranting pohon. Segalanya masih samar bagiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar